Archive for the Jalaluddin Rumi Category

Kontekstualisasi Matsnawi Karya Jalaluddin Rumi (1)

Posted in Jalaluddin Rumi with tags , , , on Januari 25, 2012 by isepmalik

Garis Kehidupan Rumi

Rumi lahir pada tahun 1207 di Asia Tengah, tepatnya di Balkh daerah Khurasan sekitar 160 mil sebelah tenggara Samarkand.[1] Ayahnya bernama Baha al-Din Walad, seorang ulama dan ahli hukum agama. Berasal dari Balkh di Khurasan, Baha al-Din pindah ke Vakhsh sekitar tahun 1204 untuk meneruskan profesinya. Vakhsh merupakan daerah terbelakang dan Baha al-Din berseberangan dengan Qadhi setempat, oleh karena itu ia memutuskan pindah dan mencari pemerintahan yang saleh. Dia pindah pertama kali ke Samarkand sekitar tahun 1212 bersama Rumi yang baru berusia lima tahun, ketika itu daerah ini diembargo oleh Khwarazmshah. Menerima kenyataan tersebut, pada tahun 1216  ia berangkat dengan keluarganya dan menetap di Baghdad. Inilah alasan mengapa ia pindah ke arah Barat karena keputusannya sendiri, bukan karena adanya ekspansi Mongol sebagaimana diceritakan dalam tradisi sejarah. Jelas, keluarga ini pindah sebelum ancaman Mongol datang. Dalam suatu kesempatan, keluarga ini mengunjungi sufi besar bernama Attar Farid al-Din di Nishapur.

Tidak lebih dari sebulan tinggal di Baghdad, mereka kemudian berangkat melakukan ibadah haji di Mekah pada tahun 1217. Perjalanan besar dari Khurasan tersebut, tentu saja merupakan pengalaman luar biasa bagi Rumi yang berusia sepuluh tahun; menyaksikan dan menjadi bagian dari perjalanan spiritual haji merupakan dimensi yang sama sekali baru baginya. Dari Mekah mereka melakukan perjalanan ke Utara menuju Damaskus dan kemudian ke Malatya di Turki timur sampai menjelang akhir tahun 1217. Mereka tidak tinggal lama di Malatya, antara November 1217 sampai Maret 1218 berpindah ke Akshahr di sekitar pertengahan antara Sivas dan Erzincan di Turki timur laut. Di sana ia diterima dengan baik oleh Ismati Khatun, istri dari Pangeran Erzincan yang bernama Fakhr al-Din Bahramshah.[2] Bahramshah membangun sebuah perguruan tinggi agama di Akshahr untuk selanjutnya dipimpin Baha al-Din, di sini ia menetap dan mengajar pelajaran umum selama empat tahun. Sang Pangeran menginginkan perguruan tinggi tersebut menjadi pusat pembelajaran sufi, Baha al-Din tidak menyanggupinya karena meskipun ia seorang mistis dan cenderung asketis tapi lebih cenderung sebagai juru dakwah dan pendidik. Ia memutuskan untuk meninggalkan tempat tersebut dan bermaksud menunaikan ibadah haji; ia ingin mendedikasikan sisa hidupnya untuk mendekatkan diri kepada Tuhan, bukan mencari ketenaran. Setelah ibadah haji selesai, ia melanjutkan ke negeri perbatasan Islam lainnya. Anatolia merupakan negeri yang beragam etnisnya; sebagian besar beragama Kristen, sedangkan di Turki dan Turkmenistan sudah banyak yang beragama Islam. Di sini ia menjadi juru dakwah yang saleh dan mengajar dasar-dasar Islam. Murid-murid menginginkannya menjadi pemimpin ruhani; ia selalu dikerumuni para murid yang memiliki kemitmen spiritual yang tinggi.

Baha al-Din mengakhiri pengabdiannya di Akshahr sekitar 1221, tahun di mana Fakhr al-Din Bahramshah dan Ismati Khatun wafat. Putrinya bernama Saljuqi Khatun menikah dengan Izz al-Din Kay Kaus I di Konya; dari pernikahan ini terjadi hubungan kekeluargaan yang lebih luas. Gubernur Saljuk bernama Amir Musa menyediakan perguruan tinggi untuk Baha al-Din di pusat kota. Keluarga ini menetap di sana selama tujuh tahun, pada kurun waktu itu ibu Rumi yang bernama Mu’minah Khatun wafat dan kuburnya pada masa sekarang telah ditemukan di Karaman. Juga selama periode ini, pada tahun 1224 ketika berusia tujuh belas tahun, Rumi melangsungkan pernikahan dengan Gawhar Khatun. Ia adalah salah satu murid utama ayahnya yang sudah mengiringi sejak dari Samarkand. Dari pernikahan tersebut, Rumi dikaruniai dua putra; yang tertua bernama ‘Ala al-Din lahir pada tahun 1225, dan putra kedua bernama Sultan Walad lahir pada tahun 1226.

