Archive for the Akal Category

Hubungan Akal dan Badan (2)

Posted in Akal with tags , , , , , on Agustus 15, 2012 by isepmalik

Untuk menghadapi penolakan-penolakan terhadap interaksionisme timbullah aliran paralelisme. Menurut aliran tersebut, tak ada interaksi atau hubungan sebab musabab antara dua bidang. Proses mental dan proses fisik, keduanya adalah nyata tetapi tak ada hubungan sebab musabab di antara mereka; yang ada adalah yang satu mendampingi yang lain dalam waktu.

Hubungan sebab musabab itu dapat diterima dalam bidang mental, karena suatu kejadian mental dapat menyebabkan kejadian mental lain. Hubungan sebab musabab juga dapat diterima dalam bidang fisik. Untuk menjelaskan hal tersebut, digambarkan dua kereta api yang masing-masing berjalan di samping lainnya di atas dua rel yang sejajar. Walaupun kedua kereta api itu paralel dan nampak bergerak bersama, pada hakikatnya mereka itu berjalan masing-masing menurut sistemnya sendiri dan tak terdapat hubungan sebab musabab di antara mereka.

Contoh yang klasik tentang pandangan ini adalah sikap filosof Leibniz (1646-1716). Baginya terdapat “preestablished harmony” (keserasian yang sudah diciptakan sebelumnya) dalam akal Tuhan dan penciptaan. Dua jam mungkin berjalan bersama-sama, dan menunjukkan waktu yang tepat, oleh karena telah diciptakan begitu rupa, sehingga mereka dapat berjalan dalam keserasian. Leibniz percaya bahwa dunia telah diciptakan dan diatur agar akal dan materi selalu dapat bekerja dalam harmoni. Jalannya alam ditentukan oleh kekuatan yang terdapat dalam masing-masing unsur.

Paralelisme tidak pernah mendapat dukungan luas seperti yang didapatkan oleh interaksi dan beberapa teori lain. Paralelisme nampak seakan-akan ia telah membelah dunia menjadi dua bagian, mengingkari adanya problem, dan bukan mencari penjelasan. Banyak pengalaman yang mendadak atau interupsi yang sukar diberi penjelasan atas dasar paralelisme; mengapa, jika bel pintu berbunyi, kita dengan spontan mengerti bahwa ada seorang di muka pintu? Jika kita sedang asyik di tengah-tengah rentetan fikiran-fikiran, kita merasa jengkel jika terjadi selaan yang tidak kita sukai. Selain dari itu, interupsi “paralelisme menjadikan akal itu tidak ada gunanya dalam evolusi dan perjuangan manusia secara fisik”. Kebanyakan kita percaya bahwa penilaian yang sungguh telah menghemat tenaga dan waktu, dan pemikiran telah menyebabkan kelainan yang besar dalam urusan-urusan dunia. Karena hal-hal tersebut maka dalam mencari penjelasan tentang hubungan antara akal dan badan, banyak yang terpaksa percaya kepada doktrin identitas akal dan badan.

(Sumber: Harold H. Titus. (1984). Persoalan-persoalan Filsafat).

Iklan

Hubungan Akal dan Badan (1)

Posted in Akal with tags , , , , , on Agustus 13, 2012 by isepmalik

Watak akal dan hubungannya kepada otak barangkali merupakan problema yang sangat sulit; tetapi sangat menarik dan penting di antara problema yang dihadapi manusia.[1] Soal hubungan akal dan badan adalah soal yang tetap hangat yang ditanggulangi manusia semenjak berabad-abad. Dari zaman Descartes pada abad ke-17, problem tersebut sudah merupakan problem yang sangat penting. Pentingnya problema tersebut disebabkan karena pengaruh sains yang selalu bertambah, dengan keinginannya untuk melukiskan dunia dalam istilah-istilah kuantitatif atau matematika. Hal tersebut juga karena pengaruh aliran yang dimulai oleh Descartes yang telah membedakan secara tegas antara akal dan badan. Dualisme Descartes mendorong kita kepada kesulitan-kesulitan. Dalam pandangan bahwa akal dan badan itu merupakan substansi yang terpisah, bagaimana akal dapat menimbulkan perubahan dalam badan atau sebaliknya? Umpamanya saja tindakan menggerakkan tangan, atau menulis atau berjalan? Bagaimana sesuatu yang dinamakan akal dapat menimbulkan gerakan-gerakan fisik yang terdapat dalam perbuatan-perbuatan tersebut? Dan bagaimana sesuatu yang terjadi terhadap badan, umpamanya terlempar ke arah meja, dapat menimbulkan sesuatu yang bersifat mental, seperti rasa kesakitan?

Terdapat banyak interpretasi dan pemecahan soal-soal hubungan badan dan akal yang bermacam-macam, dari pemecahan-pemecahan yang merupakan pengingkaran akal atau pandangan materialisme yang menyeluruh, sampai kepada pendirian bahwa akal adalah realitas yang kukuh, sedang yang kita namakan materi adalah ilusi, produk sampingan dari akal atau kesadaran; namun kebanyakan penafsiran menjauhi sikap yang ekstrim. Ada anggapan yang merata bahwa akal dan badan itu merupakan kesatuan yang kompleks, akal manusia juga merupakan kesatuan yang kompleks, walaupun dibuat dari bahan lain yang mempunyai struktur yang berlainan pula”.[2]

Para paragraf-paragraf yang akan datang, beberapa jawaban tentang hubungan badan dan akal, dalam masa lalu sampai sekarang, akan kami sajikan.[3] Kami tidak berusaha untuk menyajikan segala macam pendapat atau menyebutkan mereka yang menyokong teori-teori tersebut.

