Archive for the Pembagian Pengetahuan Category

Gradasi Pengetahuan dengan Kehadiran

Posted in Pembagian Pengetahuan with tags , , , , , on Maret 12, 2013 by isepmalik

Hal lain yang perlu dicatat ialah kenyataan bahwa kasus-kasus pengetahuan dengan kehadiran berbeda-beda dari aspek kekuatan dan kelemahan. Sebagian pengetahuan dengan kehadiran terasa sangat kuat dan dahsyat dalam kesadaran seseorang, sedangkan sebagian lain terasa lemah dan pudar sehingga orang setengah sadar atau tidak sadar tentangnya. Perbedaan tingkat pengetahuan dengan kehadiran ini terkadang disebabkan oleh perbedaan tingkat keberadaan subjek-subjek pelaku persepsi. Dengan kata lain, tingkat keberadaan pelaku perspsi berbanding lurus dengan tingkat pengetahuan presentasionalnya; kelemahan tingkat keberadaan jiwa akan melahirkan pengetahuan presentasional yang lemah dan suram dan demikian pula sebaliknya.

Penjelasan ini sebenarnya mengacu pada penjelasan tentang gradasi wujud dan kesempurnaan jiwa subjek yang akan kita buktikan pada Bagian Ontologi. Hanya saja, pada kesempatan ini, berangkat dari dua prinsip itu, kita bisa menerima kemungkinan adanya pengetahuan presentasional yang dahsyat dan yang lemah.

Pengetahuan dengan kehadiran tentang keadaan-keadaan jiwa juga punya derajat kelemahan dan kedahsyatan. Sebagai contoh, ketika orang sakit yang menderita dan mempersepsi rasa sakitnya melalui pengetahuan dengan kehadiran melihat temannya dan mengalihkan perhatiannya pada si teman, persepsinya akan rasa sakit itu akan membayar. Dan penyebab rendahnya derajat pengetahuan dengan kehadiran adalah kurangnya perhatian. Sebaliknya, dalam kesendirian, terutama di malam hari manakala tidak ada lagi objek yang dapat diperhatikannya, sakit itu akan terasa lebih dahsyat. Sebab dari kedahsyatan rasa sakit itu tiada lain daripada perhatiannya yang utuh.

Perbedaan derajat pengetahuan dengan kehadiran bisa berdampak pada tafsiran-tafsiran mental yang terkait dengannya. Umpamanya, meskipun sangat rendah, manusia selalu mengetahui dengan kehadiran tentang jati dirinya. Hanya saja, akibat rendahnya derajat pengetahuan dengan kehadiran tentang diri itu, orang sering membayangkan bahwa jati dirinya identik dengan tubuhnya. Ujung-ujungnya, ia akan menyimpulkan bahwa hakikat dirinya tak lebih dari tubuh dan gejala-gejala material yang membalutnya. Namun, seiring dengan peningkatan derajat pengetahuan dengan kehadirannya dan penyempurnaan substansi dirinya, kekeliruan semacam itu tidak lagi terjadi.

Pada tempatnya akan kita buktikan bahwa manusia juga mempunyai pengetahuan presentasional akan Penciptanya. Tetapi, akibat kelemahan derajat wujudnya dan perhatiannya yang terpaku pada tubuh dan benda-benda material, pengetahuan itu pun melemah dan menjadi tak tersadari. Bagaimanapun, dengan penyempurnaan diri, pengurangan perhatian pada tubuh dan benda-benda material serta pemantapan perhatian kalbu pada Tuhan Yang Mahasuci, pengetahuan yang sama akan mencapai tingkat kejernihan dan kesadaran yang sedemikian hingga ia akan bertutur, “Adakah penampakan selain dari-Mu dan bukan Diri-Mu”.[1]

Tabel 1. Pembagian Jenis Pengetahuan

 

Pengetahuan Presentasional atau Pengetahuan dengan Kehadiran

Pengetahuan Perolehan atau Pengetahuan Melalui Representasi Konseptual

Deskripsi

Realitas objek diketahui/ disaksikan secara langsung oleh subjek; intuitif, sederhana, dan langsung; kesadaran akan maujud diraih tanpa melalui perantaraan konsep-konsep mental.

Realitas objek diketahui oleh subjek melalui perantaraan konsep-konsep mental—bentuk-bentuk sensorik, imajinal—yang mewakili objek tersebut; berlaku pada jiwa (substansi imaterial) yang terikat pada materi.

