Archive for the Fasal 09 Category

Melihat Allah dengan Basyirah Batin

Posted in Fasal 09 with tags , , , , , on April 4, 2012 by isepmalik

Melihat kepada Allah ada dua macam: Pertama, melihat Jamaliyah tanpa perantaraan cermin. Kedua, melihat sifat Allah di muka bumi dengan perantaraan cermin hati dengan penglihatan mata hati dan melihat pantulan cahaya keindahan Allah. Firman Allah: “Hatinya tidak mendustakan apa yang dilihatnya” (An-Najm: 11).

Nabi bersabda:

“Hati seorang mukmin adalah cermin dari Allah yang bersifat Al-Mukmin”.

Yang dimaksud dengan mkmin yang pertama adalah hati hamba Allah yang beriman, sedangkan mukmin yang kedua adalah Zat Allah yang bersifat Al-Mukmin. Jadi manusia yang mampu melihat sifat-sifat Allah pada segala sesuatu yang ada dan terjadi di muka bumi ini, berarti dia pasti akan melihat Zat Allah di alam akhir (alam Lahut) tanpa perantaraan. Hal inilah yang selalu diinginkan oleh para wali, seperti halnya Sayyidina Umar r.a. berkata: “Hatiku melihat Tuhanku dengan cahaya dari Tuhanku”. Sayyidina Ali berkata: “Aku tidak beribadah kepada Tuhan yang tidak aku lihat (dengan mata hati)”. Yang dimaksud dengan melihat tadi adalah menyaksikan sifat-sifat Allah dari segala sesuatu yang ada dan terjadi di muka bumi ini. Seperti halnya seseorang yang melihat sinar matahari dari miskat (lubang yang tidak tembus), maka ia boleh sahaja mengatakan aku melihat matahari, berdasarkan pandangan yang tidak sempit.

Allah memberikan perumpamaan di dalam kalamnya surah An-Nur ayat 35:

“Perumpamaan cahaya Allah adalah seperti lubang yang tidak tembus yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca dan kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon zaitun”.

Yang dimaksud dengan misykat adalah hati seorang mukmin. Yang dimaksud dengan lampunya adalah Sirrul fuad” (rahasia mata hati), yaitu ruh Sultani. Yang dimaksud dengan kaca adalah fuad (mata hati) yang oleh Allah disifati dengan sifat gemerlapan, karena kekuatan cahaya yang luar biasa. Dalam ayat tadi Allah juga menjelaskan tentang sumber cahaya tadi dengan ucapan: tuqadu min sajaratin mubarakatin zaitunatin, yaitu pohon talqin dan tauhid yang murni yang keluar dari lisan Al-Qudsi tanpa perantaraan. Seperti halnya Nabi Muhammad s.a.w. menerima Al-Quran dari Allah secara utuh. Kemudian malaikat Jibril menyampaikannya kepada Nabi s.a.w. untuk kemaslahatan umat dan meluruskan keingkaran orang-orang kafir dan munafikin.

Adapun dalil yang mengatakan bahwa Nabi s.a.w. telah menerima Al-Quran secara utuh sebelum malak Jibril adalah surah An-Naml ayat 6:

“Dan sesungguhnya kamu benar-benar diberi Al-Quran dari sisi Allah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui”.

Oleh karena itu Nabi pernah mendahului malak Jibril dalam urusan wahyu, kemudian turun ayat:

“Wahai Muhammad, janganlah engkau mendahului tentang Al-Quran sebelum Allah menentukannya kepadamu tentang wahyu yang akan diberikan kepadamu” (Thaha: 114).

Contoh lain ketika malam Mi’raj, Nabi meninggalkan malaikat Jibril karena Malak Jibril tidak mampu melewati Sidratul Muntaha. Allah juga menyifati pohon tersebut dengan firman-Nya: Laa Syarqitain walaa Gharbiyah, yakni tidak dibatasi oleh suatu batas dan tidak akan hilang serta tidak disifati dengan sifat muncul dan hilang, tetapi cahaya tersebut secara azali tidak akan hilang selama-lamanya; seperti halnya Zat Allah yang Maha Awal Yang Azali dan Kekal. Begitu pula Sifat-sifat-Nya karena sifat-sifat-Nya adalah cahaya-Nya dan Tajalliyah-Nya. Sifat-sifat-Nya selalu berada pada Zat-Nya.

Seseorang tidak akan dapat beribadah dengan benar kepada Allah kecuali telah terbuka penghalang hatinya. Bilamana hati telah dapat menerima cahaya tersebut, maka dia akan terbuka dan ruhnya akan dapat melihat sifat-sifat Allah dari pantulan cahaya cermin hati tadi. Itulah maksud penciptaan alam, yaitu terbukanya rahasia yang tertutup: seperti di dalam Hadits Qudsi dikatakan:

“Aku adalah perbendaharaan yang tersembunyi, Aku ingin diketahui. Maka Aku menciptakan makhluk agar mereka mengenal-Ku”, yakni mereka mengenal sifat-sifat-Ku di muka bumi ini.

Adapun melihat zat Allah itu ada di akhirat (alam Lahut) tanpa perantaraan cermin tadi dengan pandangan sirri yang disebut Tiflul Ma’ani. Firman Allah:

“Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. Kepada Tuhan mereka melihat” (Al-Qiyamah: 22-23).

Sabda Nabi:

“Aku melihat Tuhanku dengan rupa seorang anak muda yang tampan”.

Mungkin maksudnya adalah Tiflul Ma’ani, yaitu tajallinya Allah dengan rupa seperti itu di dalam cermin ruh, karena rupa adalah cermin ruh dan merupakan perantaraan antara Tajalli dengan Mutajalli lahu. Yang dimaksud dengan hadits tadi bukan berarti bahwa Allah itu tergambar sebagai rupa seorang manusia, karena Allah bersih dari segala rupa. Maka yang dimaksudkan dengan rupa tadi adalah cermin dan yang dilihat adalah bukan cermin dan bukan pula yang bercermin. Pahamilah, sebab ini adalah hal yang maha rahasia. Ini semua berada di dalam sifat, bukan pada alam zat, karena di alam zat semua perantaraan akan lebur dan di sana tidak ada yang terdengar kecuali Allah. Sabda Nabi: “Aku mengenal Tuhanku oleh Tuhanku”, yakni dengan cahaya dari Tuhanku, sedangkan manusia yang hakiki adalah mahrum bagi cahaya-cahaya tadi. Firman Allah dalam Hadits Qudsi:

“Manusia adalah rahasia-Ku dan Aku adalah rahasia manusia”.

Sabda Rasul:

“Aku (Muhammad) dari Allah dan orang-orang beriman dari aku”.

Firman Allah dalam Hadits Qudsi:

“Aku ciptakan Muhammad dari wajah-Ku”.

Yang dimaksudkan dengan wajah Allah adalah Zat Muqaddasah Mutajaliyah fi Sifatin Arhamiyah (Zat suci yang Tajalli dalam sifat kasih sayang). Firman Allah ta’ala:

“Sesungguhnya rahmat-Ku melebih azab-Ku”.

Firman Allah kepada Rasul-Nya:

“Sesungguhnya Aku mengutus engkau adalah sebagai rahmat bagi semua alam” (Al-Anbiya: 107).

Firman Allah dalam surah Al-Maidah ayat 15:

“Telah datang kepada kamu sekalian cahaya (yakni Nabi Muhammad s.a.w) dan kitab yang menjelaskan (Al-Quran)”.

Firman Allah dalam Hadits Qudsi:

“Kalau aku tidak menciptakanmu, maka aku tidak akan menciptakan “falak” (alam semesta)”.

Iklan