Archive for the ARTIKEL Category

Ikan yang Hilang

Posted in Uneh with tags , , , , , on Maret 18, 2013 by isepmalik

Sekira tigabelas meter dari rumahnya. Sudah tiga bulan berlalu ia rajin menengok kolam yang ditanami ikan miliknya. Mungkin pula sang ikan merasa betah tinggal di situ karena sudah pada kenyang di kala masih pagi, ya, sebelum sekolah ia menebar pakan untuk ikan semaiannya. Pulang sekolah langsung menjenguk kolam, tebar pakan lagi, memeriksa pematang, serta saluran airnya. Bila lancar ia akan puas, lalu mengerjakan tugas sekolah di pojokan kolam, di situ memang ada saung.

Saat mulai menyemai, Uden tahu persis ukuran ikannya, tidak lebih besar dari lebar sapu lidi. Sekarang, kucing-kucing pada ngiler mengintip di rimbunan pematang. Sebangsa kepiting jahat sudah siap dengan ujung-ujung runcing kakinya. Tapi ikan Uden sudah besar, tuh lihat, ada ikan lagi main dan menyiprakkan air dengan cukup keras. Tuh, ada lagi satu ikan bermuka coklat, kemaren agak kurusan, sekarang sudah gendut lagi. Oh iya, perhatikan pula, ada ikan sepertinya terkena sengatan tawon sampai memerah dekat di ujung ekornya. Uden pun aneh, apa permusuhan antara tawon dan ikan, sejak kapan? Tapi Uden dengan rajin mengobatinya.

Ada kepuasan dalam diri Uden, di setiap mengingat dan memperhatikan kolam dan ikannya. Betapa tidak? Dulu pas disemai, ikannya kecil-kecil, lalu tumbuh dan beberapa bulan ke depan sudah siap dipanen. Bagaimana tidak? Awalnya Uden ragu-ragu, apakah akan berhasil atau tidak, karena ini kali pertama menyemai ikan. Ia adalah pemula. Seperti di sore ini, saat ia bersantap kelapa muda yang dicampur gula merah ditambah sedikit es. Nikmatnya berlipat-lipat sambil melihat ikan lompat-lompat.

Seperti biasa, sebelum sekolah tugas utama Uden adalah memberi pakan ikan, tidak pernah dilewatkannya. Pagi ini, Uden terkesima dan terngangap tanpa bicara. Kolam sudah tidak berair, tidak pula ikan. Menyisakan tapak-tapak kaki, hanya itu. Ia teringat ikan berwajah coklat, ia teringat ikan yang dekat ekornya masih menyisakan bekas sengatan tawon. Menyemai ternyata tidak selalu linier dengan memanen. Kaki Uden masih terpaku, tidak tergerak untuk sekolah.

Iklan

Jalan-jalan, Uneh

Posted in Uneh with tags , , , , , on Maret 17, 2013 by isepmalik

Uneh pengen jalan-jalan, ya, di hari bertanggal merah ini. Setelah sehari kemarin otaknya diperas membaca buku yang bukan peruntukannya kalau secara Piaget. Kelas dua es-em-a dikasih buku anak mahasiswa, dua pula; satu berwarna biru tidak tebal tapi agak lebar dan satunya berwarna kuning, buku yang terakhir ini agak tebal sampai pas pulang sekolah harus ditenteng di tangan kirinya.

Uneh menerima buku itu dari gurunya, guru favoritnya. Si Bapak Baplang, begitu Uneh biasa memanggilnya. Dua hari yang lalu, sehabis jam pelajaran terakhir, Uneh dan dua temannya, termasuk si Kriting dipanggil sang guru. “Ayo, kerjakan bersama-sama di sini soal yang tadi belum sempat dibahas. Kita berempat adu cepat, oke”. Si Kriting dan satunya lagi sudah siap dengan kalkulator, Uneh hanya mengeluarkan kipas, lalu berkipas pelan. Tentu saja sang guru pun tidak pakai kalkulator, “Mulai”.

Keempatnya menghasilkan jawaban yang sama, Uneh duluan, disusul sang guru, dan si Kriting di posisi buncit. “Bagus”, sang guru berkata. Tapi Uneh masih ada unek-unek rupanya, tentang si makhluk aneh, katalis. Aneh, karena dapat mempercepat reaksi, tapi tidak di masukkan dalam persamaan. Eh, pas akhir reaksi muncul lagi, si makhluk aneh itu. “Itu Pak, ketiganya ga masuk di otak Uneh mah, lieur”. Sang guru tersenyum, “Nanti dua hari lagi jawabannya, sekarang Bapak mau makan, dan kalian harus pulang”. Setelah ketiga muridnya pulang, sambil ke luar ruangan sang guru berkata, “Itu sih udah di luar SK/KD”.

Jawabannya ternyata dua buku itu, tapi Uneh senang meski guru favoritnya ketika menyerahkan berkata, “Jawaban pertanyaan dua hari lalu nanti serahkan ke Bapak, kalo bukunya buat kamu, dua-duanya”. “Baik Pak, jawab Uneh cepat. Si Kriting melongo, “Kebaca gitu?”

Ya, Uneh pengen jalan-jalan! Menurut hadis yang pernah dibacanya, ada tiga hal yang bisa menyenangkan mata dan menenangkan hati. Air jernih yang mengalir, tetumbuhan hijau, dan wanita cantik yang ketiganya. “Aku cuman kebagian dua dong, hehe…”, gerentes Uneh. Ia mengeluarkan teman sejatinya, kipas. Lalu, mengeluarkan dompet dan memeriksa isinya, “Cukuplah”. Ia tidak segera memasukkannya, diperhatikan lagi, dompetnya sudah agak lecak, benang emas yang membentuk namanya juga udah agak memudar, sisi-sisinya sudah pada lecet. “Aku tidak akan pernah mengganti dompet ini, tidak akan pernah. Sampai dia menghilang sendiri!”

Rahasiamu

Posted in Uneh with tags , , , , , on Maret 16, 2013 by isepmalik

Pagi ini, Uneh berlari-lari kecil menuju sekolah, tentu saja dengan peralatan dan perlengkapan yang sudah disiapkan sedari malam selepas belajar sama kakaknya. Ia teringat ucapan ibunya, malam tadi selepas belajar, “Besok, sebelum masuk kelas, belilah bubur untuk sarapan, ibu mau berangkat sebelum subuh”. “Baik Bu, boleh pake pedes?”, tambahnya. “Boleh, sedikit aja yah”, jawab ibunya sambil tersenyum. “Siap”.

Uneh bergegas mempersiapkan semuanya, untuk besok sekolah, tak lupa uang tambahan sudah ke dompetnya yang lucu. Ia tersenyum kalau ingat dompet itu, “Ga ada duanya di dunia”. Dompet buatannya sendiri, yang dilipatan bagian dalam ada untaian kata dari jalinan benang mas membentuk satu nama, uneh.

Entah karena ingatannya masih ke dompet, Uneh jadi agak ceroboh. Muncullah luka pada lengan kiri bagian atas, dekat di ketiaknya. Ia terpekik, ada darah menetes. Ia ke ibunya yang sudah siap-siap mau tidur. “Hanya luka kecil”, imbuh ibunya sambil menyeka darah lalu mengolesi dengan cairan perekat luka dan terahir perban pun melekat di situ. “Udah sembuh tuh, lain kali lebih hati-hati, yang sudah terjadi ga usah diingat-ingat. Sekarang waktunya tidur”, tatapan ibunya melepas Uneh memasuki ruang pribadinya. Uneh jadi tenang, meski itu luka pertamanya. Ia tertidur bersama mimpinya bertemakan bubur.

Lamunan Uneh buyar sewaktu melihat gerbang sekolah, tiga meteran lagi. Namun, ia berbelok arah, sedikit, melanjutkan lari kecilnya ke arah penjual bubur. “Uneeeh”, menoleh ke arah gerbang ia melihat temannya, si kriting, “Apaa”, jawab Uneh. “Kamu udah lupa sekolah sendiri yah?” “Hehe.. Aku mau bubur tau”, jawab Uneh. “Bareng atuh, aku juga mau ah”. “Hayuk”, kata Uneh sambil melambaikan tangan.

Sesuai janjinya, bubur sudah membentuk campuran bersama sedikit pedas. Di sebelah kanannya sudah duduk si Kriting juga sudah menganduk-aduk bubur pesananya. Pada suapan KETUJUH, saat mengangkat mangkok, “Aduh”, keluar ucapan dari mulut Uneh. “Kenapa Neh, kamu kepedesan?” “Bukan, tangan kiri aku masih menyisakan sakit tergores pensil semalam”. “Mana mana mana, coba aku lihat”, Si Kriting bergeser tempat duduk ke sebelah kiri. “Ini loh”. “sakitnya sampai ke hati ga yah?”, kata si Kriting sambil tertawa kecil. Uneh tersenyum, tapi tidak memahami ucapan sahabatnya. Uneh hanya mampu menghabiskan tujuh suapan, tidak diteruskannya, bayar lalu masuk ke kelas bersama si Kriting. Tidak lama bel berbunyi.

Sesampai di rumah Ibunya sudah menanti di ruang tamu. Uneh mengucapkan salam dan mencium tangan ibunya.
Ibu (I) : “Sini, duduk dulu sebentar, ibu mau meriksa lukamu”
Uneh (U) : “Sekelas jadi tahu luka ini loh Bu”
I : “Kenapa atuh kamu ngasih tahu segala”
U : “Ndak, cuma seorang kok”
I : “Uneh, hati-hati menjaga rahasia karena itu adalah kehormatan kamu. RAHASIAMU ADALAH TAWANANMU. Tidak sedikit sahabat yang mempermalukan sahabat akrabnya sendiri, karena ia mengetahui rahasia temannya. Tuh lihat, orang-orang yang duduk ‘di persidangan’ itu dulunya sahabat kental semua”.

Uneh tidak menjawab lagi, matanya terpejam di atas pangkuan ibunya, capeklah yang ia rasakan. Sebentar ia mengusap lukanya, lalu menerawang si Kriting dengan ucapannya ‘lukanya sampai ke hati ga yah’. Uneh tahu rahasianya kenapa si Kriting begitu. Uneh tertidur dalam pangkuan ibunya, di bibirnya terbentuk lengkungan senyum tipis, “Aku tahu rahasiamu”.

Tepat Jam Dua!

Posted in Cerpen with tags , , , , , on Juni 8, 2012 by isepmalik

9 DESEMBER 1996. Jakarta hujan deras. Simpang empat Tugu Pancoran banjir. Airnya meluap memenuhi trotoar. Beberapa mobil dan motor yang terjebak, dibiarkan terbengkelai oleh pemiliknya. Tampak sebuah derek, sibuk menarik sedan mewah built up Jerman, ke selatan. Di tikungan jalan, mesin derek itu terbatuk-batuk, seperempat knalpotnya sudah terendam air. Hampir saja macet. Namun sejurus kemudian, melaju lagi.

Sedan hitam antipeluru itu kosong. Beberapa menit lalu, pengemudi dan dua penumpangnya dijemput sekelompok orang bermantel panjang, berhelm kaca, lalu dilarikan ke gedung perkantoran tidak jauh dari lokasi. Kedua penumpangnya, seorang lelaki paruh baya dan pemuda berambut sebahu, langsung dibawa ke helipad di atap gedung. Mereka diterbangkan helikopter menuju hotel bintang lima, di kawasan Sudirman.

Orang-orang yang ada di shelter bis kota tidak sempat memperhatikan seluruh kejadian itu. Pikiran mereka tersita oleh hujan, yang dirasa, begitu mendadak datangnya. Petir menyambar-nyambar. Halilintar menggelegar. Membelah langit Jakarta. Sayup-sayup di kejauhan terdengar bunyi ledakan. Ternyata, mobil derek dan sedan hitam tadi meledak! Jaraknya cuma 75 meter dari tikungan yang sempat dilewati.

“Cuaca yang sangat tidak bersahabat,” sapa seorang wanita muda. Tergopoh-gopoh. Menyambut lelaki dan pemuda itu, setelah helinya mendarat.

Lelaki itu tersenyum. Wanita cantik berseragam resmi dengan logo bulat kecil di krah baju kirinya itu segera mengiring jalan lelaki itu sambil memayunginya dengan payung besar. Pemuda yang bersamanya berlari kecil di belakang. Mereka bergegas melintasi atap bangunan hotel 25 lantai di jantung metropolitan Jakarta. Waktu menunjukkan pukul 12 siang. Suhu udara 20 derajat Celcius. Hujan masih mengganas.

“Sir, dua jam lagi manuskrip seluruh kegiatan agen di Asia Pasifik akan tiba. Kurir mengirim dari Subec dengan pesawat khusus. Mereka sudah berangkat setengah jam lalu,” wanita itu bicara panjang lebar, sesaat setelah mereka memasuki ruangan khusus, di sayap kanan hotel.

Orang yang dipanggil Sir mendengarkan secara seksama. Lalu ia memanggil pemuda tadi. Memintanya membuka kopor metal antipeluru yang ditentengnya. Mini laptop berwarna perak dikeluarkan. Juga beberapa keping CD. Ia menghidupkan laptop. “Son,” ujarnya kepada pemuda itu, “perjalanan kita tadi sedikit terganggu. Coba kontak kedutaan, kita ingin tahu siapa yang memesan detonator bom waktu dari pasar gelap pada minggu terakhir ini.”

Son keluar ruangan. Ia pindah ke ruang sebelah. Pemandangan Jakarta terlihat jelas. Stadion olahraga, gedung pencakar langit, dan jalanan macet jadi terlihat seperti sebuah lukisan modern art. Mereka memang menyewa salah satu apartemen di kondominium hotel tersebut. Dalam data administrasi, pekerjaan mereka: brooker bidang keuangan. Bekerja pada sebuah perusahaan finance multinasional di England. Fokus mereka adalah pengusaha nasional yang membutuhkan dana dari luar negeri. Pernah juga membantu pemerintah untuk mengurus dana dari Bank Dunia.

Son mengontak kedutaan dan meminta salah satu agennya datang ke lobi hotel. Dari kejauhan Son mengamati lebih detail kota Jakarta. Ia bisa memperkirakan asap yang membubung di balik gedung-gedung beton itu berasal dari sedan yang ditumpanginya tadi.

Pagi tadi, mereka melakukan perjalanan ke Bogor. Ada pertemuan kecil dengan beberapa pengusaha agrobisnis dan informan di sana. Satu-satunya kemungkinan detonator bom waktu ditempelkan ke bodi bawah sedan itu, pada saat ditinggalkan di pinggir jalan. Sopir terpaksa ikut mereka karena harus mengangkat beberapa peralatan elektronika yang diperlukan.

Mereka berjalan beberapa ratus meter menuju tanah kosong, tempat pertemuan dilangsungkan. Areal tanah seluas 20 hektare itu memang sangat ideal untuk dijadikan tempat bertukar informasi. Tinggal berjalan ke tengah, maka alat penyadap dari agen lain tidak berfungsi. Apalagi mereka juga menggunakan alat pengacak suara.

Alat sadap terbaru punya daya jangkau 200 meteran. Sementara titik pusat ngarai itu lebih dari 600 meter jaraknya dari jalan. Di samping arah angin tidak teratur, lokasinya memang terbuka. Tidak ada perdu atau pepohonan yang bisa dijadikan tempat persembunyian. Jadi, memang sebuah areal yang sangat terlindung.

Jika tidak di lokasi itu Son biasanya memilih pertemuan di tengah padang golf atau naik perahu sambil memancing di Kepulauan Seribu. Di kedua tempat itu, segala jenis alat sadap langsung blank.

Pemuda berusia 29 tahun itu kembali lagi ke ruang utama. Wanita tadi sudah tidak di sana. Son memberi tahu atasannya akan ke lobi menemui agen kedutaan. Lelaki berusia 70-an, tinggi kurus, berwajah tirus, berkacamata dan selalu membawa tongkat itu berdiri dan menepukkan tangannya ke bahu Son. Di meja, laptop dan kopor metal sudah tidak ada. Son memperkirakan, Jones, wanita berseragam itulah yang membawanya keluar. Son sedikit gelisah.

“Sir!” Son memperbaiki sikap berdirinya, saat lelaki itu berdiri tepat di hadapannya. Di tangan kanannya tergenggam sebuah compact disc. Ia menaik-turunkan tangan kanannya sambil melihat ke Son. Wajahnya yang biasa serius, terlihat galau. Dari sorot matanya tampak lelaki itu sedang berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa Son anak didiknya itu tidak mungkin melakukan pengkhianatan.

“Jangan cemas laptop tadi sudah kosong. Seluruh data ada di sini,” lelaki itu menaik-turunkan tangannya lagi.

“Son, kali ini kita tidak cuma mengumpulkan data. Siang nanti, tepat jam dua, kitalah yang akan mengambil manuskrip itu. Mendahului pihak kedutaan,” ujarnya.

Lelaki itu juga menambahkan, “Bravo itu mendarat di Soekarno-Hatta pada jam yang sama. Operasi ini sudah tercium pihak lain. Tujuh orang tidak dikenal akan ikut “menyambut” kedatangan agen kita.”

Son berusaha menyelami seluruh perintah atasannya itu. Ia cukup heran, soal bom sudah tidak disinggung lagi. Sebelum berlalu Son sempat melihat stempel merah tertempel pada CD. Stempel yang hanya dikeluarkan oleh duta besar.

“Izin turun, Sir…” Son memberi hormat sebelum beranjak pergi.

Lobi hotel itu tergolong luas. Kapasitasnya 200 orang. Son mengedarkan matanya ke sudut-sudut lobi. Ia tidak bisa berlama-lama. Waktunya tinggal sedikit. Ia harus sampai bandara, paling tidak 20 menit lebih awal. Saat ini ia masih punya waktu 110 menit. Perjalanan ke bandara lamanya satu jam. Itu pun kalau jalanan tidak macet. Sempat terlintas di benak Son untuk mengontak kedutaan dan request helikopter lagi. Namun niat itu ia urungkan.

Son menenangkan dirinya. Ia berdiri di dekat bar yang terletak di sisi kanan lobi pada koridor menuju toilet. Orang kedutaan yang dikontaknya belum terlihat batang hidungnya. “Jika 5 menit tidak muncul, aku segera ke bandara,” gumam Son.

Manuskrip yang akan diambil Son adalah manuskrip terlengkap. Isinya laporan kegiatan mata-mata di seluruh negara kawasan Asia-Pasifik. Laporan-laporan itu dikumpulkan selama 25 tahun. Lalu dipublikasikan secara terbatas.

Keterlibatan dinas rahasia asing dalam sebuah negara memang sudah bukan rahasia lagi. Kegiatan intelijen yang mereka lakukan jelas-jelas sudah terdeteksi oleh negara bersangkutan. Namun selama ini tidak pernah dapat dibuktikan. Di Indonesia, dinas rahasia asing malah terlibat langsung dalam revolusi fisik dan pembasmian ideologi komunis pada 1965.

Pada saat komunis runtuh –seiring Perestroika dan Glas Nost yang dicanangkan Gorbachev di USSR (sekarang Rusia), maka adu kekuatan dan perebutan pengaruh dengan negara adidaya Amerika mengendur untuk beberapa saat. Perang intelijen di seluruh dunia, yang lebih dikenal sebagai perang dingin AS-Rusia, diperkirakan bakal berakhir. Di atas kertas, perang itu memang sudah berakhir. Namun dalam kehidupan politik sehari-hari segala sesuatunya masih berjalan seperti pada hari-hari kemarin.

Son tidak bisa menebak kenapa dinas rahasia menginginkan manuskrip itu. Andaikata jatuh ke tangan kedutaan pun toh besoknya juga akan dipublikasikan di media massa. Ia memang pernah mendengar rencana restrukturisasi negara-negara di kawasan Asia Timur dan Tenggara. Tapi fokus operasi hanya pada daya perekonomian masing-masing negara. Dinas rahasia tidak terlibat langsung. Pusat sudah memakai seorang spekulan besar, ahli bursa saham, berkebangsaan Yahudi untuk “memainkan” Wall Street-New York. Juga bursa efek lain seperti Hang Seng (Hongkong), Nikkei (Jepang), Jakarta, dan Tiongkok. Dan, memang terbukti, mata uang masing-masing negara akhirnya anjlok.

“Apakah rezim yang sudah berkuasa sampai enam kali pemilu ini masih terlalu kuat,” batin Son.

Ia sempat berpikir. Operasi hari ini adalah operasi terbesar pada sebuah negara. Dalam arti: sebuah operasi untuk menggulingkan kepala negara! Seluruh formulasi yang harus dijalankan mungkin saja sudah tertuang pada manuskrip yang akan dijemputnya jam dua nanti. Son tahu, tidak mungkin dinas rahasia merekayasa sebuah kudeta berdarah. Risikonya terlalu besar. Bisa-bisa mereka berurusan dengan Badan Amnesti Internasional.

Dengan cara apa pusat merealisasikan rencana penggulingan itu?

Son meninggalkan lobi hotel. Ia menganggap agen kedutaan batal datang. Sampai akhirnya ada yang menepuk bahu kirinya. Son sedikit terkejut. Sopir sedan tadi sudah berjalan di sampingnya. “Tidak ada yang memesan bahan peledak dalam minggu ini,” ujar sopir berkebangsaan Indonesia itu.

Son betul-betul terkejut. Tidak mungkin pusat menggunakan “orang luar” sebagai agen resmi. Apalagi untuk hal-hal penting seperti pasar gelap senjata dan bahan peledak. Dan, bahkan, sampai terlibat penuh dalam setiap perjalanan kedinasan. Sopir itu berjalan cepat.

“Kita harus sampai bandara 20 menit sebelum pesawat itu mendarat…,” ujar sopir itu lagi.

Son betul-betul sudah kehilangan akal sehatnya.
“Who are you?!”
“Teman,” jawab sopir itu singkat.

Langit Jakarta mulai bercahaya. Hujan sudah berhenti. Kedua orang itu mengendarai jip Cherokee dengan kecepatan tinggi menuju Bundaran HI. Lalu belok ke kiri, masuk Hotel Indonesia. Son meyakinkan dirinya, ia ada di jalan yang benar. Atasannya memang sangat terselubung jika memberi perintah-perintah penting. Seluruh peristiwa yang terjadi dianggap Son sebagai bagian teka-teki intelijen yang harus dipecahkan. Yang tidak dimengerti Son, kenapa tugas besar ini dipikulnya sendirian?

Jip diparkir di basement. Mereka berlari kecil menaiki anak tangga khusus karyawan, lalu pindah ke lift. Beberapa karyawan yang berpapasan keheranan melihat perilaku mereka. Son mengedarkan senyumnya. Mereka naik ke helipad di atap HI.

“Nice to meet you, Sir,” pilot heli menyampaikan salamnya. Son jadi jengah karena pilot itu Jones! Masih dalam atribut resmi. Jones tersenyum manis sekali.

Waktu menunjukkan pukul 13.30 ketika mereka tiba di bandara. Jones melakukan beberapa kontak dengan petugas tower. Heli itu sudah memiliki tempat parkir khusus di Soekarno-Hatta, terdaftar atas nama seorang pengusaha minyak. Satu pesawat kecil jenis Cesna sudah parkir terlebih dulu di sebelahnya. Jones memberi kode kepada pilot Cesna yang masih duduk di cockpit. Son dan sopir itu memperbaiki duduknya. Pintu heli dibuka agar tidak memancing kecurigaan petugas bandara.

Tepat jam dua! Bravo hitam mendarat. Lima meter jaraknya dari mereka. Jones dan Son bergegas turun. Sopir tadi pindah ke cockpit. Jones berdiri tegap. Menunggu pintu dibuka. Agen itu turun. Jones memberi hormat dan menyampaikan beberapa kata sandi. Manuskrip yang diberi pelindung kotak metal itu pun diserahkan kepada Jones. Jones menyerahkannya lagi kepada Son. Mereka pun berpisah. Jones naik ke Bravo, mengambil alih kemudi. Agen itu duduk di belakangnya. Semua terkesan lancar. Bravo kembali mengangkasa.

Son berbalik. Menuju heli yang tadi mengantarnya. Tiba-tiba dua orang menyergapnya, membawanya ke Cesna. Son tidak melawan. Dari kejauhan, beberapa orang berlarian, mengejar mereka sambil menembaki Son. Tampak juga trailer kargo datang dengan kecepatan tinggi ke arah mereka. Peluru berdesingan. Badan helikopter itu jadi sasaran tembak. Sopir tadi segera menghidupkan mesin heli, namun baling-balingnya tidak mau berputar. Tujuh orang yang memburu mereka jaraknya semakin dekat. Tapi Son berhasil diselamatkan. Sudah masuk ke kabin Cesna.

Mereka segera memacu pesawat itu di landasan. Beberapa menit kemudian melesat ke angkasa. Menikung di langit, 48 derajat ke barat. Son memantau dengan teleskopnya. Sopir tadi akhirnya dipaksa turun dari heli, digelandang oleh pengejarnya. Sopir itu ditembak, dimasukkan ke salah satu kotak, di trailer kargo. Mereka pun lari berhamburan.

Matahari Jakarta bersinar menyilaukan. Son membuka kotak metal itu, memasukkan manuskrip ke laptop yang dibawanya. Seluruh data digandakan. Sekilas terlihat laporan mata-mata di Indonesia. Di situ terpampang tulisan dengan berbagai sandi. Di akhir kalimat tercantum perintah singkat: Reformasi.

Cerpen: Antoni
Sumber: Jawa Pos,  Edisi 03/12/2006

Pencopet Tertipu

Posted in Cerpen with tags , , , , , on Mei 4, 2012 by isepmalik

Siang itu begitu terik, langit bersih tak berawan. Gunung Salak di kejauhan sana berdiri tegak, biru menjulang tanpa kabut. Udara semakin kering dan kotor oleh semburan asap knalpot angkot-angkot yang ngetem di mulut jalan menuju Stasiun Bogor. Trotoar dikiri-kanan jalan sempit dan pengap dengan lapak-lapak pedagang kaki lima.

Salah satu lapak yang menjual VCD bajakan memutarkan lagu-lagu dangdut lengkap dengan tarian erotis dari sebuah layar televisi 21 inchi yang dapat dilihat oleh siapa saja. Suara kendang menghentak-hentak disambut dengan lengkingan keras sang biduanita.

“Dompet lo bagus Din!” ujar Wanta.

Udin mengeluarkan beberapa lembar uang ribuan dari dompet itu untuk membayar makan siangnya.

“Ah, tahu aja barang bagus.”

“Coba gue lihat.”

Udin mengulurkan dompetnya.

“Ini sih dompet cewek. Kenapa lo pake?”

“Itu buat Si Midah.” Ada kebanggaan terpancar dari kerlingan Udin yang nakal. Sejenak pikirannya melayang membayangkan gadis bertubuh sintal, putri penjual pecel lele yang mangkal di samping tukang buah, di sebelah kanan stasiun.

“Ah, bisa aja lo. Masih ngebet juga sama perempuan galak itu!” Wanta menyenggol perut Udin dengan sikunya. Mereka keluar dari kedai Mak Itam sambil tertawa keras, perut buncit, kekenyangan.

“Eh, apaan nih?” Mata Wanta terbeliak mendapati sebuah kartu di dompet itu dan langsung di tariknya.

“Ini kan kartu anggota,” ujarnya, wajah Wanta berkerut-kerut diliputi kekhawatiran. “Sialan lo Din, nyopet anggota. Bisa apes kita. Jangan-jangan ini punya Warsiah.”

“Mana gue tahu Bang, gue cuma nyopet orang-orang yang meleng. Lagian kan dompet ini udah dikumpulin waktu kita bagi hasil di kontrakkannya Johan. Abang sendiri yang ngambilin duitnya.”

“Iye gue inget. Tapi harusnya dompet punya anggota kita kudu balikin lagi. Trus kita juga kudu minta maaf.” Ya, itu sudah jadi peraturan mereka, mereka boleh mencopet siapa saja kecuali anggota.

“Lha waktu gue copet, dia nggak pake seragam, polisi apa tentara…”

“Dasar goblok lo Din, dompet ini pasti punya istrinya. Liat nih kartunya.” Kali ini matanya melotot, membaca sebuah nama yang tertulis di kartu, ‘Warsiah’, istri perwira polisi militer.

Udin mengeja tulisan-tulisan kecil yang Wanta tunjukkan di dalam hati. Dia kesulitan membaca. Kelas Satu SD, dia sudah harus meninggalkan sekolah. Dulu bapaknya pergi dan tak pernah kembali lagi. Emak sakit dan meninggal tak lama kemudian. Udin terpaksa hidup menggelandang sampai dia bertemu dengan Wanta yang memberinya ‘pekerjaan’.

“Bangsat lo Din, lo udah nipu kita.”

“Nipu apaan Bang?”

“Isi dompet ini! Bilang yang jujur, berapa isinya?”

“Ya, kayak yang abang ambil kemaren. Cuman selembar limapuluh ribuan trus sisanya recehan.”

“Nipu lagi lo ye! Komandan besar bilang isinya sekitar dua ratus lima puluh ribu. Hayo sisanya lo kemanain? Lo pasti ambil buat diri lo sendiri. Kelewatan lo Din. Kalo ada apa-apa juga gue yang nanggung. Kalo lo ketangkep polisi, siapa yang ngeluarin? Ayo jawab!” Tunjuk Wanta tepat di hidung Udin. Tatapan matanya yang tajam semakin bengis. “Dasar pengkhianat lo! Pokoknya lo kudu ganti sendiri uang istri teman komandan besar itu.” Wanta mengancam.

Udin hanya mendesah, kecewa. Selama ini dia selalu jujur. Tak pernah dia membuka dompet korbannya sebelum menyerahkannya kepada Wanta, saat mereka berkumpul untuk berbagi hasil. Tetapi siapa yang bisa mempercayai kejujuran seorang pencopet jika tidak kawan-kawannya sendiri.

“Sumpah Bang gue nggak bohong, nggak nipu Abang. Isi dompet itu nggak lebih dari itu.”

“Gue nggak mau tahu!” Wanta berkata setengah berteriak, lalu tubuhnya menghilang di tengah keramaian orang yang baru keluar dari stasiun.

* * *

Tubuh Udin yang kurus rapuh terbungkus jaket kulit yang berlubang-lubang di bagian krah dan sikunya. Kumal, dilekati keringat dan tak tercuci selama menjadi miliknya. Mata keruhnya memandang liar, tetapi semua yang ada dihadapannya tampak samar. Rambut gimbalnya ditiup angin yang membawa debu. Dia seperti seonggok sampah di trotoar yang nyaris tak tersisa oleh pedagang kaki lima. Hiruk-pikuk disekelilingnya terasa bagai sebuah kesunyian. Kepalanya terasa berat. Dia tidak sedang mabuk, tetapi mengapa jiwanya menginggalkannya, terbang.

Ingin rasanya dia kembali lagi menjadi gurandil di bukit pongkor. Uangnya melimpah di sana, tetapi nyawa taruhannya. Tetapi bukankah dia sudah berjanji kepada ririnya sendiri untuk tidak lagi kembali kesana?! Dia pernah hampir mati tertimbun tanah longsor di lubang galian. Lagi pula masa keemasan bukit pongkor telah meredup. Banyak gurandil yang meninggalkan tempat itu. Emas yang mereka peroleh tidak lagi sebanding dengan resiko yang mereka terima. Kematian mengintai setiap saat.

Serta merta dia berdiri, ditendangnya sebuah batu kecil. “Bangsat!” bisiknya penuh geram. Telapak kakinya terasa sangat panas. Sepatu kulitnya sudah sangat usang. Solnya tipis sekali. Sudah beberapa tahun dia tidak menggantinya. Benar-benar sepatu tak berguna! Ujung jempol kirinya dapat mengintip keluar. Kalau hujan pun air akan mudah masuk dan terjebak di dalamnya.

Batu itu melayang ringan mengenai kepala si penjual pigura. Tak jauh dari kolam yang ditengahnya berdiri patung Kapten Muslihat. Dia meringis menahan sakit. Dengan sorot penuh kebencian, matanya beredar mencari asal batu itu, tertumbuk pada mata Udin yang menatapnya, bengis! Dia segera memalingkan muka. Tak ingin berurusan dengan si pemilik mata keruh yang masih menyisakan kegarangannya.

“Konyol juga, mengapa batu itu bisa mendarat mulus di kepalanya?” batin Udin. Raut wajahnya membersitkan kepuasan. Hanya sesaat. Wajahnya kembali muram, mengingat apa yang harus ditebusnya esok hari.

Udin merasa tertipu. Bisa-bisanya Komandan besar atau mugkin korbannya menggelembungkan isi dompet yang sesungguhnya. Bah, Udin benci mengingatnya. Ludah yang baru saja ditelannya menyisakan pahit yang panjang di kerongkongannya. Padahal dia yakin betul isi dompet itu tidak lebih dari selembar uang limapuluh ribuan ditambah beberapa lembar recehan seribuan. Wanta sendiri yang mengeluarkannya dari dompet. Lagi pula merngapa baru kemarin wanta menyadai keberadaan kartu anggota itu di dalam dompet. Mengapa tidak saat mereka berbagi hasil saja. Pasti tidak akan seruwet ini jadinya. Kalau tahu dompet itu hanya akan membawa sial, udin tidak akan memungutnya kembali dari tempat sampah.

