Archive for the Maurice Bucaille Category

2. kata pengantar pengarang

Posted in BUKU, Maurice Bucaille on Agustus 30, 2010 by isepmalik

Masing-masing dari tiga agama Samawi mempunyai kumpulan
kitab  yang khusus. Dokumen-dokumen itu merupakan dasar
kepercayaan tiap penganut  agama  itu,  baik  ia  orang
Yahudi, orang Kristen atau orang Islam. Dokumen-dokumen
tersebut bagi mereka itu merupakan penjelmaan  material
daripada  wahyu  Ilahi,  yang  bersifat  wahyu langsung
seperti yang diterima oleh Nabi Ibrahim atau Nabi Musa,
atau  merupakan wahyu yang tidak langsung seperti dalam
hal Nabi Isa dan Nabi Muhammad. Nabi Isa  berkata  atas
nama Bapa dan Nabi Muhammad menyampaikan kepada seluruh
manusia  wahyu-wahyu  Tuhan  yang  ia   terima   dengan
perantaraan malaikat Jibril.

Untuk  membicarakan sejarah Agama, saya mengambil sikap
untuk menempatkan Perjanjian Lama, Perjanjian Baru  dan
Qur-an   dalam   tempat   yang  sejajar  sebagai  wahyu
tertulis. Sikap  saya  tersebut  yang  pada  prinsipnya
dapat  disetujui  oleh  umat Islam, tidak diterima oleh
pengikut agama di negeri-negeri Barat yang  terpengaruh
oleh agama Yakudi dan Kristen, karena rnereka itu tidak
mengakui Qur-an sebagai suatu kitab yang diwahyukan.

Sikap  seperti  tersebut  nampak  dalam   masing-masing
kelompok  jika  menghadapi  kedua  agama lainnya, dalam
soal Kitab Suci.

Kitab Sucinya agama Yahudi adalah Bibel  Ibrani.  Bibel
bahasa  Ibrani  ini  berbeda  daripada  Perjanjian Lama
menurut   agama   Masehi    dengan    tambahan-tambahan
fasal-fasal yang tak terdapat dalam bahasa Ibrani. Dari
segi praktek, perbedaan ini tidak menyebabkan perubahan
dalam  aqidah.  Akan  tetapi  orang-orang  Yahudi tidak
percaya kepada adanya sesuatu wahyu sesudah kitab  suci
mereka.

Agama  Masehi  menerima Bibel Ibrani dengan menambahkan
beberapa tambahan. Akan  tetapi  tidak  dapat  menerima
segala   sesuatu   yang   termuat   di  dalamnya  untuk
membuktikan kenabian Isa. Gereja Masehi telah melakukan
potongan-potongan yang sangat penting dalam fasal-fasal
yang mengenai  kehidupan  Isa  serta  ajaran-ajarannya.
Gereja  Masehi  tidak  memasukkan dalam Perjanjian Baru
kecuali tulisan-tulisan yang sangat terbatas jumlahnya,
yang  terpenting  ialah  Injil yang empat. Agama Masehi
tidak menganggap adanya wahyu yang turun  sesudah  Nabi
Isa dan sahabatnya. Dengan begitu mereka tidak mengakui
Al Qur-an.

Enam abad setelah Nabi Isa,  Al  Qur-an  sebagai  wahyu
terakhir,  banyak menyebutkan Bibel Ibrani serta Injil.
Al Qur-an sering menyebut Torah1 dan Injil.  Al  Qur-an
mewajibkan  kepada  semua  orang  muslim  untuk percaya
kepada kitab-kitab sebelumnya (surat 4  ayat  136).  Al
Qur-an  menonjolkan  kedudukan  tinggi para Rasul dalam
sejarah Wahyu, seperti Nabi  Nuh,  Nabi  Ibrahim,  Nabi
Musa  dan  para  Nabi Bani Israil, dan juga kepada Nabi
Isa (Yesus) yang mempunyai kedudukan istimewa di ancara
mereka.  Kelahiran  Yesus  telah  dilukiskan  dalam  Al
Qur-an  sebagai  suatu  kejadian  ajaib  (supernatural)
seperti   juga   dilukiskan   oleh   Injil.  Al  Qur-an
menyebutkan Maryam secara istimewa. Bukankah surat  no.
19 dalam Qur-an bernama surat Maryam?

Perlu  saya  nyatakan bahwa hal-hal yang mengenai Islam
pada  umumnya  tak  diketahui  orang  di  negeri-negeri
Barat.  Hal  ini tidak mengherankan jika kita mengingat
bagaimana generasi-generasi diberi pelajaran agama  dan
bagaimana   selama  itu  mereka  itu  dikungkung  dalam
ketidak  tahuan  mengenai  Islam.  Pemakaian  kata-kata
"religion  Mahometane"  (Mohamedanism)  dan  Mahometans
(Mohamedans)  sampai  sekarang  masih  sering  dipakai,
untuk  memelihara suatu anggapan yang salah yakni bakwa
Islam adalah kepercayaan yang  disiarkan  oleh  seorang
manusia,  dan dalam Islam itu tak ada tempat bagi Tuhan
(sebagaimana yang difahamkan oleh kaum Masehi).  Banyak
kaum  terpelajar  zaman  sekarang  yang  tertarik  oleh
aspek-aspek    Islam    yang     mengenai     filsafat,
kemasyarakatan atau ketatanegaraan, tetapi mereka tidak
menyelidiki lebih  lanjut  bagaimana  dalam  mengetahui
aspek-aspek  itu  mereka  sesungguhnya bersumber kepada
wahyu  Islam.  Biasanya  orang  bertitik   tolak   dari
anggapan  bahwa  Mohammad  bersandar kepada wahyu-wahyu
yang diterima nabi-nabi  sebelum  dia  sendiri,  dengan
begitu   mereka   ingin   mengelak  dari  mempersoalkan
"wahyu."

Orang-orang Islam selalu dianggap remeh  oleh  golongan
tertentu  dalam umat Kristen. Saya mempunyai pengalaman
dalam hal ini, ketika ssya berusaha  mengadakan  dialog
untuk  penelitian  perbandingan  antara  teks Bibel dan
teks  Qur-an  mengenai  sesuatu  masalah;  saya  selalu
disambut  dengan  penolakan  untuk  menyelidiki sesuatu
yang mungkin diungkapkan oleh  Al  Qur-an  tentang  hal
tersebut.   Hal   seperti   ini   seakan-akan   berarti
menganggap bahwa  Qur-an  itu  ada  hubungannya  dengan
Syaitan.

Pada  akhir-akkir  ini  telah  terjadi  perubahan besar
dalam tingkat tertinggi daripada Dunia Kristen. Setelah
konsili  Vatican  II  (1963-1965),  sekretariat Vatican
(Departemen)  untuk  urusan-urusan  dengan  umat  bukan
Kristen,  menyiarkan  Dokumen  "Orientasi  untuk dialog
antara umat Kristen dan  umat  Islam;"  cetakan  ketiga
terbit  pada  tahun  1972. Dokumen tersebut menunjukkan
pergantian sikap yang mendalam secara resmi,  mula-mula
Dokumen  tersebut  mengajak  untuk  melempar jauh image
yang diperoleh umat Kristen tentang Islam  yaitu  image
usang  yang  telah  diwarisi  dari masa yang silam atau
image  yang  salah  karena  didasarkan  prasangka   dan
fitnahan. Kemudian Dokumen tersebut mengakui terjadinya
ketidak adilan  pada  masa  yang  lalu,  yaitu  ketidak
adilan  yang dilakukan oleh Pendidikan Kristen tethadap
umat Islam" diantaranya mengenai gambaran umat  Kristen
yang  salah  tentang  fatalisma Islam, juridisma Islam,
fanatisma dan lain-lain.  Dokumen  tersebut  menegaskan
kesatuan  akan  Kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Serta menyebutkan bahwa Kardinal Koenig telah  membikin
para pendengarnya tercengang ketika dalam ceramah resmi
di  Universitas  Al  Azhar  pada   bulan   Maret   1969
menerangkan   hal   tersebut.   Dokumen  tersebut  juga
mengatakan  bahwa   sekretariat   (Departemen)   urusan
non-Kristen mengajak umat Kristen pada tahun 1967 untuk
mengucapkan selamat kepada umat Islam sehubungan dengan
bulan   puasa   Ramadlan   "sesuatu  nilai  agama  yang
autentik."

Usaha-usaha untuk pendekatan antara Vatican  dan  Islam
telah  diikuti  dengan  bermacam-macam  manifestasi dan
pertemuan yang konkrit. Tetapi hal-hal  tersebut  hanya
diketahui  oleh  jumlah  yang  sangat  sedikit di Barat
walaupun mass media seperti pers,  radio  dan  telerisi
tidak kurang.

Surat-surat kabar menyiarkan tentang kunjungan Kardinal
Pignedoli, Ketua Departemen urusan bukan Kristen kepada
Baginda  (almarhum) raja Faisal dari Saudi Arabia, pada
tanggal 24 April 1974. Harian Le Monde (Dunia)  tanggal
25  April  1974  hanya memuat berita itu dalam beberapa
baris. Tetapi berita  tersebut  adalah  penting  karena
Kardinal  Pignedoli  menyampaikan  kepada  Sri  Baginda
pesan dari Paus Paulus VI yang berisi: rasa hormat Paus
Paulus VI, yang diiringi dengan keyakinan yang mendalam
tentang kesatuan Dunia Islam  dan  Dunia  Kristen  yang
kedua-duanya menyembah Tuhan yang Satu.

Enam  bulan  kemudian  pada  bulan  Oktober  1974, Paus
Paulus  VI  secara  resmi  menerima  ulama-ulama  Saudi
Arabia di Vatican. Pada waktu itu juga diadakan diskusi
antara pihak Islam dan pihak Kristen mengenai:  Hak-hak
manusia  dalam Islam. Surat kabar Vatican L'observatore
Romano yang terbit pada tanggal 26 Oktober 1974  memuat
berita   diskusi   tersebut   pada   halaman   pertama.
Berita-berita  tersebut  mengambil  tempat  yang  lebih
besar  daripada  berita tentang penutupan sidang Synode
uskup-uskup di Roma.

Ulama-ulama Arabia kemudian mengunjungi Majelis Ekumeni
Gereja   di   Geneva   dan   diterima  oleh  Monsigneur
Elchenger, uskup Strasburg yang kemudian meminta kepada
mereka   untuk   sembahyang  lohor  di  Kathedral.  Hal
tersebut saya sajikan  karena  luar  biasa  dan  karena
artinya  yang  besar.  Tetapi  meskipun  begitu sedikit
sekali   orang   yang   saya   tanya   dapat   mengerti
kejadian-kejadian tersebut.

Sikap  keterbukaan  terhadap  Islam  yang diperlihatkan
oleh Paus Paulus VI yang pernah berkata, dijiwai dengan
kepercayaan  penah  tentang  kesatuan  Dunia  Islam dan
Kristen yang rnenyembah Tuhan Yang Satu,  akan  membuka
halaman  baru  dalam  hubungan  kedua  agama. Mengingat
sikap Kepala Gereja Katolik terhadap umat Islam  adalah
perlu  sekali,  karena  banyak orang Kristen terpelajar
masih berfikir seperti  yang  dilukiskan  oleh  Dokamen
Orientasi  untuk  Dialog  antara  umat Kristen dan umat
Islam  dan  tetap  menolak  menyelidiki   ajaran-ajaran
Islam.  Dan  karena  sikap  tersebut mereka tetap tidak
memahami realitas dan  tetap  berpegangan  kepada  idea
yang sangat salah mengenai Wahyu Islam.

Bagaimanapun  juga  adalah  sangat wajar jika seseorang
mempelajari aspek wahyu dalam suatu  agama  Samawi,  ia
akan  mengadakan  perbandingan dengan dua agama lainnya
mengenai  persoalan  yang  sama.  Sesuatu  penyelidikan
tentang   sekelompok   masalah-masalah   lebih  menarik
daripada penyelidikan tentang  hanya  sesuatu  masalah.
Oleh karena itu konfrontasi dengan hasil-hasil penemuan
ilmu pengetahuan abad XX mengenai masalah-masalah  yang
tersebut  dalam  kitab suci, adalah penting bagi ketiga
agama itu. Bukankah lebih baik jika  ketiga  agama  itu
merupakan  suatu  blok  yang  kompak  dalam  menghadapi
bahaya materialisma yang mengancam  Dunia.  Pada  waktu
ini,  di  kalangan-kalangan  ilmu  pengetahuan, baik di
negeri-negeri  yang  di  bawah  pengaruh  agama  Yahudi
Kristen  (Barat)  maupun  di negeri-negeri Islam banyak
orang berpendapat  bakwa  agama  dan  Sains  tak  dapat
disesuaikan.  Untuk  membicarakan  soal  ini, agama dan
ilmu, perlu pembahasan yang sangat  luas.  Akan  tetapi
saya   hanya   akan   membicarakan  satu  aspek  yaitu:
penyelidikan   tentang    Kitab-kitab    Suci    dengan
mempergunakan pengetahuan Sains modern.

Maksud   tersebut   mendorong  untuk  mengajukan  suatu
pertanyaan yang fundamental: Sampai di mana kita  dapat
menganggap  teks  kitab-kitab suci yang kita miliki itu
autentik? Soal ini  mendorong  kita  untuk  menyelidiki
kejadian-kejadian   yang   terjadi   sebelum  pembukuan
Kitab-kitab Suci tersebut sehingga sampai  kepada  kita
sekarang

Penyelidikan  tentang  Kitab  Suci  dengan  menggunakan
kritik  teks  adalah  baru.   Mengenai   Bibel,   yakni
Perjanjian    Lama    dan   Perjanjian   Baru,   selama
berabad-abad manusia sudah  puas  dengan  menerima  apa
adanya.  Membaca  Kitab  Suci tersebut hanya diperlukan
untuk maksud-maksud apologetik (mempertahankan  agama).
Adalah  suatu  dosa  untuk  menunjukkan  pikiran kritik
terhadap isi Kitab Suci  itu.  Para  rohaniawan  Gereja
mempunyai kesempatan untuk mendapatkan pengetahuan yang
menyeluruh tentang Kitab-kitab Suci. Adapun orang  awam
kebanyakan   hanya   menerima   potongan-potongan  yang
dipilih untuk dipakai dalam do'a atau khutbah.
Kritik teks, suatu ilmu yang  telah  dibagi-bagi  dalam
jurusan-jurusan   telah  berguna  untuk  membuka  tabir
tentang adanya persoalan-persoalan yang sangat penting,
akan  tetapi  kita  sering merasa sangat kecewa membaca
buku-buku yang dinamakan kritik, tetapi  yang  nyatanya
berhadapan   dengan  kesulitan-kesulitan  interpretasi,
hanya  dapat  menyajikan  argumentasi  apologetik  yang
dimaksudkan  unhwk  menutupi kejahilan pengarang. Dalam
keadaan semacam ini, bagi orang yang  tetap  memelihara
kekuatan  berfikir dan secara obyektif, kontradiksi dan
kesalahan akan  tetap  berkesan;  ia  akan  menyesalkan
sikap    yang    berlawanan    dengan   logika,   untuk
mempertahankan bagian-bagian yang mengandung  kesalahan
dalam   Kitab   Suci.   Hal  yang  semacam  ini  sangat
membahayakan keutuhan  kepercayaan  kepada  Tuhan  Yang
Maha Esa bagi orang-orang yang terpelajar.

Bagaimanapun juga pengalaman menunjukkan bahwa walaupun
sebagian orang  dapat  menunjukkan  beberapa  kesalahan
semacam  itu,  namun  mayoritas  besar dan umat Kristen
tidak  tahu-menahu  tentang  adanya,  dan  tetap  tidak
mengetahui  ketidaksesuaian-ketidaksesuaian  kitab suci
dengan  pengetahuan  umum  yang  kadang-kadang   bahkan
bersifat elementer.

Islam  mempunyai Hadits, dan Hadits ini dapat disamakan
dengan Injil. Hadits  adalah  kumpulan  kata-kata  Nabi
Muhammad   serta  riwayat  tindakan-tindakannya.  Injil
adalah seperti Hadits  dalam  soal-soal  yang  mengenai
Nabi  Isa.  Kumpulan  yang  pertama dari Hadits ditulis
beberapa puluh tahun sesudah  wafatnya  Nabi  Muhammad,
sebagaimana  Injil ditulis orang sesudah beberapa puluh
tahun setelah Nabi Isa wafat.  Kedua-duanya,  merupakan
kesaksian manusia tentang kejadian-kejadian dalam waktu
yang sudah lampau. Berlainan dari apa yang dikira  oleh
orang  banyak,  Injil  empat  (Matius,  Lukas,  Markus,
Yahya) dikarang oleh orang-orang yang tidak menyaksikan
kejadian-keiadian  yang  termuat  dalam Injil tersebut.
Keadaannya sama dengan kumpulan Hadits.

