Archive for the Kimia Modern Category

Rahasia Kebangkitan Alkimia: Mesmerisme

Posted in Kimia Modern on Februari 8, 2011 by isepmalik

Mesmerisme disusun oleh ahli medis berkebangsaan Jerman bernama Franz Anton Mesmer (1734-1815). Ia berusaha menggunakan kekuatan magnet dalam tangannya sendiri dan menyatakan hal itu semacam “cairan” yang menghubungkan semua makhluk. Dia juga mencoba menyembuhkan penyakit dengan meningkatkan sirkulasi cairan tersebut dan mentransfer cairan tersebut kepada pasiennya tanpa bantuan alat apapun. (Ia menamakan penemuannya “magnetisme binatang”). Popularitas mesmerisme telah berkurang pada akhir abad kedelapan belas, istilah itu dimunculkan kembali di Perancis setelah tahun 1815 melalui karya Marquis de Puysegur dan menjadi populer pada abad kedelapan belas dan kesembilan belas di Jerman. Kemudian menyebar ke Inggris dan Amerika Serikat di tahun 1830-an, mencapai puncaknya pada tahun 1860-an.

 

Namun mesmerisme bukan hanya fenomena psikologis dan fisiologis penyembuhan. Hal ini mengubah keadaan kesadaran—atau somnambulistic (tidur saat berjalan atau gangguan tidur dalam tahap parasomnia)—juga menurut pendapat kebanyakan orang akan mengarah kepada okultisme seperti clairvoyance§(kemampuan melihat masa depan), kemampuan berbicara dengan orang mati, dan memprediksi masa depan. Dari tahun 1830-an sampai tahun 1850-an banyak terjadi sensasi mengenai clairvoyance. Seorang clairvoyant berusaha melakukan pencarian terhadap penjelajah Inggris yang hilang bernama John Franklin. Penulis bernama Harriet Martineau dan walinya yang bernama Jane Arrowsmith bereksperimen dengan mesmerisme di bawah trans hipnotis untuk mencari dan menggambarkan kapal karam yang jauhnya ratusan mil.

 

Fenomena di balik meja, yaitu seseorang memanfaatkan kekuatan misterius yang menyebabkan suatu benda di atas meja dapat bergerak oleh tangan di bawahnya; fenomena ini sangat populer di kota-kota Eropa terutama pada tahun 1851. Hal itu dianggap sebagai hasil kekuatan magnet atau listrik manusia, bahkan sebagai bukti supranatural karena kadang-kadang terhubung ke seances (pemanggilan arwah) spiritualitas.[1] Peristiwa terkenal dalam “Seeress of Prevorst” yang mencaritakan seorang petani Bavaria bernama Friederike Hauffe (1801-1829) berada dalam keadaan trans semi permanen yang dibuktikan melalui kemampuan meramal serta melaksanakan suatu percakapan dengan ruh-ruh orang mati. Justinus Kerner (1786-1862) seorang penyair dan dokter dari Swabia (daerah Jerman) menerbitkan Die Seherin von Prevorst pada tahun 1829. Bukunya sudah diterjemahan ke dalam bahasa Inggris pada tahun 1845 dan memiliki dampak yang luar biasa luasnya. Kasus-kasus lainnya, banyak perempuan memiliki kekuatan yang luar biasa dan mulai terjadi di Barat.[2]


  • § Istilah clairvoyance (pada abad ke-17 Perancis, berasal dari kata clair yang berarti “jelas” dan voyance berarti “visi”) merujuk kepada kemampuan untuk mendapatkan informasi tentang suatu objek, orang, lokasi atau peristiwa fisik melalui sarana selain indera manusia yang dikenal, suatu bentuk persepsi ekstra sensorik. Seseorang dikatakan memiliki kemampuan clairvoyance disebut clairvoyant (“orang yang melihat dengan jelas”).

[1] Lihat: Winter (1998) pembahasan rinci aspek mesmerisme di Inggris dan seterusnya.

[2] Winter mencatat bahwa “magnetisme binatang mewakili sensitivitas yang tidak valid, baik dalam cerita yang luar biasa jeleknya dan dalam pengalaman banyak individu di seluruh Inggris” (Winter, 1998:216).

