Archive for the 1. Siapa? Category

Siapakah sang pencari?

Posted in 1. Siapa? on Oktober 21, 2010 by isepmalik

Sebelum mempertimbangkan tempat manusia dalam realitas universal, mungkin akan membantu bila melihatnya sebagai makhluk individuals. Manusia memiliki fisik yang dapat melihat dan menyentuh. Manusia juga memiliki pikiran yang berpikir dan bisa merasakan emosi. Manusia adalah jiwa-jiwa yang merasakan kebenaran, keindahan, kebaikan, cinta, dan memiliki bagian ruhani yang begitu setia menuntun ke depan. Inti dari aspek-aspek menjadi manusia adalah sebagai kapten kapal kepribadian, memilih, memutuskan, bertindak, dan tentu saja menentukan hidup.

Jiwa kita memiliki potensi untuk berhubungan dengan Tuhan—dengan nama apapun manusia menyebut Sang Pencipta itu. Manusia dapat merasakan adanya keberadaan Pencipta dari ekspresi kemegahan cinta, kehidupan, kreativitas, perdamaian, keindahan, kasih sayang, persahabatan, dan banyak lagi. Bisakah kita akan merindukan sesuatu yang tersembunyi di dalam? Apakah kita sudah dipenuhi dengan kekuatan Ilahi terhadap tujuan yang diinginkan? Apakah hidup petualangan dapat mengembangkan potensi keilahian kita? Mungkinkah ini bagian dari alasan mengapa kita diciptakan? Apakah dorongan untuk hidup secara kreatif yang berasal dari imajinasi batin merupakan bisikan Ilahi yang mendorong menjadi ekspresi kita, seperti ide-ide kreatif? Apakah ini bagian dari penelitian kreatif luar biasa yang dapat bersinar melalui pikiran, perasaan, kata-kata, perbuatan, dan cara kita menjalani hidup?

Kita hidup, sadar atau tidak sadar, di bawah prinsip-prinsip spiritual dan hukum-hukum universal kehidupan yang dapat mencerminkan pergerakan energi Sang Pencipta melalui setiap orang. Mungkin dengan membiasakan reflektif, inovatif, dan seimbang—sambil melakukan yang terbaik setiap hari—membantu kita membuat kemajuan yang signifikan terhadap tujuan mulia. Ide keilahian bagi kehidupan tampaknya jauh lebih besar dari yang kita bayangkan sebelumnya. Seringkali saluran eksplorasi baru terbuka untuk mengekspresikan hal yang lebih besar dan berhasil. Manusia mulai membangun cara hidup yang sebenarnya, dengan kesadaran, partisipasi, dan mungkin dengan kreatif.

“Tujuan” bagi Sang Pencari

Daniel H. Osmond menulis:

Tujuan harus dilakukan sampai akhir, “Hal itu demi martabat keberadaan manusia”. Seseorang dapat menanyakan tujuan dari alam semesta, dunia, makhluk bernyawa umumnya, atau dari manusia secara khusus. Dan, dalam kaitannya dengan manusia, beberapa tingkat tujuan dapat diidentifikasi mulai dari persyaratan dasar untuk bertahan hidup, gratifikasi di akhir, mencari kepuasan intelektual, dan isu-isu spiritual dari kehidupan. Cepat atau lambat, orang bijak bertanya, “Untuk apa kepentingan (tujuan) keberadaan saya?” Kebanyakan dari kita melakukannya ketika menghadapi krisis. Tapi, tentu saja tujuan hidup tidak harus lebih dipikirkan hanya di saat krisis, seperti merenungkan tujuan memiliki mobil hanya pada saat kecelakaan lalu lintas. Tujuan dapat berkisar dalam lingkup untuk bertahan hidup dengan cara berkelahi seperti zaman primitif, lalu naik ke tingkat tertinggi mencari aspirasi intelektual, spiritual, dan pencapaian. Manusia perlu menemukan “tujuan yang benar” bagi seluruh kehidupannya, jika hal itu tercapai, maka dia eksis.[1]

Sebagai manusia, terkadang kita akan melompat dari tebing. Kita mungkin memiliki kehendak bebas, tapi pada saat ini dalam hukum evolusi tidak punya pilihan bebas. Paling tidak, ada sedikit pilihan, melompat dari tebing dengan kehidupan yang penuh keimanan, atau kita akan didorong dari tebing (oleh kehidupan).