Perbandingan antara Hadits  dan  Injil  harus  berhenti
disini,  oleh  karena  jika kita membicarakan kebenaran
Hadits ini atau Hadits  itu,  kita  akan  mirip  kepada
orang   yang  kembali  kepada  abad-abad  pertama  dari
Gereja, di mana  orang  hanya  menentukan  Injil  empat
walaupun di antara empat itu terdapat kontradiksi dalam
beberapa persoalan. Adapun Injil-Injil  yang  ada  pada
waktu  itu  harus  disembunyikan,  itulah sebabnya maka
Injil-Injil  selain  yang  empat  itu  dinamakan  Injil
apokrif yakni yang tersembunyi.

Ada  lagi  perbedaan yang fundamental antara Kitab Suci
dalam agama Masehi dan dalam Islam  yaitu  bakwa  agama
Masehi  tidak mempunyai teks yang diwahyukan, jadi teks
yang tetap,  sedang  Islam  mempunyai  Al  Qur-an  yang
memenuhi syarat wahyu dan tetap.

Al  Qur-an  adalah  penjelmaan wahyu yang diterima oleh
Muhammad dari Tuhan dengan perantaraan Jibril.  Setelah
ditulis,  dan dihafal, Qur-an dibaca oleh kaum muslimin
di waktu sembahyang dan khususnya pada bulan  Ramadlan,
Al  Qur-an  dibagi-bagi  dalam  surat-surat  oleh  Nabi
Muhammad sendiri. Setelah Nabi Muhammad meninggal, pada
zaman Khalifah Usman (tahun 12-14 setelah wafatnya Nabi
Muhammad) Qur-an  dibukukan  sehingga  menjadi  seperti
yang kita lihat sekarang.

Berbeda  sekali  dengan  apa  yang terjadi dalam Islam,
wahyu   (Kitab   Suci)    Kristen    didasarkan    atas
kesaksian-kesaksian  manusia  yang  bermacam-macam  dan
tidak langsung. Orang Kristen tak  mempunyai  kesaksian
dari  seorang  saksi  hidup  dari zaman Yesus, walaupun
banyak sekali orang Kristen  tak  mengetahui  hal  ini.
Dengan    begitu    maka   timbullah   soal   kebenaran
(autentitas) teks kitab suci  Kristen  dan  teks  kitab
suci Islam.

Di  samping  hal  tersebut  di atas, konfrontasi antara
teks Kitab Suci Kristen dengan penemuan-penemuan ilmiah
selalu menjadi bahan pemikiran manusia. Mula-mula orang
berpendirian bahwa keserasian antara Kitab Suci (Injil)
dan  Sains  merupakan  unsur yang pokok dalam kebenaran
(autentitas) teks Kitab  Suci.  Santo  Agustinus  dalam
suratnya  no.  82  yang  akan  kami  muat  nanti, telah
menetapkan prinsip tersebut  secara  formal.  Kemudian,
setelah     Sains     berkembang,     terasa     adanya
perbedaan-perbedaan  antara   Bibel   dan   Sains   dan
pemimpin-pemimpin  agama  Kristen tidak mengadakan lagi
pendekatan  antara   keduanya.   Dengan   begitu   maka
timbullah  suatu  situasi yang berbahaya dan pada waktu
ini berhadapanlah  ahli  Bibel  dan  para  ahli  Sains.
Sesungguhnya  tak  mungkin orang mengatakan bahwa wahyu
Illahi dapat menyebutkan sesuatu hal yang secara ilmiah
sudah  dibuktikan  keliru.  Hanya  ada satu jalan untuk
penyesuaian   logis,  yaitu  dengan  mengatakan   terus
terang  bahwa bagian-bagian dari Bibel yang menyebutkan
hal-hal yang tidak dapat diterirna  oleh  Sains,  harus
dinyatakan  salah.  Tetapi  pemecahan persoalan seperti
tersebut tidak pernah dilakukan.  Orang  Kristen  tetap
berpegang  teguh  kepada  kemurnian teks Bibel, dan hal
ini memaksa  ahli-ahfi  tafsir  Injil  untuk  mengambil
sikap yang bertentangan dengan akal ilmiah.

Islam, seperti Santo Agustinus bersikap terhadap Bibel,
mengatakan bakwa antara teks Al Qur-an dan  fakta-fakta
ilmiah  selalu  ada  keserasian.  Penyelidikan  teks Al
Qur-an pada zaman modern  tidak  menunjukkan  perlunya,
peninjauan  baru  tentang  sikap  tersebut.  Al Qur-an,
sebagai  nanti  akan  diterangkan  secara   terperinci,
menyebutkan  fakta-fakta yang banyak hubungannya dengan
Sains, dan dalam jumlah yang jauh lebih besar  daripada
masalah-masalah   dalam  Injil.  Tak  ada  perbandingan
antara jumlah terbatas daripada  sikap  Injil  mengenai
pengetahuan dengan jumlah yang besar daripada soal-soal
ilmiah yang tersebut dalam Al Quran. Tak ada  soal-soal
yang  tersebut  dalam  Al Qur-an yang dapat dibohongkan
oleh Sains. Inilah hasil yang pokok  dari  penyelidikan
ini.

Di  lain pihak pembaca akan mendapatkan pada akkir buku
ini bahwa mengenai kumpulan sabda-sabda  Nabi  (hadits)
yang  tidak  merupakan  teks wahyu Qur-an, keadaan agak
berlainan, karena beberapa hadits  tertentu  tak  dapat
diterima menurut Sains. Hadits-hadits semacam itu telah
diselidiki   menurut   prinsip-prinsip   Qur-an    yang
menganjurkan pemakaian fakta dan akal dan sebagai hasil
penyelidikan  ini,  beberapa  Hadits  telah  dinyatakan
tidak autentik (tidak benar).

Pemikiran  tentang  ciri-ciri  yang dapat diterima atau
ditolak  secara  ilmiah  mengenai  teks   Kitab   Suci,
memerlukan  suatu  penjelasan. Jika kita bicara tentang
hasil ilmiah, kita maksudkan hanya hal-hal  yang  sudah
dinyatakan  secara  definitif. Dengan begitu kita harus
menjauhkan   theori-theori   explicatif    (teori-teori
penafsiran)  yang  berfaedah  untuk  memberi penjelasan
tentang sesuatu fenomena, tetapi yang mungkin  sebentar
lagi  terpaksa  dihapuskan  dan  diganti  dengon theori
lainnya yang lebih sesuai dengan  perkembangan  ilmiah.
Yang  saya selidiki di sini adalah fakta-fakta yang tak
dapat dikembalikan  kepada  masa  sebelumnya,  walaupun
Sains  hanya  memberi  penjelasan yang kurang sempurna,
tetapi  cukup  kuat   dan   tidak   mengandung   resiko
kesalahan.

Umpamanya, kita tidak tahu kapan manusia mulai hidup di
atas  bumi  ini,  walaupun  secara  kira-kira;   tetapi
kemudian  telah ditemukan bekas-bekas pekerjaan manusia
yang oleh ilmu pengetakuan dianggap secara pasti  telah
terjadi  10  ribu tahun sebelum lahirnya Nabi Isa. Atas
dasar  tersebut  maka   kita   tidak   dapat   menerima
pernyataan  Bibel  bahwa asal manusia (penciptaan Adam)
adalah pada abad ke 37 sebelum Nabi  Isa  sebagai  yang
disebutkan   oleh  Perjanjian  Lama  (Kitab  Kejadian).
Mungkin dikemudian hari Sains dapat  menentukan  secara
lebih pasti dari pengetahuan kita sekarang, akan tetapi
kita sudah yakin dari sekarang bahwa tak mungkin  orang
membuktikan bahwa manusia sudah berada di bumi semenjak
5736 tahun seperti yang dikatakan oleh Perjanjian Lama.
Dengan  begitu  maka  keterangan  Bibel tentang umurnya
jenis manusia sudah terang salah.

