Archive for the Ibnu Bajah Category

Karya-karya Ibnu Bajah

Posted in Karya with tags , , , , , on Agustus 9, 2012 by isepmalik

Ibnu Bajah memiliki banyak karangan, tetapi sebagian besar di antaranya banyak yang hilang dan hanya sebagian kecil yang sampai ke tangan kami. Menurut al-Qafthi, Ibnu Bajah memiliki banyak karangan di bidang ilmu pasti, logika dan filsafat.[1]

Ibnu Ushaibiah juga menyebutkan bahwa Ibnu Bajah memiliki banyak karangan yang menerangkan tentang buku-buku Aristoteles dan Galenos, serta buku-buku kedokteran dan teknik. Di antara buku-buku yang disebutkan Ibnu Abu Ushaibiah dan berkaitan dengan psikologi adalah buku berjudul Ittishal al-Aql bi al-Insan, Qaulun ‘ala al-Quwwat an-Nuzu’iyyah, Kitab an-Nafs, Kalam fi al-fahsh ‘an an-Nafs an-Nuzu’iyyah.[2]

Sesungguhnya karangan-karangan Ibnu Bajah yang ada di tangan kita berasal dari muridnya, Abu Bakar Hasan Ali bin Abdul Aziz yang popular dengan sebutan Ibnu al-Imam. Dialah orang yang mengumpulkan seluruh buku Ibnu Bajah dalam sebuah jilid tebal yang menjadi sumber penukilan murid-muridnya.[3]

Kami juga mendapatkan buku-bukunya yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Latin dan Ibrani. Banyak di antara karangan Ibnu Bajah yang terkenal ternyata tidak lengkap. Tentang hal itu, Ibnu Thufail yang sezaman dengannya berkomentar, “Sebagian besar karangan Ibnu Bajak tidak lengkap dan terpisah dengan bagian akhirnya, semisal bukunya tentang jiwa, Tadbir al-Mutawahhid, dan buku-bukunya di bidang logika dan ilmu alam.”[4]

Banyak di antara karyanya yang ada di tangan kami hanya berupa risalah (catatan singkat) dan komentar pendek, serta banyak di antaranya yang tidak berjudul. Kami akan menyebutkan sebagian dari karangannya yang berkaitan dengan jiwa, yaitu:

  1. Kitab an-Nafs, diterbitkan oleh Muhammad Shaghir Hasan al-Ma’shumi, Percetakan Lembaga Ilmu Pengetahuan Arabia Damaskus, 1960. Sebelum itu pernah dimuat di majalah yang diterbitkan oleh lembaga yang sama, (2 April 1958).
  2. Risalah al-Wada’, diterbitkan oleh Asin Balatsius di majalah al-Andalus, jilid kedelapan, tahun 1943, halaman 1-87. Risalah tersebut juga dimuat oleh Majid Fakhri di dalam buku Rasail Ibn Bajah al-Ilahiyah, Beirut: Penerbit Dar an-Nahar, 1968.
  3. Tadbir al-Mutawahhid, diterbitkan oleh Asin Balatsiyun di Madrid Granada tahun 1946.[5] Buku ini juga dimuat oleh Umar Farwakh dalam bukunya Ibn Bajah wa al-Falsafah al-Maghribiyah, Beirut: 1952. Majid Fakhri memuatnya di dalam buku Rasail Ibn Bajah al-Ilahiyah. Ibnu Bajah mengumpulkan semua pendapatnya di dalam buku ini, tetapi ia belum menyelesaikannya.
  4. Ittishal al-‘Aql bi al-Insan. Asin memuatnya di majalah al-Andalus volume 7 tahun 1942, halaman 1-47. Kemudian dimuat juga oleh Ahmad Fuad al-Ahwani sebagai lampiran buku Talkhish Kitab an-Nafs li Ibn Rusyd, Kairo: Maktabah an-Nahdhah al-Mishriyah, 1950, halaman 102-108 dan dimuat pula oleh Majid Fakhri di buku Rasail Ibn Bajah al-Ilahiyah.
  5. Fi al-Ghayah al-Insaniyah, dimuat oleh Majid Fakhri di buku Rasail Ibn Bajah al-Ilahiyah.
  6. Al-Wuquf ‘ala al-‘Aql al-Fa’al, dimuat oleh Majid Fakhri di buku Rasail Ibn Bajah al-Ilahiyah.
  7. Fi al-Fahsh ‘an al-Quwwat an-Nuzu’iyyah, dimuat oleh Abdurrahman Badawi di buku Rasail Falsafiyah li al-Kindi wa al-Farabi wa Ibn Bajah wa Ibn ‘Adi, cetakan III, Beirut: Dar al-Andalus, 1983, halaman 147-156.
  8. Wa min Qaulihi fi al-Quwwat an-Nuzu’iyyah dimuat oleh Abdurrahman Badawi di referensi sebelumnya halaman 157-167. Buku ini juga dimuat oleh Jamaluddin al-Alawi di buku Rasail Falsafiyah li Abi Bakr Ibn Bajah, Beirut: Dar ast-Tsaqafah, 1983, halaman 121-134.
  9. ‘An an-Nafs an-Nuzu’iyyah wa lam Tanza’ wa Bimadza Tanza’, dimuat oleh Jamaluddin al-Alawi di buku Rasail Falsafiyah li Abi Bakr Ibn Bajah, halaman 108-134.
  10. Fi al-Mutaharrik, dimuat oleh Jamaluddin al-Alawi di referensi terdahulu, halaman 135-139. Di buku tersebut, Ibnu Bajah membahas tentang dorongan pertama hewan, yaitu daya instink dan dorongan pertama manusia, yaitu bahasa yang menjadi dasar berpikir.

(Sumber: M. Utsman Najati. (2002). Jiwa dalam Pandangan Para Filosof Muslim).


[1] Jamaluddin al-Qafthi, h. 159.

[2] Ibnu Abu Ushaibiah, h. 516-517.

[3] Muhammad Shaghir Hasan al-Ma’shumi, op.cit., h. 4.

[4] Ibid., h. 5; Lihat juga, Ibnu Thufail, Hayy bin Yaqzhan, op.cit., h. 112.

[5] Lihat, ibid.

Iklan

Riwayat Hidup Ibnu Bajah

Posted in Ibnu Bajah, Riwayat Hidup with tags , , , , , on Agustus 8, 2012 by isepmalik

Dia bernama lengkap Abu Bakar Muhammad bin Yahya as-Shaigh, dan terkenal dengan sebutan “Ibnu Bajah” yang berarti perak dalam bahasa Prancis Maroko. Dia dilahirkan di Sarqusythah, sebuah kota di Andalusia (Spanyol) sekitar tahun 475 Hijriah/ 1082 Masehi. Di kota tersebut dia tumbuh dan besar. Ibnu Bajah meninggalkan Syarqusthah sebelum jatuh ke tangan Alfonso I, raja Aragon pada tahun 512 Hijriah atau 1118 Masehi. Setelah itu dia pindah ke Sibilia, lalu ke Granada, kemudian ke Pasa di Maghribi (Maroko)—di sana terdapat istana kaum Murabithin—dan mendapatkan nasib baik dari mereka, bahkan diberi kedudukan sebagai menteri.[1] Ibnu Bajah meninggal dunia pada tahun 533/1138 di kota Pasa dan sekaligus di makam di kota tersebut.

Ibnu Bajah adalah orang pertama yang memulai periode penulisan buku filsafat di Andalusia. Meskipun sebelumnya bermunculan sejumlah ilmuwan yang sibuk mendalami ilmu kuno di Andalusia, tetapi banyak di antara mereka yang tidak berani mempertahankan pendapatnya, terutama karena takut akan mendapatkan perlakuan buruk atau karena keterbatasan mereka dalam memahami tujuan filsafat.[2]

Para ahli sejarah kehidupan rasionalisme di kalangan kaum Muslim mengakui kelebihan Ibnu Bajah. Ibnu Abu Ushaibah berkomentar tentang Ibnu Bajah, “Sesungguhnya Ibnu Bajah adalah ‘Allamah (setingkat guru besar) pada zamannya di bidang ilmu hikmah. Dia memiliki kelebihan di bidang bahasa Arab dan sastra, penghafal al-Quran, sangat menguasai ilmu kedokteran, musik, antropologi, dan mempunyai beberapa komentar tentang teknik. Dia seorang yang sangat cerdas dan sangat memahami pendapat-pendapat Aristoteles.”[3]

Jamaluddin al-Qafthi juga berkomentar tentangnya, “Sesungguhnya Ibnu Bajah sangat menguasai ilmu-ilmu orang-orang terdahulu. Dia sangat pintar di bidang sastra, sehingga tidak ada yang dapat menandinginya pada saat itu.”[4]

Begitu pula Ibnu Thufail mengakui kelebihan Ibnu Bajah. Dia berkata, “Para ulama kelompok pertama yang muncul di Andalusia tidak menyisakan orang yang lebih cerdas, lebih valid berteori, dan lebih jujur berpikir daripada Abu Bakar bin Shaigh.”[5] Maksudnya, Ibnu Bajah.

Ibnu Rusyd juga banyak dipengaruhi oleh Ibnu Bajah. Itu diakui sendiri oleh Ibnu Rusyd dalam bukunya Talkhish Kitab an-Nafs, di mana dia menyebutkan bahwa semua penjelasan Ibnu Bajah tentang pembahasan akal adalah pendapat Ibnu Bajah sendiri. Tetapi pada saat yang lain, Ibnu Rusyd mengkritik sebagian pendapat Ibnu Bajah.[6]

Albert de Great, salah satu filosof Kristen Abad Pertengahan juga banyak dipengaruhi oleh Ibnu Bajah.[7]

Ibnu Bajah hidup pada masa pemerintahan kaum Murabithin, yaitu suatu masa yang terkenal dengan penindasan pemikiran dan kaum pemikir. Ibnu Bajah pernah mengalami penindasan semacam itu. ibnu Ushaibiah mengungkapkan, “Ibnu Bajah banyak mengalami cobaan dan penderitaan serta celaan dari kaum awam. Mereka pernah bermaksud membunuhnya, tetapi Allah menyelamatkannya dari usaha pembunuhan itu.”[8]

Al-Qafthi juga berkata, “Ibnu Bajah pernah bergabung dengan para dokter dalam disiplin mereka. Lalu mereka iri sehingga membunuhnya dengan racun.”[9]

Fatah bin Khaqan, penulis buku Qalaid al-‘Uqban pernah menyerangnya dengan sengit; menisbatkannya dengan konsep ta’thil (konsep yang meniadakan sifat Allah), aliran kaum filosof, berakidah rusak, dan beriman lemah. Ibnu Khalkan berkomentar tentang hal itu, “Ibnu Khalqan berlebihan dalam bersikap dan melampaui batas dalam membuat batasan mengenai keyakinan yang rusak.”[10]

Ibnu Bajah memiliki wawasan yang luas tentang filsafat Aristoteles dan Plato, serta tertarik dengan pendapat-pendapat kaum filosof Muslim Timur, semisal al-Kindi, al-Farabi dan al-Ghazali. Terutama sekali al-Farabi yang banyak memberikan pengaruh terhadap Ibnu Bajah. Ibnu Bajah mirip dengan al-Farabi dalam hal minat untuk menyendiri, merenung, dan penalaran rasional.

Ibnu Bajah pernah mengkritik al-Ghazali, karena ia memandang bahwa jalan yang benar untuk mencapai Allah adalah melalui berpikir dan perenungan filosofis, bukan kondisi-kondisi sufistik dan meninggalkan proses berpikir,[11]sebagaimana yang menjadi pandangan al-Ghazali.

(Sumber: M. Utsman Najati. (2002). Jiwa dalam Pandangan Para Filosof Muslim).


[1] Jamaluddin al-Qafthi, h. 526; Umar Farwakh, Tarikh al-Fikr al-‘Arabi, op.cit., h. 607.

[2] Ibnu Khalkan, juz 4, h. 431; Ibnu Abu Ushaibah, h. 516.

[3] Ibnu Ushaibah, h. 515-517.

[4] Jamaluddin al-Qafthi, h. 526.

[5] Ibnu Thufail, Hayy bin Yaqzhan, diberi kata pengantar dan ditahkikkan oleh Faruq Saad, Beirut: Dar al-Afaq al-Jadidah, 1974, h. 111-112.

[6] Muhammad Shaghir Hasan al-Ma’shumi, pengantar buku Kitab an-Nafs karangan Ibnu Bajah, Damaskus: Percetakan Lembaga Ilmu Pengetahuan Arabia Damaskus, 1960, h. 7.

[7] Henry Corbin, Tarikh al-Falsafah al-Islamiyah, op.cit., h. 341; Muhammad Ali Abu Rayyan, op.cit., h. 441.

[8] Ibnu Abu Ushaibiah, h. 515.

[9] Jamaluddin al-Qafthi, h. 265.

[10] Ibnu Khalkan, h. 429-430; Lihat juga, Umar Farwakh, Ibn Bajah wa al-Falsafah al-Maghribiyah, Beirut: Maktabah Mudzaimanah, 1945, h. 20.

[11] Umar Farwakh, Ibn Bajah wa al-Falsafah al-Maghribiyah, Beirut: Maktabah Faimanah, 1945, h. 31.