Archive for the Kosmologi dan Waktu Category

Kosmologi dan Waktu dalam Perspektif Ibn Arabi (5)

Posted in Kosmologi dan Waktu with tags , , , , , on Februari 8, 2012 by isepmalik

Kemudian di bawah tujuh Taman muncul bola berupa bintang-bintang, rasi bintang, dan “rumah besar” (Manazil) Bulan. Namun, Ibn Arabi menyatakan bahwa bintang-bintang memiliki posisi yang tidak tetap; pada waktu itu pendapat ini tidak begitu populer.

Bola dari bintang-bintang (secara konvensional) dibagi menjadi 28 rasi bintang atau “rumah” di mana Bulan muncul untuk melaluinya. Selanjutnya, setelah kemunculan bintang-bintang, Tuhan menciptakan benda angkasa yang terlihat berupa “tujuh langit” (al-samawat) dan Bumi. Ibn Arabi menunjukkan bahwa dalam kaitannya dengan “Kursi” (Kursi), dimensi Bumi bersama dengan tujuh langit terlihat seperti cincin di padang pasir yang luas—seperti Kursi dalam relasi dengan besarnya Kerajaan Tuhan.

Kemudian Ibn Arabi berbicara panjang lebar (Pasal 371 dari Futuhat) mengenai keadaan, tingkatan Taman dan deskripsi lain mengenai dunia lain (al-akhirat). Namun, pembahasan ini dibatasi secara singkat mengenai poin-poin yang relevan dengan kosmologis, khususnya fokus terhadap konsep waktu.

Pertama, harus diperhatikan bahwa Ibn Arabi, mengikuti kebiasaan orang Arab, menyebut Matahari dan Bulan sebagai “planet”. Tetapi pada saat yang sama ia dengan jelas membedakan antara sifat planet-planet (termasuk Bulan) dan Matahari, hasil pengamatan bahwa Matahari “bertanggung jawab untuk menerangi semua planet bagian atas dan bawah”. Seperti kebiasaan dalam tulisan Arab (termasuk dalam astronomi), ia juga menyebut bintang-bintang dengan istilah “planet” (kawkab), namun ia mengetahui bahwa bintang seperti Matahari memancarkan cahaya sendiri.

Membaca karya Ibn Arabi tentang dunia mungkin ada kesamaan dengan karya tradisional Aristoteles (geosentris) mengenai cara memandang dunia. Seperti kebanyakan kosmologi kuno lainnya (sesuai Al-Quran dan Hadits), ia berbicara tentang “tujuh langit” di sekitar atau di atas Bumi yang dihuni oleh sebuah planet (termasuk Matahari dan Bulan, seperti ditunjukkan pada Gambar 1.4). Tapi Ibn Arabi menekankan bahwa hal ini menurut cara pandang orang yang tinggal di Bumi, sehingga ia membedakan antara pandangan duniawi dan gerakan aktual planet dan bintang. Jadi, bagi Ibn Arabi, pandangan Aristoteles adalah pandangan dari dunia seperti yang kita lihat, sementara alam semesta tidak dapat dijelaskan seperti itu. Dia menekankan posisi sentral Matahari yang dianggapnya berada di “jantung” (pusat) dari tujuh langit, dan ia menekankan keunggulan Matahari atas planet-planet lain termasuk Bumi: “Keunggulan tempat ini (Matahari) karena menjadi jantung bola, sehingga ia memiliki status yang tinggi daripada bola-bola lainnya.” Oleh karena itu, pandangan aktualnya mengenai dunia (lokal) sama dengan “heliosentris”, setidaknya dalam kaitannya dengan status unik atau “peringkat” (makana) dari Matahari.

Adapun wilayah bintang dan rasi bintang biasanya ditentukan oleh 12 tanda-tanda zodiak atau 28 rumah Bulan, Ibn Arabi menganggap mereka sebagai suatu konvensi belaka yang tidak selalu berhubungan dengan posisi sebenarnya dari bintang-bintang tertentu. Dia mengatakan: “Zodiak (rasi bintang) adalah posisi perkiraan, dan ia merupakan rumah untuk planet-planet yang bergerak”. Dan selanjutnya ia mengatakan bahwa “bintang-bintang disebut “rumah” karena planet-planet bergerak melalui mereka, tapi tidak ada perbedaan antara mereka dan bintang-bintang lain yang tidak memiliki rumah. Mereka hanya asumsi dan proporsi dalam tubuh ini (langit)”.

Di sisi lain, kita tidak bisa secara ketat memisahkan dunia materi dari dunia abstrak atau spiritual, karena mereka benar-benar tumpang-tindih—atau lebih tepatnya, semua dunia materi (“Kursi”, langit bagian atas, dan Bumi bagian bawah) terkandung dalam “Kerajaan” imaterial. Inilah sebabnya mengapa Ibn Arabi kadang-kadang mencampur dua pandangan tersebut: misalnya, ia menggambarkan tonggak merujuk pada Manusia Sempurna yang ia anggap sebagai “citra dari yang Real” (yaitu Tuhan) dalam kosmos, sehingga tanpa-Nya kosmos akan runtuh. Dia juga berbicara, mengikuti simbolisme kitab suci, tentang tujuh langit “mendukung” pada tujuh (level atau daerah dari) Bumi. Namun, Ibn Arabi tidak menganggap bahwa hal itu menjadi gambaran fisik yang sebenarnya dari sesuatu, karena ia jelas-jelas menyatakan bahwa Bumi adalah bulat dan berputar sekitar pusat: “Tetapi gerakan Bumi tidak jelas bagi kita, dan gerakannya berada di sekitar tengah (pusat) karena ia berbentuk bola”. Dia bahkan menjelaskan mengapa kita tidak merasakan gerakan Bumi dan kosmos pada umumnya (bintang-bintang). Misalnya, dia mengatakan bahwa orang-orang dan kebanyakan makhluk lainnya tidak merasakan gerak kosmos karena semuanya bergerak sehingga dimensi yang disaksikan seolah-olah tidak berubah, dan itulah sebabnya mengapa orang-orang membayangkan bahwa Bumi bersifat statis di alam semesta.

Iklan

Kosmologi dan Waktu dalam Perspektif Ibn Arabi (4)

Posted in Kosmologi dan Waktu with tags , , on Februari 7, 2012 by isepmalik

Jiwa Universal memiliki dua kekuatan yang disebutkan dalam Gambar 1.1: “kekuatan intelektif” (quwwa ‘ilmiyya) yang dipandang sebagai pengetahuan, dan “kekuatan aktif” (quwwa ‘amaliya) yang mempertahankan eksistensinya melalui gerakan. Hal pertama yang dimunculkan Jiwa Universal seperti ditunjukkan pada gambar yang sama ada dua: “level Alam”[1] dan “Chaos” (al-haba: harfiah artinya “Debu”) atau “Materi Pertama” (al-hayula al-ula). Dari sini, Ibn Arabi menggunakan gambaran simbolis “pernikahan” suami-istri dari unsur-unsur generatif dan “melahirkan” setiap urutan atau manifestasi level penciptaan. Jadi, Jiwa Universal pertama kali melahirkan Alam dan kemudian Materi Pertama atau Debu. Kemudian Alam dan Debu melahirkan “anak” pertama yang disebut “Tubuh Universal” (al-jism al-kull). Proses simbolis “kelahiran” kosmos terjadi dalam rangkaian panjang dan menjadi penyebab sehingga menghasilkan “tanah” (turab) yang mengacu pada materi fisik secara umum. Jadi, dunia fisik muncul “setelah” Tubuh Universal ini, sebelum itu semuanya bersifat spiritual.

Seperti pada Gambar 1.2, Tubuh Universal memuat segala sesuatu di dalamnya, termasuk zodiak (dengan semua bintang dan galaksi). Atau, kita dapat mempertimbangkan bahwa dunia fisik dibentuk oleh (bukan “di dalam”) Tubuh Universal, karena seperti Akal Universal dan Jiwa Universal, Tubuh ini dapat disebut Tubuh Pertama karena ia yang pertama kali diciptakan. Selain itu, dunia material dan spiritual terbentuk oleh Monad Tunggal melalui manifestasi Monad yang berkelanjutan. Jika kita kemudian menganggap bahwa Tubuh Pertama adalah “partikel elementer” pertama yang dibentuk oleh Monad Tunggal maka dunia fisik dibentuk “oleh” Tubuh Pertama ini. Kemungkinan lain adalah Tubuh Universal semacam awan besar materi dalam bentuk primer, kemudian berkembang menjadi bintang dan galaksi; dalam hal ini kita dapat mengatakan bahwa dunia fisik terbentuk “dalam” Tubuh Universal. Hal pertama yang dibentuk dalam (atau oleh) Tubuh Universal adalah “Arasy” (al-‘Arsy) di mana Tuhan mendirikan kekuasaan-Nya (istiwa)[2] dari nama-Nya “Yang Maha Penyayang” (al-Rahman), yang berarti bahwa semua makhluk di bawah Arasy diberikan Rahmat kreatif atas eksistensi-Nya. Oleh karena itu, hal pertama yang ditulis Kalam Tertinggi atau Akal Pertama dalam Jiwa Universal adalah “Arasy” di mana seluruh ciptaan (kosmos) akan muncul. Semua ini ditunjukkan pada Gambar 1.2.

Di dalam (atau “di bawah”) Arasy muncul “Kursi” (al-Kursi) yang memiliki dimensi dengan perbandingan lebih relatif lebih kecil daripada dimensi spiritual Arasy; Ibn Arabi membandingkannya dengan sebuah cincin kecil di padang pasir yang luas. Dalam hal ini, “Kursi” adalah “Bulatan Isotropik” (al-falak al-atlas) yang mengandung bola dari bagian zodiak (falak al-buruj) dan bola dari bintang (al-falak al-mukawkab), termasuk di bawahnya bulatan yang terpisah dari lima planet, Matahari, Bulan, dan Bumi. Semua ini ditampilkan pada Gambar 1.3 dan 1.4.

Dikatakan Bulatan Isotropik atau bola karena tidak mengandung bintang atau belum ada fitur yang membedakan, homogen dalam segala arah. Lingkup zodiak adalah bola pertama yang dibuat di dalam Bulatan Isotropik, dan permukaannya dibagi menurut konvensi manusia dalam 12 bagian yang secara tradisional menandakan variasi tanda-tanda zodiak. Menurut diagram dalam Gambar 1.3 dan komentar Ibn Arabi dalam Bab 371 dari Futuhat, ia adalah jarak yang besar antara galaksi dengan bintang-bintang yang ada di galaksi kita, sementara tanda-tanda zodiak adalah galaksi lain yang sangat jauh. Dalam ruang yang berkembang ini, Tuhan menciptakan tujuh “Taman” (al-jinan) sebagaimana disebutkan dalam Al-Quran dengan tingkatan yang berbeda dan sebagai tanda simbolis “tempat pertemuan” antara realitas-realitas spiritual murni dari Arasy dan realitas “berkesadaran” dalam Kursi tersebut. Nama khusus dari masing-masing tujuh Taman tersebut diambil dari ayat-ayat dalam Al-Quran dan Hadits, dan mereka berbeda antara Tujuh Surga dan Langit (samawat). Bagi Ibn Arabi, ruang tujuh langit yang sama terdiri dari lima planet (yang dikenal waktu itu) ditambah Bulan dan Matahari, seperti ditunjukkan pada gambar 1.4 dan 1.3. Kata al-Wasila dua kali melintasi ketujuh Taman (pada Gambar 1.3) sesuai dengan “level tertinggi dalam (Taman tertinggi) Eden, dan pemiliknya (khususnya) adalah Sang Utusan (Muhammad) Tuhan. Hal ini juga dikenal sebagai al-maqam al-mahmud (tempat terpuji) dan disebut al-Wasila(perantara, “Jalan Pendekatan kepada Tuhan) karena “melalui itu Tuhan dapat didekati”.


[1] Alam di sini bermakna “level Alam” (martabat al-tabi’a) (yaitu empat elemen dasar) dan bukan alam dalam arti fisik yang merupakan dunia material. Ibn Arabi menjelaskan bahwa level Alam bukan merupakan eksistensi yang terpisah-pisah.: “Jadi, (Tuhan) menciptakan level Alam (nyata) yang eksistensinya berada di bawah Jiwa meskipun ia tidak benar-benar eksis tetapi dapat disaksikan oleh yang Real. Itulah sebabnya Ia (Tuhan) menentukan dan membedakan level. Hal ini berkaitan dengan wujud Alam seperti Nama-nama Tuhan: dapat diketahui dan dibayangkan, efeknya dapat muncul dan tidak dapat diabaikan, sedangkan secara umum  tidak memiliki esensi (terpisah). Demikian juga (level) Alam memberikan potensi bentuk kesadaran dan memiliki eksistensi nyata, tetapi eksistensinya tidak terpisah. Jadi, bagaimana kekuatan keadaan ini dan seberapa tinggi efeknya?

[2] Lihat: QS. 20:5, 7:54, 2:29, 10:3, 25:59, 32:4, 57:4. Kita akan melihat dalam penjelasan selanjutnya mengenai enam arah ruang yang diciptakan dalam proses “pemasangan” (istiwa) di Arasy dalam enam hari mulai Minggu sampai Jumat.

Kosmologi dan Waktu dalam Perspektif Ibn Arabi (3)

Posted in Kosmologi dan Waktu with tags , , , , , on Februari 3, 2012 by isepmalik

Garis Besar Kosmologi Ibn Arabi

Ibn Arabi (1165-1240) adalah seorang sufi agung dari Abad Pertengahan dan salah satu penulis paling berpengaruh dalam sejarah Islam, tulisan-tulisannya mempengaruhi peradaban Islam selama berabad-abad dan diminati secara luas di Barat. Nama lengkapnya adalah Abu Abdillah Muhammad Ibn al-Arabi al-Hatimi al-Ta’i. Ia dilahirkan di Murcia (di timur Andalusia) dari keluarga yang sangat saleh dan berbudaya. Ketika ia berusia tujuh tahun, keluarganya pindah ke Sevilla, dan pada usia enam belas tahun “dimasukkan pada sekolah tasawuf”. Ia bepergian di antara daerah Andalusia dan Maroko selama beberapa tahun sebelum pergi ke daerah Timur. Pada tahun 1201, ia berkunjung ke Kairo, Yerusalem, dan akhirnya ke Makkah untuk menunaikan haji. Karyanya membuat ia terkenal, dan karena keterkenalannya ia dicari oleh Saljuk, Pangeran Ayyubiyyah, dan sekelompok orang yang ingin menjadi muridnya. Ia populer disebut Muhyi al-Din (Reviver of Religion) dan al-Syaikh al-Akbar (the Greatest Master). Ia melanjutkan perjalanan di seluruh Timur Tengah sampai menetap pada tahun 1224 di Damaskus sampai wafatnya pada tahun 1240.[1]

Dua karya Ibn Arabi yang paling terkenal dan berpengaruh adalah al-Futuhat al-Makiyya (The Meccan Illuminations) sebuah ensiklopedi mengenai kebijaksanaan Islam (Nasr, 1965: 92-98) dan Fusus al-Hikam (The Bezels of Wisdom) berisi jenis-jenis spiritual. Karya Ibn Arabi lainnya seperti: Kitab al-Tajaliyyat, Tarjuman al-Ashwaq, Mashahid al-Asrar al-Qudsiyya, Mawaqi’ al-Nujum, ‘Uqlat al-Mustawfiz, Insha’ al-Dawair, dan al-Tadbirat al-Ilahiyya; di samping 29 risalah pendek yang diterbitkan dalam koleksi Hyderabad dikenal sebagai Rasa’il Ibn ‘Arabi dan banyak buku serta risalah pendek lainnya. Lebih dari 850 buku telah dihasilkan olehnya.[2]

Ibn Arabi bukan seorang astronom, dan tidak pernah tertarik pada astronomi sebagai ilmu. Tapi sebagai seorang sufi dan teolog mistis senantiasa diilhami ajaran kosmologis dan simbolisme yang terdapat dalam Al-Quran dan sejumlah hadis terkait yang berbicara tentang planet, orbs, dan gerakan mereka sebagai struktur yang diciptakan Tuhan serta hubungan mereka dengan Nama-nama Tuhan. Ia menggunakan kosmologi sebagai cara memperoleh pengetahuan Ketuhanan. Selain dari risalah singkat di mana ia berbicara tentang beberapa mata pelajaran astronomi yang diintegrasikan dengan filsafat dan teologi, Ibn Arabi tidak mencurahkan buku khusus untuk menjelaskan langit. Namun demikian, dalam karyanya yang agung, ­al-Futuhat al-Makiyya (selanjutnya disebut Futuhat), kita dapat menemukan beberapa paragraf yang dapat digunakan untuk menggambarkan pandangannya yang mendalam tentang kosmos.

Dapat dikatakan bahwa pandangan Ibn Arabi mengenai alam semesta benar-benar menantang, bahkan jika dibandingkan dengan teori-teori modern sekalipun. Sebagai contoh, ia secara jelas menyatakan bahwa bintang-bintang tidak tetap di posisinya—lebih dari tujuh abad sebelum hal ini diketahui secara ilmiah—dan pergerakan benda langit tidak terlihat oleh indra fisik. Selain itu, ia memberikan kecepatan rata-rata gerak bintang dalam seratus tahun per derajat busur yang cukup konsisten dengan hasil pengukuran pada masa sekarang; ia bahkan menggunakan satuan pengukuran yang sama dengan masa modern (Smart, 1977: 249). Ia juga menjelaskan “retrograde motion” yang diamati dari beberapa planet dan pembentukan planet-planet di tata surya dalam cara yang mirip dengan cara yang diterima secara luas pada masa kini. Tapi yang paling penting dalam hal ini adalah pandangannya tentang heliosentris, seperti yang diajukan Copernicus berabad-abad sesudahnya. Dia juga menegaskan bahwa Bumi adalah bulat, bergerak dan berputar, dan ia juga menjelaskan mengapa orang tidak menyadari gerakan Bumi di sekitar pusatnya.