 

Interaksionisme

Kita mulai dengan apa yang dapat dinamakan pandangan orang awam (common sense view) yang diterima secara luas, pandangan tersebut telah masyhur dalam diskusi-diskusi filsafat semenjak zaman Descartes. Dalam membicarakan tentang pandangan bahwa akal itu merupakan substansi, kita telah melihat bahwa Descartes mengadakan pemisahan yang jelas antara akal dan materi. Akal adalah suatu substansi yang sifat pokoknya adalah keluasan (extension). Penyajian Descartes ini adalah ekspresi dari pandangan orang awam. Kita tidak perlu menerima filsafat Descartes atau formulasinya tentang hubungan akal-badan, sekadar untuk menerima interaksionisme.

Menurut interaksionisme, di samping hubungan sebab musabab fisik, dan hubungan sebab musabah jiwa, akal dapat menyebabkan perubahan-perubahan dalam badan, dan perubahan badan dapat menimbulkan efek mental.

Diagram di bawah ini menggambarkan hubungan tersebut.[4]

 

Banyak orang yang merasa terkesan oleh yang mereka anggap sebagai hubungan sebab musabab atau hubungan timbal balik antara proses mental dan badan. Kondisi fisik kita mempengaruhi keadaan mental kita; perubahan-perubahan badan mempengaruhi pandangan mental kita. Penyakit dalam otak mempengaruhi kehidupan mental dan fikiran kita. Suatu pukulan kepada kepala kita atau uap chloroform mungkin menyebabkan kita akan kehilangan kesadaran. Pengaruh mental dari obat bius, alkohol dan kopi telah diakui hampir oleh seluruh dunia. Jika pencernaan atau pembuangan kotoran badan terganggu orangnya menjadi sedih. Biasanya kita tidak dapat berfikir secara jernih atau berkonsentasi kecuali jika proses badan kita berjalan lancar. Lebih dari itu, jika otak dan sistem syaraf kita berkembang baik, kekuatan akal kita juga bertambah.

Pengalaman mental juga mempengaruhi proses badan kita. Sesuatu ide menarik kita, kita menjadi bersemangat dan melakukan aktivitas yang berat. Keresahan jiwa dapat mengganggu kesehatan. Ketakutan menyebabkan jantung dan anggota badan lainnya bereaksi. Marah atau tenaga mental yang biasa dapat menyebabkan tekanan darah tinggi. Telah terdapat keyakinan yang makin bertambah, khususnya dalam dunia kedokteran, bahwa kondisi mental dapat menyebabkan penyakit organik atau fungsional, dan bahwa daya tahan terhadap penyakit dapat dipengaruhi oleh keadaan mental. Untuk mengatakan bahwa gigi akan menjadi rusak lebih cepat jika seseorang selalu mengalami emosi. Dahulu hipnotisme dipakai untuk bius (anesthesia), untuk menyembuhkan alkoholisme dan mengontrol proses dan gerak-gerik. Kulit seorang pasien yang sudah dihipnotis melepuh pada waktu yang melakukan hipnotisme memberitahu kepadanya bahwa ia sedang terbakas; padahal logam yang menyentuh kulitnya itu dingin, tidak panas.[5]

Meskipun sudah banyak buktinya serta sudah mendapat dukungan yang luas, teori interaksionisme mendapat kritik yang tajam. Terdapat pertanyaan-pertanyaan di sekitar: bagaimana dua substansi yang berlainan wataknya dapat mengadakan interaksi (pengaruh timbal balik), suatu hubungan sebab musabab antara perubahan dalam otak atau sistem syaraf dan gerak otot dapat dimengerti. Tetapi hubungan sebab musabab antara suatu ide dan gerak fisik sukar dimengerti. Dua bidang ini nampak masing-masing berdiri sendiri dan dapat memenuhi kebutuhannya sendiri (self-sufficient).

(Sumber: Harold H. Titus. (1984). Persoalan-persoalan Filsafat).


[1] J. R. Smythies, “Brain and Mind”, The Twentieth Century 159 (1963): 462.

[2] Gilbert Ryle, The Concept of Mind, hal. 18.

[3] Dua kumpulan makalah dalam soal ini adalah penting: Mind/Brain Identity Theory, C. V. Borst (ed.) (London: Macmillan, 1970), dan Materialism and the Mind/Body Problem, David M. Rosenthal (ed.) (Englewood Cliffs: Prentice Hall, 1971).

[4] Dalam tiap-tiap diagram, bundaran putih menunjukkan mental atau akal; bundaran hitam menunjukkan fisik atau badan; X menunjukkan hal yang tidak dimengerti; dan garis-garis menunjukkan hubungan sebab musabab.

[5] Aldous Huxley, Ends and Means (New York: Harper, 1937), hal. 299.

Teori-teori Tentang Akal (3)

Posted in Akal with tags , , , , , on Agustus 11, 2012 by isepmalik

Instrumentalisme

Sekelompok filosof yang memperhatikan persoalan tentang akal juga menganggap akal sebagai bentuk perilaku, suatu perbuatan mental dan intelligent dan bukan hanya ekspresi fisiologikal. Mereka ada dua kelompok. Pertama instrumentalis seperti John Dewey, dan kedua logis atau behavioris yang diwakili oleh Gilbert Ryle. Persamaan antara kedua kelompok tersebut terdapat dalam penolakan mereka terhadap dualisme serta dalam penekanan mereka kepada intelligent behavior (perilaku yang berakal).

