Archive for the KITAB Category

Hal yang Harus Dikerjakan

Posted in Bab 7 with tags , , , , , , , , , , on Maret 16, 2014 by isepmalik

Pertama; karena perkawinan adalah suatu lembaga keagamaan, maka ia mesti diperlakukan secara keagamaan. Jika tidak demikian, pertemuan antara laki-laki dan wanita itu tidak lebih baik daripada pertemuan antar hewan. Syariat memerintahkan agar diselenggarakan perjamuan dalam setiap perkawinan. Ketika Abdurrahman bin Auf merayakan perkawinannya Nabi saw berkata kepadanya: “Buatlah suatu pesta perkawinan, meskipun hanya dengan seekor kambing”. Ketika Nabi saw sendiri merayakan perkawinannya dengan Shafiyyah, beliau membuat pesta perkawinan dan menghidangkan kurma dan gandum saja. Demikian pula, perkawinan sebaiknya dimeriahkan dengan memukul rebana dan memainkan musik, karena manusia adalah mahkota penciptaan.

Kedua; seorang suami istri mesti terus bersikap baik terhadap istrinya. Hal ini tidak berarti bahwa ia tidak boleh menyakitinya, melainkan sebaiknya menanggung dengan sabar semua perasaan tidak enak yang diakibatkan oleh istrinya, baik itu karena ketidak-masuk akalan sikap istrinya atau sikap tidak berterima kasihnya. Wanita diciptakan lemah dan membutuhkan perlindungan; karenanya ia mesti diperlakukan dengan sabar dan terus dilindungi. Nabi saw bersabda: “Seseorang yang mampu menanggung ketidakenakan yang ditimbulkan oleh istrinya dengan penuh kesabaran akan memperoleh pahala besar yang diterima oleh Ayub as atas kesabarannya menanggung bala (ujian) yang menimpanya”. Pada saat-saat sebelum wafatnya, orang mendengar pula Nabi saw bersabda: “Teruslah berdoa dan perlakukan istri-istrimu dengan baik, karena mereka adalah tawanan-tawananmu”. Beliau sendiri selalu menanggung dengan sabar tingkah laku istri-istrinya. Suatu hari istri Umar marah dan mengomelinya, ia berkata kepadanya: “Hai kau yang berlidah tajam, berani ke menjawabku?” istrinya menjawab, “Ya, penghulu para nabi lebih baik daripadamu, sedangkan istri-istrinya saja mendebatnya”. Ia menjawab: “Celakalah Hafshah (Putri Sayidina Umar, istri Nabi saw). Jika ia tidak merendahkan dirinya sendiri”. Dan ketika ia berjumlah Hafshah, ia berkata, “Awas, kau jangan mendebat Rasul”. Nabi saw juga berkata, “Yang terbaik di antaramu adalah yang terbaik sikapnya kepada keluarganya sendiri, dan akulah yang terbaik sikapnya terhadap keluargaku”.

Ketiga; seorang suami istri mesti berkenan terhadap rekreasi-rekreasi dan kesenangan-kesenangan istrinya dan tidak mencoba menghalanginya. Nabi saw sendiri pada suatu waktu pernah berlomba lari dengan istrinya, Aisyah. Pada kali pertama Nabi saw mengalahkan Aisyah dan pada kali kedua, Aisyah mengalahkannya. Di waktu lain, beliau menggendong Aisyah agar ia bisa melihat beberapa orang Habsyi menari. Pada kenyataannya akan sulitlah untuk menemukan seseorang yang bersikap sedemikian baik terhadap istri-istrinya seperti yang dilakukan Nabi saw. Orang-orang bijak berkata: “Seorang suami mesti pulang dengan tersenyum dan makan apa saja yang tersedia dan tidak meminta apa-apa yang tidak tersedia”. Meskipun demikian, ia tidak boleh berlebihan agar istrinya tidak kehilangan penghargaan atasnya. Jika ia elihat sesuatu yang nyata-nyata salah dilakukan oleh istrinya, ia tidak boleh mengabaikannya, melainkan harus menegurnya. Atau jika tidak, ia akan menjadi sekadar bahan tertawaan saja. Dalam Al-Quran tertulis: “Laki-laki adalah pemimpin bagi wanita”, dan Nabi saw berkata: “Celakalah laki-laki yang menjadi budak istrinya”. Seharusnya istrinyalah yang menjadi pelayannya. Orang-orang bijak berkata: “Berkonsultasilah dengan wanita dan berbuatlah yang bertentangan dengan apa yang mereka nasihatkan”. Memang ada suatu sikap suka melawan dalam diri wanita; dan jika mereka diijinkan meskipun sedikit, mereka akan sama sekali lepas dari kendali dan sulitlah untuk mengembalikannya kepada sikap yang baik. Dalam urusan dengan mereka, seseorang mesti berusaha menggunakan gabungan antara ketegasan dan rasa kasih sayang dengan kasih sayang sebagai bagian yang lebih besar Nabi saw berkata: “Wanita diciptakan seperti sepotong tulang iga yang bengkok. Jika kau coba meluruskannya, kau akan mematahkannya; jika kau biarkan demikian, ia akan tetap bengkok. Karena itu perlakukanlah ia dengan penuh kasih sayang”.

Keempat; dalam hal pelanggaran susila, seorang suami harus sangat berhati-hati agar tidak membiarkan istrinya dipandang atau memandang seorang asing, karena awal dari keseluruhan kerusakan itu adalah dari mata. Sebisa-bisanya jangan ijinkan ia untuk keluar rumah, berdiri di loteng rumah atau berdiri di pintu. Meskipun demikian, anda mesti hati-hati agar tidak cemburu tanpa alasan dan bersikap terlalu ketat. Suatu hari Nabi saw bertanya kepada anaknya, Fatimah: “Apakah yang terbaik bagi wanita?” Ia menjawab: “Mereka tidak boleh menemui orang-orang asing, tidak pula orang-orang asing boleh menemui mereka”. Nabi saw senang mendengar jawaban ini dan memeluknya seraya berkata, “Sesungguhnya engkau adalah sebagian dari hatiku”. Amirul Mukminin Umar berkata: “Jangan memberi wanita pakaian-pakaian yangbaik, karena segera setelah mereka mengenakannya mereka berkeinginan untuk keluar rumah”. Pada masa hidup Nabi, wanita-wanita diijinkan pergi ke masjid dan tinggal di barisan paling belakang. Tapi secara bertahap hal ini dilarang.

