Watak Manusia dan Masyarakat (Pendapat Hobbes dan Rousseau)


Dengan datangnya zaman Renaisans para filosof menyadari bahwa ada suatu pemikiran filsafat yang penting yang selama ini belum dilakukan orang, yaitu mengenai citra manusia dalam filsafat klasik dan filsafat keagamaan. Yang mereka pertanyakan bukan hanya bagaimana manusia itu berbeda dari binatang, akan tetapi kemungkinan apakah yang dimiliki oleh manusia agar menjadi lebih manusiawi. Bagaimana umat manusia dapat hidup bersama dengan damai dan harmonis? Dapatkah manusia itu menciptakan bentuk kehidupan yang baru, yang lebih layak untuk ditempuh? Atau, apakah terdapat sesuatu yang sangat jahat dalam watak manusia sehingga ia akan selalu melakukan kesalahan-kesalahan dari masa lalu dan sekarang?

Persoalan-persoalan ini mendorong kita untuk memperhatikan hubungan antara watak manusia dan masyarakat. Apakah terdapat watak manusia yang tidak berubah yang dapat menetapkan bentuk-bentuk masyarakat, sehingga penderitaan dan peperangan tak dapat dielakkan? Atau mungkinkah mengganti bentuk masyarakat sehingga dapat menjurus kepada perubahan dan kemajuan?

Berkembanglah dua gambaran yang berbeda tentang hubungan antara wakat manusia dan masyarakat. Pertama pada abad ke-17, Thomas Hobbes (1588-1679) menerbitkan karangannya yang berjudul Leviathan (tahun 1651), dan merupakan analisa tentang kekuasaan politik. Judul buku tersebut diambil dari Perjanjian Lama yang menggambarkan Leviathan sebagai seekor buaya raksasa yang memerintah kerajaan binatang yang tak dapat digulingkan. Hobbes yang pernah mengalami pemberontakan dan perang saudara di negeri Inggris menjadi yakin bahwa damai dan tertib memerlukan suatu pemerintah yang menjadi Leviathan yang mempunyai otoritas mutlak terhadap rakyatnya dan dapat menangkis tiap-tiap serbuan.

Hobbes mendasarkan filsafat politiknya atas analisa tentang watak manusia. Ia berpendapat bahwa pada dasarnya manusia itu bersaing, agresif, loba, anti sosial dan bersifat kebinatangan. Jika dibiarkan sendiri, sekelompok manusia akan melakukan peperangan yang terus menerus, satu terhadap lainnya. Hobbes menyerang filsafat politik Plato dan Aristoteles sebagai filsafat yang tidak realistis, yang menganggap secara keliru bahwa manusia itu mempunyai watak mampu untuk mendapat keutamaan (virtue) dan kebijaksanaan (wisdom). Hobbes mengesampingkan akal dan memperhatikan hasrat (passion) khususnya hasrat untuk mempertahankan diri. Oleh karena itu persetujuan manusia dengan negara (social contract) merupakan suatu persetujuan antara orang-orang yang sama mencintai dan mementingkan diri sendiri, yakni persetujuan untuk tidak melakukan pembunuhan massal dan membinasakan jenis manusia.

Gambaran kedua tentang kontrak sosial dikembangkan oleh filosof Perancis, Jean Jacques Rousseau (1712-1778). Rousseau mempunyai pandangan yang bertolak belakang dengan pendapat Hobbes. Ia mempunyai pandangan yang sangat optimis tentang watak manusia dan percaya bahwa manusia itu pada dasarnya baik. Kejahatan masyarakatlah yang menjadikannya mementingkan diri sendiri, dan bersifat merusak. Oleh karena itu Rousseau tidak menganggap kontrak sosial hanya sebagai doktrin perlindungan timbal balik antara manusia yang bersifat kebinatangan. Baginya, fungsi negara adalah untuk memungkinkan rakyat mendapatkan kembali sifat kebaikannya yang asli yang pernah mereka miliki sebelum terbentuknya negara. Maksud Rousseau adalah untuk mengembangkan konsepsi negara yang akan memungkinkan kita hidup secara moral sedapat mungkin.

Perhatian kita di sini bukan terhadap negara yang digambarkan oleh Hobbes dan Rousseau akan tetapi terhadap pandangan mereka berdua yang bertentangan, mengenai watak manusia. Bagi Hobbes manusia dalam keadaan alamiahnya hanya ingin menaklukkan manusia lain; ia hanya mencari keuntungan dan kemegahan, dengan merugikan orang lain. Di lain fihak, bagi Rousseau, manusia pada dasarnya bersifat baik, tetapi keadaan masyarakat sekarang merusaknya. Lebih jauh Rousseau percaya bahwa persaingan dan keinginan untuk memiliki adalah sebab rusaknya watak manusia; oleh karena itu kita harus meninjau kembali lembaga-lembaga masyarakat kita. Dalam bukunya yang masyhur “The Social Contract” (1762) ia mengatakan bahwa manusia harus mendapatkan kembali kebebasannya dalam masyarakat; untuk menjadi warga negara berarti menghendaki dan melakukan apa yang baik bagi masyarakat dan dirinya sendiri. Rousseau dianggap sebagai bapak dari teori yang paling liberal dan paling revolusioner pada zaman ini; ia berpendirian tegas bahwa para warganya mempunyai hak penuh untuk bebas dari campur tangan pemerintah. Manusia harus hidup sesuai dengan watak aslinya yang baik, dan hal ini lebih penting dari tuntutan apa saja yang dilakukan oleh negara atau masyarakat.

(Sumber: Harold H. Titus. (1984). Persoalan-persoalan Filsafat).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: