Archive for the Waktu: Sains dan Filsafat Category

Waktu dalam Pandangan Filsuf Barat dan Sains Modern

Posted in Waktu: Sains dan Filsafat with tags , , , , on Maret 8, 2012 by isepmalik

Waktu dalam Pandangan Filsuf Barat

Gagasan Aristoteles tentang waktu melingkar berdasarkan alam semesta yang kekal (tidak diciptakan) tidak bisa diterima kebanyakan teolog dari tiga agama Ibrahami—Islam, Kristen, dan Yahudi—karena mereka menganggap waktu itu linier yang berawal dan berakhir. Penolakan St. Agustinus dan Thomas Aquinas atas pendapat Aristoteles dengan menegaskan bahwa pengalaman manusia adalah perjalanan satu arah dari awal sampai hari akhir meskipun terdapat pola berulang atau siklus yang terjadi di alam. Pandangan terakhir ini kemudian diadopsi Newton pada tahun 1687 ketika ia menyatakan waktu secara matematis dengan menggunakan garis, bukan lingkaran.

Seperti telah disebutkan sebelumnya, dalam tradisi filsafat Yunani terjadi perdebatan apakah waktu itu eksis secara objektif atau hanya dikontruks oleh pikiran. Kebingungan tersebut disimpulkan St. Agustinus bahwa waktu tidak ada dalam realitas, tetapi berupa kekhawatiran pikiran mengenai realitas itu sendiri. Di sisi lain, Henry dan Giles mengatakan bahwa waktu eksis dalam realitas yang terbebas dari pikiran, tetapi dibedakan menjadi bagian-bagian oleh pikiran. Isaac Newton menganggap waktu (dan ruang) sebagai kuantitas independen yang ada dan mengalir terlepas dari materi atau pikiran, pandangan ini dikritik oleh Leibniz. Leibniz berpendapat bahwa jika ruang berbeda dari segala sesuatu di dalamnya, maka ia harus seragam dan homogen; Leibniz sampai pada kesimpulan bahwa waktu adalah nyata dan relatif, hal ini diantisipasi dalam Relativitas Einstein meskipun ia tidak pernah menempatkannya dalam bentuk persamaan matematika (Ross, 1984: 47).

Newton juga menolak pendapat Aristoteles mengenai keterkaitan antara waktu dan gerak dengan mengatakan bahwa waktu adalah sesuatu yang eksistensinya tidak tergantung pada gerak dan entitas ciptaan Tuhan lainnya. Dia berargumen bahwa waktu dan ruang adalah “wadah” tak terhingga untuk semua peristiwa dan “wadah” tersebut eksis dengan atau tanpa peristiwa; ini yang disebut teori waktu “absolut”. Leibniz yang mengadopsi pandangan relasional keberatan dengan hal tersebut dan berpendapat bahwa waktu bukanlah sebuah entitas yang eksis secara independen dari suatu peristiwa.

Pada abad kedelapan belas, Kant mengatakan bahwa stuktur pikiran mempersepsi ruang dengan geometri Euclidian dan waktu dengan persamaan matematis (Kant, 1998: 158:176). Bagaimanapun, pandangan ini menjadi tidak begitu populer seiring dengan ditemukannya geometri non-Euclidian di tahun 1820-an.[1] Dalam Critique of Pure Reason, Kant menyajikan antinomi pertama dengan dua argumen rasional: pertama, dunia tidak memiliki permulaan dalam waktu. Kedua, jika kita menganggap bahwa dunia tidak memiliki permulaan dalam waktu, maka pada saat waktu tertentu jumlah peristiwa yang tak terbatas telah berlalu—ketidakterbatasan tidak pernah dapat diselesaikan. Di sisi lain, jika dunia memiliki awal dalam waktu, maka tidak pernah ada peristiwa sebelumnya dan tidak ada alasan dunia dimulai pada saat itu (argumen yang sebelumnya digunakan Leibniz untuk mendukung teori relasional tentang waktu). Kita akan melihat pada bagian selanjutnya bagaimana Ibn Arabi keluar dari teka-teki ini dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan dan menyatakan bahwa Tuhan menciptakan (secara terus-menerus dan berulang-ulang) dunia dan waktu secara bersama-sama (Kant, 1998: 462-463, 470-476, 490-495, 536-538).

