Archive for the Lepas Lelah Category

Menanam

Posted in Lepas Lelah on April 2, 2011 by isepmalik

Ia berjalan, memunguti bebijian. Sesekali kakinya dihentikan rasa dan pikiran, apakah langkahnya yang belakangan mudah terdefinisikan. Cita-citanya sederhana seperti air yang mengalir dari ketinggian, seperti udara yang memenuhi kehampaan. Ia kelihatannya hanya ingin menanam dari bebijian dengan penuh kesederhanaan. Kelak, dari bebijian keluarlah akar, batang, dan tunas-tunas yang lain. Dari olah sadarnya yang kesendirian terciptalah lingkungan. Ia yang menanam terkadang pula mendapatkan apa yang tidak diharapkan.

Tentu tiada yang salah dengan menanam, seperti tiada salahnya bebijian. Berhati-hatilah dengan logika, sebab dia bukan cuma kaki tetapi berhati ganda. Adapun biji, dia adalah asal yang tidak mengenal logika. Tetapi, tanamlah biji dimana pun berada. Ketika memakan buahnya, biji seolah-olah pembawa bahala yang hanya menghalangi saja. Ketika mengenyahkan biji seenaknya, di sanalah permainan logika.

“Tunjukkan kalau ada yang salah”. Biji menyimpan potensi kesadaran. Tidak cukupkah kesadaran itu menjadi detektor kesalahan? Bila tidak mengetahui kesalahan, dimanakah letaknya kesadaran? Tidak mengenal biji, berarti tidak layak memakan buahnya. Bila hanya ingin buahnya saja, maka buanglah kesadaran sebagaimana tercampaknya bebijian. Siapakah yang mengetahui kesalahan itu? Jangan bertanya kepada penanam biji, bertanyalah kepada apa yang salah. Jadi, apa yang salah? Tanpa kesadaran tentu jawabannya. Menanam tentunya dilakukan dengan segenap kesadaran, adapun biji itu potensinya, dan buah yang menyehatkan menjadi manifestasi kesadaran.

Bukankah bisa menanam tanpa biji? Ya, bisa! Tapi itu bukan asal. Jadi, janganlah asal-asalan bila menanam. Perhatikanlah si penanam yang tidak kebagian buahnya. Apakah hanya cukup dikatakan kepadanya kasihan?

Iklan

Suara

Posted in Lepas Lelah on Maret 31, 2011 by isepmalik

Tetaplah bersamaku, walau ada badai. Tetaplah bersamaku, terkadang harus ada hentakan untuk memacu ke penghujung waktu. Badai hanyalah sekumpulan gerakan angin dari kepakan kupu-kupu cantik di ujung sana. Seirama hentakan itu menjadi tarian, hanya tersisa kupu-kupu untuk dijadikan pegangan. Kupu-kupu yang cantik, mengapa engkau mengirim badai, sementara engkau satu-satunya pegangan? Bila juga engkau kirimkan hujan, apakah engkau masih bisa buat pegangan? Cahaya yang mengirim terang, dimanakah adanya? Surya yang setia menandai pagi dan memulai malam, dimanakah bersemayam? Tiadalah semuanya. Semua sirna memasuki senja, tiada tersisa dimakan usia, semua hilang memasuki petang. Lalu, siapakah yang bersamaku?

 

“Kawan, tengoklah ke dalam dirimu”, ada yang bersuara. Malah ingin bersama suara yang selama ini tersia-sia. Sayup-sayup kembali ada yang bersuara, “Kawan, aku adalah wujud dirimu”. Bukankah diriku diterbangkan kupu-kupu? “Tidak, yang terbang itu hanyalah daging di luar kesejatianmu. Aku adalah kesejatianmu. Suara, tak berupa tak berwarna tak berasa tak terindra tak teraba, yang hanya ada. Hadirkan aku, bila kupu-kupu mengganggumu. Kawan, adakah yang lebih denganmu?” Udara begitu dekat tak terikat, memenuhi ruang meski terhalang, meresap meski tak terhisap. Udara adalah pertanda kehidupan. Hentikanlah sejenak dan fokuskan pikiran. Alirkan udara melalui hidung, bukankah dia tak terlihat. Jangan anggap remeh yang tak terlihat. “Kawan, udara bisa terperangkap dalam dingin. Coba engkau alirkan udara dari hidungmu di depan cermin. Engkau akan melihat udara. Kawan, adakah yang lebih dekat denganmu yang tak berupa tak berwarna tak berasa tak terindra tak teraba, yang hanya ada?”

 

Tak ada cahaya bila tak ada suara. Doa berjuta-juta terdengar karena suara. Gembira akan terasa manakala bersuara, begitu pula duka. Bagaimana jadinya bila suara-suara tak mengiringi cahaya, tak mengiringi doa, tak mengiringi gembira, dan tak mengiringi duka? Suara diperlukan bagi yang buta, buta segalanya.

 

“Kawan, adakah yang lebih dekat denganmu? Kawan, tantanglah badai tanpa ragu”. Tetaplah bersamaku, suara. Suara…

 

Mengenal ‘entah’

Posted in Campuran, Cerpen, Lepas Lelah, Teori Kuantum on Oktober 14, 2010 by isepmalik

“Ada acara bagus loh di tempat itu, datang ya”. “Waktunya?” “Dari jam delapan sampai jam sepuluh, cuma dua jam kok”. Ditanyakan waktunya, sebagai jawaban dikatakan jamnya. Tiktak taktik tiktak… entah suara jam darimana sampai ke telingaku. Entahlah, kenapa pula jam bisa sampai diidentikkan dengan waktu, oleh sebagian besar manusia. Sayang sekali, engkau terlalu muda untuk dikendalikan waktu. Seringkali dikatakan kepadanya, “Engkau terlalu muda untuk mengetahui hal itu”. Tidak jarang pula dia memperoleh seruan, “Biarpun engkau terlalu muda, sudah saatnya engkau mengetahui persoalan itu”. Dalam segalanya, engkau memang akan dikendalikan oleh waktu.

 

Tidak usahlah berkecil hati, tidak hanya engkau rupanya yang dikendalikan waktu. Siang dan malam, begitu pula pergantiannya beredar dalam waktu. “’Entah’, aku hanya menitipkan harapan, tidak pada kendali waktu, tetapi di kedalaman jantungmu yang menembus palung terdalam dari kesadaranmu. Cukuplah waktu-waktu berlalu sebagai yang engkau katakan ‘masa-masa indah’ melukisan senyuman abstrak dalam garis-garis bibirmu. Bukan pakaian ini, tetapi pakaian yang senantiasa setia menutupi keindahanmu yang tersembunyi. Teramat ingin sekali aku hanya mengenal ‘entah’, bukan yang lainnya.

 

Bila memang tidak bisa keluar dari lingkaran kendali waktu, mungkin hanya ‘entah’ yang akan menemani waktu-waktuku. Karena hanya di dalam ‘entah’ mewujud kerumitan, tetapi tetap kiranya berujung pada kesederhanaan. Rumit dan sederhana itulah engkau, ‘entah’. “Apakah handuk yang engkau gunakan untuk mengeringkan badanmu sudah kering, wahai ‘entah’?” Itulah saat terakhir aku melihatmu. Untuk bisa melihat handuk yang bergelantung manja dipundakmu, aku begitu sesak, karena harus melepaskan belenggu beban fisik dan meningkatkan energi ruhaniku. Dalam interval waktu yang relatif sedikit, aku berusaha memendar menjadi cahaya. Untuk mengenalmu, wahai yang kupanggil ‘entah’, bukalah misteri cahaya itu agar aku mengenali wajahmu seterang-terangnya.

 

Sampai waktu ini, aku hanya bisa membayangkan ‘entah”. Membayangkan pun sudah begitu indah, apalagi bila sejatinya aku bisa menggenggam ‘entah’. Karuniakanlah kepadaku untuk mengenal ‘entah’, karena disitulah aku hidup dan kehidupanku sendiri. Aku ingin mengenal ‘entah’ dengan menyebut nama Allah yang maha rahman dan rahim.

 

 

Inspiring: (2007). Tafsir Ath-Thabari. Jakarta Selatan: Pustaka Azzam. Hal: 201-253.