John Dewey adalah wakil nomor satu dari sikap instrumentalis. Karena kita akan membicarakan pandangannya yang menyeluruh pada fasal 15, maka di sini kita hanya menyebutnya secara ringkas. Bagi Dewey, akal tidak lagi merupakan kata benda akan tetapi merupakan kata sifat deskriptif tentang macam-macam perilaku tertentu. Akal terdiri atas “operative meanings”. Akal dan berfikir menjadi aspek fungsional dari interaksi kejadian-kejadian alam. tergantung kepada pandangan kita, akal dapat dianggap aspek dari alam, dari obyek atau dari organisme. Manusia dan alam merupakan bagian dari suatu kesatuan. Manusia bukannya sebagiannya badan dan sebagiannya lagi akal. Dewey menolak segala dualisme dan anggapan bahwa akal adalah “yang mengetahui” (knower); pada dasarnya ia menganggap akal sebagai aktivitas yang memecahkan persoalan, sebagai tanggapan seseorang terhadap yang samar-samar dan yang tak menentu. Dewey menganggap pemikiran sebagai transisi dari yang problematik kepada yang tentu dan aman. Jika saya menghadapi problem, saya mencari tempat kesulitan dan membentuk ide bagaimana menghadapi kesulitan tersebut; ini adalah gerak mental. “Banyak definisi akal dan fikiran telah disusun. Saya hanya mengetahui satu yang mengenai sasaran, yaitu: akal adalah respons terhadap hal yang disangsikan. Tak terdapat benda yang tidak bernyawa mengadakan reaksi terhadap benda-benda sebagai problematik.”[1]

 

Logikal Behaviorisme

Gilbert Ryle dalam Concept of Mind menunjukkan sikap yang sama kerasnya dengan sikap Dewey dalam menyerang dualisme badan akal, dan menegaskan bahwa akal bukannya suatu benda yang berbeda dan terpisah dari badan dan materi. Akal adalah cara bagaimana seseorang bertindak. “Jika kita melukiskan manusia sebagai kualitas akal yang mempengaruhi (exercising), kita menunjukkan tindakan yang terbuka disertai ucapan-ucapan”.[2]Akal bukannya suatu alam lain, yang mungkin paralel atau lebih jauh daripada alam biasa. Ryle berusaha untuk melepaskan diri dari yang ia namakan “dogma hantu dalam mesin” dan untuk mengoreksi “kesalahan kategori” atau “mitos filosof”. Kesalahan atau mitos ini akan terjadi ketika kita menempatkan fakta dari kehidupan mental dalam kategori atau kelas yang tidak sesuai. Ryle memakai contoh seorang asing yang mengunjungi kampus universitas. Gambarkanlah bahwa seorang pengunjung, setelah melihat ruangan-ruangan fakultas, perpustakaan, asrama para mahasiswa, lapangan olahraga, kantor administrasi dan aktivitas-aktivitas yang ada sangkut pautnya dengan semua itu, ia minta untuk melihat universitas. Ia akan mendapat jawaban bahwa universitas adalah penataan gedung-gedung tersebut serta kegiatan-kegiatan yang baru saja ia lihat. Menganggap universitas sebagai kesatuan di belakang hal-hal yang telah ia saksikan adalah salah. Begitu juga mengatakan bahwa “akal” adalah suatu dunia di belakang aktivitas penataan ide adalah suatu kesalahan.

(Sumber: Harold H. Titus. (1984). Persoalan-persoalan Filsafat).


[1] John Dewey, The Quest For Certainty (London: Allen and Unwin, 1930), hal. 214.

[2] Gilbert Ryle, The Concept of Mind, hal. 25. Bacalah diskusi mengenai buku ini dalam The Journal of Philosophy 48 (April 26, 1951): 257-301.

Teori-teori Tentang Akal (2)

Posted in Akal with tags , , , , , on Agustus 5, 2012 by isepmalik

Akal adalah Kumpulan dari Pengalaman: David Hume

Pada abad ke-18, David Hume merupakan kritikus yang tajam terhadap pandangan tradisional tentang akal sebagai substansi yang terpisah. Sebelum zamannya Kant, Hume sudah menyerang dualisme Plato dan Descartes. Tetapi Hume tidak berpendapat bahwa terdapat kesatuan pribadi atau aku. Hume membawakan empirisme kepada akibat-akibat logikanya dan menyerang ide tentang substansi dan rasionalisme pada zamannya. Semua pengetahuan datang melalui pengalaman dan satu-satunya isi dari akal manusia adalah kesan-kesan dan ide-ide. Kesan adalah pengalaman yang sederhana dan elementer. Kesan-kesan itu jelas dan terang. Ide hanya merupakan copy-copy kesan. Jika kita melakukan introspeksi, kita hanya menemukan pengalaman yang lewat dan ide-ide yang selalu berubah. Tak ada bukti tentang substansi atau aku yang permanen.[1]

Apakah akal itu menurut Hume? Bagi Hume, akal dan kekuatan atau daya-dayanya serta sifat-sifat kehidupan mental tidak lain adalah asosiasi ide-ide dan pengalaman. Akal (mind) adalah istilah untuk sejumlah pengalaman, ide dan keinginan yang menempati perhatian dan kehidupan seseorang. Ia merupakan suatu kemasan pengalaman atau kumpulan rasa indrawi. Sikap umum Hume adalah skeptikisme; ia adalah seorang empirisis yang sepenuhnya. Ia segan menerima apa saja selain pengalaman sehari-hari. Para penyanggah Hume menunjukkan bahwa ia selalu memakai istilah “I” dan “myself” yang mengandung ari suatu pusat kesatuan pribadi yang selalu ada. Walaupun aku sukar untuk menjadi subyek dan obyek pada waktu yang sama, para penyanggah berpendirian bahwa melakukan pengingkaran berarti menegaskan adanya aku yang terus-menerus. Para pengikut Hume, sebaliknya, mengatakan bahwa dalam pernyataan seperti “Aku mengingkari adanya aku, subyek dan predikat mempunyai arti yang berbeda”. Hume mengatakan bahwa “kumpulan pengalaman” yang ia namakan I atau me, mengingkari adanya substansi yang immaterial atau suatu pusat identitas pribadi yang permanen. Dengan begitu maka Hume memungkiri konsep-konsep tradisional tentang “Aku”.

 

Akal sebagai Bentuk Tingkah Laku: Psikologikal Behaviorisme

Bagi sekelompok psikolog, akal adalah suatu bentuk tingkah laku.[2] Bagi mereka, beberapa macam tertentu tentang tingkah laku, mendorong kita untuk mempercayai adanya akal; mereka bertanya “Mengapa kita tidak hanya mempelajari tingkah laku saja dan tidak usah merepotkan diri dengan kesatuan-kesatuan yang abstrak dan tak dapat diamati seperti akal?” Bahkan ada psikolog yang mengingkari bahwa istilah seperti: “mind” dan “consciousness” mempunyai isi atau nilai; mereka lebih suka membicarakan tentang kejadian-kejadian mental atau aktivitas neuromuscular (otot dan syaraf) dari sesuatu organisme.

Dalam suatu diskusi yang menarik tentang “Behaviorism at Fifty[3] (Perilaku manusia pada usia 50 tahun), B. F. Skinner menyajikan apa yang ia namakan: pernyataan ulangan tentang radical behaviorism. Sebagian dari pernyataan ulangan tersebut mengandung sejarah bagaimana aliran behaviorisme itu timbul sebagai suatu reaksi terhadap para psikolog yang menyelidiki akal. Ada juga orang-orang yang karena pertimbangan-pertimbangan praktis, lebih suka membicarakan perilaku daripada aktivitas mental yang bersifat kurang dapat dilayani walaupun mereka mengakui adanya. Penyelidikan mereka adalah rintisan dari behaviorisme. Menurut Skinner, yang mula-mula menjauhkan diri dari akal sebagai penafsiran perilaku adalah Darwin dan kesibukannya dengan kontinuitas jenis. Untuk menunjang teori evolusi, adalah penting bagi Darwin untuk menunjukkan bahwa manusia secara esensial tidak berbeda dari binatang yang lebih rendah, dan bahwa setiap sifat manusia, termasuk di dalamnya kesadaran dan kekuatan berpikir, dapat ditemukan dalam jenis-jenis lain. Langkah berikutnya tak dapat dihindari yaitu jika bukti-bukti kesadaran dan berpikir dapat dijelaskan dalam binatang-binatang lain.[4] Mengapa tak dapat dijelaskan dalam manusia? Dan jika keadaannya memang begitu, apakah yang akan terjadi pada prikologi sebagai sains kehidupan mental? Jawabnya: psikologi tersebut tak ada lagi. “Behaviorisme bukannya penyelidikan ilmiah tentang perilaku akan tetapi adalah filsafat ilmu yang mempelajari subyek dan metoda psikologi. Jika psikologi sebagai sains dari kehidupan mental, dari akal, dari pengalaman yang sadar, ia harus mengembangkan dan mempertahankan suatu metodologi yang khusus yang sampai sekarang belum dimiliki secara memuaskan. Tetapi jika behaviorisme itu merupakan sains dari perilaku organisme, baik mengenai manusia atau lainnya, maka ia menjadi bagian dari biologi, suatu sains tentang alam yang banyak diselidiki oleh metoda-metoda yang sudah dicoba dan sangat berhasil.[5] Itulah kedudukan psikologikal behaviorisme.

(Sumber: Harold H. Titus. (1984). Persoalan-persoalan Filsafat).


[1] Diskusi mengenai David Hume dapat dibaca pada fasal 7, hal. 55-57/.

[2] Prikologi Perilaku (Psychological Behaviorism) sudah dibahas dalam fasal 2 dan fasal 3. Pembahasan ini akan disinggung kembali dalam fasal 6.

[3] B. F. Skinner, “Behaviorism at Fifty”, dalam bukunya T. W. Wann, Behaviorism and Phenomenology (Chicago: U. of Chicago Press, 1964), hal. 79-108.

[4] Bukti ini diberikan oleh psikolog Edward L. Thorndike pada akhir abad ke-19. Sebagai contoh ia menunjukkan bahwa seekor kucing berusaha melepaskan diri dari “puxxle-hox”, yang semua itu mungkin menunjukkan pemikiran, dapat dijelaskan sebagai hasil dari proses yang sederhana. Dengan begitu kita akan dapat bertanya: “Apakah tidak terdapat cara-cara lain untuk menafsirkan hal-hal yang nampak sebagai kesadaran atau kekuatan fikiran”.

[5] B. F. Skinner, Behaviorism at Fifty, hal 79. Mahasiswa diharap membaca kembali buku tentang psikologi. Hampir semua buku psikologi memberi definisi psikologi sebagai ilmu tentang perilaku, tanpa menyebutkan akal atau kehidupan berfikir.

Teori-teori Tentang Akal (1)

Posted in Akal with tags , , , , , on Agustus 2, 2012 by isepmalik

Telah berkembang banyak teori tentang akal sejak bertahun-tahun. Teori-teori tersebut dapat digolong-golongkan menurut sistem sederhana yang dipakai oleh para filosof yang berkecimpung dalam menyelidiki akal:

  1. akal adalah substansi non-material,
  2. akal adalah prinsip penataan,
  3. akal adalah kumpulan dari pengalaman dan
  4. akal adalah sebagai bentuk perilaku.

 

Akal sebagai Substansi: Plato dan Descartes

Akal dapat ditafsirkan sebagai kesatuan yang non-material, yang tak dapat dibagi dan tak dapat mati. Istilah substansi dipakai dalam filsafat untuk menunjukkan suatu realitas yang dalam dan yang mengandung kualitas. Marilah kita mengambil dua contoh. Lilin adalah suatu substansi yang mempunyai beberapa kualitas: seperti warna kuning (keruh kecuali jika dimurnikan), plastik (dapat diremas jika hangat), melekat, tak dapat ditekan dan lain-lain. Apakah yang tinggal jika anda menghilangkan kualitas-kualitas tersebut? jawabannya, yang tinggal adalah substansi. Yakni sesuatu yang mempunyai kualitas. Sekarang kita bicara tentang akal. Akal mempunyai kualitas seperti dapat faham, berfikir, ingat dan mengkhayalkan. Apakah yang tertinggal jika anda mengambil kualitas-kualitas tersebut. jawabannya, yang tertinggal adalah substansi, dan kali ini substansi yang immaterial.

Sumber dan pembawa yang pokok dari pandangan tersebut pada zaman kuno adalah Plato. Perhatiannya yang besar adalah manusia, terutama tentang akal manusia.

 

Plato

Plato membagi watak manusia ke dalam tiga bagian. Pertama, bagian rasional, tempatnya adalah dalam otak. Unsur rasional manusia adalah esensi suci, atau substansi, dan harus dibedakan dari badan di mana akal itu terpenjara. Yang kedua adalah bagian yang merasa, tempatnya di dada. Yang ketiga, unsur yang ingin atau selera, tempatnya di perut. Unsur keinginan tidak mempunyai prinsip untuk mengatur diri sendiri, karena itu harus berada di bawah kontrol akal. Akal dan badan mempunyai hubungan yang erat satu dengan lainnya, akan tetapi menurut Plato perbedaan antara dua hal tersebut adalah nyata. Jiwa yang tak dapat dibagi-bagi berasal dari alam misal atau form yang tinggi dan abadi, jauh di atas dunia pengalaman yang selalu berubah dan lewat. Jiwa tercemar karena berhubungan dengan benda, pada suatu waktu jiwa akan meninggalkan badan dan kembali kepada tempatnya yang abadi.

Interpretasi Plato tentang jiwa atau akal banyak mempengaruhi fikiran Plotinus dan Augustinus, dan melalui mereka, mempengaruhi gereja Masehi. Pandangan Plato banyak dianut orang selama Abad Pertengahan. Baik dalam bentuk asilnya atau dalam bentuk baru yang diciptakan oleh Descartes, fikiran Plato meresap pada pemikiran modern.

 

Descartes

Descartes, seorang filosof besar pada abad ke-17, menguatkan teori bahwa akal adalah substansi. Karena sangat sangsi terhadap kebenaran pengetahuan pada zamannya, dan kebenaran segala pengetahuan, ia memutuskan untuk mempersoalkan segala-galanya dan memulai suatu cara untuk sangsi yang sistematik, dan berusaha mendapatkan apa yang mustahil dapat disangsikan.

Karena metoda tersebut, aku gambarkan segala sesuatu yang aku lihat itu tidak sungguh; aku percaya bahwa tak ada obyek yang dikemukakan oleh ingatan saya yang palsu itu ada. Aku merasa bahwa aku tak mempunyai rasa (indra); aku percaya bahwa badan, angka, keluasan, gerak dan tempat, semuanya hanya merupakan khayalan akal saya. Kalau begitu apakah yang dapat dianggap benar. Barangkali hanya ini, yaitu sama sekali tak ada benda yang nyata.[1]

Dari posisi keragu-raguan metodologis, Descartes keluar dengan suatu keyakinan yang kuat bahwa aku itulah yang ada. Perkataannya dalam bahasa Latin adalah “cogito ergo sum”, “aku berpikir, karena itu aku ada”. Descartes menemukan bahwa adanya sedikitnya satu akal, yakni akalnya sendiri, tak dapat disangsikan. “Inilah hal yang tak dapat dipisahkan dariku, aku ada, ini sudah tentu, tetapi berapa kali? Ya, selama aku berpikir, karena barangkali akan terjadi bahwa aku berhenti berpikir, dan berbarengan dengan itu aku tidak lagi ada”.[2] Dari sini ia meyakinkan adanya akal lain, adanya Tuhan serta adanya alam materi. Dunia luar menunjukkan adanya, melalui indra, dan ia tidak percaya bahwa ia dapat ditipu.

Bagi Descartes terdapat dua substansi, akal dan materi. Ia mengadakan perbedaan yang jelas antara keduanya. Akal tu immaterial. Akal adalah kesadaran, dan sifatnya adalah berpikir. Oleh karena akal itu substansial, ia tak dapat dimusnahkan kecuali oleh Tuhan yang merupakan satu-satunya substansi yang tidak bersandar kepada yang lain. Sifat materi adalah keluasan. Badan manusia adalah bagian dari alam materi dan tunduk kepada aturan-aturannya.

Penjelasan Descartes tentang akal sebagai suatu substansi yang berdiri sendiri adalah permulaan perkembangan yang panjang dalam filsafat modern dan pemikiran ilmiah yang kadang-kadang dinamakan bifurkasi alam (bifurcation of nature). Dualisme Descartes tentang akal dan badan atau materi memungkinkan kita untuk mengadakan interpretasi tentang alam di luar diri kita dengan cara-cara mekanik dan kuantitatif, serta memungkinkan menempatkan aspek kehidupan yang lain dalam bidang akal atau jiwa. Pemisahan antara akal dan materi adalah teori yang tetap dianut oleh beberapa filosof dalam segala perioda sejarah.

