Archive for the Moralitas Category

Hukum Moral sebagai Ukuran Etika

Posted in Moralitas with tags , , , , , on Oktober 28, 2012 by isepmalik

Satu dari sistem etika yang besar telah dibentuk oleh Immanuel Kant (1724-1804). Untuk menilai Kant sebaik-baiknya, kita harus membaca karangan-karangannya tentang etika, khususnya “Metaphysics of Morals” dan “Critique of Practical Reason”. Filsafat moral Kant kadang-kadang dinamai formalisme, karena ia mencari prinsip-prinsip moral yang baik atau yang jahat secara inherent, tanpa memandang kepada keadaan. Prinsip-prinsip moral atau hukum, menurut Kant, adalah diakui secara langsung sebagai benar dan mengikat.

Kant mewarisi rasa hormat kristiani terhadap hukum Tuhan dan harga pribadi seseorang. Ia juga mendapat pengaruh filsafat Yunani dan filsafat abad ke-18 yang menjunjung akal setinggi-tingginya. Menurut Kant filsafat moral tidak membahas apa ang ada akan tetapi apa yang seharusnya ada. Kita masing-masing mempunyai rasa kewajiban, “saya harus”, atau hukum moral yang secara logis berada lebih dahulu daripada pengalaman, dan rasa kewajiban tersebut muncul dari watak kita yang paling dalam. Hukum moral menghubungkan kita dengan tata alam, karena hukum alam dan hukum akal pada dasarnya sama.

Setelah hukum moral, atau rasa kewajiban, Kant menghubungkan kita dan niat baik sebagai pusat. “Di dunia ini, bahkan juga di luar dunia, tak ada yang dapat dinamakan baik tanpa tambahan (qualification) kecuali niat yang baik.” Kecerdasan dan keberanian, biasanya baik, akan tetapi dapat juga dipakai untuk mengembangkan kejahatan,. Kebahagiaan mungkin diperoleh dengan jalan yang rendah. Seseorang mungkin memberi sumbangan tetapi niatnya untuk mencari nama atau karena tidak berani menolak permintaan. Niat baik adalah niat yang berdasarkan kewajiban; ia bertindak hanya atas dasar rasa hormat terhadap prinsip kewajiban. Jika seseorang bertindak karena motif yang baik, tindakannya adalah baik; kita tidak memandang kepada hasil atau akibat-akibatnya. Kant tidak mengatakan bahwa akibat-akibat itu tidak perlu diperhatikan atau tidak penting. Ia hanya mengatakan bahwa kualitas moral sesuatu tindakan tidak ditetapkan oleh akibat-akibatnya.

Jika kemauan atau motif dipimpin oleh akal dan bukan sekadar oleh kemauan, maka kemauan tersebut adalah mutlak dan tanpa syarat; ini berarti bahwa mengikutinya adalah suatu kewajiban, dan tak ada pengecualian dalam hal ini. Ajakan kepada kewajiban yang brasal dari dalam adalah hukum moral atau menurut istilah Kant “the categorical imperative”. Kant memberi tiga ukuran atau formulasi tentang hukum moral.

(Sumber: Harold H. Titus. (1984). Persoalan-persoalan Filsafat).

Iklan

Ukuran-ukuran Etika

Posted in Moralitas with tags , , , , , on Oktober 21, 2012 by isepmalik

Kesadaran tentang situasi moral (menghadapi alternatif, tuntutan-tuntutan hidup, bahan-bahan kehidupan moral, pertimbangan tentang pendorong, sarana dan akibat) membawa kita kepada soal ukuran-ukuran etika.

Semenjak zaman Yunani Kuno dan orang Yahudi, manusia telah memikirkan prinsip-prinsipnya dan problem tentang mana yang benar dan mana yang salah. Pemikiran-pemikiran etika telah muncul dalam bermacam-macam bentuk dan penjelasan. Suatu penjelasan yang berpengaruh dan masih ada sampai sekarang di antaranya adalah: ukuran kenikmatan, kesenangan (pleasure), penjelasan Imanuel Kant, wakil formalisme yang sangat cakap, John Stuart Mill, penganjur utilitarianisme (mazhab manfaat) yang termasyhur, dan Plato, seorang humanis yang besar. Ukuran-ukuran etika yang lain menekankan hukum realisasi diri (self-realization) dan ideal keagamaan.

 

Kenikmatan sebagai Pedoman Etika

Teori-teori etika yang dinamakan teleological, yakni yang berdasar kepada maksud adalah teori yang menganggap suatu tindakan benar atau salah dalam hubungannya dengan maksud atau tujuan yang dianggap baik. Doktrin yang mengatakan bahwa kenikmatan atau kebahagiaan (happiness) adalah “baik” yang terbesar dalam kehidupan, ada tiga yaitu: Hedonism, Epicureanism dan Utilitarianisme.

Hedonism berasal dari kata Yunani “Hedona” yang berarti kelezatan. Epicureanism, nama yang dinisbahkan kepada Epicurus, seorang Yunani yang menyiarkan aliran kelezatan. Semenjak zaman Jeremy Bentham dan John Mill pada abad ke-19, yang terpakai adalah kata “utilitarianism”.

Menurut John Stuart Mill (1806-1873) utilitarianism menggunakan utility (manfaat) atau the greatest happiness (kebahagiaan yang terbesar) sebagai dasar moralitas. Karangan John Stuart Mill yang singkat tetapi sangat menarik, yaitu Utilitarianism yang membahas tentang filsafat moral, harus dibaca oleh setiap mahasiswa. Mill menerima pandangan Jeremy Bentham (1748-1832) yang menggunakan kata-kata “the greatest happiness of the greatest number” (kebahagiaan terbesar bagi jumlah yang terbesar). Bentham mengatakan bahwa alam telah menempatkan manusia di bawah tuntutan dua guru, yaitu kelezatan (pleasure) dan kesakitan (pain). Manusia adalah makhluk yang mencari kelezatan (pleasure seeking) dan menghindari rasa sakit (pain avoiding). Bentham menjelaskan teorinya dalam istilah: kuantitatif dan mengharap untuk membina etika kemanfaatan atas dasar ilmiah. Dalam menjawab kritik yang dilontarkan orang kepada sikap Bentham, Mill mengubah sikap tersebut dengan menambah unsur-unsur baru.

Perubahan terpenting yang dilakukan oleh Mill dalam aliran Utilitarianisme adalah dengan menambah ukuran kualitatif. Manusia dengan fikirannya yang tinggi tidak merasa puas dengan kelezatan jasmani. Manusia mencari kenikmatan yang lebih besar, yaitu kesenangan ruhani. Sekali seseorang hidup di tingkat yang tinggi, ia tidak akan mau turun lagi ke tingkat hidup yang lebih rendah. Hal ini adalah karena manusia mempunyai rasa dignity (harga diri). “Adalah lebih baik menjadi manusia yang tidak puas daripada menjadi seekor babi yang puas. Lebih baik menjadi Socrates yang tidak puas daripada menjadi orang bodoh yang puas”.

Mill mempertahankan Utilitarianisme dengan gigih terhadap dakwaan bahwa alirannya membantu tersiarnya sifat mementingkan diri sendiri (selfishness). Ia mengatakan bahwa kebaikan untuk semua dan kebahagiaan yang sebesar-besarnya bagi jumlah yang terbesar harus menjadi ukuran tentang tindakan yang baik. Karena kita hidup dalam masyarakat yang tidak adil. Pengorbanan itu bukannya tujuan; ia adalah sarana kepada kebahagiaan yang lebih besar untuk jumlah yang lebih besar. Walaupun tidak semua orang mencari kebahagiaan, namun mereka harus mencarinya. Untuk menambah jumlah kebahagiaan yang terbesar dan bukan kebahagiaan pribadi adalah sari dari pendapat Mill.

(Sumber: Harold H. Titus. (1984). Persoalan-persoalan Filsafat).

Pendorong, Sarana dan Akibat Moral

Posted in Moralitas with tags , , , , , on Oktober 15, 2012 by isepmalik

Mencari jalan bertindak, memilih alternatif yang benar tidaklah selalu mudah. Jika terdapat konflik kepentingan, pemecahannya mungkin memerlukan kecerdasan yang besar dan kemauan baik, sehingga walaupun kita sudah mempunyainya kita mash ragu-ragu apakah kita telah bertindak betul atau tidak. Untuk memberi pertimbangan tentang tingkah laku kita perlu memikirkan pendorng, sarana dan akibat-akibatnya. Semua itu harus kita perhatikan.

