Pandangan Ilmiah tentang Manusia


Satu interpretasi ilmiah yang ketat tentang manusia mengatakan bahwa manusia dan segala aktivitasnya ditentukan oleh peraturan fisika dan kimia. Dalam pandangan ini manusia hanya merupakan suatu bentuk kehidupan yang lebih tinggi dan lebih kompleks, yang dapat diterangkan dengan aturan-aturan yang berlaku bagi materi. Manusia adalah satu bagian dari alam fisik, seperti benda-benda lain, ia mempunyai ukuran berat, bentuk dan warna. Manusia berada dalam ruang dan waktu, sehingga peraturan fisika seperti Hukum Gravitasi juga berlaku bagi manusia.

Pandangan ilmiah tentang manusia seperti tersebut tidak berpendapat bahwa bidang sains itu lebih luas daripada sekadar fakta obyektif yang telah diungkapkan oleh sains alam (natural science). Akan tetapi semenjak abad ke-19, metoda ilmiah telah dipakai untuk beberapa penyelidikan tentang manusia, dan ini telah menimbulkan ilmu-ilmu yang dinamakan ilmu-ilmu sosial: sosiologi, politik, antropologi dan psikologi. Di dalam “sains tentang perilaku” (behavioral science) sekarang, psikologi manusia telah menjadi penyelidikan tentang perilaku manusia. Menurut pandangan ini manusia dapat diubah, dibentuk dan diperkembangkan, sama halnya dengan bidang-bidang lain.

Slogan dari aliran behavioris adalah “Berilah saya suatu bayi dan suatu lingkungan untuk mendidiknya, aku akan mengajarnya merangkak dan berjalan seperti manusia; aku akan mengajarnya memanjat dan menggunakan tangannya untuk mendirikan bangunan dari batu atau kayu; aku akan menjadikannya seorang pencuri, seorang perampok atau penjahat ulung. Kemungkinan pembentukan ke arah mana saja adalah tidak terbatas.[1]

Aliran yang mendahului behaviorisme pada abad ke-19 adalah psikologi binatang, yaitu suatu aliran yang berkembang dari revolusi Darwin dalam biologi. Ahli psikologi binatang melakukan penyelidikan terhadap tikus, ayam dan kera sebagai ganti manusia; mereka mengakui bahwa metoda mereka sama dengan metoda ilmu alam. Sebagai hasil dari penyelidikan-penyelidikan tersebut, mereka mengambil kesimpulan bahwa tugas seorang ahli psikologi adalah untuk menyelidiki tingkah laku manusia dan bukan jiwa manusia dan kesadarannya.

John B. Watson yang mendirikan aliran behavioris psikologi berpendapat bahwa penyelidikan-penyelidikan ilmiah tentang manusia harus terbatas pada hal-hal yang dapat dilihat secara obyektif. “Apakah yang dapat kita amati? Yang dapat kita amati adalah tingkah laku, apa yang badan manusia lakukan.”[2] Implikasi pembatasan ini adalah bahwa bidang pengamatan tidak meliputi apa yang dimaksudkan oleh manusia dengan perkataan atau tindakannya. Semua kata obyektif seperti: indra, persepsi, dorongan dan maksud menjadi hilang. Bagi Watson manusia hanya mesin organik yang dirakit dan siap untuk berjalan.[3] Banyak pengikut aliran behavioris, termasuk B. F. Skinner, terpukau oleh kemungkinan bahwa manusia dapat diatur semenjak lahir.

Pendirian ahli perilaku (behavior) adalah bahwa pribadi-pribadi itu sama, dan merupakan manusia yang dilengkapi dengan syaraf-syaraf dan alat-alat mekanik, dan siap untuk diberi bentuk secara kebetulan atau sengaja, oleh kekuatan-kekuatan di sekelilingnya. Kritik yang pedas telah dilancarkan orang terhadap pendekatan ini. Hannah Arendt sangat meremehkannya dan menamakannya sebagai “suatu pengakuan yang menyeluruh tentang ilmu sosial yang dilemparkan oleh ilmu behavioral untuk menurunkan manusia secara keseluruhan dan dalam segala aktivitasnya, sampai menjadi binatang yang bergerak setelah ia dikondisikan.[4]

Kamu behavioris dan para existensialis ateistik mengingkari bahwa manusia itu memiliki watak manusia yang esensial. Seorang behavioris memandang manusia sebagai robot. Semua orang dapat dimanipulasikan oleh lingkungannya. Existensialis, seperti Sartre, berpendapat sebaliknya; manusia tak memiliki watak manusia, karena ia telah ada sebelum dapat diberi definisi tentang dirinya. “Manusia adalah tak lain kecuali apa yang ia bentuk tentang dirinya. Manusia adalah satu proyek yang memiliki kehidupan yang subyektif. Jadi ia bukan tumbuh-tumbuhan seperti lumut, cendawan dan bunga kol.”[5] Bagi Sartre , manusia itu merdeka, terlontar sendirian tanpa sebab; ia tidak dapat memakai Tuhan atau masyarakat untuk menerangkan tindakan-tindakannya. Manusia itu hanya kumpulan dari tindakannya. Jika eksistensi mendahului esensi, manusia tak dapat mempertahankan tindakannya dengan menyebutkan watak manusia. “Dengan perkataan lain, manusia adalah kebebasan”.[6]

(Sumber: Harold H. Titus. (1984). Persoalan-persoalan Filsafat).


[1] John B. Watson, The Way of Behaviorism (New York: Harper, 1928), hal. 35-36.

[2] John B. Watson, Behaviorism (Chicago: U. of Chicago Press, 1958), hal. 6.

[3] Ibid, hal. 269.

[4] Hannah Arendt, The Human Condition (Chicago: U. of Chicago Press, 1958), hal. 45.

[5] Jean Paul Sartre, “Existensialism It a Humanism”, hal. 291.

[6] Ibid.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: