Archive for the Filsafat & Ilmu Category

Cabang-cabang Ilmu

Posted in Filsafat & Ilmu with tags , , , , , on November 4, 2012 by isepmalik

Dari penjelasan sebelumnya kita mengetahui bahwa klasifikasi ilmu bertujuan untuk sejauh mungkin memudahkan pengajaran dan menggapai cita-cita pendidikan. Pada saat ketika pengetahuan manusia masih terbatas, mudah saja membagi semua ilmu dalam beberapa kelompok. Umpamanya, pada zaman dahulu masih mungkin kita memandang zoologi sebagai ilmu tunggal dan bahkan mencakup masalah-masalah yang terpaut dengan manusia. Lambat laun, seiring dengan melebarnya lingkaran masalah, terutama sejak beragam perangkat ilmiah digunakan untuk penyelidikan soal-soal empiris, lebih dari lain-lainnya, ilmu-ilmu empiris terbagi-bagi ke dalam sekian banyak cabang, dan setiap ilmu dibelah menjadi ilmu yang lebih partikular. Dan laju proses ini kian hari kian meningkat.

Secara umum, subdivisi ilmu terjadi dalam beberapa pola berikut:

  1. Pola pertama berasal dari bagian-bagian kecil pokok masalah suatu ilmu sebagai keseluruhan, dan setiap bagian kecil pokok masalah itu menjadi cabang baru, seperti endokrinologi atau genetika. Jelas bahwa pencabangan semacam ini dikhususkan pada ilmu yang subjek ilmu dan pokok masalahnya mempunyai hubungan keseluruhan dan bagian-bagiannya.
  2. Pola lainnya terjadi ketika tipe-tipe yang lebih partikular dan kelas-kelas yang lebih terbatas diambil dari topik universal, seperti entomologi dan bakteriologi. Subdivisi semacam ini timbul dalam ilmu-ilmu yang hubungan antara pokok ilmu dan pokok masalahnya mempunyai hubungan universal dan partikular, bukan hubungan keseluruhan dan bagian-bagiannya.
  3. Pola lain terjadi manakala berbagai metode penelitian yang dijadikan ukuran sekunder menimbulkan cabang-cabang baru dari suatu ilmu induk, meskipun pokok masalah ilmu tersebut tetap terjaga. Hal ini terjadi pada masalah-masalah yang bisa diteliti dan dipecahkan melalui berbagai cara, seperti dalam teologi filosofis, teologi mistis, dan teologi religius.
  4. Pola lainnya terjadi bila berbagai tujuan dijadikan sebagai subkriteria, dan soal-soal yang sejalan dengan masing-masing tujuan diperkenalkan sebagai cabang tertentu dari ilmu induk, seperti telah disebutkan dalam kasus matematika.

(Sumber: M. Taqi Mishbah Yazdi. (2003).  Buku Daras Filsafat Islam. Bandung: Mizan).

 

Iklan

Keseluruhan dan Universal

Posted in Filsafat & Ilmu with tags , , , , , on November 4, 2012 by isepmalik

Topik induk yang mencakup pokok-pokok masalah dan berdasarkan itu muncul pengertian ilmu sebagai himpunan masalah-masalah yang saling terkait, adakalanya bersifat universal yang mempunyai banyak contoh individual, dan adakalanya topik induk itu bersifat keseluruhan yang memiliki banyak bagian, misalnya, jenis pertama adalah topik induk angka atau bilangan yang mempunyai beragam tipe dan kelompok. Masing-masing tipe dan kelompok itu terdiri atas pokok masalah tertentu. Misalnya, jenis kedua adalah tubuh manusia yang memiliki organ-organ, tungkau, lengan dan bagian-bagian lain, yang masing-masingnya telah menjadi pokok masalah dalam suatu bidang ilmu kedokteran.

Perbedaan utama antara kedua jenis ini adalah bahwa pada jenis pertama topik induk berlaku pada tiap-tiap pokok masalah ilmu secara individual sebagai contoh dan partikularnya, sedankan pada jenis kedua topik induk ilmu tidak berlaku secara individual pada pokok-pokok masalahnya, tetapi sekadar dijadikan predikat pada mereka.

(Sumber: M. Taqi Mishbah Yazdi. (2003).  Buku Daras Filsafat Islam. Bandung: Mizan).

Tolok-Ukur Pemilahan Ilmu

Posted in Filsafat & Ilmu with tags , , , , , on November 1, 2012 by isepmalik

Setelah soal kemestian klasifikasi ilmu terjawab, soal selanjutnya adalah: Apakah tolok-ukur dan standar yang dipakai untuk mengelompokkan dan memilah pelbagai ilmu? Jawabnya: ilmu dapat diklasifikasi sesuai dengan beragam standar, di antara yang terpenting adalah sebagai berikut.

  1. Menurut metode dan prosedur penelitian. Sebelumnya telah kita jelaskan bahwa semua soal tidak bisa dikaji dan diteliti dengan satu metode. Lantas, kita jelaskan bahwa berdasarkan metode umum penyelidikannya, semua ilmu dapat dipecah menjadi tiga kelompok:
    1. Ilmu-ilmu rasional, yang diselidiki lewat bukti-bukti rasional dan penyimpulan mental belaka, seperti logika dan filsafat ketuhanan;
    2. Ilmu-ilmu empiris, yang diverifikasi lewat metode-metode empiris, seperti fisika, kimia, dan biologi.
    3. Ilmu-ilmu nukilan (narrative sciences), yang ditilik lewat dokumentasi naratif atau historis, seperti sejarah, biografi (‘ilm al-rijal), dan fiqih.
  2. Menurut tujuan dan sasaran. Tolok-ukur lain untuk mengelompokkan ilmu ialah berdasarkan pelbagai manfaat dan akibatnya. Inilah alamat dan sasaran yang dituju oleh mereka yang hendak mempelajarinya, semisal tujuan-tujuan material, spiritual, individual, dan sosial dari ilmu bersangkutan. Jelas bahwa orang yang hendak mencari jalan penyempurnaan spiritual harus mempelajari berbagai hal yang tidak dibutuhkan oleh seorang yang ingin menjadi hartawan dengan bertani dan berindustri. Begitu pula seorang pemimpin masyarakat membutuhkan jenis pengetahuan yang khusus. Karenanya, ilmu-ilmu manusia juga bisa diklasifikasi sesuai dengan tujuan-tujuan tersebut.
  3. Menurut pokok soal (subject matter). Mengingat bahwa semua masalah mempunyai pokok soal dan sejumlah soal bisa dihimpun dalam satu topik induk, maka topik induk inilah yang berperan sebagai poros bagi semua masalah yang di bawahnya, seperti angka adalah pokok masalah aritmetika, volume (kuantitas-kuantitas bersinambung) adalah pokok masalah geometri dan tubuh manusia adalah pokok masalah ilmu kedokteran.

Klasifikasi ilmu berdasarkan pokok-pokok masalah kiranya lebih menjamin tercapainya tujuan pemilihan ilmu, lantaran dengan metode ini kaitan-kaitan internal dalam tatanan dan susunan mereka tetap terpelihara. Oleh sebab itu, sejak dahulu para filosof besar menggunakan metode ini dalam klasifikasi ilmu. Tetapi, dalam pensubdivisian kita dapat mempertimbangkan metode-metode lain. Umpamanya, seorang bisa menetapkan suatu ilmu bernama teologi, yang pokok masalahnya berkisar tentang Tuhan Mahabesar. Lalu, ilmu ini sendiri dapat disubdivisikan ke dalam teologi filosofis, gnostis, dan religius, yang masing-masingnya dapat diselidiki dengan prosedur yang khas. Dalam kenyataannya, tolok-ukur subdivisi ini ialah metode penelitiannya. Dengan cara sama, pokok masalah matematika bisa dibagi menjadi beberapa cabang berdasarkan tujuan spesifiknya masing-masing, seperti matematika fisika dan matematika ekonomi. Dengan begitu, kita telah menggabungkan pelbagai tolok-ukur klasifikasi ilmu secara saksama.

