Komentar Kritis


Kebudayaan Barat modern merupakan sintesa antara ideal dan cara hidup yang berasal dari kebudayaan Yunani Kuno, kepercayaan Yahudi dan Nasrani serta kemajuan sains pada abad-abad terakhir. Sains mempelajari manusia sebagai obyek fisik, sebagai binatang yang lebih ruwet difahami, sebagai mekanisme: stimulus (rangsangan)—response (jawaban, tanggapan, reaksi), dan sebagai problema sosial. Ilmu-ilmu tersebut telah memberi kita bermacam-macam fakta dari bahan-bahan deskriptif tentang kehidupan manusia dan hubungan-hubungannya. Semua itu memberi kita informasi yang berharga dan tepat tentang bagian-bagian dari kehidupan manusia. Umpamanya pengetahuan tentang metabolisme manusia, tentang perasaan alergi, tentang Hukum Mendel mengenai warisan, tentang mekanisme pertahanan badan serta kuota kecederasan kita. Banyak sekali pengetahuan teknik yang tak dapat kita peroleh dengan jalan lain. Kita memerlukan banyak lagi fakta semacam itu agar kita dapat hidup bahagia.

Pandangan ilmiah tentang manusia adalah suatu pandangan yang dapat kita terima dan kita tidak perlu membatasinya atau menghalanginya. Kalau pandangan ilmiah itu tidak tepat, hal itu tidak boleh karena pandangan itu keliru, akan tetapi karena tidak sempurna. Terdapat suatu bahaya besar, yaitu bahaya sikap menganggap kualitas pribadi manusia yang berharga hanya sebagai organisme biologi, dan usaha untuk menginterpretasi hanya seluruhnya sebagai reaksi terhadap faktor fisik atau kimia. Sains yang menekan obyektivitas nampaknya melupakan hal yang manusiawi dalam diri manusia. Membatasi penyelidikan tentang manusia pada satu atau beberapa bidang adalah bertentangan dengan metoda filsafat, karena filsafat mencari jawaban yang sempurna dan menyeluruh kepada persoalan-persoalan. Interpretasi Freud tentang manusia menurut “libido”, atau dorongan seks, interpretasi Spengler tentang manusia sebagai “makanan binatang buas”, atau interpretasi Marx tentang manusia menurut proses ekonomi, tidak semuanya salah, akan tetapi merupakan pandangan-pandangan yang sangat berat sebelah.

Apakah dengan begitu kita harus mengikuti Sartre dan mengatakan bahwa watak manusia itu tidak ada? Asumsi semacam itu akan menimbulkan bahaya-bahaya yang sama dengan bahaya yang timbul dari konsep manusia sebagai watak tertentu. Kalau sekiranya tak ada suatu esensi yang sama bagi semuanya, tentu tak akan ada persatuan antara manusia; tentu pula tak ada ilmu psikologi atau antropologi yang pokoknya mempelajari manusia.

Pandangan Yunani bahwa manusia itu makhluk rasional adalah benar akan tetapi tidak sempurna. Akal memberi manusia keagungan dan akal adalah dasar logika bagi menuntut kebebasan. Walaupun tak ada orang yang rasional secara sempurna dan konsisten, tetapi secara potensial manusia itu rasional. Manusia harus mengikuti jejak orang Yunani untuk menghormati akal dan menyuburkannya dalam masyarakat manusia.

Penekanan agama bahwa manusia itu suatu makhluk yang hidupnya mempunyai arti dalam alam, yang berarti—penekanan terhadap harga dan martabat tiap orang, terhadap cinta dalam rasa hidup kemasyarakatan dalam hubungan manusia—adalah suatu penekanan yang benar dan sangat perlu bagi masyarakat kita sekarang. Tentu saja ini tidak berarti mengingkari perlunya meninjau kembali konsepsi tentang manusia pada zaman dahulu atau bahkan menolaknya. Tetapi pandangan agama tentang manusia itu sangat penting sekali, karena pandangan ini menolak untuk menganggap kepribadian hanya sebagai naluri alamiah yang tak terkontrol atau menganggapnya sempurna. Seperti kita katakan sebelum ini, manusia itu hidup pada suatu ketika di mana “alam” dan “jiwa” bertemu. Manusia menghadapi kemungkinan-kemungkinan besar untuk kejahatan dan untuk kebaikan.

Karena pengaruh ilmu biologi, manusia modern cenderung untuk menerangkan ketegangan dalam kehidupannya sebagai suatu konflik antara sifat-sifat kebinatangannya dan aspirasi-aspirasinya yang lebih tinggi dan yang menyertai perkembangan kekuatannya yang lebih tinggi pula. Manusia adalah ibarat anak alam, selalu berada dalam interaksi dengan lingkungannya; ia adalah suatu binatang yang hidup dalam keadaan yang berbahaya di atas sebuah planet yang kecil. Tetapi ia juga merupakan suatu makhluk yang sadar akan dirinya, suatu jiwa yang berdiri di luar alam. ia adalah pemberontak terhadap alam, menolak untuk menerima kondisi yang ada.

Dengan begitu kita melihat beberapa citra tentang manusia, dan citra-citra itu tidak terpisah sama sekali satu dari lainnya. Yang paling penting adalah keyakinan kita bahwa manusia itu bukan benda dan bukan suatu alat untuk mencapai tujuan di luar diri manusia. Kalau hal tersebut itu benar dan memang benar, memahami watak manusia adalah sangat sukar, khususnya dalam masyarakat industri sekarang. Karena didorong oleh kemampuan tekniknya yang selalu bertambah, manusia telah memusatkan segala kekuatannya untuk menghasilkan dan mengkomunikasikan benda-benda. Dalam proses ini, ia selalu mengalami dirinya sebagai benda, memanipulasikan mesin dan dimanipulaikan oleh mesin. Terdapat suatu bahaya yang jelas bahwa manusia mungkin lupa bahwa ia itu manusia. Oleh karena sebab-sebab ini, maka adalah sangat penting pada waktu ini untuk selalu memeriksa kembali tradisi-tradisi pemikiran tentang watak manusia.

(Sumber: Harold H. Titus. (1984). Persoalan-persoalan Filsafat).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: