Archive for the Menyebarkan Ilmu Category

Menyebarkan Ilmu (4)

Posted in Menyebarkan Ilmu with tags , , , , , on April 27, 2012 by isepmalik

Kasihan sekali! Siapa yang mau melapangkan pikirannya untuk menerima keanehan-keanehan ini dan terpaksa mau mengakui bahwa keanehan-keanehan tersebut merupakan khasiat-khasiat yang bisa diketahui lewat mu’jizatnya sebagian para nabi. Bagaimana dia bisa dmengingkari hal-hal seperti ini menurut apa yang dia dengar dari ucapan nabi yang senantiasa jujur lagi pula diperkuat dengan kehadirannya berbagai mu’jizat di mana nabi itu sama sekali belum pernah melakukan suatu kebohongan. Dan jika dia mau menganalisa tentang kemungkinan khasiat-khasiat ini terdapat di dalam bilangan rakaat, dalam lemparan jumrah, pada bilangan rukun-rukun haji dan ibadah-ibadah syara lainnya, niscaya dia tidak akan menemukan antara khasiat-khasiat berbagai ibadah tersebut dan antara khasiat-khasiat obat-obatan suatu perbedaan sama sekali.

Jika terdapat seseorang yang berkata: “Aku telah mengadakan eksperimen sedikit dari ilmu perbintangan dan sedikit dari ilmu kedokteran; sehingga aku telah berhasil menemukan sebagaimana sebagai suatu yang benar, dan sebagai akibatnya terbetiklah suatu kepercayaan dalam diri saya untuk membenarkannya tetapi hatiku menentukan untuk menjauhi serta berlari dari padanya. Sedangkan yang ini belum pernah saya uji, lalu dengan cara apa aku bisa mengetahui kewujudan serta kebenarannya, kendatipun aku telah mengakui kemungkinannya”, cukuplah aku katakan: “Sesungguhnya anda tidak cukup hanya membenarkan apa yang telah anda eksperimenkan, tetapi anda juga harus mendengarkan berita-beritanya orang-orang yang telah melakukan eksperimen dan anda haruslah mengikuti mereka. Dengarkanlah ucapan-ucapan para wali, sebab merekalah yang telah melakukan eksperimen dan benarbenar telah menyaksikan kebenaran pada segala apa yang telah diturunkan oleh syara. Ikuti dan berjalanlah di atas jalan yang telah ditempuh mereka, kelak anda akan menemukan dan mengetahui sebagian perkara-perkara itu dengan penglihatan yang nyata kendatipun anda tidak mengadakan eksperimen lebih dulu, sehingga dengan sendirinya akal fikiran anda memutuskan dan bisa memastikan wajib membenarkan dan mengikuti dengan tanpa bisa dibantah lagi.

Andaikata kita berasumsi ada seorang yang telah dewasa lagi pula berakal, namun dia belum pernah mengalami takut, tanpa disangka-sangka sebelumnya ternyata dia jatuh sakit. Dan kenyataannya dia masih memiliki seorang ayah yang sayang sekali kepadanya dan pandai sekali tentang ilmu kedoktrean di mana dia sudah mendengar pengakuan ayahnya yang terkenal pandai ilmu kedokteran semenjak dua mulai bisa berfikir. Kemudian ayahnya meracik obat-obatan untuk dirinya sembari berkata: “Ini baik sekali untuk mengobati sakitmu dan ini bisa menyembuhkan dari sakitmu”. Maka keputusan apa yang akan dicetuskan oleh akal fikiran anda, kendatipun obat tersebut terasa pahit di mulut dan tidak enak rasanya, apakah obat tadi anda minum? Ataukah anda mendustakannya dan berkata: “Saya tidak bisa mencerna dan menerima dengan akal fikiran saya akan segi persamaan obat ini untuk bisa menghasilkan kesembuhan, sebab saya belum mencobanya?” Sudah tidak diragukan lagi anda tentu akan mengatakan, orang yang berkata seperti itu adalah orang yang dungu. Demikian pula halnya, anda akan dikatakan dungu oleh orang-orang yang telah mempunyai penglihatan hati (Ahlul Bashair) dalam ketidaktentuan dan kepasifan anda.

Jika anda menanyakan: “Dengan cara apa aku bisa mengetahui belas kasih Nabi Muhammad SAW dan mengetahuinya dengan mengkaitkannya kepada ilmu kedokteran?” Jawabannya adalah: “Dengan cara apa anda bisa mengetahui kasih sayang ayahmu?” Bukankah hal kasih sayang merupakan perkara yang tidak bisa diraba dengan indera? Tetapi anda bisa mengetahinya lewat karenah-karenah tindak lakunya, bukti-bukti perbuatannya, dan lewat beberapa penampilannya di mana semuanya itu bisa anda ketahui secara alami yang tidak perlu adanya latihan dan andapun tidak akan bisa menyangkal kebenarannya.

Seorang yang mau memperhatikan dengan cermat terhadap ucapan-ucapan Nabi SAW dan sunnah-sunnah yang diturunkannya dalam tugas pentingnya memberi petunjuk kepada makhluk serta kasih sayang beliau kepada sesama manusia yang telah beliau curahkan tanpa pilih kasih sampai kepada pembentukan akhlak yang luhur serta usaha beliau dalam membaikkan hubungan antara kedua orang yang bertengkar, dan pokoknya secara keseluruhan usaha-usaha beliau yang mengarah kepada perbaikan umat di dunia dan akhirat, itu bisa dia peroleh lewat pengetahuan yang sifatnya dharuri (tak usah dicari) bahwa kasih sayang Nabi kepada umatnya itu lebih besar bila dibanding dengan kasih sayang orang tua terhadap anaknya.

