Archive for the Bukan Sains Murni Category

Silent Spring (2)

Posted in Bukan Sains Murni with tags , , , , , on Mei 31, 2011 by isepmalik

“Silent Spring” menyajikan visi Manichean dunia; alam dipandang sebagai surga harmonis, sementara kimia dikemas dalam peran kekuatan jahat, berupa kekuatan tak terkendali yang mendeklarasikan perang pada alam. Tetapi ulasan Carson tidak sampai jatuh ke dalam perangkap gerakan anti ilmu pengetahuan, melainkan menawarkan sebuah paradigma ekologi baru secara ilmiah dan politik. Ia percaya pada ilmu pengetahuan dengan menawarkan versi alternatif yang akan membawa umat manusia ke jalan kemajuan ilmiah berupa solusi jangka panjang dalam strategi kontemporer. Carson berpendapat bahwa kita tidak bisa berharap untuk mengendalikan organisme hidup tanpa terlebih dahulu berusaha untuk memahami mereka dalam segala kompleksitasnya. Sementara kesalahan terbesar dari kampanye pestisida tahun 1940-an dan 1950-an adalah pemakaian sembarangan produk yang digunakan bersama dengan produk lainnya. Kesalahan ini terletak pada target yang disebut “hama”, apakah kumbang pada pohon elm yang membawa penyakit atau nyamuk pembawa malaria dapat diperlakukan secara independen dari spesies lain. Dengan demikian, Carson mengusulkan harus banyak upaya yang dilakukan untuk mempelajari berbagai keseimbangan antara populasi hewan dan lingkungannya. Sementara studi seperti itu juga dilakukan oleh sejumlah ahli biologi, mereka masih dalam tahap awal dan tampaknya tidak terlalu kritis terhadap orang-orang yang dituduh menyalahgunakan pengelolaan lingkungan. Carson juga ingin menyerang fatalisme teknologi yang berorientasi satwa liar dan pengelolaan lingkungan hidup di Amerika Serikat. Filosofi di balik penyemprotan DDT dan bahan kimia lainnya adalah bahwa kemajuan ilmiah selalu membawa peningkatan teknologi modern yang bekerja lebih baik daripada pendekatan tradisional; hal ini bisa mengakibatkan pendukungnya buta terhadap efek negatif dari teknik-teknik modern. Carson menunjukkan bahwa Amerika perlu mengambil jalan yang lain, yaitu “good science” yang berusaha mencari solusi biologis berdasarkan pengetahuan mendalam tentang makhluk hidup dan secara holistik yang meliputi visi kehidupan di bumi. Dengan pendekatan ini, Carson mengarahkan pikirannya menuju konsepsi bumi dikaitkan dengan mitos dari Gaia yang memperlakukan seluruh dunia sebagai makhluk hidup.[1]

Kita tidak bermaksud melakukan serangan balik atas analisis kritis argumen Carson dalam “Silent Spring” sebagai pertahanan dari kimia. Jelas, Carson mencela berbagai bahan kimia dan praktek yang terkait manajemen tanah di Amerika. Tujuan kita adalah menunjukkan penggunaan berbagai sumber daya yang mengharuskan pihak berwenang untuk memperkenalkan sistem pengelolaan risiko dari teknologi. Dalam rangka memperkuat opini publik, ide Carson diperlukan untuk merevitalisasi kiasan mitologi tertentu dalam konteks baru sehingga menciptakan mitologi modern yang menentang kimia karena berisikan kekuatan jahat terhadap ekologi. Selain itu, reaksi pemerintah, masyarakat, dan industri terhadap “Silent Spring” sangat beragam yang  menggambarkan seberapa efektif wacana ini dapat dijadikan sebagai motor untuk tindakan politik. National Agricultural Chemical Association menganggap buku tersebut sebagai ancaman, maka mereka meluncurkan acara di televisi dan kampanye di media cetak untuk mendiskreditkannya. Di televisi, seorang dokter menyatakan akan membayar bila ada korban yang terkena “racun” sebagaimana yang dikemukakan Carson, sementara perusahaan kimia menerbitkan sebuah buku lelucon dengan latar padang gurun terpencil. Di dalamnya, digambarkan bahwa dunia tanpa pestisida akan dirusak oleh kelaparan dan seribu malapetaka lainnya. Tanggapan-tanggapan tersebut mencoba untuk menanamkan teror bahwa bahan kimia sintetik hanya berfungsi untuk menonjolkan ambiguitas sebagai racun dan obat di kalangan masyarakat luas. Publisitas dan pertentangan tersebut memicu gerakan yang menekan pada pemerintah untuk campur tangan. Presiden Kennedy bersikap waspada terhadap masalah-masalah yang ditulis Carson, dan ia meluncurkan pembentukan Environmental Protection Agency pada tahun 1970 dan pelarangan DDT pada tahun 1972. Pada tahun yang sama, PBB menyelenggarakan Conference on the Human Environment yang diselenggarakan di Stockholm. Di sini, aktivis dari seluruh dunia memberikan perhatian serius terhadap keadaan darurat lingkungan dengan alasan bahwa kebijakan lingkungan secara internasional harus diperkenalkan untuk melestarikan sumber daya bumi yang semakin berkurang.

