Archive for the Keniscayaan Filsafat Category

Tanggapan Atas Beberapa Keberatan

Posted in Keniscayaan Filsafat with tags , , , , , on Desember 5, 2012 by isepmalik

Penjelasan-penjelasan di atas boleh jadi membersitkan beberapa keberatan. Paling penting di antaranya adalah sebagai berikut.

Keberatan 1. Semua penjelasan di atas bisa membuktikan keniscayaan filsafat bilamana pandangan-dunia dianggap terbatas pada yang filosofis dan jika pemecahan masalah-masalah pokoknya terbatas pada filsafat. Kenyataannya, terdapat berbagai jenis pandangan-dunia lain, entah yang bersifat ilmiah, keagamaan ataupun mistis.

Tanggapan 1. Seperti berkali-kali telah saya jabarkan, pemecahan soal-soal semacam itu jelas di luar jangkauan ilmu-ilmu empiris, karenanya tidak ada yang bisa benar-benar disebut dengan “pandangan-dunia ilmiah” (dalam pengertian yang sesungguhnya). Akan halnya pandangan-dunia keagamaan, ia hanya berguna setelah kita mengenali agama yang benar. Jadi, pandangan-dunia ini mestilah bersandarkan pada pengetahuan tentang sang utusan dan Pengutusnya. Bersandar pada wahyu Al-Quran untuk membuktikan Pewahyu dan yang diwahyukan tidaklah bisa diterima akal sehat. Misalnya, orang tidak bisa berkata bahwa lantaran Al-Quran berkata Tuhan itu ada, maka keberadaan-Nya telah terbukti! Adapun menyangkut pandangan-dunia mistis, seperti telah disinggung dalam pasal “Hubungan antara Filsafat dan Gnosis”, sepenuhnya bergantung pada pengetahuan tentang Tuhan, pengetahuan yang benar tentang suluk spiritual, yang mesti dinisbatkan melalui prinsip-prinsip filsafat. Oleh karena itu, semua jalan sebenarnya selalu berujung pada filsafat.

Keberatan 2. Agar upaya seseorang memecahkan persoalan ini sedikit berguna, ia mesti optimis bisa mencapai hasil dari seluruh upayanya. Namun, mengingat kedalaman (depth) dan keluasan persoalan yang dihadapinya, sulit rasanya ada orang yang akan berhasil. Untuk itu, ketimbang membuang-buang umur demi sesuatu yang akhirnya tidak jelas, lebih baik kita menyelidiki soal-soal yang lebih mungkin dipecahkan.

Tanggapan 2. Pertama, harapan untuk memecahkan soal-soal ini tidak lebih kecil dibandingkan harapan untuk mencapai hasil dalam upaya-upaya ilmiah mendedah rahasia-rahasia ilmiah dan mengelola kekuatan-kekuatan alam. Kedua, dalam menakar suatu usaha, tidak selayaknya kita membatasi diri pada faktor risiko, tetapi kita mesti pula melihat faktor keuntungan hasilnya. Dengan melihat pada dua faktor inilah kita baru bisa secara saksama menakar suatu usaha. Dan mengingat hasil upaya di atas adalah kesejahteraan manusia selama-lamanya, betatapun kecil peluang kita, nilai usaha ini pastilah jauh melebihi risiko kegagalannya.

Keberatan 3. Bagaimana kita bisa meyakini nilai filsafat, sementara banyak ahli agama menentangnya dan mengajukan berbagai hadis yang mencelanya?

Tanggapan 3. Tentangan atas filsafat berasal dari beragam orang dengan beragam motivasi. Akan tetapi, ulama Muslim yang sadar dan imparsial sebetulnya hanya menentang sejumlah gagasan filsafat yang menyebar pada masa mereka. Sebagian gagasan ini—setidaknya di mata para penentang—dipandang tidak selaras dengan ajaran Islam. Dan kalau memang terdapat hadis sahih yang mencela filsafat, ia cuma berlaku dalam konteks di atas. Yang kita maksud dengan berfilsafat ialah menggunakan akal untuk menyelesaikan persoalan yang hanya bisa dipecahkan melalui metode rasional. Dan keniscayaan upaya ini telah digarisbawahi oleh ayat-ayat muhkam (tidak ambigu) dan hadis Nabi. Sekian banyak contoh upaya serupa teramati dalam banyak hadis dan bahkan ayat Al-Quran, seperti penalaran seputar masalah tauhid dan Hari Kebangkitan dalam Al-Quran dan Sunnah.