Apabila seseorang mau menilik dan mau menganalisa terhadap berbagai keajaiban suatu perkara yang nampak pada diri Rasulullah SAW, mulai dari tindakan-tindakannya, keajaiban-keajaiban perkara ghaib yang telah dikhabarkan Al-Quran lewat omongannya, dan pada berita-berita yang lain sampai kepada berita-berita yang telah beliau tuturkan tentang keadaan akhir zaman sedangkan munculnya hal-hal tadi yang telah beliau sebutkan bisa diketahui dengan spontanitas—bahwa perkara-perkara tersebut memang telah sampai pada suatu tingkatan atau lingkungan yang berada di belakang akal fikiran, sehingga terbukalah mata yang bisa menyingkap segala tabir keghaiban di mana hal ini tidak bisa dilakukan kecuali olrah orang-orang khusus, di samping itu tersingkap pulalah berbagai [erkara yang tidak bisa ditangkap oleh akal.

Ini merupakan suatu jalan untuk menghasilkan ilmu dharuri tentang kebenaran Nabi Muhammad SAW. Oleh karena itu ujilah dan renungkanlah Al-Quran dan lihatlah hadits-hadits beliau niscaya anda akan mengetahui itu semua dengan mata kepala.

Kiranya uraian yang tidak begitu panjang ini mampu untuk mengingatkan dan menyadarkan ahli-ahli filsafat, di mana uraian singkat ini kami kedepankan mengingat perlu sekali di zaman yang sudah seperti ini.

Adapun sebab keempat adalah lemahnya iman dikarenakan buruknya perilaku para ulama, sehingga penyakit ini perlu adanya pengobatan tiga perkara:

  1. Hendaknya anda berkayat bahwa seorang pandai (alim) yang telah anda duga bahwa dia memakan makanan yang haram, pengetahuannya terhadap haramnya perkara yang haram itu seperti pengetahuan anda terhadap haramnya khamar (tuak) dan harta riba, bahkan terhadap keharamannya mempergunjing orang lain dan adu dimba, padahal anda tahu hal itu, tetapi anda melakukannya. Alasannya bukan tidak percaya bahwa hal itu merupakan tindakan durhaka, namun karena anda telah dikalahkan oleh nafsu anda sendiri. Demikian pula hawa nafsunya juga seperti hawa nafsu anda, di mana hawa nafsu itu telah berhasil menguasainya sebagaimana anda juga kalah oleh hawa nafsu. Sedangkan pengetahuannya selain hal-hal ini berbeda sekali dengan anda di mana pengetahuan tersebut tidak lagi berimbang bila hanya dikaitkan dengan sekadar melarang untuk tidak melakukan perkara-perkara yang dilarang oleh syara. Berapa saja orang yang percaya terhadap ilmu kedokteran namun dia tidak betah menahan dirinya untuk tidak makan buah-buahan dan air kendatipun dia dilarang oleh seorang dokter untuk tidak memakannya. Dan hal itu bukannya menunjukkan bahwa makanan dan minuman itu tidak membahayakan atau bukannya menunjukkan bahwa kepercayaannya terhadap dokter itu tidak tulus, namun hal ini sangat ditentukan sekali terhadap kekhilafan ulama itu sendiri.
  2. Katakanlah kepada seorang yang masih awam: “Seyogyanya anda menanam kepercayaan bahwa seorang yang pandai (alim) membikin ilmunya sebagai simpanan untuk dirinya untuk diambil kelak di akhirat, dan orang alim ini menduga bahwa ilmunya itulah yang nantinya akan bisa menyelamatkannya serta menolongnya sehingga dia tenang-tenang serta enak-enakan dalam beramal karena keutamaan ilmunya. Sekalipun kini mungkin akan menambah argumentasi bagi orang awam tersebut, namun hal itu akan menambah derajat bagi seorang alim dan ini sangat mungkin sekali. Sebab bagaimanapun juga andaikata dia (orang alim) tidak melakukan amal sama sekali, namun dia masih punya cadangan ilmu. Tetapi kalau anda, wahai orang awam, jika anda selalu menelitinya sedangkan anda sama sekali tidak mempunyai imu niscaya anda akan rusak sebab buruknya amal anda dan anda tidak memiliki penolong”.
  3. Menurut kenyataannya orang alim itu tidak akan senantiasa berbarengan dengan kemaksiatan, kecuali jika terjadi dengan tidak disengaja atau khilaf. Di samping itu dia tidak akan selalu menjalankan kemaksiatan-kemaksiatan, sebab ilmu hakiki (yang sebenarnya) adalah ilmu yang bisa untuk melihat dan mengetahui bahwa maksiat merupakan racun yang mematikan, bahwa akhirat itu lebih baik daripada dunia. Seseorang yang telah mengerti demikian itu niscaya dia tidak akan mau menjual perkara yang baik dengan sesuatu yang buruk.

Ilmu yang seperti inilah yang tidak bisa didapat dengan mengetahui berbagai macam ilmu yang digeluti oleh kebanyakan manusia. Oleh sebab itulah ilmu-ilmu tersebut tidaklah menambah kepada mereka kecuali berani untuk bermaksiat kepada Allah SWT.

Adapun ilmu hakiki mempunyai ciri khas menambah takut dan takwa bagi si pemiliknya, sehingga ilmu tersebut akan bisa merupakan benteng antara dirinya dan maksiat kecuali kekhilafan-kekhilafan yang senantiasa menempel pada diri setiap insan pada beberapa kesempatan, dan hal itu bukan berarti menunjukkan kemahnya iman. Sebab seorang mu’min tentu terkena fitnah lagi pula banyak taubatnya, dan dia sendiri tentunya dijauhkan dari terus-menerus melakukan maksiat.

Demikian inilah sesuatu yang hendak aku sebutkan dalam mencela ilmu filsafat dan Ta’lim beserta afat-afatnya serta berbagai afatnya orang yang mengingkari kedua ilmu tersebut kecuali dengan metodologinya.

Akhirnya kami memanjatkan do’a dan pertolongan kepada Allah Yang Maha Agung agar Dia mau menjadikam kami termasuk orang-orang yang telah Dia beri petunjuk menuju ke jalan yang benar serta Dia beri petunjuk dan selalu Dia beri ilham untuk senantiasa ingat kepada-Nya sehingga tidak akan melupakan-Nya, dan Dia jadikan termasuk orang-orang yang Dia lindungi dari kejahatan dirinya sendiri sehingga tidak ada yang bisa mempengaruhinya selain Allah dan semoga Dia menjadikan kami termasuk orang yang Dia murnikan untuk diri-Nya sendiri sehingga tidak akan menyembah kecuali kepada-Nya.

Iklan

Menyebarkan Ilmu 3

Posted in Menyebarkan Ilmu with tags , , , , , on April 25, 2012 by isepmalik

Dan hendaknya memberi rizki kepadaku untuk bisa mengikuti perkara yang benar secara konstan. Hendaknya Dia memperlihatkan suatu kebatilan kepadaku sehingga dengan demikian aku bisa dan mampu untuk menjauhi serta menghindarinya.

Sekarang aku kembali kepada apa yang pernah aku sebutkan dari berbagai sebab lemahnya iman dengan menyebutkan metoda pemberian petunjuk dan penyelamatan mereka dari berbagai kerusakan. Sedangkan orang-orang yang mengaku bingung terhadapa apa yang pernah mereka dengan dari “ahli pengajaran”, cara pengobatannya adalah uraian yang telah kami sebutkan di dalam “Al-Qisthas Al-Mustaqim”, dan sengaja kami tidak membahas dan menguraikan secara panjang lebar di dalam risalah yang sekecil ini.

Tentang hal yang dibingungkan Ahli Ibadah itu telah kami ringkas kesyubhatan-kesyubhatan mereka di dalam tujuh macam dan kami tuangkan serta telah kami ungkapkan di dalam kitab “Kaimiya As-Sa’adah”.

Dalam memberi sanggahan serta pengarah kepada orang-orang yang telah rusak imannya karena mereka menempuh jalannya ahli filsafat sehingga orang-orang ini mengingkari akan benarnya pokok-pokok kenabian, telah kami sebutkan hakikat serta wujudnya kenabian dengan suatu bukti adanya ilmu khasiat-khasiat obat-obatan, ilmu perbintangan dan lain sebagainya.

Kami kedepankan muqaddiman ini demu menunjang hal-hal tersebut. Di samping itu aku juga menurunkan bukti-bukti dari khasiat-khasiat ilmu kedokteran dan ilmu perbintangan sebab bukti-bukti tersebut bersumber dari ilmu mereka (Ahli Filsafat). Kami sendiri memberi penjelasan kepada setiap orang yang alim (pandai) terhadap salah satu vak (disiplin) ilmu tertentu misalnya, seperti ilmu kedokteran, ilmu perbintangan, ilmu alam, ilmu sihir dan ilmu perazimatan (tilsamah), dari ilmunya sendiri akan bukti-bukti kenabian.

Mereka yang menetapkan kenabian hanya dengan lisannya saja, tetapi kemudian meletakkan peraturan-peraturan syara berdasarkan hikmah, maka orang-orang yang seperti ini sudah jelas kafir terhadap kenabian, namun mereka percaya kepada seorang yang bijaksana dan penelaah tertentu di mana penelaahaannya itu sudah seharusnya untuk diikuti. Ini sama sekali tidak bisa dikatakan sebagai percaya kepada kenabian, tetapi percaya kepada kenabian haruslah disertai ikrar dengan menetapkan perkembangan di belakang akal yang di situ terbukalah mata yang bisa mengetahui beberapa penemuan tertentu di mana akal tidak lagi berfungsi terhadapnya, seperti tidak berfungsinya pendengaran untuk bisa mengetahui berbagai warna, tidak berfungsinya penglihatan untuk bisa menangkap beberapa suara dan tidak berfungsinya seluruh indera untuk bisa mengetahui segala sesuatu yang didapat dari akal.

Jika sekiranya mereka tidak mau mengakui hal-hal ini, terpaksa aku mengemukakan bukti-bukti atas kemungkinannya bahkan atas kewujudannya. Dan bila mereka mau mengakui hal-hal ini, berarti telah menetapkan dan meyakini bahwa di sana terdapat beberapa perkara yang disebut dengan khasiat-khasiat yang sama sekali tidak bisa dijangkau oleh akal, bahkan akal cenderung membohongkannya dan menghukumi dengan kemustahilannya. Sebab seperenam dirham dari afiun merupakan racun yang mematikan, karena dia bisa membikin darah membeku di dalam pembuluh-pembulhnya saking dinginnya pengaruh yang dihasilkannya. Sedangkan orang yang mengaku tahu sedikit tentang ilmu alam tentunya akan menduga bahwa susunan benda itu menjadi dingin hanya disebabkan adanya dua unsur, yaitu unsur air dan unsur tanah, sebab keduanya merupakan dua unsur dingin. Dan sudah tidak asing lagi bahwa sekian liter air dan sekian liter tanah tidak bisa merasukkan kadar kedinginannya di dalam tubuh sampai kepada batas ini. Kemudian andaikata seorang ahli ilmu alam diberitahu hal ini, tetapi dia belum mencoba dan membuktikannya, tentulah dia akan berkomentar: “Ini adalah sesuatu yang mustahil terjadi”. Adapun bukti kemustahilannya bisa dilihat bahwa di dalam tubuh manusia terdapat unsur api dan unsur udara, sedangkan unsur api dan unsur udara itu tidaklah bertambah kedinginannya sehingga kita bisa memperkirakan semuanya sebagai air dan tanah. Maka dengan demikian kesangatan dalam menimbulkan kedinginan itu tidaklah harus terjadi.

Maka apabila dua unsur panas bergabung di dalam diri manusia, sudah barang tentu lebih tidak mendatangkan pendinginan darah yang sampai membeku, dan ini dibilang sebagai suatu tanda bukti.

Pada dasarnya kebanyakan bukti ahli-ahli filsafat di dalam ilmu alam dan ilmu ketuhanan bertumpu pada jenis ini, sebab mereka membayangkan berbagai perkara itu hanyalah berdasar pada perkiraan sesuatu yang telah mereka temukan dan yang sudah bisa mereka cerna dengan akalnya, sedangkan perkara-perkara yang tidak bisa mereka jangkau dengan akal, maka mereka perkirakan saja kemustahilannya. Andaikan saja tidak cepat tertolong oleh impian yang benar lagi terkenal dan ada orang yang mengaku bahwa tatkala seseorang itu tidur dapat melihat dan mengetahui perkara-perkara yang gaib, niscaya orang-orang yang melakukan jalan pemikiran seperti ini akan tidak mempercayainya.

Katakanlah kepada salah seorang: “Apakah mungkin terjadi di dunia ini ada sesuatu benda yang ukurannya sebesar biji-bijian yang diletakkan di suatu negeri. Kemudian tak antara lama sesuatu itu bisa menelan segala apa saja yang berada di dalam negeri tersebut, dan tak antara lama dia menghabiskan dirinya sendiri, sehingga tiada sesuatupun yang rupanya masih tertinggal dan tersisa dari negeri tersebut berikut segala isinya dan benda itupun sudah habis dan musnah sama sekali”, orang tersebut tentu akan bilang: “Ini merupakan sesuatu yang mustahil terjadi, dan merupakan salah satu dari bentuk cerita-cerita khayal yang dibikin-bikin saja”. Padahal hal ini merupakan keadaannya api, dan sudah barang tentu dia akan diingkari seseorang yang sama sekali belum pernah melihat api seumur hidupnya tatkala dia baru mendengarnya. Dan kebanyakan dari pada keajaiban-keajaiban akhirat memang senada dan searah dengan cerita di atas.

Kami katakan kepada seorang ahli dalam ilmu kalam: “Anda terpaksa mengakui bahwa di dalam afiun terdapat khasiat yang berfungsi mendinginkan yang tidak perlu menganalogikan kepada sesuatu yang bisa diterima akal. Jika demikian halnya kenapa di dalam peraturan-peraturan syara tidak boleh terjadi adanya khasiat dalam memberi pengobatan terhadap hati serta menjernihkannya yang tidak bisa diketahui oleh kebijaksanaan serta kecerdikan akal? Malah khasiat itu tidak bisa dilihat kecuali dengan mata kenabian (fakta kenabian). Dan yang paling aneh dan ajaib adalah bahwa mereka bisa mengakui berbagai khasiat yang lebih aneh lagi daripada khasiat ini, yaitu suatu khasiat yang telah mereka turunkan di dalam kitab mereka di mana khasiat tadi memberi petunjuk manjur tentang bagaimana caranya mengobati seorang wanita hamil yang kesulitan dalam melahirkan dengan sebuah skema tulisan seperti berikut ini:

ع

٩

٢

د

ط

ب

٣

٥

٧

ج

ه

ز

٨

١

٦

ح

ا

و

Petunjuk Penggunaan:

Tulislah skema tersebut pada dua lembar kain yang belum dibasahi air kemudian wanita yang hamil tadi suruhlah melihat pada dua kain yang telah bertuliskan skema dengan kedua matanya, lalu taruhlah di bawah kedua telapak kakinya, niscaya dia akan cepat melahirkan seketika itu pula. Ahli ilmu alam itu mengakui dan mempercayai kebuktiannya hal-hal yang seperti itu dan mereka tungkan di dalam kitab “Aja’ibul Khawwash”. Skema tersebut terdiri dari sembilan ruang dengan diberi angka-angka tertentu pada tiap-tiap ruang yang apabila dijumlah pada setiap garisnya akan ketemu lima belas (15) di mana anda bisa membacanya ke bawah maupun ke atas artinya vertikal maupun horisontal atau menyudut (diagonal).

Alangkah ruginya orang yang mempercayai akan hal itu, namun akal fikirannya tidak mau membenarkan bahwa kepastian shalat subuh dua rakaat, shalat zhuhur empat rakaat dan shalat maghrib tiga rakaat mengandung berbagai khasiat yang tidak bisa dicerna oleh akal fikiran dengan mengandalkan kebijaksanaan serta kecerdasannya. Sedangkan sebab khasiat-khasiatnya justru karena perbedaan waktunya. Dan barangkali khasiat ini bisa ditemukan dengan menggunakan cahaya (nur) kenabian.

Yang aneh adalah andaikata kami merubah suatu gambaran dengan gambarannya ahli-ahli perbintangan, tentulah mereka akan dapat mencerna dengan akalnya tentang perbedaan waktu-waktu ini. Kemudian kami bisa berkomentar: “Bukankah perbedaan waktu itu merupakan perbedaan hukum pada tukang ramal dengan suatu gambaran matahari berada di tengah-tengah langit, atau pada saat matahari terbit atau matahari di kala terbenam, sehingga mereka mempunyai dasar yang kuat atas perkara ini dalam menentukan langkah-langkah mereka terhadap perbedaan pekabaran yang belum jelas dan beberapa keterpautan umur dan ajal.

Dan tidak ada perbedaan antara kedudukan matahari tergelincir (rembang) dan antara matahari berada di barat (tenggelam). Maka apakah untuk membenarkannya terdapat jalan kecuali bahwa hal itu hanya didengarnya dengan gambaran seorang ahli perbintangan, barangkali dia telah menguji dan mencoba kebohongannya seratus kali. Dan senantiasa anda akan mengulangi untuk membenarkannya, sehingga andaikata seorang ahli perbintangan (astrolog) berkata: “Jika matahari bercokol di tengah langit, lalu berhadapan dengan bintang Anu sedangkan yang muncul adalah zodiak Anu, maka anda kebetulan mengenakan baju pada waktu itu, niscaya anda akan mati di dalam pakaian tersebut”. Spontan adanya omongan tersebut, dia melepas pakannya pada waktu itu pula, sekalipun dia akan merasakan kedinginan yang sampai merasuk tulang dan kendatipun dia mendengar hal itu dari seorang ahli perbintangan yang sudah terbukti dan sudah seringkali melakukan kebohongan berkali-kali.

Menyebarkan Ilmu (2)

Posted in Menyebarkan Ilmu with tags , , , , , on April 18, 2012 by isepmalik

Jika ditanyakan kepadanya: “Apabila kenabian itu tidak benar, lantas untuk apa anda mengerjakan shalat?” Barangkali dia akan bilang: “Untuk berolahraga, kebiasaan penduduk negeri ini dan menjaga harta serta anak”. Dan barangkali dia akan berkomentar: “Undang-undang syara memang benar dan kenabian juga merupakan sesuatu yang benar”. Kemudian tanyakan kepadanya: “Lantas untuk apa anda meminum arak?”. Spontan dia akan menjawab: “Arak dilarang dan haram untuk diminum karena ia bisa menimbulkan permusuhan dan kebencian, akan tetapi saya berkat hikmah (kebijaksanaan) yang aku miliki dapat terhindar dari hal-hal itu semua, dan saya melakukan ini dengan tujuan menajamkan serta mengarah pikiranku”. Sampai-sampai Ibnu Sina telah menyebutkan di dalam wasiatnya yang telah ditulisnya bahwa dia telah mengangkat janji kepada Allah ta’ala untuk melakukan ini dan melakukan itu dan dia berjanji akan mengagungkan siapa saja yang telah digariskan oleh syara dan tidak akan seenaknya saja dalam melakukan ibadah agama (diniyyah) dan ibadah badan (badaniyyah) dan dia tidak akan minum (arak) karena hanya senang-senang belaka, namun meminumnya karena dipakai sebagai obat dan sebagai penyembuh. Sehingga kondisi final Ibnu Sina dalam kejernihan serta kemurnian iman dan dalam menjalani ibadah adalah mengecualikan minum arak demi tujuan penyembuhan.

Gambaran seperti itulah, gambaran imannya orang yang mengaku dirinya telah beriman dari golongan “Filsafat Ketuhanan”. Iman yang seperti ini beserta orang-orang yang sejalan dengan aliran ini telah memperdaya sekelompok manusia dan ia tambah memperdaya mereka dengan suatu tipu muslihat yang bisa melemahkan sanggahannya orang-orang yang tidak sependapat tatkala mereka mengeluarkan sanggahannya dengan menentang ilmu pasti, ilmu logika dan lain-lainnya yang terdiri dari sesuatu yang telah mereka miliki secara otomatis, sebagaimana keterangan yang telah kami singgung di muka.

Ketika aku melihat beberapa kelompok makhluk telah mengalami lemah iman sampai pada batas ini dengan beberapa sebab ini pula dan jiwaku saya lihat memang terpanggil untuk menyingkap ketidaktentuan ini, sehingga aib dan cacat mereka itu sudah terasa begitu gampangnya bagiku dari pada sekadar meminum air karena aku banyak menyelami ilmu mereka yakni golongan sufi, golongan filsafat, golongan ta’limiyyah dan orang-orang yang tercatat sebagai ulama, maka terpecahkan olehku bahwa hal itu bisa dipastikan terwujudnya di saat ini. Maka tidak ada gunanya lagi anda melakukan khalwat dan melakukan uzlah sebab penyakit benar-benar telah merata dan dokter-dokter sama sakit dan manusia semuanya hampir terjerumus dalam kehancuran.

Kemudian aku bertanya kepada diriku sendiri: “Kapan anda sendirian menyibakkan mendung dan mendobrak kegelapan ini? “Padahal zaman ini adalah zaman fatrah (kosong mujaddid), periodenya adalah periode kebatilan. Dan andaikata anda menyibukkan diri mengajak kepada manusia untuk meninggalkan cara-cara hidup mereka menuju kepada kebenaran, niscaya anda akan dimusuhi seluruh manusia pada zaman ini, lalu dari mana anda harus menentang mereka? Lantas bagaimana anda bergaul dengan mereka? Sedangkan hal itu bisa sukses secara sempurna haruslah ditunjang dengan zaman yang menolong dan penguasa yang benar-benar beragama kuat.

Kemudian aku minta keringanan kepada Allah ta’ala dengan tetap melangsungkan uzlahku sembari beralasan karena tidak mampu untuk menampakkan kebenaran dengan argumentasi. Lantas Allah ta’ala mentakdirkan dengan menggerakkan hatinya penguasa pada waktu itu dari dirinya sendiri dengan tanpa ada yang menggerakkannya dari luar, sehingga penguasa tersebut mengeluarkan perintah tegas kepadaku untuk segera pergi ke Naisabur guna mengisi kekosongan ulama. Dan perintah tegas itu memang sudah sampai pada batas yang sudah tidak bisa dibantah lagi, andaikata aku bantah niscaya akan memuncak kepada keadaan yang membahayakan. Kemudian terlintaslah di dalam benakku bahwa sebab rukhsah (kemurahan) sudah benar-benar lemah, sehingga tidak seyogyanya apabila pembangkit dan yang mendorongku untuk melakukan uzlah yang tidak ada henti-hentinya adalah kemalasan dan ingin beristirahat, mencari kemuliaan diri dan menjaganya dari gangguan makhluk, dan tidak mau menempatkan diri secara enak dengan menghadapi kesulitan dan kekerasan manusia. Dan bukankah Allah ta’ala berfirman:

“Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Alif laam miim. Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta” (Al-Ankabut: 1-3).

