Teori Arrhenius

Posted in Larutan dan Sifat-sifatnya on Juni 6, 2016 by isepmalik

Pada tahun 1680, Robert Boyle mengemukakan bahwa asam (1) melarutkan berbagai zat, (2) mengubah warna beberapa pewarna (indikator) alami, dan (3) kehilangan sifat karakteristiknya ketika dicampurkan dengan alkali (basa). Pada tahun 1814, Gay-Lussac menyimpulkan bahwa asam menetralkan basa dan dua kelompok zat didefinisikan berdasarkan reaksinya satu sama lain.

Pada tahun 1884, Svante Arrhenius (1859-1927) menyampaikan teorinya mengenai disosiasi elektrolit yang dihasilkan dalam reaksi asam-basa teori Arrhenius. Dalam pandangannya,

asam merupakan zat yang mengandung hidrogen dan menghasilkan H+ dalam larutan. Basa merupakan zat yang mengandung gugus OH (hidroksil) dan menghasilkan ion hidroksida (OH) dalam larutan.

Netralisasi didefinisikan sebagai penggabungan ion H+ dengan ion OH membentuk molekul H2O.

H+(aq) + OH(aq) → H2O(l)     (netralisasi)

Teori perilaku asam-basa Arrhenius mampu menjelaskan reaksi protonasi asam dengan hidroksida logam (hidroksi basa). Ia berkontribusi signifikan pada pemikiran kimia dan teorinya berkembang pada abad sembilanbelas. Model asam dan basa Arrhenius (meskipun terbatas) mengalami perkembangan menjadi teori asam-basa lebih umum. Hal tersebut akan dibahas dalam subbab berikutnya.

(Sumber: Whitten, et.al., General Chemistry Seventh Edition, ‘Reactions in Aqueous Solution I: Acids, Bases, and Salts’).

Sifat Larutan Asam dan Basa

Posted in Larutan dan Sifat-sifatnya on Juni 6, 2016 by isepmalik

Larutan asam berprotonasi (larutan tersebut mengandung atom hidrogen asam) memperlihatkan sifat tertentu yang merupakan sifat ion hidrogen terhidrasi dalam larutan.

  1. Memiliki rasa masam. Acar biasanya disajikan dalam asam cuka, suatu larutan asam asetat 5%. Berbagai bumbu acar mengandung gula sehingga rasa asam asetat tertutupi rasa manis dari gula. Lemon mengandung asam sitrat yang menghasilkan karakteristik rasa masam.
  2. Mengubah warna indikator. Asam membirukan lakmus merah dan menyebabkan bromtimol biru berubah dari biru ke kuning.
  3. Asam-asam nonoksidasi bereaksi dengan logam di atas hidrogen dalam deret aktivitas (Subbab 4-8, bagian 2) dengan membebaskan gas hidrogen, H2. (HNO3, suatu asam pengoksidasi, bereaksi dengan logam menghasilkan nitrogen oksida, bukan H2).
  4. Bereaksi dengan (menetralkan) oksida logam dan hidroksida logam membentuk garam dan air (Subbab 4-9, bagian 1).
  5. Bereaksi dengan garam dari asam lemah membentuk asam lemah dan garam baru.

Larutan asam menghantarkan arus listrik karena terionisasi sempurna atau sebagian.
Larutan basa juga memperlihatkan sifat tertentu yang disebabkan keberadaan ion hidroksida terhidrasi dalam larutan basa.

  1. Memiliki rasa kecut.
  2. Terasa licin. Sabun merupakan contohnya; ia merupakan basa lunak. Larutan pemutih terasa sangat licin karena sangat basa.
  3. Mengubah warna indikator: lakmus berubah dari merah ke biru, dan bromtimol biru berubah dari kuning ke biru dalam basa.
  4. Bereaksi dengan (menetralkan) asam membentuk garam dan air (dalam sebagian besar kasus).
  5. Larutannya menghantarkan arus listrik karena terionisasi atau terdisosiasi

(Sumber: Whitten, et.al., General Chemistry Seventh Edition, ‘Reactions in Aqueous Solution I: Acids, Bases, and Salts’).

