Archive for the Al-Hikam Category

Hati dan Akal

Posted in 37. Hati dan Akal with tags , , , , , on November 8, 2012 by isepmalik

Berbeda antara orang yang mengambil dalil bersama Allah swt dengan orang yang mengambil dalil atas-Nya. Orang yang mengambil dalil bersama Allah swt itulah yang mengenal haq, meletakkan pada tempatnya, dan menetapkan terjadinya sesuatu dari asal mulanya. Mengambil dalil atas Allah swt karena tidak sampai kepada-Nya. Maka, bilakah Allah swt itu ghaib sehingga memerlukan dalil untuk menyatakan-Nya dan bilakah Allah swt itu jaug sehingga memerlukan alam untuk sampai kepada-Nya.

Nur Ilahi yang menyinari hati memperlihatkan Allah swt terlebih dahulu sebelum yang selain-Nya. Akal melihat anasir alam dan kejadian-kejadian yang berlaku terlebih dahulu sebelum sampai kepada Tuhan yang mengatur segala urusan orang-orang. Hati orang-orang melihat wujud Allah swt mewujudkan alam dan apa yang berlaku di dalamnya; dan akal orang-orang melihat wujud alam sebagai dalil kepada wujud Allah swt. Orang yang sampai kepada Allah swt melihat bahwa wujud Allah swt adalah Wujud Hakiki dan wujud Allah swt menerangi wujud makhluk sehingga makhluk menjadi nyata. Orang yang pada peringkat mencari melihat Allah swt itu ghaib dan jauh, dan jalan untuk mengenal Allah swt adalah dengan cara mengenal ciptaan-Nya. Wujud makhluk menjadi bukti kepadanya tentang wujud Allah swt, karena makhluk tidak terjadi dengan sendirinya.

Perbincangan Hikmah 8 menyentuh golongan pencari dan golongan yang dicari. Orang yang mencari menempuh jalan yang sukar-sukar sebelum bertemu dengan yang dicarinya. Contoh terbaik orang yang mencari ialah Salman al-Farisi yang mendapat julukan Pencari Kebenaran. Beliau berasal dari Isfahan. Ayahnya seorang yang terkenal kaya-raya dan berpegang kuat pada agama Majusi. Salman bertugas menjaga api dan bertenggung jawab memastikan api itu tidak padam. Suatu hari beliau menghampiri gereja Nasrani. Beliau tertarik melihat cara orang Nasrani bersembahyang. Setelah bertukar fikiran dengan mereka dan mempelajari tentang agama Nasrani, beliau berpendapat agama Nasrani lebih benar daripada agama Majusi, lalu beliau memeluk agama Nasrani. Beliau kemudian pergi ke Syria untuk mendalami agama Nasrani. Beliau tinggal dengan seorang pendeta dan menjadi pelayannya sambil belajar. Setelah pendeta itu meninggal dunia, Salman pergi ke Mosul untuk memenuhi kehendak wasiat pendeta tersebut. Di sana beliau tinggal dan berkhidmat kepada seorang pendeta juga. Apabila hampir ajalnya pendeta kedua ini mewasiatkan kepada Salman supaya pergi ke Nasibin dan berkhidmat kepada seorang salih yang tinggal di sana. Salman kemudian berpindah ke Nasibin. Pendeta di Nasibin kemudian mewasiatkan kepada Salman agar pergi ke Amuria dan berkhidmat kepada seorang salih di sana. Salman berpindah ke Amuria. Ketika pendeta di Amuria itu hampir menemui ajalnya, beliau memberi amanat kepada Salman bahwa sudah hampir masanya kebangkitan seorang nabi yang mengikuti agama Ibrahim as secara murni. Nabi yang baru muncul itu akan berhijrah ke satu tempat yang banyak ditumbuhi pohon kurma dan terletak di antara dua bidang tanah berbatu-batu hitam. Tanda-tanda  yang jelas tentang kenabiannya ialah dia tidak mau makan sedekah tetapi menerima hadiah. Di bahunya ada cap kenabian yang bila dilihatnya segera akan dikenali kenabiannya. Setelah pendeta yang memberi amanat itu meninggal dunia berangkatlah Salman mengikuti rombongan Arab dengan menyerahkan kepada mereka lembu-lembu dan kambing-kambingnya. Sampai di Wadi Qura, Salman dianiaya dan dijual kepada orang Yahudi. Kemudian Salman dijual kepada orang Yahudi yang lain. Tuannya yang baru itu membawanya keYatsrib. Ketika melihat negeri itu, Salman meyakini bahwa itulah negeri yang diceritakan oleh pendeta yang dulu menjaganya. Ketika Rasulullah saw berhijrah ke Yatsrib, Salman datang menemui baginda saw di Quba dan memberikan makanan sebagai sedekah kepada baginda saw dan sahabatnya. Rasulullah saw menyuruh mereka makan, tetapi baginda saw tidak menjamah makanan tersebut. Keesokan harinya, Salman datang lagi membawa makanan sebagai hadiah. Rasulullah saw makan bersama-sama sahabatnya. Semasa Rasulullah saw berada di Baqi’, Salman pergi lagi menemui Baginda saw. Rasulullah saw ketika itu memakai dua helai kain lebar, satu sebagai sarung dan satu lagi sebagai baju. Salman menjengkuk dan mengintai untuk melihat belakanag Baginda saw. Rasulullah saw mengerti akan maksud Salman lalu baginda saw mengikat kain burdah dari leher Baginda saw sehingga kelihatanlah cap kenabian yang dicari Salman. Melihatnya Salman terus menangis dan menciumnya. Akhirnya beliau temui kebenaran yang telah beliau cari di berbagai tempat.

Iklan

Lahir dan Batin

Posted in 36. Lahir dan Batin with tags , , , , , on November 6, 2012 by isepmalik

Apa yang tersimpan dalam keghaiban rahasia hati berbekas nyata pada zahiriyahnya

 

Allah swt mengaruniakan kepada hati hamba-hamba-Nya yang bahagia dengan Nur Zikir, Nur Kalbu, Nur Akal, Nur Iman an Nur Makrifat. Karunia Allah swt yang demikian itu merupakan rahasia-rahasia yang tidak diketahui oleh makhluk. Setiap hamba yang dibawa ke Headirat-Nya mempunyai rahasia sendiri dan tidak diketahui oleh hamba-hamba yang lain, walaupun mereka berada pada tingkatan yang sama. Seorang guru pun tidak tahu rahadia muridnya dengan Tuhannya. Apa yang Allah swt karuniakan kepada seorang hamba pilihan-Nya tidak serupa dengan yang dikaruniakan kepada hamba pilihan yang lain. Karunia Allah swt kepada seorang nabi berbeda daripada karunia terhadap nabi-nabi yang lain. Karunia Allah swt yang tersimpan dalam keghaiban rahasia hati itu menjadi penggerak kepada pembentukan diri seseorang, hingga dia dapat dikenal dan dibedakan dari orang lain. Karunia Rahasia Allah swt kepada Isa as menyebabkan beliau dikenal sebagai Ruh Allah. Karunia Rahasia Allah swt kepada Musa as menyebabkan beliau dikenal sebagai Kalim Allah. Karunia Rahasia Allah swt kepada Ibrahim as menyebabkan beliau dikenal sebagai Khalil Allah. Karunia Rahasia Allah kepada Muhammad saw menyebabkan baginda dikenal dengan Habiballah. Aulia Allah swt juga menerima karunia Rahasia Allah dan masing-masing memiliki kepribadian tersendiri.

Nur Ilahi yang menyinari hati seseorang akan mengubah suasana hati itu dan sekaligus perwatakan dan perawakan orang itu. perubahan pada perwatakan dapat dilihat pada tingkah-laku perbuatan. Sinar Nur Zikir akan melahirkan seorang yang gemar berzikir, mengingati Allah swt ketika duduk, berdiri, ketika sendirian dan juga ketika berada dalam perkumpulan. Lidahnya senantiasa basah dengan sebutan nama-nama Allah swt. Sinar Nur Kalbu akan membuat seseorang berlapang dada, tidak cemas menghadapi ujian dan gemar mendekati Allah swt. Sinar Nur Akal akan melahirkan sikap suka bertafakur sehingga terbukalah kepadanya rahasia-rahasia ketuhanan yang menjadi penggerak kepada perjalanan alam maya ini. Muncullah dari lidahnya Kalam Hikmah yang mempesonakan siapa saja yang mendengarnya. Sinar Nur Iman mewujudkan keyakinan yang tidak terbagi kepada perkara ghaib yang dialaminya sekalipun fikiran tidak dapat menerimanya. Kepercayaan dan keyakinannya tidak tergoncang lantaran mendapat bantahan dan sindiran. Sinar Nur Makrifat menerangi mata-hati untuk mengenal Allah swt, melihat-Nya pada semua kejadian. Pandangan mata-hatinya tidak kabur lantaran kekeruhan-kekeruhan yang terjadi di dalam dunia ini. Pandangan mata-hatinya tidak terbalik lantara kekeruhan-kekeruhan yang terjadi di dalam dunia ini. Pandangan mata-hatinya tidak terbalik lantaran mendapat kemuliaan dan kekeramatan.

Nur Ilahi bukan saja mengubah perwatakan tetapi juga mengubah perawakan. Bukan bentuk muka yang berubah tetapi cahaya pada wajahnya yang berubah, menyebabkan siapa saja yang melihatnya akan merasa senang. Misalnya, cahaya Nur Ilahi yang gilang gemilang menyinari wajah Yusuf as telah mempesonakan wanita-wanita Mesir sehingga mereka tidak sadar mengiris jari sendiri dan tidak merasa sakitnya akibat terpukau memandang keindahan wajah Yusuf as. Begitulah kuatnya kesan sinar Nur Ilahi yang tersembunyi secara ghaib di dalam hati ruhani hamba-hamba Allah swt yang dipilih untuk memperolehnya.

Anugerah Allah swt, yaitu nur-nur, kepada hati hamba-hamba-Nya yang beriman menjadi daya dan upaya bagi hati untuk berpegang kuat kepada tauhid, mencintai segala yang bersesuaian dengan Islam dan membenci segala bentuk kekufuran. Daya dan upaya nur yang pada hati ternyata melalui perbuatan dan juga wajah orang berkenaan.

Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka rukuk dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud (QS. Al-Fath:29).

Tanda nyata pada sifat pengikut-pengikut Nabi Muhammad saw adalah mereka tidak berkompromi pada perkara yang merusakkan akidah. Iman tidak boleh ditukar dengan harta, pangkat atau kemuliaan. Iman adalah cahaya dan kekufuran adalah kegelapan. Cahaya dan gelap tidak dapat bersatu.

Mereka yang sangat keras menentang kekufuran itu sangat lemah lembut apabila bersama-sama dengan orang yang beriman. Hubungan hati-hati yang beriman adalah kasih sayang dan kerinduan. Orang yang beriman mengingkan kebaikan kepada saudaranya yang beriman. Mereka tidak merusakkan atau menjatuhkan sesama mereka. Kebaikan yang Allah swt karuniakan digunakan untuk meringankan beban saudara-saudaranya yang beriman. Mereka mengutamakan orang yang beriman daripada orang yang tidak nyata imannya atau yang nyata kekufuran dan kemunafikannya. Keselamatan iman adalah apabila ia mempertahankannya dari kekufuran dan kemunafikan. Akal mengenali kekufuran melalui tanda-tanda yang diceritakan oleh ayat-ayat Al-Quran. Hati mengenali kekufuran melalui Nur Ilahi yang membuka kekufuran dan kemunafikan itu kepadanya.

Nur karunia Allah swt yang menjadi daya dan upaya hati seterusnya mempunyai kekuatan untuk mengawal pancaindera orang yang beriman itu. setiap anggota digunakan untuk berbakti kepada Allah swt, ia tidak mau berbuat maksiat. Orang yang beriman tekun berbuat ibadah, mencari karunia dan keridhaan-Nya. Nur yang dalam rahasia hati itu juga memancarkan sinarnya sehingga kelihatan pada wajah orang yang tersebut. Jika perasaan yang bersembunyi dalam hati, seperti marah dan riya yang dapat terlihat pada wajah, sinar cahaya nur lebh kuat lagi berbekas pada wajah.

Barangsiapa yang jernih dalam batinnya, akan diperbaiki Allah apa yang nyata pada wajahnya (Ucapan Umar al-Khattab).

Kesucian hati seseorang memancarkan cahaya yang dapat ditangkap oleh cermin hati orang lain yang bersih. Apabila cahaya iman berjumpa dengan cermin hati orang yang beriman akan lahirlah rasa persaudaraan muslim yang sejati. Persaudaraan yang begini tidak ada kepentingan diri dan tidak ada perlombaan untuk menduduki tempat yang lebih tinggi. Mereka saling bantu-membantu dalam melakukan pengabdian kepada Allah swt.

Awal dan Akhir

Posted in 34. Awal dan Akhir, 35. Awal dan Akhir with tags , , , , , on November 1, 2012 by isepmalik

Tanda akan berjaya pada akhir perjuangan adalah menyerah diri kepada Allah swt pada awal perjuangan. Barangsiapa cemerlang permulaannya, akan cemerlanglah diakhirnya.

Hikmah 34 merumuskan intisari kesemua Kalam Hikmah yang diuraikan terlebih dahulu. Berserah diri kepada Allah swt, bertawakal kepada-Nya dan mengembalikan segala urusan kepada-Nya adalah jalan untuk mendekati Allah swt. Kesemua ini boleh diibaratkan sebagai kendaraan, sementara ilmu dan amal diibaratkan sebagai roda. Siapa yang hanya membina roda, tetapi tidak membina kendaraan maka dia akan memikul roda bukan menaiki kendaraannya. Dia akan keletihan dan berhenti di tengah jalan sambil asyik bermain-main dengan roda seperti kanak-kanak.

Persoalan berserah diri sering menimbulkan kekeliruan kepada orang-orang yang larut membincangkan mengenainya. Suasana hati dan derajat akal mengeluarkan berbagai uraian tentang berserah diri kepada Allah swt. Ada orang beranggapan berserah diri adalah berpeluk tubuh, tidak melakukan apa-apa. Ada pula yang berpendapat bahwa berserah diri itu hidup dalam ibadah semata-mata, tidak mempedulikan kehidupan harian. Banyak lagi anggapan dan pendapat yang dikemukakan dalam menjelaskannya. Sifat orang yang berserah diri adalah merujuk sesuatu perkara yang diperselisihkan kepada Allah swt. Mereka tidak fanatik memegang suatu faham yang diperoleh melalui fikirannya atau pendapat orang lain. Mereka bersedia melepaskan faham dan pendapat pribadi sekiranya ia berhadapan dengan peraturan dan hukum Tuhan. Sewaktu hidup di dalam dunia ini mereka mengembalikan segala urusan kepada Allah swt karena mereka yakin bahwa diri mereka dan urusannya akan kembali kepada Allah swt di akhirat kelak. Perjumpaan dengan Allah swt di akhirat menguasai tindakan mereka sewaktu hidup di dunia ini.

Tentang sesuatu apapun kamu berselisih, maka putusannya (terserah) kepada Allah. (yang mempunyai sifat-sifat demikian) Itulah Allah Tuhanku. Kepada-Nya aku bertawakkal dan kepada-Nya aku kembali (QS. Asy-Syura:10).

Orang yang berserah diri kepada Allah swt mengembalikan urusan mereka kepada-Nya, meyakini bahwa golongan manusia yang benar-benar mengerti kehendak Allah swt adalah golongan nabi-nabi. Oleh sebab itu pagangan dan tindakan para nabi dijadikan sandaran dalam membentuk pegangan pribadi dan juga dalam melakukan tindakan.

Dan Ya’qub berkata: “Hai anak-anakku janganlah kamu (bersama-sama) masuk dari satu pintu gerbang, dan masuklah dari pintu-pintu gerbang yang berlain-lain; Namun demikian aku tiada dapat melepaskan kamu barang sedikitpun dari pada (takdir) Allah. Keputusan menetapkan (sesuatu) hanyalah hak Allah; kepada-Nya aku bertawakkal dan hendaklah kepada-Nya saja orang-orang yang bertawakkal berserah diri” (QS. Yusuf:67).

Ayat di atas menceritakan sifat berserah diri yang ada pada Nabi Yakub as. Beliau menasihatkan anak-anaknya yang sebelas orang itu memasuki kota Mesir melalui pintu-pintu yang berlainan. Ia menunjukkan Nabi Yakub as mengakui tuntutan berikhtiar sebagaimana kedudukan mereka sebagai manusia. Walaupun begtu Nabi Yakub as mengingatkan pula anak-anaknya bahwa mengikuti nasihat beliau bukanlah jaminan anak-anaknya akan selamat dan mendapatkan apa yang mereka cari. Ikhtiar pada zahir mesti disertai dengan iman pada batin. Orang yang beriman meyakini bahwa Allah swt saja yang mempunyai kuasa penentuan. Oleh karena itu orang yang beriman dituntut agar berserah diri kepada Allah swt saja, tidak berserah diri kepada yang lain, sekalipun yang lain itu adalah malaikat, wali-wali ataupun ayat-ayat Allah swt. Allah swt yang menguasai malaikat, wali-wali dan ayat-ayat-Nya. Penyerahan diri kepada Allah swt bukan kepada sesuatu yang dinisbahkan kepada-Nya. Perkara ini dinyatakan oleh Nabi Hud as sebagaimana yang diceritakan oleh ayat berikut:

Sesungguhnya aku bertawakkal kepada Allah Tuhanku dan Tuhanmu. Tidak ada suatu binatang melatapun melainkan Dia-lah yang memegang ubun-ubunnya. Sesungguhnya Tuhanku di atas jalan yang lurus” (QS. Hud:56).

Tuhan berada di atas jalan yang lurus. Tuhan tidak mengantuk, tidak lalai, tidak kliru dan tidak melakukan kesalahan. Apa saja yang Tuhan lakukan adalah benar dan tepat. Tuhan berbuat sesuatu atas dasar ketuhanan dan dengan sifat ketuhanan, tidak ada pilih kasih. Dia adalah Tuhan Yang Maha Adil. Pekerjaan-Nya adalah adil. Dia adalah Tuhan Yang Maha Mengerti dan Maha Bijaksana. Pekerjaan-Nya adalah sempurna, teratur dan rapi. Dia adalah Tuhan Pemurah dan Penyayang. Pekerjaan-Nya tidak ada yang zalim. Tuhan yang memiliki sifat-sifat ketuhanan yang baik-baik itu mengadakan peraturan untuk diikuti. Mengikuti peraturan-Nya itulah penyerahan kepada-Nya. Nabi-nabi dan orang-orang yang beriman diperintahkan supaya menyampaikan kepada umat manusia apa yang datang dari Allah swt. Pekerjaan manusia adalah menyampaikan. Jika apa yang disampaikan itu tidak diterima, maka serahkan kepada Allah swt. Dia memiliki Arasy yang besar, yang memagari sekalian makhluk. Tidak ada makhluk yang dapat menembus Arasy-Nya. Aras-Nya adalah pagar Qadar. Apa yang Dia ciptakan dan tentukan untuk makhluk-Nya dipagari oleh Arasy.

Jika mereka berpaling (dari keimanan), maka katakanlah: “Cukuplah Allah bagiku; tidak ada Tuhan selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakkal dan Dia adalah Tuhan yang memiliki ‘Arsy yang agung” (QS. At-Taubah:129).

Tauhid adalah kesudahan pencapaian. Pada peringkat ini, syirik tidak ada lagi walaupun sebesar zarah. Dalam proses tauhid perlu ada pengasingan dan perbedaan antara Tuhan dengan yang selain Tuhan. Tidak boleh diadakan sekutu bagi Tuhan. Tidak boleh meletakkan anasir alam, amal, doa dan sebagainya pada kedudukan yang dapat menyebabkan timbulnya anggapan yang selain Tuhan itu mampu mengalahkan kekuasaan Tuhan. Tidak boleh terjadi ketaatan dan penyayangan terhadap sesuatu melebihi ketaatan dan penyayangan terhadap Allah swt.

Katakanlah: “Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya”. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik (QS. At-Taubah:24).

Perlu difahamkan bahwa sekalipun hamba telah berserah diri kepada Allah swt, tanpa Allah swt menerimanya tidak mungkin tercapai tujuannya. Penerimaan Allah swt yang benar-benar membawa hamba kepada-Nya. Tanda Allah swt menerima hamba-Nya ialah terdapat kecemerlangannya di masa permulaan. Berlaku perubahan-perubahan keada diri si hamba itu. Sifat buruknya terbuang dan sifat terpuji menghiasinya. Dia menjadi gemar beribadah dan berbuat taat. Semakin jauh perjalanannya semakin cemerlang hatinya. Dia diterangi oleh Nur Ilahi dan dikaruniakan ilmu laduni, yaitu ilmu mengenal Allah swt. Nur makrifat menyinarinya, maka kenallah dia pada Tuhannya.

Sandarkan Niat kepada Allah swt

Posted in 33. Bersandar kepada Allah swt with tags , , , , , on Oktober 21, 2012 by isepmalik

Tidak sia-sia suatu maksud apabila disandarkan kepada Allah swt dan tidak mudah tercapainya tujuan jika disandarkan kepada diri sendiri.

 

 

Hikmah yang lalu menggambarkan keadaan hamba Allah swt yang mempunyai maksud yang baik, yaitu mau mengubah dunia supaya menjadi tempat kehidupan yang sentosa, tetapi ternyata gagal melaksanakan maksudnya apabila dia bersandar kepada kekuatan dirinya sendiri. Allah swt menyifatkan dunia sebagai tempat huru-hara dan kekeruhan. Siapa yang memasukinya pasti berjumpa dengan keadaan tersebut. Kekuatan huru-hara dan kekeruhan yang ada pada dunia sangatlah kuat karena Allah swt yang meletakkan hukum kekuatan itu padanya. Percobaan untuk mengubah apa yang Allah swt tentukan akan menjadi sia-sia. Allah swt yang menetapkan suatu perkara, hanya Dia saja yang dapat mengubahnya. Segala kekuatan, baik dan buruk, semuanya datang dari-Nya. Oleh karena itu, jika mau menghadapi suatu kekuatan yang datang dari-Nya mestilah juga dengan kekuatan-Nya. Kekuatan yang paling kuat bagi menghadapi kekuatan yang dimiliki oleh dunia ialah kekuatan berserah diri kepada Allah swt. Kembalikan semua urusan kepada-Nya. Rasulullah saw telah memberi pengajaran dalam menghadapi bencana dengan ucapan dan penghayatan:

“Semua perkara datangnya dari Allah swt dan akan kembali kepada Allah swt juga”. Misalnya, api yang dinyalakan dari mana datangnya jika tidak dari Allah swt dan ke mana perginya bila dipadamkan jika tidak kepada Allah swt.

Apabila suatu maksud disandarkan kepada Allah swt maka menjadi hak Allah swt untuk melaksanakannya. Nabi Adam as mempunyai maksud yang baik, yaitu mau menyebarkan agama Allah swt di atas muka bumi ini dan menyandarkan maksud yang baik itu kepada Allah swt dan Allah swt menerima maksud tersebut. Setelah Nabi Adam as wafat, maksud dan tujuan beliau diteruskan. Allah swt memerintahkan maksud tersebut dipikul oleh nabi-nabi yang lain sehingga kepada nabi terakhir, yaitu Nabi Muhammad saw. Setelah Nabi Muhammad saw wafat, ia dipikul pula oleh para ulama yang menyeru kepada jalan Allah swt. Jika dipandang dari segi perjalanan pahala maka dapat dikatakan pahala yang diterima oleh Nabi Adam as karena maksud baiknya berjalan terus selama agama Allah swt berkembang dan selagi ada orang yang mewarisi dan meneruskan perjuangannya ini.

Maksud menyerah diri kepada Allah swt, bersandar kepada-Nya dan menyerahkan segala urusan kepada-Nya mesti difahami dengan mendalam. Kita hendaklah memasang niat yang baik, dan beramal sesuai dengan maqam kita. Allah swt yang menggerakkan niat itu dan melaksanakan amal yang berhubungan. Cara pelaksanaannya adalah hak mutlak Allah swt. Kemungkinan kita tidak sempat melihat fondasi yang kita bina siap menjadi bangunan, namun kita yakin bangunan itu akan siap karena Allah swt mengambil hak pelaksanaannya. Maksud dan tujuan kita tetap akan menjadi kenyataan walaupun kita sudah memasuki liang lahat. Pada masa kita masih hidup, kita hanya sempat meletakkan batu fondasi, namun ketika itu mata-hati kita sudah dapat melihat bangunan tersebut. Rasulullah saw sudah dapat melihat perkara yang akan terjadi sesudah baginda saw wafat, diantaranya ialah kejatuhan kerajaan Romawi dan Persi ke tangan orang Islam semasa pemerintahan khalifah ar-Rasyidin. Sekalian nabi-nabi yang diutus sebelum Nabi Muhammad saw sudah dapat melihat kedatangan baginda saw sebagai penutup dan pelengkap kenabian. Begitulah tajamnya pandangan mata-hati mereka yang bersandar kepada Allah swt dan menyerahkan kepada-Nya tugas untuk mengurus.

Tidak ada jalan bagi seorang hamba kecuali berserah diri kepada Tuannya. Semua Hikmah dari yang pertama hingga yang ke-33 ini, jika disambungkan akan membentuk suatu landasan yang menuju satu arah, yaitu berserah diri kepada Allah swt. Hikmah-hikmah yang telah dipaparkan membicarakan soal pokok yang sama, diterangi dari berbagai sudut dan aspek supaya lebih jelas dan nyata bahwa hubungan yang sebenarnya seorang hamba dengan Tuhan ialah berserah diri, ridha terhadap-Nya. Rasulullah saw telah mewasiatkan kepada Ibnu Abbas ra:

“Apabila kamu memohon, maka memohonlah kepada Allah swt. Apabila kamu meminta, maka mintalah kepada Allah swt. Dan, ketahuilah bahwa sekiranya sekalian makhluk saling bantu-membantu untuk memperoleh sesuatu yang tidak ditulis Allah swt untuk kamu, pasti mereka tidak akan sanggup mengadakannya. Dan, sekiranya sekalian makhluk mau memudharatkan kamu dengan sesuatu yang tidak ditulis Allah swt buat kamu, niscaya mereka tidak sanggup berbuat demikian. Segala buku telah terlipat dan segala pena telah kering.

Sifat Kehidupan Duniawi

Posted in 32. Sifat Kehidupan Duniawi with tags , , , , , on Oktober 13, 2012 by isepmalik

Kamu jangan merasa heran dengan terjadinya kekeruhan di dalam dunia, karena sesungguhnya kekeruhan itu tidak terjadi melainkan begitulah yang patut terjadi, dan itulah sifatnya (dunia) yang asli.