Pemahaman Ibn Arabi mengenai realitas dan proses penciptaan telah banyak dibahas ulama. Ibn Arabi sendiri membahas secara khusus perkembangan kosmologis dalam Futuhat pada Bab 371 dan lebih detail lagi pada Bab 198; begitu pula dalam buku-buku lainnya seperti Insha al-Dawair, al-Tadbirat al-Ilahiyya, dan ‘Uqlat al-Mustawfiz. William Chittick menulis buku The Self-disclosure of God: Principles of Ibn al-‘Arabi’s Cosmology (selanjutnya disingkat SDG) tentang ontologi dan kosmologi Ibn Arabi, ia juga menulis buku seperti The Sufi Path of Knowledge: Ibn al’Arabi’s Metaphysics of Imagination (selanjutnya disingkat SPK), dan juga Henry Corbin membahasnya dengan judul: Alone with the Alone: Creative Imagination in the Sufism of Ibn ‘Arabi (Corbin, 1969: 184).

Semesta dalam pandangan Ibn Arabi terdiri dari material dan abstrak, dunia spiritual atau noetik (‘aqli). Dia mengatakan bahwa alasan utama penciptaan kosmos adalah “Cinta”. Dalam menjelaskan prinsip yang mendasarinya itu, ia sering mengacu pada hadits al-quds yang terkenal (Khazanah Tersembunyi)[3] yang menyatakan bahwa Tuhan akan “mencintai” ketika diketahui dan memberikan keistimewaan kepada makhluk yang datang untuk mengenal-Nya. Jadi, cinta Tuhan adalah rahmat (rahma) dari-Nya yang ingin diberikan kepada makhluk-Nya. Anugerah ini merupakan keadaan pertama kali dari kehadiran Tuhan yang berhubungan dengan dunia yang akan dicipta, dan karena itu Ia membentuk tempat abstrak (ruang) di mana ciptaan akan muncul. Seperti tersirat dalam hadits Nabi, Ibn Arabi menyebut tempat ini sebagai abstrak al-‘ama (awan).[4] Menurut catatannya, realitas al-‘ama menerima bentuk-bentuk dari “Roaming Spirits” (al-arwah al-muhayyama) yang dicipta secara langsung oleh Tuhan tanpa perantara. Hal ini disebabkan penciptaan langsung Ruh di hadapan Tuhan, tidak ada yang tahu selain Dia. Mereka (yang diciptakan) bahkan tidak tahu tentang dirinya sendiri (tidak memiliki kesadaran diri). Tuhan menunjuk salah satu Ruh dan diberikan kepadanya suatu pencerahan khusus dari Pengetahuan Ilahi (tajalli ‘ilmi) yang semua terukir dalam dirinya bahwa Tuhan ingin menciptakan seluruh kosmos ini sampai Hari Terakhir. Ruh lainnya tidak mengetahui tentang hal itu. Makhluk muncul karena Ruh yang telah mendapat pencerahan tersebut—yang kemudian disebut “Akal Universal” (al-‘aql al-kulli) atau “Akal Pertama” (al-‘aql al-awwal) atau Al-Quran menyimbolkannya dengan “Kalam Tertinggi” (al-qalam al-a’la)—yang sadar terhadap dirinya dan ruh lainnya, sementara ruh yang lain tidak mengetahui tentang dia.

Melalui pencerahan ini, Akal Pertama melihat dirinya yang terdiri dari dirinya sendiri dan kemampuan lebih untuk menyadari. Ia juga melihat bahw ia memiliki “bayangan” hakiki disebabkan oleh Cahaya pencerahan khusus yang diwujudkan melalui Nama Ilahi “Cahaya” (al-nur). Bayangan ini adalah “jiwa”nya—yang disebut “Jiwa Universal” (al-nafs al-kulliyya) atau “Jiwa Pertama” (al-nafs al-ula) atau disebut juga “Tertinggi”/ “Butir Terlindung” (al-lawh al-a’la/ al-mahfuz)—di mana ia akan menulis (yang diketahuinya) yang akan terjadi sampai Hari Terakhir. Seluruh alam semesta, kemudian—sesuai simbolisme yang terdapat dalam Al-Quran—adalah “Surat” dan “Firman” Tuhan yang diciptakan melalui “Nafas Yang Maha Penyayang”. Kita akan melihat dalam pembahasan selanjutnya bahwa fundamental “blok” di alam semesta adalah “string” atau getaran (“suara” atau “catatan”) yang mirip dengan pengertian Ibn Arabi mengenai hirarki dari “nafas pria” (rijal al-anfas). Oleh karena itu, mengatakan bahwa seluruh alam semesta adalah “Surat” atau “Firman” Tuhan tidak hanya simbolisme,[5] karena firman terus-menerus ditulis oleh “Kalam Tertinggi” (Akal Pertama) dalam Butiran Tertinggi (Jiwa Universal). Gambar 1.1 menunjukkan Awan dan isinya kepada “kedudukan Arasy” (‘Arsy al-istiwa) yang berbeda dari makna kosmologis biasa dengan “Tahta Ilahi”. “Kedudukan Tahta” adalah tahta di mana “Tuhan membentuk otoritas-Nya” seperti apa yang disinggung dalam al-Rahman ‘ala al-‘arsy istawa (QS. 20:5).

Dalam Bab 371 disebutkan bahwa alam semesta muncul dalam Jiwa Universal melalui Akal Universal sebagai hasil apa yang disebut Ibn Arabi “perkawinan abstrak” (atau spiritual) (nikah ma’nawi). Hal ini karena segala sesuatu yang terjadi sebagai akibat dari penyebab partikular, seperti “anak” menyebabkan ada yang dianggap sebagai “ayah” dan “ibu” adalah objek di mana “anak” muncul. Sama seperti kita semua (dimensi luar tubuh kita) disebut “anak” dari Adam dan Hawa, semua hal lainnya di alam semesta dapat dianggap sebagai “anak” dari Akal Universal atau Jiwa Universal.


[1] Informasi mengenai hidup dan latar belakang intelektual Ibn Arabi, lihat: Addas (1993) dan Hirtenstein (1999).

[2] Untuk mengetahui daftar buku dan karya Ibn Arabi, lihat: Yahya (1964). Dalam buku ini Utsman Yahya menyebutkan lebih dari 900 buku (dengan 1.395 judul) karya Ibn Arabi.

[3] Dalam hadits ini Tuhan berkata, “Aku adalah khazanah tersembunyi, Aku ingin dikenal; Aku menciptakan makhluk supaya Aku dikenal”. Hadits qudsi ini tidak ditemukan dalam koleksi hadits standar, tetapi dapat ditemukan  dalam literatur Sufi dan khususnya dalam karya Ibn Arabi.

[4] Lihat: Kanz al-Umal: 1185, 29851. Ibn Arabi sering mendiskusikan  hadits ini dalam Futuhat al-Makiyya.

[5] Lihat: The Language of the angels, oleh Pierre Lory, dalam Simposium The Breath of the All-Merciful di Berkeley, 1998 (tersedia juga dalam bentuk audio dari Komunitas Muhyiddin Ibn Arabi, Oxford).

Kosmologi dan Waktu dalam Perspektif Ibn Arabi (2)

Posted in Kosmologi dan Waktu on Februari 2, 2012 by isepmalik

Kosmologi Modern

Sejak masa Copernicus, pandangan kita tentang kosmos berkembang lebih luas dan akurat. Bukan tujuannya di sini untuk menjelaskan teori-teori kosmologi modern yang rumit, tetapi hanya menggambarkan ringkasan mengenai kosmos berdasarkan pengamatan para ilmuwan. Untuk melihat gambaran mengenai kosmos kita kembali ke tahun 1924 ketika Edwin Hubble menunjukkan bahwa galaksi kita bukanlah satu-satunya entitas dalam ruang; banyak bintik-bintik cahaya samar yang kita lihat di langit sebenarnya merupakan galaksi lain yang lebih besar dari galaksi yang kita diami, tetapi mereka terlihat begitu kecil karena jaraknya dalam ruang sangat jauh.

Karena gaya gravitas, segala sesuatu di langit bergerak atau mengorbit di sekitar titik dalam ruang. Bulan mengorbit Bumi, dan Bumi beserta planet-planet lain mengorbit Matahari, Matahari juga mengorbit—bersama juta bintang lainnya—pusat galaksi Bima Sakti, dan jutaan galaksi bergerak dalam ruang yang luas.

Pandangan pada masa sekarang menyatakan bahwa segala sesuatu di dunia ini bergerak: bintang-bintang terdekat memiliki gerakan yang tepat karena mereka tertarik ke arah pusat galaksi, dan galaksi bergerak menjauhi kita karena alam semesta mengembang. Meskipun memiliki berbagai gerakan tersebut, di sisi lainnya alam semesta tidak memiliki pusat atau tepi. Sulit untuk dibayangkan, tetapi alam semesta memiliki kelengkungan di sekitarnya sehingga jika Anda terbang lurus dalam satu arah dan terus bergerak dalam garis lurus, suatu saat Anda akan muncul kembali dari arah yang berlawanan pada titik yang sama (seandainya tidak ada fluktuasi gravitas); peristiwa seperti ini terjadi pada orang yang mengelilingi bumi.

Sama seperti Matahari, bintang-bintang yang kita lihat di langit memiliki reaktor fusi nuklir besar yang terus-menerus mengubah hidrogen menjadi unsur yang lebih berat dan karenanya menghasilkan panas dan cahaya. Tapi tidak semua bintang sama: ada yang besar dan kecil, ada yang masih muda dan sudah tua, ada yang cerah dan lainnya pucat. Juga, sepanjang waktu banyak bintang yang mati dan banyak pula yang lahir dalam proses evolusi yang sangat rumit (Benih, 1990: 134-281).

Jadi, bagaimana penjelasan semua ini menurut teori kosmologi modern? Tentu saja di sini tidak akan membahas semua teori fisika dan kosmologi, tetapi saya berusaha membuat ringkasan dari prinsip-prinsip model dasar mengenai kosmos sehingga kita dapat memahami pentingnya “Single Monad Model” yang akan dibahas selanjutnya berdasarkan pada pemahaman cemerlang dari Ibn Arabi tentang waktu dan teori “Kesatuan Wujud”.

Ringkasan Teori Kosmologi Modern

Setelah penemuan-penemuan yang menakjubkan dan sejumlah data yang diperoleh oleh teleskop, pesawat ulang-alik, dan keberhasilan teori Relativitas dan Mekanika Kuantum, para ilmuwan mencoba untuk membangun model kosmologi baru untuk menjelaskan struktur dan asal mula alam semesta atas dasar informasi tersebut. Di sini akan diuraikan secara singkat mengenai teori-teori kosmologi yang telah dikembangkan pada era modern.

Para ilmuwan sampai awal abad kedua puluh mempercayai bahwa alam semesta bersifat statis di luar tata surya, tapi kepercayaan ini terbukti keliru. Einstein pertama kali mencoba membuat teori yang sesuai dengan alam semesta yang statis, tetapi teorinya memperlihatkan bahwa alam semesta mengembang. Alam semesta mengembang menyiratkan bahwa alam semesta dimulai pada satu saat sekitar 15 miliar tahun lalu dari titik sangat kecil dengan kepadatan sangat tinggi, dan kemudian diperluas sampai menjadi keadaan seperti sekarang. Peristiwa ini disebut “Big Bang” dan model kosmologi dikembangkan atas dasar pandangan ini (Narkilar, 1993: Bab 2 dan Bab 5).