Iklan

Rahasia Kebangkitan Alkimia: Situasi Tempat

Posted in Kimia Modern on Februari 7, 2011 by isepmalik

Pada tahun 1840-an, Eropa Barat dan Amerika Utara mengawali kebangkitan esoterisme dan okultisme. Meskipun ide-ide kunci kebangkitan tersebut terjadi pada abad yang lalu, mereka menyebutnya pada masa modern. Bahkan frase “esoterisme Barat” muncul pada awal abad kesembilan belas (Faivre, 1994:5), dan “okultisme” muncul pertama kali pada karya Jean-Baptiste Richard de Randonvilliers yang berjudul Dictionnaire des mots nouveaux (1842). Ahli sihir dari Prancis bernama Eliphas Levi mempopulerkan istilah tersebut dalam Dogme et ritual de la haute magie pada tahun 1856. Pada tahun 1875, pendiri organisasi teosofi dan esoterisme Barat bernama HP. Blavatsky menyebarkan berita tersebut melalui bahasa Inggris (Hanegraaff, 2005:887). Karya-karya dan publikasi ini membantu para tokoh utama kebangkitan menciptakan sintesis baru dari ide-ide masa lalu.

 

Antoine Faivre mengidentifikasi empat karakteristik intrinsik dalam esoterisme Barat: (1) mempercayai kepada “simbol dan korespondensi nyata antar semua bagian alam semesta baik yang terlihat maupun yang tak terlihat”; (2) merasakan “kehidupan alam”, alam sebagai animasi energi kehidupan atau ketuhanan; (3) memahami bahwa imajinasi kreatif dari agama dapat menjelajahi alam yang tidak diketahui antara dunia material dan ketuhanan, dan (4) memercayai kepada “pengalaman transmutasi”, dari transmutasi spiritual yang berasal dari dalam diri seseorang sehingga terhubung dengan ketuhanan (Faivre, 1994:10-14). Di luar empat karakteristik tersebut, ada dua karakteristik lainnya yang sering muncul dari okultis: (1) mempercayai “kesesuaian praksis”, kesesuaian fundamental antara beberapa tradisi spiritual—“tradisi primordial”; (2) Menekankan kehati-hatian terhadap pengetahuan yang menunjukkan “sebuah ajaran esoteris harus ditularkan dari guru ke murid berikut ajarannya dan menghormati jalan sebelumnya” (Faivre, 1994:14).

 

Skema Faivre seolah-olah mereduksi esoterisme Barat. Tetapi sangat jelas bahwa pada pertengahan abad kesembilan belas, sebagian besar masyarakat Barat mengalami kebangkitan keyakinan seperti yang digambarkan Faivre—yang sebelumnya merosot tajam pada masa sejarah pra-Pencerahan. Kebangkitan ini terutama meningkatnya minat masyarakat kepada segala hal gaib dalam berbagai bentuk. Selanjutnya, pada pergantian abad bermunculan manifestasi esoterisme Barat yang berkembang di kedua sisi Atlantik. Mesmerisme dan spiritualisme, dua nenek moyang awal kebangkitan okultisme, pada abad selanjutnya muncul Teosofi dan sejumlah rahasia Hermetik dan masyarakat Rosikrusian yang mendedikasikan ritual sihir alkimia menjadi kekuatan budaya yang signifikan.

Kebangkitan Alkimia

Posted in Kimia Modern on Februari 4, 2011 by isepmalik

Alkimia memainkan peran penting dalam praktek dan kepercayaan masyarakat Hermetik seperti Orde Hermetik yang sekarang terkenal nama Golden Dawn dan berbagai cabang internasionalnya. Hal ini juga merembes kepada ajaran Teosofi Masyarakat dengan penggabungan atas tradisi okultisme Timur-Barat dan keyakinan agama. Singkatnya, Barat menyaksikan kebangkitan Alkimia di tahun 1880-an yang memperoleh momentum dengan pergantian abad. Seperti yang kita lihat dalam sejarah Alkimia—dan sejarah kimia di mana Alkimia sebagai titik awal jika mereka menganggapnya sebagai sains—yang mulai berkembang selama periode ini. Tetapi pada saat yang sama—bukan kebetulan—kebangkitan okultisme istimewanya Alkimia sebagai sumber spiritual dan kebijaksanaan ilmiah.