Nasib sial itu berawal setelah pertemuan mereka di suatu siang di WC umum yang berada di sudut kios, di belakang rel kereta api.

“Kalian pasti kelompok copet di tempat ini. Sudah lama kalian kami cari-cari. Meresahkan masyarakat. Ayo angkat tangan!” gertak seorang pria tinggi besar yang sangat mudah dikenali identitasnya dari pakaiannya, seorang Polisi Militer.

Wanta, Udin dan komplotannya sedang berbagi hasil dengan segepok lembaran uang kertas di tangan. Beberapa dompet tercampak di tempat sampah yang lembab bercampur dengan kertas tisu dan sampah lainnya. Mata PM itu sempat melirik ke sana. Mulutnya menyunggingkan senyum kemenangan. Sesungguhnya tanpa menggertak pun kehadirannya sudah membuat mereka pucat dan gemetaran.

“Wah jangan gitu Pak, damai sajalah.” Wanta mengusulkan. Mereka memang berlima, tetapi tubuh mereka yang penuh tato kurus-kurus, kurang makan dan lebih banyak menenggak minuman yang memabukkan. “Kita bagi hasil sajalah.” Rayunya lagi dengan mata sayu namun penuh harap.

“Berapa bagianku?” tanya PM itu, matanya menyipit. Mengira-ngira perolehan mereka.

“Bagaimana kalau lima puluh?”

“Tidak!” katanya tegas. Menurut perkiraannya pendapatan mereka jauh lebih besar dari itu.

“Seratus?”

Si PM menggelang. Bibirnya mencibir.

Mereka terpaksa mengumpulkan kembali uang yang telah terbagi. Menghitung ulang. Seratus lima puluh ribu untuk PM itu dan sisanya tiga ratus ribu, mereka bagi berlima. Mereka berdamai dengan sebuah kesepakatan tambahan untuk terus mengirim upeti kepadanya jika tidak mereka harus siap masuk bui. Sejak itu Sang PM selalu dipanggil dengan komandan besar.

Udin melangkah gontai meninggalkan tempatnya berdiri. Pandangannya menjadi liar mengitari orang-orang yang berlalu lalang. Hari ini benar-benar apes baginya. ‘Operasinya’ hanya menghasilkan dompet murahan yang dia ambil dari saku belakang celana jeans seorang wanita cantik berbokong padat. Mangsa-mangsa yang diincarnya hari ini terlampau waspada.

Dia memberanikan diri untuk mencoba lagi. Sambil berjalan cepat dari arah belakang, dia sengaja menyenggol bahu seorang wanita bertubuh kurus. Untuk beberapa saat tubuh wanita itu oleng ke kiri. Kesempatan itu tidak dia sia-siakan. Ditariknya kuat-kuat tas tangan dari bahu wanita itu. Wanita itu tampak gugup tapi cepat menyadari, lalu tarik-menarikpun terjadi. “Kembalikan tasku!” serunya.

Wajah Udin yang seram disertai dengan sorot matanya yang garang dan tajam menyeramkan, menatap wanita itu, mengancamnya untuk diam tanpa suara. Tetapi wanita itu malah berteriak lantang, “Copeettt”

Mendengar itu, Udin segera lari menyelamatkan diri sebelum berhasil membawa tas tangan korban terakhirnya. Dia tidak ingin masa yang marah menangkapnya, menghajarnya hingga babak belur, atau membakarnya hidup-hidup. Seperti yang dialami Itong. ‘Penghukum’ yang lebih haus dari aparat itu seperti dihamburkan dari segala penjuru, mengejarnya. Dalam keadaan yang sangat kalut, dia dapat menemukan gang sempit, dan menyelinap kedalamnya. “Matilah gue!” Pikirnya putus asa jika mereka menemukannya di tempat itu.

Menjelang gelap, Udin baru berani keluar dari tempat persembunyiannya.Di kontrakan Johan, rumah petak berdinding bambu tak jauh dari pasar dan rel kereta api, dia menemui kawan-kawannya. Siap menerima caci maki mereka yang pasti telah menuduhnya sebagai pengkhianat.

Setelah terjadi perseteruan panjang, Wito memutuskan untuk mengembalikan seluruh uang milik istri teman komandan besar berikut dompetnya meski hari ini Udin tidak menghasilkan sepeserpun. Dompet murahan itu hanya berisi secarik kertas yang bertuliskan, “Kapok Loe. Ambil nih semua! Dasar copet goblok!” Wanta nyengir membacanya. “Dia menipu kita rupanya,” gumammnya.

Wanta tetap bersikeras, Udin telah menipu mereka. Karena itu Udin berhutang sebanyak dua ratus ribu kepadanya.

* * *

Komandan besar masih menikmati upeti dari kawanan pencopet itu. Ketika dia menjamu teman-temannya di restoran pinggir kota, dia berkata dengan bangga, “Semua ini hanya karena aku kepengen kencing di WC umum itu. Pokoknya kalau ada kawan-kawan kita yang kecopetan lagi di sekitar Taman Topi, bilang saja kepadaku, pasti kembali uangnya bahkan bisa dua kali lipat bahkan lebih!” Mereka tertawa terbahak-bahak. Asap rokok mengepul, sisa-sia makanan berserakan di piring-piring makan. Mereka terus berkelakar dengan suara-suara keras.

Depok, 28 Juli 2004

Cerpen: Dyah Wahyuningsih

Sumber: Suara Karya, Edisi 03/05/2006

 

Gurandil : sebutan untuk penambang emas liar di Bukit Pongkor

Perempuan di Bangku Halte

Posted in Cerpen with tags , , , , , on Mei 1, 2012 by isepmalik

JALANAN sepi dan basah, kawan. Tetapi, lampu-lampu jalanan kiranya masih menyala kala itu, sehingga paras pucat perempuan itu sempat tertangkap meski tidak terlalu jelas lantaran cahaya lampu terhalang ranting akasia. Hujan sudah selesai, tetapi udara tentu saja sangat dingin. Tanpa hujan pun udara malam tetap dingin, bukan? Maafkan kalau aku kelihatan sok tahu, kawan. Kau tentu boleh tak setuju dengan bermacam ungkapan atau perumpamaan yang kubuat dalam menceritakaan semua ini.

Ia meletakkan bokongnya di bangku halte dengan cemas yang deras menggerayangi perasaannya. Jemari tangannya yang lentik terawat meremas-remas sapu tangan basah yang digunakan untuk menyeka wajah dan rambutnya. Sebuah tas kecil terbuat dari kulit berwarna cokelat talinya masih nyangkol di bahu, dikempit ketiaknya. Kopor hitam didekap kedua lututnya yang gemetar. Cahaya temaram menyembunyikan tubuhnya yang menggigil dibungkus jaket dan kaus hitam ketat. Kecemasan makin deras, sukar dibendung. Ia sering mengalami kecemasan. Tapi kali ini baru dialami sepanjang hidupnya.

Ia urung membakar sisa rokok yang tinggal sebatang-batangnya. Dimasukkannya kembali rokok itu ke dalam saku jaket. Taksi yang diharapkan lewat dan membawanya pergi dari tempat itu tak juga muncul. Udara dingin terasa semakin menghisap tenaga dan denyut nadinya serupa terik matahari menghisap embun di pagi hari. Ia meraba dadanya, seakan mengukur kemampuannya bertahan.

Di langit, bulan direnggut lapisan awan tebal. Sisa hujan menggenang di jalan berlubang, sesekali berkilau tersiram cahaya lampu. Tak ada suara angin atau gonggongan anjing. Hanya sesekali, lamat, suara kersik daun kering yang putus dari tangkainya melayang tenang sebelum hinggap di badan jalan yang betul-betul lengang seperti kuburan.

Ia mengutuk peristiwa demi peristiwa yang dialaminya. Bukan hanya rentetan peristiwa yang beberapa jam lalu dilewatinya. Melainkan terutama peristiwa yang dialami masa kanak dan remajanya yang singkat dan muram. Ia meremas sapu tangan seakan meremas kecemasan yang terus menjalar dan menggerogoti lapis demi lapis ketegaran yang sekian lama dipupuknya. Dengan ragu-ragu dirogohnya saku jaket, mencari-cari rokok yang tadi tak jadi disulut. Ujung jemarinya menyentuh tembakau yang terburai dari kertasnya yang koyak karena gesekan dan saku jaket yang lembab.