Kelima; seorang suami mesti memberi nafkah secukupnya kepada istri dan tidak bersifat kikir kepadanya. Memberi nafkah yang selayaknya kepada istri lebih baik daripada memberi sedekah. Nabi saw bersabda: “Misalkan seorang laki-laki menghabiskan satu dinar untuk berjihad, satu dinar lagi untuk menebus seorang budak, satu dinar lagi untuk sedekah dan memberikan satu dinar juga kepada istrinya, maka pahala pemberian yang terakhir ini melebihi jumlah pahala ketiga pemberian lainnya”.

Keenam: seorang suami tidak boleh makan sesuatu yang lezat sendirian; atau kalaupun ia telah memakannya, ia mesti diam dan tidak memujinya di depan istrinya. Jika tidak ada tamu, lebih baik bagi pasangan suami istri untuk makan bersama, karena Nabi saw bersabda: “Jika mereka melakukan hal itu, Allah menurunkan rahmat-Nya atas mereka dan para malaikat pun berdoa untuk mereka”. Hal yang paling penting adalah bahwa nafkah yang diberikan kepada istri itu harus didapatkan dengan cara-cara halal.

Jika istri bersikap memberontak dan tidak taat, pertama sekali suami mesti menasehatinya dengan lemah lembut. Jika hal ini tidak cukup keduanya mesti tidur di kamar terpisah untuk tiga malam. Jika hal ini juga tidak berhasil, maka suami boleh memukulnya, tetapi tidak di mulutnya, tidak pula terlalu keras hingga bisa melukainya. Jika istri lalai dalam tugas-tugas keagamaannya, suami mesti menunjukkan sikap tidak senang kepadanya selama sebulan penuh, sebagaimana pernah dilakukan oleh Nabi kepada istri-istrinya.

Bertindak selalu hati-hati agar perceraian bisa dihindari; karena, meskipun perceraian diijinkan, Allah tidak menyukainya. Perkataan cerai saja sudah mengakibatkan penderitaan bagi seorang wanita, dan bagaimana bisa dibenarkan seseorang menyakiti orang lain? Jika perceraian terpaksa sekali dilakukan, maka ucapan itu tidak boleh diulangi tiga kali sekaligus, tetapi harus pada waktu yang berlainan. Seorang perempuan mesti dicerai baik-baik, tidak dengan kemarahan ataupun penghinaan, tidak pula tanpa alasan. Setelah perceraian, seorang laki-laki mesti memberikan pemberian (mut’ah) kepada bekas istrinya, dan tidak menceritakan kepada orang lain alasan-alasan atau kesalahan-kesalahan yang dilakukan istrinya sehingga mereka bercerai. Dari seorang suami yang hendak menceraikan istrinya, diriwayatkan bahwa orang-orang bertanya kepadanya: “Mengapa engkau menceraikannya?” Ia menjawab: “Saya tak akan membongkar rahasia-rahasia istri saya”. Ketika akhirnya ia benar-benar menceraikannya, ia ditanya lagi dan berkata: “Dia sekarang orang asing bagiku, saya tidak lagi berurusan dengan soal-soal pribadinya”.

Sejauh ini telah kita bahas hak-hak istri atas suaminya, tetapi hak-hak suami atas istrinya lebih mengikat lagi. Nabi saw bersabda: “Jika saja dibolehkan untuk menyembah sesuatu selain Allah, akan aku perintahkan agar para istri menyembah suami-suami mereka”. Seorang istri tidak boleh menggembar-gemborkan kecantikannya di depan suaminya, tidak boleh membalas kebaikan sang suami dengan perasaan tidak berterima kasih. Istri tidak boleh berkata kepada suaminya: “Kenapa kau perlakukan aku begini dan begitu?” Nabi saw bersabda: “Aku melihat ke dalam neraka dan menampak banyak wanita di sana. Kutanyakan sebab-sebabnya dan mendapat jawaban, karena mereka berlaku tidak baik kepada suami-suami mereka dan tidak berterima kasih kepadanya”.

Iklan

Pernikahan dan Keberagamaan (2)

Posted in Bab 7 with tags , , , , , , , , , on Maret 15, 2014 by isepmalik

Sekarang akan kita bicarakan kerugian-kerugian perkawinan. Salah satu di antaranya adalah adanya suatu bahaya, khususnya di masa sekarang ini, bahwa seorang laki-laki mesti mencari nafkah dengan sarana-sarana yang haram untuk menghidupi keluarganya, padahal tidak ada perbuatan-perbuatan baik yang bisa menebus dosa ini. Nabi saw bersabda bahwa pada Hari Kebangkitan akan ada laki-laki yang membawa tumpukan perbuatan baik setinggi gunung dan menempatkannya di dekat Mizan. Kemudian ia ditanya: “Dengan cara bagaimana engkau menghidupi keluargamu?” Ia tak bisa memberikan jawaban yang memuaskan, maka semua perbuatan baiknya pun akan dihapuskan dan suat pernyataan akan dikeluarkan berkenaan dengannya: “Inilah orang yang keluarganya telah menelan semua perbuatan baiknya!”

Kerugian lain dari perkawinan adalah bahwa memperlakukan keluarga dengan baik dan sabar dan menyelesaikan masalah-masalah mereka hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang memiliki tabiat baik. Ada bahaya besar ika seorang laki-laki memperlakukan keluarganya dengan kasar atau mengabaikan mereka, sehingga menimbulkan dosa bagi dirinya sendiri. Nabi saw bersabda: “Seseorang yang meninggalkan istri dan anak-anaknya adalah seperti budak yang lari. Sebelum ia kembali kepada mereka, puasa dan shalatnya tidak akan diterima oleh Allah”. Ringkasnya, manusia memiliki sifat-sifat rendah, dan sebelum ia bisa mengendalikan sifatnya itu, lebih baik ia tidak memikul tanggung jawab untuk mengendalikan orang lain. Seseorang bertanya kepada wali Bisyri Hafi, kenapa ia tidak kawin, “Saya takut”, ia menjawab, “akan ayat Al-Quran: hak-hak wanita atas laki-laki persis sama dengan hak-hak laki-laki atas wanita”.

