Archive for the Watak Manusia Category

Citra-citra Manusia

Posted in Watak Manusia with tags , , , , , on Juli 17, 2012 by isepmalik

Terdapat bermacam-macam interpretasi tentang watak manusia, tetapi semuanya dapat dikelompokkan dalam lima pandangan:

  1. Pandangan yang klasik atau pandangan rasional dari filosof-filosof Barat yang diterima orang sampai dan selama abad Pencerahan (Enlightenment). Pandangan ini diwarisi dari dunia Yunani dan Romawi.
  2. Pandangan agama-agama Barat seperti yang ditunjukkan oleh tradisi Yahudi, Nasrani dan Islam dengan variasi. Sikap ini telah masuk dalam sejarah kebudayaan Barat.
  3. Pandangan dunia Timur. Kami pilih warisan Hindu dan Budha sebagai contoh dari agama Timur.
  4. Dua citra yang bertentangan tentang manusia dan hubungannya dengan masyarakat, yaitu yang dikemukakan oleh filosof Hobbes (1588-1679) dan Rousseau (1712-1778).
  5. Pandangan ilmiah yang dapat dibagi dalam dua bagian pemahaman manusia dari segi biologi, yaitu pemahaman yang merupakan hasil dari ilmu alam dan pandangan dari segi tingkah laku yang dicetuskan oleh para pemikiran dari ilmu sosial. Terdapat bermacam-macam sub bagian, modifikasi dan transformasi, akan tetapi lima tersebut merupakan citra umum yang dihasilkan oleh kebudayaan dalam sejarah.

(Sumber: Harold H. Titus. (1984). Persoalan-persoalan Filsafat).

 

Iklan

Hubungan Manusia dengan Alam

Posted in Watak Manusia with tags , , , on Juli 15, 2012 by isepmalik

Sikap manusia kuno terhadap alam biasanya bernada takut atau rasa hormat bercampur takut. Ia merasa dirinya sebagai kanak-kanak dan makhluk lemah yang dikuasai oleh citra-citra Tuhan atau orang tua yang ia sendiri menempatkannya dalam kekuatan alam. Ia tidak meragukan ketergantungannya kepada alam; sikap tunduk yang mendatangkan harmoni dan kesatuan (integrasi) dengan alam adalah tujuannya yang pokok.

Dengan perkembangan hasil ciptaan-ciptaannya, ditambah dengan kepercayaannya tentang kedudukannya yang istimewa dalam alam, orang Barat khususnya mengubah pendiriannya terhadap alam. Sikapnya berubah dari rasa hormat dan akibatnya menjadi bersikap: menaklukkan dan mengontrol. Setelah melepaskan diri dari kungkungan alam, manusia mendapat hasil-hasil baru: nikmat hidup dan eksploitasi bumi dan juga penyelidikan badan manusia. Kebudayaan-kebudayaan yang mempertahankan pandangan lama, yakni sikap tunduk terhadap alam, telah mengalami jurang pemisah yang jauh lebih kecil daripada yang dialami orang Barat dalam hubungan antara manusia dan alam.

Sekarang ini manusia memikirkan kembali tentang kedudukannya dalam alam. Kesadaran ilmiah telah mulai timbul di Timur dan di beberapa tempat yang disebut berkebudayaan primitif. Walaupun begitu, di Barat sendiri, muncul suatu sikap yang menggabungkan antara rasa takut yang tercampur dengan ilmu, dan perhatian terhadap lingkungan. Perhatian baru terhadap makanan dan kesehatan menunjukkan bahwa manusia telah menemukan kembali perlunya sikap bersatu dengan lingkungan tidak peduli apakah manusia itu menganggap dirinya sebagai malaikat yang jatuh martabatnya, atau kera yang baik pangkat, atau sesuatu makhluk antara keduanya, manusia sekarang sedang menghadapi masa persahabatan dengan lingkungannya.

(Sumber: Harold H. Titus. (1984). Persoalan-persoalan Filsafat).

Pandangan Rasional tentang Manusia

Posted in Watak Manusia with tags , , , , , on Juli 14, 2012 by isepmalik

Menurut pandangan klasik dan rasional tentang manusia yang diwarisi dari Yunani dan Romawi dan yang dihidangkan kembali dalam bentuk yang agak sedikit berlainan selama zaman Renaisans, hal yang membedakan manusia dari makhluk-makhluk lain adalah fakta bahwa manusia itu makhluk yang berakal. Bagi Plato, akal adalah untuk mengarahkan budi pekerti: akal itu merdeka dan abadi dalam wataknya yang esensial. Hanya akallah yang dapat masuk dalam watak benda-benda. Bagi Aristoteles juga, akal adalah kekuatan yang tertinggi dari jiwa. Akal adalah sifat milik manusia yang memisahkannya dari watak yang non-manusiawi (subhuman nature). Aliran Stoic mempercayai akan adanya akal alam (cosmic reason) atau logos, yang berada di tiap-tiap benda. Manusia yang ideal adalah orang yang bijaksana, yang mengekang emosinya, dan mengatur dunia dengan menguasai dirinya. Akal harus memeriksa hasil dari indra, karena persetujuan akal adalah sangat pokok dalam pengetahuan manusia.