Keberatan 4. Kalau memang persoalan pandangan-dunia telah ditelaah secara rasional dan filosofis dalam Al-Quran dan Sunnah, lalu apa kebutuhan kita pada seabrek buku dan pembahasan filsafat yang kerap mencatut ide orang-orang Yunani?

Tanggapan 4. Pertama, pemaparan bahasan-bahasan filosofis dalam Al-Quran dan Sunnah tidak mengubah watak filosofis mereka. Kedua, sudah semestinya tidak ada masalah seandainya serangkaian persoalan itu dikemas dan ditata dalam bentuk suatu ilmu, sebagaimana halnya dengan persoalan fiqih dan ushul al-fiqh dan ilmu-ilmu Islam lainnya. Fakta bahwa bahasan-bahasan ini berasal dari orang-orang Yunani tidak menghilangkan nilai mereka, sebagaimana halnya dengan aritmetika, kedokteran, dan astronomi. Ketiga, sebagian besar yang diungkapkan dalam Al-Quran dan Sunnah merupakan keraguan-keraguan yang menyebar di masa itu. dan berpaku pada mereka tidak akan memadai untuk menjawab pelbagai keberatan baru yang diketengahkan oleh paham-paham atesitik setiap harinya. Sebaliknya, seperti tercantum dalam Al-Quran dan kata-kata para pemimpin agama, kita harus terus berupaya mengembangkan kegiatan rasional untuk mempertahankan ajaran-ajaran benar dan mengetepikan semua keberatan dan keraguan yang diajukan musuh-musuh kebenaran.

Keberatan 5. Dalil paling tepat untuk menunjukkan ketakadekuatan (inadequacy) filsafat ialah perselisihan yang terjadi di antara para filosof. Amatan menyeluruh atas pelbagai perselisihan ini mempuskan harapan kita pada ketepatan metode mereka.

Tanggapan 5. Perselisihan menyangkut persoalan teoretis adalah hal tak terelakkan dalam semua ilmu. Para pakar fiqih, umpamanya, berselisih pendapat ihwal beragam masalah, tapi perselisihan ini bukan dalil bagi ketaksabsahan ilmu fiqih ataupun metode khasnya. Demikian pula, perselisihan dua pakar matematika tentang suatu perkara bukan dalil ketakabsahan matematika. Perhatian atas pelbagai perselisihan ini justru melecut para pemikir sejati agar makin meningkatkan upaya, kesungguhan, dan keteguhan mereka dalam menemukan natijah-natijah (conclusions) yang lebih meyakinkan dari sebelum-sebelumnya.

Keberatan 6. Banyak orang yang telah menghasilkan kajian-kajian berbobot dalam ilmu-ilmu kefilsafatan, tapi dalam soal tingkah laku pribadi dan moralnya serta dalam kehidupan sosial dan politiknya ia memperlihatkan banyak kelemahan. Memperhatikan kelemahan di atas, bagaimana filsafat bisa dibilang kunci menuju kesejahteraan individu dan masyarakat?

Tanggapan 6. Titik-berat pada arti penting dan kemestian berfilsafat tidak berarti bahwa ia merupakan sebab sempurna dan syarat cukup untuk memiliki ideologi dan perilaku benar yang sesuai dengannya, tetapi ia hanyalah merupakan syarat perlu untuk memperoleh ideologi yang diinginkan. Dengan kata lain, mengikuti jalan benar dimulai dengan mengetahuinya, dan mengetahuinya didahului dengan mempunyai pandangan-dunia yang benar dan memecahkan semua persoalan filosofisnya. Jika seseorang telah mengambil langkah awal yang semestinya, lalu terhenti atau tergelincir pada langkah keduanya, itu tidak berarti bahwa ia telah salah langkah sejak semula. Dalam kasus seperti ini, kita justru mesti penyebab keterhentian dan ketergelincirannya pada langkah kedua dan seterusnya.

(Sumber: M. Taqi Mishbah Yazdi. (2003).  Buku Daras Filsafat Islam. Bandung: Mizan).

Iklan

Misteri Kemanusiaan

Posted in Keniscayaan Filsafat with tags , , , , , on November 30, 2012 by isepmalik

Ada cara lain untuk menghayati arti penting dan keniscayaan filsafat. Cara ini dapat melambungkan cita-cita dan mendorong kemajuan, mempertautkan kemanusiaan manusia dengan capaian-capaian filsafat. Penjelasannya sebagai berikut: semua binatang bertindak sesuai dengan kesadaran naluriah dan kehendak. Makhluk yang tidak demikian ke luar dari himpunan binatang. Dalam himpunan binatang itu, terdapat spesies istimewa yang pemahamannya tidak terbatas pada persepsi indriawi dan kehendaknya tidak melulu menuruti naluri-naluri alamiah. Ia mempunyai daya persepsi lain yang disebut dengan akal, dan kehendaknya bersuluh pada cahaya akal. Singkatnya, yang membedakan manusia adalah pola-pandang dan kecenderungan-kecenderungannya sendiri. Jadi, bila manusia mengurung diri pada persepsi indriawi dan tidak memakai kemampuan akalnya, lantas gerakannya semata-mata menuruti naluri-naluri kebinatangannya, maka dalam kenyataannya ia tidak lebih daripada binatang. Atau, menurut Al-Quran, ia menjadi lebih tersesat daripada binatang-binatang lainnya.

Oleh sebab itu, manusia sejati senantiasa menggunakan akalnya dalam menentukan semua sisi penting nasibnya. Dengan begitu, secara umum dia akan mengetahui cara hidup, dan selanjutnya dengan segala keseriusan melangkah ke depan. Maklum adanya bahwa masalah-masalah paling mendasar yang dihadapi manusia dan berperan penting dalam menentukan nasib masyarakat dan individu adalah masalah-masalah pokok pandangan-dunia, yang pemecahan mereka berujung pada upaya-upaya filosofis. Kesimpulannya, kesejahteraan masyarakat dan individu maupun pencapaian kesempurnaan puncak manusia selama-lamanya bergantung pada pemanfaatan filsafat.

(Sumber: M. Taqi Mishbah Yazdi. (2003).  Buku Daras Filsafat Islam. Bandung: Mizan).

Aliran-aliran Sosial

Posted in Keniscayaan Filsafat with tags , , , , , on November 22, 2012 by isepmalik

Kebingungan dan ketercekaman yang melanda manusia modern tidak terbatas pada lingkup pribadi dan individu, tetapi juga menjalar ke soal-soal sosial, seperti terlihat dalam berbagai aliran sosial-politik yang bertentangan. Walaupun pelbagai sistem semu ini telah gagal membuktikan dirinya bernilai dan sempurna, tetap saja masyarakat bingung ini enggan berlepas tangan dari mereka. Terus saja para pelancong bingung ini menempuh jalan melenceng itu dan mencoba merajut baju-baju baru dari bahan yang sama. Setiap kali isme baru muncul di pentas alam ideologi, sekelompok orang terkecoh olehnya dan pecahlah hiruk-pikuk. Tidak lama sebelum gagal dan  hancur berantakan, ia muncul lagi dengan nama, warna, dan aroma baru untuk kembali memperdaya kelompok lain.

Agaknya orang-orang sial ini telah bersumpah untuk tidak menyimak seruan kebenaran dan mendengar firman-firman Ilahi. Mereka bergumam, “Mengapa kalian tidak bergelimang emas dan perak? Kalau kalian berbicara tentang kebenaran, mengapa pula istana-istana putih dan merah tidak dalam kendali kalian?” Benar, inilah cerita yang berkali-kali dibisikkan oleh Al-Quran mulia ke telinga masyarakat dunia. Tapi, manakah telinga yang hendak mendengarnya?

Bagaimanapun, sebagai bentuk dakwah dengan kebijaksanaan, haruslah kita katakan: sistem sosial mesti dirancang sesuai dengan kesadaran akan watak-dasar manusia dan segenap aspek keberadaannya, memperhatikan tujuan-tujuan penciptaannya, dan faktor-faktor yang dapat membawanya ke matlamat akhirnya. Menemukan rumusan pelik semacam itu jelas di luar kemampuan manusia. Kemampuan manusia cuma diharapkan bisa mengetahui masalah-masalah mendasar dan asas-asas umum sistem tersebut dan mengukuhkannya secara mantap. Dengan kata lain, kemampuan manusia cuma diharapkan bisa mengetahui Pencipta alam dan manusia, adanya tujuan bagi kehidupan manusia, dan jalan yang disiapkan Sang Pencipta bagi manusia untuk benar-benar dapat menempuh dan mengapai matlamat akhirnya. Selanjutnya, kita diharuskan memusatkan hati kepada-Nya, menelusuri jalan itu dan mengikuti bimbingan Ilahi, tanpa ragu-ragu atau tergesa-gesa sepanjang perjalanan tersebut.

Jika orang gagal memanfaatkan akal yang dianugrahkan Tuhan, lalu tidak peduli pada awal dan akhir wujud, gagal memecahkan masalah-masalah pokok kehidupan, membuat jalan seenaknya sendiri, lalu membangun sistem dan mencanangkan kekuasaan bagi dirinya sendiri atau orang-orang selainnya, ia pasti akan mengemban seluruh akibat kebodohan, keangkuhan, keingkaran, kesesatan, dan kerancuannya sendiri. Dan ia tidak bisa mempersalahkan siapa pun kecuali dirinya sendiri atas segala nasib buruk yang menantinya di depan.

Menemukan ideologi benar sesungguhnya terpaut dengan memiliki pandangan-dunia yang benar. Sampai tonggak-tonggak pandangan-dunia diisbatkan secara kukuh, masalah-masalah utamanya dipecahkan secara tepat dan rangsangan untuk mengingkarinya dientaskan, manusia tidak bisa berharap menemukan ideologi yang imbang, berguna, dan mangkus (effective). Bukan tanpa alasan kalau para ahli agama menyebut soal-soal di atas sebagai “prinsip-prinsip agama” (ushul al-din): teologi menjawab pertanyaan “Bagaimana awalnya”; kajian atas Hari Kebangkitan menjawab “Bagaimana akhirnya?”; kajian atas wahyu dan kenabian menjawab “Apa jalannya, dan siapa pemandunya?”

Tak ayal lagi, pemecahan tepat dan pasti atas semua pertanyaan tersebut bergantung seutuhnya pada gagasan-gagasan filsafat yang rasional. Dengan demikian, dari segi lain, kita mengetahui arti penting dan keniscayaan filsafat pertama, berikut kemudian epistemologi dan ontologi.

(Sumber: M. Taqi Mishbah Yazdi. (2003).  Buku Daras Filsafat Islam. Bandung: Mizan).

Manusia Modern

Posted in Keniscayaan Filsafat with tags , , , , , on November 21, 2012 by isepmalik

Matahari terbit dari balik horizon dan mendenyarkan cahaya keemasan ke arah wajah-wajah lesu para penumpang kapal. Begitu terbangun dari tidur semalaman, para penumpang itu bergegas mencari makan, minum, dan bersenang-senang, mengikuti gerak kapal menembusi samudra tak bertepi.

Sementara itu, seorang yang tampak lebih cerdas ketimbang lain-lainnya mulai berpikir, lalu menengok ke arah rekannya dan bertanya, “Ke mana gerangan kita menuju?” Orang yang juga baru terbangun dari tidurnya menangkap pertanyaan itu dan segera menanyakan soal serupa kepada rekan-rekan lainnya. Sebagian yang terlalu karam dan kesenangan dan keriangan tak menggubris pertanyaan ini, dan terus saja tenggelam dalam urusannya sendiri. Tetapi, perlahan-lahan, pertanyaan ini menyabar sampai terdengar oleh awak dan kapten kapal. Ternyata mereka pun tidak tahu dan bertanya-tanya tentang hal yang sama. Akhirnya, suatu tanda besar menggelayuti suasana kapal, menimbulkan ketakutan dan kecemasan….

Bukankah skenario khayal di atas menyerupai kisah anak cucu Adam di dunia: menumpang kapal besar bernama bumi, berputar-putar di jagat kosmos, melancongi lautan waktu yang tak terbatas (limitless)? Bukankah mereka bak binatang peliharaan, seperti dikatakan dalam Al-Quran, “Mereka bersenang-senang dan makan kayaknya binatang…” (QS. Muhammad [47]:12). Dan Al-Quran juga menyatakan, “Mereka punya hati, tapi tak bisa memahami; mereka punya mata, tapi tak bisa melihat; mereka punya telinga, tapi tak bisa mendengar. Benar-benar mereka mirip binatang piaraan, tidak, malah mereka lebih tersesat lagi. Mereka itulah orang-orang lalai” (QS. Al-A’raf [7]:179).

Ya, itulah kisah manusia zaman kita! Dengan kemajuan teknologi yang menakjubkan, mereka menjadi terserang kebingungan dan kebimbangan serta tidak tahu dari mana mereka berasal dan akan ke mana mereka pergi. Ke arah mana mereka seharusnya berbelok dan jalan apa yang mestinya mereka tempuh? Inilah mengapa absurdisme, nihilisme, dan hippiisme muncul di abad ruang angkasa ini. Laksana kanker, paham-paham ini menyerang jiwa, pikiran dan ruh manusia beradab. Ia menghancurkan dan meluluhkan pasak-pasak istana kemanusiaan bagaikan rayap menggerogoti kayu.

Pertanyaan-pertanyaan ini dibersitkan oleh orang-orang yang sadar dan digemakan oleh orang-orang semi-sadar sehingga memaksa para pemikir untuk mencari jawabannya yang jitu, tajam, memberi suluh dan arah. Mereka ini mengetahui tujuan sejati perjalanan tersebut, dan dengan sigap mengikuti jalan yang lurus. Sebaliknya, kelompok yang terpengaruh oleh pemikiran dan faktor-faktor jiwa yang tidak matang berkhayal bahwa kafilah manusia berjalan tanpa awal dan akhir. Dengan mudahnya gelombang ombak mengempas mereka ke sana ke mari. Menjelang ke tepi pantai, ombak menyambar dan menyeretnya kembali ke laut: “Mereka berkata, tiada apa pun kecuali kehidupan kita saat ini; kita hidup dan kita mati, dan tiada selain waktu yang menghancurkan kita” (QS.Al-Jatsiyah [45]:24).

Bagaimanapun, suka atau tidak suka, pertanyaan-pertanyaan itu akan selamanya menghantui manusia. Bagaimana kita berawal? Bagaimana kita berakhir? Dan manakah jalan yang lurus mencapai tujuan? Tentu saja, ilmu-ilmu alam dan matematika tidak bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, dan pertanyaan mengenai apa yang mesti kita lakukan. Jika demikian, bagaimanakah cara kita menjawab seluruh pertanyaan tersebut dengan benar dan tepat? Seperti telah disebutkan sebelumnya, setiap pertanyaan itu merupakan pertanyaan dasar bagi cabang tertentu filsafat yang mesti diteliti melalui metode-metode rasional. Dan pada gilirannya, semua pertanyaan itu menuntut kehadiran filsafat pertama atau metafisika. Oleh karena itu, kita mesti memulai dengan epistemologi dan ontologi, baru kita berurusan dengan ilmu-ilmu kefilsafatan lainnya untuk menemukan jawaban jitu atas seluruh pertanyaan itu.

(Sumber: M. Taqi Mishbah Yazdi. (2003).  Buku Daras Filsafat Islam. Bandung: Mizan).