Archive for the Yusuf Qardhawi Category

3. bahaya mengafirkan seseorang

Posted in BUKU, Yusuf Qardhawi on Agustus 30, 2010 by isepmalik

Pertanyaan:

Bagaimana hukumnya jika  seorang  Muslim  beranggapan  bahwa

orang  muslim  lainnya  (saudara  sesama  Muslim) itu adalah

kafir?

Jawab:

Setiap orang yang berikrar dan  mengucapkan  Syahadat  telah

dianggap Muslim. Hidup (jiwa) dan hartanya terlindung. Dalam

hal ini tidak diharuskan (tidak perlu) meneliti batinnya.

Menghukumi (menganggap) seseorang bahwa dia kafir,  hukumnya

amat  berbahaya  dan  akibat  yang akan ditimbulkannya lebih

berbahaya lagi, di antaranya ialah:

1. Bagi istrinya, dilarang berdiam bersama suaminya yang

kafir, dan mereka harus dipisahkan. Seorang wanita Muslimat

tidak sah menjadi istri orang kafir.

2. Bagi anak-anaknya, dilarang berdiam dibawah kekuasaannya,

karena dikhawatirkan akan mempengaruhi mereka. Anak-anak

tersebut adalah amanat dan tanggungjawab orangtua. Jika

orangtuanya kafir, maka menjadi tanggungjawab ummat Islam.

3. Dia kehilangan haknya dari kewajiban-kewajiban masyarakat

atau orang lain yang harus diterimanya, misalnya ditolong,

dilindungi, diberi salam, bahkan dia harus dijauhi sebagai

pelajaran.

4. Dia harus dihadapkan kemuka hakim, agar djatuhkan hukuman

baginya, karena telah murtad.

5. Jika dia meninggal, tidak perlu diurusi, dimandikan,

disalati, dikubur di pemakaman Islam, diwarisi dan tidak

pula dapat mewarisi.

6. Jika dia meninggal dalam keadaan kufur, maka dia mendapat

laknat dan akan jauh dari rahmat Allah. Dengan demikian dia

akan kekal dalam neraka.

Demikianlah hukuman yang harus dijatuhkan  bagi  orang  yang

menamakan  atau  menganggap golongan tertentu atau seseorang

sebagai orang kafir; itulah akibat yang harus ditanggungnya.

Maka, sekali lagi amat berat dan berbahaya mengafirkan orang

yang bukan (belum jelas) kekafirannya.

Iklan

2. apakah wanita itu jahat dalam segalanya?

Posted in BUKU, Yusuf Qardhawi on Agustus 30, 2010 by isepmalik

Pertanyaan:

Dalam buku Nahjul Balaghah karangan Amirul-Mukminin Ali  bin

Abi Thalib r.a terdapat suatu keterangan:

“Wanita itu jahat dalam segalanya. Dan yang paling

jahat dari dirinya ialah kita tidak dapat terlepas

dari padanya.”

Apakah  arti yang sebenarnya (maksud) dari kalimat tersebut?

Apakah  hal  itu  sesuai  dengan  pandaigan  Islam  terhadap

wanita? Saya mohon penjelasannya. Terima kasih.

JAWAB

Ada dua hal yang nyata kebenarannya, tetapi harus dijelaskan

iebih dahulu, yaitu:

Pertama,   yang   menjadi   pegangan   atau    dasar    dari

masalah-masalah agama ialah firman Allah swt. dan sabda Nabi

saw, selain dari dua ini, setiap  orang  kata-katanya  boleh

diambil  dan  ditinggalkan.  Maka,  Al-Qur’an dan As-Sunnah,

kedua-duanya adalah sumber yang kuat dan benar.

Kedua, sebagaimana telah  diketahui  oleh  para  analis  dan

cendekiawan  Muslim,  bahwa semua tulisan yang ada pada buku

tersebut  di  atas  (Nahjul  Balaghah),  baik  yang   berupa

dalil-dalil   atau  alasan-alasan  yang  dikemukakan,  tidak

semuanya tepat. Diantara hal-hal  yang  ada  pada  buku  itu

ialah  tidak menggambarkan masa maupun pikiran serta cara di

zaman Ali r.a.

Oleh sebab itu, tidak dapat dijadikan dalil dan tidak  dapat

dianggap  benar, karena semua kata-kata dalam buku itu tidak

ditulis oleh Al-Imam Ali r.a.

Didalam penetapan ilmu agama, setiap ucapan  atau  kata-kata

dari  seseorang,  tidak  dapat  dibenarkan, kecuali disertai

dalil  yang  shahih  dan  bersambung,   yang   bersih   dari

kekurangan atau aib dan kelemahan kalimatnya.

Maka,  kata-kata  itu tidak dapat disebut sebagai ucapan Ali

r.a. karena tidak bersambung dan tidak mempunyai sanad  yang

shahih.  Sekalipun  kata-kata  tersebut mempunyai sanad yang

shahih, bersambung, riwayatnya adil dan  benar,  maka  wajib

ditolak,  karena hal itu bertentangan dengan dalil-dalil dan

hukum  Islam.  Alasan  ini  terpakai  di  dalam  segala  hal

(kata-kata) atau fatwa, walaupun sanadnya seterang matahari.

Mustahil  bagi  Al-Imam  Ali r.a. mengatakan hal itu, dimana

beliau sering  membaca  ayat-ayat  Al-Qur’an,  di  antaranya

adalah:

“Wahai sekalian manusia! Bertakwalah kepada

Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari seorang,

yang kemudian darinya Allah lantas menciptakan

istrinya, dari keduanya Allah mengembangbiakkan

laki-laki dan wanita yang banyak …” (Q.s.

An-Nisa’: 1)

“Maka Tuhan mereka memperkenankan permohonannya

(dengan firman-Nya): ‘Bahwa sesungguhnya Aku tiada

mensia-siakan amal orang-orang yang beramal di

antara kamu, baik laki-laki maupun wanita,

(karena) sebagian darimu adalah keturunan dari

sebagian yang lain …” (Q.s. Ali Imran: 195).

“Dan diantara tanda-tanda kekuasaan Allah ialah

Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu

sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram

kepadanya, dan Allah menjadikannya diantara kamu

rasa kasih dan sayang …” (Q.s. Ar-Ruum: 21).

Masih  banyak  lagi  di antara ayat-ayat suci Al-Qur’an yang

mengangkat dan memuji derajat kaum  wanita,  disamping  kaum

laki-laki. Sebagaimana Nabi saw. bersabda:

“Termasuk tiga sumber kebahagiaan bagi laki-laki

ialah wanita salehat, kediaman yang baik dan

kendaraan yang baik pula.” (H.r. Ahmad dengan

sanad yang shahih).

“Di dunia ini mengandung kenikmatan, dan

sebaik-baik kenikmatan itu adalah wanita yang

salehat.” (H.r. Imam Muslim, Nasa’i dan Ibnu

Majah).

“Barangsiapa yang dikaruniai oleh Allah wanita

yang salehat, maka dia telah dibantu dalam

sebagian agamanya; maka bertakwalah pula kepada

Allah dalam sisanya yang sebagian.”

Banyak  lagi  hadis-hadis dari Nabi saw. yang memuji wanita;

maka mustahil bahwa Ali r.a. berkata sebagaimana di atas.

Sifat wanita itu berbeda dengan sifat  laki-laki  dari  segi

fitrah;  kedua-duanya  dapat  menerima  kebaikan, kejahatan,

hidayat. kesesatan dan sebagainya.

Firman Allah swt. dalam Al-Qur’an,

“Jiwa dan penyempurnaannya (ciptaannya); maka

Allah mengilhamkan pada jiwa itu (jalan) kefasikan

dan ketakwaannya. Sesungguhnya beruntunglah orang

yang mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya

merugilah orang yang mengotorinya.” (Q.s.