Menurut interpretasi klasik ini, manusia harus difahami pertama dari segi pandangan tentang watak dan keistimewaan kekuatan akalnya. Akal adalah prinsip yang mempersatukan dan karena itu ia terpisah dari badan. Akal adalah kebanggaan dan keagungan manusia. Bagi Socrates, Plato dan pengikut-pengikut mereka orang yang pandai adalah orang yang bermoral (virtuous). Mengetahui yang benar berarti melakukannya. Kejahatan adalah akibat dari kebodohan. Tujuan usaha manusia dan arti kemajuan adalah perkembangan yang harmonis dari fungsi dan kemampuan manusia, dengan jalan supremasi dan kesempurnaan akal dalam manusia dan masyarakat.

Pandangan klasik mengenai manusia adalah optimistik, khususnya tentang kepercayaannya terhadap akal manusia dengan pandangannya bahwa manusia yang pandai adalah manusia yang berbudi baik; akan tetapi terdapat kesan adanya rasa “sedih” dalam kebudayaan Yunani Romawi. Banyak pemikir Yunani yang sangat terkesan oleh singkatnya hidup manusia. Mereka tidak percaya bahwa terdapat banyak orang yang bijaksana. Sejarah tidak banyak artinya, karena hanya merupakan berulangnya kejadian-kejadian yang tidak ada akhirnya. Ada beberapa orang seperti Democritus, Epicurus, dan Lucreitus; mereka memandang manusia itu sebagian dari alam, tetapi mereka tidak mengingkari pentingnya akal; mereka hanya menafsirkannya dengan cara lebih naturalis dan mekanis.

Pandangan Renaisans terhadap manusia tetap memberi kesan “percaya” kepada akal; perbedaannya dengan pandangan klasik adalah bahwa keistimewaan manusia itu dilihat dari segi kebebasan akal dan hubungan manusia dengan Tuhan. Kepercayaan agamanya tidak didasarkan kepada wahyu, tetapi kepada penyelidikan yang bebas dan pilihannya sendiri. Dengan maksud untuk memahami dan membenarkan kemampuannya untuk melakukan sesuatu di dunia, manusia zaman Renaisans mencari keharmonisan dalam filsafat dan teologi. Walaupun pandangan orang Renaisans tetap bersifat nasrani, namun ia mirip dengan pandangan filsafat sebelumnya dengan memfokuskan penerapan (aplikasi) yang praktis tentang kebenaran untuk kehidupan manusia dalam masyarakat.

 

Pandangan tentang Manusia dari Agama-agama Barat:

Yahudi, Nasrani dan Islam

Dalam kitab-kitab suci agama tersebut terdapat gambaran yang pokok yaitu bahwa manusia itu mempunyai hubungan yang khusus dengan Zat Pencipta. Keistimewaan manusia tidak hanya karena akalnya atau hubungannya dengan alam. Lebih daripada itu, tiap pribadi merupakan pribadi yang istimewa dan berharga karena berasal dari Tuhan.

Dalam agama Yahudi dan Nasrani manusia mempunyai kemampuan untuk bertindak menurut inisiatifnya; ia mempunyai kebebasan untuk bergerak dalam batas waktu dan tempat, kebebasan untuk merubah jalannya sejarah, tetapi tidak dapat merubah kekuasaan Tuhan atau hasil terakhir dari proses sejarah, dalam arti bahwa manusia itu mempunyai kemauan untuk memilih dan mengadakan hubungan cinta, menurut istilah Nasrani “ia diciptakan dalam citra Tuhan”, maksudnya adalah bahwa Tuhan telah memberi manusia sifat-sifat istimewa sebagai pelaku yang bebas yang dapat melakukan cinta yang aktif yang mirip dengan penjelmaan (self-ekspression) Tuhan sendiri. Walaupun begitu karena manusia memiliki kebebasan memilih, ia dapat menolak ajakan Tuhan dan tetangga, memilih Tuhan yang palsu dan memilih akibat-akibatnya. Semua itu adalah dosa.

Dalam Islam manusia juga merupakan makhluk Tuhan. Akan tetapi lebih sukar untuk mencari “doktrin kebebasan manusia” dalam Al-Quran daripada mencari dalam Injil.· Dengan menekankan adanya Tuhan di mana-mana tanpa kompromis, orang Islam memasukkan ide predestinasi (takdir) dalam citra mereka tentang manusia.·· Tuhan mengarahkan segala kejadian. Bertentangan dengan gambaran tersebut beberapa ayat Al-Quran menunjukkan pertanggung jawaban pribadi, sehingga menyerah kepada kehendak Tuhan itu harus didasari dengan “kebebasan”. Barangkali adalah sangat adil untuk mengatakan bahwa dalam Islam terdapat problema bagaimana mempertemukan “kebebasan manusia” dengan “kehadiran Tuhan di mana-mana”.

Bagi tiga agama Barat ini, patokan untuk mempergunakan kebebasan manusia adalah sikap cinta dan menyerah kepada kehendak Tuhan. Masing-masing agama mengerti watak dari cinta tersebut serta keretakan hubungan (dosa) dalam bermacam-macam bagian dari kitab suci dan tradisi. Partisipasi dalam kepercayaan, menurut definisinya masing-masing adalah pendidikan yang pokok bagi manusia secara pribadi atau kolektif. Untuk sifat kebaikan mereka sebagai: anak-anak Tuhan. Partisipasi seperti itulah yang memberikan rasa cinta kepada mereka.··· Dengan begitu, maka implikasi dari citra manusia dalam agama Barat adalah bahwa keagamaan seseorang memerlukan sifat setia (loyal) sebagai pribadi atau sebagai umat, atau sifat cinta kepada Tuhan, tetangga dan diri sendiri.

