Archive for the Hikmah Muta’aliyah Category

Al-Hikmah Al-Muta`aliyyah fi Al-Asfar Al-`Aqliyyah Al-`Arba`ah (Asfar)

Posted in Hikmah Muta'aliyah on Desember 1, 2010 by isepmalik

Karya magnum opus Mulla Shadra, Asfar (9 jilid), diterbitkan oleh Dar Ihya Al-Turats Al-`Arabiyy, cetakan ketiga, Beirut, 1981, yang diberi Catatan kaki oleh enam ahli filsafat dan hikmah, yakni (1) Allamah Hakim Ustadz Ogha AH. bin Jamsyid Al-Nuri Al-Ishfahani, yang wafat pada tahun 1246 H,; (2) Al-Hakim Ustadz Maula Hadi bin Mahdi Al-Sabzawari, penulis Al-La`ali Al-Manzhumah, yang hidup antara tahun 1212 sampai tahun 1287 H. (3) Filososf terkenal Agha AH. Al-Mudarris bin Maula Abdullah Al-Zanuzi, penulis Badai` Al-Hikam, wafat pada tahun 1310 H.; (4) Allamah Hakim Mawla Isma`il bin Mawla Sami` Al-Ishfahani, wafat pada tahun 1277 H., murid AH. Al-Nuri; (5) Sayyid Muhammad Husein Thaba`thabai, guru besar filsafat dan hikmah Iran kontemporer, penulis tafsir terkenal Al-Mizan fi Tafsir Al-Quran.

Mengenai penambahan judul al-Asfar ke dalam judul Al-Hikmah al- Muta`aliyyah tersebut, menurut Shadra mengisyaratkan, dan sejalan dengan teori gerak empat perjalanan ruhani. Seperti dijelaskan oleh Shadra sendiri (Asfar, II, hlm. 13), di bawah ini:

“Ketahuilah bahwa para pejalan ruhani para `arif (sallak) dan wali memiliki empat perjalanan, pertama al-safar min al-khalq ila al-haqq (perjalanan dari makhluk menuju Tuhan); kedua, al-safar bi al-haq fi al-haq (perjalanan dengan Tuhan dalam Tuhan); perjalanan ketiga adalah kebalikan dari perjalanan yang pertama yaitu al-safar min al-haq ila al-khalq bi al-haq (perjalanan dari Tuhan menuju makhkuk dengan Tuhan); (perjalanan) keempat kebalikan dari perjalanan kedua yaitu perjalanan al-safar bi al-haq fi al-khalq (perjalanan de­ngan Tuhan di dalam makhluk). Buku ini penulis susun sejalan dengan gerak cahaya dan pengaruh mereka di atas empat perjalanan dan kuberi nama buku tersebut dengan Al-Hikmah Al-Muta`aliyyah fi Al-Asfar Al-Arba`ah….” penerj.) dan aku beri nama Al-Hikmah Al-Muta`aliyyah fi Al-Ashfar Al-Arba`ah… .”

Asfar merupakan salah satu dari sumber primer utama bagi studi pemikiran Mulla Shadra. Sebab, menurut para ahli tentang pemikiran Shadra Asfar merupakan karya magnum opusnya, seperti ditegaskan oleh Muhammad Khazawi, Muhammad Rizha Muzhaffar dan Mushsin Bidarfur.

Sedangkan Hossein Nasr, mengenai Asfar ini dalam Islamic Life And Thought (1981, hlm. 160), menulis:

“The writings of Mulla Sadra may be devided into those which deal primarily with intellectual sciences and those which concern them selves with religious questions. However, in his view these two paths toward the truth are never completely divorced from each other. Of the first category, the work which stands as one of the greatest monuments of metaphysics in Islam is al-Hikmat al-Muta`aliyyah fi al-Asfar al-Arba`ah (The Transcendent Theosophy for High Wisdom] Concerning the Four Journeys of the Soul) usually known as Asfar, which ini four books or four stages of a journey (safar, asfar being its broken plural) deals with the origin and end of all cosmic manifestation and the human soul in farticular.”

Sedangkan mengenai apa yang dibahas oleh Shadra di dalam Asfar, sekilas dapat dijelaskan sebagaimana di bawah ini:

Asfar Jilid I

Jilid ini memuat pembahasan mengenai Fisika, yang dibagi kepada empat —Shadra menyebutnya dengan—fann (seni). Fann yang pertama Shadra menjelaskan kategori kuantitas dan menetapkan keberadaan dan pembagiannya. Fann yang kedua oleh shadra dibagi kepada beberapa bab. Bab yang pertama membahas persoalan kateogiri kualitas; bab kedua kualitas-kualitas objek inderawi; bab ketiga kualitas- kualitas objek penglihatan, seperti warna, cahaya, hakikat dan pembagiannya; perbedaan antara dhau, nur, syu`a, dan barq;bab ke empat membahas kualitas-kualitas objek pendengaran, suara; bab ke lima membahas tentang kualitas-kualitas objek rasa dan objek penciuman, seperti rasa makanan, bau objek penciuman, kehendak, rasa nyeri dan lezat, rasa sehat, bahagia, sengsara, bentuk, karakteristik angka dan kualitas- kualitasnya. Fann ke tiga, mem­bahas kategori- kategori yang lain, aksiden, yang mencakup nisbah, tempat (al-ayn)dan jenis-jenisnya, waktu (mata)dan jenis-jenisnya, posisi (wadh`), jiddah, aktivitas (an-yaf`al), dan pasivitas (an-yanfa`il). Fann kempat, fann terakhir, membahas persoalan subtansi dan aksidensi; hukum- hukum dan pembagian keduanya.

Asfar Jilid II

Dalam jilid ke dua Asfar ini, Shadra membahas persoalan-persoalan umum atau persoalan-persoalan umum Ketuhanan (al-`ilm al-ilahiyy). Bab ini oleh Shadra dibagi kepada dua marhalah (periode); untuk marhalah yang pertama dibaginya lagi kepada dua metode (manhaj), dan masing-masing manhaj dibagi-bagi lagi kepada beberapa fasal. Sedangkan marhalah kedua langsung dibagi-bagi kepada fasal-fasal.

Pada fasal-fasal dan kedua marhalah ini Shadra membahas tema wujud bagi pengetahuan Tuhan, konsep wujud, ashalat al-wujud, karakteristik dan hakikat wujud; sedangkan dalam fasal-fasal manhaj kedua Shadra membahas persoalan-persoalan yang berkaitan dengan wujud pasti (wajib al-wujud)dan wujud mungkin (mumkin al-wujud/al-dzat)dan wujud mental (al-wujud al-dzihniy). Dalam jilid ini, Shadra dengan kata lain membahas persoalan-persoalan ontologis dan teologis.

Asfar Jilid III

Dalam jilid ini, Shadra lebih khusus lagi membahas persoalan-persoalan teologis, seperti persoalan hakikat Kalam Tuhan, Al-Quran, pengutusan para rasul, inayah Tuhan, kejahatan, kebaikan, hikmah penciptaan langit dan bumi. Di dalam jilid ini, Mulla Shadra juga membahas persoalan-persoalan yang berkaitan dengan kerinduan, kecintaan manusia kepada Tuhan, derajat manusia dalam mencintai-Nya. Di dalam jilid ini juga dibahas persoalan kebaharuan alam fisika dan keharmonisan antara syariah dan falsafah

Asfar Jilid IV

Di dalam jilid ke empat ini, Shadra membahas persoalan potensi dan aksi; gerak dan diam, pembaharuan fisik material dalam perspektif ilmuninatif; keabadian dan kebaruan, keterkaitan anatara yang baru dan yang abadi, waktu; persoalan-persoalan yang berkaitand dengan epistemologi, seperti ilmu dan klasifikasi ilmu, derajat ulama, inteksi (ta`aqqul), akal dan objek-objek akal (ma`qulat), kesatuan akal dan objek-objek akal (ittihad al-`aqil wa al-ma`qul), derajat akal dan objek-objek akal.

Asfar Jilid V

Dalam jilid ini, Shadra membahas persoalan-persoalan antropologis. Jilid ini dimulai dengan bab ke delapan dan diakhiri dengan bab ke sebelas; masing-masing bab dibagi-bagi kepada fasal-fasal. Persoalan yang di bahas di dalam fasal-fasal dari bab-bab tersebut adalah persoalan penolakan atas reinkarnasi, jiwa, karakteristik manusia, karakteristik jiwa manusia, posisi dan derajat manusia, martabat spiritualitas (tajarrud), kebahagiaan dan penderitaan. Khusus dalam bab ke sebelas, Shadra membahas masalah-masalah eskatologi, seperti siksa kubur, kebangkitan, penghimpunan (hasyr), kondisi-kondisi kiamat dan martabat manusia pada waktu itu; masalah surga, neraka, siksa dan keabadian dan pembaharuan di dalam keduanya dan perjalanan ruhani (suluk) menuju Tuhan.

Menyimak dari tema-tema pembahasannya, Asfar jilid ke lima inilah tampaknya, selain jilid DC, di antara yang banyak menunjukkan pemikiran- pemikiran antropologis Mulla Shadra.

Asfar Jilid VI

Jilid ini membahas lebih banyak persoalan-persoalan fisikawi, yang dibaginya kepada enam fann. Antara lain, Shadra di dalam jilid ini membahas persoalan yang berkaitan dengan substansi fisika (fann ke satu), materi (fann ke dua), bentuk/shurah (fann ke tiga), karakteristik alam fisika (fann ke empat), pembaharuan alam fisika (fann ke lima), dan ontologi alam fisika dan relasinya dengan alam Tuhan (fann ke enam).

Asfar Jilid VII

Dalam jilid ini yang dibahas oleh Shadra adalah masalah esensi, genus, ma­teri, diferensia, aktivitas, bentuk, unitas, diversitas, sebab-akibat, kebebasan, perbedaan khayr dan jud, penolakan kejahatan eksistensial, wajib al-wujud dan mumkin al-wujud, nisbah hakikat wujud kepada mumkin al-wujud, dan lain-lain yang masih bertalian dengan persoalan filsafat wujud.

Asfar Jilid VIII

Jilid ini tampaknya lebih banyak membahas persoalan teologis. Pembahasannya dibagi menjadi enam—Shadra mengistilahkannya dengan—mawqif (tempat keberangkatan; tempat bersikap). Masing-masing mawqif dibagi-bagi lagi kepada beberapa fasal. Mawqif pertama membahas wajib al-wujud; mawqif kedua membahas sifat-sifat-Nya; mawqif ke tiga membahas pengetahuan tentang Tuhan; mawqif ke empat tentang kekuasaan-Nya; mawqif ke lima, kedudukan Tuhan sebagai yang maha Hidup; dan mawqif terakhir, kedudukan Tuhan sebagai Yang Maha Mendengar dan Maha Melihat.

Asfar Jilid IX

Dalam jilid ini, seperti juga dalam jilid V, Shadra membahas persoalan yang sangat berkaitan dengan persoalan antropologis, jiwa. Dengan kata lain, membahas persoalan-persoalan yang berkaitan dengan persoalan-persoalan psikologisnya (atau mungkin juga bisa diistilahkan dengan nafsologi), seperti menyangkut hukum-hukum jiwa, martabat dan esensi jiwa, subtansi dan spiritualitas jiwa, keberjumlahan dan keragaman potensi, relasi badan dan jiwa; pengetahuan-pengetahuan batin, imajinasi, hafalan, spiritualitas jiwa, dan kondisi-kondisinya.

Agus Efendi, (2001), Kehidupan karya dan Filsafat Mulla Shadra, Pascasarjana IAIN SGD: Bandung.

Iklan

Beberapa Prinsip Umum Al-Hikmah Al-Muta`aliyyah

Posted in Hikmah Muta'aliyah on November 30, 2010 by isepmalik

Termasuk yang dapat dipandang sebagai prinsip umum pemikiran al-hikmah al-muta`aliyyah adalah sebagai berikut:

1.       Realitas adalah sesuatu yang tidak dapat diragukan. Sofisme adalah sesuatu yang tertolak. Bahkan, menurut Shadra, sekiranya pengingkaran atas realitas itu (sofisme) benar-benar terjadi maka hal itu juga merupakan realitas.

2.       Pengada adalah asal yang paling prinsip (al-ashl al-ashil); pengada merupakan Hakikat dan rumah rahasia ilahi (haqiqat dar al-asrar al-ilahi), sedangkan semua esensi (al-mahiyyat) merupakan persoalan relatif yang melazimkan martabat pengada dan degradasinya.

3.       Pengada sendiri memiliki sifat, hukum dan aksioma-aksioma yang sejati, antara lain: ilmu, hidup, unitas, wujub, kesederhanaan (basathah), aktivitas (fi`liyyah), dll.

4.       Pengada merupakan hakikat gradual yang bermartabat, dimulai dari Al-Wajib bi Al-Dzat hingga materi pertama. Hanya saja, para fllosof dan kaum gnostik berbeda pendapat di seputar persoalan unitas gradual (al-wahdah al-tasykikiyyah) ini. Apakah ia hakikat pengada atau manifestasi dari hakikat?

5.       Hakikat pengada merupakan tajalli sejati dari martabah ahadiyyah.

6.       Pengulangan tajalli tidak pernah terjadi; paling lazim, pengulangan hanya terjadi pada al-huwiyyat al-syakhshiyyah al-wujudiyyah (kuiditas-personal pengada).

7.       Tajalli (teofani) adalah hamzat al-washl antara al-haqq dan al-khalq. Ia merupakan  limpahan qudsi pada martabat ahadiyyah; limpahan yang disucikan pada pengada yang ditebarkan pada martabat kehendak dan aksi.