Teks-teks Alkimia mulai beredar dengan beragam bentuknya. Tulisan tangan risalah Alkimia secara diam-diam disalin dan melewati tanda-tanda Golden Dawn dan pesanan Hermetik serupa. Penulisan atau penerjemahan buku komersial dalam sirkulasi terbatas mulai dilakukan oleh okultis-mistisis seperti AE. Waite, seorang Alkemis dan penerjemah pada penerbit James Elliott selama pertengahan 1890-an yang didukung sepenuhnya oleh Fitzherbert Edward, seorang yang berminat besar pada Alkimia. Sirkulasi buku yang lebih luas diterbitkan oleh penerbit okultisme seperti Rider and Sons dan Phillip Wellby di Inggris, David McKay di Amerika, dan Theosophical Publishing House di Madras. Buku-buku tentang Alkimia disirkulasikan oleh penerbit ternama seperti Longmans, Green di Britania Raya, dan Appleton di Amerika Serikat yang memiliki pembaca dalam jumlah besar. Selain itu, terbitan okultisme berkembang secara berkala termasuk lusinan jurnal Teosopikal dan Hermetik di Eropa dan Amerika Utara yang menerbitkan berbagai artikel tentang Alkimia. Di dahului publikasi luas, Waite meluncurkan eklektisitas okultisme berupa jurnal Unknown World pada tahun 1894 berisikan artikel-artikel tentang Alkimia. Bahkan surat kabar harian mulai membahas mengenai transmutasi alkimia dan buku-buku pun banyak meninjau sejarah baru Alkimia. Organisasi yang mendedikasikan diri untuk mengeksplorasi Alkimia juga mulai bermunculan, diantaranya La Societe Alchimique de France di Paris yang dipimpin oleh Alkemis terlatih Francois Jollivet-Castelot. Organisasi Alkimia di London dipimpin seorang kimiawan dari Universitas London bernama H. Stanley Redgrove dan seorang profesor kimia dari Universitas Glasgow bernama John Ferguson.

Penemuan “transmutasi” radioaktif oleh Rutherford dan Soddy memuaskan para okultisme. Bahkan okultis sering menekankan bahwa Alkimia merupakan sebuah proses pengembangan spiritual berupa transmutasi diri. Simbol kimia dan prosesnya dijelaskan dalam teks Alkimia Kuno dan abad pertengahan yang kemungkinan adanya non-fisik. Setelah terpublikasinya karya Rutherford dan Soddy pada tahun 1902, banyak perubahan secara dramatis. Bahkan para skeptis relijius mulai bertanya-tanya jika kemungkinan Alkemis memahami sesuatu tentang sifat peduli sebagaimana para ilmuwan abad kesembilan belas telah berusaha menjawabnya. Bisakah radium sebagaimana dalam Philosopher’s Stone menyebabkan transmutasi? Atau, mungkinkah cerita legendaris Elixir of Life dapat meremajakan jaringan hidup dan memperpanjang hidup selama ratusan atau bahkan ribuan tahun? Ilmuwan dari Royal Society dan para pemenang Hadiah Nobel berpaling dari kiasan Alkimia yang menekankan perubahan unsur-unsur dan dimensi spiritual atas karya-karya mereka. Kepastian ilmiah tentang komposisi fundamental dunia material sedang diuji; begitu pula asal-usul hipotesis ilmiah dan otoritas ilmiah yang baru diteliti. Tentu saja fondasi Daltonian dari kimia bertentangan dengan premis Alkimia bahwa unsur-unsur dapat bertransmutasi. Tetapi pengetahuan baru mengenai radioaktivitas telah digantikan Dalton dan para ilmuwan mulai menyarankan bahwa dasar Alkimia dan kimiawan tidak saling mendukung.

Selanjutnya Okultis semakin berfokus pada Alkimia sebagai ilmu mengenai materi yang dikuatkan oleh kimia atom dan fisika, bahkan ilmu ini berimplikasi spiritual. Banyak fenomena gaib kini dapat dijelaskan dengan pendekatan radiasi dan partikel materi. Okultis menyarankan kepada ilmuwan untuk memvalidasi keyakinan mereka. Belum pernah okultisme modern begitu banyak terkait dengan sifat materi—sifat perubahan materi. Untuk memahami perkembangan hubungan antara okultisme dan ilmu mengenai materi, kita terlebih dahulu harus mengetahui sejarah singkat okultisme pada awal gerakannya di setengah abad sebelumnya.

Alkimia Modern (2)

Posted in Kimia Modern on Februari 2, 2011 by isepmalik

Sebuah penelitian yang panjang akan menambah kompleksitas kepada narasi sederhana di atas. Tentunya, hal ini akan memasuki rincian eksperimen dalam bidang sejarah penyelidikan ilmiah—seperti elektromagnetisme dan fisika eter—yang mengarah pada penemuannya tahun 1890-an. Sejarah sains memperlihatkan bahwa pentingnya pertukaran internasional antara ilmuwan dan mitra kerja, lahirnya kebutuhan teoretis, adanya inkonsistensi yang memicu revisi suatu teori, dan eksperimen laboratorium lebih lanjut . Hal ini juga menunjukkan bahwa tidak semua orang yang bekerja di lapangan adalah seorang fisikawan. Pada tahun 1875, kimiawan bernama Sir William Crookes melakukan percobaan dengan sinar katoda, hasilnya menunjukkan bahwa sinar itu disimpangkan oleh magnet dan oleh karenanya sinar katoda tidak ringan. Frederick Soddy bersama dengan Rutherford membuat kontribusi penting mengenai transformasi radioaktif. Pemahaman Soddy didasarkan atas isotop, dia memenangkan Hadiah Nobel pada tahun 1921 dalam bidang kimia. Sejarah sains tidak akan melewatkan pentingnya penemuan kimiawan bernama Sir William Ramsay mengenai helium (ia dan Soddy mengidentifikasi helium sebagai gas misteri yang dihasilkan dalam peluruhan radioaktif) dan gas inert lainnya di atmosfer; ia memperoleh Nobel dalam bidang kimia pada tahun 1904. Begitu pula pentingnya sejarah penemuan fisika nuklir berdasarkan peran instrumen kunci—Geiger counter, scintillation counter, cloud chamber, cyclotron, bubble chamber—sebagaimana Peter Galison nyatakan dalam Image and Logic: A Material Culture of Microphysics (1997). Kekuatan standar dari sejarah ilmu pengetahuan berbasis atas penemuan kunci, eksperimen, dan inovasi teoritis merupakan upaya yang jelas untuk menggambarkan hubungan antara percobaan yang sukses dan terobosan ilmu pengetahuan yang maju.

Sejarah ilmu atom juga didekati melalui sejarah budaya yang diterima publik. Studi perbandingan seperti ini tidak hanya bergantung pada sejarah jurnal ilmiah dan eksperimen laboratorium tetapi pada gambar-gambar ilmu atom yang terinspirasi dalam budaya populer dan para ilmuwan juga menyerukan hal itu. Ada pula karya Spencer Weart Nuclear Fear: A History of Images (1988) yang hanya menyajikan sejarah budaya. Kumpulan arsip surat kabar, majalah sains fiksi, jurnal ilmiah populer, propaganda pemerintah, dan sumber lainnya untuk menelusuri gambaran sejarah dari fisika nuklir fisika pada awal tahun Perang Dingin. Gambaran Weart menandakan adanya ketakutan sekaligus harapan untuk energi nuklir yang membentuk “kota putih masa depan”, begitu pula dengan alkimia Elixir of Life dan Philosopher’s Stone, dan gambaran positif lainnya; sebaliknya ada pula gambaran: ketakutan atas kengerian hari kiamat, kegelisahan tentang monster, ilmuwan berbahaya, dan tentu saja mengenai pemusnahan nuklir.

Kebangkitan alkimia pada kelahiran ilmu atom modern menuntut sejarah versi ketiga. Catatan Weart bahwa kata “transmutasi” menawarkan “petunjuk yang bisa membantu menjelaskan setiap gambar aneh yang nantinya muncul dalam narasi energi nuklir”. Untuk memahami hubungan antara transmutasi alkimia dan ilmu pengetahuan radioaktivitas, sebaiknya mengambil jalan melalui cabang kedua dari sejarah tradisional penemuan ilmiah dan sejarah yang disediakan Weart. Dalam Modern Alchemy dipaparkan rekonstruksi sejarah mengenai bagaimana pengetahuan ilmiah dihasilkan dan bagaimana hal itu dijabarkan dalam konteks budaya dan spiritual yang lebih luas. Artinya, saya melihat ilmu pengetahuan, elaborasi publik, dan dimensi spiritual saling berinteraksi, dan menceritakan tentang bagaimana ilmu pengetahuan dan okultisme saling terjalin.

Alkimia modern menawarkan eksplorasi berkelanjutan mengenai hubungan antara kebangkitan okultisme alkimia dengan apa yang pada tahun 1920-an dikenal sebagai “alkimia modern” ilmu atom. Kronik yang mengejutkan ini adalah pencarian yang saling terkoneksi dari okultis dan ilmuwan atom mengenai munculnya radiokimia dan fisika nuklir sebagai bidang ilmiah baru. Biarkan saya dari awal membuat batas-batas argumen yang jelas. Saya tidak berdebat mengenai pengaruh yang sama antara okultis dan para ilmuwan yang menciptakan ilmu atom modern. Selain Sir William Crookes, tidak ada ilmuwan yang karyanya saya amati adalah anggota kelompok okultisme—bahkan Ramsay atau Soddy yang paling berkontribusi untuk alkimia pada awal penemuan di bidang radioaktivitas (meskipun Ramsay adalah anggota dari organisasi yang kita sebut sebagai fenomena paranormal). Sementara itu, okultis dengan hati-hati memindai jurnal ilmiah dan buku untuk informasi tentang radioaktivitas dan partikel subatomik untuk mendukung klaim mereka mengenai alkimia gaib, tidak ada bukti bahwa ahli kimia (selain Crookes) yang membaca sistem periodik gaib. Sebaliknya, saya akan menunjukkan bahwa kebangkitan dalam alkimia di akhir abad kesembilan belas dan awal abad kedua puluh (yang mencakup okultis, sejarawan kimia non-okultis, guru, wartawan, dan ilmuwan) memberikan sebuah kiasan kimia yang diterima publik, memiliki identitas tersendiri, dan memberikan kontribusi untuk mudah memahami gambaran radioaktivitas secara signifikan.