Asy-Syams: 7-10)

Mengenai fitnah yang ada pada wanita disamping  fitnah  yang

ada   pada   harta  dan  anak-anak,  dimana  hal  itu  telah

diterangkan di dalam Al-Qur’an dan dianjurkan supaya  mereka

waspada dan menjaga diri dari fitnah tersebut.

Dalam  sabda Rasulullah saxv. diterangkan mengenai fitnahnya

kaum wanita, yaitu sebagai berikut,

“Setelah aku tiada, tidak ada fitnah yang paling

besar gangguannya bagi laki-laki daripada

fitnahnya wanita.” (H.r. Bukhari).

Arti dari hadis di atas menunjukkan bahwa wanita  itu  bukan

jahat,  tetapi  mempunyai  pengaruh yang besar bagi manusia,

yang dikhawatirkan lupa pada kewajibannya, lupa kepada Allah

dan terhadap agama.

Selain  masalah  wanita, Al-Qur’an juga mengingatkan manusia

mengenai fitnah yang disebabkan dari harta dan anak-anak.

Allah swt. berfirman dalam Al-Qur’an:

“Sesungguhnya harta-harta dan anak-anakmu adalah

fitnah (cobaan bagimu); dan pada sisi Allah-lah

pahala yang besar.” (Q.s. At-Taghaabun: 15)

“Hai orang-orang yang beriman!Janganlah

harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikanmu

mengingat kepada Allah. Barangsiapa yang berbuat

demikian’ maka mereka termasuk orang-orang yang

merugi.” (Q.s. Al-Munaafiquun: 9).

Selain dari itu (wanita,  anak-anak  dan  harta  yang  dapat

mendatangkan fitnah), harta juga sebagai sesuatu yang baik.

Firman Allah swt.:

“Allah menjadikan bagi kamu istri-istri dari

jenismu sendiri dan menjadikan bagimu dan

istri-istrimu itu, anak-anak dan cucu; dan

memberimu rezeki dari harta yang baik-baik …”

(Q.s. An-Nahl: 72)

Oleh  karena  itu,  dianjurkannya  untuk waspada dari fitnah

kaum wanita, fitnah  harta  dan  anak-anak,  hal  itu  bukan

berarti  kesemuanya  bersifat  jahat,  tetapi  demi mencegah

timbulnya fitnah yang dapat  melalaikan  kewajiban-kewajiban

yang telah diperintahkan oleh Allah swt.

Allah   swt.  tidak  mungkin  menciptakan  suatu  kejahatan,

kemudian dijadikannya sebagai suatu kebutuhan dan  keharusan

bagi setiap makhluk-Nya.

Makna  yang  tersirat  dari suatu kejahatan itu adalah suatu

bagian yang amat sensitif,  realitanya  menjadi  lazim  bagi

kebaikan secara mutlak. Segala bentuk kebaikan dan kejahatan

itu berada di tangan (kekuasaan) Allah swt.

Oleh  sebab  itu,  Allah  memberikan  bimbingan  bagi   kaum

laki-laki  untuk menjaga dirinya dari bahaya dan fitnah yang

dapat  disebabkan  dan  mudah   dipengaruhi   oleh   hal-hal

tersebut.

Diwajibkanjuga   bagi   kaum   wanita,   agar   waspada  dan

berhati-hati dalam menghadapi tipu muslihat yang  diupayakan

oleh  musuh-musuh Islam untuk menjadikan kaum wanita sebagai

sarana perusak budi pekerti, akhlak yang luhur dan  bernilai

suci.

Wajib  bagi  para  wanita  Muslimat  kembali  pada kodratnya

sebagai wanita yang saleh, wanita hakiki, istri salehat, dan

sebagai ibu teladan bagi rumah tangga, agama dan negara.

1. apakah nabi saw makhluk Allah yang pertama?

Posted in BUKU, Yusuf Qardhawi on Agustus 30, 2010 by isepmalik

Pertanyaan:

Benarkah bahwa Nabi Muhammad saw. makhluk Allah yang pertama

dan bahwa beliau diciptakan dari cahaya?

Kami  mengharapkan  pendapat  yang disertai dalil-dalil dari

Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Jawab:

Telah diketahui  bahwa  hadis-hadis  yang  menyatakan  bahwa

makhluk  pertama  adalah  itu  atau  ini … dan seterusnya,

tidak satu pun yang shahih, sebagaimana ditetapkan oleh para

ulama Sunnah.

Oleh  karena itu, kami dapatkan sebagian bertentangan dengan

sebagian  lainnya.  Sebuah  hadis  mengatakan,  “Bahwa  yang

pertama kali diciptakan oleh Allah adalah pena.”

Hadis  lainnya  mengatakan,  “Yang  pertama  kali diciptakan

Allah adalah akal.” Telah tersiar di antara orang awam  dari

kisah-kisah   maulid   yang   sering   dibaca   bahwa  Allah

menggenggam  cahaya-Nya,  lalu  berfirman,  “Jadilah  engkau

Muhammad.”   Maka   ia  adalah  makhluk  yang  pertama  kali

diciptakan Allah, dan dari situ diciptakan langit, bumi  dan

seterusnya.

Dari itu tersiar kalimat:

“Shalawat   dan   salam  bagimu  wahai  makhluk  Allah  yang

pertama,” hingga kalimat itu  dikaitkan  dengan  adzan  yang

disyariatkan, seakan-akan bagian darinya.

Perkataan itu tidak sah riwayatnya dan tidak dibenarkan oleh

akal,  tidak  akan   mengangkat  agama,   dan   tidak   pula

bermanfaat bagi perkembangan dari peradaban dunia.

Keawalan  Nabi  Muhammad  saw.  sebagai  makhluk Allah tidak

terbukti,  seandainya  terbukti  tidaklah  berpengaruh  pada

keutamaan  dan  kedudukannya  di  sisi  Allah. Tatkala Allah

Ta’ala  memujinya  dalam  Kitab-Nya,  maka  Allah  memujinya

dengan alasan keutamaaan yang sebenarnya. Allah berfirman:

“Dan   sesungguhnya  kamu  benar-benar  orang  yang  berbudi

pekerti agung” (Q.s. Al-Qalam: 4).

Hal itu yang terbukti dan ditetapkan secara mutawatir.  Nabi

kita  Muhammad  saw.  adalah Muhammad bin Abdullah bin Abdul

Muththalib Al-Hasyimi Al-Quraisy  yang  dilahirkan  lantaran

kedua orang tuanya, Abdullah bin Abdul Muththalib dan Aminah

binti Wahb, di Mekkah, pada tahun Gajah.  Beliau  dilahirkan

scbagaimana  halnya manusia biasa dan dibesarkan sebagaimana

manusia dibesarkan. Beliau diutus sebagaimana para Nabi  dan

Rasul  sebelumnya  diutus,  dan  bukan Rasul yang pertama di

antara Rasul-rasul.

Beliau  hidup   dalam   waktu   terbatas,   kemudian   Allah

memanggilnya kembali kepada-Nya:

“Sesungguhnya  kamu  akan  mati dan sesungguhnya mereka akan

mati (pula).” (Q.s. Az-Zumar: 30).

Beliau akan ditanya pada hari Kiamat, sebagaimana para Rasul

ditanya:

“(Ingatlah)  hari  di  waktu  Allah mengumpulkan para Rasul,

lalu Allah bertanya (kepada  mereka),  ‘Apa  jawaban  kaummu

terhadap   (seruan)mu?’  Para  Rasul  menjawab,  ‘Tidak  ada

pengetahuan kami (tentang itu) sesungguhnya Engkau-lah  yang

mengetahui perkara yang gaib’.” (Q.s. Al-Maidah: 109).