Tipe Ligan

Posted in Senyawa Koordinasi dan Organologam with tags , , , , , , , , , , , , , , , , on Februari 27, 2015 by isepmalik

Ligan paling mudah diklasifikasikan berdasarkan jumlah atom donor yang dikandungnya dan dikenal sebagai unidentat, bidentat, terdentat, kuadridentat kuinkidentat dan seksidentat masing-masing sesuai dengan angka 1, 2, 3, 4, 5 atau 6. Ligan unidentat merupakan ion monoatom seperti ion halida, atau ion/ molekul poliatom yang mengandung atom donor dari Golongan 16, 15 atau 14 (yaitu CN). Ligan bidentat seringkali ligan kelat (dari kata Yunani yang berarti ‘cakar kepiting’) dan dengan ion logam menghasilkan cincin kelat[1] di mana kasus paling umum berlangsungnya ligan bidentat adalah beranggota 5 atau 6, yaitu: lihat Gambar 19.1. Ligan terdentat menghasilkan sistem 2 cincin ketika berkoordinasi dengan ion logam tunggal dan konsekuensinya membatasi struktur kompleks, khususnya kekakuan karena ikatan rangkap-dua terkonjugasi di dalam cincin. Jadi dietilenatriamina [dien (1)] menjadi fleksibel secara stereokimia, sedangkan terpiridin [terpy (2)] hanya dapat berkoordinasi ketika 3 atom donor (nitrogen) dan ion logam berada dalam bidang yang sama.

 

Etilendiamin, en 1,10-fenantrolin, fen
   
s-fenilenbis(dimetilarsina), diar: [1,2-bis(dimetilarsino)benzena] β-diketonat (yaitu R = Me: asetilasetonat, acac)
   
Tropolonat Oksalat
   
Gambar 19.1 Beberapa ligan bidentat

 

 

 

Ligan kuadridentat menghasilkan 3 cincin (dalam beberapa kasus 4 cincin) pada koordinasinya sehingga membatasi stereokimia kompleks yang lebih besar karena pemilihan ligan yang sesuai. Ligan rantai terbuka trietilentetramin [trien (3)] menjadi fleksibel seperti dien, sedangkan trietilamintriamin [tren], yaitu N(CH2CH2NH2)3, adalah salah satu ligan yang disebut ligan “tripod” di mana tidak menghasilkan koordinasi datar tetapi lebih menyukai struktur segitiga bipiramida (4). Sebaliknya, ftalosianin[2] (5) terkonjugasi merupakan contoh kelompok ligan makrosiklik eter mahkota yang memaksa kompleks mengadopsi struktur datar dan membuktikan porpirin alami terlibat dalam haem, B12, dan klorofil. Ligan lain yang digunakan untuk sitesis molekul pembawa oksigen adalah bis(salisilaldehid)etilendiimina [salen (6)]. Contoh ligan kuinkidentat dan seksidentat yang paling terkenal adalah anion turunan asam etilendiamintetraasetat, edtaH4 yaitu (HO2CCH2)2N(CH2)2(CH2CO2H)2, memiliki kemampuan luas biasa dalam analisis volumetrik ion logam. Ketika terionisasi sempurna, edta4-, ia memiliki atom donor berupa 4 oksigen dan 2 nitrogen dan memiliki fleksibilitas untuk membungkus dirinya di sekitar ion logam untuk menghasilkan kompleks pseudo-oktahedral yang melibatkan cincin beranggota 5 sebagaimana dalam (7).

 

 

 

Ketika terionisasi tidak sempurna, edtaH3-, satu atom oksigennya tidak mampu berkoordinasi dengan logam dan anionnya adalah kuinkidentat.