 

Pendorong

Motif seperti telah dikatakan oleh Nabi Isa dan Kant· dan lain-lain adalah ketepatan (determination) yang pokok bagi moralitas. Suatu pendorong yang baik adalah syarat tingkah laku yang kita setujui sepenuhnya tanpa syarat. Jika terdapat niat baik dan sesuat tindakan berakibat jelek karena suatu faktor yang tak dapat diperkirakan, kita condong untuk tidak menyetujuinya tetapi dengan cara yang lebih lunak, serta mengatakan: Bagaimanapun, ia bermaksud baik. Jika orang bertanya: “Apakah yang benar dalam situasi ini?” biasanya niat mereka itu baik dan mereka berusaha untuk mencari jalan yang benar untuk melakukan tindakan itu.

 

Sarana

Mungkin terdapat beberapa motif untuk menginginkan sesuatu, begitu juga mungkin terdapat beberapa sarana untuk mendapatkannya. Kita mengharapkan seseorang untuk memakai cara yang sebaik-baiknya guna mencapai maksud. Kita mencela seorang mahasiswa yang menipu dalam ujiannya. Kadang-kadang kita menyetujui suatu tindakan yang dilakukan dengan sarana-sarana yang dalam kondisi lain harus dicela. Kita mengambil contoh seorang manajer teater yang mengetahui bahwa di belakang panggung terjadi kebakaran. Ia menyelamatkan para penonton dan ingat suatu peristiwa yang sama dan pernah terjadi; pada waktu itu penonton panik kebingungan dan berdesak-desak keluar. Akibatnya banyak yang menderita kecelakaan dan banyak pula yang mati. Manajer tadi mengumumkan di depan penonton bahwa pertunjukan harus dihentikan dengan dalih yang tidak benar. Ia bohong tetapi gedung itu menjadi kosong dan jiwa para penonton selamat. Anggapan bahwa sarana apa saja dapat digunakan dengan syarat bahwa tujuannya baik adalah suatu prinsip yang berbahaya; tetapi terjadi peristiwa-peristiwa di mana kebaikan maksud lebih kuat daripada cara jahat yang tak dapat dihindarkan. Biasanya akibat yang baik hanya dapat dicapai dengan cara yang baik. Sekali dipilih, sarana itu menjadi bagian dari efek umum suatu tindakan.

 

Akibat

Kita mengharap bahwa akibat-akibat tindakan yang baik akan baik juga. Biasanya jika orang-orang bertanya: “Apakah kebenaran itu?” mereka memikirkan akibat-akibat tindakan. Tindakan adalah baik jika ia didasarkan atas niat yang baik. Jika syarat-syarat ini tidak terpenuhi, kita mencela tindakan tersebut atau menyetujuinya dengan beberapa syarat (reservation). Jarang sekali kita menyetujui suatu tindakan jika hasilnya jahat. Dalam contoh seorang dokter yang melakukan pembedahan yang teliti terhadap seorang pasien, tetapi si pasien tadi meninggal. Walaupun segala usaha telah dilakukan untuk menyelamatkannya, kita menyetujui tindakan tersebut karena motifnya baik dan karena melihat pengetahuan yang ada pada waktu itu, kita mengira bahwa tindakan tersebut seharusnya akan membawa akibat yang baik.

(Sumber: Harold H. Titus. (1984). Persoalan-persoalan Filsafat).


  • · Hadits Nabi: Innamal a’maa-lu bin-niyaat: “Sesungguhnya pahala baik itu karena niatnya.” (Hadits panjang).

Situasi Moral

Posted in Moralitas with tags , , , , , on Oktober 11, 2012 by isepmalik

Moralitas adalah suatu masalah bagi pelaku-pelaku moral, makhluk-makhluk yang bertindak, yang melakukan pilihan dan yang melakukan sesuatu secara sadar. Kehidupan kita sebagai pelaku-pelaku moral meminta sesuatu dari kita dan dengan begitu memberi kewajiban kepada kita, sehingga kita mempunyai kewajiban dan hak. Di dalam setiap makhluk yang normal terdapat pendorong yang berasal dari proses kehidupan itu sendiri dan mengarah kepada perkembangan serta pemenuhan hidup—moralitas muncul dari kehidupan dan hajat-hajatnya; ia muncul dari watak kita sendiri sebagai manusia dan dari watak dunia di mana kita hidup. Tuntutan-tuntutan kehidupan itu sendiri menghadapkan kita kepada alternatif-alternatif moral dan kita dapat mempertimbangkan alternatif-alternatif tersebut secara lebih baik jika kita mengetahui seluk beluk kehidupan moral.

 

Kehidupan Memajukan Tuntutan-tuntutan Kepada Kita

Marilah kita bicarakan tuntutan-tuntutan yang dihadapi pribadi-pribadi, yaitu tuntutan-tuntutan yang menyebabkan kota memilih alternatif-alternatif moral.

1. Tuntutan-tuntutan fisik. Terdapat kebutuhan-kebutuhan fisik yang harus dipenuhi dengan jalan keputusan dan tindakan yang tepat. Jika seseorang hidup dengan cara tertentu ia akan tetap hidup dan sehat. Jika ia mengubah cara hidupnya, kehidupannya akan menjadi susah, ia mungkin mati. Seseorang memerlukan hawa yang segar, sinar matahari, temperatur tertentu, makan dan minum, gerak badan dan tidur jika ia ingin agar badannya berfungsi baik. Cara memenuhi hajat ini ditetapkan oleh watak anatomi dan fisiologi manusia serta kondisi lingkungan di mana seseorang hidup. Biasanya kita tidak memikirkan tentang soal-soal tersebut, sehingga terjadi sesuatu kesalahan dan kehidupan menderita karenanya; pada waktu itulah kita mengumumkan tuntutan-tuntutan kita: susu murni, pemeliharaan kesehatan, pemberantasan penyakit menular, ventilasi yang lebih baik dan lain-lain. Kita tak mempunyai kewajiban untuk merusak kesehatan kita atau hidup dengan cara yang merusak kesehatan kita. Kita mencela tindakan-tindakan yang menyebabkan penderitaan kepada diri kita atau orang lain. Kita menyetujui tindakan-tindakan yang memelihara atau memperbaiki kondisi bagi manusia.

2. Tuntutan-tuntutan psikologi dan sosial. Terdapat dorongan-dorongan dan keinginan-keinginan pokok yang muncul dari keadaan psikologis dan kebutuhan-kebutuhan sosial. Dorongan-dorongan ini menampakkan diri dengan cara-cara yang sama di mana saja manusia hidup. Dalam tempat-tempat tersebut, kehidupan memajukan tuntutan-tuntutan kepada kita. Kemarahan, ketakutan, dengki, keresahan, menyebabkan penderitaan kepada tubuh dan condong untuk merusak kehidupan sosial. Hal-hal tersebut harus dijauhkan kecuali dalam keadaan-keadaan khusus di mana mereka mengingatkan atau membantu melawan kejahatan besar. Cinta dan niat baik akan berakibat baik bagi badan dan menambah kesejahteraan sosial. Beberapa sifat seperti mengalahkan kepentingan diri sendiri, persahabatan, kejujuran, keberanian, menguasai diri (self-control) merupakan sifat-sifat yang di mana-mana dipuji. Sifat-sifat lain seperti cinta diri, khianat, pembunuhan, pencurian dan penipuan selalu tercela. Yang pertama dinamakan keutamaan (virtue), yang kedua dinamakan kejahatan (vices). Pertimbangan bahwa orang yang memiliki sifat-sifat kedua adalah orang jahat, bukannya pertimbangan buatan atau sewenang-wenang. Pembedaan tersebut didasarkan atas watak manusia dan tuntutan masyarakat.

Perorangan harus bergaul dengan teman-temannya dengan cara bermacam-macam. Hanya dengan usaha gotong royong mereka dapat memperoleh makanan, tempat berteduh serta perlindungan, begitu juga membentuk lembaga-lembaga seperti keluarga, sekolah, gereja dan negara. Dari interaksi sosial dan kerja sama timbullah adat kebiasaan, moralitas dan praktek kelembagaan. Aturan-aturan menjelma ke luar sebagai adat kebiasaan dan hukum, dan menjelma ke dalam sebagai rasa wajib, ekspresi persetujuan-persetujuan kita, untuk mengikuti adat kebiasaan dan tunduk kepada hukum. Kita mempunyai kewajiban moral untuk memenuhi kesanggupan kita kecuali jika hal-hal di luar dugaan menjadikan hal tersebut mustahil, untuk mengikuti adat kebiasaan kecuali jika kita yakin bahwa adat tersebut merusak kesejahteraan umum, untuk tunduk kepada hukum dan berusaha memperbaikinya. Tuntutan-tuntutan tersebut timbul dari watak manusia dan mengekspresikan diri dalam hubungan masyarakat.

3. Tuntutan spiritual dan intelektual. Ada tuntutan-tuntutan spiritual dan intelektual juga. Ada kewajiban moral untuk mendapatkan informasi tentang soal-soal penting dan untuk bertindak secara pandai sedapat mungkin. Kecerdasan-kecerdasan condong untuk menghemat waktu, tenaga bahkan menyelamatkan jiwa. Menjadi orang bijaksana (reasonable) berarti menjadi orang yang konsisten dan moderat. Orang-orang Yunani dahulu berpendapat bahwa akal harus dapat menguasai keinginan-keinginan; hanya dengan cara itu manusia dapat hidup secara memuaskan. Keyakinan tersebut telah diterima oleh pemikir-pemikir Kristen walaupun tidak ditekankan seperti cinta dan mengalahkan kepentingan diri sendiri; ia menjadi dasar dari peradaban Barat. Terdapat keyakinan yang universal yang mendapat ekspresi dalam sistem moral, dan keagamaan, bahwa kepuasan akal dan jiwa lebih diperlukan dan lebih langgeng daripada kepuasan badan.

Jika pengetahuan dan kecerdasan itu perlu bagi moralitas yang matang, hal tersebut tidak cukup. Kecerdasan sendiri tidak cukup karena orang yang cerdas kadang-kadang jahat; pengetahuan mungkin dipakai untuk maksud-maksud destruktif. Semua sistem etika dan kode moral yang besar yang dapat langsung hidup lama telah menekankan bermacam-macam interpretasi tentang cinta dan ksaih sebagai pokok moralutas. Cinta dapat mendorong kepada pengorbanan diri dalam keadaan tertentu. Kata-kata Nabi Isa yang sering dinamakan Aturan Keemasan, “Apa yang kau inginkan orang lain bertindak kepadamu, lakukanlah untuk mereka”, adalah sama dengan prinsip yang diajurkan oleh Confucius bagi orang Cina, dan hal yang sama telah diekspresikan dalam ajaran etika agama-agama besar.

(Sumber: Harold H. Titus. (1984). Persoalan-persoalan Filsafat).

Bahan-bahan Kehidupan Moral

Posted in Moralitas with tags , , , , , on Oktober 8, 2012 by isepmalik

Dalam menghadapi tuntutan kehidupan dan alternatif moral, kita dapat mengambil faidah dari bahan-bahan pokok kehidupan moral.

Pertama, hidup itu adalah sedemikian rupa sehingga setiap orang harus selalu membuat keputusan. Ada keputusan yang remeh, tetapi ada pula yang begitu penting sehingga menentukan kehidupan kita seluruhnya. Pada umumnya keputusan dan tindakan kita mempengaruhi diri kita sendiri dan orang lain. Selain dari itu, kita membuat tuntutan bagi orang lain dan mereka membuat tuntutan terhadap kita. Sebagian dari tuntutan-tuntutan yang diakui orang, kita namakan hak dan kewajiban.

Kedua, untuk melaksanakan hidup kemasyarakatan yang teratur, kita harus memiliki pemahaman (understanding), prinsip-prinsip dan aturan tingkah laku. Tak ada masyarakat manusia yang tidak mempunyai kode yang kukuh dan aturan prosedur. Kita tidak dapat mengadakan pilihan antara memiliki atau tidak memiliki hal tersebut; kita hanya dapat menentukan apakah hal tersebut masuk akal dan sesuai dengan keperluan hidup dalam kondisi yang ada. Di antara persetujuan-persetujuan tersebut ada yang yang tidak kita sadari dan tersembunyi dalam adat kebiasaan dan tradisi kelompok serta kebiasaan perorangan; semuanya diterima tanpa difikirkan lebih dahulu. Sebagian lagi bersifat setengah kita sadari atau sepenuhnya kita sadari atau perlu didiskusikan. Sebagai contoh, jika dua orang setuju untuk mengadakan perjalanan bersama, mereka akan mengadakan persetujuan tentang soal-soal pokok seperti bila mereka akan berangkat dan bagaimana mereka akan bepergian. Bahwa salah satu dari mereka tidak akan mengajak keluarga isterinya, atau membawa anjingnya atau mengubah jam keberangkatannya tanpa persetujuan temannya adalah suatu persetujuan yang implisit dan tanpa disadari. Dalam perkawinan, dalam memanggil seorang dokter jika seseorang jatuh sakit, dalam membuat titipan dalam bank, di samping mungkin ada persetujuan formal, kebanyakan peraturan prosedurnya dianggap sudah diterima dan tidak ditonjolkan sampai sesuatu kejadian memaksakan untuk menjelaskannya. Jika kondisi dan keperluan hidup mengalami perubahan, persetujuan dan kode-kode dapat diubah atau diganti.

Ketiga, terjadi perkembangan atau evolusi moral sebagaimana yang terjadi dalam kehidupan kemasyarakatan dan kelembagaan pada umumnya. Selama sejarah masyarakat manusia, ukuran moral telah berbeda dari adat-adat yang primitif yang dianut secara tidak sadar oleh orang-orang dahulu sampai kepada teori kehidupan orang modern yang sudah disusun secara rapi. Praktek moral dan ukuran-ukurannya bergantung kepada tingkat perkembangan sosial, tahap kecerdasan umum dan pengetahuan yang terdapat pada suatu waktu. Sekarang juga kita dapatkan kelompok manusia yang hidup dalam segala derajat perkembangan moral; terdapat kode primitif di samping ukuran moral yang lebih maju. Moralitas timbul dari hidup itu sendiri dan merupakan suatu usaha untuk menemukan dan menghayati kehidupan yang baik; yaitu kehidupan yang sehat, bahagia, berfaidah untuk masyarakat dan berkembang sepenuhnya.

Keempat, moralitas adalah bersatu dengan kehidupan itu sendiri; ia bukannya bidang atau tingkat hidup yang terpisah. Problema moral bukan sekadar problema moral, akan tetapi juga merupakan problema pribadi, sosial, ekonomi, politik dan internasional.

(Sumber: Harold H. Titus. (1984). Persoalan-persoalan Filsafat).

Pertimbangan Moral

Posted in Moralitas with tags , , , , , on Oktober 7, 2012 by isepmalik

Persoalan moralitas—apa yang benar dan apa yang salah—dalam hubungan antar manusia adalah persoalan pokok untuk zaman kita ini. Beberapa persoalan yang biasanya dikira lebih penting daripada soal tersebut di atas, umpamanya: Bagaimana manusia harus bersikap menghadapi teknologi, bagaimana bangsa-bangsa harus bertindak untuk memelihara perdamaian, dan persoalan hari kemudian dunia yang beradab, semua itu juga merupakan soal moralitas. Isu-isu moral dengan cepat telah menjadi perhatian kehidupan kemanusiaan. Pelajaran etika sekarang diberikan tidak hanya dalam kurikulum sekolah menengah tetapi juga dalam sekolah-sekolah profesional. Tabib, ahli hukum, para pendidik dan pamong praja berduyun-duyun mendatangi seminar tentang soal-soal moralitas. Adalah suatu kenyataan bahwa teknik dan kemampuan kita telah berkembang lebih cepat daripada pemahaman kita tentang apa yang kita anggap sebagai tujuan kita dan nilai-nilai. Barangkali perhatian yang telah diperbarui terhadap tujuan-tujuan tersebut akan membantu kita dengan jawaban-jawaban yang sangat kita perlukan untuk menjawab krisis dan keresahan yang merupakan bagian dari dunia modern.

Pribadi-pribadi selalu mengadakan pertimbangan terhadap tingkah laku mereka sendiri dan tingkah laku orang-orang lain. Ada tindakan-tindakan yang disetujui dan dinamakan benar atau baik. Tindakan-tindakan lain dicela dan dinamakan salah atau jahat. Pertimbangan moral selalu berhadapan dengan tindakan manusia, khususnya tindakan-tindakan mereka yang bebas, dari segi benar atau salah. Tindakan-tindakan yang tidak bebas, yang pelakunya tidak dapat mengontrol, jarang dihubungkan dengan pertimbangan moral, karena seseorang tidak dapat dianggap bertanggung jawab tentang tindakan yang tidak ia kehendaki.

