Archive for the Abad Pertengahan Category

Skeptisisme Tahap Kedua

Posted in Abad Pertengahan with tags , , , , , on Agustus 17, 2012 by isepmalik

Selama berabad-abad, Gereja menebarkan pelbagai pandangan dan gagasan sejumlah filosof sebagai ajaran-ajaran agama, sehingga orang-orang Kristen menerima semua itu sebagai hal yang pasti dan suci, di antaranya adalah pandangan-pandangan kosmologis Ptolemius dan Aristoteles, yang lantas dijungkirkan oleh Copernicus, dan sarjana-sarjana tidak memihak lain juga menyadari kekeliruan pandangan-pandangan tersebut. Seperti telah kita sebutkan, perlawanan dogmatis dan perilaku keji otoritas-otoritas Gereja terhadap para ilmuwan justru memunculkan reaksi bermusuhan.

Perubahan dalam bermacam pemikiran dan keyakinan serta rontoknya tonggak-tonggak akal dan filsafat (pada Abad Pertengahan) melahirkan guncangan-guncangan jiwa pada banyak sarjana dan membersitkan keragu-raguan dalam benak mereka: Bagaimana kita bisa memastikan bahwa keyakinan-keyakinan kita lainnya tidak galat dan kegalatan itu suatu saat menjadi jelas (seperti dalam kasus ajaran-ajaran Kristen)? Bagaimana kita bisa tahu bahwa teori-teori ilmiah yang baru ditemukan tidak akan dikelirukan suatu hari nanti? Akhirnya, seorang sarjana terpandang bernama Michael Eyquem de Montaigne menuliskan: Bagaimana kita bisa yakin bahwa teori Copernicus tidak akan digugurkan di masa mendatang? Montaigne sekali lagi mengungkapkan keragu-raguan kalangan skeptik dan sofis dengan gaya baru, skeptisisme dibela, dan dengan demikian tahap baru skeptisisme mengemuka.

(Sumber: M. Taqi Mishbah Yazdi. (2003).  Buku Daras Filsafat Islam. Bandung: Mizan).

Iklan

Renaisans dan Perubahan Menyeluruh dalam Pola-Pikir

Posted in Abad Pertengahan with tags , , , , , on Agustus 14, 2012 by isepmalik

Sejak abad ke-14, landasan sebuah perubahan menyeluruh telah terbentuk lewat beragam faktor. Pertama, merebaknya nominalisme (kesejatian penamaan) dan pengingkaran atas keberadaan konseo-konsep universal di Inggris dan Perancis, yang berperan efektif menjatuhkan dasar-dasar filsafat. Kedua, percekcokan seputar filsafat alam Aristoteles di Universitas Paris. Ketiga, gemerutu ketakselarasan filsafat dan dogma-dogma Kristen, atau nalar dan agama. Keempat, mencoloknya perseteruan antara penguasa-penguasa masa itu dan otoritas-otoritas Gereja, dan antar-otoritas Gereja sendiri terjadi perselisihan yang berbuntut pada kemunculan Protestantisme. Kelima, menggilanya humanisme dan tendensi untuk berurusan dengan masalah-masalah kehidupan manusia, sembari mencampakkan masalah-masalah metafisika. Dan akhirnya, keenam, pada pertengahan abad ke-15, Kekaisaran Bizantium runtuh, perubahan utuh (secara politik, filosofis, kesusastraan, dan keagamaan) mencuat di seluruh penjuru Eropa, dan lembaga-lembaga kepausan diserang dari segala jurusan. Dalam keadaan ini, filsafat skolastik yang lemah itu pun menemui nasih akhirnya.

Pada abad ke-16, minat pada ilmu-ilmu alam dan empiris meningkat pesat, dan temuan-temuan Copernicus, Kepler, dan Galileo telah mengguncang dasar-dasar astronomi Ptolemius dan filsafat alam Aristoteles. Singkatnya, semua aspek perikemanusiaan di Eropa terganggu dan terguncang.

Lembaga-lembaga kepausan berhasil menahan gelombang-gelombang besar ini, dan para ilmuwan dihadapkan pada Inkuisisi karena penolakan mereka pada dogma-dogma agama, pandangan-pandangan tentang filsafat alam, dan kosmologi seperti yang diakui oleh Gereja berdasarkan tafsiran Injil dan ajaran-ajaran agama. Banyak ilmuwan yang kemudian dibakar hidup-hidup dengan alasan fanatisme buta dan kepentingan otoritas-otoritas Gereja. Bagaimanapun, pada gilirannya Gereja dan lembaga-lembaga kepausan dimundurkan dengan hina.