Manusia sering dikatakan sebagai makhluk yang mampu belajar dari kesalahan dan begitu pula hendaknya terhadap aplikasi teknologi.[2]Kesalahan konsepsi dan penilaian yang dikecam oleh Carson dalam “Silent Spring” telah menghasilkan adanya integrasi antara pengelola lingkungan dan ahli kimia. Pelajaran paling penting yang diambil para ahli kimia adalah untuk membatalkan hubungan antara kimia dan bentuk intervensi besar-besaran terhadap alam; bahan kimia yang ditemukan untuk membunuh serangga kini tidak lagi dianggap sebagai alasan yang cukup baik untuk digunakan pada jutaan hektar lahan pertanian. Metode direformasi yang menghasilkan pemakaian pestisida secara terpadu; sebuah pendekatan di mana target secara jelas diidentifikasi dan penggunaan pestisida dibatasi dalam upaya untuk membatasi efek samping yang tidak diinginkan. Namun demikian, kita tidak dapat menghindari fakta bahwa penggunaan pestisida di seluruh dunia telah berkembang terus menerus sejak tahun 1970.


[1] Visi bumi sebagai yang mampu mengatur diri, harmonis, dan memperhitungkan keseimbangan dari komponen organik dan anorganik dipopulerkan di J. Lovelock (1979).

[2] Lihat: H. Petroski (1992).

Iklan

Silent Spring (1)

Posted in Bukan Sains Murni on April 9, 2011 by isepmalik

Buku Rachel Carson yang berjudul Silent Spring menarik perhatian untuk masalah ekologis pasca perang Amerika. Serialisasinya dalam New Yorker memperingatkan kepada John F. Kennedy untuk membentuk sebuah komisi penyelidikan terhadap bahaya pestisida dan herbisida. Buku tersebut menceritakan pembantaian ikan dan margasatwa di Amerika Utara dengan menggunakan bahan kimia sintetik. Kesuksesan buku tersebut begitu luar biasa sehingga mendapat perhatian serius dari wartawan, politisi, dan pemimpin bisnis setempat. Memang, Silent Spring merupakan serangkaian artikel yang mengkritisi secara lugas pengaruh buruk DDT terhadap lingkungan. Keterampilan sastra populer Rachel Carson melalui tulisannya telah menghasilkan sebuah buku yang dimaksudkan untuk menyentuh hati masyarakat luas.[1]

 

Silent Spring dimulai dengan sebuah fiksi futuris yang mendeskripsikan sebuah pedesaan Amerika di mana satwa liar telah dibasmi, tidak ada lagi ikan berenang di sungai, dan tidak ada lagi burung-burung bernyanyi di pohon untuk menyambut datangnya tahun baru. Strategi naratifnya adalah untuk menggambarkan daerah pedesaan setelah dimasuki produk kimia modern. Dijelaskan di awal buku ini bagaimana pedesaan menjadi sepi dan seperti tak bernyawa sebagai konsekuensi penggunaan secara sembarangan herbisida dan pestisida, seperti DDT dan organofosfat lainnya.

 

Daya tarik buku Carson terletak pada citra menggugah dan informasi ilmiah dari jurnal dan koleganya, kekuatannya banyak berutang kepada dimensi antropologis argumennya. Dalam Bab 2 berjudul “Kewajiban untuk Bertahan”, secara tegas ia menempatkan hubungan antara manusia dan alam di latar depan dan menyajikan produk kimia yang melancarkan perang habis-habisan pada alam. Gambaran Carson bahwa sudah seperempat abad manusia melakukan penghancuran lingkungan dalam sejarah panjang kehidupan bumi, ia menggarisbawahi fakta bahwa Homo sapiens adalah satu-satunya spesies yang pernah berusaha secara aktif untuk menghilangkan yang lain. Carson melanjutkan dengan menekankan pendekatan paradoks pemerintah AS dalam mengendalikan hama di tingkat lokal dan Federal. Dia berpendapat bahwa solusi instan yang diciptakan untuk mengatasi masalah menyebabkan kerusakan yang jauh lebih buruk dan jarang mencapai tujuannya.

 

Argumen ini bergema dengan serangkaian gambar yang telah mencapai status mitos dalam budaya Barat. Pertama, ada konsep Yunani kuno pharmakon bermakna racun dan obat yang berhubungan dengan kimia modern selama Perang Dunia Pertama. Misalnya penggunaan gas beracun untuk melawan musuh tetapi akhirnya juga bisa membunuh pasukan yang sedang menggunakannya karena tidak tentunya arah angin di medan perang. Seperti penggunaan gas beracun dalam perang, Carson menyarankan bahwa penggunaan skala besar DDT dapat mengorbankan kesehatan dan bahkan peradaban dari mereka yang menggunakannya. Walaupun maksud efek membunuh dibatasi hanya kepada serangga “berbahaya”, tetapi karakteristik utama dari senjata kimia tersebut adalah kemampuannya untuk membunuh tanpa pandang bulu.

 

Carson berpendapat bahwa masalah pemborosan kimia modern tidak ada hubungan langsung dengan bagian industrialis kimia (meskipun beberapa teori konspirasi mungkin berpikir demikian), tetapi pengetahuan mengenai konsekuensi potensi bahaya dari penyebarluasan produk kimia ini sangat kurang. Menurutnya, ini kebodohan yang terkait dengan optimisme tak terbatas, masyarakat ditipu untuk berpikir bahwa mereka bertanggung jawab atas praktek-praktek yang dilakukan, mampu meramalkan dan mencegah efek negatifnya. Carson menunjukkan bahwa instansi pemerintah yang seharusnya bertanggung jawab dalam penyemprotan DDT juga sama-sama buta terhadap efek yang jelas menimbulkan bencana tersebut. Namun demikian, di matanya perusahaan kimia juga bersalah karena hanya menyajikan “separuh kebenaran” dan mengaburkan realitas tidak menyenangkan dari produk mereka.

 

Kedua, mitos pertentangan antara kosmos dan kekacauan. Representasi visi klasik kosmos adalah ketertiban dan harmoni, sedangkan pesan utama chaos adalah gangguan yang tak terkendali. Bagi Carson, keadaan alam merupakan kosmos (harmoni, seimbang, keseimbangan), sedangkan peradaban manusia yang dikonsentrasikan pada pembangunan lingkungan dan penduduk akan menyebabkan pecahnya tatanan dunia yang memicu reaksi berantai tak terkendali ke dalam kekacauan.


[1] Selama dan setelah Perang Dunia Kedua, Carson mengeluarkan karyanya yang berjudul Fish and Wildlife Service, Under the Sea Wind (1941), The Sea Around Us (1951), dan The Edge of the Sea (1955).

 

Kimia dalam Literatur

Posted in Bukan Sains Murni on April 8, 2011 by isepmalik

Jika kita mencari ahli kimia atau kimia dalam literatur Barat, sulit untuk menemukan representasi kimia yang benar-benar modern, apalagi yang bernilai positif. Haynes dan Schummer menunjukkan dalam analisis mereka tentang representasi ilmuwan kimia, tokoh berulang dalam analisisnya ini—khususnya pada abad kesembilan belas—adalah dari sarjana mistikus kuno, atau yang lebih dekat ke alkemis kuno daripada ahli kimia modern.[1] Kegigihan dari sosok alkemis mengungkapkan lebarnya jurang antara realitas kimia industri dan sosok ahli kimia itu sendiri. Dari mulai Goethe sampai Frankenstein, ahli-ahli kimia tersebut menyajikan kekuatan namun menipu (jika tidak gila) seperti pesulap yang mencoba menyaingi dirinya dengan memainkan kekuatan alam gelap tanpa pernah benar-benar menguasainya. Secara umum, ahli kimia berfungsi sebagai tokoh alegoris untuk kesombongan atau kebanggaan dosa asal manusia. Seperti Faustian atau Frankenstein, ilmuwan kimia siap membuat perjanjian dengan setan untuk memainkan peran Tuhan di Bumi.

 

Dalam novelnya yang berjudul “Joseph Balsamo, Memoirs of a Doctor”, Alexander Dumas mengasosiasikan kimiawan sebagai tokoh protagonis yang menggunakan ilmu kimia untuk memanipulasi pikiran korban-korbannya. Secara keseluruhan, gambaran yang terus-menerus dalam imajinasi populer memperlihatkan bahwa alkimia lebih mendekati kepada mistis daripada kimia modern, meskipun selama abad kedua puluh kimia telah menempatkan dirinya sebagai departemen terhormat di universitas paling modern. Dalam novel, kimia selalu digambarkan sebagai ilmu yang aneh, asing, dengan asal-usul dari negeri-negeri jauh yang diimpor ke dalam masyarakat dengan fungsi untuk mengguncang pikiran.[2] Sedangkan ilmu kolektif lainnya memberikan kontribusi kepada masyarakat dengan baik atau setidaknya untuk pertumbuhan ekonomi, ahli kimia terus digambarkan sebagai peneliti tunggal hanya untuk memenuhi gairahnya. Kimia menjadi obsesi kecerdasan tetapi terhapus dari pandangan masyarakat, bahkan pada kesempatan yang terbatas ahli kimia adalah ujung tombak ilmu pengetahuan dengan tidak menghilangkan nilai mistisnya di masa lalu.

 

Ketika kimia disajikan dengan cara yang menguntungkan sebagai ilmu modern, tetapi manfaat materi yang telah disediakan umumnya dianggap lebih banyak kerugian daripada kebaikannya karena kimia dianggap telah berkontribusi pada erosi spiritual tradisional dan nilai-nilai agama. Sama seperti emas alkemis, mengumpulkan kekayaan dari hasil industri kimia dianggap keuntungan tidak bermoral dan haram karena tidak sesuai dengan asas ekonomi dan sosial yang didirikan di atas kejujuran. Ketika beberapa produk kimia diidentifikasi berisiko terhadap kesehatan, secara naluriah akan bereaksi, “Saya juga bilang begitu”. Memang, sangat jarang menemukan penulis yang membahas apalagi menerima produksi modern bahan kimia sintetik. Novel Richard Powers yang berjudul “Gain” memberikan pengecualian. Novel ini ditulis dalam dua cerita paralel, yang pertama menggambarkan munculnya beragam bahan kimia, perusahaan farmasi bernama Clare, dan pembangunan kota Lacewood di Illinois. Kisah kedua menceritakan penyakit dan kematian Laura Bodey, seorang ibu yang terkucil dari penduduk Lacewood karena mengidap kanker ovarium. Ketika sebuah kelompok pasien mencoba untuk memulai gugatan class-action terhadap Clare, Laura Bodey menolak untuk berpartisipasi.

 

Ketika mereka semua menggugat, ia (Laura) berpikir. “Mereka akan mendapatkan ganti yang layak sesuai tuntutan kerugian. Dan dalam sekejap berikutnya mereka bermimpi tentang perdamaian. Tidak ada bedanya apakah industri kimia ini memberikan kanker, karena di sisi lain telah memberikan segalanya. Mereka diambil hak hidupnya dan dibentuk dalam segala hal yang bisa dibayangkan, ditambah pula beberapa hal di luar imajinasi. Hidup memang harus berubah, bahkan kanker bisa mengubah lebih dari setengah jalan kembali”.[3]

 

Namun demikian, hal itu memerlukan kejernihan yang luar biasa untuk menganalisis keuntungan ketika dihadapkan kepada tragedi manusia, dan belum tentu para penulis atau ahli kimia memiliki kesadaran bila dirinya sendiri yang sekarat karena terkena kanker. Dalam cara yang sama, kisah Faustian memiliki berbagai versi. Dalam beberapa versi, Mepistopeles yang terus menerus pergi dokter karena kemalangannya, sementara versi lainnya menyatakan ia bertobat dalam menghadapi kutukan sebagai penebusan jiwanya. Saya belum tahu hasil akhir dari fakta modern Faustian dengan kimia, tetapi sejumlah penulis memberikan prediksi yang terburuk.