Teori “Steady State” mencoba menjelaskan ekspansi alam semesta dengan mengandaikan penciptaan terus-menerus materi yang dihasilkan oleh ekspansi, namun penemuan radiasi gelombang mikrokosmik pada tahun 1965 oleh Penzias dan Wilson menyebabkan model “Steady State” tidak dapat dipertahankan. Radiasi gelombang mikrokosmik ini ditafsirkan sebagai sisa-sisa cahaya dari radiasi yang intens dari “Hot Big Bang” yang telah diprediksi oleh Alpher dan Hermann tahun 1949 dan Gamov pada tahun 1946 (Dolgov et al., 1990:11).

Namun terdapat masalah mengenai radiasi gelombang mikrokosmik tersebut, yaitu semua pengukuran menunjukkan hal yang sangat seragam di semua arah. Keadaan isotropi dari radiasi ini merupakan sebuah teka-teki karena dengan homogenitas tersebut tidak mungkin bintang atau galaksi bisa dihasilkan (Tayler, 1993: 194). Pada tahun 1992, NASA meluncurkan satelit Cosmic Background Explorer (COBE) yang berhasil mendeteksi keadaan an-isotropi pada radiasi gelombang mikrokosmik: terdapat benih-benih dari mana galaksi terbentuk dengan kemungkinan satu per seratus ribu (Schewe dan Stein, 1992).

Model “Big Bang” sangat baik dalam menjelaskan hasil-hasil pengamatan, namun di sisi lain terdapat kontradiksi (Linde, 1990: 4). Kontradiksi-kontradiksi tersebut diselesaikan oleh “inflationary scenario” (“skenario inflasi”) yang diusulkan Alan Guth pada tahun 1979. Dalam penjelasannya, Guth memulai dari tahap paling awal perkembangan alam semesta sekitar 10-32 sampai 10-43 detik setelah penciptaan awal. Selama periode ini materi dalam keadaan tereksitasi yang sangat tinggi, menyebabkan kondisi paling ekstrim dengan kepadatan dan tekanan tinggi yang membuat kosmos diperluas secara eksponensial mengisi alam semesta dalam wujud api padat berupa partikel dan foton (Linde, 1990: 42).

Dalam mekanika klasik (Newtonian), orang bisa memprediksi perilaku sistem jika keadaan awalnya diketahui. Tapi dalam Mekanika Kuantum, kita hanya dapat menghitung probabilitas bagaimana sistem akan berkembang (White, 1966: 29). Bagaimanapun, masalah utama dalam kosmologi adalah menentukan keadaan awal supaya suatu hukum dapat diaplikasikan. Salah satu pendekatan yang berhasil mengurai masalah ini adalah menjelaskan awal mula penciptaan alam semesta dengan menggunakan sifat-sifat alam semesta sekarang untuk menyimpulkan keadaan awal tersebut.

Masalah yang terdapat dalam teori “inflationary scenario”: ketika inflasi terjadi, alam semesta terbentuk dengan mengandung materi yang sama dalam keadaan tereksitasi, tetapi, pertanyaan selanjutnya adalah mengapa terjadi eksitasi dan keadaannya demikian. Untuk mengatasi masalah ini, beberapa ilmuwan mencoba menerapkan Mekanika Kuantum untuk seluruh alam semesta, dan hasilnya adalah teori Kosmologi Kuantum.[1] Hal ini terdengar tidak masuk akal, karena sistem besar (seperti alam semesta) sudah sesuai dengan hukum klasik bukan hukum kuantum. Teori Einstein tentang Relativitas Umum adalah teori klasik yang secara akurat menggambarkan evolusi alam semesta mulai dari awal penciptaan sampai keberadaannya sekarang. Namun, diketahui bahwa Relativitas Umum tidak konsisten dengan prinsip-prinsip Teori Kuantum, dan karena itu ia bukan deskripsi yang tepat mengenai proses fisik yang terjadi pada skala yang sangat kecil atau pada waktu yang sangat singkat. Untuk menggambarkan proses tersebut, kita memerlukan teori Gravitasi Kuantum.

Dalam fisika non-gravitasional, pendekatan Teori Kuantum terbukti paling berhasil dengan melibatkan objek matematika yang dikenal sebagai “Path Integrals” dikenalkan oleh pemenang Hadiah Nobel bernama Richard Feynman. Pendekatan “Path Integrals” menjelaskan bahwa probabilitas sistem dalam keadaan awal A akan berevolusi ke keadaan akhir B dengan menjumlahkan kontribusi dari setiap peristiwa yang mungkin dari sistem yang dimulai di A dan berakhir di B. Untuk sistem yang besar (alam semesta), penjumlahan dari kontribusi peristiwa yang serupa akan saling meniadakan satu sama lain dan hanya terdapat satu peristiwa penting. Peristiwa ini adalah yang diprediksi oleh fisika klasik. Setiap saat, alam semesta digambarkan oleh geometri tiga dimensi spasial serta medan materi yang mungkin ada. Dengan data ini, seseorang dapat menggunakan prinsip “Path Integrals” untuk menghitung probabilitas perkembangan keadaan pada waktu yang berlainan. Namun, tentu saja hal ini masih membutuhkan pengetahuan tentang keadaan awal.

Kosmologi Kuantum adalah solusi untuk masalah ini. Pada tahun 1983, Stephen Hawking dan James Hartle mengembangkan teori Kosmologi Kuantum yang dikenal sebagai “No Boundary Proposal”. Dalam praktiknya, penghitungan probabilitas dalam Kosmologi Kuantum menggunakan “Path Integrals” dengan tingkat kerumitan yang cukup tinggi dan harus menggunakan beberapa pendekatan. Ini dikenal sebagai “pendekatan semi-klasik” karena validitasnya terletak di antara fisika klasik dan fisika kuantum. Dalam pendekatan semi-klasik dinyatakan bahwa sebagian besar dari geometri empat-dimensi (ruang-waktu) yang terjadi pada “Path Integrals” memberikan kontribusi yang sangat kecil terhadap “Path Integrals” dan karenanya dapat diabaikan, sehingga kita hanya menangani geometri tiga-dimensi (ruang). “Path Integrals” dapat dihitung dengan hanya mempertimbangkan beberapa geometri yang memberikan konstribusi sangat besar. Ini dikenal sebagai “Instantons” (dari kata “instant”, karena bertujuan menghilangkan faktor waktu sehingga seperti sebuah foto yang hanya memperhitungkan tiga koordinat ruang) yang menggambarkan spontanitas alam semesta secara harfiah (apa adanya). Dengan cara ini kita tidak harus berpikir tentang kosmos sebagai sesuatu yang terjadi di dalam arena ruang-waktu yang lebih besar. Setelah alam semesta eksis, Kosmologi Kuantum dapat diaproksimasi oleh Relativitas Umum sehingga muncul faktor waktu.

Penelitian mengenai hal ini masih berlangsung, namun dari masalah-masalah yang muncul, sekarang sedang dicoba untuk membangun sebuah teori Medan Kuantum dari gravitas menyangkut interpretasi yang sesuai dengan keadaan kuantum karena tidak ada referensi yang jelas mengenai “waktu”. Kita akan melihat bahwa pemahaman Ibn Arabi mengenai waktu bisa menjadi kunci untuk mendapatkan jawaban mengenai waktu, karena ia memandang dunia sebagai suatu eksistensi abadi yang terus-menerus diciptakan kembali. Ibn Arabi juga mengemukakan kesatuan ruang dan waktu dengan cara yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya.


[1] Informasi mengenai prinsip-prinsip Kosmologi Kuantum, lihat: Linde, 1990: Bab 3.

Kosmologi dan Waktu dalam Perspektif Ibn Arabi (1)

Posted in Kosmologi dan Waktu with tags , , , , , on Januari 24, 2012 by isepmalik

Kosmologi adalah ilmu yang mempelajari alam semesta, kosmos. Kosmos adalah kata yang digunakan dalam pemikiran metafisika Yunani yang berarti ‘harmoni’ (harmony) atau ‘ketertiban’ (order), lawannya adalah ‘kekacauan’ (chaos). Dalam salah satu teori penciptaan Yunani, chaos adalah materi tak berbentuk sebagai asal mula kosmos, atau ketertiban harmonis yang diciptakan.* Waktu adalah salah satu masalah mendasar dalam filsafat dan kosmologi, karena seluruh eksistensi peristiwa berada dalam waktu. Semua orang merasakan waktu, namun kebanyakan orang tidak mempertanyakan hal itu karena sering dialami sehari-hari dalam banyak hal dan begitu dekat. Namun, sebenarnya jauh lebih sulit untuk memahami sifat filosofis waktu dan karakteristiknya.

Sepanjang sejarah filsafat, banyak pandangan yang bertentangan ketika mendiskusikan dan menggambarkan waktu, dan beberapa hipotesis terbaru muncul dalam kosmologi modern. Namun, merupakan impian setiap fisikawan untuk mengungkap realitas waktu, terutama karena teori modern sampai pada kesimpulan bahwa waktu adalah kuncinya.

Gambaran Singkat Model Kosmologi Awal

Dimulai pada abad kedua belas, ilmuwan Arab, ahli Taurat, dan penerjemah secara bertahap memperkenalkan kepada Eropa ilmu astronomi seperti yang dikembangkan dalam peradaban Islam berdasarkan model Helenistik sebelumnya (terutama Ptolemy dan Aristoteles). Tetapi, gereja Katolik memutuskan untuk mengadopsi model kosmologi geosentris[1] Ptolemeus sebagai prinsip teologisnya, ilmuwan yang mengkritik model ini dianggap sebagai pelaku bidah. Oleh sebab itu, ilmuwan Polandia bernama Nicolai Copernicus (1473-1544) mengemukakan model heliosentrisnya secara anonim dengan berjudul De Revolutionibus Orbium Caelestium (On the Revolutions of the Heavenly Orbs); buku tersebut tidak dipublikasikan sampai tahun 1543, hanya satu tahun sebelum kematiannya. Dalam model ini, Copernicus mendalilkan bahwa Matahari sebagai pusat alam semesta dan Bumi beserta planet-planet beredar mengelilingi Matahari dalam orbit lingkaran.[2]

Pada tahun 1609, Galileo menemukan teleskop dan berdasarkan penyelidikan ilmiahnya, ia menyatakan bahwa model alam semesta geosentris dari Ptolemy benar-benar tidak digunakan para peneliti berpengetahuan dan digantikan model heliosentris (Drake, 1990: 145-163). Dalam kurun tahun yang sama (1609-1619), ilmuwan Johannes Kepler merumuskan tiga pernyataan matematis yang secara akurat menggambarkan revolusi planet-planet di sekitar Matahari. Pada tahun 1687, dalam karya utamanya yang berjudul Philosophiae Naturalis Principia Mathematica, Isaac Newton mengemukakan teori gravitas yang mendukung model Copernicus dan menjelaskan bagaimana benda secara umum bergerak dalam ruang dan waktu (Hall, 1992:202).

Mekanika Newton cukup baik bila digunakan pada tata surya, tetapi teori kosmologis pada waktu itu berpandangan lain. Menurut Aristoteles, bintang-bintang memiliki posisi yang tetap dan alam semesta di luar tata surya bersifat statis. Meskipun alam semesta yang dinamis dengan mudah dapat diprediksi teori gravitas Newton, tetapi keyakinan bahwa alam semesta statis menurut Aristoteles begitu kuat sehingga bertahan selama tiga abad setelah Newton (Benih, 1990:86-107).

