Archive for the filsafat Category

Integrasi Ilmu: Sebuah Rekonstruksi Holistik

Posted in filsafat with tags , , , , , on Mei 24, 2012 by isepmalik

© UINJakartaPress 2005

Penyunting: Abd. Syakur Dj.

 

Cetakan I, Juli 2005/Jumadi Al-Ula 1426 H

Diterbitkan oleh Penerbit Arasy

Penerbit Mizan Pustaka

Anggota IKAPI

Jl. Yodkali No. 16Bandung40124

Telp. (022) 7200931 – Faks, (022) 7207038

e-mail: arasy@yahoo.com

http://www.mizan.com

bekerja sama dengan

UINJakartaPress

 

ISBN 979-3551-11-9

 

 

Isi Buku

 

 

Transliterasi–5

Tentang Penulis–7

Reintegrasi Ilmu-ilmu: Sebuah Demontrasi

Pengantar Dr.Haidar Bagir–11

Prolog–15

 

  1. Problem–19
  2. Tauhid–Prinsip Utama Integrasi Ilmu–32
  3. Basis Integrasi Ilmu-ilmu Agama dan Umum–44
  4. Integrasi Objek-objek Ilmu–58
  5. Integrasi Bidang Ilmu: Metafisika–72
  6. Integrasi Bidang-Bidang Ilmu II: Matematika dan Fisika–86
  7. Integrasi Sumber Ilmu–100
  8. Integrasi Pengalaman Manusia–116
  9. Integrasi Metode Ilmiah–132
  10. Integrasi Penjelasan Ilmiah–148
  11. Integrasi Ilmu Teoritis dan Praktis–162
  12. Psikologi: Sebuah Studi Kasus–177

 

Epilog–192

Apendiks: Reintegrasi Ilmu–197

Catatan-catatan–225

Indeks–239

Iklan

Apa permen itu?

Posted in filsafat on November 25, 2011 by isepmalik

Suatu hari kepada anak kecil berumuran tidak lebih dari 5 tahun Anda dengan bermaksud baik memberinya permen. Anak tersebut mungkin baru belajar bicara atau hanya mengetahui beberapa perbendaharaan kata, bertanyalah ia, “Apa permen itu?” Anda akan tersenyum, melirik kepada orang tuanya, atau bahkan garuk-garuk kepala. Tentu saja dijamin Anda akan terkejut karena tersandera pertanyaan itu. “Apa itu permen?”, tidak mudah untuk menjawabnya bukan? Padahal Anda sudah mengetahui dan mengalami ratusan kali dengan permen. Boleh jadi anak kecil tersebut memahami terhadap pertanyaannya, cuma karena keterbatasan perbendaharaan kata dan kesulitan mengungkapkan maka ia merubahnya menjadi pertanyaan. Lantas, bagaimana menjawab pertanyaan mendasar lainnya yang diajukan oleh anak kecil seperti, “Apa Tuhan itu?” Bila Anda berkata, “Lebih baik tidak mengajarkan tentang Tuhan kalau begitu.” Alih-alih menghasilkan jawaban, perkataan Anda itu lebih mengarah kepada apologi, dan hal itu akan lebih repot lagi. Mungkinkah Anda harus menjadi murni terlebih dahulu sebelum bisa menjawab pertanyaan yang diajukan anak kecil?

Selama ini mengetahui dan mengalami antara Anda dengan permen lebih didominasi oleh indrawi semata. Rasa, warna, dan bentuk permen itulah yang selama ini Anda tangkap. Anda menyimpulkan dan berkata, “Kalau begitu, pasti ada sesuatu dibalik permen dan alat lain selain indra dong?” Baiklah, ada pertanyaan untuk Anda, tapi bayangkan dan yakini bahwa permen itu sebelumnya tidak ada, “Manakah yang lebih dahulu ada, benda ataukah ide tentang permen?” Jawab Anda, “Ketika memulai suatu program biasanya dilakukan perencanaan terlebih dahulu, dan itu dibuat dalam bentuk ide.” Pertanyaan untuk Anda adalah, “Apakah ide tentang permen itu sudah bisa dirasakan oleh indra lidah?” Dengan spontan Anda menjawab, “Tentu saja tidak bisa dirasakan lidah.” Lantas, “Dengan apa Anda menangkap ide tentang permen itu?”

Indra merupakan salah satu anugrah Tuhan, tentu saja begitu. Di atas indra ada akal, ia bisa menangkap ide tentang permen. Ketika memberi permen, di situ ada ruang untuk kalbu; akal bisa saja menimbang untung-rugi memberi permen. Apakah benda-benda material yang mewujud dalam permen mengikhlaskan dirinya dimakan anak kecil? Lebih jelas lagi, apakah ikan yang diberi hak hidup oleh Tuhan dapat mengikhlaskan dirinya ketika dimakan manusia? Katanya, hal itu sudah persoalan metafisika dengan prinsip kesatuan Wujud pendekatannya; fisika dan matematika kewalahan untuk menjawab.