Ligan ambidentat memiliki lebih dari satu atom donor dan dapat berkoordinasi melalui satu atau lainnya. Ini menyebabkan kemungkinan isomer “linkage”. Contoh paling umum adalah ion NO2 dan SCN. Ligan seperti itu juga dapat berkoordinasi melalui kedua tempat donor secara terus-menerus, dengan cara demikian bertindak sebagai ligan jembatan.

Cara mengklasifikasikan ligan dalam senyawa organologam berdasarkan jumlah atom C yang melekat pada (atau yang dekat hubungannya dengan) atom logam. Kriteria struktural ini dapat diperoleh berdasarkan beberapa teknik dan lebih pasti daripada berdasarkan pada asumsi jumlah elektron yang terlibat dalam ikatan. Jumlah atom karbon yang melekat disebut haptisitas golongan organik (berasal dari kata Yunani haptein, yang berarti ‘mengikat’) dan haptisitas dari 1 sampai 8 telah terobservasi. Golongan monohapto dikhususkan sebagai η1, dihapto sebagai η2, dan sebagainya. Klasifikasi ini akan membentuk basis pembahasan senyawa organologam.

[1] C. F. Bell, Principles and Applications of Metal Chelation, Oxford University Press, Oxford, 1977, hal. 147.

[2] C. C. Leznof dan A. B. P. Lever (ed.), Phthalocyanines, Properties and Applications, V. C. H., Weinheim, 1990, hal. 336.

Pendahuluan

Posted in Senyawa Koordinasi dan Organologam with tags , , , , , , , , , , , , on Februari 27, 2015 by isepmalik

Tiga deret unsur yang muncul dari pengisian kulit 3d, 4d dan 5d diposisikan dalam tabel periodik mengikuti logam alkali tanah, umumnya dijelaskan sebagai “unsur transisi”; istilah ini kadang-kadang juga diperluas meliputi unsur lantanida dan aktinida (atau unsur dalam). Mereka memperlihatkan sejumlah karakteristik sifat yang membedakannya dari golongan unsur lain:

 

(i) Semuanya logam, memperlihatkan kilauan, dapat dibentuk (ditempa) dan memiliki konduktivitas listrik dan termal tinggi. Selain itu, titik leleh dan titik didihnya cenderung tinggi dan umumnya keras dan kuat.

(ii) Sebagian besar memperlihatkan keadaan oksidasi tinggi yang bervariasi dengan 1 tahap daripada 2 tahap sebagaimana diperlihatkan unsur golongan utama yang memperlihatkan lebih dari satu keadaan oksidasi.

(iii) Mereka memiliki kecenderungan tidak paralel untuk membentuk senyawa koordinasi dengan basa Lewis.

 

(i) dan (ii) akan dibahas dalam bab berikutnya tetapi bab ini akan mengembangkan tema (iii).

Senyawa koordinasi atau kompleks, terbentuk ketika basa Lewis (ligan)[1] melekat pada asam Lewis (akseptor) yang memiliki elektron “pasangan sunyi”. Ketika ligan tersusun dari beberapa atom, salah satu yang langsung melekat pada akseptor disebut “atom donor”. Tipe ikatan ini sudah dibahas sebelumnya dan dicontohkan oleh senyawa trihalida dari unsur Golongan 13; ini merupakan dasar kimia unsur transisi. Sifat ikatan antara ion logam transisi dan ligan sangat bervariasi dan istilah “atom donor” sering digunakan dalam makna harfiahnya, tanpa asumsi apapun. Meskipun akan terjadi garis demarkasi, lebih mudah untuk membedakan dua ekstrim. Pada satu sisi, kasus di mana ikatan dipandang sebagai ikatan s tunggal atau murni antaraksi elektrostatik, dan logam memiliki keadaan oksidasi +2 atau lebih tinggi. Pada sisi lain, kasus di mana ikatannya rangkap, ligan bertindak sebagai donor s dan akseptor p dan logam memiliki keadaan oksidasi +1 atau lebih kecil, meskipun nilai seperti itu seringkali tidak jelas. Tipe senyawa sebelumnya dipandang sebagai kompleks “klasik” atau kompleks “Werner” karena orang pertama yang meneliti material tersebut adalah A. Werner pada tahun 1893-1913 dan menjadi fondasi kimia koordinasi[2]. Tipe senyawa berikutnya yang dijadikan contoh adalah karbonil dan senyawa organologam lainnya.