Ciri utama

Terbebaskan dari kesalahan karena tidak melibatkan perantara.

Dapat mengalami kesalahan.

Contoh-contoh

a)    Kesadaran akan keadaan psikologis (rasa takut, afeksi).

b)   Kesadaran diri (self-knowledge).

c)    Pengetahuan tentang fakultas perseptif dan motorik (misalnya: koordinasi yang canggih terhadap indra pendengaran, penglihatan, dan jari-jari ketika memainkan gitar).

d)   Kesadaran akan keberadaan konsep-konsep mental.

Semua jenis pengetahuan ilmiah dan filosofis.

(Sumber: M. Taqi Mishbah Yazdi. (2003).  Buku Daras Filsafat Islam. Bandung: Mizan).


[1] Kata-kata ini lazimnya dinyatakan beraal dari Imam Husain bin Ali bin Abi Thalib dan dimasukkan dalam cetakan standar Doa Hari Arafah. Namun, ‘Allamah Muhammad Baqir Al-Majlisi (1037-1110 H/ 1628-1699 M), penyusun Bihar Al-Anwar, meragukan kesahihan bagian ini dari doa tersebut dan menganggapnya sebagai karya (sisipan) dari seorang guru sufi. Lebih jauh, William Chittick dalam “A Shadili Presence in Shi’ite Islam”, Jurnal Sophia Perennis, Vol. I, No. I, Muslim Semi 1970, hh. 97-100, menyatakan bahwa bagian ini berasal dari Ibn Atha’illah (W. 709 H/1309 M), yang termasuk dalam terjemahan Victor Danner atas doa tersebut dalam Sufi Aphorisms (Lahore: Shail Academy, 1985), h. 66, paragraf. 19—penerj. Inggris.

Iklan

Keseiringan Pengetahuan Perolehan dengan Pengetahuan Presentasional

Posted in Pembagian Pengetahuan with tags , , , , , on Maret 9, 2013 by isepmalik

Satu masalah penting harus kita ingat, benak kita senantiasa menangkap gambar yang hadir di hadapannya ibarat alat otomatis. Darinya benak kita mengambil sejumlah bentuk dan konsep tertentu, kemudian mengurai dan menafsirkannya. Sebagai misal, jika kita mengalami ketakutan, benak kita akan mengambil gambar tentang ketakutan yang sewaktu-waktu dapat kita ingat kembali jauh setelah keadaan takut itu sendiri sirna. Pada saat yang sama, benak kita menganggit konsep universal tentang ketakutan dan menambah konsep-konsep lain padanya untuk dapat menyodorkan proposisi seperti “saya takut” atau “saya mengalami ketakutan” atau “ketakutan menimpa saya”. Dengan kecepatan mengagumkan, benak kita dapat menafsirkan keadaan jiwa itu berdasarkan pengetahuan yang telah ada sebelumnya sekaligus mengenali sebab musababnya.

Seluruh aktivitas dan proses mental yang berlangsung kilat itu berbeda dengan hadirnya ketakutan sebagai pengetahuan presentasional. Tetapi, keseiringan dan keserentakannya dengan pengetahuan presentasional sering  menjebak orang dalam kerancuan. Orang kerap menyangka bahwa karena ia menemukan keadaan takut dalam dirinya melalui pengetahuan dengan kehadiran, ia pun mengetahui sebab musabab ketakutan tersebut melalui pengetahuan dengan kehadiran. Padahal, apa yang dicerap melalui pengetahuan dengan kehadiran senantiasa bersifat sederhana, tanpa bentuk dan konsep, serta bebas dari segala macam penafsiran dan penjabaran. Dan itulah mengapa pengetahuan-dengan-kehadiran tidak mungkin keliru. Sebaliknya, penafsiran seketika yang mengiringi hadirnya ketakutan dalam diri itu merupakan persepsi-persepsi perolehan (dari informasi yang telah atau baru kita terima dari luar diri kita) sehingga tidak menjamin kebenaran dan kesesuaiannya dengan realitas yang sesungguhnya.

Dengan paparan itu, terjawablah mengapa dan bagaimana sebagian pengetahuan perolehan mengalami kekeliruan. Umpamanya, ada orang merasa lapar dan menyangka bahwa dia memerlukan makanan, padahal selera makan itu sebetulnya tidak nyata dan dia tidak memerlukan makanan. Hal demikian terjadi lantaran rasa tertentu yang ditangkapnya melalui pengetahuan-dengan-kehadiran yang tidak mungkin keliru itu telah diikuti dengan tafsiran mental yang membandingkan rasa tersebut dengan beberapa rasa terdahulu yang diduga berasal dari kebutuhan pada makanan. Hanya saja, perbandingan itu ternyata tidak benar dan karenanya muncul kekeliruan yang bermula dari tafsiran mental atas penyebab rasa tersebut. Kekeliruan serupa juga lazim berlaku dalam pengalaman dan penyingkapan mistis. Oleh sebab itu, adalah suatu keniscayaan untuk sepenuhnya jeli dalam menentukan pengetahuan presentasional dan memilahnya dari pelbagai tafsiran mental yang mengiringinya, supaya tidak terjatuh dalam kekeliruan yang diakibatkan oleh kebingungan tersebut.

(Sumber: M. Taqi Mishbah Yazdi. (2003).  Buku Daras Filsafat Islam. Bandung: Mizan).

Kenirgalatan Pengetahuan Presentasional

Posted in Pembagian Pengetahuan with tags , , , , , on Februari 3, 2013 by isepmalik

Dengan memperhatikan paparan di atas mengenai perbedaan antara pengetahuan presentasional (‘ilm hudhuri) dan pengetahuan perolehan (‘ilm hushuli), kiranya jelas mengapa pengetahuan tentang jiwa, perikeadaannya, dan semisalnya, sesungguhnya nirgalat (infallible) karena hakikat objek pengetahuan itu sendiri yang teramati. Sebaliknya, dalam pengetahuan perolehan, peran perantaraan bentuk-bentuk dan konsep-konsep mental memungkinkan adanya ketaksesuaian (non-correspondence) dengan hakikat objek-objek dan benda-benda yang berada di luar benak manusia.

Dengan kata lain, kegalatan persepsi mudah dibayangkan apabila terdapat penyulih antara pelaku persepsi dan entitas yang dipersepsi. Dalam kasus pengetahuan perolehan inilah, bisa timbul pertanyaan apakah bentuk dan konsep yang menengahi antara subjek dan objek telah benar-benar menyantirkan objek secara tepat dan sempurna atau tidak. Sebelum bentuk dan konsep terbukti benar-benar sesuai dengan objek yang dipersepsi, kepastian akan kesahihan persepsi tidak akan pernah didapatkan. Akan tetapi, dalam hal objek atau sesuatu yang dipersepsi hadir tanpa perantaraan atau bahkan manunggal dengan eksistensi pelaku persepsi, kekeliruan tidaklah dapat dibayangkan. Dan tidak mungkin timbul pertanyaan ihwal apakah pengetahuan subjek telah sesuai dengan objek yang diketahui, mengingat dalam kasus ini subjek pengetahuan identik dengan objek yang diketahui.

Berdasarkan paparan di atas, pengertian kebenaran dan kegalatan dalam konteks persepsi (dan pengetahuan) manusia menjadi jelas adanya. Kebenaran adalah persepsi yang sesuai dan sepenuhnya menyingkapkan realitas sesuatu, sedangkan kegalatan adalah anggapan (atau kepercayaan) yang tidak sejalan dengan realitas.

(Sumber: M. Taqi Mishbah Yazdi. (2003).  Buku Daras Filsafat Islam. Bandung: Mizan).

Pengetahuan dengan Kehadiran

Posted in Pembagian Pengetahuan with tags , , , , , on Januari 12, 2013 by isepmalik

Pengetahuan setiap orang terhadap dirinya sebagai maujud pelaku persepsi adalah pengetahuan yang tak dapat disangkal. Para sofis yang menganggap bahwa manusia adalah ukuran segala sesuatu pun tidap dapat menyangkal keberadaan dirinya sendiri dan pengetahuannya tentang hal tersebut.

