Archive for the Al-Kindi Category

Transisi dari Theologi (Kalam) ke Filsafat

Posted in Dari Kalam ke Filsafat with tags , , , , , on Juli 28, 2012 by isepmalik

Al-Kindi dipandang sebagai filosof bangsa Arab yang pertama, tidak hanya karena ia sebagai pencinta kearifan yang pertama, di antara rekan sebangsanya, tetapi juga karena metode, sikap dan penjajagannya pada bidang-bidang penyelidikan yang baru. Ia menjembatani kesenjangan antara pendekatan-pendekatan intelektual setengah hati dngan disiplin filsafat yang keras dari rekan-rekan Muslim sezamannya. Sesungguhnya pendekatan dan sikapnya inilah yang memberinya gelar faylasuf, karena apa yang ia perkenalkan dalam bidang filsafat murni, sebenarnya hanya sedikit mengundang ide-ide asli daripadanya, sekalipun ia memiliki pemikiran yang bebas.

Menurut pendapat saya, sumbangannya yang terbesar adalah terbukanya pintu-pintu filsafat bagi para ilmuwan Muslim. Bagaimana kemudian ia beralih dari theologi ke filsafat? Untuk menjawab pertanyaan ini orang harus mempertimbangkan kesulitan-kesulitan yang harus diatasi oleh al-Kindi. Kesukaran-kesukaran ini berupa tantangan umum terhadap filsafat dan ilmu pengetahuan Yunani pada tingkat populer dan pada tingkat theologis, danjuga berupa ketidakmampuan al-Kindi untuk menyatakan pikirannya dalam suatu bahasa yang pada waktu itu kekurangan peristilah teknis yang diperlukan untuk menyatakan ide-ide abstrak.

Dalam ihwal kesukaran jenis pertama, ia berusaha untuk menanamkan kekuasaan pandangan pada pada pembacanya, bahwa kebenaran adalah kebenaran, tidak memandang dari mana datangnya, dan hal ini yang paling berharga di dunia. Kalau orang Yunani, yang bukan orang-orang Muslim, menemukan kebenaran, maka tidak ada alasan mengapa orang tidak menerimanya dari mereka. Lagi pula, penemuan kebenaran adalah suatu usaha kolektif dari semua bangsa. Tetapi kadang-kadang ia harus menghimbau naluri kesukuan para pendengarnya, dengan menceritakan kepada mereka bahwa Yunan (nama negeri Yunani yang dipersonifikasikan) adalah saudara dari Qathan, yang dikatakan sebagai nenek moyang orang-orang Arab. Orang-orang Yunani dan Arab adalah saudara sepupu; mengapa mereka tidak dapat mencari kebenaran bersama, meskipun masing-masing mengikuti jalannya sendiri-sendiri.[1]

Tatkala ia dihadapkan dengan tantangan orang-orang yang bodoh dan fanatik, ia berlindung untuk mengelakkannya. Kisa mengenai al-Kindi dan muridnya Abu Ma’syar cukup dikenal dengan baik. Abu Ma’syar, yang dikatakan menjadi tetangganya, meniup-niup fanatisme rakyat jelata untuk memusuhi dan merugikan filsafat. Secara rahasia al-Kindi mengirimkan seorang teman, untuk memperagakan nilai dan keberlakuan filsafat kepada Abu Ma’syar, sedemikian rupa sehingga memenangkannya. Dikatakan, bahwa Abu Ma’syar teryakinkan dan menghentikan kegiatan-kegiatan permusuhannya terhadap al-Kindi. Di kemudian hari, ia menjadi seorang murid al-Kindi dan tidak menduga, bahwa orang yang menang berdebat dengannya dalam perkara filsafat itu tak lain dari seorang suruhan rahasia dari “Sang Filosof Bangsa Arab”.[2]

Pada tingkat theologis,[3] metode al-Kindi dengan jelas menunkjukkan pendekatannya yang hati-hati. Kadang-kadang ia melakukan pendekatan terhadap subyeknya seperti ahli matematika Hellenistik, dan kadangkala pula seperti seorang ahli dialektika yang menggunakan metode-metode dan argumentasi Mu’tazilah, serta berlindung kepada al-Quran untuk membuktikan sesuatu hal, seperti yang dilakukannya terhadap penjelasan ayat-ayat 72-81 dari surah 36.[4] Kecenderungannya untuk membuktikan, disesuaikan dengan nalar dan wahyu, kepercayaannya yang kokoh terhadap ajaran ortodoks mengenai penciptaan dunia dalam waktu, dan dipandangnya sebagai akibat dari kehendak Tuhan, semuanya itu menunjukkan dengan jelas, bahwa ia menduduki suatu tempat istimewa dalam filsafat Muslim di mana tidak ada pemutusan yang tiba-tiba dengan agama yang telah terjadi.

Mengenai kesulitan yang kedua, al-Kindi berusaha sebaik-baiknya untuk menyesuaikan bahasa Arab dengan kebutuhan-kebutuhan ungkapan filosofis. Tulisan-tulisannya menunjukkan suatu tekanan linguistik yang hanya dapat dianggap sebagai akibat dari perjuangan yang ia lakukan terhadap idiosinkrasi bahasa Arab. Penerjemah-penerjemah sebelum al-Kindi telah merintis jalan, tetapi belum cukup mulus untuk menampung terpaan konsep-konsep baru. Meskipun tidak dapat menentukan dengan tepat sampai sejauhmana ia bertanggung jawab dalam memperkenalkan istilah baru itu, namun dapat diduga, bahwa ia telah memberikan sumbangan yang tidak kecil, karena ia sendiri mengerjakan terjemahan-terjemahan dari orang lain, jika tidak menulisnya sendiri. Lebih jauh, fakta bahwa ia meninggalkan bagi kita himpunan kata-kata filosofis dan penjelasannya dalam bahasa Arab, menunjukkan bahwa ia secara mendalam berminat dalam peristilahan untuk mengungkapkan konsepsi-konsepsi filosofis yang abstrak.

Bahasa Arab sendiri lebih bersifat puitis, ketimbang bahasa yang bisa membantu memberikan ungkapan-ungkapan ilmiah dan filosofis. Dan meskipun luar biasa kaya akan sinonim-sinonim, bahasa itu tidak mampu untuk menangkap corak yang selang-seling dari istilah-istilah filsafat Yunani. Tidak dapat disangkal bahwa apa yang telah dilaksanakan oleh al-Kindi dan para penerjemah dalam hal ini adalah besar. Mereka berhasil mengembangkan bahasa filsafat yang dibangun dengan kata-kata yang sering harus mereka berikan arti-arti yang baru, supaya dapat menyampaikan bentuk Yunaninya.

Proses penyesuaian ini mengambil beberapa keseragaman bentuk. Pertama, kata-kata yang sama dengan istilah-istilah Yunani secara gramatika, atau dengan cara lainnya, diterjemahkan langsung tanpa banyak kesulitan. Umpamanya perkataan Yunani hyle, pertama-tama diterjemahkan sebagai tin (tanah liat) dan kemudian secara maddah (materi). Perkataan symbebekos diterjemahkan sebagai ‘arad (kejadian). Yang kedua, mereka mengambil alih banyak istilah bahasa Tunani dan kemudian menjelaskannya dengan menggunakan kata-kata bahasa Arab yang murni, seperti halnya philosophos (filosof) dan philosophia (filsafat) yang menjadi faylasuf dan falsafah. Mereka memperoleh kata-kata Arab hakim (bijaksana) dan hikmah (kebijaksanaan), terjemahan yang benar dan tepat dalam halnya dengan fanthasiyah, suatu terjemahan dari istilah Yunani phantasia (fantasi), salah satu dari indera-indera internal yang mereka jelaskan dengan perkataan al-mushawwirah atau al-khayal. Yang ketiga, untuk maksud membuat abstraksi-abstraks, yang sulit untuk menambahkan kata sandang kepada kata ganti, kata depan dan istilah-istilah interogatif serta memberikan akhiran iyah. Misalnya kata-kata Yunani to ti esti, atau intisari, menjadi al-mahiyah, didasarkan atas ma huwa, apakah itu? Perkataan Yunani to on substansi primer, menjadi al-huwiyah yang berasal dari kata ganti huwa, dia. Akhirnya, para penerjemah memberikan arti-arti yang baru kepada istilah-istilah Arab yang lama. Sebuah contoh yang baik adalah perkataan al-a’yis untuk umumnya. Semua ini merupakan suatu inovasi bahwa orang-orang Arab yang membanggakan dirinya akan “kemurnian” bahasa Arab, dipandang dengan muka masam.

Dalam analisa terakhir, peristilahan al-Kindi berasal dari Aristoteles dan Plato, meskipun sumber-sumber itu berasal lebih langsung dari Neoplatonis. Himpunan kata-kata istilah teknisnya, Tentang Definisi Benda-benda dan Uraiannya, mengingkari suatu ketergantungan atas konsep-konsep yang dineoplatoniskan dari kedua filosof besar itu. meskipun himpunan kata-kata dan penjelasannya itu menunjukkan suatu keprimitipan pernyataan tertentu, namun tetap merupakan dokumen pengetahuan filsafat yang tak tersamai, yang dimiliki oleh masa dan lingkungan intelektual al-Kindi. Juga menunjukkan bahwa istilah-istilah yang digunakannya lebih mendekati arti aslinya, ketimbang istilah-istilah yang digunakan oleh para filosof yang kemudian.

Orang dapat sepenuhnya menghargai karya Sang Filosof Bangsa Arab itu, kalau memberikan pertimbangan yang layak kepada dua kesulitan tersebut di atas.

(Sumber: George N. Atiyeh. (1983). Al-Kindi: Tokoh Filosof Muslim. Bandung: Pustaka).


[1] Al-Kindi, On First Philosophy, dalam Rasa’il al-Kindi al-Falsafyah, ed. M.A. Abu Ridah, Kairo, 1950-1953, I: 101-104, kemudian Rasa’il. Al-Mas’udi mengutip sebuah syair oleh seorang penyair yang sedikit diketahui, ‘Abd Allah ibn Muhammad al-Nashi’, yang mengecam al-Kindi karena mencampurkan Qahtan dengan Yunan. Bandingkan Muruj al-Dzahab d’or, ed. dan terjemahan ke dalam bahasa Prancis oleh C. Barbier de Meynard dan P. de. Courteille, Paris, 1923, II: 244.

[2] ‘Uyun, I: 207. Bandingkan juga Ta’rikh al-Hukama’, hal. 153.

[3] Lihat di bawah, Bab III.

[4] Rasa’il, I: 373-374.

Iklan

Masa Hidup Al-Kindi (3)

Posted in Masa Hidup with tags , , , , , on Juli 27, 2012 by isepmalik

Karena al-Kindi telah memperoleh reputasi sebagai seorang sastrawan terkemuka,[1] dan mungkin karena alasan-alasan lainnya, misalnya menyetujui theologi yang ada pada masa itu mendapatkan dukungan resmi, maka al-Ma’mun (813-833 M) mengajaknya untuk bergabung ke dalam kalangan cendekiawan yang tengah sibuk mengumpulkan karya-karya ilmiah dan filsafat Yunani serta menerjemahkannya ke dalam bahasa Arab. Al-Ma’mun membantu untuk melancarkan suatu gerakan yang berskala luas untuk mengedepankan hal-hal pokok dari pikiran Mu’tazilah, menyebabkannya untuk membenarkan kecenderungan-kecenderungan rasionalitasnya dalam karya para filosof Yunani. Dikatakan bahwa Aristoteles nampak dihadapannya dalam mimpi, dan meyakinkannya, bahwa tidak ada alasan baginya untuk menangguhkan minatnya terhadap filsafat, karena filsafat dan syari’ah adalah jalan menuju kepada kebenaran yang sama.[2]

Al-Kindi memperoleh perlindungan yang baik dari al-Ma’mun dan saudara laki-lakinya al-Mu’tashim. Dalam masa kekhalifahan mereka ini, al-Kindi memangku kedudukan penting sebagai guru kerajaan[3] dan mungkin sebagai seorang tabib. Al-Mu’tashim mempercayakan pendidikan anaknya Ahmad kepada al-Kindi. Beberapa karya al-Kindi dipersembahkan kepada Ahmad dan ayahnya. Karya-karya ini ditulis dalam bentuk surat dan hampir selalu dihiasi dengan salam-salam[4] Arab.

Dalam masa pemerintahan al-Mutawakkil, al-Kindi bereaksi terhadap ketidakortodokan al-Ma’mun dan al-Mu’tashim, maka ia mengalami nasib yang buruk. Al-Mutawakkil tidak dapat menyetujui kecenderungan-kecenderungan Mu’tazilahnya. Di samping itu juga dikatakan, bahwa putra-putra Musa, ilmuwan-ilmuwan bersaudara yang terkenal dan bekerja untuk al-Mutawakkil, berkomplot menentangnya, dan berhasil, sehingga al-Kindi dipecat dari jabatannya. Putra-putra Musa itu terkenal dengan reputasinya dalam melakukan intrik terhadap orang yang melampaui mereka dalam pengetahuan, dan orang yang dipercaya oleh khalifah. Mereka iri terhadap perpustakaan al-Kindi yang disebut al-Kindiyah karena memiliki banyak buku yang baik, mereka berhasil membujuk khalifah untuk menyitanya dan memberikannya kepada mereka, seperti yang telah dilakukan terhadap perpustakaan Hunain Ibn Ishaq. Tetapi tidak lama kemudian al-Kindiyah diberikan kembali kepada pemiliknya[5] yang asli. Namun al-Kindi tidak dapat memperoleh kembali hak-hak istimewanya di istana yang telah hilang. Ia meninggap pada tahun 252 H/ 866M, atau mungkin tidak lama setelah itu.[6] Kematiannya merupakan suatu kematian yang sunyi, hanya diperhatikan oleh mereka yang terdekat kepadanya. Ini adalah kematian seorang besar yang tidak disukai lagi, tetapi juga merupakan kematian seorang filosof yang mencintai kesunyian.

Al-Kindi tidak seluruhnya terlepas dari gunjingan jahil, atau setidaknya dari kesalahpahaman di tangan para penulis riwayat hidupnya. Al-Bayhaqi (449 H/ 1057M – 565 H/1169 M) mengatakan bahwa para penulis riwayat hidupnya tidak sepakat mengenai asal-usul al-Kindi; menurut beberapa orang dari mereka, ia adalah seorang Yahudi, dan yang lain mengatakan ia seorang Kristen. Jika informasi ini tidak dimaksudkan untuk mencemarkan reputasi seorang Muslim di zaman itu, maka hal itu harus dianggap sebagai akibat dari pencampuradukan al-Kindi dengan Ya’qub al-Kindi (abad kesembilan) pengarang Apology of Christianity, atau dengan seorang al-Kindi lainnya. Al-Bayhaqi menempatkan Abu Yusuf al-Kindi sesudah al-Farabi, padahal sebenarnya mendahuluinya. Al-Farabi dilahirkan beberapa tahun setelah kematian al-Kindi. Kesalahan dalam urutan penampilan dua filosof itu membawa kita ke suatu dugaan, bahwa al-Bayhaqi benar-benar bingung mengenai identitas filosof itu.[7]

Beberapa orang penulis menganggap, bahwa kekikiran merupakan sifat al-Kindi.[8] Ia dikutip sebagai mengatakan, “Apa yang terhormat mengenai kekikiran adalah, bahwa engkau menjawab kepada seorang pengemis dengan mengatakan ‘tidak’ serta menegakkan kepalamu, sedangkan apa yang tidak terhormat mengenai keterbukaan tangan adalah, bahwa engkau menjawab dengan ‘ya’ serta menundukkan kepala”.[9] Juga dikatakan bahwa ia menasehati anak lelakinya dengan mengatakan, “Uang adalah ibarat seekor burung di tangan, burung itu kepunyaanmu selama engkau menggenggamnya erat”. Tetapi sebaliknya kita mempunyai bukti tertentu dala bentuk semboyan-semboyan yang diucapkan sendiri oleh al-Kindi mengenai tercelanya kepelitan,[10] seperti: “Kepelitan adalah sesuatu yang memalukan bagi seorang yang cerdas”, atau “orang pelit selalu bersifat seperti budak”, atau “orang kikir tidak terhormat”, atau “ia yang kekikirannya bertambah, makannya berkurang”. Bahkan jika ini benar, maka hal itu tidak mencerminkannya sebagai seorang filosof dan ilmuwan; juga tidak mencerminkannya sebagai manusia.

Adalah mudah untuk menyalahpahamkan kehematan sebagai kekikiran. Pengarang-pengarang yang sama, yang mencerca al-Kindi karena kekikirannya, tidak dapat lain kecuali memuji rasa humor dan prestasi-prestasinya. Al-Jahidz menuturkan, bahwa orang menyukai kecerdasan, meskipun ia kikir.[11] Ibn Nubatah (meninggal 768 H/ 1366 M) berkata tentangnya, ia adalah “seorang yang mengejar kesusastraan sebelum mengambil filsafat dengan semua cabang-cabangnya. Ia menguasai filsafat dan memecahkan banyak masalah ilmu pengetahuan zaman dahulu. Ia mengikuti jalan Aristoteles dan menulis banyak buku yang menarik perhatian. Sebagai seorang yang cakap dalam berbagai hal, maka ia dan buku-bukunya merupakan hiasan dan kebanggaan pemerintahan al-Mu’tashim”.[12]

Al-Kindi mempunyai watak yang mulia, tidak seperti kebanyakan rekan-rekan semasanya, ia berperilaku laksana seorang yang bermartabat, berpengabdian, dan tulus ikhlas. Beberapa anekdot di dalam al-Muntakhab menerangkan sisi kepribadiannya ini. Pada suatu kali, seorang cucu gubernur al-Kufah bertanya kepadanya, “Bagaimana engkau ini, tidak pernah terlihat meminta di depan pintu Sultan atau di pertemuan-pertemuan para pedagang?” Ia menjawab, “Di sini adalah tempat, di mana mereka yang seperti engkau ini mencari penghidupan, aku mencari penghidupanku di sana, di tempat yang tiada seorang pun pernah bermimpi untuk mengambilnya daripadaku”. Ketika pada suatu kali ia dihina oleh seseorang dengan siapa ia sedang mengadakan perbincangan, al-Kindi tetap dalam kesabarannya, sambil tersenyum ia berkata, “Tidak ada yang mencengangkan untuk menemukan kebenaran, yang memusingkan seorang yang sakit mental, dan membuatnya menghina tabib yang menyayangi dan merawatnya. Tetapi seorang tabib yang baik tidak pernah melalaikan pasiennya, atau berhenti memberikan obat yang pahit kepadanya”. Orang itu pun terpaksa minta maaf.

(Sumber: George N. Atiyeh. (1983). Al-Kindi: Tokoh Filosof Muslim. Bandung: Pustaka).


[1] Salah satu referensi-referensi tertua mengenai al-Kindi adalah himpunan anekdot, analek (aneka tulisan pilihan) dan paragraf-paragraf pilihan di dalam buku Abu Sulayman as-Sijistani al-Muntakhab Shiwan al-Hikmah (Br. Mus. Or. Ms. No. 9033, vol. 60-65) di mana dituturkan bahwa buku-buku dan tulisan al-Kindi adalah sedemikian termasyhur dan demikian luas digunakan sehingga ia memandang tidak perlu untuk menghimpun gagasan-gagasan yang banyak dari al-Kindi (Lihat juga Appendiks III) (Br. Mus. Or. Ms., = Manuskrip Oriental Musium Inggris).

[2] Al-Fihrist, hal. 339.

[3] Al-Kindi melayani raja-raja, dan menjadi lebih dekat dengan mereka melalui kegiatan-kegiatan tulisannya; lihat ‘Uyun, I: 207. Nampaknya ia telah dikenal pada masa awal karir intelektualnya sebagai seorang penulis profesional.

[4] Surat filosofis adalah suatu bentuk penulisan yang umum dipakai oleh kebanyakan filosof dan ilmuwan Hellenistik dan kemudian diwarisi oleh orang-orang Arab. Al-Muntakhab (vol. 60) menganggap penemuan bentuk ini sebagai berasal dari al-Kindi: “… dan ia adalah tutor (guru pribadi) Ahmad Ibn Muhammad al-Mu’tashim, untuknya ia menulis kebanyakan dari buku-bukunya dan kepadanya ia mengalamatkan surat-surat (karangan-karangan)-nya semua, serta memberikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaannya. Ia adalah yang pertama kali menemukan metode ini yang diikuti oleh penulis-penulis Muslim yang kemudian”.

[5] ‘Uyun, I: 208.

[6] Mengenai tahun kematian al-Kindi terdapat perbedaan pendapat. L. Massignon, atas dasar bukti yang sangat sedikit mengatakan tahun 246 H/860 M.; lihat bukunya Recueil des textes inedits concernant l’histoire de la mystique, Paris, 1929, hal. 175. Sebaliknya C.N. Nallino memberikan tahun 260 H/ 873 M., lihat bukunya ‘Ilm al-Falah, Tarikhulu’ inda’l-‘Arab fi’l-Qur’an al-Wusta (Sejarah Astrologi Arab Pada Abad Pertengahan), Roma, 1911, hal. 117. Tanggal yang saya gunakan adalah tanggal yang dihitung oleh M. ‘Abd al-Raziq dalam karyanya Faylasuf ‘l-‘Arab wa’l-Mu’allim ath-Thani (Filosof Bangsa Arab dan Guru yang Kedua), Kairo, 1945, hal. 51. Tesisnya didasarkan atas bukti internal dalam karya al-Kindi Tentang Lamanya Pemerintahan Bangsa Arab dan suatu referensi dalam salah satu buku al-Jahidz Kitab al-Bukhala di mana al-Jahidz menunjuk al-Kindi dalam bentuk lampau. Al-Jahidz menulis bukunya sekitar tahun 254H/ 868 M.

[7] Zahir ad-Din al-Bayhaqi, Tarikh Hukama’ al-Islam, ed. M. Kurd ‘Ali, Damaskus, 1946, hal. 47.

[8] Referensi tertua yang kita punyai mengenai kekikiran al-Kindi adalah dalam al-Fihrist, hal. 357. Bandingkan juga ‘Uyun, I: 200. Tentang subyek yang sama ada sebuah bab menyeluruh dalam bukunya al-Jahidz, Kitab al-Bukhala’, ed. Thaha al-Hajiri, Kairo, 1948, hal. 70-81. Bandingkan juga Pengantar pada edisi Van Vloten, Leiden, 1900. Al-Hajiri meragukan bahwa al-Kindi yang disebutkan dalam al-Bukhala adalah orang yang sama dengan filsuf kita.

[9] Ibn Nubatah al-Mishri, Sharh al-‘yun Sharh Risalat ibn Zaydun, Kairo, 1278 H/ 1861 M., hal. 143.

[10] Al-Muntakhab, vol. 61.

[11] Al-Bukhala’, hal. 71.

[12] Ibn Nubatah, op. cit., hal. 144.

Masa Hidup Al-Kindi (2)

Posted in Masa Hidup with tags , , , , , on Juli 24, 2012 by isepmalik

Di dalam theologi murni, selang waktu ini menjadi saksi kebangkitan dan kemunduran aliran Mu’tazilah. Dengan dukungan al-Ma’mun, al-Mu’tashim, dan al-Wathiq, aliran Mu’tazilah menjadi kepercayaan resmi, tetapi kemudian mengalami kemunduran dan hambatan yang besar dengan munculnya al-Mutawakkil yang mendukung sikap ortodoks. Al-Kindi lebih condong kepada aliran pikiran kaum Mu’tazilah, karena kecenderungan-kecenderungan rasionalitasnya, pandangan luas mereka dan toleransi mereka kepada ide-ide Yunaninya, menggambarkan bagaimana kesemarakan “ilmu-ilmu orang zaman dahulu”” yang hidup di Baghdad itu, tampil dengan tiba-tiba, lalu berkembang, dan sesudah itu mendadak mengalami kemunduran. Tetapi ilmu-ilmu itu terus tumbuh dengan subur di istana-istana gubernur-gubernur propinsi dan kalangan orang-orang kaya.

Alasan-alasan yang menonjol bagi kaum ortodoks untuk menentang “ilmu-ilmu orang zaman dahulu” itu adalah ketakutan, bahwa ilmu-ilmu ini akan menyebabkan berkurangnya rasa hormat kepada Tuhan. Masih banyak alasan lain yang mempengaruhi sikap kelompok ortodoks ini. Kecurigaan terhadap Manicheanisme Persia, menyebabkan perlawanan terhadap mereka, untuk menahan pengaruh mereka sebagai orang-orang yang beriman. Di samping itu, mayoritas pengaruh dari mereka yang berminat dalam filsafat dan ilmu pengetahuan adalah orang-orang Kristen, para penganut Manichenisme, orang-orang Sabia, Yahudi dan Muslim yang mengibukut mazhab Bathiniah yang esoteris (terbatas untuk kelompok kecil). Mempersamakan ilmu pengetahuan dengan mereka yang menuntutnya, melahirkan kecurigaan terhadap segala macam kegiatan perenungan dan menimbulkan kesalahapahaman terhadap nilai-nilainya. Tidak mengherankan kalau al-Kindi membenarkan kegiatan-kegiatannya dengan mencoba membangun kembali nilai filsafat dan mendesak dengan kuat agar mentolelir gagasan-gagasan dari luar Islam. Ia juga menyerang ketidaktulusan orang-orang yang fanatik agama, yang tidak memahami pentingnya kerja sama dalam tugas besar untuk mencari kebenaran.

Dalam kurun waktu pemerintahan Daulah Abbasiyah inilah al-Kindi berkembang. Pada periode ini penerjemahan karya-karya filsafat Yunani sudah mendekati penyelesaian, dan ciri-ciri utama peradaban Muslim berada dalam proses pengungkapan dirinya kepada suatu kedewasaan spiritual dan intelektual yang lebih tinggi.

Al-Kindi adalah keturunan suku Kindah, Arab Selatan, yang termasyhur, yang diabadikan oleh penyair Imru’ al-Qays yang menyenandungkannya sebagai suatu perjalanan ke Byzantium yang jauh, lama sebelum datangnya Islam. Kakek buyut al-Kindi adalah seorang sahabat Nabi.[1] Ayahnya, di masa khaliah-khalifah al-Mahdi (775-785 M) dan ar-Rasyid (786-809 M) adalah seorang gubernur al-Kufah. Mungkin, ia dilahirkan di sana pada waktu ayahnya menduduki jabatan sebagai gubernur.

“Filosof Bangsa Arab”, demikian julukan al-Kindi, dilahirkan di tengah keluarga yang berderajat tinggi, kaya akan kebudayaan, dan terhormat. Meskipun tanggal lahirnya yang tepat tidak diketahui, kita dapat menduga, bahwa ia dilahirkan menjelang abad kedelapan Masehi. Hampir tidak ada yang mengetahui, tentang tahun-tahun awalnya di al-Kufah. Barangkali di sinilah ia mulai tertarik akan ilmu pengetahuan, ketimbang menjadi seorang prajurit atau politikus, dan dengan demikian ia mengikuti jejak nenek moyangnya. Keserbacakapan dan minatnya yang sangat besar terhadap semua cabang ilmu pengetahuan, menunjukkan kegemarannya untuk belajar lebih dini. Hasrat inilah yang telah menimbulkan keinginan untuk pindah ke al-Basrah untuk mencari pengetahuan yang lebih banyak.[2]

Al-Basrah pada waktu itu adalah pusat ilmu pengetahuan yang besar. Kota ini merupakan tempat persemaian gerakan-gerakan intelektual seperti al-Mu’tazilah dan al-Asy’ariyah, dua aliran besar pemikiran theologi Muslim. Di kota itu pula pertama kali lahir sekolah besar untuk ahli-ahli tata bahasa yang diilhami oleh logika Yunani. Sayang, kita tidak mengetahui hal-hal yang terperinci mengenai hidup dan prestasi-prestasinya di kota yang mendenyutkan gerakan intelektual ini.

Kemudian ia pindah ke Baghdad. Di sini ia menyelesaikan pendidikannya, dan diduga dengan pasti, bahwa ia berjumpa dengan berbagai cendekiawan Suriah dan Persia yang waktu itu merupakan tulang punggung ilmu pengetahuan baru di ibukota kekhalifahan Abbasiyah. Mereka itulah yang menuntunnya terus menerus sampai ke dalam rahasia-rahasia filsafat dan ilmu pengetahuan Yunani. Ia merupakan salah seorang dari sedikit orang-orang Muslim-Arab sezamannya, yang menguasai bahasa Yunani dan bahasa Suriah atau kedua-duanya sekaligus.[3] Pengetahuannya mengenai kesusastraan Yunani, Persia, dan India telah menganugerahinya kehormatan dan kemasyhuran yang unik selama tinggal di Baghdad.

(Sumber: George N. Atiyeh. (1983). Al-Kindi: Tokoh Filosof Muslim. Bandung: Pustaka).


[1] V.G. Flugel, “Al-Kindi gennant des Philosoph der Araber”, Abhandlungen fuer die Kunde des Morgenlandes, I: 2 (Leipzig, 1857). Flugel, dengan mendasarkan karyanya atas ‘Uyun al-Anba fi Thabaqat al-Athibba oleh Ibn Abi Ushaybi’ah, ed. A. Muller, 2 jil., Kairo, 1882, menelusuri silsilah al-Kindi sampai nenek moyang keenam pada garis ayah, yang datang dari garis keturunan prajurit-prajurit kstaria keluarga kerajaan yang memerintah Kindah sebelum datangnya Islam.

[2] Ibn Juljul (meninggal kira-kira 384/994) Thabaqat ath-Athibba’ wa’l Hukuma’ ed. F. Sayyid, Kairo 1955, hal. 73, menyatakan bahwa al-Kindi adalah seorang Basrah dan bahwa ia memiliki sebuah desa di daerah itu. Ia juga menyebutkan bahwa ia meninggalkan al-Basrah menuju Baghdad.

[3] Tidak dapat dinyatakan secara pasti bahwa al-Kindi mengerti bahasa Yunani dan Suriah, atau bahwa ia pernah menerjemahkan sesuatu karya dari bahasa-bahasa ini. Ibn an-Nadim, penulis riwayat hidup al-Kindi yang pertama, berkata (bandingkan al-Fihrist, hal. 375) bahwa karya Ptolemy On Geography (Tentang Geografi) diterjemahkan untuk al-Kindi. Sejarawan dulu lainnya Ibn Juljul (Thabaqat al-Athibba’, hal 73) berkata, “dan ia menerjemahkan banyak karya filosofis dan menjelaskan apa yang sukar dimengerti di dalamnya”. Tetapi Ibn Juljul hidup di Spanyol. Ibn Abi Ushaybi’ah, dengan menggunakan sebagai sumber sebuah karya pengikut al-Kindi yang semasa, Abu Ma’syar, memandangnya sebagai salah seorang dari empat penerjemah terbesar. Al-Qifti (hal. 98) menyatakan bahwa karya Ptolemy, diterjemahkan oleh al-Kindi. Sekalipun demikian, baik karya-karya al-Kindi yang masih ada, maupun judul karya-karya yang sudah tidak ada, tidak menunjukkan bahwa ada di antaranya yang merupakan terjemahan harfiah dari karya-karya Yunani. Mungkin ia memperbaiki dan memberikan terjemahan-terjemahan dari orang lain ketimbang menerjemahkannya sendiri seperti yang diketahui ia lakukan dalam hal Theology of Aristotle (Teologi Aristoteles). Oleh karena kita kekurangan informasi mengenai pendidikan al-Kindi, maka kita tidak dapat menyelesaikan soal ini. Bandingkan FF. Rosenthal, “Al-Kindi and Ptolemy” dalam Studi Orientale in Onore di Giorgio Della Vida, Roma, 1956, II: 445. Juga I. Madkour, L’organon d’Aristote dans le monde arabe, Paris, 1934, hal. 31.

Masa Hidup Al-Kindi (1)

Posted in Masa Hidup with tags , , , , , on Mei 27, 2012 by isepmalik

Al-Kindi hidup selama masa pemerintahan Daulah Abbasiyah, yaitu al-Amin (809-813 M), al-Ma’mun (813-833 M), al-Mu’tashim (833-842 M), al-Wathiq (842-847 M), dan al-Mutawakkil (847-861 M). Selama masa kekhalifahan Abbasiyah ini, dikaruniai suatu periode kehidupan politik dan intelektual yang paling cemerlang. Selama pertengahan pertama abad kesembilan, kekhalifahan Abbasiyah berada pada puncak kekuatan militer dan politiknya, mempunyai hubungan-hubungan yang baik dengan orang-orang Frank, yang pada waktu itu merupakan musuh-musuh Spanyol di bawah Daulah Umayyah. Di bidang militer al-Ma’mun melancarkan perang melawan Byzantium sampai ke pantai-pantai Bosporus. Dalam pemerintahan sipil, hubungan-hubungan antara Baghdad, sebagai pusat pemerintahan, dengan setiap propinsi yang diperintah oleh gubernur, dibuat lebih kuat dengan membangun jalan-jalan, sistem pos, dan pengadaan buku-buku petunjuk berbagai propinsi. Ibukota Baghdad mungkin merupakan sebuah kota yang paling indah di seluruh dunia, dengan istana-istananya yang sangat megah, taman-taman, tempat-tempat pemandian umum, tempat-tempat hiburan, dan pasar-pasar yang penuh dengan segala macam barang yang amat bagus.

Kegiatan-kegiatan ilmiah melangkah seirama dengan pertumbuhan keindahan Baghdad. Penerjemahan warisan Yunani dalam ilmu pengetahuan dan filsafat ke dalam bahasa Arab telah membangkitkan minat dan perhatian baru, namun menimbulkan masalah baru pula. Sebelum kedatangan Islam, orang-orang Suriah telah mengasimilasikan dan memelihara banyak sekali unsur kebudayaan Yunani di dalam bahasa Suriah. Di dalam biara-biara Suriah, di sekolah-sekolah Jundishahpur di Persia yang ditangani oleh orang-orang Nestoria, dan di Harran, Suriah Utara, yang penyembah berhala, karya-karya Yunani mengenai ilmu pengetahuan, filsafat dan ilmu pengobatan diterjemahkan, kemudian diulas serta dijadikan dasar-dasar pendidikan. Tatkala orang-orang Muslim pertama kali muncul di atas pentas politik Bulan Sabit, dan bahkan sesudah akhir abad ketujuh, beberapa usaha telah dilakukan untuk menerjemahkan karya-karya tentang Ilmu Pengobatan dan Ilmu Alkimia ke dalam bahasa Arab, namun upaya penerjemahan itu tidak mengalami perkembangan yang cemerlang sampai datang al-Ma’mun, yang memercikkan gairah intelektualitas. Ia mendirikan sebuah pusat pengajaran dan penerjemahan yang termasyhur di dalam sejarah Arab sebagai Rumah Kearifan (Baytul Hikmah). Ia juga mengirimkan utusan-utusan ke seluruh kerajaan Byzantium untuk mencari buku-buku Yunani tentang berbagai subyek. Dikatakan, bahwa ia membayar setiap buku yang diterjemahkan dari bahasa asing ke dalam bahasa Arab, dengan emas seberat buku itu. Kita mengetahui, bahwa al-Kindi ikut serta di dalam gerakan ini, tetapi kita tidak tahu secara tepat, sebagai apa kedudukannya.

Akibat dari penerjemahan-penerjemahan ini, serta bakat minat para khalifah dalam ilmu pengetahuan dan filsafat, maka ilmu pengetahuan, ilmu pengobatan, dan filsafat Yunani mencapai ketinggian yang belum pernah terjadi sebelumnya di Timur Dekat, kecuali dalam kurun waktu Alexander. Dalam kekhalifahan al-Ma’mun itulah al-Khawarizmi menulis bukunya yang lebih terkenal dengan Aljabar.

Bahkan Geodesi, ilmu mengenai perhitungan tingginya gunung dan dalamnya lembah, memperoleh perhatian yang layak. Beberapa dari tulisan-tulisan al-Kindi mengenai hal ini, bersama dengan tulisan lain yang sejenisnya, pasti telah memainkan peranan besar di dalam perancangan dan pembangunan saluran-saluran air, jembatan-jembatan, peralatan perang, dan timbangan.

Ilmu-ilmu pengetahuan yang diilhami oleh alam pemikiran Yunani itu, memperoleh bentuk Arab Muslimnya, di dalam periode ini. Kegiatan-kegiatan intelektual Islam menempuh dua jalan yang berbeda, yang hanya kadang-kadang saja saling bersilangan satu sama lain. Jalan pertama, jalan yang ortodoks, yang kebanyakan dianut oleh orang-orang Muslim. Jalan ini menuju kepada kebangunan dan perkembangan ilmu-ilmu pengetahuan, seperti filologi, sejarah dan jurisprudensi. Sedang jalan yang kedua, jalan yang kurang ortodoks, yaitu jalan yang dipengaruhi oleh kebudayaan-kebudayaan Yunani, Suriah, dan Persia, jalan ini menuju kepada kebangunan dan perkembangan berbagai disiplin tentang filsafat, matematika, astronomi, astrologi, ilmu-ilmu fisika, dan geografi, yang kemudian disebut “ilmu-ilmu orang zaman dahulu”.

Renungan theologis telah dimulai lebih awal di Damaskus, yang menimbulkan hubungan yang dekat dengan orang-orang Kristen, dan keinginan untuk memperoleh kejelasan dan tafsiran sendiri. Pada tahap-tahap permulaan, theologi atau kalam merupakan cabang dari fiqh atau pengkajian hukum (syari’ah). Di dalam masa Abbasiyah, kedua-duanya dipisah, seperti yang kita kenal sekarang sebagai theologi skolastik atau kalam, dan jurisprudensi atau fiqh. Dalam masa al-Kindi, mucnul empat mazhab hukum, yaitu Abu Hanifah, Asy-Syafi’i, Ibn Hanbal, dan Malik Ibn Anas. Perbedaan dasar antara mazhab-mazhab ini terletak pada penggunaan analogi (qiyas) dan pendapat pribadi (ra’i) untuk menyesuaikan hukum itu dengan tuntutan-tuntutan zaman, atau hanya berdasarkan kesimpulan-kesimpulan atas materi yang terkandung dalam hadits Nabi. Sungguh merupakan suatu masalah, apakah menerima atau tidak pemakaian metode-metode Hellenistik, seperti halnya yang digunakan di Suriah, atau semata-mata dan benar-benar hanya tergantung kepada sunnah.

Ibn Hanbal (780-855 M) menunjukkan sikap tidak kenal kompromi kepada para pembela sunnah. Al-Ma’mun menyiksanya, karena ia mendukung teori yang mengatakan, bahwa al-Quran itu bukan makhluk. Pada akhirnya, orang-orang yang berpikir seperti Ibn Hanbal di dalam periode yang sama, pasti telah menentang diperkenalkannya “ilmu-ilmu orang zaman dahulu” dalam Islam, dan sekaligus menentang kegiatan-kegiatan ilmiah dan filosofis dari al-Kindi. Namun beruntunglah, bahwa meskipun kadang-kadang timbul tuntutan-tuntutan penghukuman oleh mereka yang anti intelektual para cendekiawan Muslim terutama dalam periode ini menikmati kemerdekaan yang luas, untuk kepada umum, serta memilih pokok persoalan yang paling menarik minat mereka.