‘Entah’

Posted in Agama dan Sains, Campuran, Cerpen, Lepas Lelah, Teori Kuantum on Oktober 11, 2010 by isepmalik

Tidak sulit rasanya manakala ditugaskan menjadi angin. Ketika datang tugas, “Hempaskanlah kekuatanmu kepada ruang itu!”. Sekali kutunjukkan otot-otot, maka porak-porandalah. Tidak perlu banyak pertimbangan, manakala tugas sudah disuguhkan. Aku sebagai angin tidak mengenal tanda koma. Dengan mudahnya aku bisa berargumen, hal itu dilakukan semata untuk keseimbangan dan cobaan. Hempasan itu terjadi karena keseimbangan tanah sudah diganggu oleh Anda. Akibat hempasan itu pun Anda layak menerima cobaan. Nah, setelah menerima cobaan hempasanku, kemanakah Anda akan meminta? Bukankah Anda dalam kehidupan ini sangat berharap sekali pahala? Jadi, Ganaskah aku bila dengan hempasan itu Anda mendapat surga?

Di alam semesta, rasanya teramat mudah bila dijadikan air. Konsep untuk diriku sangat luwes, bergerak mencari tempat terendah dan bentuknya mengikuti ruang tempat tinggal. Jangan heran, bila Anda sangat mengenalku. Bisa dicintai sekaligus dibenci, itulah aku, air. Anda begitu membenciku, ketika aku bergerombol menjadi banjir. Anda tidak bertanya kepadaku, “Mengapa engkau berperilaku begitu?” Mungkin Anda sudah mengetahui bahwa jawabannya akan tetap mengarah kepadamu jua. Ah, Anda memang teramat lihai memilin kata. Anda begitu mendambaku, ketika mau menghilangkan keringat dan bau dibadanmu. Tugasku teramat mudah, tinggal mengikuti kemauan Anda.

Manusia dipandang makhluk berbudaya. Apakah awal dari budaya? Aku, si kata-kata. Aku bisa mengangkat Anda ke tempat terhormat, begitu pula bisa dengan mudah menurunkannya. Begitu banyak profesor yang mengekplorasi kata-kata sehingga menjadi bermakna dan orang banyak menyanjungnya. Belum pernah terdengar dalam sejarah, seorang profesor berterima kasih kepada Aku, si kata-kata. Aku ini huruf-huruf yang Anda indra, lalu disusun dalam kepala, kemudian dikeluarkan dalam kata-kata. Begitu keluar, kata-kata tidak melakukan pertimbangan lagi terhadap dirinya. Ukurannya begini, bila yang diajak bicara merasa tidak nyaman dengan kata-kata Anda, berarti ada sesuatu yang salah dalam kepala Anda.

Ada ujaran yang berbunyi “Mulutmu harimaumu”. Ujaran ini adalah sesuatu yang aneh bagi Aku, si kata-kata. Mulut Anda itu bukan sutradara, melainkan hanyalah pekerja. Mulut digerakkan atas perintah kepala Anda, begitu pula rangkaian kata-kata yang diucapkannya. Anda mendengar berita banyak tabung gas yang meledak bukan? Awal, akhir, dan segala hiruk-pikuknya adalah kata-kata. Tabung gas itu adalah kata-kata yang mengatakan sesuatu. Tuhan sekalipun ketika mencipta sesuatu berupa kata-kata. Ketika diri-Nya ingin dikenal, maka terciptalah kata-kata. Pedoman manusia berupa kitab suci, semata-mata kata-kata. Bandingkanlah antara “Mulutmu harimaumu” dengan “berkata-katalah yang baik, atau diamlah”. Anda mencintai sesuatu, maka berkatalah, sehingga orang memahaminya. Anda membenci seseorang, maka berkatalah, sehingga orang itu merasa terhinakan. Seperti angin, udara, dan kata-kata, semuanya adalah pelayan yang melayani Anda. Berusahalah untuk menjadi pelayan diri sendiri, daripada minta dilayani orang lain. Sebab, suatu saat, Anda tidak layak lagi berkata-kata dan apa yang Anda kata-katakan akan dimintai pertanggungan.