[1] W. H. Brock, K. A. Jensen, C. K. Jorgensen dan G. B. Kauffman, Ambix 27, 171-183 (1981).

[2] G. B. Kauffman, Alfred Werner Founder of Coordination Theory, Springer, Berlin, 1966, hal. 127. G. B. Kauffman (ed.) Coordination Chemistry: A Century of Progress, ACS Symposium Series 565, Washington DC, 1994, hal. 464.

soal 11-15

Posted in Tak Berkategori on Agustus 18, 2014 by isepmalik

---samudera alchemist---

11. Tinta merupakan sistem koloid yang fasa terdispersi dan medium pendispersinya adalah ….

a. Gas-padat
b. Cair-gas
c. Padat-gas
d. Cair-padat
e. Padat-cair

Jawaban: E

Konsep: Koloid

Tinta merupakan sistem koloid yang fasa terdispersinya pada dan medium pendispersinya cair.

12. Di antara larutan-larutan berikut ini yang mempunyai penurunan titik beku paling tinggi pada konsentrasi yang sama adalah ….

a. Urea
b. Glukosa
c. Asam asetat
d. Kalium sulfat
e. Natrium klorida

Jawaban: D

Konsep: Sifat koligatif larutan

Penurunan titik beku larutan dapat ditentukan dengan

ΔTb = kbm → (larutan nonelektrolit)

ΔTb = kbmi = kbm [1 + (n-1)α] → (larutan elektrolit)

Larutan elektrolit mempunyai harga sifat koligatif yang lebih besar dari pada larutan nonelektrolit pada konsentrasi yang sama.

Larutan urea (nonelektrolit)

Larutan glukosa (nonelektrolit)

Larutan asam asetat (elektrolit)

CH3COOH → H+ + CH3COO (n =…

Lihat pos aslinya 392 kata lagi

Soal 13-17

Posted in Bank Soal, Soal dan Jawab on Maret 27, 2014 by isepmalik

13.  Tembaga merupakan logam yang sudah dikenal sejak jaman klasik, ia digunakan diantaranya dalam kabel listrik dan mata uang. Massa atom dua isotop stabil 6329Cu (69.09 persen) dan 6529Cu (30.91 persen) masing-masing 62.93 sma dan 64.9278 sma. Hitung massa rata-rata atom tembaga. Kelimpahan relatifnya diberikan dalam tanda kurung.
Strategi: Setiap isotop berkontribusi terhadap massa rata-rata atom berdasarkan kelimpahan relatifnya. Dengan mengalikan massa setiap isotop terhadap pecahan kelimpahannya (bukan persen) akan diperoleh massa rata-rata atom masing-masing isotop.
Solusi: Pertama, persen diubah ke pecahan: 69.09 persen menjadi 69.09/100 atau 0.6909 dan 30.91 persen menjadi 30.91/100 atau 0.3091. Kita mendapatkan massa rata-rata atom tiap isotop, kemudian menambahkan kontribusi kedua isotop sehingga diperoleh massa rata-rata atom.
(0.6909)(62.93 sma) + (0.3091)(64.9278 sma) = 63.55 sma
Periksa: Massa rata-rata atom berada di antara dua massa atom; oleh karena itu jawaban masuk akal. Perhatikan bahwa karena isotop 6329Cu lebih besar daripada isotop 6529Cu, massa rata-rata atom lebih mendekati kepada 62.93 sma daripada 64.9278 sma.

