Archive for the Aliran Pengajaran Category

Pembicaraan tentang Aliran Pengajaran dan Berbagai Bahayanya (3)

Posted in Aliran Pengajaran with tags , , , , , on Maret 31, 2012 by isepmalik

Sebenarnya telah lama apa yang telah kami eksperimenkan kepada mereka akan kebutuhannya kepada pengajaran dan kepada seorang guru yang ma’shum sehingga kami membenarkan kepada mereka akan hal itu, dan bahwasanya hal itulah yang telah mereka tetapkan dan telah mereka nyatakan. Kemudian kami bertanya kepada mereka tentang ilmu yang mereka pelajari dari seorang guru yang ma’shum ini, lalu kami sodorkan kepada mereka akan berbagai masalah yang sulit. Ternyata mereka tidak bisa memahaminya, apalagi berusaha untuk memecahkannya.

Maka tatkala mereka sudah tidak mampu, mereka usaha mencari imam yang telah pergi (ghaib) dan mereka berkata: “Kami harus berusaha mencarinya”, sedangkan yang selalu menjadi keheranan saya adalah: kenapa mereka menyia-nyiakan umur mereka hanya sekadar mencari seorang guru dan berhasil mendapatkannya, sedangkan mereka sama sekali tidak belajar ilmu darinya seperti orang terlumuri najis di mana dia dengan susah payah mencari air, hingga tatkala dia telah mendapatkannya maka dia tidak mau memakainya dan dibiarkan dirinya masih terlumuri najis.

Di antara mereka ada seorang yang mengaku telah terbasil memiliki sesuatu ilmu mereka. Padahal apa yang dia sebutkan hanya sekelumit ilmu filsafatnya. Phithagoras (seorang filosof Yunani kuno) dan alirannya merupakan aliran filsafat yang paling lemah. Telah diturunkan dan disebutkan bahwa Aristoteles telah menganggap lemah dan menganggap rendah omongannya, dan dialah yang telah bercerita di dalam kitab “Ikhwan ash-Shafa” padahal kitab Ikhwan ash-Shafa merupakan kitab penting bagi ilmu filsafat.

Yang mengherankan bagi orang yang telah susah payah menghabiskan umur dalam meraih ilmu kemudian dia hanya puas terhadap ilmu yang sekecil itu dan dia menyangka bahwa dia telah berhasil meraih maksud-maksud ilmu yang paling final.

Mereka ini, juga kamu uji dan telah kami ukur serta kami periksa lahirnya maupun hatinya, sehingga akhirnya kembalilah pada kesimpulan bahwa ternyata mereka akan hanya memperdayakan serta menjerumuskan orang-orang yang masih awam dan lemah-lemah akalnya, terbukti dengan masih butuhnya mereka kepada seorang guru dan mendebat mereka dalam keingkaran mereka yang membutuhkan kepada pengajaran dengan omongan yang kuat dan sulit dibantah, sehingga tatkala ada seorang yang membantu mereka atas kebutuhannya kepada seorang guru dan pembantu itu berkata: “Berikanlah kepada kami ilmu sang guru itu dan kami akan mendapatkan faidah dari pengajarannya”, maka dia hanya diam saja. Kemudian dia berkata” “Sekarang jika anda menyerahkan masalah ini kepadaku, maka carilah ia, sebab penyodoranku hanyalah sekadar ini saja”. Sebab sudah diketahui andaikata lebih atas hal itu niscaya terbongkarlah skandalnya dan niscaya dia akan tidak mampu memecahkan berbagai kemusykilan yang paling rendah seklipun, bahkan dia tidak mampu memahaminya, apalagi menjawabnya. Demikianlah ini kondisi mereka yang sebenarnya. Oleh karena itu berilah khabar tentang mereka. Maka tatkala kami mengkhabarkan mereka maka kami melepaskan tanggung jawab dari mereka juga.

