Archive for the Fasal 18 Category

Haji Syariat dan Haji Tariqat

Posted in Fasal 18 with tags , , , , , on Mei 4, 2012 by isepmalik

Haji syariat ialah melakukan ibadah haji ke Baitullah dengan melaksanakan syarat-syarat dan rukun-rukunya, sehingga menghasilkan pahala haji. Bila kurang syaratnya, maka kurang pula pahalanya, bahkan membatalkannya karena Allah memeirntahkan menyempurnakan haji. Allah berfirman:

“Sempurnakanlah haji dan umrah karena Allah” (QS. Al-Baqarah: 196).

Di antara pekerjaan haji adalah ihram, masuk ke Makkah dan Tawaf Qudum, Wukuf di Arafah, menginap di Muzdalifah, menyembelih hewan qurban di Mina, masuk ke tanah Haram, Taqaf keliling Ka’bah tujuh kali, minum air Zam-zam, shalat Sunat Tawaf di Makam Nabi Ibrahim kekasih Allah, melakukan Tahallul dari pekerjaan yang dilarang di waktu Ihram dan selainnya.

Pahala bagi haji syariat adalah selamat dari neraka dan siksa Allah. Firman Allah:

“Orang yang masuk ke Baitullah (beribadah haji), maka ia akan sentosa”.

Selanjutnya melakukan tawaf wada dan kembali ke negerinya masing-masing. Semoga kita diberi kemampuan untuk melaksanakannya.

Bekal dan kendaraan haji tariqat adalah adanya kecenderungan hati ingin mengambil talqin dari Shahibut-talqin, selanjutnya melaksanakan dzikir dengan lisn serta menghayati maknanya. Yang dimaksud dengan dzikir di sini ialah mengucapkan kalimat Laa Ilaha Illallah dengan lisan, selanjutnya menghidupkan hati dengan berdzikir kepada Allah dalam batin, sehingga hatinya menjadi bersih.

Pertama-tama dengan menggunakan Asmaus-sifat (nama-nama sifat Allah) sehingga muncul Ka’bah Sirri dengan cahaya sifat Jamaliyah. Sebagaimana firman Allah kepada Nabi Ibrahim dan Nabi:

“Agar engkau berdua membersihkan rumah-Ku bagi orang-orang yang datang bertawaf” (QS. Al-Hajj: 26).

Ka’bah zahir dibersihkan bagi orang-orang yang bertawaf di kalangan makhluk, sedangkan Ka’bah hati dibersihkan untuk dipandang Allah. Oleh karena itu sudah selayaknya dibersihkan dari selain Allah.

Selanjutnya berihram dengan cahaya Ruh Qudsi dan masuk ke Ka’bah hati, dan tawaf qudum dengan mulazamahkan nama yang kedua, yaitu: Lafaz Jalalah, “Allah”.

Selnjutnya berangkat ke Arafah Qalbi (hati), yaitu tempat munajat, maka berwukuflah di situ dengan mulazamahkan nama yang ketiga, yaitu “Hu” (Dia, Allah); dan nama yang keempat, yaitu “Haqqun” (Yang Maha Benar).

Selanjutnya berangkat ke Muzdalifah Fuad dan digabungkan dengan nama kelima, yaitu “Hayyun” (Yang Maha Hidup), dan nama yang keenam, yaitu “Qayyum” (Yang Ada dengan Sendirinya), lalu berangkat ke Mina Sir (rasa) yang terletak antara dua Haram (dua daerah) dan wukuf di sana.

Selanjutnya menyembelih nafsu muthma’innah dengan menggunakan nama yang ketujuh, yaitu “Qahhar” (Yang Maha Memaksa), karena “Qahhar” adalah “ismul fana” (nama kehancuran) yang menghilangkan penghalang kekufuran sebagaimana sabda Nabi saw.:

“Kufur dan Iman adalah dua tempat di belakang Arasy. Kedua-duanya merupakan penghalang antara hamba dengan Tuhannya. Salah satu hitam dan yang lainnya putih”.