Kerugian ketiga dari perkawinan adalah bahwa mengurus sebuah keluarga seringkali menghalangi seseorang dari memusatkan perhatiannya kepada Allah dan akhirat. Dan boleh jadi, kecuali kalau ia berhati-hati, hal itu akan menyeretnya kepada kehancuran, karena Allah telah berfirman: “Janganlah istri-istri dan anak-anakmu memalingkanmu dari mengingat Allah”. Orang yang berpikir, bahwa dengan tidak kawin ia bisa memusatkan perhatiannya lebih baik pada kewajiban-kewajiban keagamaannya, lebih baik ia tetap sendirian; dan orang-orang yang takut untuk terjatuh ke dalam dosa jika ia tidak kawin, lebih baik ia kawin.

Sekarang kita sampai pada sifat-sifat yang mesti dicari dalam diri seorang istri. Pertama, yang paling penting di antaranya adalah kesucian akhlak. Jika seseorang mempunyai istri yang berakhlak tidak baik dan ia tetap diam, ia mendapatkan nama jelek dan terhambat kehidupan keagamaannya. Jika ia angkat bicara, hidupnya menjadi rusak. Dan bila ia ceraikan istrinya, ia akan menderita kepedihan perpisahan. Seorang istri yang cantik tapi berakhlak buruk adalah bencana yang sedemikian besar, sehingga lebih baik bagi suaminya untuk menceraikannya. Nabi saw bersabda: “Orang yang mencari istri demi kecantikannya atau kekayaannya akan kehilangan keduanya”.

Sifat baik kedua dalam diri seorang istri adalah tabiat yang baik. Istri yang bertabiat buruk—tidak berterima kasih, suka bergunjing atau angkuh—membuat hidup tak tertanggungkan dan merupakan halangan besar untuk menjalin kehidupan takwa.

Sifat ketiga yang harus dicari adalah kecantikan, karena hal ini akan menimbulkan cinta dan kasih sayang. Oleh karena itu, seseorang mesti melihat seorang wanita sebelum mengawininya. Nabi saw bersabda: “Wanita-wanita dari suku ini dan itu memiliki cacat di mata-mata mereka. Seorang yang ingin mengawini seseorang di antara merks mesti melihatnya dulu”. Orang bijak berkata bahwa seseorang yang mengawini seorang wanita tanpa melihatnya lebih dulu, pasti akan menyesal kelak. Memang benar bahwa seseorang tidak seharusnya kawin demi kecantikan, tetapi hal ini tidak berarti bahwa kecantikan mesti dianggap tidak penting sama sekali.

Hal penting keempat tentang seorang istri adalah bahwa besarnya mahar dibayarkan oleh seorang laki-laki kepada istrinya mesti dalam jumlah pertengahan. Nabi saw bersabda: “Wanita yang paling baik untuk diperistri adalah yang maharnya kecil dan nilai kecantikannya besar”. Beliau sendiri memberi mahar kepada beberapa calon istrinya sekitar sepuluh dirham, dan mahar putri-putri beliau sendiri tidak lebih daripada empat ratus dirham.

Sifat-sifat lain yang harus dimiliki seorang istri yang baik adalah: berasal dari keturunan baik-baik, belum kawin sebelumnya dan tidak terlalu dekat dalam hubungan kekeluargaan dengan suaminya.

Pernikahan dan Keberagamaan (1)

Posted in Bab 7 with tags , , , , , , , , , , , on Maret 15, 2014 by isepmalik

Perkawinan memainkan peran yang besar dalam kehidupan manusia sehingga ia perlu diperhitungkan dalam membahas soal kehidupan keagamaan dan dibicarakan dalam dua aspeknya, yaitu keuntungan dan kerugiannya.

Mengetahui bahwa Allah, sebagaimana kata Al-Quran, “Hanya menciptakan manusia dan jin untuk beribadah”, maka keuntungan pertama dan nyata dalam perkawinan adalah bahwa para penyembah Allah menjadi makin banyak jumlahnya. Oleh karena itu, para ahli ilmu kalam telah menyusun seuntai pepatah: lebih baik tersibukkan dalam tugas-tugas perkawinan daripada dalam ibadah-ibadah sunnah. Keuntungan lain daripada perkawinan adalah sebagaimana disabdakan oleh Nabi: “Doa anak-anak bermanfaat bagi orang tuanya jika orang tuanya itu telah meninggal, dan anak-anak yang meninggal sebelum orang tuanya akan memintakan ampun bagi mereka di Hari Pengadilan”. Sabda Nabi pula: “Ketika seorang anak diperintahkan untuk masuk surga, dia menangis dan berkata: “Saya tak akan memasukinya tanpa ayah dan biu saya”. Juga, suatu hari Nabi dengan keras menarik lengan baki seseorang ke arah dirinya sambil bersabda, “Demikianlah anak-anak akan menarik orang tuanya ke surga”. Beliau menambahkan, “Anak-anak berkumpul berdesak-desakan di pintu gerbang surga dan menjerit memanggil ayah dan ibunya, hingga keduanya yang masih berada di luar diperintahkan untuk masuk dan bergabung dengan anak-anak mereka”.

Diriwayatkan dari seorang wali yang termasyhur bahwa suatu kali ia bermimpi bahwa Hari Pengadilan telah tiba. Matahari telah mendekat ke bumi dan orang-orang mati karena kehausan. Sekelompok anak-anak berjalan kian kemari memberi mereka air dari cawan-cawan emas dan perak. Tetapi ketika sang wali meminta air, ia ditolak, dan salah seorang anak itu berkata kepadanya, “Tidak salah seorang pun di antara kami ini anak-anak anda”. Segera setelah sang wali bangun ia berencana untuk kawin.