 

Hikmah yang lalu menyingkap halangan secara umum dan Hikmah 32 ini mengkhususkan kepada dunia sebagai hijab yang menutupi pandangan hati terhadap Allah swt. Halangan inilah yang banyak dihadapi oleh manusia. Manusia menghadapi perisiwa yang berlaku di dalam dunia dengan salah satu dari dua sikap, yaitu mereka melihat apa yang terjadi adalah akibat perbuatan makhluk ataupun mereka memandangnya sebagai perbuatan Tuhan. Hikmah 32 ini mengkhususkan kepada golongan yang melihat peristiwa yang berlaku dalam dunia sebagai perbuatan Tuhan tetapi mereka tidak dapat melihat hikmat kebijaksanaan Tuhan dalam perbuatan-Nya.

Manusia yang telah memperoleh keinsafan dan hatinya suah berangsur bersih, dia akan cenderung untuk mencari kesempurnaan. Dia sangat ingin untuk melihat syariat Allah swt menjadi yang termulia di atas muka bumi ini. Dia sangat ingin melihat umat Nabi Muhammad saw menjadi pemimpin kepada sekalian umat manusia. Dia ingin melihat semua umat manusia hidup rukun dan damai. Dia menginginkan segala yang baik-baik dan sanggup berkorban untuk mendatangkan kebaikan kepada dunia. Begitulah sebagian dari keinginan yang lahir di dalam hati orang yang hatinya sudah berangsur bersih. Tetapi, apa yang terjadi adalah kebalikan dari apa yang menjadi hasrat murni si hamba Allah swt yang sudah insaf itu. huru-hara berlau di mana-mana. Pembunuhan berlau di sana-sini. Umat Islam ditindas dihampir semua tempat. Kezaliman dan ketidakadilan berlaku dengan leluasa. Seruan kepada kebaikan tidak diindahkan. Ajakan kepada perdamaian tidak dipedulikan. Perbuatan maksiat terus juga dilakukan tanpa malu-malu.

Si hamba tadi melihat kekeruhan yang terjadi di dalam dunia dan merasakan seperti mata ombak menikam di dalam hatinya. Hatinya merintih, “Agama-Mu dipermainkan, dimanakah pembelaan dari-Mu wahai Tuhan! Umat Islam ditindas, dimanakah pertolongan-Mu, wahai Tuhan! Seruan kepada jalan-Mu tidak disambut, apakah Engkau hanya berdiam diri wahai Tuhan! Manusia melakukan kezaliman, kemaksiatan dan kemunkaran, apakah Engkau hanya membiarkan wahai Tuhan?”Beginilah keadaan hati orang yang merasa heran melihat kekeruhan kehidupan di dunia ini dan dia tidak berkuasa menjernihkannya. Allah swt menjawab keluhan hamba-Nya dengan firman-Nya:

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui” (QS. Al-Baqarah: 30).

Para malaikat sudah dapat membayangkan tentang kehidupan dunia yang akan dijalani oleh makhluk bangsa manusia sebelum manusia pertama diciptakan. Sifat dunia yang dinyatakan oleh malaikat ialah huru-hara dan pertumpahan darah. Dunia adalah ibu sementara huru-hara dan pertumpahan darah adalah anaknya. Ibu tidak melahirkan kecuali anak dari jenisnya juga. Kelahiran huru-hara, peperangan, pembunuhan dan sebagainya di dalam dunia adalah sesuatu yang seharusnya terjadi di dalam dunia, maka tidak perlu diherankan. Jika terdapat kedamaian dan keharmonisan di sana sini di dalam dunia, itu adalah kelahiran yang tidak mengikuti sifat ibunya. Seterusnya Allah swt menceritakan tentang dunia:

Allah berfirman: “Turunlah kamu sekalian, sebagian kamu menjadi musuh bagi sebagian yang lain. Dan kamu mempunyai tempat kediaman dan kesenangan (tempat mencari kehidupan) di muka bumi sampai waktu yang telah ditentukan” (QS. Al-A’raf:24).

Allah berfirman: “Di bumi itu kamu hidup dan di bumi itu kamu mati, dan dari bumi itu (pula) kamu akan dibangkitkan” (QS. Al-A’raf:25).

Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan” (QS. Ali Imran:185).

Allah swt menerangkan dengan jelas tentang sifat-sifat dunia yang dihuni oleh manusia. Manusia bermusuhan sesamanya, saling merusak dan kesenangan adalah tipu daya. Segala perkiraan dan pembalasan yang berlaku di dalam dunia ini tidak sempurna.

Manusia dibagi kepada dua golongan, yaitu yang beriman dan yang tidak beriman. Golongan yang tidak beriman menerima upah terhadap kebaikan yang mereka lakukan semasa di dunia ini dan di akhirat kelak mereka tidak boleh menuntut apa-apa lagi dari Tuhan. Janganlah mengherankan dan menyedihkan sekiranya Tuhan membalas kebaikan mereka ketika masih hidup di dalam dunia dengan memberikan kepada mereka berbagai kelebihan dan kemewahan. Mereka tidak berhak lagi menuntut nikmat akhirat dan tempat kembali mereka di sana kelak ialah neraka jahanam. Begitu juga janganlah mengherankan dan menyedihkan sekiranya orang-orang yang beriman dan beramal salih terpaksa menghadapi penderitaan dan penghinaan semasa hidup di dunia. Dunia ini tidak layak menjadi tempat buat Allah swt membalas kebaikan mereka. Balasan kebaikan dari Allah swt sangat tinggi nilainya, sangat mulia dan sangat agung, tidak layak dimuatkan di dalam dunia yang hina dan rendah ini. Dunia hanyalah tempat hidup, beramal, dan materi. Bila terjadi kiamat, kita akan dibangkitan dan sudah menunggu kita adalah negeri yang abadi.