Tentu saja, yang dimaksud dengan manusia di sini adalah “aku” dan ego yang melakukan pencerapan dan pemikiran, yang dengan penyaksian batinnya (syuhud) sadar akan dirinya sendiri, tanpa sarana pengindraan, percobaan, (perolehan) bentuk-bentuk ataupun konsep-konsep mental, dengan kata lain, diri itu sendiri adalah pengetahuan. dan dalam pengetahuan serta kesadaran ini, pengetahuan dan subjek serta objek sama sekali tidak dapat dipilah-pilah. Seperti telah disebutkan sebelumnya, “kemanunggalan subjek dan objek pengetahuan” adalah instanta (instance/mishdaq) paling sempurna dari “kehadiran objek pengetahuan pada subjek pengetahuan”. Pengetahuan manusia tentang warna kulitnya, postur tubuhnya, dan ciri-ciri tubuhnya tidaklah bisa disebut sebagai “pengetahuan dengan kehadiran”, lantara semua pengetahuan itu diperoleh lewat penglihatan, perabaan, dan berbagai sarana indriaqi lain atau melalui bentuk-bentuk mental. Oleh karena itu, dalam tubuh kita terdapat sekian banyak organ yang tidak kita ketahui keberadaannya, kecuali melalui tanda-tanda dan efek-efeknya atau melalui penelaahan anatomi, fisiologi, dan berbagai sains biologi lain.

Di samping itu, pengetahuan ini merupakan sesuatu yang tidak bisa dianalisis dan diuraikan (dalam konsep-konsep), tidak seperti proposisi “saya adalah…(I am)” atau “saya ada (I exist)” yang tersusun dari dua konsep (saya + ada). Dengan demikian, pengertian “pengetahuan tentang diri sendiri” ialah kesadaran yang bersifat intuitif, sederhana, dan langsung tentang jiwa (atau ruh) kita sendiri. Pengetahuan dan kesadaran ini merupakan peri keadaan esensial jiwa. Pada saatnya nanti, kita akan membuktikan bahwa jiwa merupakan substansi nonmaterial, dan bahwa semua substansi nonmaterial menyadari dirinya sendiri. Kedua topik ini terkait dengan ontologi dan psikologi filosofis, yang tidak relevan dengan bahasan saat ini.

Kesadaran kita terhadap beragam keadaan, sentimen, dan perasaan jiwa, kita juga merupakan instanta-instanta (instances) pengetahuan yang langsung hadir dalam diri. Manakala kita takut pada sesuatu, kita langsung bisa menyadari keadaan itu tanpa perantaraan bentuk atau konsep mental atau santiran apa pun. Manakala cinta pada seseorang atau sesuatu merasuki diri, kita pun secara kontan dapat menilik getaran itu dalam diri kita, tanpa perantaraan apa pun. Demikian pula manakala kita memutuskan untuk berbuat sesuatu, niscaya kita sepenuhnya menyadari keputusan dan kehendak itu. adalah mustahil kita takut, cinta atau ingin melakukan sesuatu tanpa kesadaran akan ketakutan, kecintaan, dan keinginan itu sendiri. Oleh sebab itu, tidak mungkin ada orang yang meragukan atau menduga sesuatu tanpa menyadari atau mengetahui keraguannya, dengan cara meragukan keberadaan keraguannya!

Contoh lain dari pengetahuan dengan kehadiran ialah pengetahuan seseorang akan kemampuan dirinya dalam berpersepsi dan bergerak (perceptive and motor facilities). Kesadaran seseorang akan kemampuannya berpikir dan berimajinasi dan bergerak bersifat langsung menghadir (representational and direct), tidak diperantarai oleh santiran ataupun konsep mental apa pun. Karenanya, orang tidak akan pernah keliru menggunakan kemampuan-kemampuan tersebut. orang tidak pula pernah menggunakan kemampuan perseptifnya untuk bergerak atau sebaliknya.

Termasuk hal yang juga diketahui dengan kehadiran ialah bentuk-bentuk dan konsep-konsep mental itu sendiri. Kalau untuk setiap kali mengetahui sesuatu kita senantiasa perlu bentuk-bentuk atau konsep-konsep mental, untuk mengetahui satu konsep mental orang perlu untuk mengetahui konsep mental lain dan pengetahuan tentang konsep mental lain juga memerlukan pada konsep mental lain lagi dan demikian seterusnya. Dengan begitu, untuk mengetahui satu hal kita perlu mengetahui sejumlah hal yang tak berhingga dan sejumlah konsep mental yang tak berhingga pula.

