Archive for the Alkana Category

Alkana

Posted in Alkana with tags , , , , , on April 21, 2012 by isepmalik

Ditinjau dari unsur-unsur penyusun dan strukturnya, alkana merupakan senyawa hidrokarbon alifatik jenuh. Alkana mempunyai rumus umum CnH2n+2, dalam arti setiap molekul alkana yang mengandung n buah atom C selalu mengandung (2n+2) buah atom H. Dalam struktur tiga dimensi alkana, keempat ikatan masing-masing atom karbon tersusun dalam bentuk tetrahedron (bidang empat beraturan), dengan sudut ikatan H-C-H sekitar 109,50.

Alkana membentuk suatu deret homolog (deret senyawa yang beda di antara suku-sukunya sebesar CH2 atau kelipatannya), yang masing-masing mempunyai rumus molekul CH4,C2H6, C3H8, C4H10, C5H12, … dan seterusnya. Fenomena kesiomeran struktur mulai terjadi pada suku ke-4 (butana) dengan jumlah isomer dua buah, dan pada suku ke-5 (pentana) jumlah isomernya tiga buah. Semakin banyak jumlah atom C dalam alkana semakin banyak pula jumlah isomernya.

Tatanama IUPAC untuk alkana yang rantainya tidak bercabang terdiri dari dua bagian, yaitu: (1) awalan yang menunjukkan jumlah atom C, dan (2) akhiran –ana. Untuk alkana yang rantainya bercabang, tatanamanya mempunyai seperangkat ketentuan yang harus dipahami dengan sebaik-baiknya. Dalam tatanama umum (common name), alkana yang rantainya tidak bercabang digunakan awalan normal- (disingkat n-) dan dituliskan di depan nama alkana yang terkait. Di samping itu untuk struktur-struktur rantai tertentu digunakan awalan iso- dan neo-. Gugus yang diturunkan dari suatu alkana dengan cara mengurangi satu atom H dari rumus molekul alkana dinamakan gugus alkil dan lazimnya dinyatakan dengan lambang huruf R-. Contoh gugus alkil misalnya metil, etil, profil, butil, dan pentil.

Dengan memperhatikan rumus struktur suatu alkana, dapat ditunjukkan jenis atom karbon dan atom hidrogennya. Jenis atom C dibedakan ke dalam primer (10), sekunder (20), tersier (30), dan kuarterner (40). Yang dimaksud C primer adalah atom C yang berikatan dengan satu atom C lain, demikian seterusnya. Atom H dalam alkana dibedakan menjadi H primer (10), sekunder (20), dan tersier (30). Yang dimaksud H primer adalah atom H yang diikat oleh atom C primer. Pengertian yang analog berlaku untuk H sekunder dan H tersier.

Alkana yang mengandung 1 sampai dengan 4 atom C, pada suhu kamar dan tekanan atmosfer berwujud gas, untuk yang mengandung 5 sampai dengan 17 atom C berwujud cairan, dan yang selebihnya berwujud padat. Titik didih dan titik lebur alkana makin tinggi dengan bertambahnya berat molekul. Senyawa alkana bersifat nonpolar dan gaya antar molekul-molekulnya adalah gaya van der Waals, sehingga titik didih maupun titik lebur alkana lebih rendah daripada senyawa polar yang berat molekulnya sebanding. Di antara alkana yang merupakan isomer struktur satu terhadap yang lain terdapat perbedaan sifat-sifat fisika dan kimianya. Makin banyak cabang dalam strukturnya, makin rendah titik didihnya.

Alkana sangat tidak reaktif dengan sebagian besar pereaksi, kecuali pada kondisi reaksi yang istimewa. Reaksi-reaksi yang dapat terjadi pada alkana adalah: oksidasi, halogenasi, nitrasi, dan sulfonasi. Pada beberapa alkana dapat terjadi reaksi isomerisasi.

Sumber utama alkana  adalah gas alam (natural gas), minyak bumi, dan batubara. Komponen utama gas alam adalah metana (CH4), sedangkan dalam minyak bumi terdapat sejumlah hidrokarbon dengan struktur yang beragam. Dalam batubara persentase kandungan hidrokarbonnya jauh lebih rendah daripada dalam minyak bumi.

Di laboratorium, alkana dapat dibuat dengan beberapa cara, di antaranya adalah: (1) hidrogenasi alkana, (2) reduksi alkil halida, dan (3) reaksi penggandengan (coupling) alkil halida dan senyawa organologam, misalnya litium dialkil tembaga (R2CuLi).

(Sumber: Parlan. (2003). Kimia Organik I. Universitas Negeri Malang. Hal: 25-26.)

Iklan