Tahafut Al-Falasifah

Posted in filsafat on November 9, 2011 by isepmalik

Pengantar Cetakan Ketiga—5

Al-Ghazzali: Biografi dan Pemikirannya—17

Nilai Buku Tahafut dari Sudut Pandang Al-Ghazzali—37

Bismillahir-rahmanir-rahim—45

 

Masalah Pertama: Sanggahan atas Pandangan Para Filosof tentang Keazalian (Eternitas) Alam—61

Masalah Kedua: Penolakan terhadap Keyakinan Filosof atas Keabadian Alam, Ruang, dan Waktu—101

Masalah Ketiga: Ketidakjujuran Para Filosof dalam Menyatakan bahwa Tuhan adalah Pencipta Alam dan Penjelasan bahwa Ungkapan tersebut hanya Bersifat Metaforis, tidak dalam Makna Hakikinya-111

Masalah Keempat: Ketidakmampun Para Filosof Membuktikan Eksistensi Pencipta Alam—134

Masalah Kelima: tentang Ketidakmampuan Para Filosof Membuktikan bahwa Tuhan itu Satu, dan tidak Bisa Diasumsikan Dua Wajib al-Wujud yang Masing-masing tanpa Sebab—140

Masalah Keenam: Sanggahan atas Pandangan Para Filosof tentang Negasi Sifat-sifat Tuhan—153

Masalah Ketujuh: Sanggahan atas Pandangan bahwa Mustahil Tuhan Bersama yang lain dalam Genus (Jins) dan Dipisahkan dengan Diferensia (Fashl), dan bahwa Akal tidak Bisa Membagi-Nya ke dalam Genus dan Diferensia—167

Masalah Kedelapan: Sanggahan terhadap Teori bawha Eksistensi Tuhan adalah Eksistensi Sederhana, Eksistensi Murni, tanpa Kuiditas atau Esensi tempat Eksistensi Dilampirkan dan bahwa al-Wujud al-Wajib baginya seperti Kuiditas bagi Eksistensi yang Lain—174

Masalah Kesembilan: tentang Ketidakmampuan Para Filosof untuk Membuktikan melalui Argumen Rasional bahwa Tuhan bukan Tubuh (Jism)—178

Masalah Kesepuluh: Ketidakmampun Para Filosof Membuktikan Secara Rasional bahwa Alam Memiliki Pencipta dan Sebab—184

Masalah Kesebelas: Sanggahan terhadap Sebagian Filosof yang Mengatakan bahwa Tuhan Mengetahui yang lain dan Mengetahui Berbagai Spesies dan Genus secara Universal—187

Masalah Kedua Belas: Ketidakmampuan Para Filosof Membuktikan bahwa Tuhan Mengetahui Esensi-Nya—195

Masalah Ketiga Belas: Sanggahan terhadap Pendapat Para Filosof bahwa Tuhan tidak Mengetahui Hal-hal Partikular (juz’iyyat) yang dapat Dikelompokkan Sesuai Pembagian Waktu ke Dalam Kategori “Telah”, “Sedang” dan “Akan”—198

Masalah Keempat Belas: Sanggahan atas Apa yang Mereka Sebut Tujuan yang Menggerakkan Langit—215

Masalah Keenam Belas: Sanggahan terhadap Tesis Para Filosof bahwa Jiwa-jiwa Langit Mengetahui Semua Partikular Baru (Al-Juz’iyyat al-Haditsah) di Alam—220

Masalah Ketujuh Belas: Sanggahan atas Keyakinan Para Filosof terhadap Kemustahilan Independensi Sebab dan Akibat—235

Masalah Kedelapan Belas: Ketidakmampuan Para Filosof Memberikan Bukti Rasional bahwa Jiwa Manusia adalah Substansi Ruhaniah yang Berdiri Sendiri, tak Menempati Ruang, tidak Tercetak pada Tubuh, serta tidak Menyatu dengan dan tidak juga Terpisah dari Badan sebagaimana, menurut Mereka, Allah bukan di Luar dan bukan pula di Dalam Alam, dan demikian pula para Malaikat—248

Masalah Kesembilan Belas: Sanggahan terhadap Tesis Para Filosof bahwa Jiwa Manusia Mustahil Tiada setelah Ada dan bahwa Ia Abadi tanpa Terbayangkan Kehancurannya—272

Masalah Kedua Puluh: Sanggahan terhadap Penolakan Para Filosof atas Kebangkitan Jasad, Kembalinya Jiwa ke Dalam Raga, Keberadaan Nerakan Jasmaniah, Keberadaan Surga dan Bidadari, dan Segala yang Dijanjikan Allah kepada Manusia, serta Ucapan Mereka bahwa Semua itu Merupakan Perumpamaan bagi Kalangan Awam agar Mereka Memahami Surga dan Neraka Ruhaniah, dan Keduanya Merupakan Tingkatan Jasmaniah Tertinggi—279

 

Penutup—301

Indeks—303