Archive for the Fasal 11 Category

Bahagia dan Celaka

Posted in Fasal 11 with tags , , , , , on April 14, 2012 by isepmalik

Ketahuilah, bahwa manusia tidak akan lepas dari bahagia dan celaka. Bahagia dan celaka terdapat pada manusia. Bila kebaikan dan keikhlasannya lebih banyak, artinya nafsaniyahnya telah diganti dengan ruhaniyah, maka celakanya akan ditukar dengan bahagia. Sebaliknya, bila mengikuti hawa nafsunya, maka kejadiannya akan sebaliknya. Bila mana sama antara bahagia dan celakanya, maka lebih diharapkan pada kebaikannya. Firman Allah dalam surah Al-An’am ayat 10:

“Barang siapa melakukan amalan baik, maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya”.

Adapun orang yang lebih banyak kebaikannya, maka ia masuk surga tanpa hisab. Firman Allah dalam surah Al-Qari’ah ayat 6-7:

“Dan adapun orang-orang yang berat timbangan (kebaikannya), maka dia berada dalam kehidupan yang diridhai”.

Dan bila ia masih mempunyai iman, ia akan keluar dari neraka dan masuk surga. Yang dimaksud dengan bahagia dan celaka ialah kebaikan dan keburukan yang silih berganti. Rasul bersabda:

“Orang yang celaka boleh jadi bahagia dan orang yang bahagia boleh jadi celaka. Tolok ukurnya adalah bilamana kebaikannya lebih banyak, maka ia bahagia”.

Manusia yang bertaubat, beriman dan beramal saleh, berarti ia sedang menggantikan kemalangannya menjadi bahagia.

Adapun yang murni dari azali tentang bahagia dan celaka semua manusia pun sama. Nabi s.a.w. bersabda:

“Orang yang akan bahagia telah ditetapkan kebahagiaannya dalam perut ibunya. Begitu pun yang celaka telah ditentukan celakanya dalam perut ibunya”.

Namun seorang pun tidak boleh membahas tentang bahasan ini, sebab bahasan di bidang ini adalah rahasia Qudrat yang kalau manusia memaksakan pembahasannya ia akan terpeleset menjadi zindik (meninggalkan ibadah syariat dan merasa cukup dengan suratan takdir).

Seseorang tidak boleh berhujan tentang rahasia kudrat, umpamanya sahaja: Seseorang meninggalkan amal baik ia berkata:

“Aku sudah ditentukan untuk menjadi orang celaka, untuk apa aku beramal baik, dan kalaupun aku ditentukan untuk menjadi orang bahagia, dosa-dosaku tidak akan menjadi mudharat bagiku”.

Syeikh Abdul Qadir (q.s) membuat contoh: Seperti Iblis, ketika ia mengelak tentang tidak menghormati Adam, ia berkelit pada hakikat Qadar. (Ketika ia ditanya mengapa engkau tidak menghormati Adam. Ia menjawab: “Inikah takdir-Mu Ya Allah”). Dengan begitu ia kufur dan diusir dari surga. Sebaliknya, Nabi Adam a.s. dan Nabi Muhammad s.a.w selalu menimpakan kesalahannya pada dirinya, maka mereka bahagia dan diberi rahmat.

Yang wajib bagi semua muslim adalah jangan berpikir tentang hakikat qadar, agar ia tidak tergoda dan terpeleset menjadi zindik. Justru yang wajib bagi seorang muslim mukmin adalah beritikad bahwa Allah s.w.t adalah Maha Bijaksana. Segala sesuatu yang terjadi dan terlihat oleh manusia di muka bumi ini, seperti: kekufuran, kemunafikan, kefasikan, dan sebagainya, itu adalah sebagai perwujudan dari ke-Maha Kuasaa-an Allah dan Hikmah-Nya dari segala kejadian tersebut. Dalam hal ini terdapat rahasia yang luar biasa yang tidak akan dapat digali, kecuali oleh Nabi Muhammad s.a.w. Dalam sebuah hikayat diceritakan bahwa sebahagian orang arif bermunajat kepada Allah dengan kata-kata: “Ya Allah Engkau telah memastikan dan Engkau telah menghendaki dan Engkau telah menciptakan maksiat dalam diriku, maka datanglah suara ghaib: Hai hamba-Ku, kata-katamu itu adalah syarat tauhid, mana hak ibadahmu? Orang arif tadi kembali melaksanakan ibadah dan dia berkata: “Aku salah dan aku telah berdosa dan aku telah berbuat zalim pada diriku”. Kembali datang suara ghaib: “Kuampuni salahmu. Aku yang mengampuni dan Aku yang menyayangi”.

Maka yang wajib bagi semua mukmin adalah berpandangan bahwa amal yang baik adalah atas Taufik Allah dan amal yang jelek adalah dari dirinya, sehingga ia termasuk ke dalam hamba-hamba Allah yang diceritakan dalam firman Allah dalam surat Ali Imran ayat 135:

“Dan juga orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya dirinya sendiri, mereka mengingat Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah”.

Kalau seorang hamba menganggap bahwa maksiat adalah dari dirinya, maka ia termasuk orang yang beruntung dan selamat, ketimbang ia menganggap bahwa dosa adalah dari Allah, kalaupun secara hakiki memang Allah penciptanya,

Sabda Nabi s.a.w. bahwa bahagia dan celaka telah ditetapkan dalam perut ibunya. Yang dimaksud dengan kata “ibu” menurut hadits tadi adalah berkumpulnya empat unsur (tanah, air, api, dan angin) yang menimbulkan kekuatan kemanusiaan. Tanah dan air menimbulkan kebahagiaan, sebab keduanya merupakan sumber hidup dan yang menimbulkan iman, ilmu, dan tadadhu di kedua-duanya merupakan penghancur dan yang mematikan. Maha Suci Allah yang mengumpulkan antara sesuatu yang berlawanan di dalam tubuh manusia, seperti dalam tubuh manusia terkumpul api dan air, demikian pula memadukan antara cahaya dan kegelapan dalam awan. Firman Allah:

“Dialah Tuhan yang memperlihatkan kilat kepadamu untuk menimbulkan ketakutan dan harapan, dan Dia mengadakan awan mendung” (Ar-ra’d: 12).

Sayyid Yahya bin Mu’ad Ar-Razi ditanya: “Wahai Syeikh dengan apa engkau ma’rifat kepada Allah”. Beliau menjawab: “Dengan terpadunya sesuatu yang berlawanan”. Maka dari itu manusia adalah gambaran dari Allah. Keterpaduan tersebut disebut Kaunan Jami’an dan ‘Alaman Qubra, karena Allah menciptakan dengan kekuatannya, yaitu dengan sifat memaksa dan sifat lemah lembut. Oleh karena itu cermin pun mempunyai dua sisi, yaitu sisi yang kasar dan sisi yang halus. Hal itu menunjukkan suatu nama yang terpadu. Berbeda dengan benda-benda yang lain, ia diciptakan dengan satu kekuasaan saja, misalnya sifat halus sahaja seperti malaikat. Malaikat adalah gambaran dari sifat Allah Subbuhun Quddusun sahaja. Atau sifat memaksa sahaja, seperti Iblis dan keturunannya. Mereka adalah gambaran dari sifat Al-Jabbar. Oleh karena itu mereka selalu sombong, antara sifat lemah lembut dan memaksa. Karena manusia menjadi makhluk yang terpadu, memadu semua alam, alam tinggi maupun alam bawah, maka para Nabi dan para Wali tidak lepas dari terpeleset. Pada Nabi dijaga dari mengerjakan dosa besar setelah diangkat menjadi Nabi dan Rasul, tetapi dari dosa kecil tidak terjaga. Sedangkan para Wali tidak Maksum tetapi Mahfud. Mereka dijaga dari dosa-dosa besar setelah sempurna kewaliannya.