Allah Azza wa Jalla berfirman kepada Rasul-Nya di mana dia adalah makhluk-Nya yang paling mulia:

“Dan sungguh telah didustakan rasul-rasul sebelum kamu, maka mereka bersabar atas apa yang telah menyebabkan mereka didustakan dan mereka disakiti sehingga datanglah pertolongan Kami kepada mereka. Tiadalah bisa ditukar peraturan Allah. Sesungguhnya telah datang kepada engkau dari pekabaran rasul-rasul itu” (Al-An’am: 34).

Allah Azza wa Jalla berfirman:

“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Yaasiin. Demi Al-Quran yang penuh hikmah, sesungguhnya kamu salah seorang dari rasul-rasul (yang berada) di atas jalan yang lurus (sebagai wahyu) yang diturunkan oleh Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang, agar kamu memberi peringatan kepada kaum yang bapak-bapak mereka belum diberi peringatan, karena itu mereka lalai”.

Sesungguhnya telah pasti berlaku perkataan (ketentuan Allah) terhadap kebanyakan mereka, karena mereka tidak beriman. Sesungguhnya Kami telah memasang belenggu di leher mereka, lalu tangan mereka (diangkat) ke dagu, maka karena itu mereka tertengadah.

Dan Kami adakan di hadapan mereka dinding dan di belakang mereka dinding (pula), dan Kami tutup (mata) mereka sehingga mereka tidak dapat melihat. Sama saja bagi mereka apakah kamu memberi peringatan kepada mereka ataukah kamu tidak memberi peringatan kepada mereka, mereka tidak akan beriman.

Sesungguhnya kamu hanya memberi peringatan kepada orang-orang yang mau mengikuti peringatan dan yang takut kepada Tuhan yang Maha Pemurah walaupun dia tidak melihatnya. Maka berilah mereka kabar gembira dengan ampunan dan pahala yang mulia” (Yaasiin: 1-11).

Ayat-ayat tersebut di atas aku musyawarahkan bersama dengan sekelompok ahli fikir dan orang-orang yang sudah mencapai tingkat musyahadah. Kemudian mereka sepakat memberi isyarah untuk meninggalkan uzlah dan keluar dari tempat menyepi. Dan hal itu masih diperkuat oleh beberapa impiannya orang-orang shalih yang banyak sekali jumlahnya dan sudah mutawatir di mana impian itu memberi kesaksian bahwa gerakan yang seperti ini merupakan tonggak awal daripada kebaikan dan petunjuk yang telah ditakdirkan dan digariskan oleh Allah SWT pada setiap penghujung seratus tahun. Dan Allah juga telah menjanjikan akan menghidupkan agamanya, sehingga harapanku menjadi semakin kokoh saja dan “husnuzan” saya menjadi menang disebabkan adanya kesaksian-kesaksian ini.

Dan ternyata Allah ta’ala memberi karunia kegampangan untuk bergerak ke Naisabur untuk melaksanakan urusan penting ini pada bulan Dzulqa’dah tahun 2999 H, sedangkan masa keluarku dari Baghdad pada bulan Dzulqa’dah tahun 488 H, sebab masa uzlaku berlangsung sampai sebelas tahun. Ini merupakan suatu gerakan yang telah ditakdirkan oleh Allah ta’ala, di samping itu gerakan ini merupakan salah satu keajaiban takdir Allah yang belum terpecahkan di dalam hati selama menjalankan uzlah, seperti halnya keluarku dari Baghdad dan meninggalkan keadaan-keadaan seperti itu sama sekali tak pernah terlintas di dalam benakku. Memang Allah-lah yang merubah dan membolak-balik hatiku serta keadaanku, seperti yang ditandaskan oleh sabda Nabi Muhammad SAW: “Hatinya orang-orang mu’min itu terletak di celah-celah dua jari Ar-Rahman (Allah)”.

Saya tahu benar terhadap keadaanku, kendatipun aku kembali menyebarkan ilmu namun aku tidak kembali kepada keadaan sebenarnya, sebab kembali yang sebenarnya adalah kembali menjalankan kegiatan yang pernah terjadi dan pernah saya alami pada zaman itu di mana aku pernah menyebarkan ilmu demi meraih pangkat. Saya mengajak kepada ilmu itu dengan ucapan dan amalku, dan itulah yang menjadi maksud dan niatku. Adapun keadaan sekarang ini memang aku sedang mengajak kepada ilmu yang mengarah kepada suatu sasaran untuk meninggalkan pangkat dan ilmu yang bisa dipakai untuk mengetahui betapa rendahnya posisi pangkat. Tujuan seperti inilah yang merupakan niatku serta angan-angan yang telah saya idam-idamkan. Allah tentu tahu hal itu dariku dan saya sangat ingin memperbaiki diri serta gairahku. Saya tidak tahu apakah nantinya aku bisa sampai kepada maksudku ataukah nantinya aku gagal dalam mewujudkan maksudku tersebut, namun aku percaya sepenuhnya bahwa tiada daya dan kekuatan kecuali hanya dari Allah Yang Maha Agung, dan sesungguhnya aku tahu bahwa saya tidak bergerak tetapi aku digerakkan oleh Allah. Di samping itu aku juga tahu bahwa saya tidaklah bekerja namun aku dibekerjakan Allah.

