Archive for the Campuran Category

Mengenal ‘entah’

Posted in Campuran, Cerpen, Lepas Lelah, Teori Kuantum on Oktober 14, 2010 by isepmalik

“Ada acara bagus loh di tempat itu, datang ya”. “Waktunya?” “Dari jam delapan sampai jam sepuluh, cuma dua jam kok”. Ditanyakan waktunya, sebagai jawaban dikatakan jamnya. Tiktak taktik tiktak… entah suara jam darimana sampai ke telingaku. Entahlah, kenapa pula jam bisa sampai diidentikkan dengan waktu, oleh sebagian besar manusia. Sayang sekali, engkau terlalu muda untuk dikendalikan waktu. Seringkali dikatakan kepadanya, “Engkau terlalu muda untuk mengetahui hal itu”. Tidak jarang pula dia memperoleh seruan, “Biarpun engkau terlalu muda, sudah saatnya engkau mengetahui persoalan itu”. Dalam segalanya, engkau memang akan dikendalikan oleh waktu.

 

Tidak usahlah berkecil hati, tidak hanya engkau rupanya yang dikendalikan waktu. Siang dan malam, begitu pula pergantiannya beredar dalam waktu. “’Entah’, aku hanya menitipkan harapan, tidak pada kendali waktu, tetapi di kedalaman jantungmu yang menembus palung terdalam dari kesadaranmu. Cukuplah waktu-waktu berlalu sebagai yang engkau katakan ‘masa-masa indah’ melukisan senyuman abstrak dalam garis-garis bibirmu. Bukan pakaian ini, tetapi pakaian yang senantiasa setia menutupi keindahanmu yang tersembunyi. Teramat ingin sekali aku hanya mengenal ‘entah’, bukan yang lainnya.

 

Bila memang tidak bisa keluar dari lingkaran kendali waktu, mungkin hanya ‘entah’ yang akan menemani waktu-waktuku. Karena hanya di dalam ‘entah’ mewujud kerumitan, tetapi tetap kiranya berujung pada kesederhanaan. Rumit dan sederhana itulah engkau, ‘entah’. “Apakah handuk yang engkau gunakan untuk mengeringkan badanmu sudah kering, wahai ‘entah’?” Itulah saat terakhir aku melihatmu. Untuk bisa melihat handuk yang bergelantung manja dipundakmu, aku begitu sesak, karena harus melepaskan belenggu beban fisik dan meningkatkan energi ruhaniku. Dalam interval waktu yang relatif sedikit, aku berusaha memendar menjadi cahaya. Untuk mengenalmu, wahai yang kupanggil ‘entah’, bukalah misteri cahaya itu agar aku mengenali wajahmu seterang-terangnya.

 

Sampai waktu ini, aku hanya bisa membayangkan ‘entah”. Membayangkan pun sudah begitu indah, apalagi bila sejatinya aku bisa menggenggam ‘entah’. Karuniakanlah kepadaku untuk mengenal ‘entah’, karena disitulah aku hidup dan kehidupanku sendiri. Aku ingin mengenal ‘entah’ dengan menyebut nama Allah yang maha rahman dan rahim.

 

 

Inspiring: (2007). Tafsir Ath-Thabari. Jakarta Selatan: Pustaka Azzam. Hal: 201-253.

Iklan

‘Entah’

Posted in Agama dan Sains, Campuran, Cerpen, Lepas Lelah, Teori Kuantum on Oktober 11, 2010 by isepmalik

Tidak sulit rasanya manakala ditugaskan menjadi angin. Ketika datang tugas, “Hempaskanlah kekuatanmu kepada ruang itu!”. Sekali kutunjukkan otot-otot, maka porak-porandalah. Tidak perlu banyak pertimbangan, manakala tugas sudah disuguhkan. Aku sebagai angin tidak mengenal tanda koma. Dengan mudahnya aku bisa berargumen, hal itu dilakukan semata untuk keseimbangan dan cobaan. Hempasan itu terjadi karena keseimbangan tanah sudah diganggu oleh Anda. Akibat hempasan itu pun Anda layak menerima cobaan. Nah, setelah menerima cobaan hempasanku, kemanakah Anda akan meminta? Bukankah Anda dalam kehidupan ini sangat berharap sekali pahala? Jadi, Ganaskah aku bila dengan hempasan itu Anda mendapat surga?

Di alam semesta, rasanya teramat mudah bila dijadikan air. Konsep untuk diriku sangat luwes, bergerak mencari tempat terendah dan bentuknya mengikuti ruang tempat tinggal. Jangan heran, bila Anda sangat mengenalku. Bisa dicintai sekaligus dibenci, itulah aku, air. Anda begitu membenciku, ketika aku bergerombol menjadi banjir. Anda tidak bertanya kepadaku, “Mengapa engkau berperilaku begitu?” Mungkin Anda sudah mengetahui bahwa jawabannya akan tetap mengarah kepadamu jua. Ah, Anda memang teramat lihai memilin kata. Anda begitu mendambaku, ketika mau menghilangkan keringat dan bau dibadanmu. Tugasku teramat mudah, tinggal mengikuti kemauan Anda.

Manusia dipandang makhluk berbudaya. Apakah awal dari budaya? Aku, si kata-kata. Aku bisa mengangkat Anda ke tempat terhormat, begitu pula bisa dengan mudah menurunkannya. Begitu banyak profesor yang mengekplorasi kata-kata sehingga menjadi bermakna dan orang banyak menyanjungnya. Belum pernah terdengar dalam sejarah, seorang profesor berterima kasih kepada Aku, si kata-kata. Aku ini huruf-huruf yang Anda indra, lalu disusun dalam kepala, kemudian dikeluarkan dalam kata-kata. Begitu keluar, kata-kata tidak melakukan pertimbangan lagi terhadap dirinya. Ukurannya begini, bila yang diajak bicara merasa tidak nyaman dengan kata-kata Anda, berarti ada sesuatu yang salah dalam kepala Anda.