Pembahasan fokus pada saat-saat penting mengenai hubungan antara okultisme dan ilmu transmutasi atom. Meskipun meluncurkan garapan bidang fisika nuklir dan radiokimia di beberapa negara, banyak penemuan penting tentang elemen transmutasi dibuat di Inggris, Kanada, dan Amerika Serikat. Eksperimen Rutherford dan Soddy pada tahun 1901-1902 menunjukkan “transmutasi” radioaktif di McGill menjadi pusat munculnya kiasan alkimia, sebagaimana konfirmasi Soddy dan Ramsay di London mengenai helium yang telah dihasilkan pada saat transmutasi tersebut. Usaha Ramsay untuk mengubah unsur buatan pertama kali diterbitkan pada tahun 1907. Selanjutnya pada tahun 1919 Rutherford sukses melakukan transmutasi buatan dari nitrogen di laboratorium Cavendish. Penelitian awal Ernest O. Lawrence mengenai cyclotron pada Universitas California di Berkeley tahun 1930-an juga penting. Kuliah-kuliah, buku, dan artikel dari Ramsay dan Soddy ditujukan kepada masyarakat lebih luas untuk menginterpretasikan alkimia dari ilmu baru terutama di Inggris dan Amerika Serikat. Selain itu, Inggris dan Amerika merupakan pusat gerakan okultisme yang berkembang ketika alkimia diposisikan sebagai salah satu ilmu Hermetik paling penting. Terjemahan dan publikasi mereka dalam berbagai kunci teks alkimia membantu melahirkan sejarah baru kimia yang mencakup pembahasan tentang alkimia dan hal itu memicu publik untuk tertarik. Jadi, Alkimia Modern mengeksplorasi dimensi internasional subyek ini, ia fokus secara khusus di Inggris dan Amerika, karena di sana pada abad kesembilan belas ada hubungan yang menarik antara sains dan okultisme. Bahkan batas antara ilmu kimia dan fisika, begitu pula batas antara sains dan ekonomi menjadi kabur oleh kehadiran alkimia atau seperti keyakinan agama yang membimbing pemahaman baru mengenai materi dan energi.

Para ilmuwan dan penulis tidak hanya beralih ke gagasan okultisme untuk menjelaskan atau menginspirasi penelitian mereka. Sebagaimana ditunjukkan Alkimia Modern bahwa selama periode pergantian abad sebelum Perang Dunia II sains dan okultisme bergabung. Ada berbagai dokumen tentang bagaimana dan mengapa sifat materi begitu penting bagi ilmuwan dan okultis—dan mereka mengungkap implikasi spiritual dan etika sains dari radioaktivitas.

Alkimia Modern (1)

Posted in Kimia Modern on Februari 2, 2011 by isepmalik

Bagaimana seharusnya kita mengisahkan cerita seperti itu? Seperti kebanyakan narasi, sejarah kelahiran sains atom modern bisa diceritakan dalam berbagai cara. Sejarawan sains umumnya mengatakan itu dengan kronik penemuan-penemuan kunci, percobaan, dan imperatif teoritis yang dihasilkan. Catatan tersebut cenderung menekankan terobosan teoritis dan kemenangan laboratorium, dan secara garis besar akan terungkap sesuatu seperti ini. Pada bulan November 1895, melalui percobaan arus listrik melalui tabung sinar katoda (sebuah tabung gelas dievakuasi dari udara) yang terlindung karton hitam tebal, fisikawan Jerman Wilhelm Rontgen (1845-1923) menemukan sinar misterius yang dapat menembus daging dan kayu bahkan menghasilkan gambar foto di dalam tulang pada tangan istrinya. Ia menamakan “sinar-X”, karena sifatnya tidak diketahui. Pada bulan Februari 1896, Becquerel menemukan—secara kebetulan—bahwa uranium kristal kalium sulfat yang telah ditempatkan pada pelat fotografi di laci dapat melepaskan sinarnya sendiri. Marie Curie (1867-1934) menamakan fenomena ini “radioaktivitas”. Marie dan suaminya, Pierre Curie (1859-1906) menunjukkan bahwa thorium juga bersifat radioaktif dan terus melakukan percobaan untuk menemukan elemen radioaktif baru—termasuk unsur radium yang sangat radioaktif pada tahun 1898. Becquerel dan Curie berbagi Hadiah Nobel Fisika pada tahun 1903, hal ini menandai dimulainya serangkaian panjang Hadiah Nobel yang diberikan kepada pelopor fisika atom.