 

Pandangan tentang Manusia dari Agama-agama Timur:

Hinduisme dan Budhisme

Agama-agama Timur mempunyai pandangan yang berbeda-beda tentang manusia dan esensinya. Agama Hindu atau Hinduisme, menunjukkan keadaan yang kompleks, dan karena itu sukar untuk menunjukkan suatu pandangan khusus tentang manusia dalam pemikiran Hindu. Walaupun begitu tema yang besar dari segala aliran fikiran Hindu adalah bahwa manusia harus mencari hidup yang langgeng yang tak dapat rusak atau binasa. Ia harus menembus jalan dengan melalui pembauran-pembauran yang menyesatkan dan penampakan-penampakan hidup, untuk dapat melihat dirinya yang sesungguhnya dalam hubungannya dengan hidup yang kekal. Manusia harus mulai dengan mengetahui dirinya sendiri secara benar. Ia harus menerobos hutan yang penuh dengan tipuan yang disebabkan oleh indranya, agar dapat mengerti kehidupan yang kekal yang tidak dapat musnah.[1]

Mengenai agama Budha, tak ada yang lebih membingungkan bagi akal orang Barat daripada pandangan Budha tentang watak manusia. Ajaran Budha bermula dengan diagnosa tentang situasi manusia, dan menemukan obat bagi situasi tersebut dalam Empat Kebenaran Yang Agung (The Four Noble Truths).[2] Diagnosa dan obat diterangkan dalam pandangan tentang dunia yang berlainan dengan pandangan orang Barat. Budhisme melihat kehidupan manusia sekarang dari segi kepindahan dari suatu kehidupan kepada kehidupan yang lain. Jika kita menengok ke arah mana saja, tak akan ada yang kekal dalam kehidupan sekarang. Dalam fikiran agama Budha, hidup ini mengandung dukha (penderitaan). Istilah tersebut berarti penderitaan jasmaniah dan keruhanian yang terdapat dalam kehidupan sekarang, yang sangat bertentangan sekali dengan rasa tentram dalam nirvana. Yang menjadi problema yang pokok bagi akal orang Barat adalah bahwa Budhisme itu mengatakan bahwa kita tidak memiliki aku (self) untuk merasakan penderitaan atau kenikmatan. Manusia tidak terkecuali dari hukum umum: segala sesuatu itu berubah. Tak mungkin ada watak manusia yang tetap. Doktrin Budhis mengatakan bahwa yang ada itu bukan aku (self) atau jiwa, akan tetapi kumpulannya aliran-aliran, dari rasa badaniah, perasaan, persepsi, konsepsi dan kesadaran. Oleh karena itu, manusia yang membanggakan diri adalah orang yang tertipu dan tak berarti; benda-benda yang diinginkan oleh aku itu tidak kekal, karena aku itu sendiri juga tidak kekal, akan berubah dan binasa.

Berbeda dengan pemikiran di Barat, Hinduisme dan Budhisme memandang kebebasan manusia dari segi apakah ia dapat mengikuti jalannya kepindahan dari suatu kehidupan kepada kehidupan yang lain. Dan dengan begitu ia dapat bebas dari dirinya sendiri; atau ia dapat menghindarkan diri dari arus tersebut, dan dengan begitu ia menangguhkan kebebasannya dari AKU. Walaupun begitu, semua kehidupan itu akhirnya sampai kepada tujuannya di nirvana yang sama. Oleh karena itu tak perlu ada konsep kebebasan yang mempunyai arti yang ultimate terakhir dan sangat tinggi. Kita akan membicarakan hal ini lebih terperinci dalam fasal tentang pemikiran Timur. Pada saat ini kita harus mengerti bahwa kebebasan manusia dalam pemikiran agama-agama Barat adalah sangat penting bagi hari kemudian seseorang atau suatu kelompok. Dalam Hinduisme dan Budhisme, tujuan terakhir adalah sama yaitu nirvana yang merupakan hari kemudian bagi seluruh alam.

Dalam aliran-aliran filsafat dari Hinduisme dan Budhisme, dosa adalah kecenderungan yang bodoh kepada dunia, yaitu kecenderungan yang menghalangi proses kepindahan dan kebebasan dari alam ini. Di sini, kita menjumpai lagi arti “dosa” yang berlainan dengan arti yang terdapat dalam tradisi Yahudi. Di Timur, watak manusia akan menjadi sempurna dalam menuju nirvana; adapun di Barat, berada dalam persekutuan dengan Zat Pencipta dan Penyayang adalah tujuan yang dapat dipilih atau ditolak oleh seseorang.

(Sumber: Harold H. Titus. (1984). Persoalan-persoalan Filsafat).