Konfrontasi  dengan  Sains   tidak   akan   menyinggung
soal-soal  yang  semata-mata  bersifat  keagamaan. Jadi
Sains tak akan dapat menjelaskan cara  bagaimana  Tuhan
menampakkan   kehadiranNya   kepada   Nabi  Musa,  atau
menjelaskan rahasia yang  mengelilingi  kelahiran  Nabi
Isa   dengan  tak  mempunyai  Bapak  alamiah.  Mengenai
hal-hal tersebut Kitab-kitab Suci  juga  tidak  memberi
penjelasan. Penyelidikan dalam buku ini adalah mengenai
kejadian-kejadian alamiah bermacam-macam yang  tersebut
dalam    kitab-kitab    Suci    dan   disertai   dengan
tafsiran-tatsiran bermacam-macam pula.  Dalam  hal  ini
perlu  kita  perhatikan  kekayaan  yang  melimpah  yang
terkandung dalam  Al  Qur-an-dan  kekurangan-kekurangan
yang terdapat dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru
mengenai hal yang sama.

Saya menyelidiki keserasian teks  Qur-an  dengan  Sains
modern  secara obyektif dan tanpa prasangka. Mula-mula,
saya mengerti, dengan membaca terjemahan, bahwa  Qur-an
menyebutkan  bermacam-macam  fenomena  alamiah,  tetapi
dengan membaca terjemahan  itu  saya  hanya  memperoleh
pengetahuan  yang  samar (ringkas). Dengan membaca teks
Arab  secara  teliti  sekali  saya   dapat   mengadakan
inventarisasi  yang  membuktikan  bakwa Al Qur-an tidak
mengandung sesuatu pernyataan yang dapat dikritik  dari
segi pandangan ilmiah di zaman modern ini.

Saya  telah  melakukan  penyelidikan yang sama terhadap
Perjanjian Lama dan  Injil.  Mengenai  Perjanjian  Lama
saya  tak  perlu  menyelidiki  lebih  jauh  dari  Kitab
Kejadian untuk mendapatkan pernyataan-pernyataan;  yang
tak   dapat   disesuaikan  dengan  hal-hal  yang  sudah
ditetapkan secara pasti oleh Sains di zaman sekarang.

Mengenai  Injil  (Perjanjian  Baru),   dengan   membaca
genealogi  (silsilah  keturunan) Nabi Isa yang terdapat
dalam halaman  pertama,  saya  telah  terjerumus  dalam
persoalan  yang sangat serius, karena teks Injil Matius
dalam hal ini sangat kontradiksi  dengan  Injil  Lukas,
dan Injil Lukas menunjukkan ketidakserasian dengan ilmu
pengetahuan modern mengenai asal mula manusia  di  atas
bumi.

Adanya  kontradiksi,  ketidak  serasian  ini, saya kira
tidak akan merubah  kepercayaan  kepada  adanya  Tuhan,
karena  hal-hal tersebut hanya mengenai tulisan-tulisan
manusia. Tak ada orang yang dapat menerangkan bagaimana
teks  yang  asli  dan  yang mana yang merupakan redaksi
yang aneh dan yang mana yang merupakan  perubahan  yang
dimasukkan dengan sengaja atau yang mana yang merupakan
perubahan yang tak disengaja.

Yang sangat  menarik  perhatian  pada  waktu  sekarang,
adalah bahwa menghadapi kontradiksi dan ketidakserasian
dengan hasil Sains, para ahli  penyelidikan  Bibel  ada
yang  pura-pura  tidak  mengetahuinya dan ada pula yang
mengetahui   kesalahan-kesalahan   itu;   akan   tetapi
berusaha  untuk  menutupinya dengan akrobatik dialektik
(permainan kata-kata).

Mengenai Injil Matius dan Injil Yahya saya akan memberi
contoh tentang cara-cara apologetik yang diberikan oleh
ahli-ahli tafsir Injil yang ternama. Cara-cara menutupi
(camuflaseJ    kesalahan    atau   kontradiksi   dengan
menamakannya secara halus  "kesukaran"  biasanya  dapat
berhasil,  dan  ini  menunjukkan  bahwa  terlalu banyak
orang Kristen yang tidak mengetahui kesalahan-kesalahan
yang  serius dalam beberapa bagian dari Perjanjian Lama
dan Perjanjian  Baru.  Para  pembaca  akan  mendapatkan
contoh-contoh yang tepat dalam bagian pertama dan kedua
dalam buku ini!