 

14.  Seng (Zn) merupakan logam berwarna keperak-perakan yang digunakan dalam pembuatan kuningan (dengan tembaga) dan melapisi besi untuk mencegah korosi. Berapa mol Zn dalam 45,9 g Zn?
Strategi: Kita mencoba memecahkan untuk mol Zn. Faktor konversi apa yang kita gunakan untuk mengubah antara gram dan mol? Susun faktor konversi yang sesuai sehingga satuan gram dapat dihilangkan dan satuan mol diperoleh sebagai jawabannya.
Solusi: Faktor konversi yang diperlukan untuk mengubah antara gram dan mol adalah massa molar. Dalam tabel periodik (lihat bagian dalam cover depan) kita melihat bahwa massa molar Zn adalah 65.39 g. Ini dapat dinyatakan sebagai:

1 mol Zn = 65.39 g Zn

Dari persamaan ini, kita dapat menulis dua faktor konversi:

(1 mol Zn)/(65.39 g Zn) dan (65.39 g Zn)/(1 mol Zn)

Faktor konversi bagian kiri adalah yang tepat. Gram akan hilang, menyisakan satuan mol untuk jawabannya. Jumlah mol Zn:

45.9 g Zn× (1 mol Zn)/(65.39 g Zn)=0.702 mol Zn

Jadi, terdapat 0.702 mol Zn dalam 45.9 g Zn.

 

15.  Sulfur (S) merupakan unsur non-logam yang berada dalam batubara. Ketika batubara dibakar, sulfur diubah menjadi sulfur dioksida dan akhirnya menjadi asam sulfat yang memunculkan fenomena hujan asam. Berapa banyak atom dalam 25.1 g S?
Strategi: Pertanyaan menugaskan mencari jumlah atom sulfur. Kita tidak dapat mengubah secara langsung dari gram ke jumlah atom sulfur. Satuan apakah yang kita butuhkan untuk mengkonversi gram sulfur kepada jumlah atom? Apakah bilangan Avogadro mewakili?
Solusi: Kita memerlukan dua kali konversi: pertama dari gram ke mol dan kemudian dari mol ke jumlah partikel (atom). Langkah pertama mirip dengan Contoh 14. Karena
1 mol S = 32.07 g S
faktor konversinya adalah
(1 mol)/(32.07 g S)

bilangan Avogadro merupakan kunci untuk langkah kedua. Kita memiliki
1 mol = 6.022 x 1023 partikel (atom)

dan faktor konversinya adalah

(6.022×〖10〗^23 atom S)/(1 mol S) dan (1 mol S)/(6.022×〖10〗^23 atom S)

Faktor konversi sebelah kiri yang kita butuhkan karena terdapat jumlah atom S dalam pembilangnya. Kita dapat memecahkan masalah dengan pertama-tama menghitung jumlah mol yang dikandung dalam 25.1 g S dan kemudian menghitung jumlah atom S dari jumlah mol S:

gram S → mol S→ jumlah atom S

Kita dapat menggabungkan konversi ini dalam satu langkah berikut:

25.1 g S× (1 mol S)/(32.07 g S)×(6.022×〖10〗^23 atom S)/(1 mol S)=4.71×〖10〗^23 atom S

Jadi, terdapat 4.71 x 1023 atom S dalam 25.1 g S.
Periksa: Apakah sudah seharusnya 25.1 g S mengandung jumlah atom lebih kecil daripada bilangan Avogadro? Apakah massa S mengandung bilangan Avogadro dari atomnya?