Pada tahun 1897 di Laboratorium Cavendish pada Universitas Cambridge Inggris, fisikawan JJ. Thomson (1856-1940) berusaha untuk menjelaskan cara kerja tabung sinar katoda sebagaimana pada percobaan terdahulu oleh Rontgen dan fisikawan lainnya. Thomson menunjukkan bahwa sinar katoda misterius terbuat dari partikel bermuatan negatif, ia menggunakan nama untuk partikel tersebut: elektron. Pada bulan Februari 1897 sebelum rekan-rekannya di Cambridge, dan pada bulan April sebelum Royal Institution di Britania Raya (lembaga riset independen tertua di dunia), Thomson mengemukakan pendapat mencolok terhadap pemahaman Daltonian bahwa atom sebagai elemen partikel fundamental. Atom tidak dapat dibagi, tetapi ia (Thomson) berpendapat bahwa ada partikel bermuatan negatif disebut elektron yang dapat dipisah dari atom. Semua partikel ini memiliki massa dan muatan yang sama; massanya kurang dari seperseribu massa atom paling besar, yaitu atom hidrogen. Pada tahun 1904, Thomson mengusulkannya model atom “plum pudding” di mana elektron bermuatan negatif menempati orbit bermuatan positif.

Sementara itu, di laboratorium Universitas McGill Kanada, Rutherford yang telah belajar dengan Thomson di Cambridge dan Soddy seorang ahli kimia muda dari Oxford, mengungkapkan mekanisme radioaktivitas pada tahun 1901 dan 1902. Mereka menunjukkan bahwa unsur radioaktif yang hancur akan melepaskan radioaktivitas dan berubah menjadi elemen-elemen lain dalam prosesnya. Beberapa tahun kemudian, sekembalinya ke Inggris pada Universitas Manchester, Rutherford mengamati hamburan partikel alfa (terdiri dari dua proton dan dua neutron pada inti helium yang dipancarkan uranium atau radium) pada foil tipis yang dibombardir. Dari penelitian ini, ia mengembangkan model atom: inti bermuatan positif di sekitar orbit elektron. Model ini memukau, Rutherford menunjukkan bahwa atom terdiri dari ruang kosong.

Pada tahun 1913, fisikawan Denmark bernama Niels Bohr (1885-1962) melihat ada masalah dalam model Rutherford dan mengoreksi hal itu dengan menunjukkan bahwa elektron hanya ada di ruang-ruang tertentu. Dia menggunakan konstanta Planck yang dirumuskan oleh fisikawan Jerman Max Planck untuk menjelaskan stabilitas ruang-ruang pada atom. Pada tahun 1919, Rutherford—Direktur Lab Cavendish di Cambridge—menemukan partikel bermuatan positif (proton) dalam inti atom. Tapi asisten direkturnya di Cavendish bernama James Chadwick merasa terganggu oleh perbedaan antara nomor atom (jumlah proton dalam inti) dan massa atomnya. Pada tahun 1932, Chadwick menemukan neutron, partikel netral yang memberikan kontribusi untuk massa atom tetapi tidak untuk nomor atomnya.

Sementara itu, pada tahun 1923 dan 1924, fisikawan Perancis bernama Louis de Broglie (1892-1987) dengan menggunakan teori Einstein mengenai foton (entitas dasar radiasi elektromagnetik) yang menunjukkan sifat gelombang dan partikel, ia menyarankan bahwa elektron juga memiliki sifat ganda yang sama. De Broglie berpendapat bahwa elektron tidak boleh dianggap sebagai partikel terlokalisasi dalam ruang sekitar inti, tetapi sebagai sesuatu seperti awan yang bermuatan negatif. Setelah teori de Broglie, fisikawan Austria bernama Erwin Schrödinger (1887-1961) mengembangkan persamaan yang memungkinkan untuk memprediksi perilaku masa depan elektron. Fisikawan Jerman bernama Max Born (1882-1970) menggunakan fungsi gelombang elektron untuk menghitung kemungkinan menemukan partikel pada daerah tertentu dan pada waktu tertentu. Niels Bohr dan fisikawan Jerman bernama Werner Heisenberg (1901-1976) mulai mendalami mekanika kuantum pada tahun 1924. Pada tahun 1927, Heisenberg mengemukakan Prinsip Ketidakpastian—teori yang menyatakan bahwa seseorang tidak dapat mengetahui posisi dan kecepatan sebuah partikel pada saat bersamaan.

Garis besar dari penemuan-penemuan seperti ini menginformasikan kelahiran fisika nuklir dan mekanika kuantum. Kita bisa memperpanjang cerita sampai abad kedua puluh satu awal untuk menggambarkan perkembangan partikel subatom (teori bersifat untuk memprediksi dan dikonfirmasi oleh akselerator partikel), munculnya fisika partikel energi tinggi, nuklir yang digunakan untuk peperangan dan dalam kehidupan sipil, teori string dan super-string, dan banyak lagi. Penulisan sejarah ilmu pengetahuan dengan cara ini akan menarik perhatian ke rantai pemecahan masalah oleh para fisikawan yang masing-masing membuat percobaan untuk menjelaskan suatu fenomena fisik atau untuk memperbaiki masalah dalam formulasi fisikawan lain (misalnya, model atom Rutherford dikoreksi model “plum pudding” Thomson, sama halnya seperti Bohr memecahkan masalah dalam model atom Rutherford. Dalam dua kasus ini merupakan koreksi dari murid kepada gurunya).

Sejarah Kelahiran Kimia Modern

Posted in Kimia Modern on Februari 1, 2011 by isepmalik

Pada abad kedua puluh satu, kata “alkimia” muncul kembali sebagai bayang-bayang fanatis abad pertengahan mengenai buku-buku kuno dan lembaran-lembarannya, mencari rahasia transmutasi dalam remang-remang cahaya api tungku bata, dan peralatan laboratorium kuno yang aneh seperti athanor (tungku yang digunakan sebagai penyedia panas). Rahasia kebijaksanaan dalam latihan-latihan kimiawan dimaksudkan untuk memperoleh kekayaan luar biasa, umur panjang, dan pemurnian spiritual. Orang-orang yang merasa memperoleh “pencerahan” menyerang ritual-ritual alkimia sebagai takhayul yang tidak ilmiah, atau hanya mengejar hal bodoh yang menipu diri sendiri. Hal-hal tersebut pada masa sekarang sudah jelas bahwa alkimia adalah ilmiah dan memiliki sisi historis spiritual dari jaman dahulu melalui Abad Pertengahan dengan akar pada metalurgi Mesir, filsafat Aristoteles mengenai matter dan form, dan sumber-sumber dari Yahudi, Arab, Kristen, dan Hermetik.

Alkimia bukan praktek monolitik, tapi hampir semua versi melibatkan penghancuran sifat “dasar” logam—misalnya, timah atau merkuri—sehingga mereduksi prima materia tanpa karakteristik spesifik setiap elemennya. Kemudian, bubuk berharga dari “Philosopher’s Stone” atau proses lainnya akan menanamkan esensi “mulia” ke dalam substansi, mentransmutasikannya menjadi emas atau perak. Beberapa tahap proses fisik alkimia yang terlibat di dalam dasar logam akan diubah melalui pemanasan, penyulingan, dan penambahan berbagai bahan kimia (misalnya, alkohol, asam nitrat, dan asam sulfat asam). Tahap ini sering dicirikan warna tertentu yang muncul selama proses dilaksanaan. Teramat rumit, tampak gambar-gambar misterius, dan simbol-simbol dalam bahasa Yunani, Arab, dan literatur abad pertengahan alkimia juga muncul. Termasuk gambar ular makan ekor (Ouroboros) yang melambangkan kesatuan kosmos, dan berbagai gambar yang mewakili tahapan “Karya Agung” alkimia (misalnya, gagak hitam untuk tahap nigredo atau merpati putih untuk Albedo). Dengan menggunakan logika pemurnian materi, Alkimia memasuki farmakologis mencari obat kimia untuk mengobati penyakit—bahkan untuk penuaan yang akan kalah oleh dongeng Elixir of Life . Alkimia diwakili atau menjadi kimia pada Abad Pertengahan dengan tokoh-tokoh seperti Paracelsus (1493-1541) yang membantu alkimia langsung memikirkan tentang praktek kedokteran.