Al-Qur’an  telah  menegaskan  kemanusiaan  Muhammad  saw. di

berbagai tempat dan Allah memerintahkan menyampaikan hal itu

kepada orang-orang dalam berbagai surat, antara lain:

“Katakanlah,  ‘Sesungguhnya  aku  ini  hanya seorang manusia

seperti kamu, yang diwahyukann kepadaku, Bahwa  sesungguhnya

Tuhan  kamu itu adalah Tuhan yang Esa …’.” (Q.s. Al-Kahfi:

110).

“Katakanlah, ‘Maha Suci  Tuhanku,  bukankah  aku  ini  hanya

seorang manusia yang menjadi Rasul?'” (Q.s. Al-Isra’: 93).

Ayat di atas menunjukkan bahwa beliau adalah manusia seperti

manusia-manusia  lainnya,   tidak   memiliki   keistimewaan,

kecuali dengan wahyu dan risalah.

Nabi saw. menegaskan makna kemanusiaannya dan penghambaannya

terhadap Allah,  dan  memperingatkan  agar  tidak  mengikuti

kebiasaan-kebiasaan  dari  orang-orang  sebelum  kita, yaitu

penganut  agama-agama  terdahulu  dalam   hal   memuja   dan

menyanjung:

“Janganlah   kamu  sekalian  menyanjungku  sebagaimana  kaum

Nasrani menyanjung Isa putra Maryam. sesungguhnya aku adalah

hamba Allah dan Rasul-Nya.” (H.r. Bukhari).

Nabi  yang  agung ini adalah manusia seperti manusia lainnya

dan  tidak  diciptakan  dari  cahaya  maupun  emas,   tetapi

diciptakan  dari  air  yang  memancar dan keluar dari tulang

sulbi  laki-laki  dan  tulang  rusuk  wanita  sebagai  bahan

penciptaan Muhammad saw.

Adapun dari segi risalah dan hidayat-Nya, maka beliau adalah

cahaya  Allah  dan  pelita  yang  amat   terang.   Al-Qur’an

menyatakan hal itu dan berbicara kepada Nabi saw.:

“Wahai Nabi sesungguhnya Kami mengutusmu untuk menjadi saksi

dan pembawa kabar gembira serta  pemberi  peringatan.  Untuk

menjadi  penyeru  pada agama Allah dengan izin-Nya dan untuk

menjadi cahaya yang menerangi.”(Q.s. Al-Ahzab: 45-6).

Allah swt. berfirman yang ditujukan kepada Ahlulkitab:

“… Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya  dari  Allah,

dan Kitab yang menerangkan.” (Q.s. Al-Maidah: 15).

“Cahaya”  dalam  ayat itu adalah Rasulullah saw, sebagaimana

Al-Qur’an yang diturunkan kepada beliau adalah juga cahaya.

Allah swt. berfirman:

“Maka berimanlah  kamu  kepada  Allah  dan  Rasul-Nya  serta

cahanya   (Al-Qur  an)  yang  telah  Kami  turunkan.”  (Q.s.

At-Taghaabun: 8).

“…  dan  telah  Kami  turunkan  kepada  kamu  cahaya  yang

terangbenderang.” (Q.s. An-Nisa’: 174).

Allah telah menentukan tugasnya dengan firman-Nya:

“…  Supaya kamu mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju

cahaya terang-benderang…” (Q.s. Ibrahim: 1).

Doa Nabi saw.:

“Ya Allah, berilah aku cahaya di dalam  hatiku  berilah  aku

cahaya  dalam  pendengaranku  dan  berilah  aku cahaya dalam

penglihatanku berilah aku cahaya dalam rambutku berilah  aku

cahaya   di  sebelah  kanan  dan  kiriku  di  depan  dan  di

belakangku.” (H.r. Muttafaq Alaih)

Maka, beliau adalah Nabi pembawa cahaya  dan  Rasul  pembawa

hidayat.  Semoga  Allah  menjadikan kita sebagai orang-orang

yang mengikuti petunjuk cahaya dan Sunnahnya. Amin.