Archive for the Sirr al-Asrar Category

Penutup

Posted in Fasal 24 with tags , , , , , on Mei 12, 2012 by isepmalik

Seseorang yang belajar suluk harus mampu menggunakan daya pikir (fatin) dan menggunakan pandangan batin (basyir). Syair:

“Sesungguhnya Allah mempunyai hamba-hamba yang menggunakan daya pikir mereka, menjauhkan diri dari tertipu dunia dan menakuti cobaan-cobaan. Mereka menjadikan dunia sebagai jembatan dan menjadikan amal saleh sebagai bahtera; melihat kepada ujung segala perkara dan selalu memikirkan akibatnya. Mereka tidak tertipu dengan manisnya tingkah lahiriyah”.

Ahli tasawuf berkata: “Orang-orang yang sedang belajar suluk terkadang lupa terhadap yang merubahnya”. Firman Allah: “Tiada yang mereka aman dari makar/ azab Allah, kecuali orang-orang yang merugi” (QS. Al-A’raf: 99).

Di dalam Hadits Qudsi Allah berfirman kepada Nabi Muhammad saw:

“Wahai Muhammad, sampaikanlah khabar gembira kepada orang yang berdosa karena Aku mengampuninya. Aku Maha Pengampun dan berikanlah peringatan kepada orang-orang yang benar bahwa Aku sangat waspada”.

Sesungguhnya karamah para wali adalah benar; segala tingkah laku para wali adalah benar, tapi mereka tidak akan lepas dari makar kepada Allah dan istidraj. Lain halnya dengan mukjizat para nabi karena mukjizat Nabi aman dari semua itu selamanya, sehingga dikatakan: “Takut su’ul khatimah adalah penyebab selama dari su’ul khatimah”. Sayyid Hasan Al-Basri berkata: “Aulia Allah Ta’ala diangkat pada darajat surga Illiyyin karena rasa takutnya. Rasa takutnya lebih tinggi dari harapannya, agar tidak terjatuh oleh sifat basyariyah dan tidak terputus perjalanannya akibat tidak mewaspadainya”.

Sebagian para ulama berkata:

“Kalau manusia dalam keadaan sehat, maka rasa takutnya harus lebih besar daripada pengharapannya; dan bilamana sakit, harapannya harus lebih besar dari rasa takutnya”.

Sabda Nabi saw:

“Jika ditimbang rasa takut dan pengharapan seorang mukmin dua-duanya akan seimbang, tetapi bila sedang dicabut rahmat, maka pengharapannya ada di atas limpahan Allah”.

Dan berpikirlah dengan firman Allah:

“Rahmat-Ku meliputi segala sesuatu” (QS. Al-A;raf: 156).

Dan firman-Nya lagi:

“Rahmat-Ku mendahului kemurkaan-Ku, sesungguhnya Allah Maha Pengasih”.

Wajib bagi seorang salik berpindah dari sifat Al-Qahru (memaksa) kepada kasih sayang Allah. Dan berpindah dari Allah menuju kepada Allah dengan selalu merasa rendah, hina, memohon ampunan dan mengakui segala dosa-dosanya. Orang seperti ini akan mencapai limpahan fadhilah Allah, kasih sayang dan rahmat-Nya terhadap segala dosanya. Sesungguhnya Allah Maha Pengurus dan Maha Penyayang, Maha Pemberi dan Maha Mulia. Allah Maha Raja, Yang merajai Yang Agung. Rahmat dan salam semoga dilimpahkan kepada Nabi Muhammad saw dan seluruh keluarganya. Sahabatnya seluruhnya. Segala puji bagi Allah yang Mengurus seluruh alam. Amiin.

Iklan

Ahli Tasawuf

Posted in Fasal 23 with tags , , , , , on Mei 10, 2012 by isepmalik

Ahli tasawuf ada 12 golongan. Golongan pertama Suniyyun. Mereka adalah orang yang kata dan perbuatan sesuai dengan syariat dan tariqat secara menyeluruh. Mereka adalah Ahli Sunnah wal Jamaah. Sebagian masuk surga tanpa hisab dan tanpa siksa sama sekali. Sebagian lagi masuk surga dengan hisab yang ringan dan mendapat sedikit siksa; masuk neraka Jahanam, dikeluarkan, lalu masuk surga; mereka tidak abadi dalam neraka seperti abadinya orang kafir, dan orang munafik. Yang sebelas lagi mereka adalah termasuk ahli bid’ah, yaitu: 1. Halawiyyah, 2. Haliyyah, 3. Auliyaiyyah, 4. Tsamaraniyah, 5. Hubbiyyah, 6. Huriyyah, 7. Ibdahiyyah, 8. Mutakasilah, 9. Mutajahilah, 10. Wafiqiyah, dan 11. Ilhamiyyah.

Golongan Halawiyyah berpandangan bahwa melihat tubuh wanita cantik dan laki-laki yang tampan itu halal. Mereka berpendapat bahwa menari, memeluk dan mencium adalah mubah (dibolehkan) oleh agama. Golongan ini jelas kufur.

Galongan Haliyyah adalah mereka yang beranggapan bahwa menari dan bertepuk tangan adalah halal. Syeikhnya disebut “Haalah”, artinya orang yang sudah diatur oleh syara; dan ini adalah salah satu bid’ah yang tidak ada dalam sunnah Rasulullah saw.

Adapun golongan Auliyaiyyah adalah mereka yang beranggapan bahwa seorang hamba jika sudah sampai ke peringkat kewalian maka hilanglah darinya tuntutan-tuntutan syara dan mereka beranggapan bahwa Ali lebih unggul dari Nabi karena ilmu Nabi melalui perantaraan Malaikat Jibril, sedangkan ilmu Wali tanpa perantaraan. Ini pun ta’wil yang salah. Mereka rusak karena beritikad seperti itu dan termasuk kepada kekufuran.

Adapun golongan Tsamaraniyyah adalah mereka yang beranggapan bahwa kebersamaan itu sifatnya qadim, sehingga mereka menggugurkan tuntutan “amar” (suruhan) dan “nahi” (larangan), serta menghalalakan tabuhan-tabuhan juga mereka menganggap halal di antara mereka di kalangan orang wanita. Mereka pun termasuk kufur. Darahnya halal.

Golongan Hubbiyah adalah mereka yang beranggapan bahwa bila seorang hamba telah mencapai derajah mahabbah, maka dia lepas dari aturan syariat dan tidak menutup aurat.

Golongan Huriyyah sama dengan Haliyyah, tetapi mereka ada lebihnya, yaitu mengaku bahwa orang di kelas mereka suka bersetubuh dengan bidadari; dan bila mereka sadar, mereka mandi. Ini pun golongan yang bohong dan rusak.

Golongan Ibahiyyah adalah golongan yang meninggalkan amar ma’ruf nabi munkar, menghalalkan yang haram dan membolehkan bergaul dengan wanita (bergaul tanpa nikah).

Golongan Mutakasilah adalah mereka yang malas tidak mau berusaha, pekerjaannya meminta-minta dan mengaku bahwa mereka sudah meninggalkan dunia (pada lahirnya, padahal mereka mengejar-ngejar dunia batinnya). Mereka pun termasuk kenyataannya golongan yang hancur.

Golongan Mutajahilah adalah mereka yang sengaja memakai pakaian orang-orang fasiq. Allah berfirman:

“Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zalim yang menyebabkan kamu disentuh api neraka” (QS. Al-Hud: 113).

Sabda Nabi saw:

“Orang yang meniru-niru suatu kaum, maka ia termasuk ke dalam kaum tersebut”.

Golongan Wafiqiyyah adalah mereka yang beranggapan bahwa tidak ada yang tahu kepada Allah, kecuali Allah, sehingga mereka meninggalkan upaya mencari ma’rifat. Mereka pun hancur karena bodoh.

Golongan Ilhamiyyah adalah mereka yang meninggalkan ilmu, bahkan melarang belajar. Mereka mengikuti para hukama; dan mengatakan bahwa Al-Quran adalah penghalang, sedangkan syair-syair adalah Qurannya ahli tariqah, sehingga mereka meninggalkan Al-Quran dan mempelajari syair; mengajarkan syair-syair kepada anak-anak mereka dan meninggalkan aurad. Mereka pun termasuk golongan yang hancur. Dalam batinnya terdapat kebatilan.

Ahlus Sunnah wal Jamaah berkata: “Sahabat ra adalah ahli Jazbah (ahli tarikan batin) karena kekuatannya menemani Nabi. Tarikan batin tersebut menyebar kepada syeikh-syeikh tariqat dan bercabang lagi pada silsilah yang banyak sehingga semakin melemah dan terputus pada kebanyakan umat yang tinggal adalah orang-orang yang meniru-niru sebagai Syeikh tanpa makna kedalaman dan tersebarlah kepada ahli-ahli bid’ah, sehingga menjadi beberapa cabang, di antaranya adalah Qalandariyyah, Haidariyah, Adham, dan masih banyak lagi yang lainnya. Adapun ahli Fiqih (ahli ilmu) dan Irsyad (tariqat yang benar) pada zaman ini sangat sedikit”.

Bagaimana cara menentukan tasawuf yang benar? Caranya dengan dua macam: 1. Lahiriyahnya dan 2. Batinnya.

Lahiriyahnya memegang teguh pada aturan syariat dalam perintah maupun larangan. Batinnya mengikuti jalur suluk dengan pandangan hati yang jelas bahwa yang diikuti adalah Nabi saw dan Nabi merupakan perantara antara dia dengan Allah. Dan antara dia dengan Nabi adalah ruh ruhani Nabi Muhammad saw yang mempunyai jismani pada tempatnya dan ruhani pada tempatnya, sebab syaitan tidak akan menjelma menjadi Nabi dan itu merupakan isyarat pada orang-orang salikin agar perjalanan mereka tidak dalam keadaan buta. Pada fasal ini terdapat tanda-tanda yang sangat halus untuk membedakan nama golongan yang benar dan salah yang tidak dapat ditemukan kecuali oleh ahlinya.

Ketika Tidur dan Mengantuk

Posted in Fasal 22 with tags , , , , , on Mei 9, 2012 by isepmalik

Hal-hal yang terjadi ketika tidur dan ngantuk adalah hal yang berfaedah. Firman Allah dalam surah Al-Fath ayat 27:

“Sesungguhnya Allah akan membuktikan kepada Rasulnya tentang kebenaran mimpinya dengan sebenarnya (yaitu) bahwa sesungguhnya kamu pasti akan memasuki Masjid Haram. Insya Allah dalam keadaan aman”

Allah berfirman atas lisan Nabi Yusuf as:

“Sesungguhnya aku melihat sebelas bintang” (QS. Yusuf: 4).

Nabi saw bersabda:

“Setelah aku tidak ada lagi kenabian kecuali khabar-khabar gembira yang dilihat dalam mimpin oleh seorang mukmin atau ia diperlihatkan kepadanya”.

Firman Allah:

“Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan (dalam kehidupan) di akhirat” (QS. Yunus: 64).

Sabda Nabi saw:

“Orang yang bermimpin melihat aku, berarti ia benar-benar melihat aku, sebab syaitan tidak akan menyerupai seperti aku”.

Dan menjadi orang-orang yang mengikutiku (mengikuti nabi) dengan cahaya syariat, tariqat, ma’rifat dan hakikat serta pandangan hati (basyirah). Allah berfirman:

“Aku dan orang-orang yang mengikuti-Ku mengajak (kamu) kepada Allah dengan basyirah” (QS. Yusuf: 108).

Syaitan tidak akan mampu menjelma menjadi semua cahaya-cahaya seperti ini, sebagaimana yang dikatakan oleh penyusun Kitab Al-Munzhir: “Syaitan tidak mampu menjelma bukan hanya pada Nabi saw saja, tetapi juga pada setiap saluran hikmat, kasih sayang dan hidayah, seperti para Nabi; para wali, Malaikat, Ka’bah, matahari, bulan, awan putih dan sebagainya, sebab syaitan adalah penyaliran sifat Al-Qahru (Yang Memaksa); ia tidak akan menjelma kecuali pada bentuk nama-nama yang menyesatkan. Orang yang berada pada penjelmaan nama-nama Al-Hadi (Pemberi Petunjuk) tidak akan dapat menjelma dalam penjelmaan Al-Mudhil, karena sesuatu yang berlawanan tidak akan muncul pada lawannya, seperti api dengan air. Api tidak akan beralih rupa menjadi air. Begitu pula sebaliknya, air tidak akan beralih rupa menjadi api, sebab antara air dan api terdapat perbedaan zat yang saling bertolak belakang. Dan Allah membedakan antara Hak dan Batil, antara benar dan salah, sebagaimana firman Allah dalam surah Ar-Ra’d ayat 17:

“Demikianlah Allah memberi perumpamaan (bagi) yang benar dan yang batil”.

Adapun penjelmaan syaitan dengan rupa ketuhanan dan pengakuan ketuhanan, hal itu dapat terjadi karena sifat Allah adalah: Jalal dan Jamal (Agung dan Indah).

Syaitan dapat menjelma dengan sifat Jalal, karena sifat Jalal adalah penjelmaan dari nama Al-Qahru. Dan lahirnya penjelmaan ketuhanan dan pengakuan ketuhanan adalah bersumber dari nama Al-Mudhillu saja. Syaitan menjelma dengan rupa ketuhanan bersumber dari Al-Mudhil saja. Ia tidak akan mampu menjelma dengan penjelmaan nama yang terpadu, karena nama yang terpadu bersumber dari petunjuk.

Dalam hal ini para ahli tariqat mempunyai pembahasan yang sangat luas. Firman Allah: “Dengan penglihatan hati (basyirah) aku dan orang-orang yang mengikutiku (setelahku)”, menunjukkan kepada Mursyid Pewaris Sempurna, yaitu Al-Irsyad. Kalimat “setelahku” dari ayat di atas adalah orang-orang yang mempunyai pandangan batin, seperti pandangan batinku dari satu arah, yaitu orang-orang yang mendapat wilayah-kamilah, yaitu para wali. Sebagaimana yang ditunjukkan dalam firman Allah: “Waliyyam Mursyida” (pemimpin yang dapat memberi petunjuk) (QS. Al-Kahfi: 17).

Ketahuilah, mimpi itu ada dua macam: 1. Mimpi Afaqi dan 2. Mimpi Anfusi. Masing-masing terbagi dua, anfusi dari akhlak yang terpuji atau akhlak yang tercela, seperti melihat bidadari, istana-istana, pemuda-pemuda pelayan surga, lapangan cahaya yang putih, seperti matahari, bulan, bintang dan sebagainya. Ini semua berkaitan dengan sifat hati.

Adapun yang berkaitan dengan nafsu muthma’innah, seperti bermimpi melihat hewan yang halal dagingnya atau burung-burung; karena kehidupan nafsu muthma’innah di surga bersumber dari jenis-jenis tadi, seperti kambing dan burung-burung.

Adapun sapi maka ia hanya datang dari surga kepada Nabi Adam as untuk bertani di dunia. Unta datang dari surga untuk memperindah Ka’bah yang zahir dan yang batin. Kuda sebagai alat untuk perang kecil dan perang besar. Semua itu adalah untuk akhirat. Nabi saw bersabda:

“Kambing itu diciptakan dari madu surga, sedangkan sapi diciptakan dari za’faran surga. Unta dari cahaya surga. Kuda dari angin surga.

Maka Bighal itu diciptakan dari sifat muthma’innah yang terendah. Bila seseorang bermimpin melihat Bighal, maka ia berarti malas dalam beribadah dan nafsunya berat.

Untuk keberhasilan upaya-upaya ini harus dilakukan dengan taubat dan amal saleh, maka ia akan mendapatkan imbalan yang baik.

Keledai diciptakan dari batu-batu surga. Ia diciptakan untuk keperluan Nabi Adam as dan keturunannya di dunia dalam rangka mencapai darajat akhirat.

Adapun yang berbicara dengan ruh yang merupakan khitab manusia yang sangat elok itu adalah menjelma dari cahaya ketuhanan; karena ahli surga seluruhnya dalam rupa yang sangat indah, sabda Nabi saw:

“Ahli surga adalah elok. Mereka bercelak (memakai sifat mata)”.

Sabda Nabi saw:

“Aku melihat Tuhanku dalam rupa pemuda yang sangat elok”.

Sebagian ulama mengatakan yang dimaksud dengan Hadits ini adalah Tajalli, yaitu Tuhan bertajalli dengan sifat ketuhanan pada cermin ruh yang disebut Tiflul Ma’ani, ia adalah pembimbing jasad dan menjadi perantaraan antara manusia dengan Tuhan.

Imam Ali ra berkata: “Kalau tidak ada bimbingan Tuhanku, aku tidak akan mengenal Tuhanku, bimbingan batin ini ada karena adanya pembimbingan zahir, yaitu ahli talqin, seperti para Nabi, para wali, mereka adalah para penerang hati dan jasad. Bila telah dimbimbing dengan ruh-ruh ini, maka tidak akan terbimbing lagi oleh ruh yang lain, firman Allah:

“Allah mendatangkan ruh atas perintahnya kepada siapa saja yang Ia kehendaki dari hamba-hamba-Nya” (QS. Al-mu’min: 15).

Mencari Mursyid itu wajib untuk mencapai ruh yang menimbulkan hidupnya hati dan mengenal Tuhan. Fahamilah!

Imam Ghazali berkata: “Sebenarnya boleh terjadi seseorang bermimpi melihat Tuhan di waktu tidur dalam rupa yang sangat indah dan ukhrawi”.

Ini berdasarkan ta’wil tersebut tadi. Kata Imam Ghazali pula: “Pembimbing ruh ini adalah sebuah perumpamaan yang diciptakan oleh Allah swt sebanding dengan kesiapan orang yang melihat itu sendiri. Yang terlihat dalam mimpi itu bukan hakikat Zat Allah, karena Zat Allah bersih dari segala rupa”.

Begitu pula melihat Nabi saw, tolok-ukurnya adalah sama. Nabi boleh saja dilihat dalam mimpi dengan rupa yang berbeda-beda sesuai dengan kadar kemampuan yang bermimpi itu sendiri.

Hanya orang-orang yang mendapat sebutan “Pewaris Sempurna”lah yang akan dapat melihat hakikat Nabi Muhammad, yaitu pewaris ilmunya, amalnya, perlakuannya, penglihatan hatinya serta shalat zahir dan batinnya bukan pada keadaan Nabi.

Begitu pula dalam Syarah Muslim dijelaskan: “Melihat Allah dengan rupa manusia dan cahaya itu merupakan ta’wil dan qiyas pada penjelmaan sifat-sifat seperti: Halnya Allah menjelmakan api dari pohon anggur kepada Nabi Musa as dan dari sifat Kalam-Nya”. Allah berfirman: “Apa yang ada pada tanganmu, ya Musa!” Api tersebut adalah cahaya; disebut api karena Nabi Musa as menduga bahwa itu adalah api, sebab pada saat itu beliau sedang mencari-cari api. Manusia tidak mengetahui lagi martabat yang paling rendah daripada kayu. Maka tidak heran kalau terjadi tajalli dengan sifat-sifat Allah pada hakikat kemanusiaan, setelah membersihkan hati. Dari sifat-sifat kehewanan berpindah kepada sifat-sifat kemanusiaan, seperti halnya penjelmaan yang terjadi pada para wali.

Abu Yazid Al-Bustami ra berkata ketika beliau melihat sebuah tajalli: “Maha suci aku, betapa agungnya aku”. Sayyid Al-Junaid ra berkata: “Di dalam jubahku tidak ada selain Allah”. Dan masih banyak lagi contoh-contoh lainnya. Dalam maqam ini terdapat rahasia-rahasia yang luar biasa bagi ahli tasawuf yang sangat panjang lebar penjelasannya.

Dalam bimbingan ruhani selalu ada keserasian. Orang yang di tingkat dasar tidak mempunyai keserasian antara dia dengan Allah dan antara dia dengan Nabinya; maka ia harus berada di bawah bimbingan orang yang telah mendapat bimbingan Allah. Orang di tingkat dasar hanya mempunyai keserasian dengan seorang wali, karena keserasian pada segi sama-sama manusia. Seperti halnya Nabi Muhammad saw di saat hidupnya. Di saat Nabi hidup di dunia manusia tidak memerlukan bimbingan orang lain, tetapi setelah beliau berpindah ke alam akhirat, maka ruh putuslah sifat keterkaitan dan beliau berada pada maqam Tajarrud Murni.

Begitu pula para aulia yang sudah terkait di akhirat, mereka tidak akan memberikan keirsyadan pada tujuannya (tidak langsung membimbing manusia lagi). Fahamilah: kalau engkau seorang ahli pemahaman. Kalau kamu tidak mampu memahami, carilah kefahamannya dengan riyadhah, untuk mencari cahaya yang akan meliputi nafsu kegelapan, kaerna pemahaman seperti ini hanya dapat dihasilkan dengan cahaya, bukan dengan lawan cahaya; karena cahaya akan datang dari tempat yang terhias dan memancar. Oleh karena itu orang yang di tingkat dasar tidak akan memiliki keserasian.

Adapun orang yang telah mencapai darajat kewalian di waktu hidup, maka ia memiliki keserasian dari dua sudut: Pertama: Ta’liqiyah (keterkaitan, dan Kedua: Tajridiyah (menyendiri dari sisi pewaris sempurna).

Maka ia mendapatkan wilayah di waktu hidup dengan wilayah ubudiyah nabawiyah dari Nabi Muhammad saw dan ia menyebarluaskannya di kalangan manusia. Fahamilah! Di belakang semua ini ada rahasia yang dalam yang dapat ditemukan hanya oleh ahlinya, firman Allah:

“Keagungan itu hanyalah bagi Allah, dan Rasul-Nya dan bagi orang-orang mu’min” (QS. Al-Munafiqun: 8).

Adapun bimbingan arwah adalah Ruh Jismani membimbing pada jaad. Ruh Rowani membimbing di dalam hati. Ruh Sultani membimbing di dalam mata hati. Ruh Al-Qudsi membimbing sirri yang merupakan perantaraan antara manusia dengan Allah; dan sebagai penterjemah dari Allah kepada makhluk, karena Ruh Al-Qudsi adalah keluarga Allah dan Mahram-Nya.

Adapun mimpi yang muncul dari akhlak tercela bersumber dari nafsu Amarah, Lawwamah, dan Mulhimah. Semua ini akan terlihat dalam mimpim berbentuk binatang buas, seperti: macan (harimau), singa, serigala, beruang, anjing, babi, dan sebagainya; seperti kelinci, musang, kucing, alap-alap; dan binatang-binatang yang menyakiti seperti ular, kalajengking, tawon dan sebagainya. Sifat-sifat tercela ini merupakan sifat-sifat yang dijaga dan dijauhkan dari perjalanan ruh.

Harimau melambangkan sifat ujub, yaitu sombong kepada Allah merasa bsar diri di harapan Allah. Firman Allah:

“Sesungguhnya orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadap-Nya, sekali-kali bagi mereka tidak akan dibukakan pintu-pintu langit dan tidak pula mereka masuk surga hingga unta masuk ke lubang jarum” (QS. Al-A’raf: 40).

Begitu pula balasan bagi orang yang berbuat sombong kepada manusia. Singa melambangkan sifat sombong dan mengagung-agungkan diri pada manusia lain. Beruang melambangkan sifat pemarah dan selalu ingin mengalahkan orang yang di bawahnya. Serigala melambangkan sifat suka memakan barang yang haram. Anjing melambangkan sifat hubbud dunia (cinta dunia), memaksa dan marah karena urusan duniawi. Babi melambangkan sifat dendam, dengki, tamak dan mengikuti keinginan syahwat. Kelinci melambangkan sifat suka berhelah dan tipu daya dalam pengamalan urusan duniawi.

Musang seperti halnya kelinci, tetapi musang biasanya lebih banyak lupanya. Alap-alap melambangkan kecurigaan yang didasari oleh kebodohan dan mencintai kedudukan dan keagungan. Kucing melambangkan sifat kikiir dan munafik. Ular melambangkan sifat menyakiti orang lain dengan lisan seperti marah dan menjelek-jelekkan orang lain dan bohong. Juga terlihat di dalam mimpinya hewan-hewan buas yang man’nawi secara hakiki, itu semua dapat diketahui oleh ahlinya dengan pandangan hati.

Kalajengking melambangkan sifat suka berisyarat dengan kedipan mata, menakut-nakuti dan mengadu-adu. Tawon melambangkan sifat suka menyakiti orang lain dengan lisan secara samar (sindiran); bahkan terkadang ular pun menunjukkan permusuhan dengan manusia.

Bila seorang salik bermimpi memerangi binatang-binatang tadi dan ia tidak mampu mengalahkan, berarti ia harus meningkatkan perjuangannya dengan ibadah dan zikir, sehingga ia mampu mengalahkan sifat-sifat kebinatangan tadi dan melumpuhkannya, bahkan menghancurkan; dan menggantikannya dengan sifat-sifat manusia. Jika ia mampu menghancurkannya secara total, berarti ia sudah meninggalkan keburukan-keburukan secara total. Firman Allah tentang hak seorang ahli taubat:

“Allah menghapuskan kesalahan-kesalahan mereka dan memperbaiki keadaan mereka” (QS. Muhammad: 2).

Dan bilamana seorang salik bermimpi melihat binatang-binatang tadi berubah wujud menjadi manusia, ini menunjukkan bahwa keburukannya telah diganti dengan kebaikan. Sesuai dengan firman Allah tentang hak-hak orang yang taubat:

“Dan orang-orang yang taubat, beirman dan beramal saleh, maka kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan” (QS. Al-Furqan: 70).

Yang berarti dia sudah lepas dari sifat-sifat yang menyakitkan. Dan bilamana seseorang sudah mencapai maqam ini, maka ia tidak boleh lengah, sebab terkadang kekuatan nafsu akan muncul kembali; bahkan terkadang menghancurkan nafsu muth’mainnah. Oleh karena itu Allah memerintahkan agar seseorang hamba menjauhi hal-hal yang dilarang dalam seluruh waktu, selama manusia hidup di dunia. Terkadang Nafsu Amarah terlihat di dalam mimpi dengan rupa orang-orang kafir. Nafsu Lawwamah dengan rupa seorang Yahudi. Nafsu Muthma’innah dengan rupa seorang Nasrani atau seorang ahli bid’ah.

Aurad Khalwat

Posted in Fasal 21 with tags , , , , , on Mei 8, 2012 by isepmalik

Khalwat dilaksanakan dan bila mampu sambil berpuasa dan melaksanakan shalat lima waktu berjamaah di masjid pada waktunya; melaksanakan sunat-sunatnya, syarat-syarat dan rukun-rukunnya dengan sempurna. Shalat sunat 12 rakaat pada tengah malam, yaitu shalat tahajud dengan tiap dua rakaat satu salam, karena Rasul saw bersabda:

“Shalat malam itu dua rakaat dua rakaat. Selanjutnya shalat sunat Witir tiga rakaat”.

Allah berfirman:

“Pada malam hari laksanakanlah Tahajud sebagai pekerjaan sunnah bagimu”.

Allah berfirman: “Lambung mereka jauh dari tempat tidur”.

Selanjutnya shalat sunnah dua rakaat setelah terbit matahari, yaitu shalat Israq. Kemudian dua rakaat shalat Isti’azah; rakaat pertama membaca surah Al-Falaq; rakaat kedua surah An-Nas. Selanjutnya dua rakaat Istikharah dengan membaca Ayat Qursi sekali, Al-Ikhlas tujuh kali pada rakaat pertama dan kedua.  Selanjutnya enam rakaat shalat Dhuha dengan membaca surah yang sesuai kemampuan. Dilanjutkan dengan dua rakaat shalat Kaffaratul Bauli (shalat melebur dosa dari kencing); setiap rakaat setelah Al-Fatihah membaca surah Al-Kautsar tujuh kali. Shalat ini juga merupakan shalat yang menyelamatkan manusia dari siksa kubur. Nabi bersabda:

“Bersucilah kamu sekalian dari air kencing, sebab kebanyakan siksa kubur itu diakibatkan dari kecerobohan air kencing”.

Selanjutnya shalat empat rakaat, jika ia bermadzhab Imam Hanafi, laksanakan empat rakaat sekaligus; dan bila bermadzhab Imam Syafi’i laksanakan dua rakaat-dua rakaat pada siang hari. Bila dilakukan pada malam hari, baik bermadzhab Hanafi dan Syafi’i dilaksanakan dua rakaat-dua rakaat, yaitu shalat Tasbih.

Sifatnya di dalam madzhab Imam Hanafi jika waktu siang dengan niat: “Aku niat bershalat karena Allah, empat rakaat shalat Tasbih”. Kemudian bertakbiratul ihram, membaca tawajuh, dan bertasbih lima belas kali, yaitu “Subhanallah wal Hamdulillah wa Laa Ilaha Illallah Huwallahu Akbar. Laa Haula wa Laa Quwwata illa billahi ‘aliyyil ‘azhim” (Maha Suci Allah, Segala puji bagi Allah dan tiada Tuhan selain Allah, Allah Yang Maha Besar, dan tiada daya dan upaya kecuali oleh Allah Yang Maha Tinggi dan Agung). Kemudian membaca surah Al-Fatihah dan membaca satu surah atau ayat-ayat dari surah-surah yang panjang, seperti akhir surah Al-Baqarah; dilanjutkan dengan bertasbih sepuluh kali; lalu ruku’ dan membaca “Subhana rabiyal azhimi wabihamdi” tiga kali dan tasbih sepuluh kali kemudian ia bersujud dan membaca dalam sujudnya “Subhana rabiyal a’la wabihamdi” tiga kali, bertasbih sepuluh kali; lalu duduk antara dua sujud, bertasbih sepuluh kali; sujud lagi bertasbih sepuluh kali dan duduk bertasbih sepuluh kali lalu berdiri masuk pada rakaay kedua seperti bacaan pada rakaat pertama, hanya ditambah dengan “Tahiyyat”, lalu melaksanakan rakaat ketiga dan keempat. Maka bilangan tasbih pada setiap rakaat adalah tujuh puluh lima kali. Dan bilangan tasbih pada dua rakaat adalah seratus lima puluh kali. Dan bilangan tasbih pada empat rakaat adalah sebanyak tiga ratus kali.

Adapun tataara shalat Tasbih pada madzhab Imam Syafi’i baik dilaksanakan pada siang maupun malam hari adalah sebagai berikut: Pertama, niat: Niat bersholat dua rakaat shalat Tasbih. Kemudian takbiratul ihram; membaca tawajjuh; membaca Al-Fatihah;

–       Membaca surah lalu bertasbih lima belas kali;

–       Ketika ruku’ bertasbih sebanyak sepuluh kali;

–       Ketida i’tidal bertasbih sebanyak sepuluh kali;

–       Ketika sujud bertasbih sebanyak sepuluh kali;

–       Ketika duduk antara dua sujud sebanyak sepuluh kali;

–       Ketika sujud kedua bertasbih sebanyak sepuluh kali;

–       Ketika duduk istirahat setelah sujud kedua sebanyak sepuluh kali.

Kemudian melanjutkannya pada rakaat kedua hingga di akhir dengan duduk terakhir membaca tasbih sepuluh kali dan membaca tahiyyat sehingga akhir dan bertasbih sepuluh kali dan memberi salam. Begitu pula dua rakaat yang terakhir.

Shalat Tasbih ini wajib dilaksanakan bagi orang yang berkhalwat, sekali dalam sehari semalam. Kalau tidak mampu, satu Jumat sekali. Kalau masih tidak mampu, sebulan sekali. Alau masih tidak mampu, setahun sekali. Kalau masih tidak mampu, satu kali seumur hidup.

Nabi saw bersabda kepada pamannya Sayyidina Abbas ra:

“Orang yang melaksanakan shalat Tasbih ini akan diampuni seluruh dosanya, walaupun lebih banyak daripada bilangan pasir dan bilangan bintang-bintang di langit dan hitungan segala sesuatu yang ada di atas bumi”.

Bagi orang yang sedang bersuluk, seyogyanya membaca Doa Saifi sekali atau dua kali sehari semalam; dan membaca Al-Quran kira-kira dua ratus ayat dan melaksanakan zikir sebanyak-banyaknya. Zikir jahar dilakukan bila ia berada pada tingkatan zikir jahar, begitu pula berzikir khafi bila ia berada pada tingkatan zikir khafi. Maqam zikir khafi adalah setelah hidupnya hati dan setelah berkemampun bicara dengan lisan sirri, sebagaimana firman Allah:

“Berzikirlah kamu kepada Allah, sebagaimana Allah telah memberi hidayah kepadamu”.

Yakni sesuai dengan martabat zikirmu. Selanjutnya pada setiap maqam ada nama tertentu dan tatakrama tertentu yang diketahui oleh para ahlinya. Juga membaca surah Al-Ikhlas sehari seratus kali, shalawat kepada Nabi saw sehari seratus kali dan membaca dan mengucap Istighfar yang artinya:

“Aku mohon ampunan kepada Allah yang tiada Tuhan kecuali Dia Yang Hidup dan Yang Ada tanpa diciptakan dari segala dosa yang telah aku perbuat dan yang akan datang dan dosa yang terang-terangan dan yang tersembunyi dan yang berlebihan dan segala dosa yang Engkau lebih mengetahuinya daripadaku. Engkau Yang Maha Awal dan Engkau Yang Maha Kekal dan Engkau berkuasa terhadap segala sesuatu”, seratus kali dan bila mampu tambahlah pekerjaan sunnah dan bacaan-bacaan.

Khalwat dan Uzlah

Posted in Fasal 20 with tags , , , , , on Mei 7, 2012 by isepmalik

“Khalwat” dan “Uzlah” itu terbagi dua, zahir dan batin. Khalwat zahir ialah seorang manusia mengasingkan diri dan menahan badannya dari manusia agar tidak menyakiti orang lain dengan akhlak yang buruk; meninggalkan kesenangan-kesenangan nafsu dan meninggalkan amal buruknya yang zahir agar indera batinnya terbuka dengan niat yang ikhlas; mati dan masuk kubur dengan kepasrahan. Niatnya harus dengan niat mencari keridhaan Allah dan menjauhkan keburukan dirinya dari mukminin dan muslimin. Rasul bersabda:

“Muslim yang sempurna adalah manusia yang orang lain selamat dari tangannya dan lidahnya serta menjaga lidahnya dari kata-kata yang tidak berguna”.

Sabda Nabi saw.: “Selamatnya seorang manusia tergantung pada pengendalian lidahnya. Dan celakanya manusia pun tergantung pada lidahnya. Juga menjaga dua matanya dari khianat dan melihat yang diharamkan serta menjaga kedua kaki dan telinganya”.

Sabda Nabi saw.: “Dua ata ini suka berzina, dari zina anggota badan ini akan menimbulkan manusia yang buruk seperti rupa orang Habsyi dan akan bangun pada hari kiamat dan disaksikan di hadapan Allah; dan mengambil teman-temannya serta disiksa di dalam neraka”.

Jika ia bertaubat dan menjaga dirinya, maka akan masuk pada firman Allah:

“Dan orang-orang yang menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggalnya” (QS. An-Nazi’at: 40-41).

Maka akan digantikan rupanya dengan rupa yang elok dan manis; seelok pemuda-pemuda surga; dan selamatlah dari segala keburukannya.

Khalwat menjadi benteng bagi seorang manusia dari maksiat dan amalannya menjadi amalan yang saleh, bahkan dia dapat mencapai darajat manusia yang baik. Allah berfirman:

“Orang yang mengharapkan ingin bertemu dengan Tuhannya hendaklah melaksanakan amal saleh dan tidak boleh menyekutukan apapun dalam beribadah kepada Tuhannya” (QS. Al-Kahfi: 110).

Khalwat batin adalah batinnya tidak boleh dimasuki oleh pikiran-pikiran bangsa nafsu dan syaitan, seperti menyenangi makanan, minuman, pakaian, mencintai keluarga, bintanag, kuda, dan sebagainya; juga seperti riya’, sum’ah dan kemasyhuran Nabi saw. Bersabda:

“Kemasyhuran dan angan-angan yang mengarah kepadanya itu berbahaya: sedangkan tidak menginginkan kemasyhuran dan segala sesuatu yang mengarah kepadanya adalah kesenangan”.

Hatinya secara sadar jangan dimasuki sombong, ujub, kikir, dengki, mengumpat, mengadu domba, dengki, memaksa, pemarah, dan sebagainya dari sifat-sifat yang tercela. Bila salah satu masuk ke dalam hati yang sedang khalwat, maka batallah khalwatnya; rusaklah hatinya dan rusaklah segala amal salehnya dan ikhlasnya, maka hatinya akan menjadi hati yang tiada manfaat. Sesuai dengan firman Allah:

“Sesungguhnya Allah tidak akan membiarkan terus berlangsung pekerjaan orang-orang yang membuat kerusakan” (QS. Yunus: 81).

Setiap orang yang dalam hatinya terdapat sifat-sifat seperti ini, maka ia termasuk mufsidin (orang-orang yang merusak) walaupun pada lahirnya ia termasuk seorang yang saleh.

Nabi saw bersabda: “Seorang sombong dan ujub merusakkan iman”.

Sabda Nabi saw.: “Mengumpat itu lebih besar dosanya daripada zina”.

Sabda Nabi saw.: “Hasad itu menghancurkan kebaikan seperti halnya api menghancurkan kayu bakar”.

Sabda Nabi saw.: “Fitnah itu sesuatu yang tertidur, Allah akan melaknati orang yang membangunkannya”.

Sabda Nabi saw.: “Orang yang kikir tidak akan masuk surga, walaupun ia ahli ibadah”.

Sabda Nabi saw.: “Riya’ adalah syirik khafi, menyekutukan-Nya adalah kufur”.

Sabda Nabi saw.: “Tidak akan masuk surga orang yang mengumpat”.

Dan masih banyak hadits-hadits lain yang mencela akhlak-akhlak yang buruk maka inilah tingkatan pada kehati-hatian.

Maka tujuan tasawuf pada tahap awal adalah membersihkan hati dari semua itu; menahan nafsu dan hawa nafsu. Orang yang telah mampu memperbaikinya dengan khalwat, riyadhah dan diam serta mendawamkan zikir dengan keinginan, kecintaan, taubat dan ikhlas, dan i’tikad yang baik yang sesuia dengan Sunnah dan mengikuti jejak-jejak orang yang saleh pada masa dahulu, para tabi’in, para masyaikh dan para ulama amilin. Orang yang berkhalwat dengan taubat dan talqin serta menjalankan syariat-syariat ini, maka akan menjadi orang yang ikhlas kepada Allah; Ikhlas ilmunya dan amalnya, sehingga hatinya akan bersinar dan kulitnya pun akan menjadi lembut, lidahnya akan bersih, anggota badan pun akan bersih dari mulai lahir hingga batin. Amal ibadahnya akan dibawa ke hadirat Allah dan akan diterima oleh Allah. Doanya akan didengar sesuai dengan ucapan “Sami Allahu liman hamidah” (Allah mendengar pujian dari orang-orang yang memuji pada-Nya). Yakni menerima doanya, puji-pujian, serta ibadahnyal dan Allah akan memberi penggantinya pada hamba-Nya berupa pahala Qurbah dan Darajat, sesuai firman Allah:

“Kepada-Nyalah naik kalimat thayyibah dan amal-amal saleh menaikkan-Nya (QS. Al-Fathir: 10).

Yang dimaksud dengan kalimat tayyib adalah seorang manusia menjaga lisannya dari kata-kata yang tidak berguna, setelah keberadaan lidahnya adalah sebagai alat untuk berzikir kepada Allah dan bertauhid kepada-Nya sesuai dengan firman Allah:

“Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, yaitu orang-orang yang khusyuk dalam shalatnya dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tidak berguna” (QS. Al-Mukminun: 1-3).

Allah akan meninggikan ilmu, amal dan pengamalnya kepada Rahmat dan dekat kepada-Nya serta pada darajat-Nya dengan ampunan dan ridha Allah.

Bilamana darajat-darajat tadi telah dicapai oleh orang yang berkhalwat, maka hatinya akan seperti laut yang tidak akan berubah oleh sikap buruk manusia kepadanya, sebagaimana sabda Nabi saw.: “Jadilah kamu seperti laut yang tidak berubah”. Matilah segala tuntutan nafsu, seperti tenggelamnya Fir’aun dan keluarganya di dalam lautan dan jadilah kapal yang selamat berjalan tanpa halangan. Ruh Qudsinya akan menyelam sampai ke dasarnya dan mengambil permata hakikat. Dia akan mengeluarkan mutiara “ma’rifat” dan intan “latha’if”. Sebagaimana firman Allah: “Dari keduanya keluarlah mutiara dan permata”, karena laut ini dapat diperoleh oleh orang yang mampu memadukan lautan lahir dan batin; dan ia tidak akan lagi merubah hatinya. Taubatnya akan menjadi taubat yang hakiki; ilmunya bermanfaat; amalnya baik secara langsung tidak akan cenderung kepada larangan-larangannya; dan lupanya pun akan diampun dengan istighfar (mohon ampun), rasa penyesalan dan keyakinan.

Getaran Hati dan Bersih Hati

Posted in Fasal 19 with tags , , , , , on Mei 5, 2012 by isepmalik

Firman Allah:

“Gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah” (QS. Az-Zumar: 23).

Firman Allah:

“Maka apakah orang-orang yang dibukakan Allah hatinya untuk menerima Agama Islam, lalu ia mendapat cahaya dari Tuhannya sama dengan orang yang membatu hatinya. Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang telah membatu hatinya untuk mengingat Allah” (QS. Az-Zumar: 22).

Sabda Nabi saw.:

“Sentuhan tarikan dari tarikan Allah Al-Haq sebanding dengan ibadah seluruh jin dan manusia”.

Sabda Nabi saw.:

“Orang yang tidak punya rasa kasih sayang berarti hatinya tidak hidup”.

Berkata Al-Junaid Rahimahullah:

“Bila Allah menanamkan rasa kasih sayang di dalam batin manusia, maka akan muncul perasaan bahagia dan sedih”.

Wajdu (getaran) itu ada dua macam: 1. Jismani; 2. Ruhani. Wajdu Jismani, yaitu getaran hati yang didorong oleh nafsu dan adanya timbul dari kekuatan jasad, bukan dengan tarikan kuat Ruhani; contohnya seperti riya’ (ingin diketahui orang), atau sum’ah (ingin dibesar-besarkan orang atau ingin terkenal). Ini semua hal yang batil, karena keberadaannya masih berkisar pada diri. Getaran seperti ini tidak boleh diikuti.

Getaran hati runai ialah bertambahnya kekuatan ruh dengan daya tarik Allah, seperti membaca Al-Quran dengan suara yang bagus atau sya’ir yang memenuhi aturan wazannya; atau berdzikir yang tembus sehingga jasad tidak mampu lagi bertahan dan tumbang. Gambaran seperti ini merupakan limpahan Rahmat Allah dan baik untuk diikuti sesuai firman Allah:

“Maka sampaikanlah berita gembira kepada hamba-hambaku yang mendengar kata-kata (nasihat) lalu mengikut yang baiknya”.

Begitu pula getaran ruhani ini terjadi ketika mendengarkan suara-suara orang yang menumpahkan kerinduannya pada Ilahi. Juga suara burung-burung dan irama lagi-lagu merupakan kekuatan ruh. Bila didorong oleh kekuatan getaran ruhani, maka tidak akan dimasuki oleh nafsu dan syaitan, karena syaitan hanya dapat mengganggu pada gerakan kegelapan nafsu, tidak pada cahaya Ruhaniyyah; bahkan syaitan akan terkulai, seperti ia terkulai dengan kalimat Hauqalah (Laa Haula Wala Quwwata illa Billahil ‘aliyil azim [tiada daya dan kebaikan, kecuali oleh Allah Yang Maha Tinggi dan Maha Agung]); seperti leburnya garam yang dimasukkan pada air, hal ini dijelaskan oleh Hadits Rasul.

Bacaan ayat-ayat Al-Quran, syair-syair hikmat, mahabbah dan kenikmatan mahabbah, dan suara-suara kesedihan mengandung kekuatan cahaya bagi ruh. Cahaya harus bertemu dengan cahaya lagi, yaitu ruh. Sebagaimana firman Allah dalam surah An-Nur ayat 26: “Wanita-wanita yang baik untuk laki-laki yang baik”.

Getaran hati yang Syaitani (dari Syaitan) dan nafsani (dari nafsu) tidak mengandung cahaya, bahkan sebaliknya, mengandung kegelapan, kekufuran, dan kesesatan. Gelap bertemu gelap, yaitu nafsu diperkuat oleh nafsu. Sesuai firman Allah dalam surah An-Nur ayat 26: “Wanita-wanita yang keji untuk laki-laki yang keji”. Ruh tidak menimbulkan kekuatan pada kegelapan itu.

Gerak getaran dalam getaran ruhani ada dua macam: 1. Getaran di atas sadar, 2. Getaran di bawah sadar.

Getaran di atas sadar seperti gerakan badan manusia yang bukan disebabkan rasa sakit atau penyakit. Gerakan-gerakan seperti ini bukan gerakan yang dituntut. Adapun gerakan yang di bawah sar yaitu yang ditimbulkan oleh penyebab-penyebab lain, seperti kekuatan ruh. Diri tidak akan mampu membuatnya, karena gerak ini mengalahkan gerakan badan, seperti gerakan panas; bila panas memuncak, manusia tidak akan mampu menahannya, diri sudah tidak dapat memilih-milih lagi. Getaran jiwa bila sudah menyelubungi gerakan ruhani, maka ini merupakan hakikat dari ruhaniah.

Getaran hati dan mendengar suara adalah dua alat, seperti sesuatu yang ada pada hati orang-orang yang sangat merindukan Allah dan orang-orang yang ahli ma’rifat. Getaran dan sima adalah makanan orang-orang yang mencintai Allah dan kekuatan bagi orang-orang yang kuat mencari pendekatan kepada Allah. Sebagaimana di dalam hadits Rasul:

“Mendengarkan suara bagi suatu golongan adalah fardhu, bagi golongan yang lain adalah sunnah, bahkan bagi satu golongan lagi adalah bid’ah”.

Fardhu bagi orang-orang yang khusus; sunnah bagi orang-orang yang sudah mencapai mahabbah; dan bid’ah bagi orang-orang yang masih lupa kepada Allah. Nabi saw. Bersabda:

“Orang yang tidak tergerak karena mendengar suara dan syair-syair bunga dengan bunganya, kayu dengan talu-taluannya, maka itu adalah percampuran yang rusak, tidak ada obatnya dan merupakan sebuah kekurangan yang lebih rendah dari keledai dan burung-burung, bahkan lebih rendah daripada sapi kerbau”.

Keledai, burung, sapi dan kerbau akan merasakan dampak dari suatu nada yang berirama; buktinya burung-burung yang hinggap di atas kepala Nabi Daud as, karena mendengar suara Nabi Daud as. Rasul bersabda: “Orang yang tidak punya getaran hati berarti tidak beragama”.

Getaran jiwa itu ada sepuluh jalan. Sebagian jelas dan terlihat bekasnya di dalam gerakan. Sebagian lagi samar, bekasnya tidak terlihat di dalam jasad, seperti cenderungnya hati pada zikrullah, membaca Al-Quran, menangis, rintihan kesakitan, rasa takut, rasa sedih, keputusasaan, kebingungan ketika melaksanakan zikrullah, termasuk pula di antaranya ialah perasaan menanggung beban, penyesalan, perubahan pada lahiriah dan batiniah, serta mencari ridha Allah dan merindukannya, juga termasuk di antaranya rasa panas dan sakit serta keluar keringat.

Haji Syariat dan Haji Tariqat

Posted in Fasal 18 with tags , , , , , on Mei 4, 2012 by isepmalik

Haji syariat ialah melakukan ibadah haji ke Baitullah dengan melaksanakan syarat-syarat dan rukun-rukunya, sehingga menghasilkan pahala haji. Bila kurang syaratnya, maka kurang pula pahalanya, bahkan membatalkannya karena Allah memeirntahkan menyempurnakan haji. Allah berfirman:

“Sempurnakanlah haji dan umrah karena Allah” (QS. Al-Baqarah: 196).