Dalam bagian ketiga, pembaca  akan  mendapatkan  contoh
aplikasi  Sains  dalam  menyelidiki Kitab Suci, bantuan
dari  ilmu  pengetahuan  modern  untuk  lebih  memahami
ayat-ayat   Qur-an  yang  sampai  sekarang  masih  jadi
teka-teki atau masih belum dapat difahami. Hal ini  tak
perlu  mengherankan karena dalam Islam agama, dan Sains
selalu dianggap sebagai saudara  kembar.  Dari  semula,
mempelajari   Sains  merupakan  bagian  dari  kewajiban
keagamaan,  Aplikasi  ajaran  ini  telah   menghasilkan
kekayaan  ilmiah  yang melimpah pada zaman perkembangan
kebudayaan Islam, yang juga telah menjadi  sumber  bagi
Barat pada zaman sebelum renaissance.

Pada   zaman  sekarang  kemajuan  yang  diperoleh  oleh
manusia karena Sains  dalam  menafsirkan  ayat-ayat  Al
Qur-an  yang  selama  ini  tak  dimengerti atau disalah
tafsirkan, merupakan puncak daripada konfrontasi antara
Kitab Suci dengan Sains.
Iklan

1. kata pengantar penerjemah

Posted in BUKU, Maurice Bucaille on Agustus 30, 2010 by isepmalik

Pada bulan Maret 1977 saya  mendapat  kesempatan  untuk
menghadiri  konferensi  internasional  Islam-Kristen di
kota Cordoba di Spanyol. Bepergian saya tersebut sangat
berfaedah,  karena memberi gambaran kepada saya tentang
masa gemilang umat  Islam  di  negeri  Spanyol.  Masjid
Kurtubah yang sudah berusia 12 abad (didirikan 786) itu
masih berdiri dengan  megahnya,  wulaupun  sudah  tidak
dipakai  untuk  sembahyang  dan  di  dalamnya didirikan
sebuah Katedral.

Setelah selesai konferensi, saya mengunjungi Kota Paris
untuk  mengenang masa muda saya, ketika pada tahun 1956
saya mempertahankan tesis saya di Sorbonne. Pada  suatu
hari,  saya  mengunjungi  Masjid  Paris yang megah, dan
secara tidak sengaja, saya  dapatkan  tempat  penjualan
gamban-gambar Masjid, yang disukai oleh tourist-tourist
asing. Di tempat itu saya ketemukan buku yang  berjudul
La  Bible,  le  Coran  et la Science (Bibel, Qur-an dan
Sains modern). Segera saya  membeli  satu  naskah,  dan
terus pulang ke Hotel. Buku itu saya baca sampai tamat.

Buku  tersebut  telah  menarik hati saya. Seorang tabib
ahli bedah berkebangsaan Perancis,  yaitu  Dr.  Maurice
Bucaille  telah  mengadakan studi perbandingan mengenai
Bibel (Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru) dan  Qur-an
serta  Sains  modern.  Akhirnya  ia mendapat kesimpulan
bahwa  dalam  Bibel  terdapat  kesalahan   ilmiah   dan
sejarah,  karena  Bibel  telah ditulis oleh manusia dan
mengalami perubahan-perubahan yang dibuat oleh manusia.
Mengenai   Al   Qur-an   ia  berpendapat  bahwa  sangat
mengherankan bahwa suatu wahyu yang diturunkan 14  abad
yang  lalu, memuat soal-soal ilmiah yang baru diketahui
manusia pada abad XX atau  abad  XIX  dan  XVIII.  Atas
dasar  itu, Dr. Maurice Bucaille berkesimpulan bahwa Al
Qur-an adalah wahyu Ilahi yang murni dan Nabi  Muhammad
adalah Nabi terakhir.

Setelah  membaca  buku tersebut, saya merasa bahwa saya
harus menyampaikan  isi  buku  tersebut  kepada  bangsa
Indonesia,  yang selalu menunjukkan perhatiannya kepada
agama.

Maka saya terjemahkan  buku  tersebut,  dengan  harapan
mudah-mudahan  isinya  dapat  dimanfaatkan  oleh mereka
yang mencari  kebenaran  dan  mencari  pegangan  hidup,
khususnya    para   cendekiawan   yang   tidak   sempat
mempelajari Islam dari sumber-sumber yang memuaskan.

Saya panjatkan syukur kepada Allah  s.w.t.  yang  telah
memberi saya tenaga untuk melaksanakan terjemahan ini.

Jakarta 1 September 1978.

M. Rasjidi.