Aku, si kata-kata, kembali ingin menyapa ‘entah’ yang bersemayam dalam diri Anda. Siapa yang sudah memahami ‘entah’, dialah sesungguhnya yang mengenal kebijaksanaan. Suatu ketika ada orang yang bertanya, “Apakah Tuhan itu ada?” Ucapku, “Jawaban yang cocok untuk Anda adalah ‘entah’”. Sebab, begitu mendapat jawaban, orang tersebut akan memberondong dengan pertanyaan-pertanyaan yang bersayap lainnya. “Aku mengirimkan ‘entah’ ke dalam diri Anda yang bertanya apakah Tuhan itu ada. Karena bagi Anda, ada atau tidak adanya Tuhan, tidaklah terlalu signifikan. Anda mengharapkan sesuatu yang empirik, tetapi substansi pertanyaannya tidak demikian. Anda membuatkan baju buat saya, tetapi ukurannya tubuh Anda. Oleh sebab itu, Anda layak mendapat ‘entah’. Orang yang meyakini keberadaan-Nya, sangat berhati-hati menggunakan kata-kata apakah Tuhan itu Ada”. Mungkinkah ‘entah’ adalah Occam’s razor[1] yang selanjutnya menjadi pijakan theory of everything[2]? ‘Entah’ adalah kedalaman sekaligus ketersingkapan. ‘Entah’ ini akan kupertanyakan kepada pria berselimut.

Terima kasih kepada anak sepupuku yang telah menginspirasi dengan pertanyaan, “Mengapa manusia diciptakan dari tanah?” Saya sendiri hanya “mampu berada dalam kubangan” laa ilaaha illa Allah dan theory of everything. Perjalanan ini akan semakin panjang,  mungkin pula sampai di akhir pengembaraan. Mungkin kamu—anak sepupuku—suatu saat akan lebih memahami keduanya dengan lebih baik, saya hanyalah orang yang terobsesi. Terima kasih kepada Bang Juno. Kepada yang menunggu “Relativitas dan Mahabbah”, saya katakan, “Nanti dulu”.


[1] Pisau cukur Occam atau pisau cukur Ockham diartikan sebagai “penjelasan paling sederhana biasanya yang benar”. Ketika banyak hipotesis untuk menggali suatu kebenaran, maka prinsip pemilihannya adalah hipotesis yang memperkenalkan asumsi dan dalil-dalil paling sedikit yang masih cukup menjawab pertanyaan.

[2] Teori segala sesuatu (TOE) diduga dari teori fisika yang sepenuhnya menjelaskan dan keterhubungan bersama semua fenomena fisik yang dikenal, dan idealnya, memiliki kekuatan prediktif untuk hasil setiap prinsip percobaan yang dapat dilakukan. Awalnya, istilah ini digunakan dengan konotasi ironis untuk merujuk kepada berbagai teori overgeneralized. Sebagai contoh, seorang kakek bernama Ijon Tichy dari cerita fiksi ilmiah Stanisław Lem tahun 1960-an yang berjudul “General Theory of Everything”. Fisikawan John Ellis mengklaim telah memperkenalkan istilah tersebut ke dalam literatur teknis dalam artikel Nature pada tahun 1986. Seiring waktu, istilah tersebut populer dalam fisika kuantum untuk menjelaskan sebuah teori yang akan menyatukan atau menjelaskan satu model teori dari semua interaksi dasar alam.

Menunggu

Posted in Campuran, Cerpen, Lepas Lelah, Teori Kuantum on Oktober 7, 2010 by isepmalik

Wajahnya sumringah memancarkan pesona dalam duduk. Sebelumnya, sudah dibersihkan badannya dari segala penat dan keringat. Dipilih seperangkat pakaian terbagus yang dipunyainya. Tidak ada acara dan jadual lain menjelang dan sehabis Maghrib kali ini. Sebagian pesona yang terpancar itu agak berkurang ketika melihat jalanan yang sebelumnya kering menjadi agak basah. Gerimis hujan dan dinginnya udara tidak membuatnya beranjak dari tempat duduk. Bila dihitung-hitung, sudah dua jam dia duduk di situ, menunggu. Sekali-kali dirapikan kembali pakaiannya, dipantas-pantaskan kembali dandanannya. “Biarkan aku menunggu, sampai tidak mengenal ‘entah’”, katanya. Dalam menunggu, dia pun rupanya sedang ditunggu. Terhadap hal itu, dia banyak tidak menyadarinya.

Nun jauh sekali di sana, di dunia berbeda yang hanya mengenal ‘entah’. Sekarang dia berkelana pada arah jalan yang serba terbalik. Bila sebelumnya dia hanya mengenal waktu itu menuju masa depan, kini malah berjalan sebaliknya. Dia hanya mampu melihat orang itu ketika menuju kamar mandi, orang yang sekarang menunggunya! Bahkan syaraf-syaraf pusat sudah memberi kode memersilakan orang yang menunggu untuk gelisah. “Tunggulah sampai engkau tidak mengenal ‘entah’, tetapi ijinkan kita berbagi ‘relatif’. Kemampuanku hanya sampai melihat engkau memasuki kamar mandi, itupun aku ketahui dari handuk yang engkau gantungkan di pundakmu. ‘Entah’, apakah aku diberi kesempatan menjadikan engkau sebagai handuk yang bergelantung manja dipundakku. Memang air yang engkau pakai untuk membersihkan tubuhmu, tetapi sebagai kegiatan puncak ritual mandimu tetap menggunakan handuk. Sampai saat ini, aku hanya mengenal ‘entah’ dan ‘relatif’. Hanya ‘relatif’ yang bisa aku bagi”.

Memang ada benarnya opini umum yang mengatakan bahwa menunggu adalah kegiatan yang paling membosankan. Bisa dihitung dengan jari orang yang berkata, “Aku lebih baik menunggu, daripada ditunggu”. Menunggu dan ditunggu berimplikasi luas, bahkan boleh jadi itu berhubungan dengan kepribadian seseorang. Menunggu sendiri dalam kehidupan manusia memang tidak dapat dihindarkan. Ali-alih menghindar dari menunggu, alangkah lebih baik bila bagaimana menunggu—yang Anda tidak terhindar darinya—menjadi kegiatan yang menyenangkan. Ketika menunggu, Anda memasuki waktu yang sepenuhnya milik sendiri, tidak berbagai relativitas waktu pada saat itu. Diam, membisu, tengok kanan kiri, gelisah, dan berujung marah. Anda tidak lagi memerhatikan sekitarnya. Anda berada dalam waktu milik sendiri. Anda hanya menunggu, memerhatikan kepastian yang ditunggu.

Sesuatu yang menyenangkan diri Anda, tentulah harus diciptakan sendiri. Bila Anda hanya menunggu yang menyenangkan akan datang dengan sendirinya, maka itu ibarat Anda berharap menjadi handuknya Angelina Jolie ketika sedang mandi. Ujung-ujungnya itu hanyalah sebuah khayalan belaka. Ketika menunggu, seseorang sedang mengasah kesabarannya, berarti di situ terjadi akumulasi energi yang bersiap-siap membutuhkan saluran. Bila masih kesulitan untuk mengaktifkan hati melalui aktivitas zikir, maka ikatkanlah pikiran kepada sesuatu dalam rangka menyalurkan akumulasi energi. Patut diingat lagi bahwa ketika menunggu, kita memiliki waktu sendiri dan di situ pula terjadi permainan kesabaran. Implikasi ketika berada dalam waktu sendiri sangat tergantung kepada aktivitas yang dilakukan. Bandingkan antara orang yang bermain game dan meditasi. Bandingkan reaksi kedua orang tersebut, apabila ketika sedang asyik-asyiknya tiba-tiba ada yang memanggil. Seperti si pemancing yang sabar memberikan umpan dan dilemparkannya ke tengah kolam, ditunggunya reaksi dari ikan, lama umpan tidak ada yang menyambar, diganti lagi umpannya dan dilempar kembali. Begitulah mengasah kesabaran.

Menunggu itu berada dalam waktu miliknya, yang ditunggu sedang dipermainkan kenisbian waktu. Manakalah hujan berganti dari gerimis menjadi deras, “Apakah aku akan menunggu sampai tidak mengenal ‘entah’? Bukankah handuk dilupakan manakala fungsinya sudah ditunaikan? Bukankah pemancing mengabaikan kail ketika umpan sudah disergap ikan? Lakukanlah aktivitas yang menyenangkan ketika Anda sedang menunggu. Bersabarlah, sebagaimana sabarnya kematian menunggu Anda. Anda menjadi orang saleh atau durhaka, kematian tetap memberi kesempatan. Sebab, tidak ada ‘entah’ dan ‘relatif’ manakala ditunggu kematian.