(Sumber: George N. Atiyeh. (1983). Al-Kindi: Tokoh Filosof Muslim. Bandung: Pustaka).

Sumber dan Struktur Filsafat Menurut Al-Kindi (1)

Posted in Al-Kindi with tags , , , on Januari 22, 2012 by isepmalik

Kata “filsafat” dalam bahasa Arab adalah falsafa, berasal dari bahasa Yunani philosophia. Asal kata tersebut tidak dipermasalahkan pada masa Al-Kindi, sebab dalam tradisi Arab filsafat dipandang sebagai sesuatu yang “asing”. Hal ini ditunjukkan kritikus seperti Al-Sirafi yang akan dibahas nanti, juga Al-Khawarizmi yang menulis ensiklopedi berjudul Keys to the Science (ditulis sekitar 977 M) menjadi dua bagian: dalam tradisi Arab dan Yunani.[1] Jelas terlihat bahwa tradisi Arab awal sampai masa Ibn Sina dipengaruhi oleh Aristoteles; legitimasi dan pentingnya tradisi Yunani akan dibahas khususnya manfaat logika (Yunani) dan tata bahasa (Arab). Meskipun begitu, ada kesepakatan tertentu tentang isi dan struktur tradisi “asing” (Yunani) yang dianalisis secara kritis oleh para ilmuwan Muslim.

Lebih dari 100 tahun setelah massa Al-Khawarizmi, Al-Kindi belum bisa menguatkan asumsi pentingnya tradisi Yunani. Al-Kindi tidak hanya membela dan mempromosikan nilai karya-karya terjemahan tradisi Yunani kepada tradisi Arab terhadap kritik, tetapi juga mencoba untuk menjelaskan tradisi filsafat Yunani secara khusus. Di sisi lain, Al-Kindi diuntungkan oleh kenyataan bahwa ilmuwan pada abad kesepuluh tidak mempertentangkan antara pemikiran Yunani dan Arab. Karena pada abad kesembilan, gerakan penejemahan menerima dukungan sosial dan politik dari penguasa Abbasiyah. Dalam konteks ini, Al-Kindi merasa optimis tentang prospek tradisi Yunani ke dalam wacana intelektual Arab. Tradisi Yunani bukan untuk menggantikan identitas tradisi Arab atau Muslim, tetapi hasil akhirnya akan menjadi tradisi Arab atau Muslim. Hasilnya, tidak ada polarisasi antara falsafa dan kalam—seperti pada Al-Farabi dan Ibn Rushd—sebagaimana pada pemikiran Al-Kindi itu sendiri. Pada masa kini banyak ilmuwan yang menentang keinginan Al-Kindi membawa tradisi Yunani. Tetapi perhatian Al-Kindi bukan hanya untuk menunjukkan kebenaran dan kebijaksanaan tradisi Yunani, melainkan juga untuk memperlihatkan bagaimana tradisi “asing” tersebut membentuk batang tubuh pengetahuan, dan bagaimana pengetahuan ini dapat diintegrasikan dengan tradisi Arab dan ajaran Islam.[2]

 

Pembelaan terhadap Filsafat

Salah satu bagian paling terkenal dari karya Al-Kindi adalah bagian pertama dari On First Philosophy. Dalam pendahuluan karyanya tersebut, ia memperkenalkan metafisika atau “filsafat-pertama” yang dipahami sebagai studi tentang Sebab Pertama, yaitu Tuhan. Menurutnya, “Seni manusia yang memiliki peringkat tertinggi dan termulia adalah seni filsafat yang didefinisikan sebagai pengetahuan manusia untuk mengenal sifat-sifat, sejauh hal tersebut mungkin bagi manusia.”* Dan karena keunggulan objeknya, filsafat-pertama adalah bagian paling mulia dari filsafat. Selaras dengan Al-Quran yang menyatakan bahwa Tuhan adalah al-Haqq (“Kebenaran”), Al-Kindi menyatakan bahwa “segala sesuatu telah dijadikan kebenaran, dan Tuhan adalah Kebenaran Pertama; Ia adalah penyebab dari segala kebenaran, Ia adalah penyebab dari semuanya.”

Inilah yang menjadi perhatian utama Al-Kindi. Ia memulai dengan ajakan untuk mencari dan menjaga kebenaran dari mana pun sumbernya. Filsafat adalah bangunan pengetahuan yang bersifat kolektif, “Jika seseorang mengumpulkan bagian-bagian terkecil, maka ia akan mencapai kebenaran yang hasilnya cukup besar.” Kemudian Al-Kindi berkata dalam On First Philosophy:

Kita tidak harus malu untuk mengagumi kebenaran atau untuk mendapatkan itu dari mana pun sumbernya. Bahkan jika kebenaran tersebut berasal dari bangsa dan tradisi asing. Hal ini penting untuk para pencari bahwa kebenaran jauh lebih penting. Kebenaran tidak bisa direndahkan oleh orang atau suatu bangsa, begitu pula tidak ada yang direndahkan oleh kebenaran apapun derajatnya.**

Lebih lanjut Al-Kindi berkata:

Kita harus waspada terhadap kejahatan penafsiran yang didasarkan untuk melambungkan ketenaran dari orang yang sebenarnya terasing dari kebenaran. mereka seolah-olah memahkotai dirinya dengan mahkota kebenaran, karena sempitnya pemahaman terhadap kebenaran. Hal ini karena rasa iri yang telah menguasai jiwa binatang mereka, visi pemikirannya tertutup dari cahaya kebenaran.*

Hal ini sebagai respon Al-Kindi terhadap para penentang yang dituduhnya “memperdagangkan agama”. Orang-orang ini dikenal sebagai “golongan spekulatif (nazhari)” yang memiliki posisi prestise dan dekat terhadap kekuasaan. Selain “mahkota” semu, golongan ini juga dikatakan “menempati kursi penipuan secara tidak layak.” Alfred Ivry menjelaskan bahwa pada masa ditulisnya On First Philosophy pada abad kesembilan sedang didominasi teologi Muslim spekulatif golongan Mu’tazilah. Sasaran kemarahan Al-Kindi, menurut Ivry, ditujukan kepada para teolog yang mengedepankan spekulatif teologi dan mencari keuntungan belaka. Pada pertengahan abad kesembilan banyak melahirkan tokoh dalam kalam dan cukup kecil kemungkinan bila kemarahan Al-Kindi dialamatkan hanya kepada Mu’tazilah. Patut diduga pula bahwa bantahan Al-Kindi ditujukan kepada para tradisionalis seperti Hanbali dan para pendukungnya.[3] Harus dipertimbangkan pula bahwa dalam banyak kasus, bantahan Al-Kindi tidak hanya dialamatkan kepada para teolog tetapi kepada para pencela tradisi filsafat Yunani. Inilah sebabnya mengapa Al-Kindi melakukan bantahan setelah memuji tradisi Yunani dalam mencari kebenaran. Dia melanjutkan dengan mengatakan bahwa tidak ada keharusan untuk menolak memperoleh pengetahuan “kodrat sejati manusia”, yaitu filsafat. Siapapun yang menyangkal kebutuhan untuk berfilsafat akan membutuhkan argumen filosofis mengapa filsafat itu tidak perlu. Dengan melontarkan argumen ini tentu saja mereka akan terlibat dalam filsafat, dan karenanya secara tidak langsung menyangkal diri mereka sendiri.**