Keuntungan lain dari perkawinan adalah bahwa duduk bersama dan bersikap baik terhadap istri adalah suatu perbuatan yang memberikan rasa santai kepada pikiran setelah asyik mengerjakan tugas-tugas keagamaan. Dan setelah santai seperti itu seseorang bisa kembali beribadah dengan semangat baru. Demikianlah Nabi saw sendiri, ketika merasakan beban turunnya wahyu menekan terlalu berat atasnya, ia menyentuh istrinya Aisyah dan berkata, “Berbicaralah padaku wahai Aisyah, berbicaralah padaku!” Dilakukannya hal ini karena dari sentuhan kemanusiaan yang hangat itu bisa mendapatkan kekuatan untuk menerima wahyu-wahyu baru. Untuk alasan yang sama ia biasa meminta Bilal untuk mengumandangkan azan dan kadang-kadang ia juga membaui wewangian yang harum. Salah satu haditsnya yang terkenal adalah: “Saya mencintai tiga hal di dunia ini: wewangian, wanita dan penyegaran kembali dengan shalat”. Suatu kali Umar bertanya kepada Nabi tentang hal-hal yang paling penting untuk dicari di dunia ini. Beliau saw menjawab: “Lidah yang selalu berzikir kepada Allah, hati yang penuh rasa syukur dan istri yang amanat”.

Keuntungan lain dari perkawinan adalah adanya seseorang yang memelihara rumah, memasak makanan, mencuci piring, menyapu lantai dan sebagainya. Jika seorang laki-laki sibuk dengan pekerjaan-pekerjaan itu, maka ia tak bisa mencari ilmu, menjalankan perdagangannya atau melakukan ibadah-ibadahnya dengan sepatutnya. Untuk alasan ini Abu Sulaiman berkata: “Istri yang baik bukan saja rahmat di dunia ini, tetapi juga di akhirat, karena ia memberikan waktu senggang kepada suaminya untuk berpikir tentang akhirat”. Dan salah satu di antara ucapan Khalifah Umar adalah: “Setelah iman, tak ada rahmat yang bisa menyamai istri yang baik”.

Tambahan lagi, perkawinan masih memiliki keuntungan yang lain, yaitu bersikap sabar dengan tetek-bengek kewanitaan—memberikan kebutuhan-kebutuhan istri dan menjaga mereka agar tetap berada di jalan hukum—adalah stau bagian yang amat penting dari agama Nabi saw bersabda: “Memberi nafkah kepada istri lebih penting daripada memberi sedekah”.

Suatu kali, ketika Ibnu Mubarak sedang berpidato di hadapan orang-orang kafir, salah seorang sahabatnya bertanya kepadanya: “Adakah pekerjaan lain yang lebih memberikan ganjaran daripada jihad?” “Ya”, jawabnya, “Yaitu memberi makan dan pakaian kepada istri dan anak dengan sepatutnya”. Waliyullah yang termasyhur Bisyri Hafi berkata, “Lebih baik bagi seseorang untuk bekerja bagi istri dan anak daripada bagi dirinya sendiri”. Di dalam hadits diriwayatkan bahwa beberapa dosa hanya bisa ditebus dengan menanggung beban keluarga.

Berkenaan dengan seorang wali, diriwayatkan bahwa istrinya meninggal dan ia tak bermaksud kawin lagi meski orang-orang mendesaknya seraya berkata bahwa dengan begitu akan lebih mudah baginya untuk memusatkan diri dan pikirannya di dalam uzlah. Pada suatu malam ia melihat dalam mimpinya pintu surga terbuka dan sejumlah malaikat turun, lalu mendekatinya dan salah satu di antara mereka bertanya: “Inikah orang yang celaka yang egois itu?” dan rekan-rekannya menjawab: “Ya, inilah dia”. Walu itu sedemikian terpengarahnya sehingga tidak sempat bertanya tentang siapakah yang mereka maksud. Tetapi tiba-tiba seorang anak laki-laki lewat dan ia pun bertanya kepadanya. “Andalah yang sedang mereka bicarakan”, jawab sang anak, “Baru minggu yang lalu perbuatan-perbuatan baik anda dicatat di surga bersama dengan wali-wali yang lain, tetapi sekarang mereka telah menghapuskan nama anda dari buku catatan itu”. Setelah terjaga dengan pikiran penuh tanda tanya, dia pun segera membuat rencana untuk kawin. Dari semua hal di atas, tampak bahwa perkawinan memang diinginkan.

Hati dan Akal

Posted in 37. Hati dan Akal with tags , , , , , on November 8, 2012 by isepmalik

Berbeda antara orang yang mengambil dalil bersama Allah swt dengan orang yang mengambil dalil atas-Nya. Orang yang mengambil dalil bersama Allah swt itulah yang mengenal haq, meletakkan pada tempatnya, dan menetapkan terjadinya sesuatu dari asal mulanya. Mengambil dalil atas Allah swt karena tidak sampai kepada-Nya. Maka, bilakah Allah swt itu ghaib sehingga memerlukan dalil untuk menyatakan-Nya dan bilakah Allah swt itu jaug sehingga memerlukan alam untuk sampai kepada-Nya.

Nur Ilahi yang menyinari hati memperlihatkan Allah swt terlebih dahulu sebelum yang selain-Nya. Akal melihat anasir alam dan kejadian-kejadian yang berlaku terlebih dahulu sebelum sampai kepada Tuhan yang mengatur segala urusan orang-orang. Hati orang-orang melihat wujud Allah swt mewujudkan alam dan apa yang berlaku di dalamnya; dan akal orang-orang melihat wujud alam sebagai dalil kepada wujud Allah swt. Orang yang sampai kepada Allah swt melihat bahwa wujud Allah swt adalah Wujud Hakiki dan wujud Allah swt menerangi wujud makhluk sehingga makhluk menjadi nyata. Orang yang pada peringkat mencari melihat Allah swt itu ghaib dan jauh, dan jalan untuk mengenal Allah swt adalah dengan cara mengenal ciptaan-Nya. Wujud makhluk menjadi bukti kepadanya tentang wujud Allah swt, karena makhluk tidak terjadi dengan sendirinya.

Perbincangan Hikmah 8 menyentuh golongan pencari dan golongan yang dicari. Orang yang mencari menempuh jalan yang sukar-sukar sebelum bertemu dengan yang dicarinya. Contoh terbaik orang yang mencari ialah Salman al-Farisi yang mendapat julukan Pencari Kebenaran. Beliau berasal dari Isfahan. Ayahnya seorang yang terkenal kaya-raya dan berpegang kuat pada agama Majusi. Salman bertugas menjaga api dan bertenggung jawab memastikan api itu tidak padam. Suatu hari beliau menghampiri gereja Nasrani. Beliau tertarik melihat cara orang Nasrani bersembahyang. Setelah bertukar fikiran dengan mereka dan mempelajari tentang agama Nasrani, beliau berpendapat agama Nasrani lebih benar daripada agama Majusi, lalu beliau memeluk agama Nasrani. Beliau kemudian pergi ke Syria untuk mendalami agama Nasrani. Beliau tinggal dengan seorang pendeta dan menjadi pelayannya sambil belajar. Setelah pendeta itu meninggal dunia, Salman pergi ke Mosul untuk memenuhi kehendak wasiat pendeta tersebut. Di sana beliau tinggal dan berkhidmat kepada seorang pendeta juga. Apabila hampir ajalnya pendeta kedua ini mewasiatkan kepada Salman supaya pergi ke Nasibin dan berkhidmat kepada seorang salih yang tinggal di sana. Salman kemudian berpindah ke Nasibin. Pendeta di Nasibin kemudian mewasiatkan kepada Salman agar pergi ke Amuria dan berkhidmat kepada seorang salih di sana. Salman berpindah ke Amuria. Ketika pendeta di Amuria itu hampir menemui ajalnya, beliau memberi amanat kepada Salman bahwa sudah hampir masanya kebangkitan seorang nabi yang mengikuti agama Ibrahim as secara murni. Nabi yang baru muncul itu akan berhijrah ke satu tempat yang banyak ditumbuhi pohon kurma dan terletak di antara dua bidang tanah berbatu-batu hitam. Tanda-tanda  yang jelas tentang kenabiannya ialah dia tidak mau makan sedekah tetapi menerima hadiah. Di bahunya ada cap kenabian yang bila dilihatnya segera akan dikenali kenabiannya. Setelah pendeta yang memberi amanat itu meninggal dunia berangkatlah Salman mengikuti rombongan Arab dengan menyerahkan kepada mereka lembu-lembu dan kambing-kambingnya. Sampai di Wadi Qura, Salman dianiaya dan dijual kepada orang Yahudi. Kemudian Salman dijual kepada orang Yahudi yang lain. Tuannya yang baru itu membawanya keYatsrib. Ketika melihat negeri itu, Salman meyakini bahwa itulah negeri yang diceritakan oleh pendeta yang dulu menjaganya. Ketika Rasulullah saw berhijrah ke Yatsrib, Salman datang menemui baginda saw di Quba dan memberikan makanan sebagai sedekah kepada baginda saw dan sahabatnya. Rasulullah saw menyuruh mereka makan, tetapi baginda saw tidak menjamah makanan tersebut. Keesokan harinya, Salman datang lagi membawa makanan sebagai hadiah. Rasulullah saw makan bersama-sama sahabatnya. Semasa Rasulullah saw berada di Baqi’, Salman pergi lagi menemui Baginda saw. Rasulullah saw ketika itu memakai dua helai kain lebar, satu sebagai sarung dan satu lagi sebagai baju. Salman menjengkuk dan mengintai untuk melihat belakanag Baginda saw. Rasulullah saw mengerti akan maksud Salman lalu baginda saw mengikat kain burdah dari leher Baginda saw sehingga kelihatanlah cap kenabian yang dicari Salman. Melihatnya Salman terus menangis dan menciumnya. Akhirnya beliau temui kebenaran yang telah beliau cari di berbagai tempat.

Lahir dan Batin

Posted in 36. Lahir dan Batin with tags , , , , , on November 6, 2012 by isepmalik

Apa yang tersimpan dalam keghaiban rahasia hati berbekas nyata pada zahiriyahnya

 

Allah swt mengaruniakan kepada hati hamba-hamba-Nya yang bahagia dengan Nur Zikir, Nur Kalbu, Nur Akal, Nur Iman an Nur Makrifat. Karunia Allah swt yang demikian itu merupakan rahasia-rahasia yang tidak diketahui oleh makhluk. Setiap hamba yang dibawa ke Headirat-Nya mempunyai rahasia sendiri dan tidak diketahui oleh hamba-hamba yang lain, walaupun mereka berada pada tingkatan yang sama. Seorang guru pun tidak tahu rahadia muridnya dengan Tuhannya. Apa yang Allah swt karuniakan kepada seorang hamba pilihan-Nya tidak serupa dengan yang dikaruniakan kepada hamba pilihan yang lain. Karunia Allah swt kepada seorang nabi berbeda daripada karunia terhadap nabi-nabi yang lain. Karunia Allah swt yang tersimpan dalam keghaiban rahasia hati itu menjadi penggerak kepada pembentukan diri seseorang, hingga dia dapat dikenal dan dibedakan dari orang lain. Karunia Rahasia Allah swt kepada Isa as menyebabkan beliau dikenal sebagai Ruh Allah. Karunia Rahasia Allah swt kepada Musa as menyebabkan beliau dikenal sebagai Kalim Allah. Karunia Rahasia Allah swt kepada Ibrahim as menyebabkan beliau dikenal sebagai Khalil Allah. Karunia Rahasia Allah kepada Muhammad saw menyebabkan baginda dikenal dengan Habiballah. Aulia Allah swt juga menerima karunia Rahasia Allah dan masing-masing memiliki kepribadian tersendiri.

Nur Ilahi yang menyinari hati seseorang akan mengubah suasana hati itu dan sekaligus perwatakan dan perawakan orang itu. perubahan pada perwatakan dapat dilihat pada tingkah-laku perbuatan. Sinar Nur Zikir akan melahirkan seorang yang gemar berzikir, mengingati Allah swt ketika duduk, berdiri, ketika sendirian dan juga ketika berada dalam perkumpulan. Lidahnya senantiasa basah dengan sebutan nama-nama Allah swt. Sinar Nur Kalbu akan membuat seseorang berlapang dada, tidak cemas menghadapi ujian dan gemar mendekati Allah swt. Sinar Nur Akal akan melahirkan sikap suka bertafakur sehingga terbukalah kepadanya rahasia-rahasia ketuhanan yang menjadi penggerak kepada perjalanan alam maya ini. Muncullah dari lidahnya Kalam Hikmah yang mempesonakan siapa saja yang mendengarnya. Sinar Nur Iman mewujudkan keyakinan yang tidak terbagi kepada perkara ghaib yang dialaminya sekalipun fikiran tidak dapat menerimanya. Kepercayaan dan keyakinannya tidak tergoncang lantaran mendapat bantahan dan sindiran. Sinar Nur Makrifat menerangi mata-hati untuk mengenal Allah swt, melihat-Nya pada semua kejadian. Pandangan mata-hatinya tidak kabur lantaran kekeruhan-kekeruhan yang terjadi di dalam dunia ini. Pandangan mata-hatinya tidak terbalik lantara kekeruhan-kekeruhan yang terjadi di dalam dunia ini. Pandangan mata-hatinya tidak terbalik lantaran mendapat kemuliaan dan kekeramatan.