Sarana untuk melompat dari tebing adalah melepaskan mental dan fisik atau berpegangan kepada orang-orang yang telah kita percaya. Kita harus melepaskan semua konsep lama, semua perbendaharaan teori, pikiran yang membebani, maupun ketergantungan hubungan pribadi. Dalam rangka itu, kita harus melakukan gerakan realistis dan sadar bahwa terdapat dua dunia paralel—keberadaan dunia spiritual dan dunia materi—untuk melompat dari tebing! Hal itu tidak berarti akan kehilangan orang-orang tercinta dan hal-hal yang dicintai saat ini, tapi kita harus melepaskan ketergantungan pada mereka.[2]

Fase paling menarik dari perjalanan manusia adalah pengembangan spiritualnya. Pesona kemanusiaan memiliki dimensi spiritual, tetapi masih seperti daerah kekuasaan yang tersembunyi. Prinsip yang mendasarinya terletak di belakang peristiwa sehari-hari yang tumbuh dan diambil hasilnya pada abad-abad berikutnya. Setiap penjelasan baru tampaknya membuka pertanyaan mendalam, seolah-olah hanya berupa garis besar dan penjelasan pengamatan dengan model yang hanya mendekati kebenaran. Tetapi spiritualitas akan menyebar dan menjadi energi dimensi kreatif terhadap pemahaman baru bagi manusia masa depan.[3]

Manusia hidup di dunia spiritual dan setiap individu yang diciptakan di dunia menurut gambar Tuhan dengan hadiah yang unik serta bertujuan untuk menggunakan karunia-karunia yang memberikan nilai kepada dunia.

Tujuan sudah di tanam dalam diri manusia. Hal ini hanya menunggu untuk ditemukan. Jika membuka diri, kita akan menemukannya. Dan setelah menemukan, kita harus mencoba untuk menjalankannya. Bekerja untuk tujuan, memberi kita arah. Tujuan adalah jalan hidup—sikap disiplin yang akan dipraktekkan sehari-hari. Ruhani menyentuh dan menggerakkan kehidupan kita, melalui “entah” yang merupakan misteri tujuan.[4]


[1] Daniel H. Osmond, “A Physiologist Looks at Purpose and Meaning in Life,” in Evidence of Purpose, ed. John M.Templeton (New York: Continuum, 1994), 134–35.

[2] Walter Starke, It’s All God (Boerne,Tex.: Guadalupe Press, 1998), 236.

[3] John M.Templeton and Robert L. Herrmann, The God Who Would Be Known (New York: Harper & Row, 1989), 4–5.

[4] Richard J. Leider, The Power of Purpose (New York: MJF Books, 1997), 3–4.

Iklan

Pencari Samudera

Posted in 1. Siapa? on Oktober 20, 2010 by isepmalik

Apakah Tuhan mencakup semua dan Anda bagian kecil dari Tuhan?

—John Marks Templeton—

Pernahkah Anda berdiri di tepi pantai dan memandang ke seberangnya? Tampaknya lautan menjadi hamparan tak terbatas dan mungkin Anda merenungkan pencapaian menakjubkan diperbatasan seberang pantai. Imajinasi kreatif mungkin dapat memvisualisasikan progresivitas perkotaan yang ramai dengan orang-orang dari setiap deskripsi yang terlibat dalam spektrum petualangan yang luas. Mungkin Anda juga bertanya-tanya, apakah ada misteri dari laut yang luas antara Anda yang berdiri dan pantai yang terlihat jauh itu?

Kemanusiaan pada saat ini seperti perluasan eksplorasi pantai dengan penemuan baru dan percepatan pengetahuan. Manusia berdiri pada landasan penelitian yang mengesankan, bukti, dan konsep dijamin selama lima abad terakhir untuk mempercepat kemajuan ilmiah. Sudut pandang manusia naik seperti tebing tinggi. Sebelum manusia memikirkan hal yang besar, realitas “samudera” memastikan dari mana pengetahuan akan diperoleh. Seberapa besar samudera ini? Dimanakah posisi kita ketika mengeksplorasi kemanusiaan dalam mempertahankan kehidupan di masa depan? Pemandangan samudera merupakan hal yang luar biasa, menarik, dan rendah hati dalam keluasannya!