Boleh jadi muncul pertanyaan: sekiranya pengetahuan presentasional itu adalah objek yang diketahui itu sendiri, itu berarti bahwa bentuk-bentuk mental merupakan pengetahuan presentasional sekaligus pengetahuan perolehan. Demikian itu karena, pada satu sisi, bentuk-bentuk mental diketahui dengan kehadiran, sedangkan bentuk-bentuk mental itu, pada sisi lain, merupakan contoh-contoh pengetahuan perolehan dari benda-benda eksternal. Jadi, bagaimana mungkin satu pengetahuan sekaligus merupakan pengetahuan presentasional dan pengetahuan perolehan?

Jawabannya: bentuk-bentuk mental mempunyai sifat “mencerminkan” bentuk-bentuk ekstrnal dan mencerminkan (represent) benda-benda eksternal. Sebagai sarana untuk mengetahui benda-benda eksternal, bentuk-bentuk mental dapat dianggap sebagai contoh-contoh dari pengetahuan perolehan. Namun, sebagai hal-hal yang hadir dalam diri seseorang dan orang itu secara segera dan langsung menyadari kehadirannya, bentuk-bentuk mental dapat dianggap sebagai pengetahuan presentasional. Kedua sisi bentuk-bentuk mental ini berbeda satu dan lainnya; sisinya sebagai pengetahuan-dengan-kehadiran berkaitan dengan kesadaran langsung manusia akan keberadaan mereka, sedangkan sisanya sebagai pengetahuan perolehan berkaitan dengan sifatnya yang melukiskan dan menyantirkan benda-benda eksternal.

Untuk lebih menjelaskan duduk perkara di atas, kita cermati analogi cermin berikut ini. Kita dapat mengamati cermin dari dua sudut yang terpisah: sudut seorang yang hendak membeli cermin, yang melihatnya dari sisi depan dan belakang untuk memastikan tidak ada yang pecah atau rusak pada tampilan fisik cermin tersebut; dan sudut seorang yang hendak berkaca di cermin. Pada sudut kedua ini, meskipun kedua mata kita terarah pada kaca cermin, perhatian kita yang sebenarnya tertuju pada wajah kita atau selainnya, dan bukan pada kaca cermin yang bersangkutan.

Diri kita pun dapat memperhatikan bentuk-bentuk mental secara terpisah (dari sifatnya yang menyantirkan benda-benda eksternal). Dengan cara itu, bentuk-bentuk mental tercerap manusia sebagai pengetahuan presentasional. Pada sisi lain, bentuk-bentuk mental dapat menjadi sarana untuk mengetahui berbagai hal atau benda eksternal, yang dalam hal ini bentuk-bentuk mental itu menjadi pengetahuan tangkapan. Mesti dicatat bahwa maksud dari penjelasan ini bukan untuk memilah kedua contoh di atas secara waktu, melainkan untuk memilah dua sudut pandang (respect). Oleh karena itu, bentuk-bentuk mental tidak lantas menjadi tidak diketahui atau kurang hadir dalam diri manakala ia dilihat sebagai pengetahuan santiran.

(Sumber: M. Taqi Mishbah Yazdi. (2003).  Buku Daras Filsafat Islam. Bandung: Mizan).

Pembagian Pertama Ilmu Pengetahuan

Posted in Pembagian Pengetahuan with tags , , , , , on Desember 27, 2012 by isepmalik

Pembagian pertama pengetahuan ialah: (1) pengetahuan yang secara langsung menukik pada esensi (dzat)[1] objek yang diketahui. Pada pengetahuan ini, keberadaan hakiki dan sejati objek yang diketahui tersebar (secara langsung) pada diri subjek yang mengetahui atau pelaku persepsi; (2) pengetahuan yang eksistensi objek tidak secara langsung tersebar atau tersaksikan oleh subjek, tetapi subjek menangkapnya melalui perantara yang mencerminkan atau menyantirkan (represent) objek. Cerminan dan santiran ini secara teknis disebut sebagai bentuk (form/shurah) atau konsep mental (mental concept atau al-mafhum al-dzihni). Dalam filsafat Islam, jenis pengetahuan pertama disebut dengan “pengetahuan menghadir (presentational knowledge)” atau “pengetahuan dengan kehadiran” (knowledge by presence atau al-‘ilm al-hudhuri) dan yang kedua disebut dengan “pengetahuan tangkapan atau perolehan” (acquired knowledge/al-‘ilm al-hushuli), yakni pengetahuan yang didapat lewat perantaraan atau santiran konseptual.