Selanjutnya memotong rambut dari kepala Ruh Al-Qudsi dari sifat basyariyah (kesenangan manusiawi) dengan menggunakan nama kedelapan.

Selanjutnya masuk ke Haram sirri dengan menggunakan nama kesembilan dan sampailah kepada melihat orang-orang yang beri’tikaf dan ikut beri’tikaf di lingkungan Qurbah.

Dan bahagia dengan mulazamahkan nama kesepuluh dan melihat keindahan Shamadiyah Allah Yang Maha Suci dan Maha Agung tanpa dipertanyakan “bagaimana” dan tidak dapat diumpamakan.

Selanjutnya melakukan tawaf batin dengan tujuh putaran dengan mulazamahkan nama yang kesebelas. Nama yang kesebelas ini disertai dengan enam nama-nama cabang dan selanjutnya meminum minuman batin dari tangan Qurbah.

Allah memberi minum kepada mereka dengan minuman yang suci dari gelas nama keduabelas. Kemudian diliputi dengan Zat Yang Maha Kekal dan Maha Suci dari perumpamaan; maka manusia melihat kepada Allah dengan Nur Allah. Inilah yang dimaksud dengan firman Allah: “Sesuatu yang tidak dapat dilihat dengan mata, tidak dapat didengar dengan telinga dan tidak tersirat pada hati seorang manusia”, yaitu Kalam Allah tanpa huruf tanpa suara dan tanpa perantara. Yang dimaksud dengan tidak tersirat dalam hati manusia, yaitu nikmatnya rasa melihat dan berkalan dengan Allah.

Selanjutnya bertahallul dari yang diharamkan Allah yaitu menukar sifat buruk dengan sifat yang baik dengan selalu mengulang-ulang Asma Tauhid, sesuai firman Allah:

“Manusia yang bertaubat, beriman dan beramal saleh, mereka adalah orang-orang yang amal buruknya ditukar dengan kebaikan”.

Dan selanjutnya melepaskan diri dari tarikan nafsu dan selanjutnya aman dari rasa takut dan dukacita. Firman Allah dalam surah Yunus ayat 62:

“Ingatlah sesungguhnya wali-wali Allah itu tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih hati”.

Semoga kita diberi kemampuan untuk mendapatkannya dengan Fadhal dan kasih sayang serta kemuliaan-Nya.

Selanjutnya melaksanakan tawaf shadri dengan menggunakan seluruh asma dan kembalilah ke negeri asalnya masing-masing, yaitu di alam Al-Qudsi alam sebaik-baiknya dengan selalu melaksanakan nama yang keduabelas. Nama yang keduabelas ini sangat berkaitan dengan alam yakin.

Ta’qilan seperti ini adalah takwilan yang beredar di sekitar lisan dan akal saja. Adapun hal-hal yang di belakang ini tidak akan dapat diberitakan, karena tidak akan terkejar oleh kefahaman dan tidak akan difahami oleh hati dan tidak akan dapat dibahas. Sebagaimana sabda Nabi saw.: “Ada ilmu yang bagaikan mutiara di dalam kerang”. Di antara ilmu-ilmu hanya ulama-ulama khusus yang mengetahuinya, karena diberi oleh Allah. Kalau mereka membicarakannya, maka akan banyak yang menentangnya.

Seorang Arif hanya akan menyampaikan hal-hal yang lebih rendah dari yang disebutkan tadi. Sedangkan seorang Alim akan berbicara lebih tinggi dari yang dibicarakan tadi, karena ilmu seorang Arif adalah sir Allah Ta’ala. Selain Allah tidak ada yang mengetahuinya. Ini yang dimaksud dengan firman Allah dalam ayat Qursyi:

“Dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya dan seterusnya” (QS. Al-Baqarah: 255).

Yaitu para nabi dan para wali Allah mengetahui segala rahasia dan yang samar. Allah, tiada Tuhan selain Allah. Allah yang mempunyai Asmaul Husna. Wallahu A’lam.

Iklan