Pada tahun 1229, Sultan Saljuk Ala al-Din Kay Qobad mengundang Baha al-Din ke Konya; di situ ia disambut dengan hangat dan ditempatkan di Madrasah Altunpa. Baha al-Din mengajar sampai wafatnya pada Februari 1231 dalam usia delapan puluh tahun. Ia dimakamkan di taman mawar Sultan dengan sebuah prasasti di batu nisan, karena ia telah menjadi guru spiritual yang dihormati para muridnya dan pendidik yang inspiratif. Baha al-Din tidak menulis buku tetapi membuat sebuah jurnal spiritual. Jurnal tersebut diterbitkan dengan judul Ma’arif. Ini menunjukkan bahwa Baha al-Din memiliki kehidupan batin yang kaya: ia memiliki penglihatan mistis; dzikir pribadinya adalah Allah Allah yang diulang terus-menerus. Dalam pandangannya, Tuhan sepenuhnya transenden namun juga imanen, seperti dikatakan dalam QS. (50:16). Tuhan adalah Zat Murni, namun erat dengan makhluk ciptaan-Nya. Baha al-Din berusaha untuk melihat ke dalam diri dan dunia luar, bukan secara intelektual tetapi melalui penangkapan “rasa”, pengalaman langsung Kehadiran dan Komunikasi dengan Tuhan. Ia melakukan ini dengan menempa diri oleh Al-Quran dan pendalaman maknanya, melalui praktik asketis dan kefanaan dirinya, melalui meditasi dan kontemplasi, melalui doa, dan ketaatan aspek syariah (fiqh). Banyak hikmah dan sikap Baha al-Din yang ditemukan dalam Matsnawi, meskipun dinyatakan dalam pemahaman, karakteristik dan sudut pandang Rumi. Dapat dibayangkan betapa jiwa Rumi begitu terpukul dengan wafat ayahnya, ia mengundurkan diri dari Konya dan kembali ke Larende.

Satu tahun setelah wafat Baha al-Din, salah satu murid utamanya bernama Sayyid Burhan al-Din Muhaqqiq tiba di Konya dan dikirim kepada Rumi. Dia mengumpulkan para murid Baha al-Dian untuk membimbing dan membantu Rumi secara finansial. Rumi menghabiskan waktu empat tahun (1233-1237) untuk melanjutkan pendidikan formal dalam bidang hukum dan ilmu-ilmu agama pada sekolah di Suriah, terutama di Aleppo dan Damaskus. Sekembalinya dari studi, Burhan al-Din kemudian membimbing dengan ritual seperti puasa, khalwat, dan studi intensif atas tulisan-tulisan serta cara meditasi Baha al-Din. Hal ini berlangsung selama hampir lima tahun, sampai Rumi berusia tiga puluh lima tahun ketika Burhan al-Din kembali ke Kayseri dan wafat di sana pada tahun 1241. Seperti Baha al-Din, Burhan al-Din membuat semacam jurnal selama sepuluh tahun menjelang wafatnya.

Seperti banyak guru, ia memiliki ajaran seperti “matilah sebelum mati,” bergulat dengan alam bawah sadar, dan pencarian terhadap Sang Kekasih. Membiasakan kefanaan diri dengan banyak berpuasa. Mementingkan kesucian diri atau mendekatkan diri kepada Tuhan, terutama qutb sebagai sumbu spiritual (axis mundi) yang hadir setiap saat. Burhan al-Din sangat menyukai puisi, khususnya puisi Sana’i. Banyak kutipan dari penyair, Al-Quran, Hadits Nabi, dan pilihan cerita dalam Matsnawi disinyalir memiliki keterkaitan langsung dengan tulisan-tulisan Burhan al-Din.

