Archive for the Fasal 10 Category

Cahaya dan Kegelapan sebagai Penghalang

Posted in Fasal 10 with tags , , , , , on April 7, 2012 by isepmalik

Firman Allah dalam Surah Al-Isra ayat 72:

“Dan barang siapa yang buta (hatinya) di dunia ini, niscaya di akhirat (nanti) ia akan lebih buta pula dan lebih tersesat dari jalan (yang benar)”.

Yang dimaksudkan dengan buta di dunia adalah buta hati, sebagaimana firman Allah dalam surah Al-Hajj ayat 46:

“Maka sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, ialah hati yang di dalam dada”.

Penyebab kebutaan hati adalah karena lupa yang menutupi hati setelah manusia berjanji kepada Allah di alam Arwah. Yang menjadi penyebab lupa adalah bodoh terhadap hakikat urusan ketuhanan.

Kebodohan ini timbul karena hati terselubungi oleh sifat-sifat tercela, seperti: sombong, dendam, dengki, kikir, ujub, ghibah (mengumpat), namimah (mengadu domba), bohong dan sifat-sifat tercela lainnya.

Sifat-sifat inilah yang mengakibatkan manusia jatuh ke jurang yang terendah. Adapun cara menghilangkan sifat-sifat yang tercela tadi adalah dengan membersihkan cermin hati dengan alat pembersih tauhid dan dengan ilmu serta amal; dan berjuang dengan sekuat tenaga secara lahir batin, sehingga ia menghasilkan hidupnya hati dengan cahaya tauhid dan sifat-sifatnya.

Bila seorang manusia telah berhasil menghidupkan hatinya, maka ia akan ingat pada negeri asalnya (alam Lahut). Setelah ingat ia akan pulang dan ingin sampai ke negerinya yang hakiki.

Maka ia akan sampai dengan pertolongan Allah. Selanjutnya setelah penghalang kegelapan tadi hilang, masih ada hamparan penghalang cahaya, maka terbukalah cahaya dan ia akan melihat dengan penglihatan ruh dan menerima cahaya dari cahaya Asmaus Sifat (nama-nama sifat), sehingga hilanglah penghalang cahaya sedikit demi sedikit. Akhirnya ia mendapatkan cahaya dari cahaya zat.

Ketahuilah, bahwa hati memiliki dua penglihatan: pertama, penglihatan kecil; kedua, penglihatan besar.

Penglihatan kecil adalah melihat Tajalli Sifat dengan cahaya Asmaus Sifat hingga ke alam Darajat. Yang kedua adalah penglihatan besar, yaitu ia akan melihat cahaya Tajalli zat dengan cahaya tauhid yang Maha Tunggal di alam Lahut dan alam Qurbah. Waktu untuk mencapai darajat ini adalah sebelum mati dan sebelum rusak dari jisim manusia. Untuk kembali ke alam Qurbah adalah dengan menghentikan keinginan nafsu.

Sampainya seorang manusia kepada Allah ta’ala tidak seperti bertemunya jisim dengan jisim dan tidak seperti ilmu pengetahuan dengan tujuan pengetahuan atau bertemunya pemikiran dengan yang dipikirkan atau bertemu dugaan terhadap yang diduga. Yang dimaksudkan sampai kepada Allah adalah putus dari selain Allah tanpa dekat dan jauh, tanpa arah dan berhadapan, tanpa bertemu dan berpisah.

Orang yang telah mencapai darajat seperti ini di alam dunia dan dia mampu mengetahui kadar dirinya sebelum ia dihitung orang lain, maka ia adalah manusia yang bahagia. Seandainya manusia tidak mencapai darajat yang disebut tadi, maka ia akan mengalami kesukaran-kesukaran, seperti: siksa kubur, perhitungan amal, digiring ke Mahsyar, ditimbang amal, melewati Sirathal Mustaqim dan segala ssuatu yang terjadi di akhirat nanti.

Iklan