Dibakarnya batang rokok yang koyak separo, lantas disedotnya setengah hati. Ia membuang ludah kental yang terasa pahit di lidahnya. Tenggorokannya bagai terbakar, panas dan perih. Di telinganya suara nyamuk berdenging, menggigit kulitnya yang halus dan masih menyisakan harum. Tak ada kunang-kunang, membuat malam sungguh-sungguh kelam.

Pandangannya terus menyorot ke kanan sampai lehernya pegal; arah dari mana dirinya muncul tersaruk menyeret kopor. Ketegangan menyerang tubuhnya. Ia merasakan urat-urat lehernya menegang dan kaku. Taksi yang ditunggunya tak pernah muncul. Jalan itu memang tak dilintasi taksi apalagi di malam sepi dan dingin sehabis hujan seperti itu. Ia lupa, bahkan ojek pun tak berani melintas di sana. Baru kali ini ia linglung dan kehilangan akal apa yang harus diperbuatnya.

Ia mengetatkan dan menaikkan krah jaketnya, mencoba menghalau dingin. Tapi dingin tak bisa dihalau, ia telah bersekutu dengan malam dan sepi, mengundang kenangan yang berdiam dalam ingatannya. Ia serasa mendengar umpatan Papa. Mendengar jeritan mama dan Alen, kakak sulungnya. Mereka berkelebatan mengurung matanya ke mana pun dibenturkan. Ia tidak pernah menemukan tempat yang benar-benar mampu menjauhkan ingatannya dari mereka dan seluruh peristiwa yang membuatnya membenci mereka. Mama dan papa seingatnya tak pernah bertemu kecuali untuk saling menumpahkan caci maki. Tak pernah dilihatnya mereka duduk bersama, bercengkerama apalagi secara mesra mengulurkan tangan untuk dicium saat dirinya berangkat sekolah.

Ia dapat mendengar dengan jelas suara tangan papa menggampar pipi mama disertai bentakan, lantas lengkingan Mama yang membuatnya terhenyak malam-malam. Disusul denting gelas dan cangkir beterbangan menghantam dinding. Kak Alen tak pernah pulang kecuali dalam keadaan mabuk dan dipeluk seorang perempuan seusia mama. Mereka berdekapan sepanjang malam dengan pakaian separuh tanggal sambil mendesiskan suara-suara yang membuatnya mau muntah. Ia sendiri menggigil di balik pintu kamarnya. Adiknya, Riko, yang menderita autis pulas dalam pelukan Tante Noah di kamar.

Ia tahu, Rikolah yang menjadi pangkal pertengkaran mereka. Papa menuduh Riko anak hasil perselingkuhan mama dengan pemuda-pemuda yang suka nongkrong di mal; bukan anak dari benihnya. Sebaliknya, Mama yakin Papa yang sering keluyuran malam dan bergonta-ganti pasangan yang menyebabkan Riko terlahir cacat.

Batang rokok terakhir sudah habis. Puntungnya yang masih mengepulkan asap tanpa sadar diremasnya. Sesaat ia menjerit dan terperanjat karena panas. Perlahan udara bergerak dari arah selatan tanpa suara. Wajahnya menegang lagi seperti ada anak-anak yang menariknya. Suasana makin hening. Gemeretak giginya terdengar nyaring. Ia melepas tas dari pundaknya kemudian dipeluknya. Meletakkan pipi di atasnya.

Seperti yang dilakukannya saat hatinya tiba-tiba perih direnggut rindu pada mama.

“Kamu kenapa, Revi?” tanya teman laki-lakinya melihat ia murung.

“Tidak apa-apa, Roni,” jawabnya seraya menatap mata laki-laki itu.

“Kamu masih tak mempercayai aku? Hmm.”

“Tidak. Kamu jangan sentimentil, Roni.”

Laki-laki itu pacarnya. Ia tidak pernah mencintai seseorang seperti ia mencintai laki-laki itu. Laki-laki yang mula-mula datang ke salonnya, menyerahkan penanganan urusan rambut. Laki-laki itu ketagihan pijatannya yang enak. Pelayanannya yang serba lembut dan menyentuh membuatnya berlanggan setiap pekan. Tentu tidak terbatas pada urusan rambut, melainkan juga perawatan kulit dan wajah. Pria metroseksual, kata orang-orang. Ia suka menatap lekat-lekat rahangnya yang kukuh, dagunya yang selalu kebiruan. Ia terpesona pada gaya berbicara dan terutama suaranya yang basah dan terdengar mendesah. Maka usai dengan urusan rambut, biasanya laki-laki itu berlama-lama duduk di sana sampai malam larut oleh embun, mengobrolkan entah apa dengannya.

“Kenapa kamu memilih hidup seperti ini?” Demikian laki-laki itu pernah bertanya.

“Kenapa?” Perempuan itu balik bertanya.

Pengin dengar ceritanya.”

“Buat apa?”

“Namamu bagus.”

“Ah.”

“Bukan nama pemberian orangtuamu, kukira.”

Obrolan-obrolan serupa itu berlanjut terus setiap laki-laki itu datang. Berceritalah dia tentang kebenciannya pada mama, papa, dan Kak Alen, juga rasa iba tak terkira pada kondisi Riko. Tetapi, terutama pada peristiwa demi peristiwa yang membuatnya membenci mereka semua.

“Itu yang membuat kamu memilih begini?”

Perempuan itu tak menjawab. Ia teringat pada keputusan besarnya: mengkastrasi kelaminnya, merubahnya menjadi vagina. Ia yakin benar kekeliruan itu harus diluruskan, bukan karena kebenciannya pada papa, mama dan Kak Alen yang tak pernah mempedulikannya. Tuhan pun bisa saja melakukan kekeliruan, bukan? Bukankah Tuhan maha bisa?

“Apakah salah.”

Laki-laki itu tidak menjawab. Ia sendiri tak merasa memerlukan jawaban sebagaimana ia juga tidak perlu tahu sungguhkah Roni mencintainya? Disimpan saja keraguannya itu. Ia berharap Roni sungguh-sungguh.

“Aku laki-laki, bukankah kamu perempuan?” ujar laki-laki itu seakan mengerti perasaannya.

“Hmm, aku bahagia. Tapi tidakkah ini.”

Ia menepuk-nepuk telapak tangannya, membersihkan debu puntung rokok. Menelan ludahnya yang panas bagai lahar membakar lidah dan tenggorokan. Langit makin pekat. Selembar daun akasia jatuh tepat di pangkuannya. Seekor kucing tiba-tiba mendekat dan menyentuh-nyentuhkan tubuh ke kakinya. Di langit lapisan awan tebal tak menyisakan kerlip gemintang. Kenangan pelariannya dari rumah, mencuri semua perhiasan mama mendadak membayang lebih jelas. Seperti baru kemarin dia meninggalkan rumah yang dikutuknya bagai kamp penyiksaan bagi jiwanya.

Dengan percaya diri ia menjual semua perhiasan mama untuk menyewa ruko dan memulai usaha membuka salon. Ia adalah seseorang yang ulet, terbukti salon yang dikelolanya tak pernah sepi pelanggan. Ia tidak perlu menjadi pengamen atau berdiri malam-malam di perempatan jalan mengadang lelaki dungu yang tersesat; seperti kebanyakan kawan-kawannya.

Rupanya mama masih hidup, ia mendengar kabar mama masuk rumah sakit. Perempuan itu tak mengenalinya ketika ia menjenguknya di rumah sakit. Wajah mama nampak begitu pucat dan renta.

“Siapa kamu?” tanya Tante Noah yang menjaga mama. Ia merasa tak perlu menjelaskan dirinya pada siapa pun. Ia hanya berkata supaya mama dijaga, lantas pergi meninggalkan sekeranjang bunga dan buah-buahan. Sayup-sayup ia mendengar teriakan Tante Noah memanggilnya, Rava, Rava. Sesunggguhnya ia ingin menghentikan langkah dan berbalik menemui mereka. Tapi, keberaniannya tiba-tiba menguap entah ke mana.