Ada ujaran yang berbunyi “Mulutmu harimaumu”. Ujaran ini adalah sesuatu yang aneh bagi Aku, si kata-kata. Mulut Anda itu bukan sutradara, melainkan hanyalah pekerja. Mulut digerakkan atas perintah kepala Anda, begitu pula rangkaian kata-kata yang diucapkannya. Anda mendengar berita banyak tabung gas yang meledak bukan? Awal, akhir, dan segala hiruk-pikuknya adalah kata-kata. Tabung gas itu adalah kata-kata yang mengatakan sesuatu. Tuhan sekalipun ketika mencipta sesuatu berupa kata-kata. Ketika diri-Nya ingin dikenal, maka terciptalah kata-kata. Pedoman manusia berupa kitab suci, semata-mata kata-kata. Bandingkanlah antara “Mulutmu harimaumu” dengan “berkata-katalah yang baik, atau diamlah”. Anda mencintai sesuatu, maka berkatalah, sehingga orang memahaminya. Anda membenci seseorang, maka berkatalah, sehingga orang itu merasa terhinakan. Seperti angin, udara, dan kata-kata, semuanya adalah pelayan yang melayani Anda. Berusahalah untuk menjadi pelayan diri sendiri, daripada minta dilayani orang lain. Sebab, suatu saat, Anda tidak layak lagi berkata-kata dan apa yang Anda kata-katakan akan dimintai pertanggungan.

Aku, si kata-kata, kembali ingin menyapa ‘entah’ yang bersemayam dalam diri Anda. Siapa yang sudah memahami ‘entah’, dialah sesungguhnya yang mengenal kebijaksanaan. Suatu ketika ada orang yang bertanya, “Apakah Tuhan itu ada?” Ucapku, “Jawaban yang cocok untuk Anda adalah ‘entah’”. Sebab, begitu mendapat jawaban, orang tersebut akan memberondong dengan pertanyaan-pertanyaan yang bersayap lainnya. “Aku mengirimkan ‘entah’ ke dalam diri Anda yang bertanya apakah Tuhan itu ada. Karena bagi Anda, ada atau tidak adanya Tuhan, tidaklah terlalu signifikan. Anda mengharapkan sesuatu yang empirik, tetapi substansi pertanyaannya tidak demikian. Anda membuatkan baju buat saya, tetapi ukurannya tubuh Anda. Oleh sebab itu, Anda layak mendapat ‘entah’. Orang yang meyakini keberadaan-Nya, sangat berhati-hati menggunakan kata-kata apakah Tuhan itu Ada”. Mungkinkah ‘entah’ adalah Occam’s razor[1] yang selanjutnya menjadi pijakan theory of everything[2]? ‘Entah’ adalah kedalaman sekaligus ketersingkapan. ‘Entah’ ini akan kupertanyakan kepada pria berselimut.

Terima kasih kepada anak sepupuku yang telah menginspirasi dengan pertanyaan, “Mengapa manusia diciptakan dari tanah?” Saya sendiri hanya “mampu berada dalam kubangan” laa ilaaha illa Allah dan theory of everything. Perjalanan ini akan semakin panjang,  mungkin pula sampai di akhir pengembaraan. Mungkin kamu—anak sepupuku—suatu saat akan lebih memahami keduanya dengan lebih baik, saya hanyalah orang yang terobsesi. Terima kasih kepada Bang Juno. Kepada yang menunggu “Relativitas dan Mahabbah”, saya katakan, “Nanti dulu”.


[1] Pisau cukur Occam atau pisau cukur Ockham diartikan sebagai “penjelasan paling sederhana biasanya yang benar”. Ketika banyak hipotesis untuk menggali suatu kebenaran, maka prinsip pemilihannya adalah hipotesis yang memperkenalkan asumsi dan dalil-dalil paling sedikit yang masih cukup menjawab pertanyaan.

[2] Teori segala sesuatu (TOE) diduga dari teori fisika yang sepenuhnya menjelaskan dan keterhubungan bersama semua fenomena fisik yang dikenal, dan idealnya, memiliki kekuatan prediktif untuk hasil setiap prinsip percobaan yang dapat dilakukan. Awalnya, istilah ini digunakan dengan konotasi ironis untuk merujuk kepada berbagai teori overgeneralized. Sebagai contoh, seorang kakek bernama Ijon Tichy dari cerita fiksi ilmiah Stanisław Lem tahun 1960-an yang berjudul “General Theory of Everything”. Fisikawan John Ellis mengklaim telah memperkenalkan istilah tersebut ke dalam literatur teknis dalam artikel Nature pada tahun 1986. Seiring waktu, istilah tersebut populer dalam fisika kuantum untuk menjelaskan sebuah teori yang akan menyatukan atau menjelaskan satu model teori dari semua interaksi dasar alam.

Menunggu

Posted in Campuran, Cerpen, Lepas Lelah, Teori Kuantum on Oktober 7, 2010 by isepmalik

Wajahnya sumringah memancarkan pesona dalam duduk. Sebelumnya, sudah dibersihkan badannya dari segala penat dan keringat. Dipilih seperangkat pakaian terbagus yang dipunyainya. Tidak ada acara dan jadual lain menjelang dan sehabis Maghrib kali ini. Sebagian pesona yang terpancar itu agak berkurang ketika melihat jalanan yang sebelumnya kering menjadi agak basah. Gerimis hujan dan dinginnya udara tidak membuatnya beranjak dari tempat duduk. Bila dihitung-hitung, sudah dua jam dia duduk di situ, menunggu. Sekali-kali dirapikan kembali pakaiannya, dipantas-pantaskan kembali dandanannya. “Biarkan aku menunggu, sampai tidak mengenal ‘entah’”, katanya. Dalam menunggu, dia pun rupanya sedang ditunggu. Terhadap hal itu, dia banyak tidak menyadarinya.

Nun jauh sekali di sana, di dunia berbeda yang hanya mengenal ‘entah’. Sekarang dia berkelana pada arah jalan yang serba terbalik. Bila sebelumnya dia hanya mengenal waktu itu menuju masa depan, kini malah berjalan sebaliknya. Dia hanya mampu melihat orang itu ketika menuju kamar mandi, orang yang sekarang menunggunya! Bahkan syaraf-syaraf pusat sudah memberi kode memersilakan orang yang menunggu untuk gelisah. “Tunggulah sampai engkau tidak mengenal ‘entah’, tetapi ijinkan kita berbagi ‘relatif’. Kemampuanku hanya sampai melihat engkau memasuki kamar mandi, itupun aku ketahui dari handuk yang engkau gantungkan di pundakmu. ‘Entah’, apakah aku diberi kesempatan menjadikan engkau sebagai handuk yang bergelantung manja dipundakku. Memang air yang engkau pakai untuk membersihkan tubuhmu, tetapi sebagai kegiatan puncak ritual mandimu tetap menggunakan handuk. Sampai saat ini, aku hanya mengenal ‘entah’ dan ‘relatif’. Hanya ‘relatif’ yang bisa aku bagi”.

Memang ada benarnya opini umum yang mengatakan bahwa menunggu adalah kegiatan yang paling membosankan. Bisa dihitung dengan jari orang yang berkata, “Aku lebih baik menunggu, daripada ditunggu”. Menunggu dan ditunggu berimplikasi luas, bahkan boleh jadi itu berhubungan dengan kepribadian seseorang. Menunggu sendiri dalam kehidupan manusia memang tidak dapat dihindarkan. Ali-alih menghindar dari menunggu, alangkah lebih baik bila bagaimana menunggu—yang Anda tidak terhindar darinya—menjadi kegiatan yang menyenangkan. Ketika menunggu, Anda memasuki waktu yang sepenuhnya milik sendiri, tidak berbagai relativitas waktu pada saat itu. Diam, membisu, tengok kanan kiri, gelisah, dan berujung marah. Anda tidak lagi memerhatikan sekitarnya. Anda berada dalam waktu milik sendiri. Anda hanya menunggu, memerhatikan kepastian yang ditunggu.

Sesuatu yang menyenangkan diri Anda, tentulah harus diciptakan sendiri. Bila Anda hanya menunggu yang menyenangkan akan datang dengan sendirinya, maka itu ibarat Anda berharap menjadi handuknya Angelina Jolie ketika sedang mandi. Ujung-ujungnya itu hanyalah sebuah khayalan belaka. Ketika menunggu, seseorang sedang mengasah kesabarannya, berarti di situ terjadi akumulasi energi yang bersiap-siap membutuhkan saluran. Bila masih kesulitan untuk mengaktifkan hati melalui aktivitas zikir, maka ikatkanlah pikiran kepada sesuatu dalam rangka menyalurkan akumulasi energi. Patut diingat lagi bahwa ketika menunggu, kita memiliki waktu sendiri dan di situ pula terjadi permainan kesabaran. Implikasi ketika berada dalam waktu sendiri sangat tergantung kepada aktivitas yang dilakukan. Bandingkan antara orang yang bermain game dan meditasi. Bandingkan reaksi kedua orang tersebut, apabila ketika sedang asyik-asyiknya tiba-tiba ada yang memanggil. Seperti si pemancing yang sabar memberikan umpan dan dilemparkannya ke tengah kolam, ditunggunya reaksi dari ikan, lama umpan tidak ada yang menyambar, diganti lagi umpannya dan dilempar kembali. Begitulah mengasah kesabaran.

Menunggu itu berada dalam waktu miliknya, yang ditunggu sedang dipermainkan kenisbian waktu. Manakalah hujan berganti dari gerimis menjadi deras, “Apakah aku akan menunggu sampai tidak mengenal ‘entah’? Bukankah handuk dilupakan manakala fungsinya sudah ditunaikan? Bukankah pemancing mengabaikan kail ketika umpan sudah disergap ikan? Lakukanlah aktivitas yang menyenangkan ketika Anda sedang menunggu. Bersabarlah, sebagaimana sabarnya kematian menunggu Anda. Anda menjadi orang saleh atau durhaka, kematian tetap memberi kesempatan. Sebab, tidak ada ‘entah’ dan ‘relatif’ manakala ditunggu kematian.

Spiritualitas Qurban

Posted in ARTIKEL, Campuran, Lepas Lelah on Oktober 5, 2010 by isepmalik

Bulan terakhir dalam kalender hijriyah ini disebut “Dzulhijjah” karena di dalamnya ada pelaksanaan Haji. Bulan terakhir dalam kalender hijriyah ini juga disebut dengan “Idul Adha” yang kita terjemahkan dengan “Hari Raya Qurban”, karena pada bulan ini dilaksanakan “Udlhiyyah”, yang artinya “Qurban” . Kebetulankah ini? Tidak. Satu bulan dua arti yang merupakan ibadah di dalamnya ini bukan sebuah kebetulan, tetapi di dalamnya sarat dengan hikmah dan makna yang sangat dalam.

Haji dan Qurban di bulan Dzulhijjah ini kedua-duanya secara syariat hanya dialamatkan kepada orang-orang yang mampu. Orang yang tidak mampu tidak berkewajiban melaksanakan Qurban, apalagi menunaikan ibadah Haji. Syarat kemampuan ini menunjukkan bahwa Haji dan Qurban bukanlah ibadah biasa dan bukan pula ibadah ala kadarnya, tetapi kedua ibadah tersebut merupakan ibadah yang istimewa dan dirasakan berat pelaksanaannya.

Jika dilihat dari aspek waktu pelaksanaannya pada bulan DzulHijjah yang merupakan bulan terakhir dalam kalender hijriyah, maka ini menunjukkan bahwa dibalik penempatan kedua ibadah di akhir tahun ini mengandung hikmah dan makna spiritual yang sangat berharga. Tidak mungkin Allah menetapkan sebuah pranata ibadah baik jenis, cara maupun waktunya tanpa ada nilai hikmah di dalamnya, karena Allah Maha Suci dari hal-hal yang sia-sia tanpa hikmah dan makna. Sekurang-kurangnya hikmah dan makna kedua ibadah yang dilaksanakan di akhir tahun ini kiranya menjadi spirit bagi umat Islam untuk menyongsong kehadiran tahun 1431 hijriyah untuk bisa lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya.

Syari’at haji dan Qurban bukan merupakan syariat baru bagi Nabi Muhammad Saw. dan seluruh ummatnya, tetapi kedua ibadah ini juga merupakan syariat para rasul dan umat sebelumnya. Syariat Haji dan Qurban  yang dibawa oleh Nabi Muhammad Saw. ini sesungguhnya merupakan Syariat Nabi Ibrahim As. Perjalanan Haji dan Ibadah Qurban yang dijalani umat Islam ini tidak lain adalah napak tilas perjalanan hidup Nabi Ibrahim As., sehingga untuk menggali hikmah dan nilai-nilai spiritualnya tidak bisa dipisahkan dengan sosok Nabi Ibrahim As. yang dikenal sebagai bapak para nabi dan rasul.

Pelaksanaan Qurban hanya diperintahkan di bulan Dzulhijjah, berarti Qurban hanya dilakukan sekali dalam setahun. Oleh karena itu secara substantif Qurban bukanlah sekedar momentum untuk membagi-bagikan daging kepada fakir miskin. Sebab kalau Qurban itu membagi-bagikan daging kepada fakir miskin, mengapa Allah Swt. menetapkan pelaksanaan Qurban hanya sekali dalam setahun? Tidakkah sebaiknya fakir miskin itu diberi daging lebih sering lagi, agar standar gizi mereka terpenuhi sehingga mereka memiliki kekuatan fisik untuk bisa bekerja lebih maksimal lagi?

Esensi Qurban yang disyariatkan di bulan Dzulhijah sebagai bulan terakhir dari kalender hijriyah ini, bukanlah sekadar momentum untuk membagi-bagikan daging kepada fakir miskin, tetapi di balik itu semua ada nilai-nilai spiritual yang sangat berharga bagi seluruh umat manusia. Diantara makna spiritual dari pelaksanaan Qurban dapat diperhatikan sejak awal pelaksanaannya yang melibatkan dua figur hamba Allah Swt. yang tercinta, yaitu Nabi Ibrahim As. dan Ismail As.

Al-Quran menggambarkan bahwa ketika dua orang bapak dan anak kekasih Allah Swt. itu telah siap melaksanakan Qurban sesuai dengan perintah Allah Swt.; Nabi Ibrahim As. telah siap dengan pisaunya dan Ismail telah membaringkan diri dengan penuh kepasraham di atas lubang pemotongan yang telah disediakan sebelumnya, ternyata tanpa di duga Allah Swt. berseru kepada Ibrahim As. agar Qurbannya diganti dengan seekor domba (QS. Ash Shafat: 103-107). Maka yang kemudian terjadi adalah bahwa “di satu sisi perintah Qurban terlaksana dengan baik dan pada waktu yang bersamaan yang menjadi Qurban bukanlah sosok manusia yang bernama Ismail”.

Untuk menggali makna spiritual di balik sejarah pelaksanaan Qurban tersebut perlu diajukan pertanyaan kritis-filosofis: “Mengapa Allah Swt. “meralat” sebagian perintah-Nya dalam pelaksanaan Qurban yang sebenarnya sudah pasti akan dilaksanakan oleh Ibrahim terhadap putranya Ismail tersebut?”

Padahal, kalau saja Allah Swt. tidak meralat perintah-Nya, maka Ibrahim As. dan Ismail sebagai hamba yang patuh pasti akan melaksanakan perintah Qurban itu apa adanya. Kalaulah Qurban terhadap diri Ismail seperti perintah semula itu terjadi, sebenarnya tidak akan ada yang mempersoalkan, dengan argumen bahwa perintah Allah Swt. (agama) harus diletakkan di atas segala-galanya. Hanya saja, seandainya Allah Swt. tidak “meralat” sebagian perintah-Nya, sehingga Ibrahim As. menyembelih putranya Ismail sebagai Qurban, maka sangat mungkin dipahami oleh generasi berikutnya bahwa “Ismail menjadi objek Qurban atas nama perintah Tuhan (agama)”.

Sejarah revisi pelaksanaan Qurban ini sungguh mengandung makna spiritual berupa pesan kemanusiaan yang luar biasa pentingnya. Bukan hanya bagi umat Islam, tetapi untuk seluruh umat manusia. Pesan spiritual yang penting itu adalah bahwa “manusia tidak boleh diqurbankan sekalipun atas nama Tuhan (Agama)”.

Kalau atas nama agama saja tidak boleh terjadi tindakan yang mengorbankan manusia, apalagi kalau hanya sekedar atas nama yang lain. Setinggi apapun tujuan dan kepentingan dalam hidup ini, tidak boleh terjadi sampai mengorbankan manusia. Seshahih apapun argumen yang bisa diajukan untuk menggapai suatu tujuan, tetap tidak boleh terjadi ada tindakan yang mengakibatkan korban manusia. Spirit kearifan seperti inilah sebenarnya yang hendak ditanamkan oleh Islam melalui syariat Qurban.

Empati kemanusiaan merupakan salah satu wujud komitmen esensial ketakwaan seseorang. Bahkan tidak hanya terbatas kepada manusia. Bukankah Rasulullah Saw. pernah memberikan ilustrasi bahwa “Seseorang bisa memperoleh surga lantaran kasih sayangnya kepada seekor anjing dan seseorang juga bisa terjerumus masuk neraka lantaran berbuat zhalim kepada seekor kucing” (HR. Al Bukhari). Jika tindakan seseorang kepada hewan saja bisa berakibat serius seperti itu, maka sebuah tindakan apapun kepada manusia bisa berakibat lebih serius lagi.

Bila cinta tak sampai

Posted in Campuran, Cerpen, Lepas Lelah, Teori Kuantum on Oktober 4, 2010 by isepmalik

Apa yang diharap dan dicitakan belum tentu tercapai semua. Boleh jadi baru setengahnya, bisa juga karena terlupakan, atau memang sudah seharusnya begitu. Banyak orang mengharap dan mencitakan cinta kepada seseorang yang dicintanya. Ada yang layeut sampai ke jenjang pernikahan, meski di tengah perjalanan memadu cinta penuh dengan halangan dan tantangan. Tetapi tetap dua insan ini dapat memadu cintanya, sampai beranak pinak dan beroleh ketentraman. Ada pula yang diawalnya menggebu dalam mencinta, tetapi apa mau dikata bisa juga berantakan di pertengahan perjalanan. Tidak sedikit pula yang tidak pernah menemui koneksi dalam mencinta, sang wanitanya adem-adem saja, tidak pernah menyentuh umpan yang diulurkan oleh pihak pemancing lelaki.

Banyak sudah cerita yang mengoleksi tentang memadu urusan hati ini. Tidak sedikit anak manusia yang menangis kegetiran menyaksikan film Kuch-kuch Hota Hai, atau berlinangan air mata manakala membaca dan menyimak episode Laila dan Majnun. Itulah kisah klasik mengenai kerahasiaan hati yang tersimpan dalam relung-relung terdalam kesadaran, sebagaimana diagungkan Gibran.

Mencinta dapat berkesampaian dan beroleh ketentraman. Jika mendapat ini, Anda layak untuk mempertahankannya. Karena itu adalah “surga” yang tersedia di dunia ini, yaitu berasal dari hati. Tidak ada di dunia ini yang mampu dan layak menerima keagungan Tuhan, kecuali hati (qalb). Jadi, sesuatu yang berasal dari hati itu adalah “surga”, atau dalam lain kata, itu adalah “bisikan-bisikan lembut Ilahiah”. Semaikanlah hal itu, sebagaimana atom-atom dalam diri Anda menaburkan rasa keindahan terhadap mata bilamana memandang. Pertahankanlah hal itu, sebagaimana molekul-molekul dalam diri Anda mempertahankan mata untuk tetap berada dalam posisinya. Pupuklah hal itu, sebagaimana senyawa-senyawa dalam diri Anda memupuk mata untuk menangkap kesan kecintaan terhadap sesama. Rawatlah hal itu, sebagaimana koordinasi sel-sel dalam diri Anda tetap merawat mata untuk tetap menjalankan fungsinya.

Bagaimanakah bila cinta tidak kesampaian? Ini ceritanya yang terajadi di suatu malam. “Terkadang saya berkhayal, meski tidak mungkin, ingin kembali ke jaman masa muda”, kata seorang perempuan yang pernah menaruhkan harapan dan cintanya kepada lelaki yang dijumpainya di dunia maya. Si pria, paham arah pembicaraan itu kemana, lalu berkata, “Aku sering ngotak-ngatik teori pemuluran waktu (time dilation), yang salah satunya untuk membuka kegaiban masa lalu. Terdengar bisikan kepadaku, ‘Itu tidak akan dibuka, karena kalau dibuka akan terjadi chaos‘. Bila engkau merindukan masa lalu, pandanglah bayi mungilmu yang sedang terlelap. Siapakah makhluk kecil ini? Kenapa dia bisa tiba-tiba muncul dari rahimmu? Bila engkau merindukan masa lalu, jangan sampai makhluk kecil itu merasa kehadirannya seolah-olah tidak engkau harapkan. Mengapa ketika bayi mungilmu terlelap, lalu tiba-tiba bisa menangis? Mengapa engkau merasa yakin ketika bayi menangis bahwa dia merasa lapar? Lalu engkau dengan penuh kecintaan memberinya asi yang dilahapnya dengan segera. Pernahkah engkau ketika makan sepiring nasi, lalu dengan sadar menakar bahwa sekian sendok yang engkau suap khusus untuk membuat air susu buat bayimu? Bila engkau merindukan masa lalu, pandanglah bayi mungilmu itu. Siapakah makhluk kecil itu?

Ketika beberapa menit berlalu dan tidak mendapat kiriman balasan dari si wanita, si lelaki kembali mengirim pesannya. “Apakah semua itu terjadi secara kebetulan belaka? Aku berkeyakinan, tidak. Bila engkau merindukan masa lalu karena di situ ada aku, berjalan dan tataplah masa depan. Engkau bisa kembali merajut kecintaan kepadaku melalui ilmu. Sapalah aku dengan penuh kecintaan melalui tukar pandangan dan kedalaman pengetahuan. Mengapa manusia tidak bisa memasuki kegaiban masa lalu? Karena fisik manusia tidak diberi kekuatan untuk menari dalam kecepatan cahaya di daerah sunyi. Bila engkau galau, penawarnya adalah ilmu. Bila engkau gelap, obatnya adalah cahaya. Bila cinta yang engkau harap dan citakan dari aku sampai di alam keabadian, perkuatlah hal itu dengan ilmu. Sedekah, doa anak saleh, dan ilmu yang bermanfaat akan mengalirkan engkau kepada surga. Ketika engkau sudah di sana, pastinya engkau akan berkata, “Aku tidak ingin ke masa lalu”.

Inspiring: (1992). Krane, Kenneth. Fisika Modern. Jakarta: UI Press. Hal: 32-38.

Tema-tema dalam Dialog Sains dan Agama

Posted in Agama dan Sains, ARTIKEL, Campuran on September 29, 2010 by isepmalik

Di antara begitu banyak pembahasan, ada tiga tema sederhana yang telah menandai sejarah sains di era modern dan jelas akan muncul dalam pembahasan selanjutnya mengenai jejak ilmu fisik pada abad terakhir. Hal itu berlaku juga untuk pembahasan dialog sains dan agama.

Tema pertama, “ada hal-hal yang tidak seperti kelihatannya”. Pada abad keenambelas sampai abad ketujuhbelas, manusia menerima bahwa segala sesuatu di kosmos tidak berputar di sekitar kita, meskipun memang terlihat seperti itu. Bintang-bintang, matahari, dan bulan tampaknya setiap hari berputar di sekitar kita, tetapi sekarang kita tahu bahwa terjadinya rotasi bumi menghasilkan efek ini. “Sesuatu” terlihat sangat padat dan halus, tapi sekarang kita mengetahui bahwa atom sebagian besar berisi ruang kosong—padat, kecil, berinti keras yang dikelilingi “awan” bergelombang, seperti gelombang “elektron-pejal” yang karena cepat getarannya akan memberikan tampilan soliditas.

Sains dan agama, keduanya berurusan dengan “melihat” “dunia gaib”. Siapakah yang telah “melihat” inti atom, gaya gravitasi, atau materi gelap (the dark matter) dari alam semesta fisik? Dan siapakah yang telah “melihat” Tuhan, sehingga dengan mudah menggambarkan untuk orang lain? Lompatan iman diperlukan dalam kedua kasus tersebut. Wajah atau tampilan dunia mampu mendustakan kedua realitas di atas. Cara benda yang “terlihat” tidak sesuai dengan cara kedua realitas tersebut. Alam semesta fisik menurut sains muncul dari “ketiadaan”, begitu pula menurut Kabbalah Yudaisme dan Meher Baba. Secara mendalam, metafisik mempertanyakan tentang apa yang benar-benar nyata, kekal, dan yang mendasari tema-tema ini.

Tema kedua, “prinsip Copernican”—era modern ditandai dengan berkurangnya sentralisasi terhadap bumi dan kemanusiaan dengan meningkatkan kepedulian pada kosmos. Pertama, Copernicus menyatakan bahwa bumi tidak lagi merupakan pusat segala sesuatu. Bumi dengan cepat berputar pada porosnya dan mengelilingi matahari, tetapi setidaknya manusia memiliki nilai khusus dan ditinggikan di atas semua makhluk lain—kita memiliki pikiran! Darwin telah menunjukkan hal itu, tetapi sayangnya membuat pemisahan kecil antara manusia dan kera. Kemudian, tata surya tidak lagi menjadi pusat dari galaksi Bima Sakti, karena galaksi adalah salah satu dari ratusan miliar galaksi lain di seluruh alam semesta! Bumi dan manusia menjadi teramat kecil. Pada suatu tempat di sepanjang jalan yang teramat luas, prinsip Copernican menjadi “prinsip biasa-biasa saja” yang mengasumsikan tidak ada yang istimewa tentang manusia dengan cara apapun. Copernicanisme sekarang sudah liar: alam semesta kita sendiri mungkin hanya satu di antara suatu ketidakterbatasan alam semesta lain, di mana terdapat tak terbatas dari planet lain dengan kemungkinan adanya makhluk cerdas. Kita adalah salah satu di antara triliunan, tanpa status khusus apapun. Kekurangan kita tampaknya lengkap.

Apa yang agama katakan tentang “Copernicanisme”? Beberapa orang mengatakan bahwa luas dan beragamnya kehidupan dapat mengindikasikan Tuhan yang tidak terbatas. Sementara yang lainnya mengatakan bahwa manusia benar-benar memiliki peran yang signifikan. Banyak juga yang terfokus pada banyak faktor membuat bumi hanya cocok untuk hidup dan kesempatan untuk hidup bersama-sama hampir nihil. Lebih dari satu agama berpendapat bahwa sebenarnya bumi adalah benar-benar khusus, manusia merupakan puncak penciptaan, dan hanya di bumi yang dapat menyadari potensi spiritual secara penuh.

Tema ketiga, “mencari kesatuan”. Keseluruhan sejarah sains merupakan fenomena yang dapat dilihat sebagai satu kesatuan cerita panjang, dimana sebelumnya dirasakan secara terpisah-pisah. Langit dan bumi menjadi satu dalam mekanika Newtonian dan teori gravitasi. Akustik dan panas berada dalam bahasan mekanika, seperti optik dan cahaya yang termasuk dalam teori elektromagnetik. Dua kekuatan bersatu pada energi yang cukup tinggi dan bertindak sebagai kesatuan, serta pencarian sungguh-sungguh sedang dilakukan untuk menyatukan keempat kekuatan menjadi satu teori dasar “theory of everything”, seperti Holy Grail dalam bidang fisika yang telah berhasil Einstein kerjakan selama bertahun-tahun untuk menemukannya. Kondisi tersebut mungkin merupakan kemenangan tingkat pertama dalam memahami alam semesta dan menjadi kunci memasuki kosmologi, sifat ruang-waktu, materi, dan energi.

Dorongan untuk persatuan merupakan jantung dari dialog sains dan agama. Pencarian segala sesuatu dari hal-hal umum akan menjadi dorongan visi integrasi yang mendalam untuk terjadinya pertukaran secara keseluruhan. Beberapa orang telah menyatakan urgensi dari tugas-tugas tersebut, sebagaimana dikatakan Alfred North Whitehead:

Ketika kita mempertimbangkan: “Apa agama dan sains bagi manusia”? Maka tidak berlebihan bila dikatakan bahwa masa depan sejarah tergantung pada keputusan tersebut—mengenai hubungan antara mereka (sains dan agama). Kita mendapatkan dua kekuatan terkuat; di satu sisi, agama mengatakan bahwa kekuatan itu adalah intuisi, dan pada sisi lainnya, observasi akurat dan deduksi logis merupakan kekuatan yang dikumandangkan sains. Bentrokan tersebut menandakan bahwa ada kebenaran yang lebih luas dan perspektif yang lebih baik ketika terjadi rekonsiliasi dari sebuah agama yang lebih mendalam dan sains yang lebih halus akan ditemukan. (Whitehead, 1962:162)

Sebagaimana dikatakan Whitehead di atas, bahwa sains dan agama perlu mengubah dan menghasilkan—menjadi “lebih dalam” dan “lebih halus”—dalam menemukan suatu jalur unifikasi. Mungkin, seluruh proses ditentukan pada kesatuan spiritual—jalan dari mencari persatuan dan menjadi utuh. Apa artinya jika melakukan perjalanan spiritual tetapi tidak dibarengi pencarian untuk persatuan? Satu lagi tingkat kemungkinan terjadinya unifikasi tampaknya dalam “dialog”. Sains mungkin menyediakan referensi netral untuk dialog antar keyakinan. Salah satu sarjana, Thomas Berry, berkomentar di Parlemen Dunia, “Cerita tentang alam semesta merupakan satu-satunya hal yang dapat membawa agama-agama dunia bersatu” (Matthews dan Varghese, 1995:vii).

Tema keempat, bersama-sama dengan yang lain dalam lanskap penggabungan sains dan agama—pencarian Yang Tertinggi. Meskipun sains telah meninggalkan penanganan terhadap pertanyaan ini secara langsung, tetapi dalam batas-batas tertentu sering memunculkannya. Apakah Big Bang menyiratkan saat penciptaan dan seorang pencipta? Apa yang terletak di luar alam semesta fisik? Tentu saja, sains tidak bisa menjawabnya. Bagaimana evolusi mekanistik memungkinkan proses tindakan Tuhan? Terhadap pertanyaan ini, teolog hanya bisa menebak. Jika Tuhan telah menentukan masa depan, bagaimana para ilmuwan membuat skenario untuk alam semesta masa depan yang berhubungan dengan ini? Ini merupakan isu terdepan dan menjadi pusat perdebatan, serta menonjol dalam kesadaran publik.

Tema-tema ini merupakan benang merah dialog pada abad kedua puluh antara sains dan agama, sebagaimana sejarah penemuan ilmiah dan evolusi kosmik akan mengungkapkannya. Ide-ide ini kontribusi dari banyak pemikiran ilmuwan dan agamawan, karena mereka menyerap pengetahuan baru. Hal ini tercermin pada makna lebih mendalam, ketika mencoba memahami penggabungan dua perusahaan besar dari spirit pencarian kebenaran yang dilakukan manusia.

Dialog Sains dan Agama Pada Saat Ini

Posted in Agama dan Sains, ARTIKEL, Campuran on September 28, 2010 by isepmalik

Dalam dua puluh lima tahun terakhir, dialog sains dan agama telah meluas dan meningkat. Mulai dari koridor akademis sampai ke tempat-tempat ibadah untuk lembaga-lembaga publik dan media. Hal ini juga benar-benar menjadi percakapan global.

Upaya akademis mendapatkan momentum ketika sejumlah universitas utama mendirikan pusat-pusat penelitian yang ditujukan untuk pekerjaan ini. Dua yang menonjol adalah Center for Theology and the Natural Sciences (CTNS) di Berkeley, California, dan Chicago (sekarang Zygon) Center for Religion and Science. Keduanya menerbitkan jurnal ilmiah, Theology and Science oleh CTNS, dan Zygon oleh Zygon Center dan Institute on Religion dalam Age of Science. Pusat-pusat lain ada di Georgetown, Princeton, Columbia and Boston Universities, Boston Theological Institute, dan di Kanada ada pusat Islam and Science yang menerbitkan jurnal ilmiah. Dalam periode yang sama Vatikan dan CTNS mensponsori studi sains-teologi yang dijelaskan di atas. Dalam periode ini juga telah muncul American Scientific Affiliation yang menerbitkan Perspectives on Science and Christian Faith.

Lembaga berpengaruh yang mendukung inisiatif dunia akademis selama periode ekspansi ini adalah John Templeton Foundation yang didirikan pada tahun 1987. Ia menawarkan hadiah satu juta dolar per tahun untuk kontribusi luar biasa di bidang ilmu pengetahuan dan agama, berupa dana hibah untuk penelitian dan penerbitan buku. Atas motivasi keagamaan dari penyandang dana John Templeton, yayasan-yayasan telah memperoleh dana. Tiga diantaranya sebagai contoh di CTNS adalah: program penghargaan ilmiah; the Science and the Spiritual Quest (SSQ), para ilmuwan membahas relasi agama dan sains dalam lokakarya dan konferensi di seluruh dunia; dan program STARS (Science and Transcendence Advanced Research Series) yang menawarkan hibah untuk mempelajari bagaimana relasi sains dan teologi mengarah kepada realitas hakiki. Pendanaan Templeton telah memungkinkan pertumbuhan berbagai program, tetapi bukan tanpa kontroversi. Beberapa akademisi menentang apa yang mereka anggap pengaruh yang tidak semestinya dari pemikiran keagamaan terhadap arah karya ilmiah.

Menurut Peters, diskusi akademik telah melewati tiga tahap yang saling tumpang tindih dalam lima puluh tahun terakhir. Pertama, mengenai “metodologi” sebagai ruang kerangka kerja bersama untuk dialog, seperti dijelaskan di atas. Kedua, mengambil fase “fisik”, berupa pertanyaan besar metafisik yang muncul dari kosmologi dan fisika subatomik—pertanyaan tentang Tuhan dan meningkatnya misteri kosmos. Ketiga, menjawab pertanyaan yang timbul dalam biologi—bagaimana tindakan Tuhan dan masa depan agama yang berkaitan dengan evolusi, dan apakah manusia harus menggunakan perencanaan genetik untuk memandu masa depan (Peters, 1998:3-7). Sampai saat ini, isu yang dibahas sebagian besar muncul melalui sains. Menurut Peters dan Hewlett (2003), seringkali teologi terlalu reaktif terhadap temuan-temuan sains. Baru-baru ini, teolog mulai membalikkan tren dengan mengajukan pertanyaan teologis yang terfokus pada tindakan Tuhan dalam penelitian Vatikan-CTNS, atau setidaknya dalam sebuah proyek baru-baru ini yang mempelajari “kiamat” (Polkinghorne, 2007).

Selain akademisi, organisasi-organisasi lain berfokus pada area yang lebih luas seperti pendidikan dan penelitian akademik. Contohnya adalah Metanexus Institute, sebuah think tank kajian humaniora dalam menangani pertanyaan-pertanyaan mendalam mengenai umat manusia, melakukan konferensi, forum online, dan inisiator untuk masyarakat lokal di seluruh dunia. Contoh lain adalah program Dialogue on Science, Ethics and Religion (DoSER) dari the American Association for the Advancement of Science (AAAS) yang mensponsori konferensi tentang evolusi dan kosmologi serta menyediakan sumber-sumber pengajaran. The Clergy Letter mengeluarkan jurnal independen Science and Spirit yang menganggap sains dan agama dapat secara bersama-sama menggali makna untuk kehidupan sehari-hari kita.

Dalam beberapa dekade terakhir, terjadi dialog yang mencakup sebagian besar agama-agama dunia. Semuanya mengakomodasi salah satu cara untuk bangkitnya sains modern. Sejarah dan saat ini memberi tahu status interaksi sains dan agama dalam sejumlah sumber yang sangat baik, antara lain Buddhism and Science (Wallace, 2003), Islam and Science (Iqbal, 2002), Jewish Tradition and the Challenge of Darwinism (Cantor dan Swetlitz, 2006), Science and Religion in India (Gosling, 1976), dan God, Humanity and the Cosmos (Southgate et al., 1999: bab 9 dan 12). Ringkasan yang bermanfaat juga dapat ditemukan dalam Encyclopedia of Science and Religion (van Huyssteen, 2003).

Sebuah spektrum pandangan tentang bagaimana sains dan agama berhubungan ada dalam masing-masing agama besar dari “konflik”, “integrasi”, dan “konfirmasi”. Sasaran utama terjadinya “konflik” dengan sains adalah masalah evolusi dan keutamaan realitas material dalam ilmu pengetahuan Barat. Beberapa elemen dalam masing-masing agama besar menentang evolusi sebagai proses murni materialistik yang tidak mengakomodasi tindakan Tuhan, pandangan ini yang terkuat mungkin di Islam, dan lemah dalam agama Hindu dan Buddha. Cendekiawan agama lain tampaknya menghadapi kebingungan tentang apakah sains sebenarnya ditentukan filsafat materialistik. Sumber lain terjadinya “konflik” untuk Hindu dan Budha adalah keutamaan ilmiah dari dunia material atas kesadaran, karena bagi mereka kesadaran atau ketuhanan lebih sering dianggap sebagai realitas utama. Untuk Islam, apa yang dipertanyakan adalah pemisahan realitas material dari kerangka metafisik tradisional yang mencakup materi dan semangat dalam tangga hirarki yang sama “jenjang menjadi”. Teolog Kristen bergulat dengan masalah yang sama, dan hari ini, cendekiawan terkemuka dan pemimpin spiritual dari semua agama mencari pemahaman yang dapat menyembuhkan keretakan-keretakan tersebut. Cendekiawan Islam berbicara tentang kebutuhan untuk mengintegrasikan ilmu fisika ke dalam kerangka kerja universal “filsafat perenial”, prinsip yang melampaui budaya dan keyakinan yang terpisah namun terletak di jantung semua agama (Iqbal, 2002: 307; Nasr, 1993: 53-54). Sebuah pendekatan serupa ini diikuti oleh Meher Baba dan Aurobindo dalam mengintegrasikan kesadaran dan tujuan kosmik dengan evolusi materi dalam sistem spiritual universal.

Ide-ide di atas, saat ini dieksplorasi dalam jumlah besar dan mengalami perrkembangan pesat seperti lembaga, lokakarya, program, dan konferensi di seluruh dunia yang membawa satu-keyakinan atau kelompok antar-keyakinan dalam dialog dengan sains. Contoh organisasi riset permanen seperti Centre for Islam and Science, the Buddhist Mind and Life Institutes, dan the Project of History of Indian Science, Philosophy and Culture. Pertemuan-pertemuan pribadi dan proyek-proyek berlimpah, berikut ini hanya yang representatifnya. Dua simposium yang diadakan pada pertemuan modern dari the World’s Parliament of Religions—di Chicago pada the Parliament Centenary Year tahun 1993 dan di Cape Town, Afrika Selatan pada 1999. Cosmic Beginnings and Human Ends (Matthews dan Varghese, 1995) dan When Worlds Converge (Matthews et al., 2002). Esai disajikan pada masing-masing pertemuan di Chicago dan Cape Town. Pemuka Tao, Konghucu, Hindu, Buddha, Yahudi, Kristen, dan feminis semuanya hadir. Tema yang dibahas meliputi evolusi agama, kosmis dan ekologi, tanggung jawab teknologi, dan janji dan tantangan bersama. Sebuah topik serupa, “Cosmology and Teleology” adalah subyek konferensi antar multi-perspektif yang disponsori AAAS dan Georgetown University Center pada tahun 1997 yang menerbitkan Science and Religion: In Search of Cosmic Purpose (Haught, 2000b). CTNS tentu saja memberikan penghargaan dan program SSQ juga menarik peserta dari berbagai agama yang berbeda, dan esai mereka dapat ditemukan dalam Bridging Science and Religion (Peters dan Bennett, 2003) dan Science and the Spiritual Quest (Richardson et. al., 2002). Sebuah publikasi pertama dari perspektif Kristen dan Muslim dalam buku yang sama, berjudul God, Life and the Cosmos (Peters et. al., 2002) dihasilkan dari konferensi bersama di Islamabad tahun 2000.

Ulasan singkat tentang situasi saat ini hampir tidak tergambarkan dengan sempurna karena lingkup besar dialog sains dan agama yang semakin intensif dan berkembang dalam beberapa tahun terakhir. Dalam setiap literatur yang membahas gelombang radio dan dunia maya menegaskan kemungkinan relasi sains-agama: testimonial pribadi untuk harmoni, perdebatan agama oleh ilmuwan ateis, keutamaan ilmuwan dalam perspektif agama, argumen akademisi dan agamawan, evolusi kosmik sebagai agama baru, ilmuwan-teolog dalam perspektif terpadu, dan pemimpin tercerahkan yang membayangkan integrasi dengan jelas. Sulit untuk menyatukan semua suara-suara, tetapi dialog-dialog tersebut sedang berlangsung, dan cerita ini ditulis pada saat ini. Namun, satu hal yang pasti dari survei abad yang lalu, yaitu terjadinya perubahan luar biasa, baik di dalam sains dan agama, serta di daerah samar-samar antara sains dan agama. Agama, sekarang jauh lebih bersedia untuk terlibat dengan sains, dan banyak ilmuwan sangat ingin bersikap demikian. Para astronom menulis buku seperti: God’s Universe (Gingerich, 2006), dan peneliti DNA terkemuka menulis: The Language of God (Collins, 2006) yang menjelaskan molekul dasar kehidupan. Banyak sarjana dan orang awam yang menempa hubungan antara sains dan agama yang lebih bermakna dan produktif. Ada alasan bagi setiap orang untuk menganggap bahwa hal ini akan terus berlanjut.