Archive for the Materi dan Sebab Material Category

Materi dan Sebab Material (2)

Posted in Materi dan Sebab Material with tags , , , , on Maret 25, 2012 by isepmalik

Cara lain untuk menjelaskan perbedaan antara materi dan bentuk dengan menyatakan bahwa bentuk memiliki daya aktif sedangkan materi hanya memiliki daya pasif.

Daya aktif (quwwah) adalah daya yang ada pada agen sehingga tindakan (shayad) menjadi subjek utama darinya, seperti panas [subjek utama] dari api.  Dan daya pasif adalah suatu daya di mana penerimanya menerima sesuatu dari yang lain, seperti lilin yang menerima bentuk. Segala sesuatu yang benar-benar eksis (hasil bud) dikatakan aktual.[1]

Dengan kata lain, bentuk dan materi memiliki daya tertentu. Sementara bentuk memiliki daya aktif, materi hanya memiliki daya penerimaan; yang berarti menerima tetapi tidak secara aktif berpartisipasi di dalamnya. Peran materi adalah untuk menanggung bentuk. Dalam al-Najat, daya aktif dan pasif/ potensialitas (quwwah) dijelaskan secara detail. Ibn Sina menyebutkan dan menguraikan makna yang berbeda dari quwwah:

Ia adalah prinsip perubahan dan merupakan daya pasif/ potensialitas (quwwah infi’aliyyah); tetapi ketika berada dalam agen, ia merupakan daya aktif/ potensialitas (quwwah fi’liyyah). Dikatakan potensialitas karena sesuatu dapat bertindak atau bertindak atasnya dan sesuatu itu dapat menjadikan kepada yang lain. Di dalam materi-utama terdapat potensialitas untuk semuanya, tetapi perantara sesuatu mengesampingkan sesuatu [yang lain]. Sesuatu mungkin memiliki potensi pasif berkaitan dengan [penerimaan] pertentangan dalam dirinya. Misalnya, lilin memiliki potensi menjadi panas atau dingin.[2]

Bagian ini membuktikan hubungan antara bentuk dan daya aktif di satu sisi, serta materi dan daya pasif di sisi lainnya. Masing-masing dua daya ini adalah prinsip perubahan dalam kompleksitas. Oleh karena itu, kombinasi dari bentuk dan materi atau daya aktif dan pasif berasal dari perubahan. Pembahasan untuk materi-utama patut mendapat perhatian. Materi-utama memiliki potensi untuk menjadikan segala sesuatu. Kita akan melihat bahwa materi adalah potensi murni. Namun, ia memiliki daya ini tidak dengan sendirinya tetapi memiliki sesuatu yang lain, yaitu bentuk. Bentuk dalam suatu substansi tertentu dapat menyebabkan bentuk lain atau dapat pula mencegah terjadinya bentuk lain. Misalnya, meskipun prinsipnya kayu bakar akan mengambil bentuk api, tetapi bentuk air akan mencegah kejadian ini (pembakaran). Pergantian bentuk yang demikian ditentukan oleh bentuk-bentuknya, bukan oleh materinya; asumsi yang benar bahwa materi bertindak melalui bentuk. Pada sisi lain, hubungan antara materi, kemungkinan, dan non-eksistensi menjadi lebih eksplisit. Ibn Sina menyatakan bahwa ketika sesuatu adalah mungkin tetapi belum eksis, kemungkinan eksistensinya disebut potensi (quwwah).[3]

Sebelum terjadi, eksistensi sesuatu itu mungkin. Potensi adalah kemungkinan eksisnya sesuatu di dunia dalam beberapa titik waktu. Setiap substansi yang fana berada dalam potensi sebelum ia eksis. Sesuatu yang tidak eksis tetapi mungkin untuk mengada disebut potensi, atau kemungkinan untuk menjadi nyata, tetapi berbeda dari kemungkinan saja. Sesuatu yang mungkin tidak selalu menjadi eksistensi. Selain itu, potensi adalah sesuatu yang berada dalam dirinya sendiri, sebagai lawan dari ketidakmungkinan atau ketidakeksisan/ kekurangan.[4] Materi terdiri dari potensi atau kemungkinan real dari setiap substansi material tertentu.[5]

Pada makhluk yang fana, materi sama dengan potensialitas. Bagi Ibn Sina, semua mahluk selain Tuhan memiliki potensi dalam dirinya, karena ia memiliki beberapa bentuk materi. Jadi, kemungkinan secara logis dipahami karena menyatu dengan potensi real dari materi.

Meskipun materi memberikan kontribusi terhadap senyawa, tetapi ia bukan daya aktif yang dapat bertindak secara independen: “Jika seseorang mengatakan bahwa kemungkinan (shayad) [sama dengan] kekuatan suatu agen, maka orang tersebut keliru.”[6]

Materi bukanlah daya aktif karena ia bukan prinsip terhadap kemunculan semuanya—pernyataan ini secara eksplisit ditekankan Ibn Sina:

Anda tidak harus mengambil elemen (al-‘unsur) yang merupakan bagian reseptif [senyawa] sebagai prinsip bentuk. Elemen hanya menerima prinsip oleh aksiden, karena dalam aktualitasnya ia pertama kali ditentukan oleh bentuk, sedangkan esensinya ditentukan dirinya sendiri dalam potensi; dan yang ada dalam potensi adalah potensinya yang bukan prinsip untuk keseluruhan. Memang hanya suatu prinsip yang ditentukan oleh aksiden, karena aksiden itu membutuhkan subjek untuk menjadikan sesuatu aktual sebelum menjadi penyebab dari subsistensi subjek (qiwam).[7]

Kita melihat bahwa senyawa materi adalah kombinasi dari materi dan bentuk, di mana yang terakhir merupakan prinsip aktif. Akibatnya, bentuk adalah prinsip materi dengan cara mengaktualisasikannya, sedangkan materi bukanlah suatu prinsip bentuk. Materi, sebagai bagian dari senyawa tersebut adalah prinsip senyawa tetapi tidak secara langsung menjadi prinsip bentuk. Dalam senyawa tersebut tidak dapat dihilangkan bentuk atau materinya, dan di dalamnya materi dan bentuk berdampingan. Bahkan, Ibn Sina berulang-ulang dalam tulisannya menyatakan bahwa bentuk tidak eksis secara independen dari materi.[8] Bentuk tidak dengan sendirinya bergabung kepada materi, akan tetapi hal ini terjadi karena adanya entitas ketiga.

Apa artinya bahwa materi (elemen reseptif) hanya sebagai prinsip aksiden? Ia bukan suatu prinsip yang ditentukan dirinya sendiri, tetapi hanya menjadi prinsip senyawa ketika subjek diaktulisasikan oleh bentuk. Ia menjadi prinsip ketika melalui bentuk. Alasannya bukan terletak pada prinsip sebagai potensi. Sesuatu yang potensial membutuhkan sesuatu yang dapat mengaktualkannya. Definisi materi sebagai potensi menyiratkan bahwa ia tidak dapat memunculkan substansi atau peristiwa. Selain itu, materi tidak eksis jika diisolasi dari bentuk:

Materi tidak dapat dipisahkan dari bentuk dan tidak dapat mengaktual kecuali jika bentuk melekat padanya. Oleh karena itu, ia eksis dalam aktualitas melalui bentuk. Jika bentuk meninggalkannya, bentuk lain tidak dapat menggantikan bentuk [sebelumnya] dan mengambil tempatnya meskipun pada bagian materi kompleks.[9]

Generasi (bentuk umum materi) dari substansi terjadi ketika suatu bentuk bersatu dengan materi. Selanjutnya, kerusakan terjadi ketika materi dan bentuk terdisosiasi karena bentuk meninggalkan materi. Eksistensi materi ditopang oleh bentuk, kerusakan atau kebinasaan terjadi saat kepergian bentuk. Materi tidak eksis oleh dirinya sendiri ketika dipisahkan dari potensi dan entitas non-eksistensi. Meskipun terdapat saling ketergantungan antara bentuk dan materi, keunggulan bentuk selalu ditekankan oleh Ibn Sina.

Salah satu cara Ibn Sina untuk memperkuat gagasan bahwa materi “mengabdi” kepada bentuk adalah dengan mengklaim bahwa materi bukan subjek.

Ada perbedaan antara wadah (al-mahall) dan subjek (mawdu’). “Subjek” mengerti terhadap apa yang menjadi subsisten dengan sendirinya dan spesinya. Kemudian ia menjadi penyebab sesuatu yang bukan bagian darinya yang muncul melaluinya. [Dengan] wadah tersebut dapat [dipahami] sesuatu yang melekat atasnya sehingga dapat diperoleh keadaan tertentu yang melaluinya itu.[10]


[1] Ibn Sina, Ilahiyyat, hal: 61-62. Le Livre de Science, Metaphysique, hal: 175.

[2] Ibn Sina, Al-Najat, hal: 250. Istilah quwwah dalam bahasa Arab memiliki banyak arti (polisemi). Dalam konteks ilmu alam (fisika) biasanya diterjemahkan sebagai potensialitas atau potensi, tetapi dapat berarti sebagai daya, sebagaimana dalam pembahasan ini. Dalam domain psikologi biasa diterjemahkan sebagai “bakat”.

[3] Ibn Sina, Danishnamah, hal: 62. Le Livre de Science, Metaphysique, hal: 175.

[4] Perbedaan antara kemungkinan dan potensialitas secara ekspliti diuraikan Ibn Sina dalam tulisan-tulisannya mengenai logika. Lihat: Al-Syifa, Al-Mantiq, Al-Ibarah, hal: 118. Secara umum, mungkin adalah untuk mengafirmasi yang bukan tidak mungkin. Secara spesifik, mungkin bukan keperluan terhadap sesuatu dan juga menunjukkan terhadap sesuatu yang tidak terjadi atau bukan keperluan sesuatu di masa depannya. Dengan demikian, mungkin merupakan suatu bentuk potensial (quwwah) yang dapat terjadi atau tidak terjadi.

[5] Ibn Sina, Ilahiyyat, hal: 62-63. Le Livre de Science, Metaphysique, hal 176. Lihat juga: Goichon, Distinction, hal: 193. Goichon menjelaskan dengan menarik kesejajaran antara logika dan ontologi dalam karya Ibn Sina.

[6] Ibn Sina, Ilahiyyat, hal: 63. Le Livre de Science, Metaphysique, hal: 176.

[7] Ibn Sina, al-Syifa, al-Ilahiyyat, hal: 258.

[8] Isyarat ini menunjukkan kesalingtergantungan antara bentuk dan materi dalam suatu substansi: “Materi eksis dengan bentuk; jika salah satunya dihilangkan, maka yang lainnya akan hilang pula; jika salah satunya memiliki kekurangan, maka yang lainnya pun akan begitu, dan non-eksistensi yang satu menjadi sebab bagi non-eksistensi yang lainnya”, al-Najat, hal: 258. Ibn Sina memperlihatkan bahwa bentuk bukan eksistensi independen yang berhubungan dengan teori Platonik mengenai bentuk. Lihat: al-Syifa, al-Ilahiyyat, hal: 317-324.

[9] Ibn Sina, al-Sama’i al-Thabi’i, hal: 14.

[10] Ibn Sina, al-Syifa, al-Ilahiyyat, hal: 59. Lihat juga: Stone, “Simplicius and Avicenna on the Essential Corporeity of Material Substance”, dalam Aspects of Avicenna (wd. Wisnovsky), hal: 78.

Iklan

Materi dan Sebab Material (1)

Posted in Aristoteles, Materi dan Sebab Material with tags , , on Februari 22, 2012 by isepmalik

Karakteristik dari materi adalah potensialitas dan pasif, dalam arti bahwa ia tidak aktif dan malah dikenai aksi: “[kategori dari] menjadi untuk materi (al-infi’al li al-madda).”[1] Dari dua kategori Aristotelian, yaitu bertindak dan ditindaklanjuti, materi mewakili yang terakhir. Selain itu, gagasan bahwa materi bukan berasal dari dirinya sendiri atau terputus dari bentuk, sejalan dengan gagasan: “materi qua materi adalah penghilangan bentuk… jika hyle (hayula, materi awal) dapat dipahami, kemungkinan ia dapat dipahami dengannya.”[2] Sebagaimana akan terlihat, Ibn Sina menyamakannya dengan non-eksistensi atau keberadaan yang tidak aktual. Oleh karena itu, karena materi berasosiasi dengan kemungkinan dan potensialitas yang berdekatan dengan non-eksistensi: “Tidak benar bahwa potensi (quwwa) adalah suatu hal yang aktif/ efisien atau eksistensi aktif/ efisien. Potensialitas adalah non-eksistensialitas (‘adamiyya), sedangkan tindakan (fi’il) adalah eksistensialitas (wujudiyya).”[3] Oleh karena materi merupakan potensi, ia berhubungan dengan non-eksistensi. Dalam kualitas wujud potensial (bukan efisien), ia adalah berupa murni penerimaan: “Semua yang berwujud materi adalah penerimaan (qabul).”[4] Istilah ‘mungkin’ dan ‘potensi’ sering dipertukarkan Ibn Sina, tetapi ‘yang berpotensi’ lebih dekat pada eksistensi daripada ‘yang mungkin’. Sesuatu ‘yang berpotensi’ secara prinsip dapat menjadi eksistensi, sementara ‘yang mungkin’ tidak terikat seperti itu.

Karena itu, materi tidak eksis dengan sendirinya, tetapi melalui prinsip aktif. Prinsip tersebut adalah bentuk. “Tidak ada sebab material, jika tidak ada bentuk yang merupakan penyebabnya, yaitu sesuatu yang eksis dalam cara tertentu. Hyle (hayula, materi pertama) hanya ada jika berhubungan dengan bentuk, sehingga jika bentuk tidak eksis maka tidak ada yang dapat digambarkan sebagai sesuatu yang memiliki hyle.”[5]

Materi tidak memiliki penyebab dalam dirinya sendiri, tetapi hanya melalui bentuk atau penyebab formal. Seperti telah disebutkan sebelumnya, penyebab dapat dipahami dalam dua cara, yaitu sebagai sesuatu yang efektif dan produktif atau hanya sebagai penjelasan.[6] Materi tidak menjadi prinsip aktif, terutama dalam arti penjelasan. Bahkan, jika diperlukan untuk menghasilkan substansi primer, ia tidak aktif menghasilkan substansi tersebut.

Maka materi merupakan bagian konstitutif dari setiap substansi fisik tertentu; ia menjadi konstituen pasif, sementara bentuk adalah konstituen aktif:

Jika penyebab dari sesuatu adalah bagian dari komposisinya dan bagian dari eksistensinya itu merupakan salah satu bagian dari eksistensinya saja, maka tidak berarti bahwa ia kenyataannya demikian, tetapi ia hanya berupa potensi yang disebut hyle (hayula, materi pertama), atau ia adalah bagian yang eksistensinya menjadi kenyataan yang disebut bentuk.[7]

Pada bagian ini, Ibn Sina memperkenalkan konsep materi sebagai bagian dari substansi primer. Substansi primer dalam istilah Aristoteles adalah eksisten tunggal, misalnya “orang ini”, sedangkan substansi sekunder adalah bentuknya atau definisi manusianya, ide tentang “manusia”, atau manusia keseluruhan.[8] Materi, seperti bentuk, merupakan bagian integral dari substansi yang menjadi penyebabnya. Keduanya disebut penyebab imanen atau terdekat, bukan penyebab efisien atau final yang bersifat eksternal terhadap akibat keduanya. Sebagai contoh, sebuah meja kayu tidak eksis tanpa materi berupa kayu dan bentuk (bentuk atau definisi) yang menyertainya. Meja akan tetap demikian meskipun tidak ada tukang kayu sebagai penyebab efisien. Juga, meja akan tetap demikian meskipun tidak ada yang menggunakan dan tidak memenuhi fungsinya.

Materi menurut penjelasan di atas merupakan potensialitas dan penerimaan dari substansi material. Ibn Sina di sini mengatakan bahwa meskipun materi dianggap kompleks, tetapi tidak berarti eksistensinya aktual, ia hanya memiliki potensi. Materi tidak dapat dianggap berkontribusi terhadap eksistensi. Sebaliknya, bentuk adalah kondisi yang diperlukan bagi eksistensi materi tersebut.

“Setiap elemen (‘unsur) dan qua (dalam kapasitas atau fungsi dari) elemen hanya memiliki penerimaan (qabul). Adapun untuk mencapai bentuk, elemen memperoleh dari luar dirinya.”[9]

Elemen (‘unsur) adalah nama lain dari materi yang paralel dengan madda dan hayula.[10] Selain  itu, Ibn Sina memberitahu bahwa bentuk bukan merupakan bagian dari materi tetapi ‘disatukan untuknya’. Nanti kita akan melihat bahwa entitas bentuk adalah dilekatkan pada materi. Bentuk dan materi merupakan substansi individual, yaitu senyawa material.

Disebutkan dalam fisika al-Syifa gagasan dari sifat penerimaan dari materi: “Materi tidak berhasil (yufidu) mengaktualitaskan sesuatu, melainkan memberikan kontribusi kepada potensi eksistensi sesuatu itu. Selanjutnya, bentuk adalah yang mengubah sesuatu menjadi aktual.[11]

Tidak seperti materi, bentuk meminjamkan aktualitas dan menjadikan sesuatu eksis. Hubungan eksistensi dan aktualitas sejalan dengan gagasan bahwa tidak ada yang benar-benar eksis dalam potensinya, seperti: “Tidak ada potensialitas dari setiap aspek (min kull jiha), maka tidak ada esensi dalam aktualitas. Suatu bagian [tertentu] yang memiliki potensi [tentu] menjadi aktual.[12] Penjelasan ini memuat dua hal penting. Pertama, potensi tidak sepenuhnya mengaktual. Kedua,—menurut prinsip keberlimpahan Aristotelian—potensi ketika mencapai titik tertentu (bentuk) akan menjadi aktual.[13] Hal ini berarti, materi tidak pernah eksis dengan sendirinya. Ia (materi) hanya eksis melalui bentuk. “Materi adalah sesuatu (ma’na) yang mendukung terhadap dirinya tetapi tidak eksis dalam aktualitas. Ia hanya eksis dalam aktualitas melalui bentuk.”[14] Dengan demikian, jenis materi yang tanpa bentuk (materi utama) adalah abstraksi belaka atau hanya teoritis belaka.


[1] Ibn Sina, Al-Mubahathat, hal: 94 dan 185. Pandangan ini sesuai dengan filosofi Aristotelian: Ibn Sina dan Ibn Rusyd menurunkan eksistensi “materi pertama” dari transmutasi empat elemen dan keduanya menegaskan bahwa “potensialitas” merupakan karakteristik yang utama (Hyman, Aristotle: “First Matter” dan Avicenna’s and Averroes: “Corporeal Form” dalam Essay in medieval Jewish and Islamic Philosophy, hal: 345.

[2] Ibn Sina, Al-Mubahathat, hal: 276 dan 794. Hyle (hayula) biasanya diartikan materi utama, yaitu jenis materi yang tidak memiliki bentuk dan bentuk dihilangkan darinya. Lihat: Goichon, Lexique, hal: 413.

[3] Ibn Sina, Al-Mubahathat, hal: 216 dan 640.

[4] Ibid, hal: 92 dan 170. Lihat: Goichon, Distinction, hal: 423; Ibn Sina, al-Najat, hal: 240.

[5] Ibn Sina, Al-Mubahathat, hal: 296 dan 831.

[6] Lihat: Kogan, Averroes and the Metaphysics of Causation, hal: 4.

[7] Ibn Sina, al-Syifa, al-Ilahiyyat, hal: 258.

[8] Aristotle, Categories, 2a11-2a19.

[9] Ibn Sina, al-Syifa, al-Ilahiyyat, hal: 281.

[10] Lihat: Kennedy-Day, Books of Definition in Islamic Philosophy, hal: 55-59.

[11] Ibn Sina, al-Sama’i al-Tabi’i, hal: 36. (Al-Yasin, hal: 103).

[12] Ibid, hal: 81. (Al-Yasin, hal: 131).

[13] Goodman menyebutkan “tesis Aristoteles bahwa tidak ada kemungkinan yang belum direalisasikan”, dalam Essay in medieval Jewish and Islamic Philosophy, hal: 148.

[14] Ibn Sina, Al-Ta’liqat, hal: 39. Lihat: Hyman, Aristotle: “First Matter”, hal: 347 dan 356; Kennedy-Day, Books of Definition in Islamic Philosophy, hal: 105-106.