Dalam artikel berjudul Mind, McTaggart berpendapat tentang ketidaknyataan waktu. Menurut Taggart, peristiwa diurutkan dalam dua cara: sebagai masa lalu-sekarang-masa depan yang disebutnya rangkaian-A, atau sebagai “sebelum”-“sesudah” yang disebutnya rangkaian-B. Dia kemudian berpendapat bahwa dalam rangkaian-A terdapat pertentangan dan rangkaian-B tidak memberikan informasi penting tentang waktu karena waktu melibatkan perubahan. McTaggart berpendapat bahwa rangkaian-A terdapat pertentangan karena hal itu berdasarkan kenyataan bahwa setiap peristiwa dapat dijelaskan (pada waktu yang berbeda) dengan masa depan, sekarang, dan masa lalu; kejadian selalu mengalir dari masa depan ke masa lalu, sehingga peristiwa masa depan menjadi masa lalu melaluinya dan peristiwa masa depan menjadi masa sekarang kemudian menjadi masa lalu. Pada rangkaian-B selalu didahului oleh sebelum atas peristiwa lainnya atau setelah peristiwa lain, tidak memperhitungkan apakah peristiwa-peristiwa itu adalah masa depan, sekarang atau masa lalu (Dyke, 2002: 137:152).

Di sisi lain, terdapat perdebatan mengenai apakah waktu merupakan kuantitas kontinum atau diskrit. Kebanyakan filsuf Barat menganggap waktu sebagai kuantitas kontinum, tetapi setelah munculnya Mekanika Kuantum ide tentang waktu kuantum dihidupkan kembali meskipun Teori Kuantum itu sendiri tidak mempertimbangkan waktu yang “terkuantisasi” (Mehlberg, 1971: 16-71).

Waktu dalam Pandangan Sains Modern

Teori Medan Kuantum dan Relativitas Umum merupakan teori dasar fisika modern yang sudah mapan. Menurut teori ini, ruang-waktu adalah kumpulan titik yang disebut “ruang-waktu terlokalisasi” di mana peristiwa fisik terjadi. Ruang-waktu merupakan kuantitas kontinum empat dimensi dengan waktu fisik menjadi satu dimensi sub-ruang dari kontinum ini, tetapi bukan sebuah entitas yang terpisah dari ruang: ruang dan waktu selalu bersama sebagai satu kesatuan.

Pada tahun 1908, matematikawan yang juga guru Einstein bernama Herman Minkowski adalah orang pertama yang menyadari bahwa ruang-waktu lebih fundamental dari waktu atau ruang saja. Seperti yang ia katakan:

Pandangan ruang dan waktu yang ingin saya ungkapkan sebelum muncul dari fisika eksperimental dan di situlah letak keunggulannya. Hal ini sangat radikal. Selanjutnya ruang dan waktu dengan sendirinya pasti akan memudar menjadi bayangan belaka dan hanya sebagai pelestarian realitas independen (Pais, 1982: 152).

Asumsi metafisik Minkowski adalah realitas independen yang tidak bervariasi atas kerangka acuan yang lain. Oleh karena itu pembagian peristiwa kepada masa lalu, sekarang dan masa depan juga tidak independen.