Iklan

Pembicaraan tentang Aliran Pengajaran dan Berbagai Bahayanya (2)

Posted in Aliran Pengajaran with tags , , , on Maret 29, 2012 by isepmalik

Dalam persoalan ijtihad ini, para mujtahid mempunyai dua problem:

1. Pendapat mereka yang mengatakan bahwa ijtihad yang seperti di atas itu boleh, namun kalau ijtihad itu terarah pada norma-norma akidah terang tidak boleh, sebab orang yang melakukan kesalahan dalam ijtihad ini tidaklah mendapatkan kemaafan, lantas perkembangan selanjutnya bagaimana cara mengatasinya. Saya jawab: “Norma-norma akidah telah termuat dalam Al-Kitab dan As-Sunnah, sedangkan apa saja dari perkara yang berada di belakang itu yang terdiri dari perinciannya serta masalah yang masih diperselisihkan itu bisa diketahui dengan timbangan yaitu “Al-Qisthas Al-Mustaqim”, yaitu timbangan-timbangan yang telah disebutkan oleh Allah ta’ala dalam Kitab-Nya, di mana perkara itu ada lima yang telah saya sebutkan di dalam kitab “Al-Qisthas Al-Mustaqim”.

Andaikan ada yang berkata: “Lawan-lawan anda tidak cocok dengan anda dalam timbangan itu”, maka langsung akan saya jawab: “Tidak bisa digambarkan bagaimana cara memahami timbangan itu, kemudian bisa tidak cocoknya dengannya, karena timbangan itu tidak akan ditentang oleh Ahli pengajaran karena saya justru mengeluarkannya dari Al-Quran dan saya mengajarkannya dari situ. Dan juga tidak akan ditentang oleh Ahli Mantiq (logika) sebab dia telah sesuai dengan apa yang telah mereka syaratkan dalam ilmu mantiq dan tidak bertentangannya dengannya. Di samping itu tidak akan berselisih dengan Ahli Kalam sebab dia sesuai dengan apa yang telah mereka sebutkan dala dalil-dalil analisa, dan karenanya bisa diketahui suatu kebenaran di dalam ketuhanan.

Apabila ada seorang yang berkata: “Apabila anda memiliki kekuasaan contoh pada timbangan ini, lantas kenapa anda tikda menghilangkan khilaf di antara manusia? Saya menjawab: “Andaikan mereka mau mendengarkan secara seksama kepadaku niscara aku mau menghilangkan di antara mereka, dan saya ingkatkan tentang caranya menghilangkan khilaf di dalam kitab “Al-Qisthas Al-Mustaqim”, maka camkanlah agar anda tahu bahwa hal itu merupakan perkara yang benar dan dapat menghilangkan khilaf secara pasti, andaikan mereka mau mendengarkan dengan serius, padahal mereka seluruhnya tidaklah mau mendengarkan dengan serius. Bahkan saya cenderung mengamati kepada salah satu kelompok sehingga aku menghilangkan khilaf di antara mereka, sementara itu di depan anda menghendaki tersirnanya suatu khilaf di antara mereka dengan tidak disertai keseriusan mereka. Maka kenapa khilaf itu tidak terhapus sampai sekarang, dan kenapa pula Ali ra—padahal dia adalah seorang pemimpinnya para imam—tidak menghilangkan khilaf atau dia mengakui sebagai orang yang mampu membawa seluruh manusia untuk mendengarkan secara serius. Lalu kenapa dia tidak mau membawa mereka sampai sekarang lalu sampai kapan masanya. Adakah antara makhluk dikarenakan da’wahnya tiada terjadi kecuali bertambahnya khilaf serta bertambahnya orang yang berselisih. Ya memang demikian adanya, sebab yang dikhawatirkan dari timbulnya khilaf adalah semacam kerusakan yang tidak akan berhenti sampai dengan mengalirkan darah, menghancurkan negeri-negeri, membikin yatimnya anak-anak, mengadakan aksi penghadangan di tengah-tengah jalan serta mengadakan penggarongan terhadap benda lain.

Dari barakahnya anda dapat menghilangkan khilaf, di dunia ini terjadi sesuatu yang belum pernah anda alami.

2. Jika ada seorang yang berkata: “Anda telah mengaku bisa menghilangkan khilaf yang sedang melanda manusia, akan tetapi orang yang masih bingung tentang berbagai madzhab (aliran) yang saling bertentangan dan beberapa perselisihan yang saling berhadapan tidaklah harus mengundang keseriusan kepadamu apalagi musuhmu, padahal anda memiliki beberapa musuh yang tidak seide dengan anda sehingga akhirnya tiada lagi perbedaan lagi antara anda dan antara mereka. Lantas jawaban saya adalah: “Pertama-tama problema ini akan membalik kepada anda sendiri. Sebab jika anda mengundang orang yang ragu-ragu ini kepada anda lantas orang ini bertanya: “Dengan apa anda bisa menjadi orang yang lebih utama dari pada orang yang menentang anda, padahal kebanyakan ahli ilmu sama tidak cocok lagi dengan anda maka alangkah mustahilnya, dengan apa anda menjawab, apakah anda akan memberi jawaban dengan ucapan: “Di depanku terdapat sesuatu yang telah di nash”. Kemudian kapan lagi dia akan membenarkanmu dalam mengakui nash padahal dia tidak mendengar nash itu dari Rasulullah SAW. Dia hanya tidak mendengar pengakuanmu bersamaan dengan kesepakatan ahli ilmu untuk mendustakanmu. Kemudian dia berusaha menyerahkan nash kepadamu. Maka apabila dia masih ragu-ragu dalam asal-usul kenabian, lantas dia berkata: “Di depan anda terpampang mu’jizatnya Isa”, maka dia berkata: “Yang membuktikan atas kebenaranku adalah bahwa saya bisa menghidupkan ayahmu”, sehingga ternyata dia bisa menghidupkannya, lalu ayahmu itu bisa bicara kepadaku bahwa sayalah yang benar. Kemudian dengan sarana apa aku mengetahui kebenarannya sedangkan semua manusia tidak mengetahui kebenaran Isa dengan mu’jizat ini, bahkan dia masih menanggung berbagai pertanyaan sulit yang belum bisa dipecahkan kecuali dengan cermatnya analisa aqli, padahal analisa aqli tidaklah dapat dipertanggung jawabkan di depan anda, di samping itu tidak bisa diketahui konotasi mu’jizat atas kebenarannya selagi belum diketahui dulu hakikat sihir dan perbedaannya dengan mu’jizat dan selagi belum diketahui bahwa Allah tidaklah menyesatkan hamba-hamba-Nya, sedangkan pertanyaan penyesatan dan sulitnya jawaban tentang pertanyaan itu sudah masyhur. Kemudian dengan apa semua itu bisa ditolak? Padahal di depan anda tidak ada yang lebih utama untuk diikuti dari pada orang yang menentangnya sehingga dia akan kembali kepada dalil analisa yang diingkarinya. Dan penentangnya memaparkan contoh dalil itu dan lebih jelas dari pada itu.

Problema di atas ini mengundang revolusi besar-besaran atas mereka andaikata orang-orang dahulu dan orang-orang yang akhir berkumpul untuk mengadakan pembebasan dari pertanyaan (problema) tersebut sebagai suatu jawaban niscaya mereka tidak akan mampu melakukannya, sebab kerusakan ini hanya timbul dari kelompok lemah yang mendebat mereka, sehingga mereka tidak menyibuukan dengan hatinya, tetapi dengan jawaban, padahal yang demikian itu termasuk memperpanjang omongan dan tidak cepat memberi kefahaman sehingga tidaklah patut untuk bisa mendiamkan dengan dalil-dalil.

Sekarang, jika seandainya ada seorang yang berkata: “Ini adalah hati”. Lantas apakah hal itu sudah merupakan jawabannya. Kemudian aku menjawabnya: “Ya, jawabannya adalah bahwa seorang yang ragu-ragu berkata: “Saya bingung”, sedangkan dia tidak mau menjelaskan masalah kebingungannya maka katakan saja kepadanya: “Anda seperti orang sakit yang berkata: “Saya sakit”, tetapi tidak mau menyebutkan apa sakit yang menimpanya lalu dia minta untuk diobati”. Oleh karena itu jalan satu-satunya yang paling tepat adalah katakan saja kepadanya: “Tidak disediakan obat untuk mengobati orang yang sakit secara mutlak, tetapi hanya disediakan obat bagi orang yang terkena sakit tertentu, seperti kepala pening, mencret, dan lain-lainnya”. Begitu pula seyogyanya orang yang bingung hendaknya menjelaskan apa yang menyebabkan kebingungannya. Sehingga apabila dia telah menjelaskan masalah sebenarnya, maka masalah tersebut bisa diketahui kebenarannya dengan timbangan yaitu “Al-Mawazin Al-Khams” (timbangan lima)—yang tidak difahami oleh seseorang kecuali orang itu mengakui bahwa timbangan itu merupakan timbangan yang benar yang bisa dipercaya setiap apa yang ditimbang di situ, sehingga dia memahami timbangan itu, dari situ pula dia akan bisa memahami kebenaran timbangan itu, seperti halnya seorang yang belajar ilmu hitung akan bisa memahami hakikat ilmu hitung itu sendiri dan keadaan ahli hitung yang mengajar itu pandai berhitung dan jujur kepadanya.

Hal itu telah aku jelaskan di dalam kitab “Al-Qisthas” di dalam ukuran dua puluh halaman, maka sebaiknya camkanlah. Maksudku sekarang tidaklah menjelaskan rusaknya aliran mereka, sebab hal itu telah aku sebutkan di dalam kitab:

  1. “Al-Mustazhiri”
  2. “Hujjatul Haq”, di mana kitab ini merupakan sanggahan yang diajukan kepadaku ketika sedang berada di Baghdad.
  3. “Mufashshilul Khilaf” yang berisi dua belas fasal yang merupakan sanggahan yang dilontarkan kepadaku sewaktu berada di Hamadan.
  4. “Ad-Darjud Marqum bil Jadawil”, di mana kitab ini memuat sebagian omongan mereka yang lemah. Konon omongan ini disodorkan kepadaku sewaktu berada di Thus.
  5. “Al-Qisthas”, di mana kitab ini merupakan kitab tersendiri yang maksudnya adalah menjelaskan neracanya berbagai ilmu dan ketidakbutuhan kepada imam bagi orang yang sudah mampu terhadap ilmu itu sendiri. Bahkan maksud utama adalah menjelaskan bahwa mereka tidak memiliki sedikitpun obat yang dapat menyelamatkan dari berbagai kegelapan pendapat dan pandangan, dan justru disertai kelemahan mereka dalam memasang dalil untuk mendapatkan imam tertentu.

Pembicaraan tentang Aliran Pengajaran dan Berbagai Bahayanya (1)

Posted in Al-Munqidz min Adh-Dhalal, Aliran Pengajaran with tags , , , on Maret 26, 2012 by isepmalik

Setelah aku rampung mengkaji, mendapatkan, memahami ilmu filsafat dan mengatakan palsu mana yang mesti perlu dikatakan palsu, tahulah aku bahwa semua itu belumlah cukup mencapai sasaran secara sempurna, sebab akal secara sendirian tidaklah akan mampu menguasai semua persoalan secara menyeluruh dan tidak mampu menyingkap segala tabir kesulitan.

Telah muncul kemasyhuran “Aliran Pengajaran” dan telah tenar pula dikalangan manusia akan perlawanannya terhadap pengetahuan tentang makna beberapa perkara ditinjau dari segi “Imam yang ma’shum” yang berdiri pada garus kebenaran, sehingga aku tertarik untuk membahas makalahnya untuk sekadar menilik catatan dan isi yang terkandung di dalam kitab-kitabnya.

Kemudian secara kebetulan aku mendapat perintah resmi dari Yang Mulia Khalifah untuk mengarang sebuah kitab yang mengungkap tentang aliran mereka, sehingga aku tidak kuasa lagi untuk menolak perintah Khalifah, lalu hal itu menjadi suatu yang dianggap baik dari pihak luar batinku yang sesuai dengan dorongan asli dari batinku. Aku mulai mencari kitab-kitab mereka lalu kukumpulkan makalah mereka, dan sementara kata-kata mereka yang merupakan hasil fikiran mereka telah sampai kepadaku di mana kata-kata itu melahirkan beberapa kekhawatiran terhadap penduduk masa itu, sebab tidak menempuh cara-cara yang telah dirintis oleh golongan pendahulu (Ulama Salaf).

Kemudian aku berhasil mengumpulkan kata-kata itu lalu saya urutkan dengan cara yang sedemikian rupa apiknya dan masih dibarengi dengan kecermatan dan ketelitian. Tak lama aku juga berhasil membikin sebuah jawabannya sehingga sebagian “Ahli Haq” tidak mempercayai keterlaluanku dalam menetapkan argumentasi kepada mereka dan katanya: “Ini merupakan suatu usaha untuk mengalahkan mereka, sebab masih merasa tidak mampu untuk menolong aliran mereka dalam menghadapi syubhat-syubhat ini, andaikan saja kecermatan serta ketertiban anda terhadap hujjah (argumentasi) itu tidak ada.

Pengingkaran ini jika dipandang dari satu segi memang benar. Ahmad bin Hambal telah mengecam Al-harits Al-Muhasibi terhadap kitab karangannya tentang bantahannya terhadap Golongan Mu’tazilah.

Harits berkata: “Membantah atas perkara bid’ah itu hukumnya fardhu”.

Lantas Ahmad bin Hambal menjawab: “Ya, tetapi anda harus kemukakan untuk pertama kalinya kesyubhatan mereka, barulah kemudian anda menjawabnya sehingga anda tidak merasa aman jika dia menelaah syubhat dari konteks jawaban anda itu dengan memahaminya, dan tidak berpaling atau melihat kepada jawaban anda dan tidak memahami hakikatnya”.

Apa yang telah disebutkan oleh Ahmad bin Hambal memang merupakan sesuatu yang benar, akan tetapi kebenaran itu masih dalam kesyubhatan yang belum tersebar dan terkenal di kalangan orang banyak.

Apabila kesyubhatan yang telah disebutkan tadi sudah tersebar secara umum, maka syubhat itu wajib ditanggapi, dan tanggapan itu tidak mungkin dilontarkan keculi sesudah dikemukakannya faktor apa yang menyebabkan kewajiban ditanggapinya syubhat. Ya seyogyanya syubhat itu tidak dibebankan kepada mereka di mana syubhat itu tidak mampu mereka pikul dan aku pun tidak akan membebani hal itu, tetapi aku sendiri telah mendengar syubhat itu dari salah seorang temanku yang tidak sependapat sesudah dia bertemu dengan mereka dan menyelami aliran mereka. Lalu dia bercerita bahwa mereka sama mentertawakan berbagai karangannya para pengarang yang membuat sanggahan atas mereka sebab katanya mereka sama sekali tidak faham sesudah mereka melontarkan argumentasi; lalu dia pun menceritakan dan menyebutkan argumentasi itu dari mereka, sehingga aku tidak rela jika dia menganggapku sebagai orang yang teledor dari pokok argumentasi mereka. Oleh karena itu aku menyebutkannya. Di samping itu aku pun tidak rela apabila dia menyangkaku tidak faham terhadap argumentasi itu kendati pun aku sudah mendengarnya, oleh karena itulah sekalian aku tetapkan hujjah (argumentasi) itu. Sedangkan maksud dan tujuanku ialah menjelaskan kepada mereka akan kemungkinan yang paling jauh, kemudian baru aku tujukan kekeliruannya. Wah hasil tidak ada suatu keberhasilan pun bagi mereka ini dan juga tidak ada keunggulan bagi omongan mereka. Andaipun tidak ada buruknya pertolongan seorang teman yang bodoh, niscara bid;ah itu yang disertai dengan kelemahannya tiada akan sampai kepada derajat ini. Akan tetapi karena hebatnya fanatismelah yang mendorong argumentasi ini melenceng dari kebenaran menuju kepada memperpanjang perselisihan dengan mereka di dalam mukaddimah-mukaddimah omongan mereka dan untuk selalu mengingkari dan menentang setiap apa yang mereka ucapkan, sehingga pada akhirnya mereka saling bantah satu sama lainnya tentang dakwaan mereka yang membutuhkan kepada pengajaran dan kepada seorang guru dan dakwaan mereka bahwa setiap guru haruslah terdiri dari guru yang ma’shum.

Argumentasi meeka nampak sekali dalam menampilkan kebutuhan kepada pengajaan dan guru serta lemahnya sanggahan orang-orang yang mengingkari dalam rangka menentangnya, sehingga dengan demikian ada sekelompok orang yang sudah terbujuk lalu mereka mengira bahwa hal itu timbul karena kuatnya aliran mereka dan lemahnya aliran orang yang menentangnya, sedangkan mereka tidak memahami bahwa itu timbul karena lemahnya sanggahan kebenaran serta ketidak-tahuannya tentang metoda menyanggah.

Mestinya yang benar adalah mengakui kebutuhan kepada seorang guru dan hal itu tidak bisa ditawar lagi, dan hendaknya seorang guru itu seorang yang ma’shum, akan tetapi guru kita yang ma’shum hanyalah Nabi Muhammad SAW. Maka apabila mereka berkata: “Beliau telah mati”, kita jawab saja: “Guru kalian sedang tidak ada”. Jika mereka berkata: “Guru kita telah mengajar para da’i dan telah menyebar mereka di berbagai negeri dan dia sedang menanti pemeriksaan terhadap mereka jika terjadi perselisihan atau terjadi suatu kemusykilan yang sedang mereka alami”, maka kita jawab saja: “Guru kita telah mengajar kepada para da’i dan menyebar mereka di berbagai negeri dan dia telah berhasil menyempurnakan pengajarannya, sebab Allah ta’ala telah berfirman:

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu …” (Al-Maidah: 3).

Sesudah pengajaran itu dianggap sempurna, kematian seorang guru tidak akan membawa dampak apa-apa seperti halnya kepergian atau ketidak adaan guru tidak akan mengundang dampak apa-apa, sebab ucapannya masih tetap ada.

Setelah dihadapkan pada argumentasi seperti ini, mereka masih saja berusaha mengemukakan sanggahan kepada kita: “Bagaimana mereka bisa menetapkan hukum terhadap sesuatu di mana mereka tidak mendengarnya? Apakah dengan nash, padahal mereka jelas tidak mendengarkannya langsung ataukah dengan ijtihad dan pendapat (ra’yu) padahal hal itu masih merupakan sumbernya khilaf? Maka kita jawab saja: “Kita melakukan apa yang telah dilakukan oleh Muadz ketika Rasulullah SAW mengutusnya pergi ke Yaman, atau kita menetapkan hukum dengan dasar nash jika ternyata ada, dan dengan cara ijtihad tatkala nash itu tidak ditemukan. Bahkan kita bisa memakai caranya beberapa da’i jika mereka bertempat jauh dari pada Imam di pojok bumi sebelah timur, karena nash-nash yang terbatas jumlahnya tidaklah mampu menjabarkan dan mengartikan peristiwa-peristiwa yang tidak terbatas jumlahnya, di samping itu tidaklah mungkin kembali ke negerinya Imam atau menempuh jarak yang sedemikian jauhnya lalu kembali lagi membawa setiap masalah yang sedang terjadi, padahal orang yang dimintai fatwa sudah mati, dan dengan demikian kita akan kembali dengan tangan hampa.

Contoh lain yang perlu kita sodorkan adalah suatu permasalahan: Jika ada seseorang yang kesulitan dalam menentukan arah kiblat, maka tiada cara lain yang dia pakai kecuali dengan ijtihad. Sebab andaikata dia pergi ke negerinya Imam untuk mengetahui arah kiblat, niscaya akan habislah waktu shalatnya. Maka andaikata shalat dilakukan menghadap kepada selain kiblat, berdasarkan atas “zhan” (sangkaan) dan katanya Ahli Ushul Fiqh: “Seorang yang keliru dalam ijtihadnya, mendapatkan ganjaran satu, dan orang yang mengena (benar) dalam ijtihadnya memperoleh dua ganjaran”, maka begitu pula dalam semua bentuk ijtihad. Demikian pula masalah memberikan zakat kepada seorang fakir, barangkali dia akan menduganya sebagai orang fakir sungguhan berdasar pada ijtihadnya, padahal sebenarnya dia merupakan seorang yang kaya dalam batinnya dengan menyembunyikan hartanya. Oleh karena itu dia tidak akan disiksa kendatipun dia bertindak keliaru, sebab dia tidak akan dituntut kecuali memenuhi persangkaannya.

Apabila dikatakan: “Persangkaan orang yang tidak cocok dengannya sesuai dengan persangkaannya”, maka kita akan menjawab: “Dia tetap diperintahkan mengikuti persangkaannya sendiri, kendatipun tidak sefaham dengan orang lain”.

Permasalahan lagi; apabila ada seorang yang berkata: “Seorang yang bertaklid kepada Abu Hanifah, Syafi’i atau lain-lainnya”, maka saya akan mengatakan: “Orang yang bertaklid dalam masalah kiblat tatkala merasa bimbang di mana para mujtahid saling tidak ada kecocokan, tindakan apa yang akan dia perbuat? Dia hendaklah melakukan ijtihad untuk mengetahui mujtahid mana yang lebih utama dan lebih tahu tentang petunjuk-petunjuk kiblat, sehingga dia boleh mengikuti ijtihadnya, demikian pula dalam madzhab-madzhab yang lain, sebab mengembalikan manusia kepada ijtihad merupakan suatu keharusan”.

Para Nabi dan para Imam yang masih disertai kepandaiannya kadang-kadang masih saja keliru, bahkan Rasulullah SAW sendiri bersabda:

“Saya menghukumi dengan yang lahir saja, namun Allah jualah yang menguasai hati”.

Artinya saya menghukumi dengan persangkaan yang menang yang dihasilkan dari omongan yang nyata. Dan terkadang mereka juga mengalami kesalahan sehingga tidak ada cara lagi untuk menghindari dari kekeliruan itu bagi para Nabi seperti dalam persoalan ijtihad ini.