Pada tahun 1718, Edmund Halley membandingkan posisi bintang-bintang berdasarkan temuan klasik masa Babilonia dan astronom kuno lainnya dengan pengamatan terbaru, dan diketahui bahwa posisi bintang-bintang tidak tetap dari posisi ribuan tahun sebelumnya. Kenyataannya posisi bintang-bintang mengalami pergeseran meski dalam jarak yang relatif kecil. Keadaan ini disebut ‘gerak’ nyata bintang (tegak lurus terhadap garis pandang) berkaitan dengan latar belakang bintang yang sangat jauh. Pada tahun 1783, William Herschel menemukan gerak surya, yaitu gerak matahari relatif terhadap bintang-bintang di lingkungan galaksi tersebut. Herschel juga menunjukkan bahwa Matahari dan bintang lainnya tersusun seperti “butiran kasar dalam gerinda” (Ferguson, 1999:162-165) yang sekarang disebut galaksi Bima Sakti. Lebih dari satu abad kemudian, pada tahun 1924, Hubble mampu mengukur jarak antar bintang (berdasarkan ‘pergeseran merah’)[3] dan ia menunjukkan bahwa beberapa titik-titik terang yang kita lihat di langit sebenarnya galaksi lain seperti galaksi kita, mesipun mereka terlihat begitu kecil karena jaraknya sangat jauh (Hartmann, 1990:373-375).

Teori Aristoteles tentang alam semesta statis berakhir setelah penemuan Hubble tentang pergeseran merah dari cahaya bintang yang menunjukkan bahwa segala sesuatu di alam semesta sebenarnya bergerak; Ibn Arabi sudah menyatakan demikian berabad-abad sebelumnya. Pada tahun 1980, Stephen Hawking mengatakan:

Ketika Einstein merumuskan teori umum relativitas pada tahun 1915, ia begitu yakin bahwa alam semesta statis; ia memodifikasi teorinya supaya hipotesisnya menjadi mungkin dengan memperkenalkan sebuah konstanta kosmologis dalam persamaannya (Hawking, 1998:42).

Hipotesis Einstein ini tentu saja salah, dan semua orang kini mengetahui bahwa kosmos terus-menerus bergerak. Einstein sendiri mengganggap hipotesisnya sebagai kesalahan terbesar. Bagaimanapun, Ibn Arabi menyatakan dengan jelas bahwa posisi bintang-bintang tidak tetap, dan ia bahkan memberikan nomor dan unit bintang dengan kecepatan gerak yang tepat;** hal ini konsisten dengan pengukuran akurat terbaru.

Setelah perkembangan tersebut dan dengan munculnya teknologi baru yang digunakan dalam pengamatan yang lebih akurat untuk percepatan penelitian fisika dan astronomi. Pandangan baru tentang keseluruhan kosmos akhirnya bertemu dengan pandangan klasik. Namun, kita tidak bisa mengklaim bahwa semua pertanyaan telah mampu dijawab dan dapat membuat gambaran yang benar mengenai kosmos. Sebaliknya, pertanyaan-pertanyaan mendalam masih berupa teka-teki seperti ‘materi gelap’ dan paradoks Einstein-Podolsky-Rosen (EPR).

Seiring dengan temuan data-data dari teleskop dan pesawat ulang-alik dalam beberapa dekade terakhir, teori-teori baru banyak dihasilkan untuk mencoba menjelaskan hasil pengamatan alam semesta. Konsep ‘waktu’ dan ‘ruang’ menjadi fokus utamanya, terutama setelah ide-ide aneh dan berani dari Einstein tentang relativitas dan kelengkungan ruang-waktu yang dibuktikan Eddington melalui pengamatan gerhana Matahari total pada tahun 1918 di Afrika Selatan. Sejak itu, teori-teori lainnya seperti Mekanika Kuantum, Teori Medan, Superstring, dan Kuantum Gravitas mencoba menemukan dan menggambarkan hubungan yang sebenarnya antara objek material dan energi di satu sisi, dan antara ruang dan waktu di sisi lain. Namun, penemuan yang dicapai belum sepenuhnya meyakinkan.


* The Encyclopedia of Philosophy. (1967). Ed. Paul Edward. ‘Cosmology’, II, hal:237-244; ‘Chaos and Cosmos’, II, hal: 80-81. New York: Macmillan Publishing.

[1] Pandangan Geosentris menganggap Bumi berada di pusat alam semesta, sementara Heliosentris menganggap Matahari sebagai pusatnya. Kosmologi modern menegaskan bahwa alam semesta merupakan arena ruang-waktu yang tertutup, tidak memiliki pusat; titik di mana pun dapat dianggap sebagai pusat, seperti titik pada permukaan bumi dapat dianggap pusat (dengan memperhatikan permukaan, bukan volumenya). Jadi, apakah Bumi atau Matahari yang menjadi pusat alam semesta adalah perdebatan pada masa perkembangan kosmologi awal, tetapi tidak berlaku setelah ditemukannya galaksi dan jarak antar bintang yang berjauhan. Perlu disebutkan bahwa Ibn Arabi jelas menegaskan alam semesta tidak memiliki pusat (Futuhat al-Makiyya, Vol. II, hal: 677).

[2] Lihat: Bienkowski, B. (1972). “From Negation to Acceptance (The Reception of the Heliocentric Theory in Polish School in the Seventheenth and Eighteenth Centuries)”, dalam Perception of Covernicus’ Heliocentric Theory: Proceedings of a Symposium Organised by the Nicolas Copernicus Committee of the International Union of the History and Philosophy of Science, ed. Jerzy Dobrzycki, Boston: D. Reidel.

[3] Pergeseran merah adalah perpindahan (ke arah sisi merah) dari garis spektrum cahaya yang dipancarkan oleh bintang-bintang ketika diterima di Bumi, ini terjadi karena kecepatan tinggi dari gerakan bintang-bintang menjauhi kita. Jumlah pergeseran ke arah merah proporsional dengan jarak bintang yang menjauhi kita yang dihitung dengan tingkat akurasi tinggi berdasarkan jarak terjauh bintang dan galaksi.

** Ibn Arabi. Futuhat al-Makiyya, Vol. III, hal: 548; Vol. II, hal 441.