Archive for the Ikatan Kimia Category

Ikatan Ion

Posted in Ikatan Kimia with tags , , , , , on April 21, 2012 by isepmalik

Unsur-unsur sangat jarang ditemukan dalam alam berupa atom-atom tunggal. Umumnya unsur-unsur terdapat dalam bentuk molekul, baik yang terdiri atas atom-atom sejenis maupun yang tak sejenis. Fakta ini menunjukkan bahwa atom-atom cenderung bergabung satu dengan yang lain membentuk ikatan. Ikatan yang terjadi antara atom-atom unsur yang tak sejenis menyebabkan terbentuknya senyawa.

Apabila beberapa senyawa dilarutkan dalam air, maka larutannya ada yang dapat menghantarkan listrik dan ada pula yang tidak. Hal ini menyatakan adanya perbedaan jenis ikatan pembentuk senyawa.

Bab ini membahas ikatan yang terjadi antara atom-atom untuk mencapai keadaan yang lebih stabil, meliputi ikatan ion, ikatan kovalen, dan struktur ruang molekul.

 

A.     Ikatan Ion

Unsur-unsur gas mulia dalam alam terdapat dalam keadaan bebas dan berupa atom-atom tunggal. Unsur-unsur tersebut juga sangat sukar bereaksi dengan unsur-unsur lain. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa gas mulia bersifat stabil.

Menurut pendapat W. Kossel dan Gilbert N. Lewis (1916), kestabilan sifat gas mulia disebabkan oleh elektron valensinya yang berjumlah delapan (kecuali He dengan elektron valensi dua). Konfigurasi elektron valensi gas mulia ini dikenal sebagai Konfigurasi oktet, karena terdiri atas 8 elektron pada kulit terluarnya. Konfigurasi elektron terluar unsur-unsur gas mulia seperti tercantum pada Tabel 6.1 di bawah ini.

Tabel 6.1 Elektron Valensi Gas Mulia

Unsur

No. Atom

Elektron Valensi

He

Ne

Ar

Kr

Xe

Rn

2

10

18

36

54

86

2

8

8

8

8

8

 

Unsur-unsur lain akan melepaskan atau menerima elektron, agar elektron terluarnya (elektron valensinya) serupa dengan elektron valensi unsur-unsur gas mulia sehingga mencapai kestabilan. Unsur golongan alkali dan alkali tanah cenderung melepaskan elektron terluarnya untuk mencapai kestabilan dengan membentuk ion positif. Unsur-unsur tersebut merupakan unsur elektropositif. Unsur-unsur dengan nomor atom kecil seperti Li dan Be akan membentuk Li+ dan Be2+, masing-masing dengan melepaskan 1 elektron dan 2 elektron dan membentuk konfigurasi elektron valensi seperti unsur gas mulia He dengan elektron valensi 2. Selanjutnya, untuk mencapai kestabilan unsur-unsur alkali dan alkali tanah dengan nomor atom yang lebih besar akan membentuk konfigurasi elektron valensi oktet.

Misalnya:

Na (2.8.1) → Na+ (2.8) + e

Mg (2.8.2) → Mg2+ (2.8) + 2e

Unsur-unsur halogen (golongan VIIA) mempunyai 7 elektron valensi, sehingga untuk membentuk konfigurasi elektron valensi seperti gas mulia (oktet) perlu menerima 1 elektron. Dengan demikian, halogen lebih stabil dalam bentuk ion negatif.

Contoh:

F(2.7) + e → F (2.8)

Cl(2.8.7) + e → Cl (2.8.8)

Unsur-unsur golongan VIA, seperti oksigen, belerang, selenium, dan telurium yang bersifat nonlogam, untuk mencapai konfigurasi oktet menerima 2 elektron membentuk ion negatif dua, melalui reaksi:

O(2.6) + 2e → O2- (2.8)

Unsur-unsur golongan VIA dan golongan VIIA ini merupakan unsur-unsur elektronegatif.

Ion-ion positif yang terbentuk dari logam alkali dan alkali tanah (golongan IA dan IIA), melalui gayaelektrostatik akan tarik menarik dengan ion-ion negatif dari unsur-unsur golongan VIA dan VIIA membentuk zat padat. Pada pembentukan zat padat ini dibebaskan sejumlah energi yang disebut energi kisi, sehingga keberadaannya lebih stabil. Dengan cara inilah ion positif dan ion negatif membentuk ikatan ion. Misalnya, reaksi logam Na dan gas Cl2 meliputi langkah-langkah:

Na(s) → Na(g)

Na(g) → Na+(g) + e

Cl2(g) → 2Cl(g)

Cl(g) + e → Cl(g)

Na+(g) + Cl(g) → Na+Cl(s)

Ikatan ion ini sangat kuat. Oleh karena itu, titik leleh dan titik didih senyawa ion tinggi. Senyawa ion bila dilarutkan dalam air terurai menjadi ion-ionnya, karena itu larutannya dapat menghantarkan listrik.

Iklan