Bertentangan dengan pandangan klasik Newtonian, interval waktu sangat tergantung pada pengamat sebagai kerangka acuan. Dalam mekanika klasik dan berdasarkan akal sehat, jika interval waktu antara dua kilatan lampu adalah 100 detik pada jam seseorang, maka intervalnya juga 100 detik pada jam Anda, bahkan jika Anda terbang dengan kecepatan luar biasa. Einstein menolak bagian yang diterima akal sehat itu pada tahun 1905 dengan teori Relativitas Khusus ketika menyatakan bahwa interval waktu (dan jarak) antara dua peristiwa bergantung pada pengamat sebagai kerangka acuan. Dia mengatakan bahwa setiap bagian kuantitas memiliki waktu khususnya sendiri; kecuali kita diberitahu bagian kuantitas tersebut yang menyatakan acuan waktu, tetapi bukan berarti pernyataan mengenai waktu dari suatu peristiwa yang terjadi (Einstein, 1920: bab 9). Jadi setiap kuantitas membagi ruang-waktu menjadi bagian waktu dan ruang tersebut.


[1] Geometri Euclidian didasarkan pada gagasan Euclid yang dinyatakan dalam bukunya The Elements dengan lima postulat sebagai dasar atas semua teoremanya. Menurut postulat ini, ruang homogen itu seperti yang kita rasakan di Bumi. Dalam kosmologi modern dan ruang dengan intensitas gravitas yang tinggi di dekat bintang-bintang besar dan galaksi, ruang tersebut tidak dapat diperlakukan sebagai homogen. Karena itu, lahir cabang baru geometri (non-geometri Euclidian untuk memperhitungkan kelengkungan ruang-waktu. Untuk informasi tentang geometri Euclidian, lihat: Patrick (1986).

Iklan

Waktu dalam Pandangan Filsuf Muslim

Posted in Waktu: Sains dan Filsafat with tags , , , , , on Maret 6, 2012 by isepmalik

Filsuf Muslim pada umumnya sangat dipengaruhi oleh Helenisme dan oleh karena itu mereka mencoba menerapkannya mengenai waktu dalam kaitannya dengan isu-isu terkait yang terdapat dalam Al-Quran dan Hadits. Filsuf Muslim sebelum Ibn Arabi, seperti Al-Kindi, Al-Farabi, Al-Razi, Al-Ghazali, Ibn Rusyd (Averroes) dan Ibn Sina (Avicenna) menganalisis dan mengkritik atau mengadaptasi konsep yang berbeda mengenai waktu dari aliran filsafat Yunani yang diwakili oleh Aristoteles, Plato, dan Plotinus (Badawi, 1965).

Misalnya, Al-Ghazali,[1] di dalam karyanya yang terkenal Refutation of the Philosophers (Tahafut al-Falasifah)[2] menggunakan argumen standar filosofis dan logika mengenai waktu dan penciptaan, dan kritiknya tersebut dibantah dan dibahas tuntas dalam karya monumental Ibn Rusyd, Tahafut al-Tahafut.[3] Salah satu filsuf Muslim paling berpengaruh yang memiliki pandangan orisinal tentang waktu adalah Ibn Sina; ia membahas panjang lebar dalam beberapa karyanya khususnya tentang waktu dan isu-isu terkait menurut pandangan teologi, kalam, dan aliran-aliran filsafat sebelumnya.[4]

Ibn Sina[5] memulainya dengan ringkasan posisi metafisik sebelumnya dari filsuf[6] (Islam dan lainnya) dan kemudian mengkritik pandangan-pandangan yang berbeda tersebut secara ontologis. Meskipun Ibn Sina seperti Aristoteles yang menyatakan bahwa waktu dan gerak berkaitan erat, tetapi ia menekankan bahwa gerak bukan jumlah waktu. Dia mendasarkan argumennya pada fakta bahwa jarak yang berbeda dapat dilalui dalam waktu yang sama, atau jarak yang sama dapat dilalui dalam waktu yang berbeda, baik karena perbedaan kecepatan atau karena berhenti.[7] Tetapi ia tidak menyatakan waktu ditentukan oleh gerakan, meskipun ia menambahkan faktor jarak untuk mengatasi kesulitan Aristoteles mengenai periodisitas. Dia mengatakan bahwa waktu adalah “jumlah gerak ketika dipisahkan dari sebelum dan sesudah, bukan berada di dalam waktu tetapi di dalam jarak jika bersifat periodik (Nasr, 1978: 224:226).

Di sisi lain, Ibn Sina meragukan eksistensi waktu fisik, dengan alasan waktu itu “eksis” hanya di dalam pikiran sebagai akibat dari memori dan harapan. Ia juga menunjukkan waktu riil dalam arti bahwa waktu itu eksis melalui gerakan yang berkaitan dengan materi fisik; waktu itu riil, tetapi tidak memiliki esensi mandiri karena ia hanya eksis melalui gerak materi.[8] Tentang masalah struktur waktu, Ibn Sina menegaskan bahwa struktur waktu adalah kuantitas kontinu karena ia (seperti Aristoteles) menganggap waktu merupakan jumlah gerakan memutar yang kontinu dan dengan demikian waktu dapat dibagi-bagi hanya oleh ilusi pikiran ke dalam “momen” atau “instan” (anat).[9]

Di sisi lain, para pendukung teologi kalam terutama Asy’ariyah,[10] berdasarkan pandangan atomistiknya menyatakan bahwa waktu adalah diskrit, dan mereka juga berbicara tentang penciptaan kembali dunia dalam waktu. Ibn Arabi mengakui pandangan positif Asy’ariyah, tetapi ia juga mengkritik pandangan tersebut karena tidak lengkap. Kita akan membahas pandangan Ibn Arabi secara rinci pada bagian selanjutnya.

Pada tahap awal filsafat Islam, filsuf dan ahli matematika bernama Al-Kindi[11] dipengaruhi oleh Aristoteles dan mengadopsi pandangannya bahwa waktu adalah jumlah gerak.[12] Namun, dengan beralasan pada prinsip umum Al-Quran bahwa Tuhan adalah yang menciptakan dunia, ia menegaskan bahwa dunia material tidak dapat tak-terhingga (ad infinitum) karena jika demikian akan muncul ketidakmungkinan dari aktualitas yang tak terbatas. Oleh karena itu, ia berpendapat bahwa dunia membutuhkan “generator” awal (muhdits) yang dapat menghasilkan ex nihilo.

Ahli fisika Muslim dan Neoplatonis bernama Al-Razi[13] pada sisi lainnya, tampaknya telah mengadopsi gagasan Plato (dalam Timaeus) bahwa waktu adalah “bentuk gerakan dari keabadian” serta gagasan Plotinus bahwa waktu adalah abadi; oleh karena itu ia menolak pandangan Aristoteles tentang ketidaknyataan waktu.

Pada bagian ini, filsuf berpengaruh bernama Al-Farabi[14] memfokuskan pada aspek metafisik waktu. Dia juga mengadopsi pandangan Aristoteles ketika mengatakan: “Hanya gerakan melingkar yang kontinu dan waktu terkait dengan gerakan ini” (Abdul Muta’al, 2003: 113). Mirip dengan Ibn Arabi, Al-Farabi ternyata percaya bahwa dunia adalah kontingen atau “mungkin eksis” sebelum menjadi eksistensi aktual. Dengan kata lain, jika waktu “tidak mungkin” maka ia tidak eksis, atau jika waktu “perlu” maka ia akan selalu eksis. Al-Farabi menekankan bahwa dunia keseluruhan berada dalam pembentukan kontinu (takwin) dan mengalami kerusakan (fasad) “tanpa waktu”, sedangkan bagian dunia yang mengalami pembentukan dan penghancuran berada dalam waktu (Abdul Muta’al, 2003: 115). Pandangan ini juga mirip dengan pandangan Ibn Arabi (akan dibahas selanjutnya). Penjelasan hal ini sebagaimana ilustrasi berikut. Jika seorang fisikawan diminta untuk menggambarkan keadaan umum dari gunung, ia mungkin akan membuat beberapa persamaan tanpa merujuk kepada waktu karena gunung bersifat kaku. Tapi kalau ia diminta untuk memasukkan fakta bahwa gunung adalah bagian dari Bumi yang berputar pada porosnya dan mengorbit Matahari, dan juga fakta bahwa atom di bebatuan gunung tidak pernah berhenti bergerak, atau gerakan serangga dan hewan lain yang mungkin tinggal di gunung serta gerakan angin, air, dan lain-lain—maka fisikawan perlu menggunakan beberapa persamaan matematika untuk dapat memasukkan parameter waktu dalam persamaannya dengan beberapa kali aproksimasi. Jadi, karena hidup “di dalam” dunia maka kita merasakan waktu, tetapi keseluruhan dunia itu sendiri berada di luar waktu.

Banyak aliran pemikiran Islam berspekulasi mengenai masalah waktu. Bagaimanapun, di dalam Al-Quran sendiri Tuhan tidak menegaskan referensi langsung ke kata Arab untuk “waktu” (zaman), meskipun banyak istilah yang berhubungan dengan waktu dieksplorasi oleh Ibn Arabi—seperti untuk tahun (sana dan ‘am), untuk bulan (syahr), untuk hari (yawm/ nahar), dan malam (layl)—sangat sering disebutkan dalam Al-Quran, di samping beberapa Nama Tuhan yang berhubungan dengan waktu seperti Yang Pertama (al-Awwal), Yang Akhir (al-Akhir), dan Zaman (al-Dahr).

Terdapat ratusan buku dan studi terbaru mengenai waktu dalam perspektif filsafat Islam baik dalam bahasa Arab maupun bahasa lainnya, sangat aneh kalau tidak pernah ada yang berfokus terhadap pandangan Ibn Arabi. Banyak sarjana telah mempelajari dan membandingkan pandangan teologis, filosofis, dan fisika mengenai waktu dan eksistensinya. Namun, sangat jarang studi-studi tersebut yang mengeksplorasi pengetahuan terbaik mengenai konsep waktu dari Ibn Arabi, meskipun—seperti yang akan kita dibahas—pandangannya adalah kunci untuk memahami teori kontroversial dari Kesatuan Wujud. Alasan mengabaikan pandangan Ibn Arabi bukan hanya karena sulit dan tersimpan secara simbolik dalam bahasa sufi, tetapi juga fakta bahwa konsep-konsep Ibn Arabi tersebar di dalam tulisan-tulisannya dan tidak dinyatakan dalam satu tema khusus. Bahkan, Ibn Arabi menyebutkan dalam Futuhat bahwa ia menulis sebuah risalah dengan judul al-Zaman (“Waktu”) di mana kita berharap dapat membaca secara utuh, atau setidaknya ringkasan pandangannya mengenai waktu. Namun, sangat disayangkan risalah berharga tersebut dinyatakan telah hilang, tetapi al-Futuhat al-Makkiyyahsebagian besarnya membahas mengenai masalah waktu dan kosmologi.


[1] Abu Hamid Muhammad B. Muhammad al-Thusi Al-Ghazali (450-505 H/1058-1111 M) adalah seorang teolog, ahli fiqh, pemikir, mistikus, dan religius Muslim. Ia seorang reformis yang kemudian mengejar dan secara sistematis membela ajaran sufisme.

[2] Ibn Rusyd, Tahafut al-Falasifah (The Incoherence of the Philosophers) (1972), ed. M. Bouyges dengan ringkasan dalam bahasa Latin. Ini adalah karya kontroversial berupa sanggahan teologis terhadap Al-Ghazali yang menyebutkan ada dua puluh kekeliruan pada filsuf.

[3] Abu al-Walid Ibn Rusyd (520-595 H/1126-1198 M) adalah hakim kepala di Sevilla dan seorang filsuf besar yang dikenal di Barat sebagai Averroes. Tidak ada satu orang pun yang lebih tinggi darinya dalam hal keputusan hukum (fatwa) untuk isu-isu penting. Ia merupakan tokoh puncak dalam sejarah filsafat dan teologi baik di Islam maupun di Barat. Ia membela filsafat dari serangan teolog Asy’ariyah (mutakallimun) yang dipimpin oleh Al-Ghazali dengan menulis Tahafut al-Tahafut (The Incoherence of the Incoherence), diterjemahkan dari bahasa Arab dengan pengantar dan catatan oleh Simon van den Bergh (Gibb Memorial Trust, 1978).