(Sumber: M. Taqi Mishbah Yazdi. (2003).  Buku Daras Filsafat Islam. Bandung: Mizan).

Pembagian dan Klasifikasi Ilmu

Posted in Filsafat & Ilmu with tags , , , , , on Oktober 28, 2012 by isepmalik

Pertanyaan kita sekarang ialah: apakah yang mendasari pemisahan satu ilmu dari selainnya? Jawabnya: masalah-masalah yang bisa kita kenali merupakan spektrum yang luas. Dalam spektrum itu, sebagian masalah saling berhubungan erat, sedang sebagian lainnya tidak. Pada sisi lain pemahaman satu jenis pengetahuan bergantung pada pemahaman lainnya, atau setidak-tidaknya pemahaman satu jenis pengetahuan membantu pemahaman lainnya, sementara hubungan ini tidak terwujud pada jenis-jenis pengetahuan lainnya.

Menimbang fakta bahwa memperoleh seluruh pengetahuan mustahil bagi seseorang, dan kalaupun mungkin, tidak semua tergerak untuk itu. Lalu bakar dan selera pribadi dalam menimba pelbagai jenis pengetahuan itu berbeda-beda. Ditambah lagi adanya kenyataan hubungan erat antara sejumlah pengetahuan serta bergantungnya perolehan yang satu pada lainnya, sejak dahulu para pengajar memutuskan untuk secara jitu mengklasifikasi topik-topik yang bertalian, kemudian menentukan pelbagai tipe ilmu dan pengetahuan. beragam ilmu dikategorikan dan kebutuhan atas masing-masingnya dijabarkan, dan akibatnya prioritas masing-masing tertandaskan. Dengan begitu, pertama, seorang yang berbakat dan berselera tertentu bisa menemukan apa yang dicarinya dari tumpukan masalah tak berbilang dan jalan untuk mencapai tujuannya. Kedua, orang yang hendak mengenal bidang pengetahuan lain bisa mengetahui titik memulai dan mempermudah jalan untuk memperoleh bidang pengetahuan lain itu.

Oleh sebab itu, ilmu-ilmu dipilah-pilah ke dalam beberapa bagian. Tiap-tiap bagian, pada gilirannya, diletakkan pada kategori dan tingkat tertentu. Secara umum, ilmu dibagi menjadi teoritis dan praktis. Ilmu-ilmu teoritis dipecah menjadi ilmu-ilmu alam, matematika dan ketuhanan, sedangkan ilmu-ilmu praktis dipecah menjadi etika, ekonomi rumah tangga dan politik—sebagaimana disebutkan sebelumnya (Lihat Bagan 1 halaman 6).

(Sumber: M. Taqi Mishbah Yazdi. (2003).  Buku Daras Filsafat Islam. Bandung: Mizan).

Hubungan Filsafat, Metafisika, dan Ilmu

Posted in Filsafat & Ilmu with tags , , , , , on Oktober 24, 2012 by isepmalik

Mengingat perbedaan makna yang disebutkan tentang ilmu dan filsafat, hubungan di antaranya juga menjadi berbeda sesuai dengan makna yang digunakan. Jika “ilmu” dipakai untuk arti kesadaran secara tak terikat, atau jika ia dipakai untuk arti kumpulan proposisi yang saling berkaitan, ia artinya jadi lebih umum daripada filsafat. Soalnya, ia mencakup proposisi-proposisi partikular dan ilmu-ilmu konvensional. Jika ilmu dipakai untuk arti proposisi-proposisi universal hakiki, ia menjadi setara dengan filsafat dalam arti kuno. Jika dipakai untuk arti proposisi-proposisi empiris, ia menjadi lebih sempit daripada filsafat dalam arti kuno dan bertentangan dengan filsafat dalam arti modern (baca: himpunan proposisi nonempiris). Demikian pula, metafisika merupakan bagian filsafat dalam arti kuno dan setara dengan filsafat dalam salah satu makna modernnya.