Ia menelan ludah. Lamat didengarnya suara roda gerobak bakso yang didorong tergesa. Ia menggeser duduknya, mengangkat wajah melihat tukang bakso makin mendekat, dan melintas tanpa menoleh ke arahnya.

Bertahun-tahun ia tak pernah pulang. Berusaha melupakan mama, papa, Kak Alen, Riko, dan semua impitan peristiwa masa kanaknya. Namun, sering gagal. Semuanya selalu menguntit ingatannya. Setahun setelah peristiwa di rumah sakit, ia mendengar kabar mama meninggal. Kak Alen mengalami stres berkepanjangan, dan Riko dibuang Tante Noah ke rumah panti anak-anak cacat. Papa entah ke mana.

Ia memejamkan matanya, berusaha membebaskan diri impitan ingatannya. Tetapi, peristiwa lain yang menyeretnya ke tempat ini menyerbu kepalanya. Ia telah membunuh Roni dan memotong-motong mayatnya. Ia tidak tahu segalanya tiba-tiba terjadi seperti takdir yang tak dapat ditolak. Ia masih sempat bersiul saat melangkah pelan menyusuri karpet lorong hotel. Demikian pula ketika tiba di salonnya, dan melihat Roni sudah berdiri di sana sambil berkacak pinggang. “Mulai malam ini, jangan campuri urusanku, waria haram jadah!” Bentak Roni sebelum berlangsung peristiwa itu.

Ia menyeret Roni ke kamar, lalu dibantingnya di sana. Laki-laki itu dengan cepat bangkit menjambak rambutnya, mencekiknya, menampar kedua pipinya sangat keras, sampai bibirnya pecah. Ia limbung beberapa saat sebelum tersungkur. Didengarnya Roni memaki-maki dengan kata-kata kasar dan kotor yang melukai perasaannya. Maka susah payah ia bangun, kemudian meraih gunting di meja hias dan menusukkannya berkali-kali ke dada laki-laki itu. Setelah menyeka muncratan darah di mukanya, ia meraih pedang panjang yang selama ini menjadi hiasan di dinding. Dengan kalap memotong-motong mayat lelaki itu menjadi beberapa bagian.

Malam sudah melewati separo perjalanannya. Perempuan itu masih di duduk di bangku halte. Mengutuk perasaannya sendiri yang begitu sentimentil. Kini ia teringat Santi, sekretarisnya yang setia dan melaporkan perselingkuhan Roni dengan penari bar di sebuah hotel. Ia memintanya tidak mengikuti dirinya, “Pergilah, Santi, jangan ikuti aku. Bawalah uang ini untuk bekal. Pergilah sejauh-jauhnya dari kota ini. Semoga semuanya akan baik-baik saja. Biar aku pergi menyusuri jalan ini sendiri. Sebab, aku belum tahu tempat mana yang akan kutuju.”

Hatinya bagai teriris melihat punggung Santi terguncang dan lesap dalam temaram lampu membawa tangisnya yang mencekam.

Hujan turun lagi. Tiba-tiba ia merasa dirinya begitu tua, lelah, dan teraniaya. Kepalanya tak kuat lagi disesaki peristiwa demi peristiwa penuh kepalsuan dan kekerasan. Tak sanggup lagi membayangkan keluarga bahagia. Menata rambut para pelanggannya yang setia. Hidupnya terlalu sesak dengan keperihan, tak ada tempat bahkan untuk kisah cinta yang paling iseng dan sederhana. Maka, tak ada lagi alasan untuk pergi dari situ. Begitu ia akhirnya memutuskan. Biarlah besok sekawanan polisi menggiringnya ke penjara. Biarlah penjara menggenapkan takdir suram yang harus kujalani.

Balai Budaya Tangerang, 23 Juli 2005

Cerpen: Aris Kurniawan

Sumber: Lampung post, Edisi 03/19/2006

Bus Nomor 211

Posted in Cerpen with tags , , , , , on April 29, 2012 by isepmalik

Sudah dua musim, setiap pagi, dua perempuan muda itu, selalu duduk bersebelahan, di kursi paling belakang bus nomor 211. Kali ini perempuan tinggi berhidung jangkung, rambut warna madu yang diekor kuda, dan mata biru itu duduk di tepi jendela. Kemarin, perempuan berambut hitam pendek, kulit coklat, dengan tinggi perempuan Asia itu, duduk di sana. Tampaknya tergantung siapa yang duluan tiba di bus untuk duduk di sebelah mana.

Penumpang bus nomor 211 yang berangkat pukul tujuh lima belas menit itu, selalu sama setiap hari, meski tujuannya berbeda. Mereka mengenal satu sama lain, tapi beberapa saja yang suka berbasa-basi, paling tidak, tentang cuaca, yang berubah secara cepat. Kecuali dua perempuan muda itu yang suka bicara tentang apa saja, seingat mereka, sesuka mereka.

Bus bergerak menuju pusat kota, menyusuri jalanan desa, melewati rumah-rumah yang mulai menyalakan penghangat. Asap yang mengepul dari cerobong larut dalam udara lepas awal musim gugur.

”Aku mau pulang ke negeriku selepas musim gugur.” kata Helena, perempuan berambut ekor kuda, memaku pandangan ke luar jendela, ke jajaran pohon maple yang daunnya merah menyala, pertanda mengandung banyak gula, yang sebentar lagi, mau tidak mau, rontok, menyatu dengan bumi yang berangsur menjadi dingin. Sebab tak cukup panas matahari untuk para daun bertahan di dahan dan ranting.

”Selamanya, sementara? ” Sadrah, teman sebelahnya, bertanya. Helena menarik-narik rambutnya. ”Belum tahu. Aku hanya ingin pulang. Belum semua tentangku aku ceritakan padamu, ya?”

Irene, sarjana pendidikan. Setelah komunis tak lagi berkuasa di negerinya, ia membuka Taman Kanak-kanak, memanfaatkan tanah kosong orangtuanya di kota kecamatan. Ada 50 anak-anak yang masuk sekolahnya. Ia bisa bicara bahasa, Inggris, Jerman, Rumania, Prancis, dan Rusia.

Bersama keluarganya, ia membuka warung kopi dengan kue-kue yang semuanya dibubuhi apel. Katanya, banyak orang menanam apel di halaman rumah, bosan jika hanya dimakan begitu saja. Di halaman rumahnya ada enam pohon apel Mcintosh, yang setiap panen bisa berbuah 150 biji sepohonnya. Apel merah dengan sedikit saputan hijau ini manis dan renyah, bagus untuk campuran kue-kue. Awet pula disimpan seusai panen, yang biasanya terjadi awal hingga akhir musim gugur.

Pagi dan sore warungnya ramai dikunjungi pembeli, yang suka minum kopi dan kue sambil ngobrol apa saja, berjam-jam. Bicara menjadi kegemaran mereka terbaru, setelah bertahun-tahun dipaksa diam. Jika pun bicara berbisik-bisik. Mereka percaya, dinding, pohon, dan langit punya telinga.

”Untuk seorang perempuan muda, boleh dikata, aku memiliki pendidikan, pekerjaan bagus, dan status,” pamer Helena pada Sadrah.

Bus nomos 211 berhenti di sebuah halte, depan perpustakaan. Setiap pagi pria yang turun dari bus itu, membawa beberapa buku di tangannya. Entah ada berapa buku lagi di tas hitam yang ditentengnya. Mungkin pegawai perpustakaan, mungkin pelajar yang sedang menulis tesis, mungkin…

”Mengapa kau tinggalkan kesenangan itu?”

Helena tertawa sinis pada dirinya. ”Aku muak pada para politisi yang mau enaknya sendiri.

”Maksudmu?”

”Di musim dingin, di akhir pekan, aku menjadi pelatih sky untuk para anggota partai dan tetamunya, pengusaha dari luar. Kudengar mereka bicara tentang komisi dari tender-tender raksasa yang direncanakan, sedang diproses, dan sudah dinikmati itu penuh kolusi. Sementara sebagian besar rakyat masih kepayahan membeli roti.”

”Mengapa kau peduli?”

”Mungkin kemudaanku yang muak pada politik, seperti para muda lain di banyak negeri yang ingin perubahan. Aku ingin tinggal di negeri yang merdeka dari para politisi rakus. Negeri yang semua rakyatnya bisa makan.”

Bus berhenti. Seorang perempuan berwajah India turun di depan Salvation Army, toko barang bekas yang menyediakan, baju, sepatu, peralatan dapur, buku, lukisan, dan furniture.