Apakah dengan sikap pikiran terbuka ketika mengeksplorasi kemungkinan pengembangan kapasitas pikiran dan spiritual, kita bisa belajar lebih banyak tentang tujuan Sang Pencipta? Bagaimana motivasi dari Sang Pencipta yang memungkinkan untuk bergerak dan berpartisipasi dalam realitas yang mengelilingi kita? Apakah hal ini bagian dari motivasi keindahan yang tersembunyi pada setiap manusia seperti bercahayanya sebuah bintang? Apakah motivasi keindahan yang bersinar melalui setiap orang merupakan ekspresi unik dari keilahian?

Sang Pencari yang Keheranan

Berpikir tentang Sang Kreator yang Mahatahu menimbulkan banyak pertanyaan: Apakah kesadaran manusia hanya manifestasi kecil dari kesadaran kreatif luas yang sering disebut dengan berbagai nama seperti Tuhan, Allah, Roh, Yahweh, Brahman, atau Sang Pencipta? Apakah konsep manusia sebagai sumber kreatif ini terlalu kecil? Apakah konsep makhluk terlalu berpusat pada spesies manusia? Apa hubungan manusia dengan keilahian yang tak terbatas itu? Kami ada, berpikir, merasa, bermain, bekerja, dan bercita-cita. Apa tujuan utama yang dituju dan dicita-citakan manusia? Apa bukti yang menunjukkan bahwa yang tak terlihat bisa lebih seratus kali lebih besar dan lebih bervariasi dari yang terlihat? Ketika mempertimbangkan kesuburan gagasan penciptaan, apakah kita melihat kemungkinan aspek yang paling penting dari tujuan Ilahi dapat diwujudkan melalui kreativitas yang sedang berlangsung, perubahan, dan inovasi? Bagaimana mempelajari cara-cara untuk merangkul kemajuan dan penemuan dengan cara yang harmoni dalam kreativitas Ilahi dan berkembang dalam tujuan hidup kita?

Sudah semenjak zaman dahulu manusia mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut. Sampai hari ini, manusia sering memikirkan kembali renungan klasik ini. Generasi mendatang kemungkinan besar akan terus berlanjut dan mempercepat pencariannya. Tampaknya pencarian untuk menemukan jawaban atas pertanyaan utama tersebut berakar pada bagian yang sangat terdalam dari pikiran. Apakah manusia bisa belajar menerapkan penelitian intensitas energi yang sama untuk mengejar informasi spiritual seperti yang telah dikhususkan untuk penyelidikan ilmiah? Dunia saat ini telah menjadikan keahlian teknis tertentu sebagai profesionalisme yang belum pernah terjadi sebelumnya, namun pengetahuan manusia tentang spiritualitas tidak berkembang dengan kecepatan yang sama.

Sinyal transendensi luar biasa yang telah ditempatkan di langit, bumi, dan dalam diri manusia sendiri, menyimpulkan bahwa alam semesta ada di sini dengan rencana Ilahi. Kita melihat asal usul alam semesta melalui berbagai ilmu, menjelajahi ajaran suci dari agama-agama dunia yang berbeda, mempelajari evolusi manusia, dan menemukan varietas bukti keilahian yang tak terbatas. Apakah sudah saatnya untuk menyalurkan kegelisahan kreatif kita untuk membangun dunia dengan eksplorasi dan penyelesaian kuat dalam aspek spiritual maupun yang ilmiah?

Apakah ada desain kosmik bagi kemanusiaan yang membungkus kesadaran dengan kesucian dan mendorong untuk bertanya-tanya, apakah kita adalah bagian kecil dari keilahian? Apakah ini desain universal yang sama untuk memperluas imajinasi manusia dengan keindahan ekspresi kreatif yang tak terbatas, membuka hati kita dengan kasih sayang Tuhan yang tak terbatas, dan mengundang ketekunan kita untuk menyelaraskan dengan maksud kreatif yang tak terbatas itu? Apakah sekarang sudah waktunya menjelajahi jalan untuk pemahaman yang lebih besar: Mengapa kita diciptakan?

Bagaimana meningkatkan pengetahuan spiritual jika kita menjadi lebih antusias menerima kemungkinan tak terbatas yang menanti dalam kehidupan spiritual? Apa yang akan terjadi dalam kehidupan pribadi masing-masing orang dan bagi kemanusiaan secara keseluruhan, jika kita mulai lebih fokus menempatkan pada hal yang tak terhingga, keindahan ruhaniah, dan membina hubungan dengan sumber kreatif dari segala sesuatu itu? Bagaimana kemajuan dunia, jika kita membuat komitmen yang kuat untuk eksplorasi ilmiah dari ekspresi fisik-mental sebagai manusia?