  • · Ini adalah suatu contoh bagaimana orang-orang Barat menyalah fahamkan Islam. Sudah terang bahwa pengarang buku ini tidak pernah mempelajari Al-Quran secara langsung, sebab kalau mereka melakukannya, mereka akan mendapatkan sikap lebih falsafi daripada sikap Injil tentang kebebasan manusia. (Penerjemah).
  • ·· Ini adalah suatu aliran yang sekarang ini sudah tidak ada lagi, yaitu aliran Jabariah.
  • ··· Kata-kata: anak-anak Tuhan (Children of God) terdapat dalam agama Yahudi dan Kristen. Bagi Islam istilah dalam arti tersebut adalah: hamba-hamba Allah. Adapun kata “cinta” tersebut dalam Al-Quran yang artinya: “Katakan hai Muhammad, jika kamu cinta kepada Allah, maka ikutilah aku, niscaya Ia akan cinta kepadamu. (Penerjemah).

[1] H. D. Lewis dan Robert Slater, World Religions (London: C. A. Watts, 1964), hal. 34.

[2] Bacalah fasal 20 dan perhatikan keterangan tentang istilah-istilah agama Budha dalam “Mencari Pencerahan Menurut Budhisme”, hal. 477-483.

Komentar Kritis

Posted in Watak Manusia with tags , , , , , on Juli 12, 2012 by isepmalik

Kebudayaan Barat modern merupakan sintesa antara ideal dan cara hidup yang berasal dari kebudayaan Yunani Kuno, kepercayaan Yahudi dan Nasrani serta kemajuan sains pada abad-abad terakhir. Sains mempelajari manusia sebagai obyek fisik, sebagai binatang yang lebih ruwet difahami, sebagai mekanisme: stimulus (rangsangan)—response (jawaban, tanggapan, reaksi), dan sebagai problema sosial. Ilmu-ilmu tersebut telah memberi kita bermacam-macam fakta dari bahan-bahan deskriptif tentang kehidupan manusia dan hubungan-hubungannya. Semua itu memberi kita informasi yang berharga dan tepat tentang bagian-bagian dari kehidupan manusia. Umpamanya pengetahuan tentang metabolisme manusia, tentang perasaan alergi, tentang Hukum Mendel mengenai warisan, tentang mekanisme pertahanan badan serta kuota kecederasan kita. Banyak sekali pengetahuan teknik yang tak dapat kita peroleh dengan jalan lain. Kita memerlukan banyak lagi fakta semacam itu agar kita dapat hidup bahagia.

Pandangan ilmiah tentang manusia adalah suatu pandangan yang dapat kita terima dan kita tidak perlu membatasinya atau menghalanginya. Kalau pandangan ilmiah itu tidak tepat, hal itu tidak boleh karena pandangan itu keliru, akan tetapi karena tidak sempurna. Terdapat suatu bahaya besar, yaitu bahaya sikap menganggap kualitas pribadi manusia yang berharga hanya sebagai organisme biologi, dan usaha untuk menginterpretasi hanya seluruhnya sebagai reaksi terhadap faktor fisik atau kimia. Sains yang menekan obyektivitas nampaknya melupakan hal yang manusiawi dalam diri manusia. Membatasi penyelidikan tentang manusia pada satu atau beberapa bidang adalah bertentangan dengan metoda filsafat, karena filsafat mencari jawaban yang sempurna dan menyeluruh kepada persoalan-persoalan. Interpretasi Freud tentang manusia menurut “libido”, atau dorongan seks, interpretasi Spengler tentang manusia sebagai “makanan binatang buas”, atau interpretasi Marx tentang manusia menurut proses ekonomi, tidak semuanya salah, akan tetapi merupakan pandangan-pandangan yang sangat berat sebelah.

Apakah dengan begitu kita harus mengikuti Sartre dan mengatakan bahwa watak manusia itu tidak ada? Asumsi semacam itu akan menimbulkan bahaya-bahaya yang sama dengan bahaya yang timbul dari konsep manusia sebagai watak tertentu. Kalau sekiranya tak ada suatu esensi yang sama bagi semuanya, tentu tak akan ada persatuan antara manusia; tentu pula tak ada ilmu psikologi atau antropologi yang pokoknya mempelajari manusia.

Pandangan Yunani bahwa manusia itu makhluk rasional adalah benar akan tetapi tidak sempurna. Akal memberi manusia keagungan dan akal adalah dasar logika bagi menuntut kebebasan. Walaupun tak ada orang yang rasional secara sempurna dan konsisten, tetapi secara potensial manusia itu rasional. Manusia harus mengikuti jejak orang Yunani untuk menghormati akal dan menyuburkannya dalam masyarakat manusia.

Penekanan agama bahwa manusia itu suatu makhluk yang hidupnya mempunyai arti dalam alam, yang berarti—penekanan terhadap harga dan martabat tiap orang, terhadap cinta dalam rasa hidup kemasyarakatan dalam hubungan manusia—adalah suatu penekanan yang benar dan sangat perlu bagi masyarakat kita sekarang. Tentu saja ini tidak berarti mengingkari perlunya meninjau kembali konsepsi tentang manusia pada zaman dahulu atau bahkan menolaknya. Tetapi pandangan agama tentang manusia itu sangat penting sekali, karena pandangan ini menolak untuk menganggap kepribadian hanya sebagai naluri alamiah yang tak terkontrol atau menganggapnya sempurna. Seperti kita katakan sebelum ini, manusia itu hidup pada suatu ketika di mana “alam” dan “jiwa” bertemu. Manusia menghadapi kemungkinan-kemungkinan besar untuk kejahatan dan untuk kebaikan.

Karena pengaruh ilmu biologi, manusia modern cenderung untuk menerangkan ketegangan dalam kehidupannya sebagai suatu konflik antara sifat-sifat kebinatangannya dan aspirasi-aspirasinya yang lebih tinggi dan yang menyertai perkembangan kekuatannya yang lebih tinggi pula. Manusia adalah ibarat anak alam, selalu berada dalam interaksi dengan lingkungannya; ia adalah suatu binatang yang hidup dalam keadaan yang berbahaya di atas sebuah planet yang kecil. Tetapi ia juga merupakan suatu makhluk yang sadar akan dirinya, suatu jiwa yang berdiri di luar alam. ia adalah pemberontak terhadap alam, menolak untuk menerima kondisi yang ada.

Dengan begitu kita melihat beberapa citra tentang manusia, dan citra-citra itu tidak terpisah sama sekali satu dari lainnya. Yang paling penting adalah keyakinan kita bahwa manusia itu bukan benda dan bukan suatu alat untuk mencapai tujuan di luar diri manusia. Kalau hal tersebut itu benar dan memang benar, memahami watak manusia adalah sangat sukar, khususnya dalam masyarakat industri sekarang. Karena didorong oleh kemampuan tekniknya yang selalu bertambah, manusia telah memusatkan segala kekuatannya untuk menghasilkan dan mengkomunikasikan benda-benda. Dalam proses ini, ia selalu mengalami dirinya sebagai benda, memanipulasikan mesin dan dimanipulaikan oleh mesin. Terdapat suatu bahaya yang jelas bahwa manusia mungkin lupa bahwa ia itu manusia. Oleh karena sebab-sebab ini, maka adalah sangat penting pada waktu ini untuk selalu memeriksa kembali tradisi-tradisi pemikiran tentang watak manusia.

(Sumber: Harold H. Titus. (1984). Persoalan-persoalan Filsafat).

Pandangan Ilmiah tentang Manusia

Posted in Watak Manusia with tags , , , , , on Juli 11, 2012 by isepmalik

Satu interpretasi ilmiah yang ketat tentang manusia mengatakan bahwa manusia dan segala aktivitasnya ditentukan oleh peraturan fisika dan kimia. Dalam pandangan ini manusia hanya merupakan suatu bentuk kehidupan yang lebih tinggi dan lebih kompleks, yang dapat diterangkan dengan aturan-aturan yang berlaku bagi materi. Manusia adalah satu bagian dari alam fisik, seperti benda-benda lain, ia mempunyai ukuran berat, bentuk dan warna. Manusia berada dalam ruang dan waktu, sehingga peraturan fisika seperti Hukum Gravitasi juga berlaku bagi manusia.

Pandangan ilmiah tentang manusia seperti tersebut tidak berpendapat bahwa bidang sains itu lebih luas daripada sekadar fakta obyektif yang telah diungkapkan oleh sains alam (natural science). Akan tetapi semenjak abad ke-19, metoda ilmiah telah dipakai untuk beberapa penyelidikan tentang manusia, dan ini telah menimbulkan ilmu-ilmu yang dinamakan ilmu-ilmu sosial: sosiologi, politik, antropologi dan psikologi. Di dalam “sains tentang perilaku” (behavioral science) sekarang, psikologi manusia telah menjadi penyelidikan tentang perilaku manusia. Menurut pandangan ini manusia dapat diubah, dibentuk dan diperkembangkan, sama halnya dengan bidang-bidang lain.

Slogan dari aliran behavioris adalah “Berilah saya suatu bayi dan suatu lingkungan untuk mendidiknya, aku akan mengajarnya merangkak dan berjalan seperti manusia; aku akan mengajarnya memanjat dan menggunakan tangannya untuk mendirikan bangunan dari batu atau kayu; aku akan menjadikannya seorang pencuri, seorang perampok atau penjahat ulung. Kemungkinan pembentukan ke arah mana saja adalah tidak terbatas.[1]

Aliran yang mendahului behaviorisme pada abad ke-19 adalah psikologi binatang, yaitu suatu aliran yang berkembang dari revolusi Darwin dalam biologi. Ahli psikologi binatang melakukan penyelidikan terhadap tikus, ayam dan kera sebagai ganti manusia; mereka mengakui bahwa metoda mereka sama dengan metoda ilmu alam. Sebagai hasil dari penyelidikan-penyelidikan tersebut, mereka mengambil kesimpulan bahwa tugas seorang ahli psikologi adalah untuk menyelidiki tingkah laku manusia dan bukan jiwa manusia dan kesadarannya.

John B. Watson yang mendirikan aliran behavioris psikologi berpendapat bahwa penyelidikan-penyelidikan ilmiah tentang manusia harus terbatas pada hal-hal yang dapat dilihat secara obyektif. “Apakah yang dapat kita amati? Yang dapat kita amati adalah tingkah laku, apa yang badan manusia lakukan.”[2] Implikasi pembatasan ini adalah bahwa bidang pengamatan tidak meliputi apa yang dimaksudkan oleh manusia dengan perkataan atau tindakannya. Semua kata obyektif seperti: indra, persepsi, dorongan dan maksud menjadi hilang. Bagi Watson manusia hanya mesin organik yang dirakit dan siap untuk berjalan.[3] Banyak pengikut aliran behavioris, termasuk B. F. Skinner, terpukau oleh kemungkinan bahwa manusia dapat diatur semenjak lahir.

Pendirian ahli perilaku (behavior) adalah bahwa pribadi-pribadi itu sama, dan merupakan manusia yang dilengkapi dengan syaraf-syaraf dan alat-alat mekanik, dan siap untuk diberi bentuk secara kebetulan atau sengaja, oleh kekuatan-kekuatan di sekelilingnya. Kritik yang pedas telah dilancarkan orang terhadap pendekatan ini. Hannah Arendt sangat meremehkannya dan menamakannya sebagai “suatu pengakuan yang menyeluruh tentang ilmu sosial yang dilemparkan oleh ilmu behavioral untuk menurunkan manusia secara keseluruhan dan dalam segala aktivitasnya, sampai menjadi binatang yang bergerak setelah ia dikondisikan.[4]

Kamu behavioris dan para existensialis ateistik mengingkari bahwa manusia itu memiliki watak manusia yang esensial. Seorang behavioris memandang manusia sebagai robot. Semua orang dapat dimanipulasikan oleh lingkungannya. Existensialis, seperti Sartre, berpendapat sebaliknya; manusia tak memiliki watak manusia, karena ia telah ada sebelum dapat diberi definisi tentang dirinya. “Manusia adalah tak lain kecuali apa yang ia bentuk tentang dirinya. Manusia adalah satu proyek yang memiliki kehidupan yang subyektif. Jadi ia bukan tumbuh-tumbuhan seperti lumut, cendawan dan bunga kol.”[5] Bagi Sartre , manusia itu merdeka, terlontar sendirian tanpa sebab; ia tidak dapat memakai Tuhan atau masyarakat untuk menerangkan tindakan-tindakannya. Manusia itu hanya kumpulan dari tindakannya. Jika eksistensi mendahului esensi, manusia tak dapat mempertahankan tindakannya dengan menyebutkan watak manusia. “Dengan perkataan lain, manusia adalah kebebasan”.[6]

(Sumber: Harold H. Titus. (1984). Persoalan-persoalan Filsafat).


[1] John B. Watson, The Way of Behaviorism (New York: Harper, 1928), hal. 35-36.

[2] John B. Watson, Behaviorism (Chicago: U. of Chicago Press, 1958), hal. 6.

[3] Ibid, hal. 269.

[4] Hannah Arendt, The Human Condition (Chicago: U. of Chicago Press, 1958), hal. 45.

[5] Jean Paul Sartre, “Existensialism It a Humanism”, hal. 291.

[6] Ibid.

Watak Manusia dan Masyarakat (Pendapat Hobbes dan Rousseau)

Posted in Watak Manusia with tags , , , , , on Juli 10, 2012 by isepmalik

Dengan datangnya zaman Renaisans para filosof menyadari bahwa ada suatu pemikiran filsafat yang penting yang selama ini belum dilakukan orang, yaitu mengenai citra manusia dalam filsafat klasik dan filsafat keagamaan. Yang mereka pertanyakan bukan hanya bagaimana manusia itu berbeda dari binatang, akan tetapi kemungkinan apakah yang dimiliki oleh manusia agar menjadi lebih manusiawi. Bagaimana umat manusia dapat hidup bersama dengan damai dan harmonis? Dapatkah manusia itu menciptakan bentuk kehidupan yang baru, yang lebih layak untuk ditempuh? Atau, apakah terdapat sesuatu yang sangat jahat dalam watak manusia sehingga ia akan selalu melakukan kesalahan-kesalahan dari masa lalu dan sekarang?

Persoalan-persoalan ini mendorong kita untuk memperhatikan hubungan antara watak manusia dan masyarakat. Apakah terdapat watak manusia yang tidak berubah yang dapat menetapkan bentuk-bentuk masyarakat, sehingga penderitaan dan peperangan tak dapat dielakkan? Atau mungkinkah mengganti bentuk masyarakat sehingga dapat menjurus kepada perubahan dan kemajuan?

Berkembanglah dua gambaran yang berbeda tentang hubungan antara wakat manusia dan masyarakat. Pertama pada abad ke-17, Thomas Hobbes (1588-1679) menerbitkan karangannya yang berjudul Leviathan (tahun 1651), dan merupakan analisa tentang kekuasaan politik. Judul buku tersebut diambil dari Perjanjian Lama yang menggambarkan Leviathan sebagai seekor buaya raksasa yang memerintah kerajaan binatang yang tak dapat digulingkan. Hobbes yang pernah mengalami pemberontakan dan perang saudara di negeri Inggris menjadi yakin bahwa damai dan tertib memerlukan suatu pemerintah yang menjadi Leviathan yang mempunyai otoritas mutlak terhadap rakyatnya dan dapat menangkis tiap-tiap serbuan.