Mendekati Allah swt

Posted in 31. Mendekati Allah swt with tags , , , , , on Oktober 11, 2012 by isepmalik

Jangan menantikan selesainya segala halangan, karena yang demikian akan menghalangi kamu dari mendekati Allah swt melalui sesuatu yang engkau ditempatkan di dalamnya.

 

Setelah merenung Hikmah yang lalu kita dapat melihat dan menghayati persoalan Qadar secara terperinci hingga kepada batas hembusan satu nafas. Pada setiap ketika kita didudukkan di dalam medan Qadar. Qadar membawa kita kepada, suasana, rupa bentuk, nama-nama dan lain-lain. Masing-masing menarik hati kita kepadanya. Apa saja yang bertindak menarik hati menjadi penghalang untuk mendekati Allah swt. Oleh sebab perjalanan Qadar tidak akan berhenti maka keberadaan halangan-halangan juga tidak akan habis. Jika kita lemas di dalam larutan Qadar, pandangan kita disilaukan oleh warna-warnanya dan kita dimabukkan oleh gelombangnya, maka selama-lamanya kita akan terhijab dari Allah swt. Tujuan beriman kepada Qada dan Qadar bukanlah untuk menjadikan kita lemah di dalam lautannya. Kita hendaklah mengetahui riak ombak dan tiupan anginnya sambil perhatian kita tertuju kepada daratan, bukan membiarkan diri kita terkubur di dasar laut. Ketika menghadapi ombak Qadar, kita hendaklah menjaga perahu yang kita naiki. Perahu tersebut dapat berupa perahu asbab dan perahu tajrid. Jika kita menaiki perahu asbab, kita perlu berdayung dan menjaga kemudinya mengikuti perjalanan sebab akibat. Jika kita berada dalam perahu tajrid, kita masih perlu mengawal kemudinya agar tidak lari dari daratan yang dituju.

Setiap Qadar yang sampai akan membawa kita memasuki ruang dan waktu. Pada setiap ruang dan waktu yang kita ditempatkan itu, ada kewajiban yang perlu kita laksanakan. Ia merupakan amanah yang dipertaruhkan oleh Allah swt kepada kita. Qadar adalah utusan yang mengajak kita memperhatikan perbuatan Allah swt, sifat-sifat-Nya, nama-nama-Nya dan Zat-Nya Yang Maha Suci, Maha Mulia dan Maha Tinggi. Tidak ada satu Qadar, tidak ada satu ruang dan waktu yang padanya tidak terdapat ayat-ayat atau tanda-tanda yang menceritakan tentang Allah swt. Kegagalan untuk melihat kepada ayat-ayat Allah swt itu adalah karena perhatian hanya tertumpu kepada makhluk dan kejadian maka makhluk dan kejadian mempunyai kesan terhadap sesuatu dan dia lupa kepada kekuasaan Allah swt yang mengawal segala sesuatu itu. kewajiban si hamba ialah menghapuskan hijab tersebut agar Qadar, ruang, dan waktu yang berada di dalamnya, dia tetap melihat kepada ayat-ayat Allah swt. Hatinya tidak putus bergantung kepada Allah swt. Ingatannya tidak luput dari mengingati Allah swt. Mata hatinya tidak lepas dari memperhatikan sesuatu tentang Allah swt. Ingatan dan perasaannya senantiasa bersama Allah swt. Setiap Qadar, ruang dan waktu adalah kesempatan baginya untuk mendekati Allah swt.

Hati kita dapat mengarah kepada dunia atau akhirat ketika menerima kedatangan suatu Qadar. Biasanya tarikan kepada dunia kita anggap sebagai halangan sementara tarikan kepada akhirat kita anggap sebagai jalan yang akan menyampaikan kepada Allah swt. Sebenarnya, keduanya adalah halangan karena keduanya adalah alam atau makhluk yang Tuhan ciptakan. Surga, bidadari, Kursi dan Arasy adalah makhluk yang Tuhan ciptakan. Alam ini semuanya adalah gelap gulita, yang meneranginya adalah karena wujud Allah swt padanya (Hikmah 14). Alam adalah cermin yang memperlihatkan cahaya Allah swt yang padanya ada wujud Allah swt. Oleh karena itu, walau di dalam Qadar apapun kita berada, kesempatan untuk melihat Allah swt dan mendekat kepada-Nya tetap ada. Kesempatan ini adalah hak Allah swt terhadap hamba-Nya. Hak ini wajib ditunaikan pada waktu itu juga, tidak boleh ditunda kepada waktu yang lain, karena pada waktu yang lain ada pula hak Allah swt yang lain.

Setengah ulama memfatwakan bahwa sembahyang yang di luar dari waktunya boleh dilakukan secara qadha. Sekalipun begitu, tetapi hak Allah swt yang telah terlepas tidak boleh diqadha. Hamba yang benar-benar menyempurnakan kewajibannya terhadap hak Allah swt ialah yang mata hatinya tidak berkedip memang kepada Allah swt meskipun didudukkan dalam suasana atau Qadar apapun. Setiap ruang dan waktu yang dimasukinya adalah jembatan yang menghubungkan dengan Tuhannya.

Qadar yang Lebih Halus

Posted in 30. Qadar yang Lebih Halus with tags , , , , , on Oktober 8, 2012 by isepmalik

Tiada satu napas terlepas dari kamu melainkan di situ ada qadar yang berlaku atas kamu.