Nur Ilahi bukan saja mengubah perwatakan tetapi juga mengubah perawakan. Bukan bentuk muka yang berubah tetapi cahaya pada wajahnya yang berubah, menyebabkan siapa saja yang melihatnya akan merasa senang. Misalnya, cahaya Nur Ilahi yang gilang gemilang menyinari wajah Yusuf as telah mempesonakan wanita-wanita Mesir sehingga mereka tidak sadar mengiris jari sendiri dan tidak merasa sakitnya akibat terpukau memandang keindahan wajah Yusuf as. Begitulah kuatnya kesan sinar Nur Ilahi yang tersembunyi secara ghaib di dalam hati ruhani hamba-hamba Allah swt yang dipilih untuk memperolehnya.

Anugerah Allah swt, yaitu nur-nur, kepada hati hamba-hamba-Nya yang beriman menjadi daya dan upaya bagi hati untuk berpegang kuat kepada tauhid, mencintai segala yang bersesuaian dengan Islam dan membenci segala bentuk kekufuran. Daya dan upaya nur yang pada hati ternyata melalui perbuatan dan juga wajah orang berkenaan.

Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka rukuk dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud (QS. Al-Fath:29).

Tanda nyata pada sifat pengikut-pengikut Nabi Muhammad saw adalah mereka tidak berkompromi pada perkara yang merusakkan akidah. Iman tidak boleh ditukar dengan harta, pangkat atau kemuliaan. Iman adalah cahaya dan kekufuran adalah kegelapan. Cahaya dan gelap tidak dapat bersatu.

Mereka yang sangat keras menentang kekufuran itu sangat lemah lembut apabila bersama-sama dengan orang yang beriman. Hubungan hati-hati yang beriman adalah kasih sayang dan kerinduan. Orang yang beriman mengingkan kebaikan kepada saudaranya yang beriman. Mereka tidak merusakkan atau menjatuhkan sesama mereka. Kebaikan yang Allah swt karuniakan digunakan untuk meringankan beban saudara-saudaranya yang beriman. Mereka mengutamakan orang yang beriman daripada orang yang tidak nyata imannya atau yang nyata kekufuran dan kemunafikannya. Keselamatan iman adalah apabila ia mempertahankannya dari kekufuran dan kemunafikan. Akal mengenali kekufuran melalui tanda-tanda yang diceritakan oleh ayat-ayat Al-Quran. Hati mengenali kekufuran melalui Nur Ilahi yang membuka kekufuran dan kemunafikan itu kepadanya.

Nur karunia Allah swt yang menjadi daya dan upaya hati seterusnya mempunyai kekuatan untuk mengawal pancaindera orang yang beriman itu. setiap anggota digunakan untuk berbakti kepada Allah swt, ia tidak mau berbuat maksiat. Orang yang beriman tekun berbuat ibadah, mencari karunia dan keridhaan-Nya. Nur yang dalam rahasia hati itu juga memancarkan sinarnya sehingga kelihatan pada wajah orang yang tersebut. Jika perasaan yang bersembunyi dalam hati, seperti marah dan riya yang dapat terlihat pada wajah, sinar cahaya nur lebh kuat lagi berbekas pada wajah.

Barangsiapa yang jernih dalam batinnya, akan diperbaiki Allah apa yang nyata pada wajahnya (Ucapan Umar al-Khattab).

Kesucian hati seseorang memancarkan cahaya yang dapat ditangkap oleh cermin hati orang lain yang bersih. Apabila cahaya iman berjumpa dengan cermin hati orang yang beriman akan lahirlah rasa persaudaraan muslim yang sejati. Persaudaraan yang begini tidak ada kepentingan diri dan tidak ada perlombaan untuk menduduki tempat yang lebih tinggi. Mereka saling bantu-membantu dalam melakukan pengabdian kepada Allah swt.

Awal dan Akhir

Posted in 34. Awal dan Akhir, 35. Awal dan Akhir with tags , , , , , on November 1, 2012 by isepmalik

Tanda akan berjaya pada akhir perjuangan adalah menyerah diri kepada Allah swt pada awal perjuangan. Barangsiapa cemerlang permulaannya, akan cemerlanglah diakhirnya.

Hikmah 34 merumuskan intisari kesemua Kalam Hikmah yang diuraikan terlebih dahulu. Berserah diri kepada Allah swt, bertawakal kepada-Nya dan mengembalikan segala urusan kepada-Nya adalah jalan untuk mendekati Allah swt. Kesemua ini boleh diibaratkan sebagai kendaraan, sementara ilmu dan amal diibaratkan sebagai roda. Siapa yang hanya membina roda, tetapi tidak membina kendaraan maka dia akan memikul roda bukan menaiki kendaraannya. Dia akan keletihan dan berhenti di tengah jalan sambil asyik bermain-main dengan roda seperti kanak-kanak.

Persoalan berserah diri sering menimbulkan kekeliruan kepada orang-orang yang larut membincangkan mengenainya. Suasana hati dan derajat akal mengeluarkan berbagai uraian tentang berserah diri kepada Allah swt. Ada orang beranggapan berserah diri adalah berpeluk tubuh, tidak melakukan apa-apa. Ada pula yang berpendapat bahwa berserah diri itu hidup dalam ibadah semata-mata, tidak mempedulikan kehidupan harian. Banyak lagi anggapan dan pendapat yang dikemukakan dalam menjelaskannya. Sifat orang yang berserah diri adalah merujuk sesuatu perkara yang diperselisihkan kepada Allah swt. Mereka tidak fanatik memegang suatu faham yang diperoleh melalui fikirannya atau pendapat orang lain. Mereka bersedia melepaskan faham dan pendapat pribadi sekiranya ia berhadapan dengan peraturan dan hukum Tuhan. Sewaktu hidup di dalam dunia ini mereka mengembalikan segala urusan kepada Allah swt karena mereka yakin bahwa diri mereka dan urusannya akan kembali kepada Allah swt di akhirat kelak. Perjumpaan dengan Allah swt di akhirat menguasai tindakan mereka sewaktu hidup di dunia ini.

Tentang sesuatu apapun kamu berselisih, maka putusannya (terserah) kepada Allah. (yang mempunyai sifat-sifat demikian) Itulah Allah Tuhanku. Kepada-Nya aku bertawakkal dan kepada-Nya aku kembali (QS. Asy-Syura:10).

Orang yang berserah diri kepada Allah swt mengembalikan urusan mereka kepada-Nya, meyakini bahwa golongan manusia yang benar-benar mengerti kehendak Allah swt adalah golongan nabi-nabi. Oleh sebab itu pagangan dan tindakan para nabi dijadikan sandaran dalam membentuk pegangan pribadi dan juga dalam melakukan tindakan.

Dan Ya’qub berkata: “Hai anak-anakku janganlah kamu (bersama-sama) masuk dari satu pintu gerbang, dan masuklah dari pintu-pintu gerbang yang berlain-lain; Namun demikian aku tiada dapat melepaskan kamu barang sedikitpun dari pada (takdir) Allah. Keputusan menetapkan (sesuatu) hanyalah hak Allah; kepada-Nya aku bertawakkal dan hendaklah kepada-Nya saja orang-orang yang bertawakkal berserah diri” (QS. Yusuf:67).

Ayat di atas menceritakan sifat berserah diri yang ada pada Nabi Yakub as. Beliau menasihatkan anak-anaknya yang sebelas orang itu memasuki kota Mesir melalui pintu-pintu yang berlainan. Ia menunjukkan Nabi Yakub as mengakui tuntutan berikhtiar sebagaimana kedudukan mereka sebagai manusia. Walaupun begtu Nabi Yakub as mengingatkan pula anak-anaknya bahwa mengikuti nasihat beliau bukanlah jaminan anak-anaknya akan selamat dan mendapatkan apa yang mereka cari. Ikhtiar pada zahir mesti disertai dengan iman pada batin. Orang yang beriman meyakini bahwa Allah swt saja yang mempunyai kuasa penentuan. Oleh karena itu orang yang beriman dituntut agar berserah diri kepada Allah swt saja, tidak berserah diri kepada yang lain, sekalipun yang lain itu adalah malaikat, wali-wali ataupun ayat-ayat Allah swt. Allah swt yang menguasai malaikat, wali-wali dan ayat-ayat-Nya. Penyerahan diri kepada Allah swt bukan kepada sesuatu yang dinisbahkan kepada-Nya. Perkara ini dinyatakan oleh Nabi Hud as sebagaimana yang diceritakan oleh ayat berikut:

Sesungguhnya aku bertawakkal kepada Allah Tuhanku dan Tuhanmu. Tidak ada suatu binatang melatapun melainkan Dia-lah yang memegang ubun-ubunnya. Sesungguhnya Tuhanku di atas jalan yang lurus” (QS. Hud:56).

Tuhan berada di atas jalan yang lurus. Tuhan tidak mengantuk, tidak lalai, tidak kliru dan tidak melakukan kesalahan. Apa saja yang Tuhan lakukan adalah benar dan tepat. Tuhan berbuat sesuatu atas dasar ketuhanan dan dengan sifat ketuhanan, tidak ada pilih kasih. Dia adalah Tuhan Yang Maha Adil. Pekerjaan-Nya adalah adil. Dia adalah Tuhan Yang Maha Mengerti dan Maha Bijaksana. Pekerjaan-Nya adalah sempurna, teratur dan rapi. Dia adalah Tuhan Pemurah dan Penyayang. Pekerjaan-Nya tidak ada yang zalim. Tuhan yang memiliki sifat-sifat ketuhanan yang baik-baik itu mengadakan peraturan untuk diikuti. Mengikuti peraturan-Nya itulah penyerahan kepada-Nya. Nabi-nabi dan orang-orang yang beriman diperintahkan supaya menyampaikan kepada umat manusia apa yang datang dari Allah swt. Pekerjaan manusia adalah menyampaikan. Jika apa yang disampaikan itu tidak diterima, maka serahkan kepada Allah swt. Dia memiliki Arasy yang besar, yang memagari sekalian makhluk. Tidak ada makhluk yang dapat menembus Arasy-Nya. Aras-Nya adalah pagar Qadar. Apa yang Dia ciptakan dan tentukan untuk makhluk-Nya dipagari oleh Arasy.

Jika mereka berpaling (dari keimanan), maka katakanlah: “Cukuplah Allah bagiku; tidak ada Tuhan selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakkal dan Dia adalah Tuhan yang memiliki ‘Arsy yang agung” (QS. At-Taubah:129).

Tauhid adalah kesudahan pencapaian. Pada peringkat ini, syirik tidak ada lagi walaupun sebesar zarah. Dalam proses tauhid perlu ada pengasingan dan perbedaan antara Tuhan dengan yang selain Tuhan. Tidak boleh diadakan sekutu bagi Tuhan. Tidak boleh meletakkan anasir alam, amal, doa dan sebagainya pada kedudukan yang dapat menyebabkan timbulnya anggapan yang selain Tuhan itu mampu mengalahkan kekuasaan Tuhan. Tidak boleh terjadi ketaatan dan penyayangan terhadap sesuatu melebihi ketaatan dan penyayangan terhadap Allah swt.

Katakanlah: “Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya”. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik (QS. At-Taubah:24).

Perlu difahamkan bahwa sekalipun hamba telah berserah diri kepada Allah swt, tanpa Allah swt menerimanya tidak mungkin tercapai tujuannya. Penerimaan Allah swt yang benar-benar membawa hamba kepada-Nya. Tanda Allah swt menerima hamba-Nya ialah terdapat kecemerlangannya di masa permulaan. Berlaku perubahan-perubahan keada diri si hamba itu. Sifat buruknya terbuang dan sifat terpuji menghiasinya. Dia menjadi gemar beribadah dan berbuat taat. Semakin jauh perjalanannya semakin cemerlang hatinya. Dia diterangi oleh Nur Ilahi dan dikaruniakan ilmu laduni, yaitu ilmu mengenal Allah swt. Nur makrifat menyinarinya, maka kenallah dia pada Tuhannya.

Sandarkan Niat kepada Allah swt

Posted in 33. Bersandar kepada Allah swt with tags , , , , , on Oktober 21, 2012 by isepmalik

Tidak sia-sia suatu maksud apabila disandarkan kepada Allah swt dan tidak mudah tercapainya tujuan jika disandarkan kepada diri sendiri.

 

 

Hikmah yang lalu menggambarkan keadaan hamba Allah swt yang mempunyai maksud yang baik, yaitu mau mengubah dunia supaya menjadi tempat kehidupan yang sentosa, tetapi ternyata gagal melaksanakan maksudnya apabila dia bersandar kepada kekuatan dirinya sendiri. Allah swt menyifatkan dunia sebagai tempat huru-hara dan kekeruhan. Siapa yang memasukinya pasti berjumpa dengan keadaan tersebut. Kekuatan huru-hara dan kekeruhan yang ada pada dunia sangatlah kuat karena Allah swt yang meletakkan hukum kekuatan itu padanya. Percobaan untuk mengubah apa yang Allah swt tentukan akan menjadi sia-sia. Allah swt yang menetapkan suatu perkara, hanya Dia saja yang dapat mengubahnya. Segala kekuatan, baik dan buruk, semuanya datang dari-Nya. Oleh karena itu, jika mau menghadapi suatu kekuatan yang datang dari-Nya mestilah juga dengan kekuatan-Nya. Kekuatan yang paling kuat bagi menghadapi kekuatan yang dimiliki oleh dunia ialah kekuatan berserah diri kepada Allah swt. Kembalikan semua urusan kepada-Nya. Rasulullah saw telah memberi pengajaran dalam menghadapi bencana dengan ucapan dan penghayatan:

“Semua perkara datangnya dari Allah swt dan akan kembali kepada Allah swt juga”. Misalnya, api yang dinyalakan dari mana datangnya jika tidak dari Allah swt dan ke mana perginya bila dipadamkan jika tidak kepada Allah swt.

Apabila suatu maksud disandarkan kepada Allah swt maka menjadi hak Allah swt untuk melaksanakannya. Nabi Adam as mempunyai maksud yang baik, yaitu mau menyebarkan agama Allah swt di atas muka bumi ini dan menyandarkan maksud yang baik itu kepada Allah swt dan Allah swt menerima maksud tersebut. Setelah Nabi Adam as wafat, maksud dan tujuan beliau diteruskan. Allah swt memerintahkan maksud tersebut dipikul oleh nabi-nabi yang lain sehingga kepada nabi terakhir, yaitu Nabi Muhammad saw. Setelah Nabi Muhammad saw wafat, ia dipikul pula oleh para ulama yang menyeru kepada jalan Allah swt. Jika dipandang dari segi perjalanan pahala maka dapat dikatakan pahala yang diterima oleh Nabi Adam as karena maksud baiknya berjalan terus selama agama Allah swt berkembang dan selagi ada orang yang mewarisi dan meneruskan perjuangannya ini.

Maksud menyerah diri kepada Allah swt, bersandar kepada-Nya dan menyerahkan segala urusan kepada-Nya mesti difahami dengan mendalam. Kita hendaklah memasang niat yang baik, dan beramal sesuai dengan maqam kita. Allah swt yang menggerakkan niat itu dan melaksanakan amal yang berhubungan. Cara pelaksanaannya adalah hak mutlak Allah swt. Kemungkinan kita tidak sempat melihat fondasi yang kita bina siap menjadi bangunan, namun kita yakin bangunan itu akan siap karena Allah swt mengambil hak pelaksanaannya. Maksud dan tujuan kita tetap akan menjadi kenyataan walaupun kita sudah memasuki liang lahat. Pada masa kita masih hidup, kita hanya sempat meletakkan batu fondasi, namun ketika itu mata-hati kita sudah dapat melihat bangunan tersebut. Rasulullah saw sudah dapat melihat perkara yang akan terjadi sesudah baginda saw wafat, diantaranya ialah kejatuhan kerajaan Romawi dan Persi ke tangan orang Islam semasa pemerintahan khalifah ar-Rasyidin. Sekalian nabi-nabi yang diutus sebelum Nabi Muhammad saw sudah dapat melihat kedatangan baginda saw sebagai penutup dan pelengkap kenabian. Begitulah tajamnya pandangan mata-hati mereka yang bersandar kepada Allah swt dan menyerahkan kepada-Nya tugas untuk mengurus.

Tidak ada jalan bagi seorang hamba kecuali berserah diri kepada Tuannya. Semua Hikmah dari yang pertama hingga yang ke-33 ini, jika disambungkan akan membentuk suatu landasan yang menuju satu arah, yaitu berserah diri kepada Allah swt. Hikmah-hikmah yang telah dipaparkan membicarakan soal pokok yang sama, diterangi dari berbagai sudut dan aspek supaya lebih jelas dan nyata bahwa hubungan yang sebenarnya seorang hamba dengan Tuhan ialah berserah diri, ridha terhadap-Nya. Rasulullah saw telah mewasiatkan kepada Ibnu Abbas ra:

“Apabila kamu memohon, maka memohonlah kepada Allah swt. Apabila kamu meminta, maka mintalah kepada Allah swt. Dan, ketahuilah bahwa sekiranya sekalian makhluk saling bantu-membantu untuk memperoleh sesuatu yang tidak ditulis Allah swt untuk kamu, pasti mereka tidak akan sanggup mengadakannya. Dan, sekiranya sekalian makhluk mau memudharatkan kamu dengan sesuatu yang tidak ditulis Allah swt buat kamu, niscaya mereka tidak sanggup berbuat demikian. Segala buku telah terlipat dan segala pena telah kering.