8.       Pengada itu memiliki gerak menurun (zhurat tanazzuliyyah) kepada materi pertama tanpa harus mengganggu kegaiban Diri-Nya yang paripurna dan tak terbatas. Begitu juga, pengada memiliki gerak transubtansial menaik ke alam rahasia kegaiban. Bagi Mulla Shadra, materi tidak terpisah dari alam malakut. Bahkan, materi memiliki probabilitas untuk berubah menjadi pengada malakuti.

9.       Unitas (wahdah) pengada tetap terpelihara baik dalam tanazulat (gerak menurun) maupun dalam tasha`udat (gerak menaik).

10.   Setiap yang bergerak itu bergerak dalam kesempurnaannya menuju prinsip- prinsip pelakunya yaitu gambar kesempurnaan. Bagi Mulla Shadra, istikmal (gerak menyempurna) adalah perjalanan menuju awan (al-sayr ila al-bidayat). Dengan begitu, aksiomanya adalah bahwa al-bidayat hiya al-nihayat. Perhatikan isyarat ayat Al-Quran yang berbunyi, “huwa al-awwalu wa al-akhiru”.

11.   Jiwa manusia pada dasarnya kesempurnaannya dimulai dari materi hingga ia terabstraksikan darinya dan dari derivat-derivatnya; pada awalnya, jiwa manusia adalah nau` by potential dan akhir geraknya adalah nau` by action.

12.   Hakikat tempat kepulangan akhir (ma`ad) metafisika adalah kepulangan transubtansial ke rumah akhirat; kepulangan akhir adalah kepulangan sesuatu kepada kehidupan yang sejati.

13.   Pengada-pengada bergerak yang transubtansial menyatu dengan gambar-gambar keparipurnaannya.

14.   Hakikat gerak kesempurnaan (istikmal) terjadi melalui metode al-lubs ba`d al-lubs, bukan al-lubs ba`d al-khaf. Lubs sendiri melazimkan penanggalan kekurangan- kekurangan dan ketiadaan-ketidaan (al-naqa`ish wa al-a`dam).

Agus Efendi, (2001), Kehidupan karya dan Filsafat Mulla Shadra, Pascasarjana IAIN SGD: Bandung.

Anasir Al-Hikmah Al-Muta`aliyyah[1]

Posted in Hikmah Muta'aliyah on November 30, 2010 by isepmalik

Mengenai hal ini, menurut Muhammad Khajawi filsafat Islam dan filsafat di luar Islam masing-masing unsurnya telah dijadikan anasir bagi filsafat Mulla Shadra. Unsur-unsur tersebut telah dipadukan dengan kuat dalam bentuknya yang `aqli dan suluki. Irfan, pandangan-pandangan keagamaan, prinsip-prinsip rasional logika dan filsafat benar-benar telah membentuk anasir utama filsafat tersebut.

Menurut Khajawi, apa yang telah dilakukan filosof kita ini atas anasir tersebut adalah: Pertama, mendalami pandangan-pandangan filsafat, keagamaan, dan irfan dengan tidak memihaki terlebih dahulu dari masing-masing unsur tersebut kecuali jika ia berdasarkan argumentasi yang kuat. Untuk itu ia benar-benar menelaah kelebihan dan kekurangan mulai dari filsafat Yunani, Persia, dan pandangan-pandangan keagamaan Islam. Kedua, mengeliminasi dari masing-masing unsur di atas ekstriminas dan dialektika tak berujungnya dengan berfokus pada pengetahuan filsafatnya yang luas. Ketiga, mendalami pandangan-pan­dangan mazhab kalam untuk mengeliminasi dialektikanya yang tidak sejalan dengan prinsip-prinsip logika yang benar dan sebaliknya mengambil pandangan-pandangan dialektis Kalam yang sejalan dengannya. Keempat, mempelajari mazhab tafsir Al-Quran yang dengannya diperoleh pengetahuan luas mengenai Kitab Ilahi dan pandangan-pandangan keagamaan Islam yang untuk selanjutnya pengetahuan luas tersebut dijadikan dukungan bagi pandangan-pandangan filosofisnya, sehingga ia menjadikan mazhab-mazhab tafsir tersebut dan konklusi-konkulisinya sebagai unsur dalam filsafatnya. Kelima, memikirkan persolan pengada (wujud) sebagai persoalan yang mandiri. Keenam, dari perjuangan keras studi pemikiran tanpa hentinya itu selanjutnya ia melahirkan sebuah metode baru pemikiran yang didasarkan pada prinsip-prinsip holistik yang unik. Ketujuh, dengan metode di atas tersingkaplah olehnya prinsip-prinsip filosofis dan ilmiah yang baru serta banyak persoalan yang bernilai tinggi di seputar persoalan pengada agung tanpa henti (al-wujud al-`azhim al-lamutanahi). Prinsip-prinsip demikian telah mentransformasikan filsafat Islam kepada bentuknya yang baru dengan berbasis nilai yang baru. Dari sinilah lahir Al-Hikmah Al-Muta`aliyyah.