Perilaku fanatik dan beringas Gereja Katolik berekor pada sikap negatif masyarakat terhadap otoritas-otoritas Gereja, dan agama secara umum, serta kejatuhan filsafat skolastik, yaitu satu-satunya filsafat yang mengalir pada masa itu. Semua ini selanjutnya melahirkan kehampaan intelektual dan filosofis, dan akhirnya memunculkan skeptisisme modern. Selama proses ini, satu-satunya yang mengalami kemajuan adalah humanisme dan hasrat pada ilmu alam dan empiris di medan budaya, serta kegandrungan pada liberalisme dan demokrasi di medan politik.

(Sumber: M. Taqi Mishbah Yazdi. (2003).  Buku Daras Filsafat Islam. Bandung: Mizan).

Filsafat Skolastik

Posted in Abad Pertengahan with tags , , , , , on Agustus 12, 2012 by isepmalik

Setelah tersebarnya agama Kristen dan bergabungnya kekuasaan Gereja dengan Kekaisaran Romawi, pusat-pusat pembelajaran berada di bawah pengaruh aparat pemerintahan sedemikian sehingga pada abad ke-6 M (seperti telah disebutkan) universitas-universitas dan sekolah-sekolah di Athena dan Aleksandria ditutup. Periode yang berlangsung seribu tahun ini disebut dengan Abad Pertengahan dan dicirikan dengan dominasi Gereja atas pusat-pusat pembelajaran dan program-program sekolah dan universitas.

Di antara tokoh terpandang pada era ini adalah Santo Agustinus. Dialah orang yang mencoba menggunakan prinsip-prinsip filsafat, utamanya pandangan-pandangan Plato dan Neo-Platonis, untuk menjabarkan dogma-dogma Kekristenan. Sesudahnya, beberapa wacana filsafat dimasukkan dalam program sekolah. Akan tetapi, sikap terhadap pemikiran Aristoteles tidak bagus, lantaran dikira menentang ajaran-ajaran agama dan pengajarannya dilarang. Seiring dengan berkuasanya kaum Muslim atas Al-Andalus (Spanyol) dan merembesnya pemikiran Islam ke Eropa Barat, ide-ide para filosof Muslim seperti Ibn Sina (Avicenna) dan Ibn Rusyd (Averroes) kurang-lebih menjadi bahan perbincangan. Para sarjana Kristen berkenalan dengan pandangan-pandangan Aristoteles melalui buku-buku para filosof Muslim tersebut.

Lambat-laun, anggota-anggota Gereja tidak lagi sanggup menangkal gelombang pemikiran filsafat ini, dan akhirnya Santo Thomas Aquinas menerima sebagian besar pandangan filsafat Aristoteles seperti terpapar dalam buku-bukunya. Berangsur-angsur perlawanan terhadap Aristoteles memudar, bahkan kemudian mendominasi beberapa pusat pembelajaran.

Alhasil, di Abad Pertengahan, filsafat tidak senantiasa berkembang di negeri-negeri Barat, adakalanya ia juga mengalami masa kemunduran. Berbeda dengan di Dunia Islam, tempat tumbuh dan makin kayanya ilmu dan pembelajaran secara berkelanjutan, wacana-wacana yang diajarkan di sekolah-sekolah Eropa yang berafiliasi ke Gereja, yang kemudian disebut dengan filsafat skolastik, adalah yang bisa dipakai membenarkan dogma-dogma agama Kristen—dogma-dogma yang sebetulnya tidak bebas dari penyimpangan. Tidak syak lagi, filsafat semacam ini tidak punya nasib kecuali kematian dan kemusnahan.

Dalam filsafat skolastik, selain logika, teologi, etika, politik, dan sebagian bahasan filsafat alam dan astronomi yang diterima Gereja, perbincangan tentang tata bahasa dan retorika juga terserap dalam kurikulum. Dan dengan begitu, filsafat pada periode ini punya cakupan cukup luas (dibandingkan sekarang).

(Sumber: M. Taqi Mishbah Yazdi. (2003).  Buku Daras Filsafat Islam. Bandung: Mizan).