Hobbes mendasarkan filsafat politiknya atas analisa tentang watak manusia. Ia berpendapat bahwa pada dasarnya manusia itu bersaing, agresif, loba, anti sosial dan bersifat kebinatangan. Jika dibiarkan sendiri, sekelompok manusia akan melakukan peperangan yang terus menerus, satu terhadap lainnya. Hobbes menyerang filsafat politik Plato dan Aristoteles sebagai filsafat yang tidak realistis, yang menganggap secara keliru bahwa manusia itu mempunyai watak mampu untuk mendapat keutamaan (virtue) dan kebijaksanaan (wisdom). Hobbes mengesampingkan akal dan memperhatikan hasrat (passion) khususnya hasrat untuk mempertahankan diri. Oleh karena itu persetujuan manusia dengan negara (social contract) merupakan suatu persetujuan antara orang-orang yang sama mencintai dan mementingkan diri sendiri, yakni persetujuan untuk tidak melakukan pembunuhan massal dan membinasakan jenis manusia.

Gambaran kedua tentang kontrak sosial dikembangkan oleh filosof Perancis, Jean Jacques Rousseau (1712-1778). Rousseau mempunyai pandangan yang bertolak belakang dengan pendapat Hobbes. Ia mempunyai pandangan yang sangat optimis tentang watak manusia dan percaya bahwa manusia itu pada dasarnya baik. Kejahatan masyarakatlah yang menjadikannya mementingkan diri sendiri, dan bersifat merusak. Oleh karena itu Rousseau tidak menganggap kontrak sosial hanya sebagai doktrin perlindungan timbal balik antara manusia yang bersifat kebinatangan. Baginya, fungsi negara adalah untuk memungkinkan rakyat mendapatkan kembali sifat kebaikannya yang asli yang pernah mereka miliki sebelum terbentuknya negara. Maksud Rousseau adalah untuk mengembangkan konsepsi negara yang akan memungkinkan kita hidup secara moral sedapat mungkin.

Perhatian kita di sini bukan terhadap negara yang digambarkan oleh Hobbes dan Rousseau akan tetapi terhadap pandangan mereka berdua yang bertentangan, mengenai watak manusia. Bagi Hobbes manusia dalam keadaan alamiahnya hanya ingin menaklukkan manusia lain; ia hanya mencari keuntungan dan kemegahan, dengan merugikan orang lain. Di lain fihak, bagi Rousseau, manusia pada dasarnya bersifat baik, tetapi keadaan masyarakat sekarang merusaknya. Lebih jauh Rousseau percaya bahwa persaingan dan keinginan untuk memiliki adalah sebab rusaknya watak manusia; oleh karena itu kita harus meninjau kembali lembaga-lembaga masyarakat kita. Dalam bukunya yang masyhur “The Social Contract” (1762) ia mengatakan bahwa manusia harus mendapatkan kembali kebebasannya dalam masyarakat; untuk menjadi warga negara berarti menghendaki dan melakukan apa yang baik bagi masyarakat dan dirinya sendiri. Rousseau dianggap sebagai bapak dari teori yang paling liberal dan paling revolusioner pada zaman ini; ia berpendirian tegas bahwa para warganya mempunyai hak penuh untuk bebas dari campur tangan pemerintah. Manusia harus hidup sesuai dengan watak aslinya yang baik, dan hal ini lebih penting dari tuntutan apa saja yang dilakukan oleh negara atau masyarakat.

(Sumber: Harold H. Titus. (1984). Persoalan-persoalan Filsafat).

Kesalahtafsiran tentang Manusia

Posted in Watak Manusia with tags , , , , , on Juli 6, 2012 by isepmalik

Untuk memahami apakah evolusi itu, kita harus menjauhkan diri dari kesalahtafsiran-kesalahtafsiran yang sering terjadi.

Pertama, teori evolusi tidak terjadi atau mengandung arti bahwa semua bentuk yang hidup itu cenderung mengarah kepada manusia, atau bahwa jenis-jenis yang ada itu tentu akan berubah menjadi jenis lain. Teori evolusi tidak berarti bahwa manusia berasal dari monyet, atau monyet yang lebih sempurna. Manusia mempunyai asal usul yang panjang, dapat ditelusuri sampai jenis manusia purba. Walaupun kera dan manusia mempunyai asal usul yang umum, kera bukannya asal usul manusia. Binatang menyusui yang ada sekarang juga mempunyai sejarah asal usul yang panjang. Kebanyakan ahli evolusi melukiskan hubungan antara makhluk-makhluk yang hidup dengan sebatang pohon yang mempunyai banyak cabang yang panjang. Sekali, sesuatu cabang terlepas dari batang pokok, ia tidak akan kembali. Ia telah terpisah dan menuju suatu arah sendiri. Jenis-jenis yang ada digambarkan hanya sebagai dahan-dahan dari cabang. Mungkin banyak cabang yang sudah sampai kepada akhir wujud (jalan buntu)-nya. Ada beberapa cabang yang sudah mati dan hilang pada zaman dahulu. Tak ada kemungkinan bagi jenis yang ada sekarang untuk menjelma menjadi binatang yang berlainan garis evolusinya. Untuk mengetahui hubungan-hubungan antar jenis, kita perlu mendalami pengetahuan tentang masa yang sudah sangat lama.