Sejalan dengan apa yang telah dilakukannya di atas, maka anasir Al-Hikmah Al-Muta`aliyyah seperti disimpulkan oleh Muhammad Khajawi[2] adalah: Pertama, logika formal (al-manthiq al-shuriyy) atau yang disebut dengan logika Aristotelian. Kedua dan ketiga, pengada (wujud) yang oleh Mulla Shadra dijadikan titik tolak bagi setiap pemikiran filsofisnya. Persoalan-persoalan filosofis dibangun atas dasar-dasar dan kaidah-kaidah pengada. Dasar-dasar dan kaidah-kaidah tersebut dijadikannya sebagai prinsiip-prinsip awal (al-ushul al-awwaliyyah). Begitulah hal tersebut sebagai salah satu unsur metode Al-Hikmah Al-Muta`aliyyah yang menjadikan filsafat sebagai manifestasi spesifik bagi prinsip-prinsip pengada. Dengan kata lain, aksioma-aksioma tentang wujud itu merupakan prinsip bagi seluruh aksioma metafisika; hakikat pengada adalah titik tolak prinsipal kepada seluruh pemikiran dan realitas. Dengan demikian, menurut Khajawi, metode Al-Hikmah Al-Muta`aliyyah adalah metode logika-matematis yang perjalanannya dimulai dari sejumlah dasar dan prinsip yang aksiomatis (dharuriy). Keempat, ajaran-ajaran keagamaan Islam. Kelima, prinsip-prinsip dan ajaran-ajaran irfan. Dengan begitu, Al-Hikmah Al-Muta`aliyyah dapat dikatakan sebagai Falsafah yang Irfani atau sebaliknya, Irfan yang Falsafi. Keenam, al-suluk al-irfani. Melalui metode suluk irfani isyraqi ini Al-Hikmah Al-Muta`aliyyah mengajarkan kepada setiap salik (musafir ruhani) untuk menyingkapkan rahasia-rahasia dan kebenaran-keberanan dzawqi dengan tetap berdasarkan pada `aql-nya. Begitulah Mulla Shadra menjadikan suluk irfani isyraqi ini sebagai salah satu metode pemikirannya yang transendental (muta`ali).

Agus Efendi, (2001), Kehidupan karya dan Filsafat Mulla Shadra, Pascasarjana IAIN SGD: Bandung.


[1] Sebagai sebuah istilah, Al-Hikmah Al-Muta`aliyyah pertama kali digunakan oleh Ibnu Sina. Mengenai hal ini, Muhsin Bidarfur menulis, “Agaknya orang yang pertama kali menggunkana istilah ini adalah Ibnu Sina. Ia mengatakan hal itu dalam fasal kesembilan, jilid III Al-Isyarat: “Tstimma in kana ma yaluhu dharb min al-nazhar masturaan illa `ala al-rasikhin fi al-hikmah al-muta`aiyyah…”. Ditunjukkan juga oleh Muhsin Bidarfur, ketika mengantarkan Tafsir Al-Quran Al-Karim karya Mulla Shadra (1:22), bahwa istilah Al-Hikmah Al-Muta`aliyyah ini juga digunakan oleh Al-Thusi (dalam Syarh Al-Isyarat, 7:juz 3, p. 401) dan Al-Qayshari dalam Syarh-nya atas Fushush Al-Hikam karya Ibnu `Arabi (Rasa`il Al-Qayshari, p. 15; nushush falsafiyyah, p. 239.

[2] Dalam pengantarnya kepada Mafatih Al-Ghaib Karya Mulla Shadra, cet. Muassasah Muthala`at wa tahqiqat Farhang-e Anjuman Island Himat wa Falsafeh Iran, tt. p. mim waw w-mim tha.