Perlu dicatat bahwa pertentangan filsafat dan ilmu dalam arti modern, seperti diketengahkan oleh para positivis, tidak lain bertujuan untuk merendahkan nilai filsafat dan mengingkari kedudukan akal dan nilai pemahaman intelektual. Anggapan itu jelas-jelas tidak benar. Saat mengupas epistemologi, saya akan menerangkan bahwa nilai pemahaman intelektual bukan saja tidak kurang dibandingkan dengan pengetahuan indriawi dan hasil pengalaman (experiential), melainkan lebih tinggi daripada keduanya. Bahkan, nilai pengetahuan hasil pengalaman bermuara pada nilai pemahaman intelektual dan proposisi-proposisi filosofis.

Atas dasar itu, penyempitan makna ilmu pada pengetahuan empiris dan filsafat pada sesuatu yang nonempiris bisa diterima kalau cuma sebatas perkara terminologi, tapi perbedaan kedua istilah itu tidak untuk mencitrakan soal-soal filsafat dan metafisika sebagai persangkaan kosong. Demikian pula, label “ilmiah” tidak memberikan keunggulan pada suatu kecenderungan filosofis. Label itu laksana tambalan yang tidak pas pada filsafat, sehingga hanya akan menandakan kebodohan dan upaya demogogis pemasangnya.

Klaim bahwa prinsip-prinsip filsafat seperti materialisme dialektika berasal dari hukum-hukum empiris adalah keliru, lantaran tiadak hukum-hukum suatu ilmu (empiris) yang dapat digeneralisasikan pada ilmu lain, apalagi pada seluruh eksistensi. Misalnya, hukum-hukum psikologi dan biologi tidak dapat digeneralisasikan pada fisika atau kimia atau matematika, dan demikian pula sebaliknya. Hukum-hukum suatu ilmu tidak berarti apa-apa di luar bidangnya sendiri.

(Sumber: M. Taqi Mishbah Yazdi. (2003).  Buku Daras Filsafat Islam. Bandung: Mizan).

Metafisika

Posted in Filsafat & Ilmu with tags , , , , , on Oktober 18, 2012 by isepmalik

Istilah lain yang dipakai sebagai lawan “ilmu” adalah “metafisika”. Istilah ini sendiri berakar kata dari Yunani, metaphysica. Dengan membuang ta tambahan dan mengubah physica ke fisika (physics) jadilah istilah metafisika. Kata ini di-Arab-kan menjadi ma ba’da al-thabi’ah (sesuatu setelah fisika).

Menurut penuturan para sejarahwan filsafat, kata ini pertama kali digunakan sebagai judul buku Aristoteles setelah bagian fisika dan memuat pembahasan umum tentang eksistensi. Pada era Islam, bagian ini dinamai dengan umur ‘ammah (perkara-perkara umum). Sebagian filosof Muslim merasa lebih cocok menggunakan istilah ma qabla al-thabi’ah (sesuatu sebelum fisika) untuk menamai bagian ini.

Tampaknya, bagian di atas berbeda dengan teologi atau utsulujiyyah. Dalam karya-karya para filosof Muslim, semua pembahasan di atas digabungkan dalam bagian “ketuhanan dalam arti umum”. Sedangkan teologi dikhususkan dengan nama “ketuhanan dalam arti khusus”.

Sebagian mengira bahwa metafisika setara dengan “transphysical” atau sesuatu di luar alam fisik (baca: adialami). Mereka menganggap penggunaan istilah tersebut untuk bagian ini sebagai contoh penggunaan istilah umum untuk sesuatu yang lebih khusus. Pasalnya, pada bagian “ketuhanan dalam arti luas”, terdapat pula pembahasan tentang Tuhan dan hal-hal mujarad (di luar alam fisik). Bagaimana pun, agaknya pengertian pertamalah yang paling tepat.

Walhasil, metafisika dipakai untuk menyebut kumpulan soal-soal teoritis-intelektual filsafat dalam arti umum. Kini, istilah filsafat telah diketatkan pada soal-soal ini, dan salah satu makna baru filsafat adalah “metafisika”. Alasan para positivis mengira soal-soal macam ini sebagai tidak ilmu ialah ketidakmungkinan mereka diverifikasi dengan pengalaman indriawi. Begitu juga Kant menganggap nalar teoritis tidak memadai untuk memverifikasi soal-soal ini dan menyebut mereka sebagai “dialektis” atau bisa diperdebatkan dari dua sudut pandang.

(Sumber: M. Taqi Mishbah Yazdi. (2003).  Buku Daras Filsafat Islam. Bandung: Mizan).

Filsafat Ilmu

Posted in Filsafat & Ilmu with tags , , , , , on Oktober 15, 2012 by isepmalik

Pada pelajaran lalu, kita telah katakan bahwa kadang-kadang istilah “filsafat” dipakai dalam konstruksi-konstruksi genitif, seperti “filsafat moral”, “filsafat hukum”, dan lain-lain. Sekarang, kita akan menjelaskan penggunaan semacam ini.

Penggunaan semacam ini acapkali digunakan oleh mereka yang mengetatkan istilah “ilmu” pada ilmu-ilmu empiris dan “filsafat” untuk bidang-bidang ilmu kemanusiaan yang tidak bisa dibuktikan lewat pengalaman indriawi. Alih-alih menggunakan “ilmu teologi”, umpamanya, kalangan ini menggunakan “filsafat teologi”. Penggunaan “filsafat” secara genitif ini semata-mata demi mengisyaratkan jenis kandungan dan topik-topik yang dibahas pada ilmu bersangkutan.

Demikian pula, kalangan yang tidak memandang soal-soal yang berkaitan dengan tindak-tanduk dan nilai sebagai “ilmiah” dan menganggapnya tidak mempunyai pijakan objektif dalam kenyataan dan sepenuhnya diatur oleh hasrat dan kecenderungan masyarakat, menggolongkan corak soal-soal ini dalam wilayah filsafat. Sebagai misal, alih-alih menyebut “ilmu akhlak”, mereka menyebutnya “filsafat akhlak”, dan alih-alih menyebut “ilmu politik”, mereka menyebutnya “filsafat politik”.

Terkadang istilah filsafat dipakai untuk menjelaskan prinsip-prinsip ilmu lain. Lebih jauh, soal-soal seperti sejarah, pendiri, tujuan, metode penelitian, dan jalan perkembangan suatu ilmu juga dibahas dalam tajuk (filsafat) ini.

Istilah ini tidak khas dipakai kalangan positivis dan yang sepaham dengan mereka, tetapi juga dipakai oleh kalangan yang memandang pengetahuan filsafat dan nilai serta metode penelitian dan penyelidikannya sebagai “ilmiah”. Untuk menghindarkan tumpang-tindih dengan penggunaan sebelumnya, terkadang mereka mengimbuhkan kata “ilmu” pada konstruksi genitif tersebut. misalnya, mereka menyebut “filsafat ilmu sejarah” sebagai bandingan “filsafat sejarah”. Atau mereka menyebut “filsafat ilmu akhlak” sebagai bandingan “filsafat akhlak” dalam arti yang digunakan kalangan positivis.

(Sumber: M. Taqi Mishbah Yazdi. (2003).  Buku Daras Filsafat Islam. Bandung: Mizan).