Archive for the Fasal 07 Category

Zikir

Posted in Fasal 07 with tags , , , , , on Maret 30, 2012 by isepmalik

Allah memberi petunjuk kepada orang-orang yang berzikir dengan firman-Nya:

“Dan berzikirlah (dengan menyebut) Allah sebagaimana Allah telah memberikan petunjuk kepadamu” (Surah Al-Baqarah: 194).

Yakni memberi petunjuk pada martabat zikirmu. Rasul bersabda:

“Kalimat yang terunggul yang aku ucapkan dan oleh para nabi sebelumku adalah Laa Ilaha Illallah”.

Setiap maqam memiliki martabat masing-masing, jahar maupun khafi. Orang yang zikirnya zikir lisan, berarti diberi petunjuknya hanya smapai kepada zikir lisan. Orang yang berzikir dengan zikir hati, berarti diberi petunjuknya sampai kepada zikir hati. Dan orang yang zikirnya sampai kepada zikir ruh, berarti diberi petunjuk sampai kepada zikir ruh. Selanjutnya kepada zikir khafi dan akhfal khafi (zikir maha samar). Adapun zikir lisan berfungsi sebagai pemberi peringatan kepada hati, terhadap zikir yang dilupakannya.

Zikir nafsi ialah zikir yang tidak terdengar, zikir tanpa huruf tanpa suara, hanya didengar dengan indera dan gerakan dalam batin. Adapun zikir hati adalah terus-menerus pada hati ke dalam hati dengan Jalaliyah dan Jamaliyah. Hasil daripada zikir ruh adalah menyaksikan cahaya Tajalli Sifat. Adapun zikir sirri ialah mengintai terbukanya rahasia Ilahiyah. Adapun zikir khafi ialah terarah pada cahaya keindahan Zat Yang Maha Tunggal di Maq’adi Sidqin ‘Inda Malikin Muqtadir.

Adapun zikir Akhfal Khafi ialah telah mampu melihat hakikat Haqqul Yaqin dan tidak ada satu pun yang dapat mengetahuinya, kecuali Allah s.w.t. Firman Allah dalam Surah Thaha ayat 7:

“Allah mengetahui sirri (rahasia) dan akhfa (yang lebih samar)”.

Inilah ilmu yang tertinggi dan tujuan yang terakhir.

Ketahuilah, bahaw di sana ada Ruh yang lain yang lebih halus daripada ruh-ruh lainnya, yaitu Tiflul Ma’ani. Ia adalah latifah yang selalu mengajak kembali kepada Allah. Sebahagian sufi besar mengatakan bahwa ruh yang ini tidak dimiliki oleh sembarang orang, hanya orang-orang yang khawaslah yang memilikinya. Berdasarkan firman Allah dalam Surah Al-Mu’min ayat 15:

“Allah menetapkan ruh atas perintah-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya”.

Ruh yang ini selalu bersanding di alam Qudrat dan alam Musyahadah pada alam hakikat. Ia tidak akan berpaling pada selain Allah s.w.t. Rasul bersabda:

“Dunia haram bagi ahli akhirat. Akhirat haam bagi ahli dunia. Dunia dan akhirat haram bagi Allah”.

Itulah Tiflul Ma’ani. (Yang dimaksudkan haram adalah jangan menjadi penghalang untuk selalu mengingat Allah).

Jalan untuk wusul (sampai kepada Allah ta’ala) ialah selalu menjaga badan pada jalan yang benar, selalu melakukan segala hukum syariat siang dan malam dan mudawamah zikrullah dengan sirri (hati) maupun jahar (bersuara). Mudawamah zikir hukumnya fardu yang harus dilakukan oleh semua manusia yang ingin dekat dengan Allah. Allah berfirman dalam Surah Ali-Imran ayat 191:

“Ingatlah Allah dalam keadaan berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi”.

Iklan