Hikmah Muta`aliyyah

Posted in Hikmah Muta'aliyah on November 30, 2010 by isepmalik

Metode dan tujuan dari karya-karya Mulla Shadra.Dalam menulis karya-karyanya, Mulla Shadra memiliki metode dan tujuan yang unik. Sebagai penulis Mazhab Hikmah yang prolifik, Mulla Shadra (w. 1050 H) memiliki satu madrasah pemikiran saja yaitu madrasah pemikiran yang yang menyerukan kepada kita untuk mensintesiskan peripatetisme, iluminasionisme, dan Islam. Oleh sebab itu, seluruh karya Mulla Shadra fondasinya adalah ketiga hal tersebut. Seluruh tujuan dari karya-karya Mulla[1] Shadra adalah (1) membina kemuliaan manusia, dari relung kekurangan ke keparipurnaan spiritual, (2) menjelaskan tatacara (kayfiyyah) perjalanan ruhani menuju Allah SWT; “Tujuan kami di dalamnya adalah menjelaskan cara mencapai kebenaran (al-haqq) dan tata cara melakukan perjalanan ruhani menuju Allah.” (Al-Asfar, 1:90).

Lebih rincinya ada enam tujuan dari penulisan karya-karya Mulla Shadra. Tiga tujuan sebagai ushul dan tiga tujuan cabang (lawahiq). Termasuk ke dalam tujuan ushulnya adalah (1) pengetahuan tentang Kebenaran Awal (Tuhan), sifat-sifat dan pengarah-pengaruh-Nya (fann al-rububiyyah; sejenis teologi) yang merupakan bagian dari pembahasan metafisika umum (al-falsafah al-kulliyyah). Ontologi; (2) pengetahuan tentang shirath al-mustaqim, derajat menaik kepada-Nya, dan kayfiyyat al-suluk (tata cara perjalanan ruhani) menuju Dia. Nafsologi dan epistemologi; (3) pengetahuan tentang ma`ad dan kondisi-kondisi mereka yang sampai kepada-Nya. Eskatologi. Sedangkan yang temasuk ke dalam tujuan cabangnya adalah (1) pengetahuan tentang bi`tsah (profetologi); (2) pengetahuan tentang para penolak jalan ruhani; (3) pengetahuan tentang akhlak; pengajaran mengenai manzilah dan marhalah safar ruhani dan riyadhah-riyadhah ruhaniyyah.

Dalam menulis karya-karyanya, secara metodik Mulla Shadra melakukan tiga pendekatan: pendekatan logika (dalil-dalil logika; al-adillah al-manthiqiyyah), pendekatan kasyfi dan kesaksian irfani, dan pendekatan sam’i (perujukan dan penyaksian dalil-dalil sam’i). Boleh dikatakan pula bahwa hampir seluruh karya Mulla Shadra, terutama magnum opus-nya., Al-Asfar, didekati dengan dua maslak: maslak ‘irfani (seperti untuk Al-Syawahid Al-Rububiyyah dan Asrar Al-Ayat wa Al-Waridat Al-Qalbiyyah) dan maslak bahtsi (dialektis/analitis-filosofis) seperti untuk karyanya yang lain, Syarahnya atas Al-Hidayah Al-Atsiriyyah, karya Atsiruddin Mufadhdhal Al-Abhari (w. 663 H) dan Syarahnya atas Ilahiyyat Al-Syifa` karya Ibnu Sina (370/980-428/1037). Mengenai sintesis pendekatan yang dilakukan oleh Mulla Shadra ini, Muhammad Ridha Muzhaffar, guru besar filsafat, menulis, “… sesungguhnya ia memiliki satu pemikiran yang diperjuangkannya bagi setiap karyanya … bahwa syariat dan `aql adalah dua hal yang sejalan. Dan pemikiran dalam itu memiliki dua sisi: dukungan `aql atas syariat, yang untuk itu ia menulis buku-buku filsafat dengan tujuan mendukung syariat Islam dengan filsafat, dan dukungan syariat untuk akal, yang untuk itu ia menulis buku-buku agama dengan tujuan mendukung filsafat dengan syariat Islam. Dengan demikian, kita dapat memandang karya-karya filsafatnya sebagai karya-karya keagamaan, yakni sebagai karya-karya teologis, dan memandang karya-karya keagamannya sebagai karya-karya filsafat. Inilah pengertian yang telah saya jelaskan sebelumnya bahwa karya-karya keagamaannya merupakan perpanjangan bagi karya-karya filsafatnya.”[2]


[1] (1) Al-Asfar Al-Arba`ah, (2) Al-Mabda wa Al-Ma`ad, (3) Al-Syawahid Al-Rububiyyah, (4) Asrar Al-Ayat, (5) Al-Masya`ir, (6) Al-Hikmah Al-`Arsyiyyah, (7) Syarh Al-Hidayah Al-Atsiriyyah, (8) Syarh Ilahiyyat Al-Syifa, (9) Risalat AI-Huduts, (10) Risalat Ittishaf Al-Mahiyyat bi Al-Wujud, (11) Risalat Al-Tasyakhkhush, (12) Risalat Saryan Al-Wujud, (13) Risalat Al-Qadha` wa Al-Qadar, (14) Risalat Al-Waridat Al-Qalbiyyah, (15) Risalat Iksir Al-`Arifin, (16) Risalat Hasyr Al-`Awalim, (17) Risalat Khalq Al-`A`mal, (18) Surat kepada Mawla Syamsa al-Jaylani, (19) Jawaban atas Tiga pertanyaan Khawaja Nashiruddin Thusi, (20) Risalat Al-Tashawwur wa Al-Tashdiq, (21) Risalat fi Ittihad Al-`Aqil wa Al-Ma`qul, (22) Kasr Al-Ashnam Al-Jahiliyyah, (23) Jawabat Al-masa`il Al-`Awishah, (24) Risalat Hall Al-Isykalat Al-Falakiyyah fi Al-Iradat Al-Juzafiyyah, (25) Hasyiyah `ala Syarh Hikmat Al-Isyraq, (26) Risalat fi Al-Harakat Al-Jawhariyyah, (27) Risalat fi Al-Alwah Al-Ma`adiyyah, (28) Hasyiyat `ala Al-Kawasih, karya Mir Damad, (29) Syarh Ushul Al-Kafi, (30) Risalat Al-Mazhahir Al-Ilahiyyah fi Asrar Al-`Ulum Al-Kamaliyyah, (32) Tafsir Al-Quran Al-Karim, (33) Tafsir Surat Al-Dhuha.

Agus Efendi, (2001), Kehidupan karya dan Filsafat Mulla Shadra, Pascasarjana IAIN SGD: Bandung.

[2] Dalam Al-Hikmah Al-Muta`aliyyah, jilid II, penerbit Dar Ihya al-Turats Al-`Arabi, Beirut (1981),. p. kaf.

Fajar Hikmah Muta`aliyah

Posted in Hikmah Muta'aliyah on November 29, 2010 by isepmalik

Hikmah Muta`aliyyah (HM) adalah filsafat yang paripuma yang dikembangkan filosof Muslim, Muhammad bin Ibrahim Shadruddin Syirazi yang juga dikenal Shadrul Muta`allihin atau bisa juga disebut dengan Mulla Shadra.

HM adalah sejenis teosofi Islam yang mampu menggabungkan keunggulan filosofis, keyakinan tradisional, dan pengalaman penyingkapan. HM merupakan buah pemikiran Islam yang matang di lingkungan kota ilmiah Islam sendiri, seperti Iran, Syiraz, Isfahan,dan Qum.

Sebagai filsafat, HM adalah filsafat yang terbina pada pribadi Muslim Timur, yang kepribadian ilmiahnya berkembang di lingkungan wilayah Islam di atas.

Mulla Shadra, putera dan genius pemikiran Islam tersebut di atas, semula mempelajari filsafat, matematika, fikih, dan hadis. Setelah itu, ia mempelajari irfan kepada Mir Damad dan Syekh Islam Baha`uddin al-`Amuli. Selanjutnya, ia mandiri dalam menggabungkan metode suluk irfani dan pemikiran demonstratif (al-suluk al-`irfani wa al-tafkir al-burhani), hingga ia mengalami pencerahan hati dan kematangan intelektual. Dengan anugerah keduanya itu, dia berhasil mengkombinasikan antara filsafat dan gagasan-gagasan keagamaan Islam, dari satu segi, dan dari segi lain, antara filsafat dan irfan. Selanjutnya, setelah itu, ia berhasil merajut keunggulan- keunggulan unsur peripatetisme, iluminasionisme, irfan, dan agama. Di tangannya, semua itu menjadi satu kesatuan sebagai Muta`aliyyah yang bisa di pandang sebagai fajar baru yang menyingsing dari Timur bagi peradaban pemikiran dan filsafat baru Islam. HM merupakan tindakan pemikiran yang bersifat suluki, yang dikembangkan oleh Mulla Shadra. Dengan HM, peradaban manusia Islam hendak diorientasikan kepada prinsipnya yang utama, yaitu prinsip kesatuan wujud (tawhid al-wujud). Termasuk unsur-unsur HM dalam filsafat Mulla Shadra adalah sebagai berikut: Pertama, unsur filsafat, pandangan-pandangan agama, dan irfan. Kedua, unsur penolakan terhadap pandangan-pandangan filsafat dan irfan dan dialektikanya yang sebenarnya dipandang bertentangan dengan prinsip-prinsip filsafat dan irfan itu sendiri. Ketiga, unsur positif kalam yang dipelajarinya. Dan untuk selanjutnya, ia melakukan penolakan terhadap argmentasi-argumentasi kalam yanag semata-mata demi dialektika itu sendiri, yang tidak sejalan dengan prinsip-prinsip kekuatan logika. Sebaliknya, ia pun mengambil keunggulan gagaasan-gagasan kalam yang sejalan dengan prinsip-prinsip logika tersebut. Keempat, unsur hermeneutika yang diraihnya dari tafsir-tafsir Al-Quran. Hal itu bisa dilakukannya karena ia sebagai filosof juga adalah seorang tradisionalis. Terbukti dari penguasaannya atas khazanah-khazanah ilmiah tradisional Islam, seperti Ulum Al-Quran dan Ulum Al-Hadits. Bahkan untuk keduanya, Mulla Shadra memersembahkan Tafsir Al-Quran Al-Karim dan syarah atas Kitab Hadis Al-Kafi. Bahkan pula, di tangan Shadra justru Tafsir Al-Quran itu telah merupakan wahana bagi pemahaman-pemahaman filosofisnya yang sejati. Demikian juga sebaliknya, seluruh karya filsafatnya lebih merupakan manifestasi dari pemikiran tradisionalnya. Kelima, dalam HM pemikiran tentang wujud benar-benar mendapatkan perhatian yang sangat serius, utama dan mandiri. Keenam, dari perdebatan-perdebatan pemikiran-pemikiran di atas Mulla Shadra berhasil membangun basis metodologis pemikiran Islam yang kombinatif, unik, dan integratif. Ketujuh, dengan tindakan di atas, berarti Mulla Shadra telah membangun suatu paradigma baru pemikiran Islam. Sebuah paradigma pemikiran yang secara metodologis bersifat kombinatif. Paradigma pemikiran yang mampu mengombinasikan akal dan hati, sebagai alat pengetahuan, serta Al-Quran dan Sunnah sebagai sumber keyakinan filosofis dan rasional.

