Archive for the Fasal 15 Category

Bersuci Ma’rifat di Alam Tajrid

Posted in Fasal 15 with tags , , , , , on April 30, 2012 by isepmalik

Mensucikan ma’rifat terbagi kepada dua macam: 1. Bersuci untuk ma’rifat sifat’ 2. Bersuci untuk ma’rifat dzat. Kesucian ma’rifat sifat dihasilkan harus dengan talqin dzikir dan membersihkan cermin hati dengan nama-nama Allah dari segala nafsu basyariyah (manusia) dan hayawaniyah (kebinatangan). Bila sudah dibersihkan, maka datanglah kemampuan melihat dengan mata hati dari sifat-sifat Allah. Hati akan melihat pantulan keindahan Allah pada cermin hati. Rasul bersabda:

“Seseorang mukmin mata hatinya akan mampu melihat dengan cahaya dari Allah”.

Sabda Rasul: “Seorang mukmin adalah cermin Allah Yang Mukmin”. (Al-Mukmin adalah salah satu dari Asmaul Husna).

Juga Hadits Rasul: “Orang yang Alim mengukir dan orang yang Arif membersihkan”.

Bilamana pembersihan hati telah sempurna dengan terus-menerus berdzikir dengan Asma Allah, maka seorang insan akan meraih ma’rifat sifat dengan selalu musyahadah pada cermin hati.

Bersuci di tingkat ma’rifat zat hanya dapat dicapai dengan selalu menggunakan Asma Tauhid yang tiga yang merupakan akhir dari dua belas Nama-nama Allah pada Ainu Sirri (di dalam rasa pada kedalaman hati) dan akan menghasilkan kemampuan melihat dengan penglihatan sirri dari cahaya Tauhid.

Bila telah lahir cahaya dzat, maka leburlah jiwa manusia secara menyeluruh. Hal ini disebut maqam Istihlak (lebur diri) dan Fana al-Fana (peleburan yang hakiki). Inilah Tajalli yang menghapus seluruh cahaya-cahaya. Sebagaimana firman Allah dalam surah Al-Qashash ayat 88: “Segala sesuatu akan hancur, kecuali Zat Allah”. Firman Allah:

“Allah menghapus apa yang Dia kehendaki dan menetapkan apa yang Dia kehendaki dan di sisi-Nyalah terdapat Ummul Kitab (Lauh Mahfuz)” (QS. Ar-Ra’d: 39).

Oleh karena itu ruh Al-Qudsi (ruh manusia yang paling dalam yang diciptakan langsung dari Nur Muhammad). Ia kekal melihat dengan lubuk hati kepada Allah, dari Allah, beserta Allah, di jalan Allah, dan untuk Allah, tanpa cara dan perumpamaan.

Firman Allah dalam Al-Quran: “Tidak ada sesuatu pun yang menyerupai Allah”, maka yang ada hanyalah Nur Mutlak (Cahaya Murni) yang semurni-murninya. Dan bila sampai di tingkat ini tidak boleh diberitakan kepada siapa pun, karena ini adalah alam peleburan. Akal sudah tidak berfungsi lagi untuk membicarakannya dan tidak ada teman lagi kecuali Allah. Sesuai dengan sabda Rasul:

“Aku punya kesempatan khusus dengan Allah, malaikat dan nabi yang diutus pun tak akan mampu mencapainya (yang dimaksud nabi di sini adalah jasad Nabi)”.

Ini adalah alam tersendiri dari selain Allah. Firman Allah:

“Bersihkanlah hatimu dari selain Aku sampailah kepada-Ku”.

Yang dimaksud dengan menyendiri ialah peleburan diri dari sifat manusia dan beralih di dalam alamnya mencapai sifat-sifat Allah. Rasul bersabda:

“Berakhlaklah kamu dengan akhlak Allah” (artinya jadikanlah sifat-sifat Allah menjadi sifatmu).

Iklan