Archive for the Rangkuman Category

Dan Tuhan Tidak Bermain Dadu (1)

Posted in Rangkuman with tags , , , , , on Mei 5, 2012 by isepmalik

Teori relativitas berujung pada gambaran bahwa alam semesta terbatas dalam ruang dan berkembang meluas tak terhindarkan bermula pada satu peristiwa besar ketika jagat raya lahir dalam suatu Dentuman Besar di awal semesta. Teori kuantum berujung pada gambaran bahwa pada skala terkecil benda-benda, termasuk jagat raya di awal hidupnya, peristiwa-peristiwa fisik merupakan kebetulan tanpa sebab.

Dalam bahasa sehari-hari, teori relativitas berujung pada keniscayaan atau kepastian, sedangkan teori kuantum berujung pada kebetulan atau ketidakpastian. Dalam bahasa filsafat, kedua teori itu berujung pada bangkitnya kembali perdebatan antara aliran determinisme dan indeterminisme: pandangan serba-pasti dan pandangan serba-tak-pasti. (hal 17)

Materialisme telah meninggalkan roh yang merupakan esensi manusia sebagai kebebasannya. Eksistensialisme menggantinya dengan ketiadaan.

Bagi materialisme, keberhinggaan waktu di masa lau merupakan paradoks karena mereka berpandangan bahwa materi ada dalam keabadian bersama alam semesta. (hal 18)

Materialisme berusaha menghapus gambar “hantu” Tuhan dari gambar mesin alam setelah berhasil menghapus gambar roh dari gambar mesin manusia dengan teori evolusi.

Solusi mereka (materialis) terletak pada kenyataan bahwa di awal semesta, ukuran alam raya sangatlah kecil sehingga prinsip ketidakpastian Heisenberg dalam teori kuantum berlaku pada keseluruhan semesta.

Dalam teori Hartle-Hawking (James Hartle dan Stephen Hawking, keduanya materialis) ini, awal jagat raya bukanlah singularitas yang tajam, melainkan sebuah lengkungan waktu. (hal 19)

Berdasarkan model di atas, Stephen Hawking secara provokatif berkata:

“Apabila alam semesta mempunyai awal, kita dapat menganggap adanya Maha Pencipta. Tetapi jika alam semesta adalah sesuatu yang mandiri, tanpa batas atau ujung, dia tak mempunyai awal dan akhir: dia semata-mata hanya ada. Di manakah sekarang tempat Sang Pencipta?

Atkins (ahli kimia Inggris, materialis) berdasarkan pandangan Hawking di atas, menulis buku, Creation Revisited, yang berargumen alam semesta muncul secara kebetulan dari ketiadaan, dan bukan hasil penciptaan berencana.

Argumen Ward (teis), melawan indeterminisme materialistik ilmiah dengan dua tahap argumentasi logis. Pertama, meruntuhkan pandangan tentang kemunculan alam semesta dari ketiadaan menurut teori kosmologi kuantum. Kedua, meruntuhkan pandangan tentang kehidupan menurut teori evolusiDarwin. (hal 20-21).

Menurut Ward, kenyataan evolusioner seperti itu hanya bisa dipahami secara logis jika variasi itu dan seleksi itu mempunyai tujuan. Tujuan itu adalah terbentuknya jaringan multiseluler dengan jaringan saraf terpusat yang kemudian membentuk jaringan komunikasi antar pribadi yang sadar dalam interaksinya dengan lingkungan. (hal 22)

Ciri dasar evolusi menurut Ward adalah perubahan bertahap dari keadaan-keadaan tanpa nilai, yaitu molekul-molekul, menuju keadaan-keadaan ketika nilai-nilai sekaligus diciptakan dan dihayati, yaitu keadaan-keadaan kesadaran manusia. (hal 23)

Richard Dawkins (biolog Inggris) dan Michael Rush (filosof Amerika), bisa dikatakan sebagai penganut ultradarwinisme, karena mereka tidak saja ingin menerangkan fenomena biologi, tetapi juga fenomena budaya termasuk agama dan moralitas, dengan prinsip seleksi alam. (hal 24)

Ward melawan argumentasi ultradarwinisme ini dengan mengatakan bahwa argumentasi tersebut sebagai cacat logika. Sesat-pikir Dawkins terletak pada kontradiksi diri pada pernyataan “keimnanan manusia akan Tuhan, yang berdasarkan biologi, itu salah”, sedangkan sesat-pikirRuseterletak pada kesalahan deontologis yang menyamakan antara yang “ada” dan yang “seharusnya”.

Apa yang dilakukan oleh ward adalah mengganti tafsiran mekanistik materialistik sains dengan tafsiran organisme holistik berdasarkan filsafat organisme mendiang Alfred North Whitehead (matematikawan-filosof Inggris). Ward menyebut filsafat Whitehead itu sebagai metafisika teisme. (hal 26)

Ingat, yang dilawan bukan sains, melainkan interpretasi ideologis yang membungkusnya, atau paradigma filosofis yang mendasarinya. Itulah yang dilakukan oleh Ward untuk sains modern dan itu pula yang harus kita lakukan. (hal 27)

Setelah khutbah Nietzsche, atas nama kebebasan manusia, bahwa Tuhan sudah mati, dan Auguste Comte mengumumkan bahwa sains positivistik (yang berlandaskan data empiris) telah menyingkirkan mitologi agama, maka jalan pun terbuka bagi kaum ateis yang kebetulan merupakan ilmuwan untuk mengatakan bahwa sains memang bertentangan dengan agama. (hal 30)

Sayang sekali, seebntuk materialisme yang sepenuhnya memusuhi agama dan yang mengolok-olok gagasan tentang tujuan objektif dan makna semesta, telah menjadi mode akhir-akhir ini. Para ilmuwan ternama, seperti Francis Crick, Carl Sagan, Stephen Hawking, Richard Dawkins, Jacques Monod, dan Peter Atkins telah menerbitkan buku-buku yang secara terbuka mengejek kepercayaan religius, dan menjadikan karya ilmiah mereka sebagai otoritas untuk serangan itu. (hal 34)

Perlakuan mereka pada agama sama sekali tidak memperlihatkan analisis yang dingin, namun lebih merupakan sebentuk ketidaksukaan yang berlebihan yang hanya dapat disebut sebagai syak wasangka. (hal 35)

Salah satumedankonflik utama yang menjadi perhatian saya adalah klaim sebagian kosmologis (termasuk Carl Sagan dan Stephen Hawking) bahwa fisika modern sepertinya memperlihatkan bahwa gagasan tentang Tuhan setidaknya mubazir, atau bahkan suatu konstruksi yang irasional. Klaim ini sudah digugat, satu demi satu, oleh para ilmuwan terkenal lainnya (seperti Chris Isham, Paul Davies, dan John Polkinghorne), namun masih dipegang banyak orang dan populer. (hal 36)

Tafsiran teistik mengenai evolusi dan penemuan-penemuan sains alam jauh lebih dapat dipertanggungjawabkan, bahwa argumen tertentu Atkins, Darwin, Dawkins, dan Ruse sering sekali lemah, dan bahwa postulat tentang Tuhan, dengan akibat logisnya mengenai tujuan dan makna objektif, merupakan pandangan terbaik yang mampu memberi penjelasan mengapa alam semesta ada seperti adanya sekarang. (hal 37)

Apa yang ada pada titik awal mula semesta? Mengapa itu terjadi, dan mengapa mengambil bentuk semesta seperti yang sekarang ada? Adatiga kemungkinan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut. Pertama, sederhana saja, tidak ada penjelasan apapun. Semesta ada begitu saja, tanpa alasan, dan ya hanya itu. Kedua, semua itu terjadi karena suatu keniscayaan. Tak ada alternatif lain. Ketiga, semesta diciptakan oleh Tuhan demi tujuan tertentu. (hal 39)

Apa yang dapat menjelaskan keberadaan ruang dan waktu, atau tidak ada penjelasan sama sekali?

Stephen Hawking, tidak biasanya, agak naif ketika dia mengatakan, “Sejauh semesta ada titik awalnya, kita dapat mengira ada penciptanya. Namun, seandainya semesta benar-benar sepenuhnya mencukupi pada dirinya sendiri, tidak memiliki batas atau titik ujung, semesta tidak memiliki baik titik awal maupun akhir. Semesta hanya sekadar ada. Kalau begitu di mana tempat Sang Pencipta? (hal 40)

Pertanyaan intinya masih tetap sama: apakah alam semesta secara keseluruhan ada tanpa alasan atau penjelasan, atau ada karena sudah seharusnya begitu, atau karena diadakan dan tetap dipelihara keberadaannya setiap saat oleh pencipta yang suprakosmik?

Upaya yang mendukung terhadap pertanyaan pertama, bahwa tidak ada alasan mengapa alam semesta mengada, adalah jawaban yang diberikan oleh filosof, seperti David Hume. Kita tidak akan pernah dapat memahami mengapa semesta bermula, oleh karena tidak ada alasan mengapa ia bermula. (hal 42).

Iklan