Spiritualitas Qurban

Posted in ARTIKEL, Campuran, Lepas Lelah on Oktober 5, 2010 by isepmalik

Bulan terakhir dalam kalender hijriyah ini disebut “Dzulhijjah” karena di dalamnya ada pelaksanaan Haji. Bulan terakhir dalam kalender hijriyah ini juga disebut dengan “Idul Adha” yang kita terjemahkan dengan “Hari Raya Qurban”, karena pada bulan ini dilaksanakan “Udlhiyyah”, yang artinya “Qurban” . Kebetulankah ini? Tidak. Satu bulan dua arti yang merupakan ibadah di dalamnya ini bukan sebuah kebetulan, tetapi di dalamnya sarat dengan hikmah dan makna yang sangat dalam.

Haji dan Qurban di bulan Dzulhijjah ini kedua-duanya secara syariat hanya dialamatkan kepada orang-orang yang mampu. Orang yang tidak mampu tidak berkewajiban melaksanakan Qurban, apalagi menunaikan ibadah Haji. Syarat kemampuan ini menunjukkan bahwa Haji dan Qurban bukanlah ibadah biasa dan bukan pula ibadah ala kadarnya, tetapi kedua ibadah tersebut merupakan ibadah yang istimewa dan dirasakan berat pelaksanaannya.

Jika dilihat dari aspek waktu pelaksanaannya pada bulan DzulHijjah yang merupakan bulan terakhir dalam kalender hijriyah, maka ini menunjukkan bahwa dibalik penempatan kedua ibadah di akhir tahun ini mengandung hikmah dan makna spiritual yang sangat berharga. Tidak mungkin Allah menetapkan sebuah pranata ibadah baik jenis, cara maupun waktunya tanpa ada nilai hikmah di dalamnya, karena Allah Maha Suci dari hal-hal yang sia-sia tanpa hikmah dan makna. Sekurang-kurangnya hikmah dan makna kedua ibadah yang dilaksanakan di akhir tahun ini kiranya menjadi spirit bagi umat Islam untuk menyongsong kehadiran tahun 1431 hijriyah untuk bisa lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya.

Syari’at haji dan Qurban bukan merupakan syariat baru bagi Nabi Muhammad Saw. dan seluruh ummatnya, tetapi kedua ibadah ini juga merupakan syariat para rasul dan umat sebelumnya. Syariat Haji dan Qurban  yang dibawa oleh Nabi Muhammad Saw. ini sesungguhnya merupakan Syariat Nabi Ibrahim As. Perjalanan Haji dan Ibadah Qurban yang dijalani umat Islam ini tidak lain adalah napak tilas perjalanan hidup Nabi Ibrahim As., sehingga untuk menggali hikmah dan nilai-nilai spiritualnya tidak bisa dipisahkan dengan sosok Nabi Ibrahim As. yang dikenal sebagai bapak para nabi dan rasul.

Pelaksanaan Qurban hanya diperintahkan di bulan Dzulhijjah, berarti Qurban hanya dilakukan sekali dalam setahun. Oleh karena itu secara substantif Qurban bukanlah sekedar momentum untuk membagi-bagikan daging kepada fakir miskin. Sebab kalau Qurban itu membagi-bagikan daging kepada fakir miskin, mengapa Allah Swt. menetapkan pelaksanaan Qurban hanya sekali dalam setahun? Tidakkah sebaiknya fakir miskin itu diberi daging lebih sering lagi, agar standar gizi mereka terpenuhi sehingga mereka memiliki kekuatan fisik untuk bisa bekerja lebih maksimal lagi?

Esensi Qurban yang disyariatkan di bulan Dzulhijah sebagai bulan terakhir dari kalender hijriyah ini, bukanlah sekadar momentum untuk membagi-bagikan daging kepada fakir miskin, tetapi di balik itu semua ada nilai-nilai spiritual yang sangat berharga bagi seluruh umat manusia. Diantara makna spiritual dari pelaksanaan Qurban dapat diperhatikan sejak awal pelaksanaannya yang melibatkan dua figur hamba Allah Swt. yang tercinta, yaitu Nabi Ibrahim As. dan Ismail As.

Al-Quran menggambarkan bahwa ketika dua orang bapak dan anak kekasih Allah Swt. itu telah siap melaksanakan Qurban sesuai dengan perintah Allah Swt.; Nabi Ibrahim As. telah siap dengan pisaunya dan Ismail telah membaringkan diri dengan penuh kepasraham di atas lubang pemotongan yang telah disediakan sebelumnya, ternyata tanpa di duga Allah Swt. berseru kepada Ibrahim As. agar Qurbannya diganti dengan seekor domba (QS. Ash Shafat: 103-107). Maka yang kemudian terjadi adalah bahwa “di satu sisi perintah Qurban terlaksana dengan baik dan pada waktu yang bersamaan yang menjadi Qurban bukanlah sosok manusia yang bernama Ismail”.

Untuk menggali makna spiritual di balik sejarah pelaksanaan Qurban tersebut perlu diajukan pertanyaan kritis-filosofis: “Mengapa Allah Swt. “meralat” sebagian perintah-Nya dalam pelaksanaan Qurban yang sebenarnya sudah pasti akan dilaksanakan oleh Ibrahim terhadap putranya Ismail tersebut?”

Padahal, kalau saja Allah Swt. tidak meralat perintah-Nya, maka Ibrahim As. dan Ismail sebagai hamba yang patuh pasti akan melaksanakan perintah Qurban itu apa adanya. Kalaulah Qurban terhadap diri Ismail seperti perintah semula itu terjadi, sebenarnya tidak akan ada yang mempersoalkan, dengan argumen bahwa perintah Allah Swt. (agama) harus diletakkan di atas segala-galanya. Hanya saja, seandainya Allah Swt. tidak “meralat” sebagian perintah-Nya, sehingga Ibrahim As. menyembelih putranya Ismail sebagai Qurban, maka sangat mungkin dipahami oleh generasi berikutnya bahwa “Ismail menjadi objek Qurban atas nama perintah Tuhan (agama)”.

Sejarah revisi pelaksanaan Qurban ini sungguh mengandung makna spiritual berupa pesan kemanusiaan yang luar biasa pentingnya. Bukan hanya bagi umat Islam, tetapi untuk seluruh umat manusia. Pesan spiritual yang penting itu adalah bahwa “manusia tidak boleh diqurbankan sekalipun atas nama Tuhan (Agama)”.

Kalau atas nama agama saja tidak boleh terjadi tindakan yang mengorbankan manusia, apalagi kalau hanya sekedar atas nama yang lain. Setinggi apapun tujuan dan kepentingan dalam hidup ini, tidak boleh terjadi sampai mengorbankan manusia. Seshahih apapun argumen yang bisa diajukan untuk menggapai suatu tujuan, tetap tidak boleh terjadi ada tindakan yang mengakibatkan korban manusia. Spirit kearifan seperti inilah sebenarnya yang hendak ditanamkan oleh Islam melalui syariat Qurban.

Empati kemanusiaan merupakan salah satu wujud komitmen esensial ketakwaan seseorang. Bahkan tidak hanya terbatas kepada manusia. Bukankah Rasulullah Saw. pernah memberikan ilustrasi bahwa “Seseorang bisa memperoleh surga lantaran kasih sayangnya kepada seekor anjing dan seseorang juga bisa terjerumus masuk neraka lantaran berbuat zhalim kepada seekor kucing” (HR. Al Bukhari). Jika tindakan seseorang kepada hewan saja bisa berakibat serius seperti itu, maka sebuah tindakan apapun kepada manusia bisa berakibat lebih serius lagi.

Bila cinta tak sampai

Posted in Campuran, Cerpen, Lepas Lelah, Teori Kuantum on Oktober 4, 2010 by isepmalik

Apa yang diharap dan dicitakan belum tentu tercapai semua. Boleh jadi baru setengahnya, bisa juga karena terlupakan, atau memang sudah seharusnya begitu. Banyak orang mengharap dan mencitakan cinta kepada seseorang yang dicintanya. Ada yang layeut sampai ke jenjang pernikahan, meski di tengah perjalanan memadu cinta penuh dengan halangan dan tantangan. Tetapi tetap dua insan ini dapat memadu cintanya, sampai beranak pinak dan beroleh ketentraman. Ada pula yang diawalnya menggebu dalam mencinta, tetapi apa mau dikata bisa juga berantakan di pertengahan perjalanan. Tidak sedikit pula yang tidak pernah menemui koneksi dalam mencinta, sang wanitanya adem-adem saja, tidak pernah menyentuh umpan yang diulurkan oleh pihak pemancing lelaki.