[4] Teologi Islam adalah teologi yang berasal dari Al-Quran dan Hadits. Kalam (etimologi: berbicara) adalah tradisi Islam yang mencari prinsip-prinsip teologis melalui dialektika. Para ulama ahli kalam direkrut dalam Bait al-Hikmah di bawah Khalifah Abbasiyah di Baghdad pada abad kesembilan, setelah itu bermunculan aliran yang menentang ahli kalam seperti Asy’ariyah dan Mu’tazilah.

[5] Abu Ali al-Husayn Ibn Abdullah Ibn Sina (369-428 H/980-1037 M) dikenal di Barat sebagai Avicenna; ia adalah fisikawan, saintis, matematikawan, dan filsuf Muslim.

[6] Ibn Sina (1983): 68. Lihat juga: Ala al-Din Abdul Muta’al (2003): 131.

[7] Ibn Sina (1983): 72. Lihat juga: Al-Ati (1993): 110.

[8] Ibn Sina (1983): 74.

[9] Ibn Sina (1938), Al-Najat, ed. Muhyi al-Din S. al-Kardi, Edisi Kedua, Kairo, hal: 117.

[10] Dinama sesuai dengan tokoh pendirinya Abu al-Hasan al-Asy’ari, aliran teologis Sunni asal-usulnya sebagai reaksi terhadap rasionalisme yang berlebihan dari Mu’tazilah (gerakan yang didirikan oleh Wasil Ibn Atha’ pada abad kedua hijriyah). Asy’ariyah bersikeras bahwa akal harus tunduk kepada wahyu. Mereka menerima beberapa pandangan kosmologis dari Mu’tazilah, tetapi menolak pandangan yang bernuansa prinsip-prinsip teologis Mu’tazilah.

[11] Abu Yusuf Ya’qub Ibn Ishaq al-Kindi (185-256 H/ 805-873 M) biasa dipanggil sebagai “Bapak” filsuf Muslim. Ia juga seorang saintis dengan akurasi yang cukup tinggi, matematikawan, ahli astronomi, fisikawan dan ahli geografi, juga memiliki talenta dalam musik.

[12] Al-Kindi (1950): 117.

[13] Muhammad Ibn Zakariyya al-Razi (251-313 H/ 865-925 M)

[14] Abu Nasr al-Farabi (259-339 H/ 870-950 M) adalah salah seorang filsuf Muslim dan ahli logika terkemuka.

Konsep Waktu dalam Filsafat dan Sains (1)

Posted in Waktu: Sains dan Filsafat with tags , , , on Maret 1, 2012 by isepmalik