”Kuhabiskan semua tabungan untuk berimigran ke negeri ini. Kubayangkan aku bakal bergaji besar, mampu makan apa saja, punya mobil, punya rumah, berwisata di musim panas, dan sebagainya dan sebagainya seperti kehidupan yang kulihat di film-film. Untuk menikmati kesenangan itu, aku tak keberatan bekerja keras, seperti umumnya penduduk di negeri ini. Celakanya, ijasah universitasku tak diakui. Aku tak bisa jadi guru. Sementara buat hidup aku harus bekerja. Pekerjaan yang tak memerlukan ijazah adalah buruh pabrik. Kerjaku sekarang menempel stiker di pabrik panci. Gajiku, 8.00 dolar per jam. Aku kerja delapan jam sehari, lima hari seminggu. Itu hanya cukup untuk membayar apartemen, listrik, bus, dan makan. Perlengkapan yang ada di apartemen aku beli dari salvation army dan garage sale. Jaket, baju, jean, tidak celana dalam, juga dari salvation army. Ini tak akan terjadi jika aku di negeriku. Aku mau pulang saja mungkin buat selamanya.”

”Tak muak lagi pada politisi?”

”Masih muak, tapi apa dayaku. Akan kubantu saja anak-anak mempelajari banyak buku dan pikiran. Kelak, entah kapan, mungkin satu dari mereka, punya keberanian untuk mengemukakan pikiran tentang perubahan, perbaikan, dan didengar orang-orang di negeriku, orang-orang dari negeri lain. Kala itu, mungkin aku sudah mati!”

”Pulanglah kalau begitu,” ucap Sadrah pelan.

Mendadak ia rindu ibu-bapak, sepupu, ponakan, paman, dan tante. Teman-teman, apa kabarmu? Teman Sadrah, Kim, mengomandoi LSM perempuan. Luki jadi asisten salah satu menteri. Arsal, salah satu wakil ketua di sebuah partai. Meta, jadi wartawan TV. Kas, jadi pengamat politik, yang banyak menulis di media.

”Kelak, aku akan kembali ke negeri ini sebagai wisatawan bukan buruh pabrik panci. Pasti, pasti, aku akan mengunjungimu, jika kau masih di sini, dan naik bus nomor 211, duduk persis di sini ini, di paling belakang, Topik pembicaraan kita tentu akan berbeda,” khayal Helena. Lalu katanya pada Sadrah, ”Kau rindu negerimu?”

Mendadak Sadrah melempar pandang ke luar jendela, melewati bahu Helene. Bola matanya bergulir-gulir gelisah, loncat-loncat dari satu obyek ke obyek lain, dan lupa apa yang dilihatnya barusan.

Ia ingat semasa tak takut risiko. Rasanya suka saja melakukan sesuatu, setidaknya ia anggap sesuatu yang mulia saat itu, menggalang kesadaran buruh-buruh pabrik perempuan untuk tahu hak-haknya. Hak untuk diberi upah layak dan lingkungan kerja yang baik.

Hati Sadrah teriris saat berkunjung ke bilik para buruh, yang dihuni berlima, di tepi selokan dan pembuangan sampah, tempat lalat dan tikus berpesta pora, menghabiskan makanan sisa. Mereka tidur bersama di dipan renta, dekat kompor minyak tanah, dengan bau ikan asin dan cabe mentah di cobek, menu makan malam mereka nyaris setiap hari, yang belum dicuci, karena air yang digilir jamnya, lebih baik untuk minum. Upah mereka sungguh tidak layak untuk hidup.

Selanjutnya bersama mereka, Sadrah berdemontrasi di depan gedung MPR, di depan Istana Negara, di Bundaran Hotel Indonesia, di tempat-tempat strategis yang mudah dilihat siapa saja, termasuk para diplomat asing yang berkantor di wilayah itu.

Perusahaan makanan, garmen, pabrik sepatu lumpuh, tak bisa memenuhi pesanan. Beberapa pengamat memberi komentar hati-hati. Katanya, ia setuju gaji buruh dinaikkan. Tapi tolong, dalam kondisi negeri seperti ini, jangan banyak demo dulu. Pengusaha dari luar bakal tak sudi menanam investasi. Pengusaha bakal lari ke negeri Cina, yang buruhnya dibayar murah.

Hingga satu malam, empat orang pria bertopeng menculiknya, di depan rumah kosnya, sepulang demontrasi. Membawanya dengan mobil, ke satu tempat entah di mana. Kedua mata Sadrah ditutup, tangan, kaki, dan mulut Sadrah diikat. Sadrah lumpuh tak berdaya, saat ia diperkosa, secara bergilir. Esoknya tubuh Sadrah yang pingsan ditemukan seorang petani wortel tanpa identitas. Biadab!

Siapa pelakunya? Sampai kini tetap tanpa jejak, tak tertangkap. Mungkin file-file tentang peristiwa itu sudah di taruh paling bawah, di atas tumpukan file baru dengan peristiwa serupa, perkosaan. Orang mengeluarkan pendapat berbeda tentang si pemerkosa, mungkin antek-antek pengusaha yang tak suka pada aktivitas Sadrah, mungkin berandalan biasa, mungkin anak-anak muda yang sedang mabuk, dsb. Selaksa kemungkinan yang terbuka, tak ada artinya bagi Sadrah.

”Kamu baik-baik saja?” Helena cemas melihat wajah sadrah yang mengetat, sorot mata ngilu menahan sakit, dengan nafas tersengal-sengal. Ingatan pada malam jahanam itu telah membuat ia kembali merasakan emosinya meluap-luap di dada, di hatinya yang serasa ditusuki jarum, sakit pada ketidakberdayaannya, pada keinginannya untuk mati!

Sadrah menarik nafas panjang, menahannya, dan mengeluarkannya perlahan-lahan. Ia telah belajar untuk mengendalikan emosinya agar tak liar. ”Helene, aku tak akan pernah kembali ke negeriku, meski aku rindu keluargaku. Tak akan pernah!” Suaranya lirih, merintih.

Helena terpana.

Bus berada di atas jembatan layang. Di bawah sana tampak taman kota yang pepohonannya rindang dan kemilau oleh daun-daun, merah, kuning, dan coklat. Warna musim gugur yang mempesona mata, sebelum tiba musim dingin, di mana tanah akan dilapisi salju putih semata ”Bukan, bukan kerena aku suka daun-daun di musim gugur, ” tambah Sadrah mengatupkan kedua matanya.

Ingin sekali ia bercerita pada Helena untuk melegakan dadanya. Tapi betapa sulit bercerita tentang peristiwa yang membuatnya teraniaya dalam kesakitan yang menghimpit seluruh perasaan dan pori-porinya.

”Tak perlu kau ceritakan jika kau tak mampu,” ucap Helena, pengertian. ”Helene, satu waktu, jika kita masih ketemu, aku akan cerita tentangku, tentang tragedi yang menimpaku. Tentang mengapa aku meminta suaka ke negeri ini dan menetap di negeri ini karena aku tak punya pilihan!”

Bus nomor 211 masuk highway 20, menuju pusat kota. Tak ada lagi penumpang yang bisa berhenti hingga tiba di halte akhir, dekat statsiun bawah tanah, dekat pusat perbelanjaan, tempat Sadrah bekerja sebagai cleaning service di food court, bergaji 9.00 dolar sejam, delapan jam sehari, lima hari seminggu, selama dua tahun sudah.

Tugasnya adalah menyapu, mengepel, melap meja yang ditinggalkan berantakan, lalu memeriksa tempat sampah, membuangnya kalau sudah penuh dan mengganti dengan plastic sampah baru. Tugasnya adalah menjamin kamar mandi senantiasa bersih, sabun untuk mencuci tangan tersedia, dan tisu kamar mandi tidak habis.

Hari pertama bekerja, kulit tangannya melepuh oleh cairan pembersih karena ia lupa pakai kaos tangan karet. Hari pertama kerja badannya pegal linu, jemari tangannya kaku saat bangun tidur. Di rumah orangtuanya dulu, ada Sum yang bantu-bantu masak, ngepel, ngelap, dan mencuci baju. Tugas Sadrah hanya membereskan tempat tidur. Di rumah kosnya dulu, ada Yuk Ti, yang seminggu dua kali menyapu dan mengepel kamar. Mencuci dan menyetrika baju.

Montreal Feb, 2006

Cerpen: Ida Ahdiah

Sumber: Republika, Edisi 03/19/2006