Dalam konteks pemikiran, secara metodologis, Mulla Shadra melalui tahapan-tahapan berikut:

Pertama, ia berangkat dari keyakinan akan keajegan logika umum ma­nusia. Kedua, semua fraksis pemikiran filosofisnya itu, ia berangkatkan dari titik realitas. Dengan kata lain, eksistensi wujud merupakan titik tolak bagi setiap perjalanan pemikiran filosofisnya. Ketiga, ia bangun asumsi-asumsi metafisisnya di atas asumsi-asumsi ontologis. Dengan begitu, jika hakikat wujud merupakan titik tolak yang prinsipil menuju seluruh lapangan pemikiran dan realisme, maka metode muta`aliyah pun merupakan metode logika matematis yang berangkat dari sejumlah prinsip aksiomatik, dan dari situ selanjutnya menuju wilayah-wilayah yang lebih jauh lagi. Keempat, pandangan-pandangan keagamaan Islam, oleh Mulla Shadra, telah pula dijadikan sebagai reposisi dengan kedudukan prinsip-prinsip rasional. Bahkan, sesekali pula diposisikan sebagai kebenaran-kebenaran entitas ekstemal. Dan dari situ, ia mencabangkannya menjadi kesimpulan-kesimpulan rasional metafisis dan menafsirkannya, serta menjelaskannya sebagaimana ia menafsirkan realitas-realitas eksternal dan kejadian-kejadian korporeal. Ia menyandarkan tindakannya itu kepada pernyataan bahwa pandangan-pandangan keagamaan itu, pada karakteristiknya, bermula dari prinsip rasional dan eksistensial.

Kelima, prinsip-prinsip dan pengalaman-pengalaman irfani. Metode ini dibangun dalam metodologinya, dan ia tafsirkan sesuai dengan kaidah-kaidah rasional, dan merajutnya dalam suatu rajutan filosofinya, sehingga filsafatnya terkesan merupakan percikan-percikan dari pengalaman-pengalaman kasyfi-nya. Bahkan, filsafatnya adalah irfan-nya itu sendiri. Dan sebaliknya.

Keenam, suluk ifrani, meskipun yang bernama suluk itu tidak bernama pemikiran, namun Mulla Shadra menjadikan suluk ini sebagai bagian dari metodologi pemikirannya. Keyakinannya adalah bahwa suluk irfani merupakan wahana pencerahan dan akal. Melalui suluk irfani ini pula, ia meyakini bahwa ia banyak mengatasi berbagai persoalan yang tak tersentuh oleh banyak pemikir lainnya. “Shadrul Muta`allihin, telah menjadikan suluk irfani sebagai unsur pemikirannya yang muta`ali (teosofis) berada dalam metodologinya,” tulis Muhammad Khajawi.

Agus Efendi, (2001), Kehidupan karya dan Filsafat Mulla Shadra, Pascasarjana IAIN SGD: Bandung.