Archive for the Genetika Mendel Category

Teori tentang Pewarisan Sifat Keturunan

Posted in Genetika Mendel with tags , , , , , on Mei 12, 2012 by isepmalik

Bila makhluk hidup berkembang biak cara aseksual, keturunannya berkembang menjadi salinan tepat dari induknya selama mereka dibesarkan dalam keadaan yang sama. Sebaliknya, apabila berbiak secara seksual, maka keturunannya mengembangkan ciri-ciri yang saling berbeda dan berlainan pula dari salah satu tetuanya. Bila anjing “collie” kawin dengan anjing “German Shepherd”, maka keturunannya itu anjing-anjing, bukan spesies hewan yang lain. Akan tetapi anjing itu bukan “collie” bukan pula “German Shepherd”. Jauh sebelum para biologiwan menemukan banyak fakta tentang mitosis dan meiosis, mereka mencoba menemukan aturan-aturan (kaidah) yang dapat menerangkan bagaimana ciri-ciri teramati pada keturunan itu berkaitan dengan yang dimiliki induknya dan bahkan orang tua induknya.

Dari beberapa teori yang telah diformulasikan untuk menerangkan bagaimana sifat-sifat diwariskan, maka dua hal yang perlu mendapat perhatian khusus. Salah satu di antaranya, teori Mendel, memberikan dasar-dasar yang menjadi landasan karya-karya yang kemudian di dalam genetika. Yang lain, teori mengenai pewarisan sifat-sifat perolehan, walau gagal lulus uji-uji ilmiah, tetapi berlanjut dipertahankan para ahlinya.

 

Teori tentang Pewarisan Sifat Keturunan

Teori hanya menyatakan bahwa sifat-sifat yang diperoleh induk selama masa hidupnya dapat diturunkan kepada keturunannya. Teori ini biasanya digabungkan dengan Lamarck, seorang biologiwan Perancis, yang menggunakannya dalam upaya menerangkan banyak penyesuaian yang mencolok pada alam sekitarnya yang diperlihatkan tumbuhan dan hewan. Ilustrasinya yang paling terkenal ialah jerapah. Ia memastikan bahwa leher panjang jerapah itu berkembang perlahan-lahan sebagai akibat generasi-generasi jerapah mengulurkan lehernya untuk mencari-cari daun pohon-pohon. Setiap generasi menurunkan kepada keturunannya penambahan sedikit pada lehernya yang disebabkan terus-terusan mengulur itu.

Adakah bukti bahwa fenomena semacam itu memang ada? Walau dilakukan usaha berulang-ulang untuk membuktikan bahwa perubahan dalam tubuh yang diperoleh suatu individu dapat diturunkan kepada keturunannya, namun belum ditemukan buktinya untuk hal itu. Percobaan yang paling awal yang mencoba menjawab pertanyaan itu ialah dengan memotong bagian tubuh secara bedah, seperti misalnya ekor tikus. Meski setelah bergenerasi pemotongan ekor tersebut, tikus muda dilahirkan dengan ekor yang sama panjangnya seperti biasanya. Sebenarnya, para pelaksana percobaan dapat melihat sekeliling untuk pembenaran temuan-temuannya. Para pemelihara domba telah lama menghilangkan ekor domba bergenerasi-generasi, tetapi prosesnya masih harus dilakukan dengan setiap generasi baru. Bahkan ketika dilakukan usaha-usaha yang lebih canggih untuk mengubah sifat turun-temurun dengan mengubah lingkungan, hal itu tidak dapat dilakukan.

Mengapa tidak? Untuk melaksanakan pemindahan perubahan-perubahan terhadap tubuh kepada keturunan, maka hal itu bergabung dengan sperma dan sel telur, satu-satunya mata rantai di antara tubuh induknya dan tubuh anak-anaknya. Boleh jadi hal demikian itu dapat terjadi jika sel-sel khusus tubuh tersebut, yang kepadanya dapat dilakukan sedikit perubahan, kemudian membentuk gamet-gamet. Tetapi tidak demikian jadinya. Selama bertahun-tahun telah diketahui bahwa pada hewan sel-sel tubuh yang menghasilkan gamet tersisihkan amat dini dalam kehidupan embrionik. Sebenarnya, anak perempuan yang baru lahir telah menyisihkannya dan memulai pembelahan meiotik pertama untuk setiap sel yang pada suatu saat berkembang menjadi suatu telur matang.

Biologiwan Jerman bernama Weismann menyatakan pemikiran ini dalam bentuk teorinya tentang kesinambungan plasma nutfah. Organisme multiseluler, menurut teori ini, terdiri atas sel-sel penghasil gamet atau germplasma atau plasma nutfah dan sel-sel sisa tubuh itu disebut somaplasma atau plasma tubuh. Weismann menganggap plasma nutfah itu abadi, suatu rantai tak putus dari gamet dan embiro langsung kembali ke asal kehidupan. Pada setiap generasi, embrio yang berkembang dari zigot itu tidak saja menyisihkan sedikit plasma nutfah untuk generasi berikutnya tetapi juga membentuk sel-sel yang akan berkembang menjadi tubuh, plasma tubuh, organisme tersebut. Dalam hal ini, plasma tubuh hanyalah menyediakan wadah bagi plasma nutfah, menjaga-jaga bahwa plasma nutfah terlindungi, terjamin makanannya, dan tersedia (conveyed) bagi plasma nutfah lawan jenisnya agar dapat membentuk generasi berikutnya. Teka-teki lama tentang mana yang pertama muncul, ayam atau telurnya, tidaklah menjadi masalah bagi Weismann. Menurut pendapatnya, ayam itu hanyalah merupakan alat bagi satu telur untuk dapat bertelur yang lain.

Inti kebenaran teori Weismann dengan indah diperagakan pada 1909 oleh W. E. Castle dan John C. Philips, keduanya orang Amerika. Mereka mengeluarkan ovarium dari marmot albino dan ditukarkan dengan marmot hitam. Kemudian marmot albino dikawinkan dengan jantan albino. Bukannya mendapat anak albino sebagaimana diharapkan, melainkan anak-anaknya itu hitam. (Mengawinkan marmot albino dengan marmut hitam selalu menghasilkan keturunan hitam). Denah pewarisan telur-telur belum diubah karena pematangan dalam tubuh hewan berlainan.

(Sumber: John W. Kimball. (1992). BIologi Jilid 1).

Iklan