Archive for the Bagian 1 Category

Berpegang kepada Maqam

Posted in 27. Berpegang Kepada Maqam with tags , , , , , on Juli 31, 2012 by isepmalik

Jangan meminta kepada Allah swt supaya dipindahkan dari satu hal kepada hal yang lain, sebab jika Allah swt menghendaki kamu dipindahkan tanpa merubah keadaan yang lama.

Hal adalah pengalaman hati tentang hakikat. Hal tidak boleh didapat melalui amal dan juga ilmu. Tidak boleh dikatakan bahwa amalan menurut tarikat tasawuf menjamin seorang murid memperoleh hal. Latihan secara tarikat tasawuf hanya menyucikan hati agar hati itu menjadi bekas yang sesuai untuk menerima kedatangan hal-hal (ahwal). Hal hanya diperoleh karena anugreah Allah swt. Mungkin timbul pertanyaan mengapa ditekankan soal amal seperti yang dinyatakan dalam Hikmah yang sebelumnya sedangkan amal itu sendiri tidak menyampaikannya kepada Tuhan?

Perlu difahami bahwa seorang hamba tidak mungkin berjumpa dengan Tuhan jika Tuhan tidak mau bertemu dengannya. Tetapi, jika Tuhan mau menemui seorang hamba maka dia akan dipersiapkan agar layak berhadapan dengan Tuhan pada pertemuan yang sangat suci dan mulia. Jika seorang hamba didatangi kecenderungan untuk menyucikan dirinya, itu adalah tanda bahwa dia diberi kesempatan untuk dipersiapkan agar layak berjumpa dengan Tuhan. Hamba yang bijaksana adalah yang tidak melepaskan kesempatan tersebut, tidak menunda-nunda kepada waktu yang lain. Dia tahu bahwa dia menerima undangan dari Tuhan Yang Maha Mulia, lalu dia menyerahkan dirinya untuk dipersiapkan sehingga kepada tahap dia layak menghadap Tuhan sekalian alam. maqam di mana hamba dipersiapkan ini dinamakan aslim atau menyerahkan diri sepenuhnya kepada Tuhan. Tuhan yang tahu bagaimana mempersiapkan para hamba agar bersiap sedia dan layak untuk berjumpa dengan Tuhan (memperoleh ma’rifat Allah swt). Walaupun hal merupakan anugerah Allah swt semata-mata, tetapi hal hanya mendatangi hati para hamba yang bersedia menerimanya.

Murid atau salik yang memperoleh hal akan meningkatkan ibadahnya sehingga suasana yang dicetuskan oleh hal itu sehati dengannya dan membentuk kepribadian yang sesuai dengan cetusan hal tersebut. Hal yang menetap itu dinamakan maqam. Misalnya, Allah swt mengijinkan seorang salik mendapat hal di mana dia merasakan bahwa dia senantiasa berhadapan dengan Allah swt, Allah swt melihatnya zahir dan batin, mendengar ucapan lidahnya dan bisikan hatinya. Salik memperteguhkan daya rasa tersebut dengan cara memperkuatkan amal ibadah yang sedang dilakukannya sewaktu hal tersebut datang kepadanya seperti shalat, pasa, atau zikir, sehingga daya rasa tadi menjadi sehati dengannya. Dengan demikian dia mencapai maqam ihsan.

Salah satu sifat manusia adalah tergesa-gesa, bukan saja dalam perkara duniawi tetapi juga dalam perkara ukhrawi. Salik yang ruhaninya belum mantap masih dibaluti sifat-sifat kemanusiaan. Apabila dia mengalami satu hal, dia akan merasakan nikmatnya. Dia merasa rindu untuk menikmati hal yang lain pula. Lalu dia memohon kepada Allah swt supaya ditukarkan halnya. Sekiranya hal yang datang tidak diperteguhkan ia tidak menjadi maqam. Bila hal berlalu, ia menjadi kenangan, tidak menjadi kepribadian. Meminta perubahan kepada hal yang lain adalah tanda kekeliruan dan dapat merusak perkembangan keruhanian.

Kekuatan yang paling utama adalah berserah diri kepada Allah swt, ridha dengan segala ketentuan-Nya. Biarkan Allah Yang Maha Mengerti menguruskan kehidupan kita. Sebaik-baik perbuatan adalah menjaga maqam yang kita sedang berada di dalamnya. Jangan meminta maqam yang lebih tinggi atau lebih rendah. Semakin dekat dengan Allah swt, semakin dekat dengan bahaya yang besar, yaitu dicampakkan keluar dari majlis-Nya; siapa yang tidak tahu menjaga kesopanan berjamlis dengan Tuhan Yang Maha Mulia dan Maha Tinggi. Oleh karena itu, tunduklah kepada kemuliaan-Nya dan berserahlah kepada kebijaksanaan-Nya, niscaya Dia akan mengurus keselamatan dan kesejahteraan para hamba-Nya.

Iklan

Allah SWT dan Makhluk

Posted in 15-24. Allah SWT dan Makhluk with tags , , , , , on Juli 19, 2012 by isepmalik

Diantara bukti yang menunjukkan adanya keperkasaan Allah swt yang luar biasa adalah yang dapat menghijab engkau dari melihat kepada-Nya dengan hijab yang tidak ada wujudnya di sisi Allah swt.

Bagaimana menyangka Allah swt dapat dihijab oleh sesuatu, padahal Dia yang menzahirkan segala sesuatu.

Bagaimana mungkin akan dihijab oleh sesuatu, padahal Dia yang tampak pada segala sesuatu.

Bagaimana mungkin dihijab oleh sesuatu, padahal Dia yang terlihat dalam tiap sesuatu.

Bagaimana sesuatu dapat ditutup oleh sesuatu, padahal Dia yang tampak pada tiap segala sesuatu. Bagaimana mungkin dihijab oleh sesuatu, padahal Dia yang ada sebelum ada sesuatu.

Bagaimana mungkin akan dihijab oleh sesuatu, padahal Dia yang lebih nyata dari segala sesuatu.

Bagaimana mungkin akan dihijab oleh sesuatu, padahal Dia yang Esa. Tidak ada sesuatu apapun di samping-Nya.