Pada abad kedelapan belas, meskipun alkimia berada di bawah serangan oleh mereka pendukung metode ilmiah dan cara-cara baru pemahaman materi sebagai peletak dasar kimia modern. Ilmuwan abad kedelapan belas dan kesembilan belas mencanangkan penalaran metode alkimia dan eksperimentasi non ilmiah. Tapi, yang paling penting mereka menolak pemahaman alkimia tentang sifat materi. Alkimia mengatakan bahwa semua elemen bisa berkurang menjadi prima materia, dan kemudian berubah menjadi unsur lainnya. Tapi, kimia modern yang muncul selama abad Pencerahan membawa pandangan yang berlawanan dengan sifat materi tersebut. Puncaknya pada tahun 1808 dalam suatu risalah John Dalton yang berjudul A New System of Chemical Philosophy, kimia modern berpendapat bahwa atom adalah partikel terkecil yang tidak dapat dipisah dan diubah. Atom merupakan unsur yang mendasar, partikel yang berbeda (Keller, 1983:9-10). Dengan demikian, materi dasar dalam alkimia tidak lebih dari kesalahan intelektual lama yang sekarang diturunkan ke dunia takhayul dan pseudosains.

Alkimia berusaha untuk menegaskan kembali dirinya dengan sepenuh hati, meskipun banyak hal besar tak terduga pada awal abad kedua puluh. Terjadi korespondensi yang sering dikutip antara ahli kimia Frederick Soddy (1877-1956) dan fisikawan Ernest Rutherford (1871-1937) di laboratorium McGill University Kanada. Pada tahun 1901 mereka menemukan bahwa unsur radioaktif thorium berubah menjadi gas inert, “Soddy bercerita, ‘Aku terpana dengan sesuatu yang lebih besar daripada kebahagiaan—aku tidak bisa mengekspresikan hal itu dengan sangat baik—semacam jenis derajat yang tinggi’. Dia berseru, ‘Rutherford, ini adalah transmutasi!’ Soddy mengingatkan temannya kembali, ‘Jangan menyebut hal ini transmutasi. Mereka akan mengambil kepala kita karena mengaku sebagai alkemis’” (Weart, 1988:5-6). Memang, dalam dekade 1896 radiasi ditemukan oleh Fisikawan Perancis Henri Becquerel (1852-1908), munculnya radioaktivitas sebagai sains baru menghasilkan perbandingan dengan alkimia. Transformasi unsur-unsur radioaktif menjadi unsur lain—penemuan Rutherford dan Soddy—sering digambarkan sebagai transmutasi alkimia. Unsur radium dengan radioaktivitas yang tinggi ditemukan pada tahun 1898 oleh Curie yang menjadi seorang “Philosopher’s Stone” modern. Selain itu, sedikitnya pemahaman mengenai efek misterius radiasi dalam jaringan hidup mengakibatkan alkemis menjadi Elixir of Life bagi banyak orang. Pada tahun 1920-an, fisika atom dan radiokimia secara teratur disebut “alkimia ‘modern”. Beberapa buku teks mengenai subjek-subjek baru mengambil nama tersebut. Meskipun awalnya Rutherford mewaspadai perbandingan alkimia sebagaimana terbukti dalam percakapan di atas, bahkan ia memberi judul dalam buku terakhirnya The Newer Alchemy (1937).

Tapi apakah ada penekanan mengenai orisinalitas alkimia? Mengapa ilmuwan seperti Soddy, Sir William Ramsay, dan lain-lain, dapat bekerja di laboratorium paling modern untuk kimia dan fisika, tetapi begitu cepat berbalik ke alkimia dengan membayangkan sifat dan implikasi dari perubahan yang mereka saksikan di unsur-unsur radioaktif? Investigasi mengenai mengapa ilmu pengetahuan terbaru telah kembali ke dalam pengetahuan sebelumnya, salah satu alasannya terlihat pada berkurangnya suatu status yang gaib sebagaimana peninggalan abad pra-Pencerahan, menawarkan wawasan yang menarik ke dalam batas-batas antara ilmu pengetahuan, agama, dan bidang budaya lainnya pada awal abad kedua puluh. Memang, untuk memahami bagaimana ilmu radioaktivitas menjadi begitu terikat pada gambar dan kiasan alkimia, kita harus beralih ke sebuah fenomena yang tampaknya tidak ilmiah yaitu kebangkitan utama pada akhir abad dari kepentingan alkimia dan agama esoteris. Dapat dikatakan sebagai peristiwa menakjubkan bahwa perkembangan ilmu atom bersamaan dengan mekarnya okultisme yang berasal dari pertanyaan tentang sifat materi dan energi. Mungkin lebih mengejutkan bahwa luasnya kebangkitan alkimia memiliki dampak pada cara beberapa ilmuwan untuk mengerti dan menggambarkan program penelitian mereka . Selanjutnya akan dieksplorasi cara-cara kebangkitan alkimia dalam lingkaran okultisme untuk membantu menginformasikan dan gilirannya akan membentuk munculnya ilmu radioaktivitas dan transformasi radioaktif.