Archive for the Plato dan Filsafatnya Category

Plato dan Filsafatnya (2)

Posted in Plato dan Filsafatnya on Maret 3, 2011 by isepmalik

Plato dalam Cratylus berdasarkan klaim ahli bahasa bahwa pengetahuan sejati dapat dicapai dengan pemahaman tinggi kata-kata dan konotasinya sebagaimana yang dipahami oleh orang-orang yang berbicara dengan bahasa tertentu; sehingga orang yang menguasai konotasi kata-kata akan memperoleh pengetahuan tentang suatu esensi. Pandangan linguistik ditolak oleh Plato. Menurut Al-Farabi, Plato menyatakan bahwa puisi, seni penggubahan syair atau kemahiran membaca puisi, serta pemahaman makna syair pujian dan kaidahnya dapat menghasilkan pengetahuan sejati atau berkontribusi untuk mengejar kesalehan hidup. Dia menyimpulkan dalam karyanya yang berjudul Ion bahwa metode puitis secara umum mampu mengarahkan pada pencapaian yang teoritis dan praktis.[1]

Plato juga dikenal begitu keras kutukannya terhadap puisi yang dikatakannya sebagai imitasi rendahan dari realitas. Kepada penyair, khususnya penyair mitologi seperti Homer dan Hesiod dianggap telah melakukan tindakan memalukan para dewa atau para penyair tersebut mewakili para penyihir dalam berbagai bentuk. Plato mengatakan dalam Republic, ‘sifat Tuhan harus sempurna dalam segala hal dan karena itu akan menjadi hal terakhir untuk transformasi’.[2] Sejauh yang saya tahu, Al-Farabi tidak sepenuhnya menyetujui penilaian kritis mengenai sifat puisi oleh Plato. Menurut Al-Farabi, selanjutnya Plato menyelidiki metode retoris masing-masing di dalam Gorgias, Sophist, dan Euthydemus dan menunjukkan bahwa salah satu metode ini mampu mencapai tujuan pengetahuan dan kebajikan. Lebih jauh Plato mengkritik di dalam Sophist sebagai metode untuk menggambarkan instruksi olahraga belaka (la’ib) yang tidak mengarah pada pengetahuan yang menguntungkan  baik secara teoritis atau praktis.[3]

Menurut Al-Farabi, mengenai dialektika (jadal) Plato menunjukkan di dalam Parmenides bahwa seni ini sangat bermanfaat dalam melayani fungsi pendahuluan di dalam pendidikan. Memang, Plato percaya bahwa seseorang tidak dapat memperoleh pengetahuan sejati tanpa pelatihan sebelumnya di dalam dialektika.

Setelah selesai mengulas tentang kebajikan dan sarana umum teori pengetahuan, Plato kemudian beralih ke seni praktis. Menurut Al-Farabi, di dalam Alcibiades II (Minor), Platon mengatakan bahwa apa yang dianggap masyarakat sebagai tindakan baik atau tidak baik sebenarnya tidak seperti itu. Dalam Hipparchus, ia menunjukkan bahwa seni hanya menguntungkan dan bermanfaat bila ditunjang dengan pengetahuan dan cara hidup berbudi luhur menuju kesempurnaan manusia, tetapi tidak ada seni praktis yang mampu sampai kepada ‘kesempurnaan sejati’.[4]


[1] Ibid., hal. 7.

[2] Republic, II, hal. 380.

[3] Ibid., hal. 9.

[4] Ibid., hal. 11.

Iklan

Plato dan Filsafatnya (1)

Posted in Plato dan Filsafatnya on Februari 25, 2011 by isepmalik

Dari tiga puluh dua “Dialog” karya Plato, sejumlah besar yang diterjemahkan ke dalam bahasa Arab berasal dari kompendium Galen atau ‘sinopsis’. Dari “Dialog” ini, Timaeus dan Laws telah diterjemahkan Yahya Ibn Al-Bitriq dan selanjutnya oleh Hunain Ibnu Ishaq dan Yahya Ibnu Adi. Crito, Parmenides, Republic, Phaedo, Cratylus, Euthydemus, dan Sophist yang diterjemahkan Hunain Ibnu Ishaq dan bersama muridnya Isa Ibn Yahya.[1] Sebagian besar dari terjemahan ini tidak sampai kepada kita sekarang, kecuali Laws, Timaeus, fragmen dari Phaedo, Apology, dan Crito.

Dalam risalahnya yang berjudul Philosophy of Plato, Its Parts and the Order of Its arts, Al-Farabi sepenuhnya menguasai terjemahan ini selain beberapa sumber Yunani lainnya yang berbentuk ringkasan materi dari semua “Dialog” ke dalam bahasa Arab. Dia memulai eksposisi tentang filsafat Plato dalam risalah Alcibiades bahwa kesempurnaan manusia tidak semata-mata terdapat dalam tubuh yang sehat, kesejahteraan material, kemuliaan, atau persahabatan dan kerabat. Menurutnya, kesempurnaan yang dapat membuat kebahagiaan bagi manusia terdiri dari ilmu sejati (‘ilm) dan berbudi luhur (sirah).[2]

Kita diberitahu Al-Farabi mengenai pernyataan Plato dalam Theaetetus bahwa pengetahuan sejati adalah pengetahuan yang penting dari hal-hal yang eksis; sedangkan berbudi luhur dapat dilakukan melalui tindakan-tindakan yang kondusif bagi kebahagiaan sebagaimana dinyatakan Plato dalam Philebus. (Di tempat lain,[3] Al-Farabi mengidentifikasi kesempurnaan manusia dengan pengetahuan Tuhan, keesaan-Nya, kebijaksanaan dan keadilan, ditambahkan pula bahwa filsuf sejati adalah orang yang ‘meneladani sifat Tuhan (homoiosis Theo) semaksimal mungkin’, sebagaimana dinyatakan Plato dalam Theaetetus. Ketika menyelidiki lebih lanjut sifat pengetahuan sejati, kita diberitahu Al-Farabi bahwa Plato dalam “Dialog” menyangkal klaim Protagoras yang Sofis, pengetahuan sejati tidak mungkin tercapai tetapi hanya dalam bentuk opini (doxa, zhan). Pada Meno dalam “Dialog” ia bertanya, apakah pengetahuan sejati diperoleh melalui pengajaran atau hanya menunggu kesempatan sehingga apa yang tidak diketahui akan tetap selamanya tidak diketahui atau diketahui.[4]

Setelah membantah pandangan Protagoras, Plato kemudian mulai mengidentifikasi jenis penyelidikan (fahs) yang dapat menyebabkan pengetahuan sejati. Pendapat-pendapat yang berkembang ia dengan berbagai pandangan yang dimulai dengan penyelidikan (diyaniyah) keagamaan atau ‘seni silogisme keagamaan’ (Al-Farabi mungkin mengartikannya sebagai teologi [‘ilm al-kalam]. Dia menyimpulkan dalam Euthyphro bahwa penyelidikan dan seni tidak mampu menghasilkan pengetahuan sejati atau pada suatu cara hidup yang berbudi luhur.[5]


[1] Lihat: M. Fakhry, A History of Islamic Philosophy, Hal. 13.

[2] Falsafah Aflatun, Hal. 3.

[3] Ma Yanbaqhi an Yataqaddam al-Falsafah, Hal. 53.

[4] Ibid., hal. 6; Meno, hal. 80, fokus diskusi sebenarnya mengenai apakah kebajikan itu dapat dipelajari atau tidak.

[5] Ibid., hal. 6.