 

16.  Perak (Ag) merupakan logam berharga yang digunakan terutama dalam perhiasan. Berapa massa (dalam gram) satu atom Ag?
Strategi: Pertanyaan mengenai massa satu atom Ag. Berapa banyak atom Ag dalam 1 mol Ag dan berapa massa molar Ag?
Solusi: Karena 1 mol atom Ag mengandung 6.022 x 1023 atom Ag dan massanya 107.9 g, kita dapat menghitung massa satu atom Ag sebagai berikut:

1 atom Ag× (1 mol Ag)/(6.022×〖10〗^23 atom Ag)×(107.9 g)/(1 mol Ag)=1.792×〖10〗^(-22) g

Periksa: Karena 6.022 x 1023 atom Ag bermassa 107.9 g, maka satu atom Ag bermassa sangat kecil.

 

17.  Hitung massa molekul (dalam sma) senyawa berikut: (a) sulfur dioksida (SO2) dan (b) kafein (C8H10N4O2).
Strategi: Bagaimana massa atom dari unsur berbeda bergabung menjadi massa molekul suatu senyawa?
Solusi: Untuk menghitung massa molekul, kita membutuhkan jumlah keseluruhan massa atom dalam molekul. Untuk setiap unsur, kita mengalikan massa atom dari unsur dengan jumlah atom dari unsur di dalam molekul. Kita menemukan massa atom dalam tabel periodik (bagian dalam cover depan).
(a) Terdapat dua atom O dan satu atom S dalam SO2, jadi
Massa molekul SO2 = 32.07 sma + 2(16.00 sma) = 64.07 sma
(b) Terdapat delapan atom C, sepuluh atom H, empat atom N, dan dua atom O dalam kafein, jadi massa molekul C8H10N4O2 adalah
8(12.01 sma) + 10(1.008 sma) + 4(14.01 sma) + 2(16.00 sma) = 194.20 sma.

Soal 1-5

Posted in Bank Soal on Maret 27, 2014 by isepmalik

1.  Tentukan jumlah proton, neutron, dan elektron untuk tiap jenis atom berikut:
(a) 19579Au, (b) 19779Au, (c) 18F, (d) carbon-13
Strategi: Ingat kembali bahwa superskrip menandakan nomor massa (A) dan subskrip menandakan nomor atom (Z). Nomor massa selalu lebih besar daripada nomor atom. (Pengecualian hanya untuk 11H, di mana nomor massa sama dengan nomor atom). Dalam beberapa hal diperlihatkan penulisan tanpa subskrip sebagaimana pada (c) dan (d), nomor atom dapat dihilangkan dari simbol atau nama unsur. Untuk menentukan jumlah elektron, ingat kembali bahwa karena atom-atom netral secara listrik maka jumlah elektron sama dengan jumlah proton.
Solusi:
(a) Nomor atom Au (emas) 79, jadi terdapat 79 proton. Nomor massanya 195, jadi jumlah neutron adalah 195 – 79 = 116. Jumlah elektron sama dengan jumlah proton; yaitu 79.
(b) Di sini jumlah proton sama seperti (a), yaitu 79. Nomor massa 197, jadi jumlah neutronnya 197 – 79 = 118. Jumlah elektron juga sama seperti pada (a), yaitu 79. Jenis (a) dan (b) merupakan isotop-isotop emas.
(c) Nomor atom F (fluor) 9, jadi terdapat 9 proton. Nomor massanya 18, jadi jumlah neutronnya 18 – 9 = 9. Jumlah elektron sama dengan jumlah proton; yaitu 9.
(d) Karbon-13 dapat dituliskan sebagai 13C. Nomor atom karbon 6, jadi terdapat 13 – 6 = 7 neutron. Jumlah elektronnya 6.

 

2.  Tuliskan rumus molekul metanol (suatu pelarut organik dan anti-beku).
Solusi: Molekul tersebut mengandung empat atom H, satu atom C, dan satu atom O. Oleh karena itu, rumus molekulnya CH4O. Standar penulisan rumus molekul metanol CH3OH karena ia memperlihatkan bagaimana atom-atom bergabung dalam molekul.