 

Persoalan Qadar telah disentuh pada Hikmah 3 dan kembali disentuh oleh Hikmah 30 ini. Persoalan Qadar pada Hikmah tersebut telah menyinggung tentang permintaan atau doa yang dimaksudkan sebagai tuntutan terhadap Allah swt. Tuntutan-tuntutan timbul lantaran kurang menghayati tentang Qadar. Kini kita diajak merenungi perkara Qadar yang sangat halus, yaitu satu nafas yang terjadi kepada kita. Kita kurang memperhatikan tentang nafas karena ia terjadi secara spontan, tanpa bersusah payah dan kita anggap remeh untuk diperhatikan. Sekarang perkara yang kita anggap remeh inilah yang hendak kita perhatikan dengan seksama. Apakah berbeda perkara yang dianggap remeh dengan perkara yang dianggap besar dalam hubungannya dengan perjalanan Qadar. Kita perlu bertanya kepada diri kita sendiri, adakah setiap nafas yang kita hembuskan itu berlaku secara percuma, tanpa perkiraan, tidak mengikuti perintah yang Allah swt tentukan? Adakah apabila kita hembuskan satu nafas hanya nafas saja yang berlaku atau pada saat yang sama berbagai Qadar telah terjadi? Perkara yang dianggap kecil ini haruslah direnungi dengan mendalam agar kita mendapat pengertian tentang Qadar secara terperinci.

Nafas ialah udara yang keluar masuk pada badan kita melalui mulut dan hidung. Satu hembusan udara yang keluar dari badan kita disebut satu nafas. Nafas ini penting bagi jasmani kita. Nafas menjadi nyawa kepada diri kita yang bersifat zahir. Penghidupan diri yang zahir diukur dengan perjalanan nafas. Kita biasanya menyebut umur dengan perkiraan tahun. Kita tidak menyebut umur kita dengan perkiraan bulan, apalagi dengan perkiraan hari dan jam. Sebenarnya sebutan yang tepat tentang umur ialah nafas. Berapa juta hembusan nafas itulah umur kita.

Kita melihat Qadar sebagai ketentuan Ilahi yang berlaku kepada kita dalam cakupan yang luas. Sikap memandang Qadar secara luas menyebabkan kita terhalang untuk melihatnya pada setiap detik dan setiap kejadian. Sebab itu kita sering keluar dari berpegang kepada Qadar. Seandainya kita memang hidup secara tepat, yaitu dengan hitungan nafas niscaya kita akan melihat Qadar secara halus sebagaimana halusnya nafas. Dapatlah kita benar-benar menghayati bahwa pada setiap hembusan nafas itu berlaku Qadar menurut ketentuan Ilahi. Jumlah udara yang keluar masuk pada badan kita bagi setiap perjalanan nafas adalah menurut perintah yang Allah swt tentukan. Jumlah nafas yang akan kita hembuskan juga telah ditentukan oleh Allah swt dan apabila jumlah nafas yang telah disediakan untuk kita itu habis maka kita akan mati. Jika kita dapat melihat perjalanan Qadar hingga kepada peringkat yang halus ini, niscaya pandangan mata-hati kita tidak akan terlepas dari melihat Qadar pada setiap detik dan pada setiap kejadian. Kita akan melihat bahwa jumlah tetesan air hujan di atas atap rumah kita adalah mengikuti perintah yang telah ditentukan Allah swt. Bilangan debu yang beterbangan juga ditentukan Allah swt. Helaian rambut yang gugur dari kepala kita juga ditentukan Allah swt. Panjang, lebar dan dan dalamnya luka yang kita alami ketika terjadi musibah juga ditentukan Allah swt. Tidak ada satu pun yang menyimpang dari Qadar menurut ketentuan Ilahi. Sesungguhnya Allah swt itu al-Lathif, Maha Halus, tidak ada sesuatu yang terlepas dari perintah dan pertimbangan-Nya. Semua makhluk berjalan di atas landasan Qadar yang diatur-Nya. Sesungguhnya Allah swt tidak sekali-kali lalai, tidur atau keliru. Apa yang Dia tentukan itulah yang berlaku. Sesungguhnya Allah Maha Bijaksana, tidak ada yang sumbang pada penciptaan dan perjalanan penciptaan-Nya.

“Sesungguhnya aku bertawakkal kepada Allah Tuhanku dan Tuhanmu. Tidak ada suatu binatang melatapun melainkan Dia-lah yang memegang ubun-ubunnya. Sesungguhnya Tuhanku di atas jalan yang lurus” (QS. Hud:56).

“Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah” (QS. Al-Hadid:22).

Allah swt mengadakan ketentuan sejak azali. Tidak ada yang tahu tentang ketentuan Allah swt. Malaikat hanya menjalankan perintah-Nya. Apa yang pada sisi malaikat dapat diubah oleh-Nya, tetapi apa yang pada sisi-Nya tidak pernah berubah. Malaikat menjalankan tugas dan manusia melakukan kewajiban. Tuhan yang memiliki ketentuan mutlak. Doa dan amal manusia mungkin menjadi asbab kepada berlakunya perubahan pada apa yang berada dengan malaikat yang menjalankan tugas, jika Tuhan izinkan, tetapi ia tidak mengubah apa yang pada sisi Tuhan. Ilmu Tuhan meliputi yang awal dan yang akhir. Segala sesuatu telah ada pada ilmu-Nya sebelum ia terjadi. Urusan yang demikian sangat mudah bagi Allah swt. Malaikat dan manusia tidak memiliki ilmu yang demikian. Malaikat semata-mata patuh kepada apa yang Allah swt perintahkan. Manusia perlu bergerak pada maqamnya dan berusaha meningkatkan perkembangan keruhaniannya sehingga dia menjadi sesuai dengan kehendak Allah swt.