Banyak sudah cerita yang mengoleksi tentang memadu urusan hati ini. Tidak sedikit anak manusia yang menangis kegetiran menyaksikan film Kuch-kuch Hota Hai, atau berlinangan air mata manakala membaca dan menyimak episode Laila dan Majnun. Itulah kisah klasik mengenai kerahasiaan hati yang tersimpan dalam relung-relung terdalam kesadaran, sebagaimana diagungkan Gibran.

Mencinta dapat berkesampaian dan beroleh ketentraman. Jika mendapat ini, Anda layak untuk mempertahankannya. Karena itu adalah “surga” yang tersedia di dunia ini, yaitu berasal dari hati. Tidak ada di dunia ini yang mampu dan layak menerima keagungan Tuhan, kecuali hati (qalb). Jadi, sesuatu yang berasal dari hati itu adalah “surga”, atau dalam lain kata, itu adalah “bisikan-bisikan lembut Ilahiah”. Semaikanlah hal itu, sebagaimana atom-atom dalam diri Anda menaburkan rasa keindahan terhadap mata bilamana memandang. Pertahankanlah hal itu, sebagaimana molekul-molekul dalam diri Anda mempertahankan mata untuk tetap berada dalam posisinya. Pupuklah hal itu, sebagaimana senyawa-senyawa dalam diri Anda memupuk mata untuk menangkap kesan kecintaan terhadap sesama. Rawatlah hal itu, sebagaimana koordinasi sel-sel dalam diri Anda tetap merawat mata untuk tetap menjalankan fungsinya.

Bagaimanakah bila cinta tidak kesampaian? Ini ceritanya yang terajadi di suatu malam. “Terkadang saya berkhayal, meski tidak mungkin, ingin kembali ke jaman masa muda”, kata seorang perempuan yang pernah menaruhkan harapan dan cintanya kepada lelaki yang dijumpainya di dunia maya. Si pria, paham arah pembicaraan itu kemana, lalu berkata, “Aku sering ngotak-ngatik teori pemuluran waktu (time dilation), yang salah satunya untuk membuka kegaiban masa lalu. Terdengar bisikan kepadaku, ‘Itu tidak akan dibuka, karena kalau dibuka akan terjadi chaos‘. Bila engkau merindukan masa lalu, pandanglah bayi mungilmu yang sedang terlelap. Siapakah makhluk kecil ini? Kenapa dia bisa tiba-tiba muncul dari rahimmu? Bila engkau merindukan masa lalu, jangan sampai makhluk kecil itu merasa kehadirannya seolah-olah tidak engkau harapkan. Mengapa ketika bayi mungilmu terlelap, lalu tiba-tiba bisa menangis? Mengapa engkau merasa yakin ketika bayi menangis bahwa dia merasa lapar? Lalu engkau dengan penuh kecintaan memberinya asi yang dilahapnya dengan segera. Pernahkah engkau ketika makan sepiring nasi, lalu dengan sadar menakar bahwa sekian sendok yang engkau suap khusus untuk membuat air susu buat bayimu? Bila engkau merindukan masa lalu, pandanglah bayi mungilmu itu. Siapakah makhluk kecil itu?

Ketika beberapa menit berlalu dan tidak mendapat kiriman balasan dari si wanita, si lelaki kembali mengirim pesannya. “Apakah semua itu terjadi secara kebetulan belaka? Aku berkeyakinan, tidak. Bila engkau merindukan masa lalu karena di situ ada aku, berjalan dan tataplah masa depan. Engkau bisa kembali merajut kecintaan kepadaku melalui ilmu. Sapalah aku dengan penuh kecintaan melalui tukar pandangan dan kedalaman pengetahuan. Mengapa manusia tidak bisa memasuki kegaiban masa lalu? Karena fisik manusia tidak diberi kekuatan untuk menari dalam kecepatan cahaya di daerah sunyi. Bila engkau galau, penawarnya adalah ilmu. Bila engkau gelap, obatnya adalah cahaya. Bila cinta yang engkau harap dan citakan dari aku sampai di alam keabadian, perkuatlah hal itu dengan ilmu. Sedekah, doa anak saleh, dan ilmu yang bermanfaat akan mengalirkan engkau kepada surga. Ketika engkau sudah di sana, pastinya engkau akan berkata, “Aku tidak ingin ke masa lalu”.

Inspiring: (1992). Krane, Kenneth. Fisika Modern. Jakarta: UI Press. Hal: 32-38.