Hal ini tidak diketahui secara pasti karena Rumi pun menduduki posisi seperti ayahnya di kemudian hari. Tentu saja semasa hidupnya, Burhan al-Din sudah mengenal Rumi dengan baik. Burhan al-Din mulai mengajar di perguruan tinggi setelah kembali menyelesaikan studinya di Suriah, dan menjadi pembimbing spiritual di Kayseri. Pada tahun 1242 atau 1243, istri Rumi Gawhar Khatun wafat, di mana pada saat itu kedua anaknya berada di Damaskus melanjutkan pendidikan formal. Rumi menikah lagi dengan seorang janda bernama Kirra Khatun dan dikaruniai putra bernama Muzaffar al-Din Amir Alim Chalabi (w. 1277) dan putri bernama Malikah Khatun (w. 1303-1306); keduanya lahir sekitar tahun 1240-an. Seperti ayahnya, Rumi merupakan tokoh inspiratif yang memiliki pengikut di kalangan pedagang dan pengrajin serta orang-orang Kristen Armenia dan Yunani, beberapa diantaranya menyatakan masuk Islam. Rumi adalah seorang ahli hukum yang dihormati, guru yang berkualitas, inspiratif, dan menjadi panduan spiritual bagi murid-muridnya. Namun, pada 29 November 1244 ketika tiba di Konya, ada seorang pria yang merevolusi potensi spiritualnya; seorang darwis berusia enam puluh tahun bernama Syams al-Din dari Tabriz.

Syams al-Din dari Tabriz atau Syams-e Tabrizi, selanjutnya hanya disebut Syam yang berarti “matahari” dalam bahasa Arab. Syams dilahirkan dengan kepekaan dan kemampuan spiritual yang tidak biasa. Sebagai seorang anak ia merasa memiliki kontak dengan dunia spiritual, dianugerahi kelimpahan cinta Tuhan, dan keterasingan dari dunia empiris. Sebelum masa akil balig, pengalaman spiritualnya begitu kuat sampai terbiasa tidak makan selama tiga puluh atau empat puluh hari. Pada orang biasa lainnya, pengalaman spiritual seperti itu hanya dapat didapat lagi di kemudian hari melalui pelatihan ruhani. Tentu saja ia menjelaskan tentang penerimaan bisikan keilahian selama masa hidupnya. Tabriz, ketika Syams tumbuh dewasa dipenuhi tokoh-tokoh spiritual seperti pir (sufi), syekh, darwis, orang suci, dan mahasiswa terpelajar lainnya. Tidak diketahui secara persis dari siapa dan di mana ia menerima pendidikan formalnya. Dia mempelajari hukum agama dari sekolah yang beraliran Syafi’iyah, ketika tiba di Konya ia sudah terpelajar dan memiliki pengetahuan mendalam dalam bidang ilmu agama dan bidang disiplin lainnya. Cara belajar yang disukainya adalah metode debat dan diskusi, ia telah melakukan hal itu dengan banyak guru dan mahasiswa lainnya dalam perjalanan spiritual. Tampaknya ia menghabiskan hidup dengan mengembara untuk mencari orang suci sejati (wali) yang nyata sebagai “teman Tuhan”. Ia mencukupkan penghidupan dari berbagai pekerjaan, termasuk mengajar anak-anak membaca Al-Quran, berpura-pura menjadi pedagang, dan menyembunyikan identitas spiritualnya. Syams adalah seorang penyendiri secara spiritual, terus-menerus mengikuti ajaran dan contoh dari Nabi Muhammad serta menerima bimbingan ruhani dan pencahayaan langsung dari Atas. Di sisi lain, ia juga seorang spiritualis yang kesepian, senantiasa berdoa kepada Tuhan supaya diberi jalan menjadi pendamping dari orang suci. Dalam mimpinya, ia diberitahu akan menjadi pendamping dari orang suci yang tinggal di Anatolia.[3] Ketika waktu sudah tepat dan Syams berusia enam puluh tahun, pengembara tua ini datang ke Konya.


[1] Sumber untuk studi kehidupan Rumi berasal dari karya: Lewis, F. D., (2000), Rumi: Past and Present, East and West, Oxford: One World Publications.

[2] Atas permintaan Fakhr al-Din, seorang penyair dari Ganja yang bernama Nizami (1141-1209) menulis Makhzan al-Asrar (The Treasury of Secrets); sebuah karya penting mengenai anteseden Matsnawi karya Rumi.

[3] Lihat: Lewis, F. D., (2000), hal: 153.; dan Chittick, W. C., (2004), Me and Rumi: The Autobiography of Shams-i Tabrizi, (Louisville, Kentucky: Fons Vitae), hal: 179.

Iklan