 

3.  Tuliskan rumus empiris molekul-molekul berikut ini: (a) asetilena (C2H2) yang digunakan untuk pengelasan; (b) glukosa (C6H12O6) zat yang diketahui sebagai gula darah; dan (c) dinitrogen oksida (N2O) yang digunakan sebagai gas anestetik (“gas tertawa”).
Strategi: Ingat kembali cara menuliskan rumus empiris, subskrip dalam rumus molekul harus diubah menjadi angka terkecil dan bilangan bulat paling sederhana.
Solusi:
(a) Terdapat dua atom karbon dan dua atom hidrogen dalam asetilena. Subskrip dibagi dengan angka 2, kita memperoleh rumus empirisnya CH.
(b) Dalam glukosa terdapat 6 atom karbon, 12 atom hidrogen, dan 6 atom oksigen. Subskrip dibagi dengan 6, kita memperoleh rumus empirisnya CH2O. Perhatikan bahwa jika membagi subskrip dengan angka 3 akan diperoleh rumus C2H4O2. Meskipun perbandingan karbon : hidrogen : oksigen dalam C2H4O2 sama sebagaimana C6H12O6 (1:2:1), tetapi C2H4O2 bukan rumus paling sederhana karena subskripnya bukan perbandingan jumlah yang terkecil.
(c) Karena subskrip dalam N2O merupakan angka yang paling sederhana maka rumus empiris untuk dinitrogen oksida sama seperti rumus molekulnya.

 

4.  Berikan nama senyawa-senyawa berikut: (a) Fe(NO3)2, (b) Na2HPO4, dan (c) (NH4)2SO3
Strategi: Tabel 2.3 merupakan referensi nama-nama kation dan anion. Harus diingat bahwa jika sebuah logam dapat membentuk kation dengan muatan berbeda, kita perlu menggunakan sistem Stok.
Solusi:
(a) Ion nitrat (NO3-) membawa satu muatan negatif, jadi ion besi harus memiliki muatan positif dua. Karena besi dapat membentuk ion Fe2+ dan ion Fe3+, kita perlu menggunakan sistem Stok dan menamai senyawa besi(II) nitrat.
(b) Kationnya adalah Na+ dan anionnya HPO42- (hidrogen fosfat). Karena natrium hanya membentuk satu tipe ion (Na+), di sini tidak perlu menggunakan natrium(I) untuk namanya. Senyawanya adalah natrium hidrogen fosfat.
(c) Kationnya adalah NH4+ (ion amonium) dan anionnya adalah SO32- (ion sulfit). Senyawanya adalah amonium sulfit.

 

5.  Tuliskan rumus kimia untuk senyawa-senyawa: (a) raksa(I) nitrat, (b) sesium oksida, dan (c) stronsium nitrida.
Strategi: Kita merujuk Tabel 2.3 untuk rumus kation dan anion. Ingat kembali bahwa angka Romawi dalam sistem Stok menyediakan informasi mengenai muatan kation.
Solusi:
(a) Angka Romawi memperlihatkan bahwa ion raksa membawa muatan +1. Berdasarkan Tabel 2.3, ion raksa(I) adalah diatom (yaitu, Hg22+) dan ion nitrat adalah NO3-. Oleh karena itu, rumusnya adalah Hg2(NO3)2.
(b) Setiap ion oksida membawa muatan negatif dua, dan setiap ion sesium membawa muatan positif satu (sesium berada dalam Golongan IA, sebagaimana natrium). Oleh karena itu rumusnya adalah Cs2O.
(c) Setiap ion stronsium (Sr2+) membawa muatan dua positif dan setiap ion nitrida (N3-) membawa muatan tiga negatif. Supaya jumlah muatan sama dengan nol, kita harus menyesuaikan jumlah kation dan anion:
3(+2) + 2(-3) = 0
Jadi, rumusnya adalah Sr3N2.

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 1.757 pengikut lainnya