Archive for the Uneh Category

Ikan yang Hilang

Posted in Uneh with tags , , , , , on Maret 18, 2013 by isepmalik

Sekira tigabelas meter dari rumahnya. Sudah tiga bulan berlalu ia rajin menengok kolam yang ditanami ikan miliknya. Mungkin pula sang ikan merasa betah tinggal di situ karena sudah pada kenyang di kala masih pagi, ya, sebelum sekolah ia menebar pakan untuk ikan semaiannya. Pulang sekolah langsung menjenguk kolam, tebar pakan lagi, memeriksa pematang, serta saluran airnya. Bila lancar ia akan puas, lalu mengerjakan tugas sekolah di pojokan kolam, di situ memang ada saung.

Saat mulai menyemai, Uden tahu persis ukuran ikannya, tidak lebih besar dari lebar sapu lidi. Sekarang, kucing-kucing pada ngiler mengintip di rimbunan pematang. Sebangsa kepiting jahat sudah siap dengan ujung-ujung runcing kakinya. Tapi ikan Uden sudah besar, tuh lihat, ada ikan lagi main dan menyiprakkan air dengan cukup keras. Tuh, ada lagi satu ikan bermuka coklat, kemaren agak kurusan, sekarang sudah gendut lagi. Oh iya, perhatikan pula, ada ikan sepertinya terkena sengatan tawon sampai memerah dekat di ujung ekornya. Uden pun aneh, apa permusuhan antara tawon dan ikan, sejak kapan? Tapi Uden dengan rajin mengobatinya.

Ada kepuasan dalam diri Uden, di setiap mengingat dan memperhatikan kolam dan ikannya. Betapa tidak? Dulu pas disemai, ikannya kecil-kecil, lalu tumbuh dan beberapa bulan ke depan sudah siap dipanen. Bagaimana tidak? Awalnya Uden ragu-ragu, apakah akan berhasil atau tidak, karena ini kali pertama menyemai ikan. Ia adalah pemula. Seperti di sore ini, saat ia bersantap kelapa muda yang dicampur gula merah ditambah sedikit es. Nikmatnya berlipat-lipat sambil melihat ikan lompat-lompat.

Seperti biasa, sebelum sekolah tugas utama Uden adalah memberi pakan ikan, tidak pernah dilewatkannya. Pagi ini, Uden terkesima dan terngangap tanpa bicara. Kolam sudah tidak berair, tidak pula ikan. Menyisakan tapak-tapak kaki, hanya itu. Ia teringat ikan berwajah coklat, ia teringat ikan yang dekat ekornya masih menyisakan bekas sengatan tawon. Menyemai ternyata tidak selalu linier dengan memanen. Kaki Uden masih terpaku, tidak tergerak untuk sekolah.

Iklan

Jalan-jalan, Uneh

Posted in Uneh with tags , , , , , on Maret 17, 2013 by isepmalik

Uneh pengen jalan-jalan, ya, di hari bertanggal merah ini. Setelah sehari kemarin otaknya diperas membaca buku yang bukan peruntukannya kalau secara Piaget. Kelas dua es-em-a dikasih buku anak mahasiswa, dua pula; satu berwarna biru tidak tebal tapi agak lebar dan satunya berwarna kuning, buku yang terakhir ini agak tebal sampai pas pulang sekolah harus ditenteng di tangan kirinya.

Uneh menerima buku itu dari gurunya, guru favoritnya. Si Bapak Baplang, begitu Uneh biasa memanggilnya. Dua hari yang lalu, sehabis jam pelajaran terakhir, Uneh dan dua temannya, termasuk si Kriting dipanggil sang guru. “Ayo, kerjakan bersama-sama di sini soal yang tadi belum sempat dibahas. Kita berempat adu cepat, oke”. Si Kriting dan satunya lagi sudah siap dengan kalkulator, Uneh hanya mengeluarkan kipas, lalu berkipas pelan. Tentu saja sang guru pun tidak pakai kalkulator, “Mulai”.

Keempatnya menghasilkan jawaban yang sama, Uneh duluan, disusul sang guru, dan si Kriting di posisi buncit. “Bagus”, sang guru berkata. Tapi Uneh masih ada unek-unek rupanya, tentang si makhluk aneh, katalis. Aneh, karena dapat mempercepat reaksi, tapi tidak di masukkan dalam persamaan. Eh, pas akhir reaksi muncul lagi, si makhluk aneh itu. “Itu Pak, ketiganya ga masuk di otak Uneh mah, lieur”. Sang guru tersenyum, “Nanti dua hari lagi jawabannya, sekarang Bapak mau makan, dan kalian harus pulang”. Setelah ketiga muridnya pulang, sambil ke luar ruangan sang guru berkata, “Itu sih udah di luar SK/KD”.

Jawabannya ternyata dua buku itu, tapi Uneh senang meski guru favoritnya ketika menyerahkan berkata, “Jawaban pertanyaan dua hari lalu nanti serahkan ke Bapak, kalo bukunya buat kamu, dua-duanya”. “Baik Pak, jawab Uneh cepat. Si Kriting melongo, “Kebaca gitu?”

Ya, Uneh pengen jalan-jalan! Menurut hadis yang pernah dibacanya, ada tiga hal yang bisa menyenangkan mata dan menenangkan hati. Air jernih yang mengalir, tetumbuhan hijau, dan wanita cantik yang ketiganya. “Aku cuman kebagian dua dong, hehe…”, gerentes Uneh. Ia mengeluarkan teman sejatinya, kipas. Lalu, mengeluarkan dompet dan memeriksa isinya, “Cukuplah”. Ia tidak segera memasukkannya, diperhatikan lagi, dompetnya sudah agak lecak, benang emas yang membentuk namanya juga udah agak memudar, sisi-sisinya sudah pada lecet. “Aku tidak akan pernah mengganti dompet ini, tidak akan pernah. Sampai dia menghilang sendiri!”

Rahasiamu

Posted in Uneh with tags , , , , , on Maret 16, 2013 by isepmalik

Pagi ini, Uneh berlari-lari kecil menuju sekolah, tentu saja dengan peralatan dan perlengkapan yang sudah disiapkan sedari malam selepas belajar sama kakaknya. Ia teringat ucapan ibunya, malam tadi selepas belajar, “Besok, sebelum masuk kelas, belilah bubur untuk sarapan, ibu mau berangkat sebelum subuh”. “Baik Bu, boleh pake pedes?”, tambahnya. “Boleh, sedikit aja yah”, jawab ibunya sambil tersenyum. “Siap”.

Uneh bergegas mempersiapkan semuanya, untuk besok sekolah, tak lupa uang tambahan sudah ke dompetnya yang lucu. Ia tersenyum kalau ingat dompet itu, “Ga ada duanya di dunia”. Dompet buatannya sendiri, yang dilipatan bagian dalam ada untaian kata dari jalinan benang mas membentuk satu nama, uneh.

Entah karena ingatannya masih ke dompet, Uneh jadi agak ceroboh. Muncullah luka pada lengan kiri bagian atas, dekat di ketiaknya. Ia terpekik, ada darah menetes. Ia ke ibunya yang sudah siap-siap mau tidur. “Hanya luka kecil”, imbuh ibunya sambil menyeka darah lalu mengolesi dengan cairan perekat luka dan terahir perban pun melekat di situ. “Udah sembuh tuh, lain kali lebih hati-hati, yang sudah terjadi ga usah diingat-ingat. Sekarang waktunya tidur”, tatapan ibunya melepas Uneh memasuki ruang pribadinya. Uneh jadi tenang, meski itu luka pertamanya. Ia tertidur bersama mimpinya bertemakan bubur.

Lamunan Uneh buyar sewaktu melihat gerbang sekolah, tiga meteran lagi. Namun, ia berbelok arah, sedikit, melanjutkan lari kecilnya ke arah penjual bubur. “Uneeeh”, menoleh ke arah gerbang ia melihat temannya, si kriting, “Apaa”, jawab Uneh. “Kamu udah lupa sekolah sendiri yah?” “Hehe.. Aku mau bubur tau”, jawab Uneh. “Bareng atuh, aku juga mau ah”. “Hayuk”, kata Uneh sambil melambaikan tangan.

Sesuai janjinya, bubur sudah membentuk campuran bersama sedikit pedas. Di sebelah kanannya sudah duduk si Kriting juga sudah menganduk-aduk bubur pesananya. Pada suapan KETUJUH, saat mengangkat mangkok, “Aduh”, keluar ucapan dari mulut Uneh. “Kenapa Neh, kamu kepedesan?” “Bukan, tangan kiri aku masih menyisakan sakit tergores pensil semalam”. “Mana mana mana, coba aku lihat”, Si Kriting bergeser tempat duduk ke sebelah kiri. “Ini loh”. “sakitnya sampai ke hati ga yah?”, kata si Kriting sambil tertawa kecil. Uneh tersenyum, tapi tidak memahami ucapan sahabatnya. Uneh hanya mampu menghabiskan tujuh suapan, tidak diteruskannya, bayar lalu masuk ke kelas bersama si Kriting. Tidak lama bel berbunyi.

Sesampai di rumah Ibunya sudah menanti di ruang tamu. Uneh mengucapkan salam dan mencium tangan ibunya.
Ibu (I) : “Sini, duduk dulu sebentar, ibu mau meriksa lukamu”
Uneh (U) : “Sekelas jadi tahu luka ini loh Bu”
I : “Kenapa atuh kamu ngasih tahu segala”
U : “Ndak, cuma seorang kok”
I : “Uneh, hati-hati menjaga rahasia karena itu adalah kehormatan kamu. RAHASIAMU ADALAH TAWANANMU. Tidak sedikit sahabat yang mempermalukan sahabat akrabnya sendiri, karena ia mengetahui rahasia temannya. Tuh lihat, orang-orang yang duduk ‘di persidangan’ itu dulunya sahabat kental semua”.

Uneh tidak menjawab lagi, matanya terpejam di atas pangkuan ibunya, capeklah yang ia rasakan. Sebentar ia mengusap lukanya, lalu menerawang si Kriting dengan ucapannya ‘lukanya sampai ke hati ga yah’. Uneh tahu rahasianya kenapa si Kriting begitu. Uneh tertidur dalam pangkuan ibunya, di bibirnya terbentuk lengkungan senyum tipis, “Aku tahu rahasiamu”.