[1] R. D. Haynes, 1994 and J. Schummer et al., 2007.

[2] J. Schummer et al., 2007.

[3] R. Powers, 1998, hal. 320.

Kimiawi vs Alami (2)

Posted in Bukan Sains Murni on April 7, 2011 by isepmalik

Bagian dari citra negatif industri kimia juga karena citra buruk kimia sebagai ilmu. Misalnya, visi kimia sebagai ilmu tidak lebih baik dari fisika, maka wajar saja bila dikategorikan sebagai ilmu terapan yang berorientasi teknologi atau hanya jenis ilmu yang bertanggung jawab atas degradasi lingkungan. Selain itu, terdapat sejarah yang sangat nyata mengenai pencemaran lingkungan oleh industri kimia.

Hubungan industri kimia dengan polusi bukanlah sesuatu yang baru dimulai pada tahun 1970-an, tetapi sudah setua industri kimia itu sendiri. Pada abad kesembilan belas, konflik antara penduduk lokal dan pabrik pewarna yang mengakibatkan polusi telah berhasil diredam berkat kontrol yang kuat oleh potensi kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Sebelum Perang Dunia Kedua, terdapat kesepakatan antara Faustian, masyarakat, dan para ilmuwan yang tampak berharga berupa keuntungan tak terbatas yang dijanjikan ilmu pengetahuan diantara mereka. Pada puncak dari optimisme ilmiah, cerobong raksasa pabrik kimia mengepul mengeluarkan asap hitam untuk menandai tidak hanya kemakmuran suatu bangsa tetapi juga derajat peradaban.

Optimisme yang didasari dalil-dalil kemajuan benar-benar berhasil menenggelamkan protes dari mereka yang tidak menghargai perusakan lingkungan oleh polutan kimia baru. Bayangkan kejutan yang dialami oleh orang yang tinggal di kota-kota kecil atau desa-desa seperti di wilayah Provence di Perancis atau Lancashire di Inggris ketika proyek alkali mulai dibuka. Kebutuhan pasokan air yang berlimpah mengharuskan perusahaan berproduksi di dekat sungai atau di sungai dan utamanya sering di daerah pedesaan. Efek yang langsung diterima tidak hanya berupa asap memuakkan yang mengepul keluar dari cerobong ke udara, tetapi populasi tumbuh dengan kecepatan luar biasa yang menghasilkan kelebihan penduduk sebagai pekerja yang sakit dan menderita. Selain itu, sumber air yang dipakai pabrik kimia dengan cepat menjadi tercemar, tidak ada upaya yang dilakukan untuk membersihkan kembali air yang telah digunakan dalam proses manufaktur.

Ini adalah salah satu dari ironi sejarah kimia yang protes awalnya terhadap pencemaran lingkungan dilakukan ahli kimia pada saat kemunculan kimia. Ahli-ahli kimia ini tidak hanya seorang profesional dalam masalah-masalah kebersihan dan keamanan pangan, tetapi juga berhasil meningkatkan hasil pertanian dan inovasi dalam industri farmasi yang menyelamatkan jiwa. Memang, awalnya pupuk kimia banyak dipuji orang sebagai cara untuk mengakhiri kelaparan di dunia. Di Inggris, protes masyarakat lokal terhadap polusi industri dimulai sejak 1830 sehingga menjadi isu politik nasional pada tahun 1860-an dan melahirkan UU Alkali yang dikenakan pembatasan tertentu untuk manufaktur kimia pada tahun 1863.[1]

Beberapa dekade kemudian, pabrik pewarna sintetik yang didirikan di sepanjang tepi sungai Rhine dan Neckar menimbulkan konflik dengan petani dan nelayan setempat, karena limbah beracunnya yang dibuang ke sungai. Meskipun secara resmi dilaporkan bahwa terdapat zat asam dan limbah padat lainnya yang ditemukan di dalam air, kontroversi ini tetap berskala lokal dan tidak menyebabkan perdebatan mendasar atas dibangunnya pabrik kimia di daerah tersebut atau meminta pertanggungjawaban pemiliknya.[2] Sungai-sungai yang menjadi kuning dan tampak hijau kurang menjadi perhatian bila dibandingkan dengan keuntungan yang mengalir dari produksi zat warna sintetis dan produk kimia modern. Konflik kepentingan tersebut terus-menerus menjadi semacam protes bisu bahkan sampai hari ini, dan merupakan bagian tak terpisahkan dari sejarah panjang kapitalisme industri yang bermasalah dengan lingkungan. Namun demikian, jika protes berhasil dijinakkan oleh kekhawatiran hilangnya lapangan kerja atau takut akan pembalasan hukum dari perusahaan multinasional yang kuat, maka hal ini hanya akan menambah rasa frustrasi dan kebencian yang menggunung sebagai tanda permusuhan yang mendalam dari masyarakat umum terhadap kimia.


[1] E. Homburg, et al., 1998.

[2] A. Andersen, 1998.

Kimiawi vs Alami (1)

Posted in Bukan Sains Murni on April 6, 2011 by isepmalik

Saat ini, kebanyakan orang secara otomatis mengacu pada sesuatu sebagai “alami” atau “kimiawi”, dikotomi ini dipahami secara umum (semuanya kimiawi atau alami) dan eksklusif (sesuatu bukan yang lain kecuali kimiawi dan alami). Tidak perlu mencari ilmuwan yang bertele-tele untuk mengingatkan Anda bahwa semua bahan dan benda alami terdiri dari bahan kimia. Kita berbicara tentang “kimia” dengan pemurnian sederhana terhadap zat “alami” seperti bahan bakar penerbangan. Namun demikian, untuk mengabaikan dikotomi ini perusahaan kimia terkadang mengadopsi pendekatan strategi komunikasi. Hal ini tentu saja untuk melewatkan pesan sosiologis atau psikologis yang sudah begitu mendalam diterima secara luas.

Dikotomi ketika menerjemahkan “alami” dan “kimiawi” sudah menjadi kesan abadi yang ditinggalkan lebih dari satu abad lamanya oleh industri berat kimia dan berbagai cabang yang memproduksi sintetik. Dalam sejarahnya yang pendek, industri kimia telah menghasilkan manfaat dan sekaligus ketakutan daripada sektor lain, kecuali mungkin energi nuklir. Sebagian besar dari kita hidup berada dalam keadaan kontradiksi yang begitu mendalam sehubungan dengan industri ini. Sulit untuk membayangkan hidup nyaman tanpa peralatan rumah tangga, penyegar udara, insektisida, sepatu karet, dan bahan nilon. Dengan gelisah kita mengamati tempat sampah berisikan bahan-bahan yang tahan degradasi, belajar tentang produk berpotensi racun, dan produk yang dapat mencemari tanah dan sistem air tawar, mungkin selamanya akan begitu. Lapisan ozon berlubang dengan perkembangan yang pesat, itu disebabkan chlorofluorocarbons (CFC) yang dihasilkan oleh industri kimia berupa propelan aerosol. Industri kimia juga harus bertanggung jawab untuk membayar segala macam biaya globalisasi.

Sedangkan keharusan untuk memindahkan industri berbahaya atau mahal terjadi begitu lambat seperti bencana di Bhopal, di mana ribuan orang India tewas atau cacat setelah kebocoran instalasi Union Carbide. Entah bagaimana mengatakannya, tetapi sangat tepat jika dikatakan bahwa pabrik kimia merupakan pembawa kematian kepada masyarakat di negara berkembang. Dengan demikian, industri kimia telah meninggalkan luka pada masyarakat yang tampaknya siap untuk mengutuk industri ini, mereka sudah tidak mau mengakui manfaat yang dihasilkan dari sumber yang sama.