Kedua, teori evolusi tidak sama dengan Darwinisme. Darwinisme adalah satu penjelasan bagaimana suatu jenis dapat muncul dari jenis yang lain. Beberapa tahun yang lalu ada seorang ahli sains yang mengatakan bahwa ia tidak setuju dengan pendapat Darwin. Ide sarjana tersebut telah dikutip secara keliru dan dikatakan bahwa ia tidak percaya kepada evolusi. Seseorang mungkin menolak keterangan Darwin bagaimana suatu jenis menjelma dari jenis lain, tetapi ia tetap percaya kepada teori evolusi.

Ketiga, teori evolusi bukannya keterangan tentang watak dan asal dari kehidupan itu sendiri. Teori evolusi adalah interpretasi tentang suatu proses atau interpretasi deskriptif tentang bagaimana suatu jenis menjelma dari jenis yang lain. Interpretasi semacam itu mungkin bersifat mekanistis, vitalistis atau teologis; mungkin juga bersifat theistic (berketuhanan) atau non-theistic (tidak berketuhanan). Sebagaimana suatu pengetahuan tentang perkembangan seseorang tidak mengandung suatu sikap tentang kehidupan, begitu juga penerimaan teori evolusi tidak memaksakan kepada kita suatu filsafat kehidupan atau sesuatu interpretasi tentang alam.

Keempat, teori evolusi tidak seharusnya mengingkari agama atau kepercayaan kepada Tuhan. Jika anda tidak menemui kesulitan untuk percaya kepada Tuhan pada waktu anda mengetahui bahwa seseorang akan sampai kepada usia remaja sebagai hasil proses perkembangan yang lambat, mengapa pengetahuan bahwa manusia adalah hasil dari proses perkembangan menyebabkan banyak heboh?

Hendaklah kita ingat bahwa teori evolusi tidak menerangkan asal atau watak kehidupan atau kemauan untuk hidup. Secara falsafi, pilihan alamiah (natural selection) tidak dapat menjelaskan bermacam-macam persoalan. Pilihan alamiah bukan faktor yang kreatif dalam evolusi. Pilihan alamiah hanya merupakan usaha untuk menghilangkan bentuk-bentuk kehidupan yang tidak dapat bertahan menghadapi lingkungan. Pilihan alamiah mengarah atau memilih variasi, akan tetapi tidak menciptakan variasi tersebut. istilah persaingan (competition) atau perjuangan hidup (struggle for existence) dan kelangsungan hidup bagi yang paling sesuai (survival of the fittest), yaitu istilah-istilah yang banyak dipakai dalam diskusi tentang evolusi, juga perlu dikritik dan dinilai. Persaingan dan kerjasama, keduanya terdapat dalam alami; karena itu dua perkataan tersebut tidak mengungkapkan seluruh persoalan. Kelangsungan hidup bagi yang paling sesuai mungkin hanya berarti kelangsungan hidup bagi mereka yang dapat langsung hidup dalam suatu lingkungan tertentu, dan ini mungkin bergantung kepada beberapa faktor. Terdapat bermacam-macam tingkatan dan corak dalam penyesuaian (adaptation) dan kesesuaian. Dalam lingkungan-lingkungan tertentu, yang dapat langsung hidup hanya binatang-binatang bersel satu (amuba).

Walaupun bukti tentang evolusi organik nampak sangat kuat, namun ada sekelompok kecil manusia yang tidak yakin. Mereka itu kebanyakan berasal dari golongan keagamaan yang konservatif. Mereka itu dinamakan fundamentalis, artinya orang yang memahami riwayat penciptaan alam dalam Injil secara harfiah. Oposisi dari gereja Katolik telah diubah oleh pernyataan-pernyataan terakhir, khususnya oleh Ensiklikel Paus (Papal Encyclical) tahun 1951. Di antara orang-orang Protestan di Amerika Serikat, sekelompok liberal menerima teori evolusi; tetapi banyak kelompok fundamentalis yang menentangnya dalam sidang-sidang mereka serta dalam perwakilan-perwakilan rakyat. Perbedaan faham tersebut menonjol antara tahun 1920 dan tahun 1930, khususnya sewaktu perkara Scopes disidangkan di Dayton, Tennessee pada tahun 1925.[1] Semenjak itu, perdebatan telah mereda dan telah selesai di bagian terbesar dari dunia Barat. Bagi mereka yang menerima interpretasi historis dan bukannya faham harfiah terhadap Injil, konsep evolusi tidak menimbulkan persoalan.·

(Sumber: Harold H. Titus. (1984). Persoalan-persoalan Filsafat).


[1] Bacalah buku Ginger Ray, Six Days of Forever? Tennessee vs John Thomas Scopes (Boston: Beacon, 1958); Williard B. Gatewood, Preachers, Pedagogues & Politicians: The Evolution Controversy in North Carolina 1920-1927 (Chapel Hill: U. of North Carolina Press, 1966). Drama yang berjudul Inherit the Wind, oleh Jerome Lawrence dan Robert E. Lee, adalah penggambaran yang populer tentang jalannya peradilan Scopes, walaupun menyebutkan nama-nama pelaku utamanya dengan nama-nama lain.

  • ·  Maurice Bucaille telah menulis buku L’homme, d’ou vient-il? (Dari mana asal usul manusia?) (Paris: Seghers, 1982). Isinya: teori evolusi sesuai dengan ajaran Al-Quran.