Bagaimana akan dapat dihijab oleh sesuatu, padahal Dia yang lebih dekat kepadamu dari segala sesuatu.

Bagaimana mungkin akan dihijab oleh sesuatu, seandainya tidak ada Allah swt niscaya tidak ada segala sesuatu.

Alangkah ajaibnya bagaimana wujud di dalam ‘adam (yang tidak wujud), atau bagaimana sesuatu yang rusak dapat bertahan di samping zat yang bersifat kekal.

Alam ini semuanya gelap gulita sedangkan yang meneranginya adalah karena wujud Allah swt. Pada hakikatnya alam ini tidak wujud, hanya Allah swt yang wujud. Tetapi apa yang terlihat kepada kita adalah alam semata-mata sedangkan Allah swt yang lebih nyata menjadi tersembunyi dari pandangan kita. Allah swt yang menzahirkan segala sesuatu, bagaimana sesuatu itu dapat menghijabkan-Nya. Allah swt yang tampak nyata pada segala sesuatu, bagaimana Dia dapat tersembunyi. Allah swt adalah Maha Esa, tiada sesuatu bersama-Nya, bagaimana Dia dapat dihijab oleh sesuatu yang tidak wujud di samping-Nya.

Hati akan diisi dengan iman (percaya) atau ragu-ragu. Jika Nur Ilahi menyinari hati, maka mata hati akan melihat dengan iman. Seandainya pandangan mata hati tidak bercahayakan Nur Ilahi, maka apa yang dipandangnya akan membawa keraguan dalam bentuk pertanyaan ‘bagaimana’. Pertanyaan ‘bagaimana’ itu merupakan ujian tentang keimanan. Ia dapat memberi rangsangan untuk menambahkan pengetahuan tentang Tuhan. Jika tidak dikawal ia akan mendorong kepada pembahasan yang tidak ada penyelesaian karena bidang ilmu sangat luas, tidak mungkin habis untuk dikupas. Jika kita ikuti pembahasan ilmu, kita akan mati terlebih dahulu sebelum sempat mendapat jawaban yang memuaskan. Oleh karena itu kita harus memberikan garis pembatas kepada ilmu dan memasuki ke dalam iman. Iman menghilangkan keraguan dan tidak perlu bersandar kepada bukti dan dalil-dalil.

Pengalaman hakikat akan menghapuskan pertanyaan ‘bagaimana’. Apabila keraguan datang, ia akan disambut dengan jawaban, “Dengan Dia aku mengenal sifat-Nya, bukan dengan sifat-Nya aku mengenal Dia. Dengan Dia aku mengenal ilmu pengetahuan, bukan dengan pengetahuan aku mengenal Dia. Dengan Dia aku mengenal ma’rifat, bukan dengan ma’rifat aku mengenal Dia”.

Apabila hati sudah diisi dengan iman, pertanyaan ‘bagaimana’ akan menguatkan keinginan untuk memahami Rahasia Ilahi yang menyelubungi alam maya ini. Jika dia tidak mampu memahami sesuatu tentang Rahasia Ilahi itu, maka dia akan tunduk dan mengakui dengan kerendahan hatinya bahwa benteng keteguhan Allah swt tidak mampu dipecahkan oleh makhluk-Nya.

Sikap Orang Bodoh

Posted in 25. Sikap Orang Bodoh with tags , , , , , on Juli 18, 2012 by isepmalik

Kebodohan tidak meninggalkan sedikit pun sesuatu bagi siapa yang berkehendak mengadakannya pada masa tertentu dari apa yang dijadikan Allah swt pada masa itu.

Dalam perjalanan menuju Allah swt adalah sebagian orang yang tertinggal di belakang walaupun mereka sudah melakukan amal yang sama seperti yang dilakukan oleh orang lain yang lebih maju. Satu halangan yang menyekat golongan yang tertinggal itu adalah kebodohannya yang tidak mau tunduk kepada ketentuan Allah swt. Dia masih dipermainkan oleh nafsu dan akal yang menghijab hatinya dari melihat Allah swt pada apa yang dilihatnya. Pandangannya hanya tertuju kepada alam benda dan perkara yang zahir saja. Dia melihat kepada keajaiban hukum sebab-akibat dan meletakkan pergantungan kepada amalnya. Dia meyakini akan mendapatkan apa yang diinginkan melalui usahanya.

Keadaan orang yang disebutkan di atas telah dibahas pada Hikmah 1. Ketika ruhani orang lain telah berkembang menuju Allah swt, dia masih juga berputar-putar di dalam kesamaran dan keraguan. Nafsunya tetap melahirkan keinginan-keinginan. Keinginan diri sendiri menjadi rantai yang mengikat kaki yang menghambat perjalanan menuju Allah swt. Bagaimana seseorang mendekati Allah swt jika dia enggan menjadikan Allah swt sebagai Pengurus semua aspek kehidupannya. Walaupun para hamba ridha atau membantah, Allah swt tetap melaksanakan ketentuan-Nya. Allah swt melaksanakan kehendak-Nya pada setiap waktu dan tidak ada siapa pun yang dapat menghalangi-Nya.

Semua yang ada di langit dan bumi selalu meminta kepadanya. Setiap waktu Dia dalam kesibukan (QS. Ar-Rahman:29).

Allah swt saja yang mencipta, meletakkan hukum dan peraturan, membahagiakan rizki dan lain-lain. Dia menentukan urusan dengan bijaksana dan adil, termasuk urusan mengenai diri kita dan apa yang terjadi pada kita. Kita memandang diri dan kejadian yang menimpa kita dalam skala yang kecil. Allah swt melihat kepada seluruh alam dan semua kejadian, tanpa keliru pandangan-Nya kepada diri kita dan kejadian yang menimpa kita, juga tidak mengalihkan pandangan-Nya dari makhluk yang lain.

Orang yang di dalam hatinya tidak berbekas terhadap kesempurnaan Allah swt itu adalah orang bodoh. Dia masih juga tidak menerima tentang perjalanan hkum takdir Ilahi, seolah-olah Tuhan harus tunduk kepada hukum makhluk-Nya. Bagi murid yang cenderung mengikuti latihan keruhanian perlu berusaha untuk melenyapkan kehendak diri sendiri dan hidup dalam ketentuan Allah swt. Jangan sekali-kali membangkang dengan takdir karena Penentu Takdir tidak pernah berdiskusi dengan siapa pun dalam menentukan ketentuan-Nya.

Jika kita mau mengenali Allah swt, kitatidak boleh melihat-Nya pada satu aspek saja. Jika kita melihat Allah al-Gahfur (Maha Pengampun), kita juga harus melihat Allah al-Aziz (Maha Keras). Jika kita melihat Allah al-Hayyu (Yang Menghidupkan) kita juga harus melihat Allah al-Mumit (Yang Mematikan). Jika dapat melihat semua sifat-sifat Allah swt dalam satu kesatuan, barulah kita dapat mengenali-Nya dengan sebenar-benarnya. Bila Allah swt dikenal dalam semua aspek, hikmah kebijaksanaan-Nya dalam menentukan suatu perkara pada suatu waktu tidak tersembunyi lagi dari pandangan mata hati.

Hati yang tidak mau tunduk kepada Maha Pengatur tidak akan menemui kedamaian. Waktu, ruang dan kejadian akan membuatnya gelisah karena nafsunya tidak dapat menguasai semua itu. Dia menginginkan suatu perkara pada satu waktu sedangkan Maha Pengatur mengingkan perkara lain. Kehendak makhluk tidak dapat mengatasi kehendak Tuhan. Jika mau hati menjadi tenteram usahakan agar hati senantiasa ingat kepada Allah swt.

(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram (QS. Ar-Ra’d:28).

Berimanlah kepada Allah swt dan beriman juga kepada takdir. Lepaskan khayalan sebab-akibat yang menjadi pagar nafsu yang menutupi hati.

Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan ijin Allah; dan barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu (QS. At-Taghabun:11).

Menunda Amal: Tanda Kebodohan

Posted in 26. Menunda Amal Tanda Kebodohan with tags , , , , , on Juli 13, 2012 by isepmalik

Menunda amal kebaikan karena menantikan kesempatan yang lebih baik adalah tanda kebodohan.

Hikmah yang lalu memaparkan kebodohan yang timbul karena kejahilan tentang kekuasaan Tuhan. Hikmah 26 ini memaparkan kebodohan yang timbul lantaran kelalaian. Orang yang mabuk dibuai oleh ombak kelalaian tidak dapat melihat bahwa pada setiap detik pintu rahmat Allah swt senantiasa terbuka dan Allah swt senantiasa menghadap kepada hamba-hamba-Nya. Setiap saat adalah kesempatan dan tidak ada kesempatan yang lebih baik daripada kesempatan yang memperlihatkan dirinya kepada kita. Kesempatan yang paling baik adalah kesempatan yang kita sedang berada di dalamnya.

Kelalaian adalah buah kepada panjang angan-angan. Panjang angan-angan datangnya dari kurang mengingat kepada mati. Jadi, obat yang paling mujarab untuk mengobati penyakit kelalaian ialah memperbanyak ingatan kepada mati. Apabila ingatan kepada mati sudah kuat, maka seseorang itu tidak akan mengabaikan kesempatan yang ada baginya untuk melakukan amal salih.

Hikmah 26 jika ditafsirkan secara umum menganjurkan agar segala amal kebaikan hendaklah dilakukan dengan segera tanpa menangguh-nangguhkan. Jika diperhatikan Kalam-kalam Hikmah yang lalu dapat difahami bahwa Hikmah yang dipaparkan berkenaan membimbing seseorang pada jalan keruhanian. Amal yang ditekankan adalah amal yang berhubungan dengan pembentukan ruhani. Hikmah 27 nanti akan membahas tentang suasana keruhanian. Jadi, jika ditafsirkan secara khusus Hikmah 26 ini menganjurkan untuk bersegera melakukan amal-amal yang perlu bagi menyediakan hati untuk menerima kedatangan hal-hal dan seterusnya. Amal yang berkenaan ialah latihan keruhanian menurut tarikat tasawuf. Latihan yang demikian harus disegerakan ketika mendapat kesempatan, tanpa menanti datangnya kesempatan yang lain yang diharapkan lebih baik dan lebih sesuai.

Ketika menjalani latihan keruhanian secara tarikat tasawuf, kehidupan hanya dipenuhi dengan amal ibadah seperti shalat, puasa, berzikir dan lain-lain. Semua amalan tersebut dilakukan bukan bertujuan untuk mengejar surga tetapi semata-mata untuk mendapatkan keridhaan Allah swt dan mendekatkan diri kepada-Nya. Amalan seperti inilah yang membuka pintu hati untuk berpeluang mengalami hal-hal yang membawa kepada hasil yang diharapkan yaitu ma’rifatullah. Siapa yang benar-benar ingin mencapai keridhaan Allah swt dan berhasrat untuk menghampiri-Nya serta mengenali-Nya hendaklah jangan menangguhkannya. Tidak usah dicari kesempatan yang lebih baik. Jangan menjadikan masalahan keduniaan sebagai alasan untuk menunda amalan mencari keridhaan Allah swt. Bulatkan tekad, kuatkan azam, masuklah ke dalam golongan ahli Allah swt yang beramal dan bekerja semata-mata karena Allah swt. Benamkan diri sepenuhnya ke dalam suasana ‘Allah’ semata-mata dan tinggalkan seketika apa saja yang selain Allah swt. Anggaplah latihan yang demikian seperti keadaan ketika menunaikan ibadah haji di tanah suci. Selama di tanah suci, segala-galanya ditinggilkan di tanah air sendiri. Di hadapan Baitullah seorang hamba menghadap dengan sepenuh jiwa raga kepada Tuhannya. Dia tidak mengkuatirkan keluarga, harta dan pekerjaan yang ditinggalkan karena semuanya sudah diserahkannya kepada penjagaan Allah swt. Allah swt adalah Pemegang amanah yang paling baik. Dia menjaga dengan sebaik-baiknya apa yang diserahkan kepada-Nya. Syarat penyerahan itu adalah keyakinan.

Perlu dinyatakan bahwa latihan keruhanian secara tarikat tasawuf bukanlah satu-satunya jalan kepada Allah swt. Tujuan utama latihan secara tasawuf adalah untuk mendapatkan ikhlas dan penyerahan yang menyeluruh kepada Allah swt. Ikhlas dan penyerahan dapat juga diperoleh walaupun tidak menjalani tarikat tasawuf tetapi tanpa latihan khusus pembentukan hati kepada suasana yang demikian sangat sukar dilakukan.

Jalan yang tidak ada latihan khusus adalah jalan kehidupan harian. Pada jalan ini orang yang beriman perlu bekerja kuat untuk menjalankan peraturan Islam dan mempertahankan iman. Pancaroba dalam kehidupan harian sangat banyak  dan orang yang beriman perlu berjalan dicelah-celahnya, menjaga diri agar tidak tertawan dengan penggoda. Kewaspadaan dalam kehidupan harian itu adalah sifat takwa. Orang yang bertakwa adalah orang yang mulia pada sisi Allah swt.

Walaupun jalan mana yang dilalui hasil akhirnya adalah memperoleh ikhlas, berserah diri dan bertakwa.

Allah Swt Yang Menzahirkan Alam

Posted in 14. Allah SWT yang Menzahirkan Alam with tags , , , , , on Juli 3, 2012 by isepmalik

Alam adalah kegelapan dan yang menerangkannya karena padanya kelihatan yang haq (tanda-tanda Allah swt). barangsiapa melihat alam tetapi dia tidak melihat Allah swt di dalamnya, di sampingnya, sebelumnya atau sesudahnya, maka dia benar-benar memerlukan wujudnya cahaya-cahaya itu dan tertutup baginya cahaya ma’rifat oleh tebalnya awan benda-benda alam.

 

Alam ini pada hakikatnya adalah gelap atau ‘adam, tidak wujud. Wujud Allah sw yang menerbitkan kewujudan alam. tidak ada satu kewujudan yang berpisah dari wujud Allah swt. Hubungan wujud Allah swt dengan kewujudan makhluk sekiranya dibuat ibarat (sebenarnya tidak ada ibarat yang mampu menjelaskan hakikat sebenarnya), perhatikan kepada api yang berputar dalam kecepatan. Kelihatan pada pandangan kita bulatan api. Perhatikan pula kepada orang yang berbicara, akan kedengaran suara dari mulutnya. Kemudian perhatikan pula minyak kasturi, akan terhirup baunya yang wangi. Wujud bulatan api adalah wujud yang berkaitan dengan wujud api. Wujud suara adalah wujud yang berkaitan dengan wujud orang yang berbicara. Wujud bau wangi adalah wujud yang berkaitan dengan wujud minyak kasturi. Wujud bulatan api, suara dan bau wangi pada hakikatnya tidak wujud. Begitulah ibaratnya wujud makhluk yang menjadi ada dari  wujud Allah swt. Wujud bulatan api adalah hasil dari pergerakan api. Wujud suara adalah hasil dari perbuatan orang yang berbicara. Wujud bau wangi adalah hasil dari sifat minyak kasturi. Bulatan api bkanlah api tetapi bukan pula muncul selain dari api dan tidak terpisah darinya. Suara bukanlah orang yang berbicara tetapi tidak muncul selain dari orang yang berbicara. Walaupun orang itu sudah tidak berbicara tetapi masih banyak lagi suara yang tersimpan padanya. Bau wangi bukanlah minyak kasturi tetapi tidak muncul selain dari minyak kasturi. Walaupun bulatan api kelihatan banyak, suara kedengaran banyak, dan bau dapat dinikmati orang-orang, namun api hanya satu, orang yang berbicara hanya seorang dan minyak kasturi yang mengeluarkan bau hanya satu biji.

Agak sukar memahami konsep ada tetapi tidak ada, tidak bersama tetapi tidak berpisah. Inilah konsep ketuhanan yang tidak mampu dipecahkan oleh akal tanpa penerangan nur dari lubuk hati. Mata hati yang diterangi Nur Ilahi dapat melihat kaitan antara ada dengan tidak ada, tidak bersama tetapi tidak berpisah. Atas kekuatan hatinya menerima cahaya Nur Ilahi akan menentukan kekuatan mata hatinya melihat kepada keghaiban yang tidak berpisah dengan kejadian alam ini. Ada 4 tingkatan pandangan mata hati terhadap hubungan alam dengan Allah swt yang menciptakan alam.

  1. Mereka yang melihat Allah swt dan tidak melihat alam ini. Mereka adalah ibarat orang yang hanya melihat kepada api, bulatan api yang khayali tidak menyilaukan pandangannya. Walaupun mereka berada di tengah-tengah kesibukan, namun mata hati mereka tetapi bertumpu kepada Allah swt, tidak terganggu oleh keanekaan makhluk. Lintasan makhluk hanyalah ibarat cermin yang ditembus cahaya. Pandangan mereka tidak melekat pada cermin itu.
  2. Mereka yang melihat makhluk secara zahir tetapi Allah swt pada batin. Mata hati mereka melihat alam sebagai penzahiran sifat-sifat Allah swt. Segala yang maujud merupakan kitab yang menceritakan tentang Allah swt. Tiap satu kewujudan alam ini membawa sesuatu makna yang menceritakan tentang Allah swt.
  3. Mereka yang melihat Allah swt pada zahirnya sementara makhluk tersembunyi. Mata hati mereka terlebih dahulu melihat Allah swt sebagai sumber segala sesuatu, kemudian baru mereka melihat makhluk yang menerima karuia dari-Nya. Alam tidak lain merupakan perbuatan-Nya, gubahan-Nya, lukisan-Nya atau hasil kerja kekuasaan-Nya.
  4. Mereka yang melihat makhluk terlebih dahulu kemudian baru melihat Allah swt. Mereka memasuki jalan berhati-hati dan waspada, memerlukan masa untuk menghilangkan keraguan, berdalil dengan akal sehingga akhirnya meyakini akan Allah swt yang wujud-Nya menguasai wujud makhluk.

Selain yang dinyatakan di atas tidak disebut orang yang melihat Allah swt. Gambar-gambar alam, syahwat, kelalaian dan dosa menggelapkan cermin hati mereka hingga tidak mampu menangkap cahaya yang membawa kepada ma’rifat. Mereka gagal untuk melihat Allah swt berada di dalam sesuatu, di samping sesuatu, sebelum sesuatu atau sesudah sesuatu. Mereka hanya melihat makhluk seolah-olah berdiri sendiri tanpa campur tangan Tuhan.

Elemen alam dan sekalian peristiwa yang berlaku merupakan perutusan yang membawa berita tentang Allah swt. Berita itu bukan didengar dengan telinga atau dilihat dengan mata atau dipikir dengan akal. Ia adalah berita ghaib yang menyentuh jiwa. Sentuhan tangan ghaib pada jiwa itulah yang membuat hati mendengar tanpa telinga, melihat tanpa mata dan merenung tanpa akal pikiran. Hati hanya mengerti setiap utusan yang disampaikan oleh tangan ghaib kepadanya dan hati menerimanya dengan yakin. Keyakinan itu menjadi kunci kepada telinga, mata dan akal. Apabila kuncinya telah dibuka, segala suara alam yang didengar, sekalian elemen alam yang dilihat dan seluruh alam maya yang direnungi akan membawa cerita tentang Tuhan. ‘Abid mendengar, melihat dan merenungi keperkasaan Tuhan. Asyikin mendengar, melihat dan merenungi keindahan Tuhan. Muttakhaliq mendengar, melihat dan merenungi kebijaksanaan dan kesempurnaan Tuhan. Muwahhid mendengar, melihat dan merenungi keesaan Tuhan.

(Yaitu) hari (ketika) mereka keluar (dari kubur); tiada suatupun dari keadaan mereka yang tersembunyi bagi Allah. (lalu Allah berfirman): “Kepunyaan siapakah kerajaan pada hari ini?” Kepunyaan Allah yang Maha Esa lagi Maha Mengalahkan (QS. Al-Mumin:16).

Mereka mendustakan mukjizat Kami semuanya, lalu Kami azab mereka sebagai azab dari yang Maha Perkasa lagi Maha Kuasa (QS. Al-Qamar:42).

Ayat-ayat di atas menggetarkan jiwa ‘abid. Hati abid sudah ‘berada’ di akhirat. Alam dan kehidupan ini menjadi ayat-ayat atau tanda-tanda untuknya melihat keadaan dirinya di akhirat kelak, menghadap Tuhan Yang Esa, Maha Perkasa, tiada sesuatu yang tersembunyi dari-Nya.

Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang? Kemudian pandanglah sekali lagi niscaya penglihatanmu akan kembali kepadamu dengan tidak menemukan sesuatu cacat dan penglihatanmu itu pun dalam keadaan payah (QS. Al-Mulk: 3-4).

Asyikin memandang kepada ciptaan dan dia mengulang-ulang pemandangannya. Semakin dia memandang kepada alam semakin dia melihat kepada keindahan dan kesempurnaan Pencipta alam. Dia asyik dengan apa yang dipandangnya.

Dialah Allah yang menciptakan, yang mengadakan, yang membentuk rupa, yang mempunyai asmaaul husna. Bertasbih kepadanya apa yang di langit dan bumi. Dan Dialah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana (QS. Al-Hasyr:24).

Muttakhaliq menyaksikan sifat-sifat Tuhan yang dikenal dengan nama-nama yang baik. Alam adalah media untuknya mengetahui nama-nama Allah swt dan siat-sifat kesempurnaan-Nya. Setiap yang dipandang menceritakan sesuatu tentang Allah swt.

Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku (QS. Thaha:14).

Muwahhid fana dalam Zat. Kesadaran dirinya hilang. Melalui lidahnya muncul ucapan-ucapan seperti ayat di atas. Dia mengucapkan ayat-ayat Allah swt, bukan dia bertukar menjadi Tuhan.

Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Yang menguasai di hari pembalasan. Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan. Tunjukilah kami jalan yang lurus. (Yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat (QS. Al-Fatihah:1-7).

Mutahaqqiq kembali kepada kesadaran kemanusiaan untuk memikul tugas membimbing umat manusia kepada jalan Allah swt. Hatinya senantiasa memandang kepada Allah swt dan bergantung kepada-Nya. Kehidupan ini adalah medan dakwah baginya. Segala elemen alam adalah alat untuk dia memakmurkan bumi.

Apabila Nur Ilahi menerangi hati apa saja yang dipandang akan kelihatan Allah swt, di sampingnya atau sebelumnya atau sesudahnya.

Hijab yang Menghalangi Perjalanan

Posted in 13. HIjab yang Menghalangi Perjalanan with tags , , , , , on Juni 30, 2012 by isepmalik

Bagaimana hati akan dapat disinari ketika gambar-gambar alam maya melekat pada cerminnya, bagaimana mungkin berjalan kepada Allah swt ketika masih dibelenggu oleh syahwat, bagaimana akan masuk ke hadirat Allah swt ketika masih belum suci dari kelalaian, atau bagaimana mengharap untuk memahami rahasia-rahasia yang lembut ketika belum bertaubat dari dosa.

 

Hikmah 12 memberi penekanan tentang uzlah yaitu mengasingkan diri. Hikmah 13 ini memperingatkan bahwa uzlah tubuh saja tidak memberi kesan yang baik jika hati tidak ikut beruzlah. Walaupun tubuh beruzlah, hati masih dapat diganggu oleh empat perkara:

  1. Gambaran, ingatan, tarikan dan keinginan terhadap benda-benda seperti harta, perempuan, pangkat dan lain-lain.
  2. Kehendak atau syahwat yang mengarahkan perhatian kepada apa yang dikehendaki.
  3. Kelalaian yang menutup ingatan terhadap Allah swt.
  4. Dosa yang tidak dibasuh dengan taubat masih dapat mengotorkan hati.

Tubuh manusia tersusun dari elemen tanah, air, api, dan angin. Ia juga dimasuki unsur-unsur alam seperti tumbuhan, hewan, setan, dan malaikat. Tiap-tiap elemen dan unsur itu menarik hati kepada masing-masingnya. Tarik-menarik itu akan menimbulkan kekacauan di dalam hati. Kekacauan itu pula menyebabkan hati menjadi keruh. Hati yang keruh tidak dapat menerima nur yang melahirkan iman dan tauhid. Mengobat kekacauan hati adalah penting untuk membukakan penerimaan maklumat dari Alam Malakut. Hati yang kacau dapat distabilkan dengan cara menundukkan semua elemen dan unsur tadi kepada syariat. Syariat menjadi tali yang dapat mengikat musuh-musuh yang mencoba menawan hati. Penting sekali bagi seorang murid yang menjalani jalan keruhanian menjadikan syariat sebagai payung yang mengharmonikan perjalanan elemen-elemen dan daya-daya yang menyerap ke dalam tubuh agar cermin hatinya bebas dari gambar-gambar alam maya. Bila cermin hati sudah bebas dari gambar-gambar dan tarikan tersebut, hati dapat menghadap ke hadirat Ilahi.

Selain tarikan benda-benda alam, hati dapat tunduk kepada syahwat. Syahwat bukan saja rangsangan hawa nafsu yang rendah. Semuan bentuk kehendak diri sendiri yang berlawanan dengan kehendak Allah swt adalah syahwat. Kerja syahwat adalah mengajak manusia supaya lari dari hukum dan peraturan Allah swt serta membangkang takdir Ilahi. Syahwat membuat manusia tidak ridha dengan keputusan Allah swt. Seseorang yang mau menghadap Allah swt perlu melepaskan dirinya dari belenggu syahwat dan kehendak diri sendiri, lalu masuk ke dalam penyerahan diri kepada Allah swt dan ridha dengan takdir-Nya.

Perkara ketiga yang dimunculkan oleh Hikmat 13 ini ialah kelalaian yang diistilahkan sebagai junub batin. Orang yang berjunub adalah tidak suci dan dilarang melakukan ibadah atau memasuki masjid. Orang yang berjunub batin pun akan tercegah dari memasuki hadirat Ilahi. Orang yang di dalam junub batin yaitu lalai hati, kedudukannya seperti orang yang berjunub zahir, di mana alam ibadahnya tidak diterima. Allah swt mengancam untuk mencampakkan orang yang bersembahyang dengan lalai (dalam keadaan berjunub batin) ke dalam neraka wail. Begitu hebat sekali ancaman Allah swt kepada orang yang menghadap-Nya dengan hati yang lalai.

Mengapa begitu hebat sekali ancaman Allah swt kepada orang yang lalai? Bayangkati hati itu berupa dan berbentuk seperti rupa dan bentuk kita yang zahir. Hati yang khusyuk adalah ibarat orang yang menghadap Allah swt dengan mukanya, duduk dengan tertib, berbicara dengan sopan santun dan tidak berani mengangkat kepala di hadapan Maharaja Yang Maha Agung. Hati yang lalai ibarat orang yang menghadap dengan punggungnya, duduk tidak beradab, bertutur kata tidak tentu ujung pangkalnya dan kelakuannya sangat tidak sopan. Perbuatan demikian adalah satu penghinaan terhadap martabat ketuhanan Yang Maha Mulia dan Maha Tinggi. Jika raja di dunia murka dengan perbuatan yang demikian, maka Tuhan lebih berhak melemparkan kemurkaan-Nya kepada hamba yang tidak beradab itu dan layak jika si hamba yang demikian dicampakkan ke dalam neraka wail. Hanya hamba yang khusyuk, yang tahu sopan santun di hadapan Tuhannya dan mengagungkan Tuhannya yang layak masuk ke hadirat-Nya, sementara hamba yang lalai, tidak tahu sopan santun tidak layak mendekati-Nya.

Perkara yang keempat adalah dosa-dosa yang belum ditebus dengan taubat. Ia menghalangi seseorang dari memahami rahasia-rahasia yang lembut. Pintu kepada kemahakuasaan Allah swt yang tersembunyi adalah taubat! Orang yang telah menyucikan hatinya hanya mampu berdiri di luar pintu Rahasia Allah swt selagi dia belum bertaubat, sama seperti orang yang mati syahid yang belum menjelaskan utangnya terpaksa menunggu di luar surga. Jika dia mau masuk ke dalam kemahakuasaan Allah swt yang tersembunyi yang mengandung rahasia yang lembut maka wajib bertaubat. Taubat itu sendiri merupakan rahasia yang lembut. Orang yang tidak memahami rahasia taubat tidak akan mengerti mengapa Rasulullah saw tidak pernah melakukan dosa masih juga memohon ampunan, sedangkan sekalipun Baginda saw melakukan dosa semuanya diampunkan Allah swt. Apakah Rasulullah saw tidak yakin bahwa Allah swt mengampuni semua dosa-dosa dan kesalahan-kesalahannya (jika ada)?

Maksud taubat ialah kembali, yaitu kembali kepada Allah swt. Orang yang melakukan dosa tercampak jauh dari Allah swt. Walaupun orang ini sudah berhenti melakukan dosa, malah sudah melakukan amal ibadah dengan banyaknya namun tanpa taubat dia tetap berjauhan dengan Allah swt. Dia masuk ke dalam golongan hamba yang melakukan amal salih tetapi yang berjauhan bukan berdekatan dengan Allah swt. Taubat yang lebih lembut ialah penghayatan terhadap kalimat “laa haula wa laa quwwata illa billah; tiada daya dan upaya melainkan anugerah Allah swt” dan “inna lillah wa inna ilaihi rajiuun; kami datang dari Allah swt dan kepada-Nya kami kembali”.

Segala sesuatu datangnya dari Allah swt, baik kehendak maupun perbuatan kita. Sumber yang mendatangkan segala sesuatu adalah Uluhiyah (Tuhan) dan yang menerimanya adalah ubudiyah (hamba). Apa saja yang dari Uluhiyah adalah sempurna dan apa saja yang datang dari ubudiyah adalah tidak sempurna. Uluhiyah membekalkan kesempurnaan tetapi ubudiyah tidak dapat melaksanakan kesempurnaan itu. jadi, ubudiyah berkewajiban mengembalikan kesempurnaan itu kepada Uluhiyah dengan memohon ampunan dan bertaubat sebagai penyesalan kesalahan. Segala urusan dikembalikan kepada Allah swt. Semakin tinggi ma’rifat seorang hamba semakin kuat ubudiyahnya dan semakin kerap dia memohon ampunan dari Allah swt, mengembalikan setiap urusan kepada Allah swt, sumber datangnya segala urusan.

Apabila hamba mengembalikan urusannya kepada Allah swt, maka Allah swt sendiri yang akan mengajarkan ilmu-Nya yang lembut agar kehendak hamba itu bersesuaian dengan Iradat Allah swt, kuasa hamba sesuai dengan Kudrat Allah swt, hidup hamba sesuai dengan Hayat Allah swt dan pengetahuan hamba sesuai dengan Ilmu Allah swt, dengan demikian jadilah hamba mendengar karena Sama’ Allah swt, melihat karena Bashar Allah swt, dan berkata-kata karena Kalam Allah swt. Apabila semuanya berkumpul pada seorang hamba maka jadilah hamba itu Insan Sirullah (Rahasia Allah swt).

Uzlah adalah Pintu Tafakur

Posted in 12. Uzlah adalah Pintu Tafakur with tags , , , , , on Juni 24, 2012 by isepmalik

Tiada sesuatu yang sangat berguna bagi hati untuk masuk ke medan tafakur kecuali uzlah

 

Kalam-kalam Hikmah pertama hingga ke sebelas telah memberi gambaran tentang keperibadian tauhid yang sangat lembut. Seseorang yang mencintai Allah swt dan mau berada di sisi-Nya sangat berkeinginan untuk mencapai kepribadian yang demikian. Dalam membentuk kepribadian itu, dia gemar mengikuti fondasi syariat, kuat beribadah dan menjauhkan diri dari perbuatan maksiat dan dosa. Dia sering bangun pada malam hari untuk melakukan shalat tahajud dan selalu pula melakukan puasa sunat. Dia menjaga tingkah-laku dan akhlak dengan mencontoh apa yang dilakukan Nabi saw. Hasil dari kesungguhannya itu terbentuklah kepribadian seorang Muslim yang baik. Walaupun demikian dia masih tidak mencapai kepuasan dan kedamaian. Dia masih tidak mengerti tentang Allah swt. Banyak persoalan yang timbul di dalam kepala yang tidak mampu diuraikannya. Dia bertanya kepada mereka yang alim, tetapi dia tidak mendapat jawaban yang memuaskan hatinya. Jika ada jawaban yang baik disampaikan kepadanya, dia tidak dapat menghayati apa yang telah diterangkan itu. dia mengkaji kitab-kitab tasawuf yang besar-besar. Ulama tasawuf memberikan penjelasan yang mampu diterima oleh akalnya, namun dia masih merasakan kekosongan di satu sudut di dalam dirinya. Dapat dikatakan dia kepada perbatasan akalnya.

Hikmah 12 ini memberi petunjuk kepada orang yang gagal mencari jawaban dengan kekuatan akalnya. Jalan yang disarankan ialah uzlah atau mengasingkan diri dari keramaian. Jika dalam suasana biasa akal tidak mamu memecahkan kebuntuan, dalam suasana uzlah, hati mampu membantu akal secara tafakur untuk merenungi perkara-perkara yang tidak dapat dipikirkan oleh akal biasa. Uzlah yang disarankan oleh Hikmah 12 ini bukanlah uzlah sebagai satu cara hidup yang terus-menerus tetapi ia adalah satu bentuk latihan keruhanian untuk memantapkan ruhani agar akalnya dapat menerima pancaran Nur Kalbu karena tanpa cahaya Nur Kalbu tidak mungkin akal dapat memahami hal-hal ketuhanan yang lembut, dan tidak akan memperoleh iman dan tauhid yang hakiki.

Hati adalah bangsa ruhani atau nurani yaitu hati yang berkemampuan mengeluarkan nur jika ia berada di dalam keadaan suci bersih. Nur yang dikeluarkan hati yang suci bersih itu akan menerangi otak yang bertempat di kepala yang menjadi kendaraan akal. Akal yang diterangi nur akan dapat mengimani perkara-perkara ghaib yang tidak dapat diterima oleh hukum logik. Beriman kepada perkara ghaib menjadi jalan untuk mencapai tauhid yang hakiki.

Nabi Muhammad saw sebelum diutus sebagai Rasul pernah juga mengalami kebuntuan akal tentang hal ketuhanan. Pada masa itu terdapat pendeta Nasrani dan Yahudi yang arif tentang hal tersebut, tetapi Nabi Muhammad saw tidak pergi kepada mereka untuk mendapatkan jawaban yang mengganggu fikirannya, sebaliknya Nabi saw memilih jalan uzlah. Ketika umur Nabi saw 36 tahun, ia melakukan uzlah di Gua Hira. Baginda saw tinggal sendirian di dalam gua yang sempit dan gelap, terpisah dari istri, anak-anak, keluarga, masyarakat hingga cahaya matahari pun tidak mengenainya. Amalan uzlah yang Nabi saw lakukan secara berulang-ulang sampai umur mencapai 40 tahun. Masa beruzlah di Gua Hira yang gemar baginda saw lakukan ialah pada bulan Ramadan. Latihan uzlah yang baginda lakukan dari umur 36 sampai 40 tahun telah memantapkan ruhani baginda sehingga menerima tanggung jawab sebagai Rasul. Latihan semasa uzlah telah menyucikan hati baginda saw dan meneguhkannya sehingga hati itu mampu menerangi akal untuk menafsirkan wahyu yang lembut dan lengkap. Wahyu yang dibacakan Jibril as sangat singkat tetapi Rasulullah sawt dapat menghayati, memahami dengan tepat, mengamalkannya dengan tepat dan menyampaikannya kepada umatnya dengan tepat meskipun baginda saw tidak dapat membaca dan menulis.

Begitulah kekuatan dan kebijaksanaan yang lahir dari latihan semasa uzlah. Tanpa latihan dan persiapan yang cukup, seseorang tidak dapat masuk ke dalam medan tafakur tentang ketuhanan. Orang yang masuk ke dalam medan ini tanpa persediaan dan kekuatan akan menemui kebuntuan. Jika dia masih juga menempuh tembok kebuntuan itu dia akan jatuh ke dalam kegilaan.

Orang awam hidup dalam suasana: “Tugas utama adalah mengurus kehidupan harian dan sebagai pelengkapnya menghubungkan diri dengan Allah swt”. Orang yang yang berada dalam suasana seperti ini akan kesulitan mencari kesempatan untuk bersama-sama Allah swt. Jika diperingatkan supaya mengurangi aktivitas kehidupannya dan memperbanyak aktivitas yang berhubungan dengan Allah swt, mereka memberi alasan bahwa Rasulullah saw dan sahabat-sahabatnya tidak meninggalkan dunia karena sibuk berurusan dengan Allah swt. Mereka ini lupa atau tidak mengerti bahwa hati Rasulullah saw dan para sahabat tidak berpisah dengan Allah swt walau satu detik pun. Orang yang mata hatinya masih tertutup dan cermin hatinya tidak menerima pancaran Nur Sir, tidak mungkin hatinya menghadap kepada Allah swt ketika sedang sibuk melayani makhluk Allah swt. Orang yang sadar akan kelemahan dirinya akan mengikuti jalan yang dipelopori oleh Rasulullah saw dan diikuti oleh para sahabat yaitu memisahkan diri dengan semua jenis kesibukan terutama pada sepertiga malam akhir. Tidak berhubungan dengan orang atau keramaian. Tidak berkunjung dan tidak dikunjungi. Tidak ada surat kabar, radio, dan televisi. Tidak berhubungan dengan segala sesuatu kecuali berhubungan dengan Allah swt.

Dalam perjalanan tarekat tasawuf, amalan uzlah dilakukan secara sistematik dan latihan yang demikian dinamakan suluk. Orang yang menjalani suluk dinamakan murid atau salik. Si salik menghabiskan kebanyakan waktunya di dalam bilik khalwat dengan diawasi dan dibimbing oleh gurunya. Latihan bersuluk memisahkan salik dengan hijab yang paling besar bagi orang yang baru menjalani jalan keruhanian yaitu pergaulan dengan orang umum. Imannya belum cukup teguh dan mudah menerima rangsangan dari luar yang dapat menggelincirkan untuk melakukan maksiat dan melalaikan hatinya dari mengingat Allah swt. Apabila dia dipisahkan dari dunia luar, jiwanya lebih aman dan tenteram mengadakan hubungan dengan Allah swt.

Semasa beruzlah, bersuluk atau berkhalwat, si murid bersungguh-sungguh di dalam bermujahadah memerangi hawa nafsu dan tarikan duniawi. Dia memperbanyak shalat, puasa, dan berzikir. Dia mengurangkan tidur karena memanjangkan masa beribadah. Kegiatan beribadah dan pelepasan ikatan nafsu dan duniawi menjernihkan cermin hatinya. Hati yang suci bersih bersiap memasuki alam ghaib yaitu Alam Malakut. Hati mampu menerima isyarat-isyarat dari alam ghaib. Isyarat yang diterimanya hanya sebentar tetapi cukup untuk menarik minatnya untuk mengkaji apa yang ditangkap oleh hatinya itu. terjadilah pembelajaran di antara fikiran dengan dirinya sendiri. Pada waktu yang sama dia menjadi penanya dan penjawab, murid dan pengajar. Pembelajaran dengan diri sendiri itu dinamakan tafakur.

Pertanyaan timul dalam fikirannya, namun fikirannya tidak dapat memberi jawaban. Karena fikiran meraba-raba mencari jawaban, dia mendapat bantuan dari hatinya yang sudah suci bersih. Keadaan hati yang demikian dapat mengeluarkan nur yang menerangi akal, lalu jalan fikirannya menjadi terang. Suatu persoalan yang awalnya rumit, tiba-tiba menjadi mudah dan jelas. Dia mendapatkan jawaban yang memuaskan hati terhadap persoalan yang dulunya mengacaukan fikiran dan jiwanya. Dia menjadi tambah berminat untuk bertafakur menguraikan segala kekusutan yang tidak dapat diuraikan selama ini. Dia gemar merenung segala perkara dan membahas dengan dirinya, menghubungkannya dengan Tuhan sehingga dia mendapat jawaban yang memuaskan hatinya. Semakin dia bertafakur semakin terbuka kegelapan yang menutupi fikirannya. Dia mulai memahami tentang hakikat, hubungan antara makhluk dengan Tuhan, rahasia ketuhanan dalam perjalanan alam dan sebagainya.

Isyarat-isyarat tauhid yang diterima hatinya membuat mata hati melihat bekas-bekas kekuasaan Allah swt dalam alam maya ini. Dia dapat melihat bahwa semuanya adalah ciptaan Allah swt, gubahan-Nya, lukisan-Nya, dan peraturan-Nya. Hasil dari kegiatan tafakur tentang Tuhan membawa dia berma’rifat kepada Allah swt melalui akalnya. Ma’rifat secara akal menjadi alat baginya untuk mencapai ma’rifat secara zauk.

Dalam mengkaji ketuhanan, akal hendaklah mengakui kelemahannya. Akal hendaklah sadar bahwa ia tidak mampu memahami perkara ghaib. Oleh karena itu akal perlu meminta bantuan hati. Hati perlu diasah supaya bercahaya. Dalam proses pengasahan hati, akal tidak perlu banyak mengadakan argumen. Argumen akal melambatkan proses pengasahan hati. Sebab itulah Hikmah 12 menganjurkan supata mengasingkan diri. Di dalam suasa pengasingan nafsu menjadi lemah dan akal tidak lagi mengikuti petunjuk nafsu. Barulah hati dapat mengeluarkan cahayanya. Cahaya hati menerangi kepada alam ghaib. Apabila alam ghaib sudah terang benderang barulah akal mampu memahami ketuhanan yang tidak mampu diuraikan sebelumnya.