Syeikh Syahqiq Al-Balhiyi r.a. berkata bahwa tanda bahagia itu ada lima:

  1. Hati yang lunak
  2. Banyak menangis (karena ingat akan dosa)
  3. Zuhud dari dosa
  4. Tidak banyak lamunan
  5. Rasa malunya tinggi.

Sebaliknya, tanda celaka ada lima:

  1. Hati yang keras
  2. Susah mengeluarkan air mata
  3. Mencintai dunia
  4. Banyak lamunan
  5. Sedikit malunya.

Nabi bersabda bahwa tanda bahagia itu ada empat:

  1. Bilamana mendapatkan amanat ia bertindak adil
  2. Kalau berjanji ia memenuhi
  3. Benar dalam berbicara
  4. Bila berdebat tidak mencaci maki.

Sebaliknya, tanda celaka ada empat:

  1. Khianat dalam amanat
  2. Mengingkari janji
  3. Bohong bila berbicara
  4. Mencaci maki bila berdebat

Seorang salik harus banyak mengampuni kesalahan saudara-saudaranya, karena sifat pengampun adalah dasar agama yang paling tinggi. Allah memerintahkan kepada Nabi Muhammad s.a.w.:

“Berikanlah ampunan pada mereka. Perintahkan kebajikan dan jangan terpengaruh oleh orang-orang yang bodoh” (Al-A’raf: 199).

Perintah “ampunilah” bukan hanya ditujukan kepada Nabi, tetapi perintah tersebut adalah umum bagi semua umat Nabi Muhammad s.a.w. Karena suatu perintah bila keluar dari seorang raja pada seorang pegawai berarti perintah bagi seluruh warga negara di bawah pegawai tersebut. Kalau saja perintah itu dimaksudkan dengan khufil afwa adalah kamu harus berkelakuan sebagai seorang pengampun. Orang yang menjadi pengampun atas kesalahan orang lain, berarti ia sudah menggunakan nama di antara nama-nama Allah, yaitu Al-Afuwwu. Allah berfirman dalam surah Asy-Syura ayat 40:

“Maka barang siapa memaafkan dan berbuat baik maka Allah memberi pahala kepadanya”.

Ketahuilah sifat celaka akan diganti dengan sifat bahagia. Begitu pun sebaliknya, bahagia akan diganti dengan celaka melalui pendidikan, seperti sabda Nabi s.a.w.:

“Setiap anak dilahirkan dalam keadaan membawa fitrah Islam, tetapi kedua orang tuanya yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi”.

Hadits ini menjadi dalil bahwa setiap manusia menerima menjadi bahagia maupun celaka. Kita tidak boleh mengatakan bahwa seorang manusia pasti bahagia atau pasti celaka secara mutlak. Tetapi bicaralah bahwa ia akan menjadi orang bahagia bila kebaikannya lebih banyak dari keburukannya dan ia akan celaka bila keburukannya lebih banyak daripada kebaikannya. Orang yang menghukumi orang lain bukan kata-kata tadi, berarti ia telah tersesat, sebab ia telah beritikad bahwa manusia masuk surga tanpa amal dan taubat dan masuk neraka tanpa maksiat. Itikad seperti ini bertentangan dengan nash Al-Quran, sebab Allah telah menjadikan surga bagi ahli kebaikan dan neraka bagi ahli kufur, ahli syirik serta ahli maksiat. Allah berfirman:

“Barang siapa mengerjakan amal yang saleh maka pahalanya untuk dirinya sendiri dan barang siapa yang berbuat jahat maka dosanya atas dirinya sendiri”.

Firman Allah:

“Pada hari ini tiap-tiap jiwa diberi balasan dengan apa yang dilakukannya. Tidak ada yang dirugikan” (Al-Mu’min: 17).

Firman Allah:

“Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya” (An-Najm: 39).

Firman Allah:

“Dan ketahuilah kebaikan apa yang kamu usahakan bagi dirimu, tentu kamu akan mendapat pahalanya di sisi Allah” (Al-Baqarah: 110, Al-Muzammil: 20).

Iklan