Bagaimanapun, jutaan dolar yang dihabiskan setiap tahunnya oleh perusahaan kimia untuk iklan tampaknya tidak dapat menghapus persepsi negatif dengan presentasi mereka yang positif. Mengapa demikian? Karena pada bagian itu industri kimia harus terus bertanggung jawab atas pencemaran lingkungan yang terjadi. Selanjutnya, berkat kapasitas luar biasa ahli kimia untuk menghasilkan produk baru dan kurangnya sumber daya yang tersedia untuk penelitian penentuan potensi bahaya. Apalagi potensi bahaya dari kombinasi zat-zat, selalu ada ancaman baru yang potensial di cakrawala.

Citra Negatif Kimia

Posted in Bukan Sains Murni on April 1, 2011 by isepmalik

Orang mungkin bertanya, mengapa kimia menderita dari citra negatif tertentu? Untuk menambahkan penghinaan ke luka yang dialami meskipun posisinya ternyata lebih progresif, kimia tampaknya tidak menyampaikan ketertarikan yang terkait dengan ilmu-ilmu lainnya. Menonton film Matrix, kita dapat melihat bahwa komputasi yang umumnya tidak dianggap sebagai subjek paling menarik dalam kurikulum modern ternyata memiliki “sisi gelap” cukup mendebarkan yang mencerminkan fakta bahwa komputer dan robot telah menjadi simbol dari potensi manusia untuk mengatasi dan memperbaiki lingkungan hidup, daripada merusaknya. Sementara di tahun 1950-an, fisika atom berada di akar thriller fiksi ilmiah sejak Mary Shelley Frankenstein, kimia tidak terinspirasi euphoria semacam ini.

 

Sebuah sejarah yang panjang terletak di belakang gambaran tertentu yang telah mengembangkan kimia. Hari ini, visi ini berubah seiring munculnya teknologi nano yang telah membuka perspektif baru dalam hal apresiasi publik terhadap kimia. Dalam kesempatan yang lain, saya akan membahas pertanyaan mengapa kimia dirugikan dengan citra negatif dengan memeriksa berbagai pertanyaan filosofis dan bantuan sejumlah refleksi historis. Dengan demikian, saya berharap dapat menguraikan dengan sejelas-jelasnya untuk menanggapi pertanyaan mengapa kimia memiliki citra yang sangat buruk. Analisis ini membutuhkan jalan panjang memutar melalui sejarah dan filosofi kimia yang mencerminkan fakta bahwa citra negatif kimia bukan hasil dari situasi spesifik tertentu pada masa modern tetapi memiliki akar budaya yang mendalam.

 

Gagasan bahwa kimia adalah ilmu murni tidak hanya terhubung dengan isu pencemaran lingkungan. Kimia juga dianggap ‘najis’ karena sifat hibrida, berupa campuran ilmu pengetahuan dan teknologi. Saya akan ‘berperang besar’ mengenai hal-hal berikut: kimia berfungsi sebagai pola dasar ilmu-techno dan tidak mengeksplorasi teori murni yang tinggi, tetapi selalu terlibat dalam praktek produktif. Ketika kembali ke masa lalu dan memperhatikan filsuf seperti Denis Diderot atau Gaston Bachelard, kita dapat melihat gagasan ada dua jenis ilmu pengetahuan—teoritis dan praktis—bukanlah hal baru. Memang, Diderot secara eksplisit menyukai ilmu empiris yang bergantung pada pekerjaan tangan daripada teori murni, tidak terlalu menyukai bangunan sistem teoritis yang terkadang tidak membuahkan hasil yang maksimal. Namun demikian, perjalanan dua abad terakhir seiring dengan bangkitnya fisika modern telah mempromosikan teori murni sebagai bentuk lain dari ilmu pengetahuan, sehingga wajar untuk menggambarkan ilmu selain itu (fisika) pada tingkat ‘najis’ jika tidak dikatakan menurun. Tentu saja ironis, mengingat kimia sebagai ilmu yang tidak murni tetapi faktanya salah satu tujuan utama kimia—jika bukan obsesi utama—ialah untuk memurnikan zat.

Filosofi Kimia

Posted in Bukan Sains Murni on Maret 30, 2011 by isepmalik

Gambaran permasalahan tidak terbatas pada industri kimia, tetapi juga memengaruhi disiplin akademis kimia. Status kimia yang dianggap disiplin ilmu “rendah” sudah setua kehadirannya itu sendiri. Bahkan, saat pertama kali menempatkan dirinya sebagai disiplin ilmiah independen pada abad kedelapan belas, kimia dianggap memiliki tingkat intelektual rendah dibandingkan matematika dan fisika.[1] Kimia terus dianggap sebagai ilmu kotor yang berantakan. Berbeda dengan tetangganya bernama fisika yang terkualifikasi sebagai ilmu murni. Pada abad kedua puluh fisika sudah mapan dibandingkan disiplin ilmu yang lain, sebagaimana dikatakan Rutherford: “Hanya ada fisika, sisanya hanya mengumpulkan stempel”. Beberapa kali, ahli kimia telah menyaksikan bagaimana fisika memperoleh kedudukan yang tinggi di banyak universitas dan lembaga penelitian.

 

Tetapi dengan berakhirnya perang dingin mengakhiri banyak proyek ambisius yang berbasiskan fisika seperti inisiatif “Star Wars” oleh Ronald Reagan. Akibatnya, mahasiswa yang mendaftar studi fisika mengalami penurunan di banyak kampus Amerika masalah minimnya pendanaan. Tidak diragukan lagi, kemunduran simbolik yang paling signifikan bagi fisika modern adalah penolakan Kongres Amerika untuk mendanai superkonduktor Super Collider pada tahun 1993. Tentu saja, seseorang tidak perlu menjadi pengamat cerdik yang berkomentar bahwa bukan kimia yang memimpin setelah era fisika sebagai ilmu ‘panas’ pada akhir abad kedua puluh, tetapi biologi dan lebih spesifik lagi adalah genetika. Memang, kimia tidak pernah dianggap prestise besar dalam konteks universitas dan apakah layak atau tidak, sejarah memang mengabaikan kimia.

 

Meskipun perubahan hierarki akademik ilmu-ilmu modern diukur dari segi pendanaan dan gaji, bagi banyak orang teori fisika tetap di bagian atas. Hal ini terutama berlaku bagi para filsuf yang mengutamakan kepentingan ilmu pengetahuan adalah mencari kunci untuk memecahkan pertanyaan filosofis “besar” yang telah mendominasi sejarah filsafat Barat. Apakah sifat utama dari kosmos? Dari mana kita berasal? Bagaimana cara kerja alam semesta? Dari perspektif ini, kimia memegang peranan kecil bagi para filsuf.

 

Sebuah tujuan utama dari penjelasan ini adalah untuk mencoba dan mengubah perspektif filosofis tersebut. Saya akan membuat sebuah argumen filosofis yang kuat untuk kepentingan kimia berdasarkan pada kenyataan bahwa itu adalah “bukan sains murni”; ilmu pengetahuan yang sudah bercampur dengan aplikasi teknologi, menghindar dari teori tingkat tinggi, dan tidak memiliki konsistensi untuk meraih nilai tertinggi. Filsuf terlalu sering merendahkan karena mereka menganggap metode dan prestasi kimia dari sudut pandang standar dan nilai-nilai fisika. Saya berpendapat bahwa melihat lebih dekat pada pendekatan praktis para ahli kimia lebih menarik secara filosofis daripada menerapkan dogma filosofis yang dikaitkan dengan sebuah visi reduktif.

 

Saya bukan orang pertama yang mengadopsi pendekatan seperti ini. Dalam hal ini, karya-karya lain dalam filsafat kimia telah menginspirasi terutama Davis Baird, Eric Scerri, Joachim Schummer dan Jap van Brakel.[2] Meskipun dalam beberapa hal saya tidak setuju dengan penulis-penulis tersebut, tetapi tetap berdebat dalam arti yang sama, berharap untuk mendirikan sebuah filosofi independen kimia. Tujuan utama saya adalah untuk menantang hegemoni konsepsi positivis tertentu dari filsafat ilmu seperti yang diajarkan di departemen filsafat di seluruh dunia.


[1] J. Simon (2005) dan A. Donovan (1993).

[2] D. Baird et al. (2006), J. Schummer (2003), J. van Brakel (2000).