Pembagian di atas bersifat rasional, menyeluruh, dan eksklusif, oleh karenanya tidak ada jenis ketiga yang dapat diasumsikan di samping kedua jenis tersebut. jadi, tidak bisa tidak, pengetahuan subjek tentang objek pasti melalui santiran atau tidak. Yang melalui santiran disebut dengan “pengetahuan tangkapan” dan yang tidak sebut dengan “pengetahuan dengan kehadiran”. Keberadaan kedua pengetahuan ini memang mesti dijelaskan.

(Sumber: M. Taqi Mishbah Yazdi. (2003).  Buku Daras Filsafat Islam. Bandung: Mizan).


[1] Pada esensinya (dzat) berarti pada sesuatu itu sendiri atau hakikat sesuatu itu sendiri. Istilah ini mesti dibedakan dengan istilah “keapaan” atau kuiditas (quiddity atau mahiyyah) yang merupakan jawaban untuk menjelaskan pertanyaan Aristoteles, “Apakah sesuatu itu?”—penerj. Inggris.

Merumuskan Fondasi Pengetahuan

Posted in Pembagian Pengetahuan with tags , , , , , on Desember 22, 2012 by isepmalik

Pada pelajaran sebelumnya telah saya sebutkan bahwa sebagian pengetahuan dan persepsi sama sekali tidak dapat diragukan. Bahkan, alasan-alasan para skeptis untuk membenarkan pandangan sesat mereka yang mutlak mengingkari pengetahuan pun bertumpu pada sejumlah pengetahuan. Pada sisi lain, kita mengetahui bahwa tidak semua pengetahuan dan keyakinan kita benar dan sesuai dengan kenyataan. Dalam banyak hal, kita sendiri dapat mengamati adanya kegalatan dalam pengetahuan kita. Menimbang dua sisi (dalil) di atas, timbul pertanyaan mengenai perbedaan antara berbagai ragam persepsi manusia, sehingga muncul ragam pengetahuan nirgalat (infallible) dan tak bisa diragukan serta pengetahuan yang bisa keliru dan bisa diragukan. Lalu, dengan cara apa kita memilah kedua ragam pengetahuan tersebut?

Seperti sudah lazim diketahui, Descartes berupaya membangun filsafat yang tak tergoyahkan dalam rangka memerangi skeptisisme dengan menggunakan kemustahilan meragukan sebagai batu-tapakan filsafatnya. Selanjutnya, keberadaan ego peragu dan pemikir adalah hasil langsung dari landasan tersebut. descartes memperkenalkan kejelasan (clarity) dan kekhasan (distinctness) sebagai kriteria sesuatu yang mustahil diragukan dan ukuran untuk membedakan antara kebenaran dan kesalahan. Dia juga telah coba memakai matematika dalam filsafat, bahkan pula ingin memperkenalkan logika baru.

Sekarang kita tidak sedang menakar filsafat Descartes atau menguji tingkat keberhasilannya melaksanakan tuga yang telah ditetapkannya sendiri. Yang ingin kita katakan, masuk akal jika kita memulai perdebatan dengan kaum skeptis melalui dasar keraguan, sebagaimana telah kita lakukan pada pelajaran sebelumnya. Bagaimanapun, jika seorang berkhayal bahwa tidak ada yang benar-benar jelas dan pasti sehingga keberadaan peragu itu sendiri mesti diturunkan dari keraguan, khayalan itu sama sekali tidak valid. Soalnya, bahkan keberadaan ego yang sadar dan berpikir itu paling tidak sama-sama tidak dapat disangkalnya dengan keberadaan keraguan yang merupakan salah satu dari sekian keadaan sego itu sendiri.

Begitu juga, “kejelasan dan kekhasan” tidak bisa dipertimbangkan sebagai kriteria asasi untuk mengenali pemikiran yang keliru dan benar. Di samping karena kriteria itu sendiri tidak cukup “jelas dan khas” dan tidak bebas dari keambiguan, ia juga tidak bisa dipakai untuk menguak rahasia di balik keterjagaan jenis-jenis persepsi tertentu dari kekeliruan. Yang pasti, ada banyak hal yang bisa diperdebatkan dari pendapat-pendapat Descartes lainnya, hanya saja hal itu di luar lingkup kajian kita saat ini.

(Sumber: M. Taqi Mishbah Yazdi. (2003).  Buku Daras Filsafat Islam. Bandung: Mizan).