Istilah moral atau etik mempunyai hubungan erat dengan arti asalnya. Istilah moral berasal dari kata Latin: moralis, dan istilah ethics berasal dari bahasa Yunani: ethos. Keduanya berarti: “kebiasaan atau cara hidup”. Istilah-istilah tersebut kadang-kadang dipakai sebagai sinonim. Sekarang, biasanya orang condong untuk memakai “morality” untuk menunjukkan tingkah laku itu sendiri, sedang ethics menunjuk kepada penyelidikan tentang tingkah laku. Kita berkata: “moral act” dan “ethical code”.

Istilah benar (right) dan baik (good) sering dipakai dalam etika dan perlu dijelaskan. Kata right berasal dari bahasa Latin rectus, yang berarti lurus. Dalam pemakaian biasa kata tersebut mengandung arti sesuai dengan suatu ukuran. Istilah “good” menunjuk kepada sesuatu yang mempunyai kualitas yang diinginkan, memuaskan suatu hajat dan bernilai untuk manusia. Banyak filosof yang mengatakan bahwa dalam bidang etika, benar atau salah itu tidak dapat diperas menjadi sesuatu yang lain dan hal tersebut dapat dimengerti secara langsung. Teori seperti tersebut di atas bertentangan dengan etika yang didasarkan atas nilai dan yang menjadikan kebaikan (goodness) sebagai konsep etika pusat. Teori-teori teleologi menopang pandangan bahwa tindakan yang benar harus memberi sumbangan kepada kebaikan manusia dan dunia.

Dalam moralitas dan etika terdapat beberapa permasalahan. Pertama, terdapat penyelidikan yang dinamakan etika deskriptif (descriptive ethics). Di situ kita mempelajari tingkah laku pribadi-pribadi atau personal morality; tingkah laku kelompok atau social morality; kita menganalisis bermacam-macam aspek dari tingkah laku manusia seperti motif, niat dan tindakan-tindakan terbuka. Pemeriksaan di sini hanya bersifat deskriptif tentang apa yang terjadi; ini harus dibedakan dengan etika normatif (normative ethics) yang mendasarkan penyelidikannya atas prinsip-prinsip yang harus kita pakai dalam kehidupan kita. Semenjak orang-orang Yunani kuno, prinsip-prinsip penjelasan sudah dibentuk dan teori etika sudah disusun. Plato menjelaskan pentingnya prinsip-prinsip tersebut semenjak lebih dari 2000 tahun yang lalu. “Karena engkau lihat, hai Callicles, bahwa diskusi kita adalah mengenai suatu subyek yang mendapat perhatian dari orang yang hanya mempunyai sedikit kecerdasan yaitu, cara hidup bagaimanakah yang terbaik”.[1]

Terdapat juga bidang etika kritik atau metaethics. Di sini perhatian dipusatkan kepada analisa dan arti dari istilah dan bahasa yang dipakai dalam diskusi, serta corak fikiran yang dipakai untuk membenarkan suatu pernyataan etika. Bidang ini mendapat perhatian yang besar pada akhir-akhir ini, akan tetapi melibatkan soal-soal teknik yang sulit. Kita akan lebih memperhatikan etika deskriptif—bahan-bahan dari situasi moral—dan etika normatif karena kita ingin membentuk ukuran-ukuran yang biasa dipakai untuk mempertimbangkan apakah suatu tindakan itu benar atau salah. Sudah bertahun-tahun orang mencoba membentuk ukuran bagi pertimbangan moral seperti kecondongan alamiah (natural inclination), pendapat umum, hukum, kekuasaan keagamaan, akal dan hati sanubari. Seringkali ukuran-ukuran itu bertentangan dalam hal semacam itu orang memerlukan tingkatan-tingkatan nilai yang dapat memimpinnya kepada keputusan moral yang memuaskan.

(Sumber: Harold H. Titus. (1984). Persoalan-persoalan Filsafat).


[1] Socrates dalam Gorgiasnya Plato, 500 SM.