Semua orang merasakan waktu, tetapi kebanyakan tidak mempertanyakan hal itu karena mereka mengalami setiap hari dan sangat intim (Fraser, 1987: 17-22). Jika kita ingin memahami sifat waktu, maka renungkanlah pertanyaan-pertanyaan mendasar ini:
• Apakah waktu benar-benar nyata?
• Bisakah kita menghentikannya?
• Bisakah kita membalikkannya?
• Apakah aliran waktu bersifat universal, atau hal itu hanya terkait dengan pengamat?
• Kapan waktu berawal, dan apakah ia memiliki akhir?
• Apakah ada waktu objektif, atau ia hanya suatu konstruksi dari imajinasi kita?
• Apakah ada hubungan antara ruang dan waktu?
• Bagaimana struktur waktu?
• Apakah waktu itu kontinu atau diskrit?
• Apakah arti dari kata “sekarang” dan “sebentar”?
• Mengapa waktu bergerak ke masa lalu?
• Bagaimana realitas masa depan?
Pertanyaan-pertanyaan di atas menjadi subjek filsafat, fisika, dan kosmologi selama berabad-abad dengan sedikit kemajuan dalam menemukan jawabannya. Pertanyaan: “Apa itu waktu?”, tidak berbeda seperti pertanyaan: “Apa itu cinta?”; karena ia adalah sesuatu yang semua orang bisa merasakannya tapi tidak ada yang dapat memberikan definisi dengan tepat atasnya. Jika Anda mengajukan pertanyaan kepada banyak orang tentang waktu, pasti akan mendapatkan banyak jawaban. St. Augustine dalam Confessions bertanya, “Apa itu waktu?” Ketika tidak ada yang bertanya kepadanya, ia mengetahui; ketika seseorang bertanya kepadanya, ia tidak mengetahuinya.
Pemahaman mengenai waktu sangat penting dari sudut praktis di mana orang membutuhkan informasi untuk mengantisipasi peristiwa-peristiwa besar seperti banjir dan waktu panen, dan dari sudut filosofis didasarkan pada rasa ingin tahu dan cinta terhadap pengetahuan. Banyak agama dan aliran filsafat mencoba untuk menjawab pertanyaan tentang waktu. Beberapa agama dan aliran filsafat mempertimbangkan waktu sebagai lingkaran tanpa awal atau akhir, ada juga yang menganggapnya sebagai linier dengan eksistensi pada masa lalu dan masa depan yang tak berbatas, dan ada pula yang menganggapnya sebagai imajiner karena eksistensi nyata adalah gerakan atau materi fisik saja.
Konsep waktu diperlukan ketika kita bertanya tentang kronologis suatu peristiwa dan durasinya. Dan karena hidup manusia dipenuhi dengan peristiwa-peristiwa yang beragam jenisnya sehingga waktu memiliki tanda atau simbol pada semua aspek kehidupan. Beberapa contohnya seperti: proses penuaan secara biologis, ketepatan waktu dalam mekanika, arah waktu dan entropi dalam termodinamika, dan variasi waktu psikis yang dirasakan seseorang ketika menunggu sesuatu atau peristiwa. Oleh karena itu, waktu diperlukan untuk memahami realitas pada berbagai bidang yang terkait erat dengan fisika, biologi, psikologi, dan kosmologi.
Selama abad terakhir, seiring dengan konsep baru yang revolusioner dalam fisika dan kosmologi serta teknologi modern, akurasi ketepatan waktu menjadi sangat penting karena merupakan acuan bagi gerakan-gerakan yang sangat rumit—misalnya berbagai bagian mesin—karena diperlukan sistem kerja sama secara koheren. Pentingnya peristiwa waktu di Bumi dan di ruang angkasa telah disempurnakan oleh mesin yang mengukur ketepatan waktu seperti jam elektronik, jam atom, dan pulsar yang memancarkan gelombang radio pendek secara berkala dengan presisi sangat tinggi. Tetapi meskipun konsep-konsep abstrak tentang waktu seperti “perjalanan waktu” dan “kelengkungan waktu” yang dibawa oleh teori Relativitas, konsep modern kita mengenai waktu biasanya cukup praktis karena semuanya dilakukan sesuai jarum jam. Bahkan, teori fisika dan kosmologi modern telah menambahkan banyak pertanyaan dan paradoks tentang waktu daripada menjawabnya (Grunbaum, 1971, 195:230).
Sekarang kita dapat mengetahui dua aliran utama yang bertentangan secara filosofi mengenai waktu:
1. Rasionalis (realistis) yang memiliki pandangan berdasarkan pemahaman dunia fisik.
2. Idealis (dapat dikatakan irasional) berdasarkan pandangan metafisika.
Rasionalis percaya bahwa pikiran adalah kekuatan yang paling kuat dari manusia dan mampu memahami segala sesuatu di dunia, sedangkan irasionalis mempertimbangkan dunia, termasuk waktu, sebagai sesuatu di luar kemampuan pikiran. Menurut Idealis, tidak ada yang terlepas dari pikiran, termasuk waktu. Oleh karena itu, Idealis percaya bahwa waktu dikonstruk dalam pikiran dan tidak memiliki eksistensi terpisah darinya.