Al-Kindi menyimpulkan bantahannya yang mungkin merupakan bagian paling mendapat penekanan dalam setiap karyanya. Hal ini layak untuk dikutip:

Kami memohon kepada Dia yang dapat melihat ke dalam hati—usaha kita adalah menuju pembentukan bukti keilahian-Nya, mewujudkan pemahaman tentang kesatuan-Nya, menentang orang-orang yang keras kepala menolak-Nya dan tidak percaya kepada-Nya dengan mengemukakan bukti-bukti yang membantah ketidakpercayaan, merobek selubung kebohongan, dan menyatakan secara terbuka kekurangan mereka—untuk melindungi kita dan siapapun yang mengikuti jalan untuk terus-menerus mendekati-Nya. Mari kita memfokuskan niat dalam membantu dan mendukung apa yang benar; Dia akan memberikan jalan kepada kita untuk mencapai derajat orang-orang yang berniat mengagungkan-Nya, mereka yang menyetujui tindakan-Nya. Dia akan memberikan kemenangan atas lawan yang tidak percaya terhadap rahmat-Nya dan orang-orang yang bertentangan dengan jalan kebenaran yang mengagungkan-Nya.*

Apa yang sangat mencolok tentang retorika di atas adalah konteks religiusnya. Al-Kindi tidak mengatakan bahwa mengejar kebenaran filosofis harus melepaskan keyakinan terhadap agama. Sebaliknya, Al-Kindi berpendapat bahwa memvonis kafir (kufr) terhadap orang yang mempelajarinya adalah tuduhan tidak benar. Al-Kindi mendasarkan pada fakta bahwa penentangnya menolak upaya untuk menggunakan filsafat dalam mendukung prinsip utama Islam: keesaan Tuhan dan keilahian. Sejauh filsafat dapat berkontribusi terhadap kebenaran, bila filsafat ditolak maka dengan sendirinya menolak Islam itu sendiri.

Dengan demikian jelas sekali tujuan On First Philosophy dan arah karya-karya Al-Kindi. On First Philosophy merupakan upaya penggunaan filsafat untuk membuktikan kebenaran sentral dogma teologis Islam bahwa Tuhan itu ada dan Tuhan itu satu. Seperti yang akan kita lihat selanjutnya, dalam karyanya tersebut Al-Kindi mengemukakan argumen kepada orang-orang atau golongan yang menegasikan sifat-sifat Tuhan; tentu saja hal ini ditujukan kepada Mu’tazilah. Bantahan Al-Kindi tidak hanya ditujukan terhadap posisi teologi Mu’tazilah dan praktik teologi spekulatif. Ia berusaha mengajak pembaca untuk mendukung teologi spekulatif filosofis dalam On First Philosophy. Tujuan dan doktrin utamanya tidak jauh berbeda dengan Mu’tazilah; perbedaannya, ia mengambil bahan-bahan dari tradisi Yunani dalam karyanya.[4]Oleh sebab itu, ia menentang teolog (atau siapa saja) yang ingin menyangkal manfaat tradisi filsafat Yunani terhadap teologi Islam.


[1] Bosworth, C. E. (1963). “A Pioneer Arabic Encyclopedia of the Sciences: Al-Khwarizmi’s Keys of the Sciences.” Isis 54. Hal: 97-111.

[2] Pada masa kini, seperti Robert Wisnovsky mencoba menyelaraskan teks-teks Aristoteles dengan pemikir Yunani lainnya, khususnya antara Aristoteles dengan Platonisme untuk menghasilkan kesatuan pengetahuan Yunani. Hal ini tidak hanya menunjukkan warisan dari Al-Kindi, tetapi Al-Kindi juga berusaha untuk membuat harmoni lebih besar antara tradisi Yunani di satu sisi dan tradisi Arab dan ajaran agama Islam di sisi lain.

* Adamson, P., dan Pormann, Peter E. The Philosophical Works of al-Kindi. New York: Oxford University Press. Vol. I. Hal: 2.; Rida, Abu. (1950). Rasa’il al-Kindi al-Falsafiyya, vol. I. Cairo: Dar al-Fikr al-Arabi. Hal: 95.; R. Rashed dan J. Jolivet. (1998). Oeuvres Philosophiques et Scientifiques d’al-Kindi, Vol. II. Leiden: Brill. Hal: 9.

** Adamson, P., dan Pormann, Peter E. Vol. II. Hal: 4.; Rida, Abu. vol. I. Hal: 103.; R. Rashed dan J. Jolivet. Vol. II. Hal: 13.

* Adamson, P., dan Pormann, Peter E. Vol. III. Hal: 1-2.; Rida, Abu. vol. I. Hal: 103-104.; R. Rashed dan J. Jolivet. Vol. II. Hal: 13-15.

[3] Hal ini masuk akal ketika melihat konteks pada waktu itu; Khalifah Al-Mu’tasim, seperti pendahulunya Khalifah Al-Ma’mun yang menyingkirkan kaum tradisionalis dan Mu’tazilah banyak menduduki kursi kekuasaan. Meskipun tradisionalis tidak memiliki dukungan kekhalifahan selama periode ini, Al-Kindi melihat bahwa golongan ini cukup populer di masyarakat. Al-Ma’mun sendiri dalam suratnya mengeluhkan kemuliaan dan kepemimpinan tradisionalis hanya untuk dirinya sendiri [Lihat: Al-Tabari. (1897). (ed.) De Goeje. Vol. III. Hal: 1114).

** Adamson, P., dan Pormann, Peter E. Vol. III. Hal: 4.; Rida, Abu. vol. I. Hal: 5.; R. Rashed dan J. Jolivet. Vol. II. Hal: 15.

* ** Adamson, P., dan Pormann, Peter E. Vol. III. Hal: 5.; Rida, Abu. vol. I. Hal: 105.; R. Rashed dan J. Jolivet. Vol. II. Hal: 15-17.

[4] Adamson, P. (2003). “Al-Kindi and the Mu’tazila: Divine Attributes, Creation and Freedom.” Arabic Sciences and Philosophy. Vol. 13.I. Hal: 45-77.