 

Akal adalah Prinsip Penataan: Aristoteles dan Immanuel Kant

Aristoteles, murid Plato, walaupun pada dasarnya menyetujui beberapa aspek dari teori akal sebagai substansi, mengambil arah baru yang akan kita bicarakan sekarang. Bagi Plato, ide-ide adalah bentuk-bentuk yang abadi yang wujudnya adalah dalam alam lain; ide kita tentang dunia ini hanya merupakan copy dari bermacam-macam derajat kebenaran, dari ide yang abadi. Bagi Aristoteles, bentuk itu ada dalam benda, dalam alam ini. Form itu memberi bentuk, mengatur prinsip-prinsip dinamis yang memerintah dan mengarahkan materi. Dari pandangan ini, jiwa (soul, psyche) adalah prinsip kehidupan, kumpulan dari proses kehidupan, prinsip yang aktif untuk mengatur proses-proses ini. Akal atau fikiran adalah kekuatan atau fungsi tertinggi dari jiwa (psyche) manusia. Dalam usaha untuk mempersatukan akal dan badan, Aristoteles menyimpang dari pendirian Plato dan mendekati pendirian bahwa akal itu adalah proses dan fungsi. Jika bagi Plato alam Ide atau bentuk yang abadi ada di luar dunia rasa indrawi, bagi Aristoteles form (bentuk) itu ada di dalam benda sebagai prinsip yang aktif untuk pengaturan.

Immanuel Kant pada akhir abad ke-18 mengeritik pandangan tradisional yang mengatakan bahwa akal itu substansi; pandangan tersebut mengatakan bahwa seseorang dapat menjadikan “aku”-nya dan “akal”-nya menjadi obyek langsung untuk diketahui. Bagi Kant, akal itu aktif. Akal itu mengumpulkan bahan-bahan yang disajikan oleh bermacam-macam indra dalam suatu pengolah pengetahuan. Zaman dan ruang merupakan “forms” dari pengalaman-pengalaman indrawi kita, yang dengan memakai pertimbangan (judgment) dikumpulkan menjadi pengalaman yang teratur dan terpadu. Akal bukannya suatu substansi mental yang berdiri sendiri. Akal adalah penataan dan kesatuan dari pengalaman-pengalaman pribadi manusia.

Menurut Kant, yang kita ketahui secara pasti adalah pengalaman-pengalaman kita. Di mana saya ada pengetahuan terdapat juga perpaduan; dan pengetahuan memerlukan seorang yang mengetahui. Jika ada daya ingatan, tentu ada sesuatu yang melakukan ingatan tersebut. pengaturan pengalaman menjadi mungkin karena ada akal dan pemahaman yang berlaku sebagai prinsip penataan. Terdapat kesatuan organik atau pribadi yang mengatasi (transcend) dan yang bertanggung jawab untuk adanya kontinuitas di antara pengalaman-pengalaman yang terpisah. Kesatuan itu adalah aku (self). Aku kadang-kadang dikatakan sebagai tempat bentuk pengetahuan. Kadang-kadang, aku dan akal dianggap sebagai satu. Walaupun begitu, bersama Kant, kita harus tidak lupa bahwa aku adalah suatu subyek moral dan subyek yang mengetahui.[3]

(Sumber: Harold H. Titus. (1984). Persoalan-persoalan Filsafat).


[1] Rene Descartes, Meditation II, Descartes’ Meditations and Selections from the Principles of Philosophy, diterjemahkan oleh John Veitch (La Salle: Open Court, 1941), hal. 29-30.

[2] Ibid, hal. 33.

[3] Diskusi mengenai pandangan Kant mengenai moralitas dapat dibaca pada fasal 7.

Kesulitan-kesulitan dalam Mempelajari Akal

Posted in Akal with tags , , , , , on Juli 30, 2012 by isepmalik

Terdapat kekaburan dan keterlambatan dalam penyelidikan tentang akal karena beberapa sebab:

Pertama, penyelidikan tentang akal dan tentang manusia pada umumnya telah mendapat perhatian yang sangat sedikit pada masa yang lalu, khususnya dari segi bantuan keuangan, dibandingkan dengan penyelidikan tentang alam di sekitar manusia. Pada zaman kita sekarang, kita pada pokoknya mementingkan eksploitasi alam fisik, membentuk mesin dan menjelajah angkasa. Kita telah mempelajari lebih banyak tentang benda-benda dan binatang-binatang dari pada tentang manusia. Perhatian kita diarahkan terhadap aspek kehidupan manusia yang juga ada hubungannya dengan benda dan binatang. Penyelidikan sosial adalah baru, dilakukan orang semenjak akhir abad ke-19 dan permulaan abad ke-20. Metoda ilmiah dipakai pertama dalam matematika dan astronomi kemudian dalam fisika dan kimia, kemudian lagi dalam fisiologi dan biologi dan hanya baru-baru ini diterapkan untuk sosiologi dan psikologi.

Dalam interpretasi-interpretasi yang terdahulu, sebelum konsep evolusi diterima dalam dunia pemikiran, akal dianggap sebagai terpisah dari alam. akal mencoba berhubungan dengan dan memahami “ultimate reality” (realitas yang tertinggi). Pandangan “seorang pengamat” tentang pengetahuan dianggap sudah yakin. Tetapi problemanya adalah untuk menjembatani jurang pemisah antara akal dan alam. Pada waktu sekarang, akal dipandang sebagai suatu alat atau suatu fungsi, dan tidak sekadar sebagai seorang pengamat di luar proses. Tidak ditekankan perlunya riset dan percobaan-percobaan, sikap sementara (tentative) dan derajat kemungkinan (degree of probability).

Kedua, psikologi telah menimbulkan aliran-aliran pemikiran yang bertentangan. Psikologi adalah sains yang khusus yang memberikan bahan-bahan deskriptif, dan bahan-bahan tersebut menjadi dasar untuk menyusun interpretasi kita tentang akal. Akan tetapi psikologi itu bermacam-macam, tidak hanya satu. Tak ada kata sepakat tentang metoda yang diperlukan untuk psikologi, bahkan tak ada kesepakatan tentang apakah subyek psikologi itu. Dalam mempelajari akal, beberapa metoda dapat dipergunaka; penyelidikan tentang perilaku yang obyektif, pendekatan genetik, yang mencakup perkembangan anak-anak atau perkembangan rasa, penyelidikan tentang perilaku binatang, perilaku yang abnormal, mekanisme dan proses fisiologis, introspeksi, persepsi ekstrasensori masing-masing metoda tersebut dipakai oleh sebagian dari para psikolog.

Bermacam-macam psikologi menekankan bermacam-macam aspek akal dan perilaku manusia. Perkembangan yang semula dari psikoanalisa (dilakukan oleh Sigmund Freud, Alfred Adler, C. G. Jung dan lain-lain), telah terjadi di dalam profesi kedokteran. Menurut Freud, enerji kehidupan manusia atau struktur kepribadian terdiri atas tiga bagian. Pertama id, yaitu yang merupakan lapangan di bawah sadar yang mendalam dari naluri (instinct); dorongan hati (impulse) dan passi (passion). Kedua, ego, yaitu unsur kepribadian yang dapat berpikir dan kadang-kadang dapat mengontrol kegiatan id. Ketiga, superego, yaitu internalisasi kebutuhan-kebutuhan masyarakat, yang telah dinamakan conscience. Berhadapan dengan tiga kekuatan, yakni id, superego dan dunia luar yang kasar, ego terpaksa mengakui kelemahannya dan dengan mudah terkena perasaan salah (guilty) dan gelisah (anxiety). Psikoanalisa menekankan adanya konflik dan kemenangan di dalam atau di antara bidang-bidang kepribadian dan bermacam-macam mekanisme untuk mengatasi problema-problema tersebut seperti: lari (escape), pertahanan (defence) dan sebagainya.

Behaviorisme (dikembangkan oleh John B. Watson, K. S. Lashley, Clark L. Hull dan E. C. Tolman) muncul sebagai hasil penyelidikan-penyelidikan dalam bidang psikologi binatang. Metoda dan cara bekerjanya kemudian diterapkan untuk menyelidiki perilaku manusia. Sebagaimana yang telah dijelaskan dalam fasal 2 dan 3, psikologi perilaku mengarahkan perhatiannya kepada tingkah laku yang dapat dilihat dan kepada respons.

Psikologi Gestalt (yang dikembangkan oleh Marx Wertheimer, Kurt Koffka dan Wolfgang Kohler) merupakan reaksi terhadap metoda analitik dan atomistik dari psikologi sebelumnya, menekankan pandangan bahwa keseluruhan itu lebih besar dari sekadar jumlah bagian-bagiannya; sering keseluruhan itu memiliki kualitas yang tak terdapat dalam bagian-bagiannya. Pengikut aliran Gestalt, yang penyelidikan-penyelidikannya kebanyakan dalam bidang psikologi persepsi, berpendirian bahwa ide tentang organisasi dan contoh adalah sangat pokok untuk memahami pengamatan dalam bidang persepsi mereka bahkan memperluas pandangan mereka sehingga mencakup beberapa aspek kepribadian. Bagi penganut behaviorisme tingkah laku itu tidak ditetapkan oleh kejadian-kejadian stimulus tanggapan (stimulus response) yang terpisah-pisah dan terputus-putus, akan tetapi ditetapkan oleh pribadi yang terpadu (Integrated personality) yang melihat situasi menyeluruh.

Terdapat aliran-aliran lain dalam psikologi yang sekarang tidak lagi ternama, dan terdapat pula psikolog-psikolog yang tidak mau digolongkan pada suatu aliran.

Ketiga, dalam mempelajari akal adalah bahwa sukar untuk bersikap obyektif dalam bidang ini; terdapat pula bahaya bahwa ketika kita memperoleh obyektifitas, kita kehilangan hal yang kita ingin menyelidikinya. Sains cenderung untuk menganggap sepi hal-hal yang istimewa dan tidak terulang serta lebih suka mempelajari alam yang sudah dibersihkan dari sifat-sifat kemanusiaan yang istimewa. Ketika kita berusaha untuk mengisolir akal, akal itu sudah hilang dan kita menghadapi benda lain. Dalam kasus ini, akal mungkin seperti elektron, yang merasa diganggu jika diamati, ahli fisika tak dapat menemukan tempatnya dan kecepatannya.

Memang terdapat suatu problema yang riil yaitu apakah akal itu dapat dipelajari sebagai suatu kesatuan yang dapat dipandang sebagai obyektif? Apakah sesuatu akal dapat menjadi subyke dan obyek secara berbarengan. Jika ada suatu bidang dari kehidupan manusia yang khusus dan tidak dapat diamati secara umum, dan jika sains itu suatu pengetahuan yang dapat diperiksa benar tidaknya secara obyektif, maka sains akan menghadapi problema besar jika “berusaha untuk menyelidiki akal dan aku”, seorang yang ahli memberi tafsiran tentang alam, ia akan menemui kesulitan jika ia ingin memberi interpretasi tentang aku-nya sendiri dan aku orang lain, akalnya sendiri dan akalnya orang lain. Dia tak akan dapat yakin tentang apa yang ia selidiki, bagaimana ia harus menafsirkan hasilnya, ketepatan dan relevansi pengamatannya dan apakah pengaruh hasil-hasil tersebut terhadap teori akal.