Di antara pekerjaan haji adalah ihram, masuk ke Makkah dan Tawaf Qudum, Wukuf di Arafah, menginap di Muzdalifah, menyembelih hewan qurban di Mina, masuk ke tanah Haram, Taqaf keliling Ka’bah tujuh kali, minum air Zam-zam, shalat Sunat Tawaf di Makam Nabi Ibrahim kekasih Allah, melakukan Tahallul dari pekerjaan yang dilarang di waktu Ihram dan selainnya.

Pahala bagi haji syariat adalah selamat dari neraka dan siksa Allah. Firman Allah:

“Orang yang masuk ke Baitullah (beribadah haji), maka ia akan sentosa”.

Selanjutnya melakukan tawaf wada dan kembali ke negerinya masing-masing. Semoga kita diberi kemampuan untuk melaksanakannya.

Bekal dan kendaraan haji tariqat adalah adanya kecenderungan hati ingin mengambil talqin dari Shahibut-talqin, selanjutnya melaksanakan dzikir dengan lisn serta menghayati maknanya. Yang dimaksud dengan dzikir di sini ialah mengucapkan kalimat Laa Ilaha Illallah dengan lisan, selanjutnya menghidupkan hati dengan berdzikir kepada Allah dalam batin, sehingga hatinya menjadi bersih.

Pertama-tama dengan menggunakan Asmaus-sifat (nama-nama sifat Allah) sehingga muncul Ka’bah Sirri dengan cahaya sifat Jamaliyah. Sebagaimana firman Allah kepada Nabi Ibrahim dan Nabi:

“Agar engkau berdua membersihkan rumah-Ku bagi orang-orang yang datang bertawaf” (QS. Al-Hajj: 26).

Ka’bah zahir dibersihkan bagi orang-orang yang bertawaf di kalangan makhluk, sedangkan Ka’bah hati dibersihkan untuk dipandang Allah. Oleh karena itu sudah selayaknya dibersihkan dari selain Allah.

Selanjutnya berihram dengan cahaya Ruh Qudsi dan masuk ke Ka’bah hati, dan tawaf qudum dengan mulazamahkan nama yang kedua, yaitu: Lafaz Jalalah, “Allah”.

Selnjutnya berangkat ke Arafah Qalbi (hati), yaitu tempat munajat, maka berwukuflah di situ dengan mulazamahkan nama yang ketiga, yaitu “Hu” (Dia, Allah); dan nama yang keempat, yaitu “Haqqun” (Yang Maha Benar).

Selanjutnya berangkat ke Muzdalifah Fuad dan digabungkan dengan nama kelima, yaitu “Hayyun” (Yang Maha Hidup), dan nama yang keenam, yaitu “Qayyum” (Yang Ada dengan Sendirinya), lalu berangkat ke Mina Sir (rasa) yang terletak antara dua Haram (dua daerah) dan wukuf di sana.

Selanjutnya menyembelih nafsu muthma’innah dengan menggunakan nama yang ketujuh, yaitu “Qahhar” (Yang Maha Memaksa), karena “Qahhar” adalah “ismul fana” (nama kehancuran) yang menghilangkan penghalang kekufuran sebagaimana sabda Nabi saw.:

“Kufur dan Iman adalah dua tempat di belakang Arasy. Kedua-duanya merupakan penghalang antara hamba dengan Tuhannya. Salah satu hitam dan yang lainnya putih”.

Selanjutnya memotong rambut dari kepala Ruh Al-Qudsi dari sifat basyariyah (kesenangan manusiawi) dengan menggunakan nama kedelapan.

Selanjutnya masuk ke Haram sirri dengan menggunakan nama kesembilan dan sampailah kepada melihat orang-orang yang beri’tikaf dan ikut beri’tikaf di lingkungan Qurbah.

Dan bahagia dengan mulazamahkan nama kesepuluh dan melihat keindahan Shamadiyah Allah Yang Maha Suci dan Maha Agung tanpa dipertanyakan “bagaimana” dan tidak dapat diumpamakan.

Selanjutnya melakukan tawaf batin dengan tujuh putaran dengan mulazamahkan nama yang kesebelas. Nama yang kesebelas ini disertai dengan enam nama-nama cabang dan selanjutnya meminum minuman batin dari tangan Qurbah.

Allah memberi minum kepada mereka dengan minuman yang suci dari gelas nama keduabelas. Kemudian diliputi dengan Zat Yang Maha Kekal dan Maha Suci dari perumpamaan; maka manusia melihat kepada Allah dengan Nur Allah. Inilah yang dimaksud dengan firman Allah: “Sesuatu yang tidak dapat dilihat dengan mata, tidak dapat didengar dengan telinga dan tidak tersirat pada hati seorang manusia”, yaitu Kalam Allah tanpa huruf tanpa suara dan tanpa perantara. Yang dimaksud dengan tidak tersirat dalam hati manusia, yaitu nikmatnya rasa melihat dan berkalan dengan Allah.

Selanjutnya bertahallul dari yang diharamkan Allah yaitu menukar sifat buruk dengan sifat yang baik dengan selalu mengulang-ulang Asma Tauhid, sesuai firman Allah:

“Manusia yang bertaubat, beriman dan beramal saleh, mereka adalah orang-orang yang amal buruknya ditukar dengan kebaikan”.

Dan selanjutnya melepaskan diri dari tarikan nafsu dan selanjutnya aman dari rasa takut dan dukacita. Firman Allah dalam surah Yunus ayat 62:

“Ingatlah sesungguhnya wali-wali Allah itu tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih hati”.

Semoga kita diberi kemampuan untuk mendapatkannya dengan Fadhal dan kasih sayang serta kemuliaan-Nya.

Selanjutnya melaksanakan tawaf shadri dengan menggunakan seluruh asma dan kembalilah ke negeri asalnya masing-masing, yaitu di alam Al-Qudsi alam sebaik-baiknya dengan selalu melaksanakan nama yang keduabelas. Nama yang keduabelas ini sangat berkaitan dengan alam yakin.

Ta’qilan seperti ini adalah takwilan yang beredar di sekitar lisan dan akal saja. Adapun hal-hal yang di belakang ini tidak akan dapat diberitakan, karena tidak akan terkejar oleh kefahaman dan tidak akan difahami oleh hati dan tidak akan dapat dibahas. Sebagaimana sabda Nabi saw.: “Ada ilmu yang bagaikan mutiara di dalam kerang”. Di antara ilmu-ilmu hanya ulama-ulama khusus yang mengetahuinya, karena diberi oleh Allah. Kalau mereka membicarakannya, maka akan banyak yang menentangnya.

Seorang Arif hanya akan menyampaikan hal-hal yang lebih rendah dari yang disebutkan tadi. Sedangkan seorang Alim akan berbicara lebih tinggi dari yang dibicarakan tadi, karena ilmu seorang Arif adalah sir Allah Ta’ala. Selain Allah tidak ada yang mengetahuinya. Ini yang dimaksud dengan firman Allah dalam ayat Qursyi:

“Dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya dan seterusnya” (QS. Al-Baqarah: 255).

Yaitu para nabi dan para wali Allah mengetahui segala rahasia dan yang samar. Allah, tiada Tuhan selain Allah. Allah yang mempunyai Asmaul Husna. Wallahu A’lam.