Konsep Waktu dalam Filsafat Yunani
Sejak masa Homer, kata Yunani chronos digunakan untuk merujuk kepada waktu. Chronos adalah dewa Yunani yang ketakutan terhadap anak-anaknya karena akan mengambil alih kerajaannya, sehingga ia memakan mereka satu persatu—seperti waktu yang membawa sesuatu menjadi eksistensi dan kemudian eksistensi tersebut kembali datang kepada waktu.
Kita sudah mengetahui dua aliran berlawanan mengenai waktu yang berbeda dengan pemikiran Plato dan Aristoteles. Plato menganggap waktu dibuat dengan dunia, sementara Aristoteles berpandangan bahwa dunia diciptakan dalam waktu yang merupakan perluasan tak terbatas dan berkesinambungan. Plato mengatakan, “Waktu muncul bersama-sama dengan surga, karena keduanya menjadi secara bersamaan” (Cornford, 1997:99).
Aristoteles percaya bahwa proposisi Plato memerlukan titik waktu sebagai awal waktu yang memiliki waktu sebelumnya. Gagasan ini tak terbayangkan bagi Aristoteles sesuai dengan pendapat Demokritus mengenai konsep waktu tak diciptakan dan mengatakan: “Jika waktu adalah gerakan abadi, maka ia juga harus abadi karena waktu adalah anggota gerak. Mayoritas filsuf, kecuali Plato, menegaskan keabadian waktu. Waktu tidak memiliki batas (awal atau akhir), dan setiap saat adalah awal dari waktu masa depan dan akhir dari masa lalu” (Lettinck, 1994: 562).
Waktu menurut Aristoteles adalah kontinum, dan selalu dikaitkan dengan gerakan, dengan demikian tidak dapat memiliki awal (Lettinck, 1994: 241-259, 361). Di sisi lain, Plato menganggap waktu sebagai gerakan melingkar dari langit (Cornford, 2004: 103), sedangkan Aristoteles mengatakan bahwa itu bukan gerakan waktu melainkan ukuran gerak (Lettinck, 1994: 351, 382, 390). Aristoteles jelas menghubungkan waktu rasional dan gerakan, tetapi di sini masalah timbul karena waktu adalah seragam, sementara beberapa gerakan ada yang cepat dan lambat. Jadi, kita mengukur gerak oleh waktu karena seragam—jika tidak demikian maka tidak dapat dikatakan sebagai ukuran. Untuk mengatasi masalah ini, Aristoteles mengambil gerakan bola surgawi sebagai referensi, dan semua gerakan lainnya beserta waktu diukur menurut gerakan ini (Badawi, 1965: 90). Di sisi lain, Aristoteles menganggap waktu sebagai khayalan karena itu adalah masa lalu atau masa depan dan keduanya tidak ada, sementara saat ini bukan bagian dari waktu karena tidak memiliki ekstensi (Lettinck, 1994: 348).
Kita akan melihat bahwa Ibn Arabi sependapat dengan pendapat Aristoteles bahwa waktu tak berujung dan ia adalah ukuran gerak, tetapi Ibn Arabi tidak menganggap waktu bersifat kontinum. Di sisi lain, Ibn Arabi setuju dengan Plato bahwa waktu diciptakan dengan dunia. Bahkan Plato menganggap waktu telah diciptakan, tetapi Aristoteles menolak pendapat ini karena ia tidak bisa membayangkan titik awal untuk dunia maupun waktu. Hanya setelah teori Relativitas Umum pada tahun 1915 lahir yang memperkenalkan ide “waktu melengkung”, bisakah kita membayangkan waktu yang terbatas tetapi kelengkungan waktu sebagai tanda memiliki awal. Dengan hal ini, kita bisa menggabungkan pandangan Plato dan Aristoteles yang berlawanan. Namun, Ibn Arabi melakukan hal tersebut tujuh abad sebelumnya, dan ia juga secara eksplisit berbicara tentang kelengkungan waktu, lama sebelum Einstein mengeluarkan teorinya.