Archive for the Fasal 20 Category

Khalwat dan Uzlah

Posted in Fasal 20 with tags , , , , , on Mei 7, 2012 by isepmalik

“Khalwat” dan “Uzlah” itu terbagi dua, zahir dan batin. Khalwat zahir ialah seorang manusia mengasingkan diri dan menahan badannya dari manusia agar tidak menyakiti orang lain dengan akhlak yang buruk; meninggalkan kesenangan-kesenangan nafsu dan meninggalkan amal buruknya yang zahir agar indera batinnya terbuka dengan niat yang ikhlas; mati dan masuk kubur dengan kepasrahan. Niatnya harus dengan niat mencari keridhaan Allah dan menjauhkan keburukan dirinya dari mukminin dan muslimin. Rasul bersabda:

“Muslim yang sempurna adalah manusia yang orang lain selamat dari tangannya dan lidahnya serta menjaga lidahnya dari kata-kata yang tidak berguna”.

Sabda Nabi saw.: “Selamatnya seorang manusia tergantung pada pengendalian lidahnya. Dan celakanya manusia pun tergantung pada lidahnya. Juga menjaga dua matanya dari khianat dan melihat yang diharamkan serta menjaga kedua kaki dan telinganya”.

Sabda Nabi saw.: “Dua ata ini suka berzina, dari zina anggota badan ini akan menimbulkan manusia yang buruk seperti rupa orang Habsyi dan akan bangun pada hari kiamat dan disaksikan di hadapan Allah; dan mengambil teman-temannya serta disiksa di dalam neraka”.

Jika ia bertaubat dan menjaga dirinya, maka akan masuk pada firman Allah:

“Dan orang-orang yang menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggalnya” (QS. An-Nazi’at: 40-41).

Maka akan digantikan rupanya dengan rupa yang elok dan manis; seelok pemuda-pemuda surga; dan selamatlah dari segala keburukannya.

Khalwat menjadi benteng bagi seorang manusia dari maksiat dan amalannya menjadi amalan yang saleh, bahkan dia dapat mencapai darajat manusia yang baik. Allah berfirman:

“Orang yang mengharapkan ingin bertemu dengan Tuhannya hendaklah melaksanakan amal saleh dan tidak boleh menyekutukan apapun dalam beribadah kepada Tuhannya” (QS. Al-Kahfi: 110).

Khalwat batin adalah batinnya tidak boleh dimasuki oleh pikiran-pikiran bangsa nafsu dan syaitan, seperti menyenangi makanan, minuman, pakaian, mencintai keluarga, bintanag, kuda, dan sebagainya; juga seperti riya’, sum’ah dan kemasyhuran Nabi saw. Bersabda:

“Kemasyhuran dan angan-angan yang mengarah kepadanya itu berbahaya: sedangkan tidak menginginkan kemasyhuran dan segala sesuatu yang mengarah kepadanya adalah kesenangan”.

Hatinya secara sadar jangan dimasuki sombong, ujub, kikir, dengki, mengumpat, mengadu domba, dengki, memaksa, pemarah, dan sebagainya dari sifat-sifat yang tercela. Bila salah satu masuk ke dalam hati yang sedang khalwat, maka batallah khalwatnya; rusaklah hatinya dan rusaklah segala amal salehnya dan ikhlasnya, maka hatinya akan menjadi hati yang tiada manfaat. Sesuai dengan firman Allah:

“Sesungguhnya Allah tidak akan membiarkan terus berlangsung pekerjaan orang-orang yang membuat kerusakan” (QS. Yunus: 81).

Setiap orang yang dalam hatinya terdapat sifat-sifat seperti ini, maka ia termasuk mufsidin (orang-orang yang merusak) walaupun pada lahirnya ia termasuk seorang yang saleh.

Nabi saw bersabda: “Seorang sombong dan ujub merusakkan iman”.

Sabda Nabi saw.: “Mengumpat itu lebih besar dosanya daripada zina”.

Sabda Nabi saw.: “Hasad itu menghancurkan kebaikan seperti halnya api menghancurkan kayu bakar”.

Sabda Nabi saw.: “Fitnah itu sesuatu yang tertidur, Allah akan melaknati orang yang membangunkannya”.

Sabda Nabi saw.: “Orang yang kikir tidak akan masuk surga, walaupun ia ahli ibadah”.

Sabda Nabi saw.: “Riya’ adalah syirik khafi, menyekutukan-Nya adalah kufur”.

Sabda Nabi saw.: “Tidak akan masuk surga orang yang mengumpat”.

Dan masih banyak hadits-hadits lain yang mencela akhlak-akhlak yang buruk maka inilah tingkatan pada kehati-hatian.

Maka tujuan tasawuf pada tahap awal adalah membersihkan hati dari semua itu; menahan nafsu dan hawa nafsu. Orang yang telah mampu memperbaikinya dengan khalwat, riyadhah dan diam serta mendawamkan zikir dengan keinginan, kecintaan, taubat dan ikhlas, dan i’tikad yang baik yang sesuia dengan Sunnah dan mengikuti jejak-jejak orang yang saleh pada masa dahulu, para tabi’in, para masyaikh dan para ulama amilin. Orang yang berkhalwat dengan taubat dan talqin serta menjalankan syariat-syariat ini, maka akan menjadi orang yang ikhlas kepada Allah; Ikhlas ilmunya dan amalnya, sehingga hatinya akan bersinar dan kulitnya pun akan menjadi lembut, lidahnya akan bersih, anggota badan pun akan bersih dari mulai lahir hingga batin. Amal ibadahnya akan dibawa ke hadirat Allah dan akan diterima oleh Allah. Doanya akan didengar sesuai dengan ucapan “Sami Allahu liman hamidah” (Allah mendengar pujian dari orang-orang yang memuji pada-Nya). Yakni menerima doanya, puji-pujian, serta ibadahnyal dan Allah akan memberi penggantinya pada hamba-Nya berupa pahala Qurbah dan Darajat, sesuai firman Allah:

“Kepada-Nyalah naik kalimat thayyibah dan amal-amal saleh menaikkan-Nya (QS. Al-Fathir: 10).

Yang dimaksud dengan kalimat tayyib adalah seorang manusia menjaga lisannya dari kata-kata yang tidak berguna, setelah keberadaan lidahnya adalah sebagai alat untuk berzikir kepada Allah dan bertauhid kepada-Nya sesuai dengan firman Allah:

“Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, yaitu orang-orang yang khusyuk dalam shalatnya dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tidak berguna” (QS. Al-Mukminun: 1-3).

Allah akan meninggikan ilmu, amal dan pengamalnya kepada Rahmat dan dekat kepada-Nya serta pada darajat-Nya dengan ampunan dan ridha Allah.

Bilamana darajat-darajat tadi telah dicapai oleh orang yang berkhalwat, maka hatinya akan seperti laut yang tidak akan berubah oleh sikap buruk manusia kepadanya, sebagaimana sabda Nabi saw.: “Jadilah kamu seperti laut yang tidak berubah”. Matilah segala tuntutan nafsu, seperti tenggelamnya Fir’aun dan keluarganya di dalam lautan dan jadilah kapal yang selamat berjalan tanpa halangan. Ruh Qudsinya akan menyelam sampai ke dasarnya dan mengambil permata hakikat. Dia akan mengeluarkan mutiara “ma’rifat” dan intan “latha’if”. Sebagaimana firman Allah: “Dari keduanya keluarlah mutiara dan permata”, karena laut ini dapat diperoleh oleh orang yang mampu memadukan lautan lahir dan batin; dan ia tidak akan lagi merubah hatinya. Taubatnya akan menjadi taubat yang hakiki; ilmunya bermanfaat; amalnya baik secara langsung tidak akan cenderung kepada larangan-larangannya; dan lupanya pun akan diampun dengan istighfar (mohon ampun), rasa penyesalan dan keyakinan.

Iklan