Akhirnya, sampai sekarang tak ada kata sepakat tentang kapan dan bagaimana akal itu muncul dalam proses evolusi yang panjang. Jawabannya bergantung kepada definisi kita tentang akal dan pandangan kita tentang dunia atau interpretasi kita tentang alam. jika kita memberi definisi akal sebagai “perilaku adaptasi” (adapting behavior), proses adanya akal mungkin dimulai dengan amuba atau bentuk hidup yang lain. Terdapat perkembangan sedikit demi sedikit dari kehalusan dan kerumitan reaksi jika kita menghadapi organisme yang lebih kompleks tetapi tak terdapat evolusi yang jelas atau loncatan-loncatan yang dapat diklasifikasikan yang dapat kita katakan sebagai “permulaan akal”. Dari segi lain, jika kita memilih interpretasi bahwa akal itu adalah fikiran yang abstrak, maka akal itu hanya terdapat pada manusia.

(Sumber: Harold H. Titus. (1984). Persoalan-persoalan Filsafat).

Watak Akal

Posted in Akal with tags , , , , , on Mei 12, 2012 by isepmalik

Interpretasi dan pengertian tentang hubungan antar akal (jiwa) manusia dan raga manusia adalah salah satu dari persoalan-persoalan yang sangat penting yang dihadapi oleh filsafat, dan salah satu dari masalah yang paling kompleks dan membingungkan. “Di antara masalah yang dihadapi filsafat dan bermacam-macam sains, problema hubungan antara jiwa dan badan adalah masalah yang masih membingungkan. Kemajuan-kemajuan baru dalam pemikiran filsafat dan penyelidikan eksperimental malah menjadi problema itu lebih menantang”.[1]

Sejak zaman dahulu, manusia cenderung untuk mengadakan pembedaan yang jelas antara: kejadian-kejadian, substansi, proses atau hubungan yang mereka namakan material atau fisikal (physical), dan yang mereka namakan mental atau psikikal (psychical). Bidang pertama mencakup jenis materi anorganik dan organik, termasuk di dalamnya badan manusia dan binatang. Benda-benda yang digolong-golongkan semacam itu berada di ruang dan waktu, dan bersifat umum (terbuka) yakni dapat dilihat oleh siapa saja. Bidang kedua mencakup fikiran, gambaran (image0, dan rasa (sensation), keinginan dan sebagainya. Kejadian-kejadian atau proses ini bersifat khusus yakni tidak dapat dialami oleh seorang pengamat, walaupun si pengamat itu dapat diberitahu tentang adanya, dan mungkin akan memahaminya dengan simpati.

Sebelum kita maju lebih jauh, marilah kita jelaskan istilah-istilah yang dipakai secara luas akan tetapi sering dikaburkan, yaitu: soul, self, mind, consciousness dan self-consciousness. Bermacam-macam penulis mempergunakan istilah-istilah tersebut dengan bermacam-macam arti; hal ini menjadikan penjelasannya lebih sukar. Plato memakai istilah psyche yang biasanya diartikan jiwa (soul), untuk membedakan sesuatu yang bersifat immaterial atau substansi daripada watak kebinatangan manusia. Jiwa difahami sebagai sesuatu yang tak dapat mati, dan dapat dipisahkan dari badan, jika seseorang itu mati. Aristoteles juga memakai istilah soul, tapi dengan arti yang agak berlainan sebagai yang akan kita lihat nanti. Istilah “soul” banyak dipakai dalam sistem-sistem teologi, dan banyak orang yang memakai dua istilah tersebut, yakni soul dan self sebagai kata sinonim yang mempunyai satu arti, atau menganggap “aku (self) yang menjadi subyek” sebagai jiwa (mind) dan “aku sebagai obyek” menjadi badan atau kumpulan badan dan nyawa. Pemakaian seperti ini dapat dipersoalkan karena aku-nya manusia, menurut istilah tradisional terdiri atas unsur:

  1. Kognitif, atau segi yang berfikir dan mengerti,
  2. Afektif, yakni segi perasaan dan emosi, dan
  3. konatif, yakni keinginan, usaha dan kemauan.

Dari segi pandangan ini, akal (mind) adalah segi kognitif dari aku dan kehidupan manusia.

Akal (mind) dan kesadaran (consciousness) tidak merupakan sinonim (berarti satu) walaupun kadang-kadang diduga menjadi satu. Kita boleh jadi sadar atau tidak sadar tentang proses mental kita. Jika kita sampai kepada suatu pemecahan persoalan, kita telah melalui proses mental; tetapi proses tersebut tidak harus merupakan proses yang kita sadari. Jika kita melakukan introspeksi terhadap proses tersebut, yakni jika kita memeriksa kembali, otak merasakan akan adanya proses tersebut, kita menjadi sadar. Pembedaan ini memungkinkan kita mengatakan bahwa binatang itu mempunyai proses mental, baik mereka itu sadar tentang proses tersebut atau tidak. Kesadaran (consciousness) adalah keinsafan tentang hubungan antara orang yang melihat, subyek atau orang yang mengerti, dengan sebagian dari obyek perhatian. Jika kita insaf akan fakta bahwa kitalah yang sadar, maka dalam ini kita bicara tentang kesadaran aku (self-consciousness). Kita tidak akan dapat menerangkan kesadaran yang langsung atau pengalaman “kesadaran aku” secara memuaskan kecuali kalau kita mengerti tentang “aku”. Jadi kita harus yakin akan adanya kesatuan pribadi atau identitas yang tetap ada sepanjang adanya pengalaman-pengalaman kehidupan yang bermacam-macam dan yang menjadikan pengalaman yang terpisah-pisah itu “kepunyaanku”.[2]

(Sumber: Harold H. Titus. (1984). Persoalan-persoalan Filsafat).


[1] Wolfgang Kohler, “The Mind-Body Problem,” dalam buku Dimension of Mind: A Symposium, Sidney Hhook (ed.) (New York: Collier Books, 1961), h. 15. (New York University Institute of Philosophy).

[2] Lihat fasal 3 untuk diskusi mengani aku (self) dan kesadaran aku (self-consciousness).