Archive for the Awal – Zaman Islam Category

Perkembangan Filsafat di Zaman Islam

Posted in Awal - Zaman Islam with tags , , , , , on September 15, 2012 by isepmalik

Seiring dengan meluasnya wilayah pemerintahan Islam dan membesarnya kecenderungan berbagai kalangan kepada agama yang menghidupkan ini, sekian banyak pusat pembelajaran dunia termasuk dalam wilayah Islam. Terdapat pertukaran gagasan di antara para sarjana dan buku di antara beragam bahasa (India, Persia, Yunani, Latin, Suryani, Ibrani, dan sebagainya) ke dalam bahasa Arab yang secara de facto telah menjadi bahasa internasional umat Muslim. Inilah yang lantas mempercepat laju perkembangan filsafat, beragam sains, dan kesenian. Sekian banyak buku para filosof Yunani dan Aleksandria serta para filosof dari pusat-pusat pembelajaran yang punya reputasi dialihkan ke bahasa Arab.

Pada mulanya, tiadanya bahasa bersama dan peristilahan teknis yang bisa disepakati para penerjemah dan ketidakcocokan asas-asas filsafat Timur dan Barat, menyukarkan pengajaran filsafat. Penelitian dan pemilihan asas-asas filsafat ini pun menjadi lebih sulit lagi. Tetapi, tidak terlalu lama keadaan itu berlangsung hingga muncullah jenius-jenius, seperti Abu Nashr Al-Farabi dan Ibnu Sina yang mampu menyerap keseluruhan pemikiran filsafat zaman itu dengan ketekunan tinggi. Dengan bakat alami mereka yang matang oleh pancaran sinar wahyu dan penjelasan para Imam, jenius-jenius ini lalu berhasil me-review dan memilih sejumlah kaidah filsafat yang pas dan membeberkan sebuah sistem filsafat yang sempurna. Selain memuat gagasan-gagasan Plato, Aristoteles, pemikiran Neo-Platonik dari Aleksandria, dan gagasan-gagasan mistikus Timur (‘urafa), sistem ini juga memuat pemikiran-pemikiran baru dan karenanya berhasil mengatasi semua sistem filsafat Timur maupun Barat lain. Meskipun demikian, bagian terbesar dari sistem ini berasal dari Aristoteles, sehingga warna Aristotelian dan peripatetiknya pun cukup kentara.

Selanjutnya, sistem filsafat ini terkena sorotan kritis dari para pemikir, semisal Al-Ghazali, Abu Al-Barakat Al-Baghdadi dan Fakhr Al-Din Ar-Razi. Pada sisi lain, dengan memanfaatkan karya-karya para arif Iran kuno dan membanding-bandingkannya dengan karya-karya Plato, kalangan Stoik dan Neo-Platonik, Syihab Al-Din Al-Suhrawardi mendirikan aliran filsafat baru yang dinamai sebagai filsafat Iluminasionis, yang warna Platoniknya lebih pekat lagi. Dengan cara ini, pangkalan bagi pergumulan ide-ide filosofis dan perkembangan serta pematangannya telah disiapkan.

Berabad-abad kemudian, filosof-filosof besar, semisal Khwajah Nashir Al-Din Al-Thusi, Muhaqqiq Dawani, Sayyid Shadr Al-Din Al-Dasytaki, Syaikh Al-Baha’i  dan Mir Muhammad Damad berhasil memperkaya filsafat Islam dengan curahan gagasan cemerlang mereka. Akhirnya, giliran Shadr Al-Din Al-Syirazi atau Mulla Shadra datang untuk memperkenalkan sistem filsafat baru yang dengan kejeniusan dan inovasinya menggabungkan elemen-elemen serasi dalam filsafat peripatetik, iluminasionisme, dan penyingkapan-penyingkapan mistis, yang dia tambah dengan beragam ide dan pikirannya yang menawan dan bernilai, serta dia menyebutnya dengan teosofi transenden atau hikmat-e muta’aliyah.

(Sumber: M. Taqi Mishbah Yazdi. (2003).  Buku Daras Filsafat Islam. Bandung: Mizan).

Iklan

Terbitnya Fajar Islam

Posted in Awal - Zaman Islam with tags , , , , , on September 15, 2012 by isepmalik

Semasa dengan proses di atas (pada abad ke-6 M), di belahan dunia lain, peristiwa sejarah paling besar terjadi: Jazirah Arab menyaksikan kelahiran, perjuangan, dan hijrah Nabi Besar Islam, semoga Allah mencurahkan salawat dan salam kepada beliau dan keluarga. Beliau mengumandangkan pesan petunjuk Ilahi kepada telinga kesadaran alam. sebagai langkah awal, dia menyeru manusia untuk menuntut pengetahuan,[1] dan menghargai kegiatan membaca, menulis, dan belajar setinggi-tingginya. Beliau membangun peradaban dan kebudayaan paling agung dan paling cerdas. Beliau mendorong umatnya untuk memperoleh ilmu dan kebijaksanaan dari buaian ibu hingga liang lahad (min al-mahd ila al-lahd), dari daerah bumi terdekat hingga terjauh (sekalipun ke negeri Cina, wa lau bil-shin), dan dengan ongkos berapa pun (meskipun dengan mengorbankan darah dan menyelami samudera, (wa lau bi safk al-muhaj wa khaudh al-bujaj).[2]

Benih Islam yang disemai oleh tangan tangguh Utusan Allah telah tumbuh rindang dan berbuah subur berkat pancaran wahyu Ilahi dan persentuhan dengan kebudayaan-kebudayaan lain. Islam menyerap bahan mentah pemikiran manusia mengikuti ukuran-ukuran Ilahi yang sepatutnya dan menempa bahan-bahan mentah itu dengan kritik membangun agar menjadi unsur-unsur berguna. Dan dalam waktu singkat, Islam telah berimbas pada seluruh kebudayaan dunia.

Berkat seruan Nabi dan para penerusnya yang suci, kaum Muslim mulai mempelajari beragam ilmu dan menerjemahkan warisan Yunani, Roma, dan Persia ke dalam bahasa Arab. Unsur-unsur bergunanya mereka serap, dengan menambahkan padanya hasil-hasil penelitian mereka sendiri. Dan dalam sebagian besar lapangan, mereka berhasil menyumbangkan berbagai temuan, seperti aljabar, trigonometri, astronomi, ilmu perspektif, fisika dan kimia.

Faktor penting lainnya bagi perkembangan kebudayaan Islam adalah faktor politis. Rezim Umayah dan Abbasiyah yang secara tidak sah menduduki kursi pemerintahan Islam merasakan kebutuhan mendesak atas landasan popular di kalangan Muslim. Sebaliknya, musuh kedua rezim ini, yakni Ahl Al-Bait Nabi, semoga segenap keberkahan Allah tercurah bagi mereka, sebagai wali sah seluruh kaum Muslim, merupakan sumber ilmu pengetahuan dan harta karun wahyu Ilahi. Rezim berkuasa tidak punya cara untuk menarik orang kepada mereka kecuali dengan ancaman dan penyuapan. Maka dari itu, mereka berupaya memegahkan rezim mereka dengan mengumpulkan para sarjana dan pakar serta membekali mereka dengan beraneka rupa ilmu Yunani, Romawi, dan Persia, agar mereka mau menjajakan ilmu pengetahuan di tengah-tengah masyarakat dan membuat masyarakat berpaling dari Ahl Al-Bait.

Dengan cara ini, seabrek gagasan filsafat dan bermacam jenis ilmu pengetahuan dan seni, dengan berbagai motivasi lawan dan kawan, menyerbu lingkungan Islam. Lalu, kaum Muslim pun mulai menyelidiki, mengadopsi, dan menyanggah pernak-pernik asing ini. Tokoh-tokoh cemerlang bermunculan dalam bidang sains dan filsafat melalui jerih-payah berkelanjutan mereka sendiri, dan kebudayaan Islam pun menghasilkan buah.

Di antara tokoh-tokoh cemerlang itu adalah para pakar teologi dan akidah Islam yang mengkaji dan menyanggah masalah-masalah filsafat ketuhanan dari berbagai sudut pandang. Akan tetapi, sebagian mereka ada yang kebablasan dalam upaya mengkritik, mencari-cari kesalahan, mengajukan pertanyaan, dan keragu-raguan, sehingga memaksa sebagian besar pemikir dan filosof Islam lainnya untuk bekerja lebih keras dan memperkaya khazanah pemikiran intelektual dan filosofis.

(Sumber: M. Taqi Mishbah Yazdi. (2003).  Buku Daras Filsafat Islam. Bandung: Mizan).


[1] Perhatikan ayat pertama yang diturunkan Allah kepada beliau: “Bacalah! Dengan nama Tuhanmu yang mencipta… yang mengajari manusia dengan pena… (QS. Al-‘Alaq [96]: 1-4).

[2] Semua ini adalah isyarat kepada sejumlah hadis Nabi yang sangat terkenal.

Akhir Filsafat Yunani

Posted in Awal - Zaman Islam with tags , , , , , on September 9, 2012 by isepmalik

Setelah masa Plato dan Aristoteles, berlalulah satu kurun panjang manakala murid-murid kedua tokoh ini tenggelam dalam pengumpulan, pengaturan, dan pengupasan pendapat-pendapat kedua guru mereka. Murid-murid ini cukup meramaikan pasar filsafat. Namun, tidak lama berselang, keramaian ini berganti dengan kemandekan, kegairahannya berangsur hilang dari peredaran. Di Yunani, tinggal segelintir konsumen yang berminat membeli dagangan-dagangan ilmu pengetahuan. Guru-guru seni dan ilmu pengetahuan berpindah ke dan menetap di Aleksandria, karam dalam penelitian dan pendidikan. Kota ini terus menjadi pusat ilmu dan filsafat sampai abad ke-4 sebelum Masehi.

Akan tetapi, tatkala Kekaisaran Romawi memeluk agama Kristen dan menyebar-nyebarkan doktrin Gereja sebagai keyakinan dan ajaran resmi, mereka mulai menentang suasana pemikiran dan ilmu yang bebas, sampai akhirnya Justinian, Kaisar Romawi Timur, pada 529 M memutuskan untuk menutup seluruh universitas dan sekolah di Athena dan Aleksandria. Para sarjana lalu berlarian dan mengungsi menyelamatkan diri ke berbagai kota dan negeri lain. Dan dengan begitu, cahaya obor ilmu dan filsafat pada di Kekaisaran Romawi.

(Sumber: M. Taqi Mishbah Yazdi. (2003).  Buku Daras Filsafat Islam. Bandung: Mizan).

Masa Pertumbuhan Filsafat

Posted in Awal - Zaman Islam with tags , , , , , on Agustus 17, 2012 by isepmalik

Pemikir paling masyhur yang berdiri menentang kaum sofis dan menyanggah gagasan-gagasan mereka adalah Socrates. Dialah orang yang menamai dirinya dengan philosophus, pencinta kebijaksanaan. Ungkapan ini lantas di-Arab-kan menjadi failasuf dan darinya pula kata falsafah diambil.

Para sejarahwan filsafat menyebutkan dua alasan Socrates memilih nama tersebut: kerendahan hati Socrates yang selalu mengakui kebodohan dirinya; dan tentangan bagi para sofis yang menyebut diri mereka sarjana. Dengan pilihan nama ini, tampaknya Socrates hendak memahamkan mereka: “Kalian yang melibatkan diri dalam pembahasan dan perdebatan, pengajaran dan pembelajaran, demi tujuan material dan politik, tidaklah layak menyandang gelar ‘orang bijak’. Bahkan, saya yang menolak gagasan-gagasan Anda dengan alasan-alasan jauh lebih kukuh, tidak merasa layak menyandang gelar itu, dan lebih memilih nama pencinta kebijaksanaan”.

Setelah Socrates, muridnya yang selama bertahun-tahun berguru pada Socrates, Plao, berupaya memantapkan prinsip-prinsip filsafat. Kemudian, murid lainnya, Aristoteles, membawa filsafat pada puncak perkembangannya dan memformalkan prinsip-prinsip pemikiran dan penalaran dalam bentuk ilmu logika, sekaligus merumuskan perangkap-perangkap pikiran dalam bagian macam-macam sesat-pikir.

Sejak pertama kali Socrates menyebut dirinya sebagai filosof, istilah filsafat digunakan sebagai lawan dari sophistry (ke-sofis-an atau kerancuan berpikir), dan memuat seluruh ilmu hakiki (real sciences) seperti fisika, kimia, kedokteran, astronomi, matematika, dan teologi. Sampai sekarang dalam banyak perpustakaan terkenal dunia, buku-buku fisika dan kimia masih dikelompokkan dalam kategori filsafat. Cuma bidang-bidang berdasarkan kesepakatan seperti bidang kosakata, tata kalimat, dan tata bahasa yang berada di luar wilayah filsafat.

Atas dasar itu, filsafat dianggap sebagai kata umum untuk seluruh ilmu hakiki, yang dibagi menjadi dua kelompok umum: ilmu-ilmu teoritis dan praktis. Ilmu-ilmu teoritis meliputi ilmu-ilmu alam, matematika, dan teologi. Ilmu-ilmu alam pada gilirannya meliputi kosmogoni, mineralogi, botani, dan zoologi; matematika meliputi aritmetika, geometri, astronomi, dan musik. Teologi dibagi menjadi dua kelompok: metafisika atau perbincangan umum seputar wujud; dan teologi ketuhanan. Ilmu-ilmu praktis bercabang tiga: moralitas atau akhlak, ekonomi domestik, dan politik.

(Sumber: M. Taqi Mishbah Yazdi. (2003).  Buku Daras Filsafat Islam. Bandung: Mizan).

Kemunculan Sofisme dan Skeptisisme

Posted in Awal - Zaman Islam with tags , , , , , on Agustus 14, 2012 by isepmalik

Pada abas ke-5 sebelum Masehi, dilaporkan adanya sekelompok sarjana yang dalam bahasa Yunani disebut dengan “Sofis”: orang bijak atau berilmu. Akan tetapi, biarpun berinformasi luas mengenai ilmu pengetahuan pada masanya, mereka tidak meyakini adanya kebenaran-kebenaran pasti. Juga, menafikan adanya sesuatu yang benar-benar diketahui secara pasti. Menurut laporan para sejarahwan filsafat, mereka ini adalah pengajar-pengajar profesional dalam (seni) retorika dan debat. Melatih para pengacara untuk terampil di pengadilan yang sangat dibutuhkan waktu itu adalah pekerjaan mereka. Profesi ini menuntut para pengacara untuk sanggup mengukuhkan sebarang klaim dan menolak segala klaim tandingan. Bergumul dengan pengajaran yang acap tercemar dengan penggalatan dan kerancuan berpikir (fallacy) pelan-pelan menyebabkan mereka berpola-pikir menolak mentah-mentah kebenaran di luar pikiran manusia!

Barangkali Anda pernah mendengar cerita seseorang yang bercanda mengatakan bahwa di rumah fulan bin fulan ada gula-gula yang dibagikan secara gratis. Dengan segala kepolosan, orang-orang bergegas menuju rumah si fulan dan berkerumun di sekitarnya. Sedikit demi sedikit, dalam hati pembawa cerita ini muncul kecurigaan mengenai urusan ini, dan supaya tidak kehilangan kesempatan mendapat gula-gula gratis, dia pun berbaris bersama kerumusan orang-orang polos itu.

Naga-naganya, para sofis juga bernasih serupa dengan orang di atas. Dengan mengajarkan metode-metode yang sarat dengan kegalatan dan kerancuan demi meneguhkan atau menyangkal suatu klaim, perlahan-lahan kecenderungan-kecenderungan itu menulari pemikiran mereka sendiri, yakni pada dasarnya kebenaran dan kegalatan bergantung pada pikiran dan tidak ada kebenaran di luar kepala manusia!

Ungkapan “sofisme”, yang semula berarti orang bijak dan sarjana, lantaran disematkan pada orang-orang seperti di atas, keruan saja kehilangan makna dasarnya dan lambat-laun dipakai sebagai simbol dan isyarat bagi pola-pikir yang mengikuti penalaran menyesatkan. Dari ungkapan inilah, kata Arab sufisthi dan juga safsathah diturunkan.

(Sumber: M. Taqi Mishbah Yazdi. (2003).  Buku Daras Filsafat Islam. Bandung: Mizan).

Awal-Mula Pemikiran Filsafat

Posted in Awal - Zaman Islam with tags , , , , , on Agustus 12, 2012 by isepmalik

Pemikiran, seperti juga penciptaan manusia, sama-sama melampaui perjalanan sejarah. Di mana pun ia, pemikiran merupakan ciri yang tidak bisa dipisahkan dari manusia. Di mana pun kakinya menjejak, pemikiran dan pemahaman senantiasa di bawanya.

Tidak ada informasi pasti dan jitu mengenai pemikiran-pemikiran tak tertulis manusia, kecuali dugaan para arkeolog berdasarkan pada peninggalan-peninggalan yang mereka temukan kembali. Bagaimanapun, penulisan pemikiran terjadi jauh setelah kafilah sejarah manusia berjalan, pada saat bahasa tulisan ditemukan.

Di antara corak pemikiran manusia adalah pengetahuan tentang wujud, awal dan akhirnya, yang mula-mula berjalan-berkelindan dengan keyakinan agama. Karena itu, dapatlah dikatakan bahwa pemikiran filosofis terkuno ada dalam pemikiran keagamaan Timur.

Para sejarahwan filsafat percaya bahwa bunga-rampai pemikiran paling kuno yang murni atau sebagian besarnya filosofis berasal dari kalangan bijak bestari Yunani, kira-kira enam abad sebelum kelahiran Al-Masih a.s. Para sejarahwan juga menyebutkan nama-nama mereka yang berupaya mengenal wujud, permulaan dan keberakhiran alam raya. Untuk merumuskan kemunculan dan perubahan berbagai maujud, mereka mengungkapkan beragam pandangan yang kadangkala bertentangan. Pada saat bersamaan, mereka tidak menutup-nutupi fakta bahwa butir-butir pemikiran mereka lebih-kurang dipengaruhi oleh kepercayaan dan kebudayaan agama Timur.

Walhasil, atmosfer Yunani yang terbuka untuk perbincangan dan perdebatan pada masa itu memuluskan landasan bagi perkembangan pemikiran kefilsafatan. Kawasan itu pun berubah menjadi lahan pemeliharaan filsafat.

Adalah wajar pemikiran kefilsafatan awal tidak begitu teratur dan tertata, masalah-masalah penelitian tidak terkelompok, serta nama dan judul dan metode untuk tiap-tiap kategori belum dikhususkan. Pendek kata, semua gagasan disebut saja sebagai ilmu, kebijaksanaan (hikmah) atau pengetahuan (ma’rifah), dan sebagainya.

(Sumber: M. Taqi Mishbah Yazdi. (2003).  Buku Daras Filsafat Islam. Bandung: Mizan).