Archive for the Kimia Inti dan Radiokimia Category

Kimia Inti dan Radiokimia

Posted in Kimia Inti dan Radiokimia with tags , , , , , on Mei 2, 2012 by isepmalik

  • Inti atom tersusun dari proton dan neutron, memiliki ukuran sangat kecil, tetapi massa atom terpusat pada inti atom yang sangat kecil ini.
  • Terdapat dua pandangan tentang komposisi inti, yaitu hipotesis proton-elektron dan hipotesis proton-neutron. Hipotesis yang terakhir yang diterima sampai sekarang.
  • Untuk memberikan kekhususan nama terhadap komposisi inti digunakan istilah nuklida, dengan lambang: AZXn.
  • Kestabilan inti dapat dipertimbangkan dari aspek kinetik dan termodinamik. Inti yang secara kinetik tidak stabil terurai menjadi inti yang lebih stabil melalui peluruhan radiokatif, melibatkan partikel alfa, beta, atau positron, juga foton berenergi tinggi, dinamakan sinar gamma.
  • Kestabilan termodinamik dapat ditinjau dari aspek energi inti dan gaya antar nukleon. Gaya tarik antar nukleon dalam inti memungkinkan inti stabil (tidak terurai). Gaya tarik antar nukleon ini berlaku bagi partikel yang berjarak < 10-15 m. Jarak di atas harga itu tidak berpengaruh.
  • Kestabilan termodinamik inti melibatkan perbandingan energi inti terhadap komponen-komponennya. Jika sistem menerima atau melepaskan energi, inti juga menerima atau melepaskan sejumlah massa, yang diberikan oleh hubungan E = mc2. Perubahan massa, dinamakan defek massa, dapat diperoleh melalui perbandingan massa inti terhadap jumlah massa nukleon, dan dapat digunakan untuk menghitung energi pembentukan inti dari nukleon. Energi ikat inti adalah energi yang diperlukan untuk menguraikan inti ke dalam proton dan neutron.
  • Terdapat dua model inti yang telah dikembangkan, yaitu model kulit inti dan model tetes cairan. Model kulit inti menyatakan bahwa inti memiliki kestabilan ekstra bila jumlah proton dan neutron atau keduanya sama dengan: 2, 8, 20, 50, 82, dan 126. Bilangan ini dinamakan bilangan magic.
  • Penemuan keradioaktifan bermula dari diciptakannya tabung sinar katoda (CRT), dan sinar-X oleh Rontgen. Berlanjut dengan sifat fluoresensi zat oleh Becquerel dan keradioaktifan oleh Marie Curie.
  • Nuklida radioaktif dapat melangsungkan sejumlah peluruhan, dinamakan deret peluruhan, sampai nuklida stabil dibentuk. Peluruhan radioaktif mengikuti kinetik orde pertama. Waktu-paro cuplikan radioaktif adalah waktu yang diperlukan untuk sejumlah nuklida mencapai setengah dari jumlah semula.
  • Unsur-unsur transuranium yang posisinya setelah uranium dalam tabel periodik, dapat disintesis melalui pemboman uranium atau unsur yang lebih berat oleh partikel alfa atau nuklida unsur ringan.
  • Penentuan umur radiokarbon menggunakan nisbah 14C/12C untuk menentukan objek yang mengandung karbon dari sumber yang hidup.
  • Aktivitas radioaktif dapat disidik dengan alat yang dikembangkan oleh Geiger dan Muller, dinamakan alat pencacah radiasi. Di samping alat pencacah Geiger dikenal juga alat pencacah skintilasi berdasarkan kelipan cahaya yang dibangkitkan oleh unsur radioaktif.
  • Pengaruh radiasi unsur-unsur radioaktif terhadap organisme biologi beragam bergantung kekuatan sinar, lama terpaan, dan jenis sinar yang dipancarkan. Untuk menentukan efek radiasi digunakan satuan, diantaranya Rad, Rem, Grey, LET, dan yang lainnya.
  • Kerusakan akibat radiasi dapat menyebabkan baik kerusakan langsung organisme hidup maupun kerusakan genetik pembawa sifat organisme. Dampak biologi radiasi bergantung pada energi, kemampuan menetrasi, dan kemampuan ionisasi radiasi, dan sifat-sifat kimia sumber radiasi.
  • Isotop radioaktif telah dimanfaatkan oleh manusia dan diterapkan pada berbagai bidang, seperti kimia, industri, pertanian, perminyakan, dan terutama dalam bidang kedokteran dan medis.
  • Nuklis fusi adalah proses penggabungan dua inti ringan membentuk inti lebih berat dan lebih stabil. Fusi adalah pemecahan inti berat menjadi dua inti yang lebih ringan. Sekarang, reaktor nuklir menerapkan fisi terkendali.

(Sumber: Yayan Sunarya. (2003). Kimia Dasar: Prinsip-prinsip Kimia Terkini Jilid 2).

Iklan