Dengan demikian langkah yang aku ambil, aku minta kepada Allah agar Dia sudi memperbaiki keadaanku, kemudian memperbaiki apa yang ada padaku, Dia mau memberi petunjuk kepadaku sehingga aku mendapatkan petunjuk. Dan hendaklah Dia mau memberi kekuatan kepadaku untuk melihat perkara yang benar sebagai sesuatu yang benar.

Menyebarkan Ilmu (1)

Posted in Al-Munqidz min Adh-Dhalal, Menyebarkan Ilmu with tags , , , , , on April 15, 2012 by isepmalik

Ketika saya melakukan uzlah dan khalwat secara aktif selama kurang lebih sepuluh tahun, nampaklah olehku di tengah-tengah pekerjaanku dari sebab-sebab yang tidak bisa aku hitung lagi, sekali tempo dengan dzauq dan sesekali dengan ilmu yang berdasar pada dalil dan suatu kesempatan dengan iman yang bisa diterima bahwa sebenarnya manusia itu dititahkan dari badan dan hati. Yang saya maksudkan hati di sini adalah hakikat ruh di mana dia merupakan tempat untuk mengetahui Allah SWT, bukannya daging dan darah yang bisa dimiliki oleh orang yang mati dan hewan.

Perlu diketahui bahwa badan memiliki sehat yang dengan kesehatan ini badan menjadi bahagia, di samping itu badan juga mengalami sakit yang menjadikan kehancurannya. Demikian pula hati dia memiliki kesehatan dan keselamatan, dan tidak ada yang akan selamat kecuali “orang yang datang kepada Allah dengan hati yang suci”. Dan hati juga mempunyai penyakit yang menyebabkan kehancuran abadi dan bersifat ukhrawi, seperti apa yang telah Allah ta’ala firmankan: “Di dalam hati mereka ada penyakit”. Di tambah lagi bahwa tidak tahu kepada Allah merupakan racun yang amat membahayakan, dan bahwasanya durhaka kepada Allah dengan mengikuti hawa nafsu merupakan penyakit yang menyakitkan. Sebaliknya ma’rifat (tahu) kepada Allah ta’ala merupakan air penawar yang bisa menghidupkan, dan taat kepada Allah dengan tidak mengikuti hawa nafsu merupakan obatnya hati yang menyembuhkan.

Tiada jalan lain untuk mengobati hati guna menghilangkan penyakitnya dan mencari kesehatannya kecuali dengan memakai berbagai obat, seperti halnya tiada jalan lain untuk menyembuhkan badan kecuali dengan bermacam-macam obat.

Seperti obat-obat badan bisa berpengaruh dalam upaya memberi kesembuhan dengan khasiat yang terkandung di dalamnya di mana khasiat itu tidak bisa ditemukan oleh orang-orang yang berakal dengan bagian akalnya, bahkan di situ seseorang harus ikut kepada para dokter yang telah mengambil khasiat itu dari nabi-nabi yang telah melihat khasiat kenabian atas khasiat-khasiat berbagai perkara. Demikian pula dengan sendirinya tampaklah olehku bahwa obat-obat ibadah dengan segala batasan dna ukurannya yang telah ditentukan dari pihak nabi-nabi yang tidak bisa diketahui segi pengaruhnya dengan bagian akalnya orang-orang yang berakal, tetapi seseorang diharuskan mengikuti para nabi yang telah mengetahui khasiat-khasiat itu dengan cahaya kenabian, bukannya dengan bagian akal. Seperti juga obat-obatan yang tersusun dari macam dan ukuran, maka sebagian obat-obatan itu berlipat ganda atas sebagian yang lain dalam timbangan dan ukurannya sehingga perbedaan berbagai ukuran obat-obatan tersebut tak lepas dari rahasia di mana rahasia itu tercipta dari arah khasiat.

Demikian pula halnya dengan ibadah-ibadah yang merupakan obatnya penyakit hati yang tersusun dari beberapa pekerjaan yang beraneka ragam bentuk dan macamnya serta beraneka ragamnya ukuran, sehingga sujud merupakan penggandaan dari pada rukuk, dan shalat shubuh adalah separo dari pada shalat ashar dalam ukurannya, dengan demikian dia tidak terlepas dari suatu rahasia yang datangnya dari beberapa khasiat yang tidak bisa dilihat kecuali dengan cahaya kenabian.

Sungguh amat bodoh dan sangat dungu sekali orang yang hendak beristimbat (mengeluarkan khasiat) dengan cara akal di mana khasiat itu memiliki hikmah atau dia menduga bahwa hikmah itu hanya bisa disebutkan secara kebetulan saja dan bukannya lewat rahasia larangan yang terdapat di dalamnya yang mengharuskan untuk memakai cara khasiat tersebut.

Sebagaimana obat-obatan itu memiliki beberapa pokok yang merupakan sendi-sendinya, dan memiliki beberapa tambahan yang merupakan kesempurnaannya di mana masing-masing mempunya pengaruh khusus dalam mengamalkan pokok-pokok khasiat tersebut, maka beberapa nafilah dan beberapa kesunatan juga merupakan kesempurnaan untuk menyempurnakan beberapa sendi ibadah.

Secara garis besarnya, para nabi merupakan dokternya penyakit hati. Adapun faidah akal dan manfaatnya ialah supaya kita tahu akan hal-hal yang disebutkan tadi dan bisa menyaksikan kenabian dengan mengakui kebenarannya serta mengerti kelemahan dirinya untuk mengetahui sesuatu yang dapat diketahui dengan mata kenabian dan mengambil dengan tangan kita lalu kita menyerahkannya seperti penyerahannya orang buta kepada penuntunnya dan seperti penyerahan orang sakit yang bingung kepada para dokter yang mengasihinya. Nah, hanya sampai sejauh itulah yang bisa dicapai oleh kekuatan akal. Ia terletak di seberang, terpisah dari sebagian yang lain yang dapat difahami hanya yang ada pertaliannya dengan apa yang diberikan oleh dokter kepadanya.

Semua ini merupakan perkara-perkara yang telah kami ketahui secara spontan yang berjalan pada jalur musyahadah yang aku alami selama aku beruzlah dan berkhalwat.

Kemudian aku amati adanya kelemahan serta kemunduran pada sendi kenabian, kemudian pada hakikat kenabian, kemudian pada pengamalan terhadap apa yang telah dijabarkan oleh kenabian (nubuwwat). Kami membuktikan sendiri akan meluasnya hal itu di tengah-tengah masyarakat, lantas aku menganalisa tentang sebab-sebab terjadi lemahnya manusia serta lemahnya iman mereka ternyata aku bisa menyimpulkan empat sebab:

  1. Karena ada hubungannya dengan mereka yang mendalami ilmu filsafat.
  2. Karena ada kaitannya dengan mereka yang menyelami tarekat tasawuf.
  3. Karena ada hubungannya dengan mereka mengaku diirnya sebagai kelompok ta’lim (pengajaran).
  4. Karena pergaulan dengan orang-orang yang memiliki tanda sebagai yang berilmu di kalangan manusia.

Lantas aku mengadakan pendekatan kepada manusia satu demi satu di mana aku bertanya siapa di antara mereka yang seenaknya saja dalam menjalankan hukum syara’, aku tanyakan tentang kebimbangannya dan aku selidiki akidah serta rahasia pribadinya. Kemudian aku bertanya kepada salah seorang: “Kenapa anda seenaknya saja dalam mengikuti hukum syara’? Jika anda benar-benar percaya kepada kehidupan akhirat, kenapa anda tidak mempersiapkan diri untuk menghadapinya kelak, bahkan anda suka menjual perkara akhirat dengan perkara dunia? Ini merupakan suatu tindakan yang bodoh sekali. Sebab anda tentunya tidak akan menjual dua barang dengan satu barang. Lantas bagaimana anda menjual perkara yang tidak ada akhirnya dengan hari-hari tertentu? Dan apabila anda tidak percaya kepada kehidupan akhirat, berarti anda kafir. Maka aturlah diri anda dalam upaya mencari iman lalu buatlah analisa apa yang menyebabkan kekafiran anda yang khafi (tidak kentara) di mana dialah yang merupakan aliranmu yang berada di dalam, dan dia yang menyebabkan keberanian anda kepada Allah di luar.

Jika anda tidak menjelaskannya dengan berbasa-basi iman dan merasa mulia dengan menyebutkan syara’ niscaya akan ada orang yang berkata, “Ini adalah suatu perkara, andaikata wajib dipelihara, niscaya ulamalah yanglebih pantas untuk menganiaya”. Si Fulan seorang yang terkenal di kalangan orang-orang utama tidak melakukan shalat. Si Fulan minum arak. Si Fulan memakan harta wakaf dan hartanya anak yatim. Dan Fulan memakan uangnya penguasa dan tidak mau menjaga dirinya dari harta haram. Si Fulan suka menerima uang sogok dalam pengadilan atau dalam persaksian dan masih banyak contoh lainnya yang sepadan dengan hal-hal di atas.

Orang kedua berkata di mana dia mengakui berilmu tasawuf dan menurut anggapannya sendiri bahwa dia telah sampai pada suatu tingkatan yang sudah tidak membutuhkan lagi untuk beribadah.

Orang ketiga berkata dengan memberi alasan suatu syubhat lain dari sekian syubhatnya ahli ibadah, mereka ini adalah orang-orang yang tersesat dari tarekat tasawuf.

Orang keempat yang bertemu dengan ahli ta’lim berkata: “Perkara yang hak (benar) itu musykil sedangkan jalan untuk menuju ke sana tersumbat dan perbedaan pendapat tentang kebenaran amatlah banyak, sementara itu sebagian aliran (madzhab) tidak ada yang lebih utama dari yang lainnya, dan dalil-dalil akal saling bertentangan sehingga pendapatnya “Ahlur Ra’yi” tidak bisa dipertanggung jawabkan lagi, orang yang mengaku “Ahlit Ta’lim” mengambil hukum sendiri dan tidak memiliki argumentasi, lantas bagaimana aku dapat mengusir keyakinan dengan keragu-raguan”.

Orang kelima berkata: “Saya melakukan hal ini tidaklah semata-mata karena taklid, tetapi aku melakukannya karena aku telah membaca ilmu filsafat lalu di sana aku menemukan hakikat kenabian, dan bahwa hasil hakikat kenabian itu kembali kepada hikmah dan maslahah. Adapun maksud dari pada pelaksanaan ibadah adalah membatasi dan mengekang orang-orang awam supaya tidak saling bunuh-membunuh, tidak saling bertengkar dan tidak mengumbar hawa nafsu. Tetapi saya bukan termasuk orang awam, sehingga aku harus masuk di dalam kandang taklif, saya adalah termasuk cendekiawan yang selalu mengikuti hikmah, dan saya tahu benar tentang seluk-beluk ibadah dan tidak lagi membutuhkan taklid”. Inilah kesudahan imannya orang yang membaca “Aliran Filsafat Ketuhanan” dan mempelajari aliran filsafat tersebut dari beberapa kitab karangannya Ibnu Sina dan Abu Nasr Al-Farabi. Mereka itulah yang pura-pura tahu benar tentang Islam. Dan bahkan terkadang anda akan menyaksikan dan melihat bahwa salah satu di antara orang yang beraliran ini membaca Al-Quran, menghadiri shalat jamaah, dan melakukan shalat-shalat fardhu, dan mengagungkan syariat dengan lisannya, namun kendatipun demikian dia tidak meningalkan minum arak dan beberapa bentuk kefasekan serta berbagai bentuk perbuatan mesum lainnya.