Archive for the Resume Category

Paradigma Holistik

Posted in Resume on Agustus 22, 2010 by isepmalik

PARADIGMA HOLISTIK

Dialog Filsafat, Sains dan Kehidupan menurut Shadra dan Whitehead

Penulis : Husain Heriyanto

Penerbit : Teraju, Komplek Plaza Golden Blok G 15-16.  Jl. Rs Fatmawati N0. 16 Jakarta Selatan 12420. Telp. [021] 7661724, Faks [021] 7581 7609 Email: terajuku@yahoo.com

htttp://www.mizan.com

Cetakan : I [kesatu], Januari 2003

Pendahuluan

Latar Belakang

  • Pelbagai problem dan krisis global

1)      Fritjof Capra menyebutnya “penyakit-penyakit peradaban”.

2)      Arnold Toynbee menyebutkan terjadinya ketimpangan yang sangat besar antara sains dan teknologi yang berkembang sedemikian pesat dan kearifan moral dan kemanusiaan yang sama sekali tidak berkembang, kalau tidak dikatakan malah mundur ke belakang.

3)      Menurut Koppi Anan menyebut bahwa abad ke-20 sebagai abad terkejam sepanjang sejarah manusia.

4)      Anthony Giddens menjuluki masa sekarang dengan ciri manufactured uncertainty, yaitu masa yang diliputi ketidakpastian dan mengarah kepada high consequence risk.

  • Menurut Dr. Laing: “Program Galileo (paradigma Cartesian-Newtonian) menawarkan kepada kita sebuah dunia yang mati: lenyapnya pemandangan, suara, rasa, sentuhan, dan penciuman, serta bersama itu mati pula kepekaan etis dan estetis, nilai, kualitas, jiwa, kesadaran, dan ruhani. Pengalaman seperti itu telah dikesampingkan dari wacana ilmiah”.
  • Dr. Laing menarik kesimpulan: “Kita telah menghancurkan dunia ini secara teori sebelum kita menghancurkannya dalam praktek”.
  • Morris Berman menyebut paradigma Cartesian-Newtonian sebagai dicenchantment of the world (hilangnya kepesonaan alam semesta). Ia mengutip kegelisahan penyair Inggris abad ke-18, William Blake, terhadap pandangan mekanistik-linier- deterministik yang dibangun Descartes dan Newton. Blake menulis: “Semoga Tuhan menyelamatkan kita dari pandangan tunggal-linier dan tidurnya Newton!
  • Club of Roma dalam laporan pertamanya Limits of Growth (Batas-Batas Pertumbuhan) tahun 1975, mengingatkan malapetaka yang mengancam peradaban manusia jika cara pandang manusia modern umumnya terhadap ekosistem tidak berubah atau diubah khususnya terhadap konsep pertumbuhan demi pertumbuhan tanpa memperhatikan ekosistem secara holistik dan integral. Dalam laporan keduanya, Mankind at The Turning Point (Umat Manusia di Titik Balik), kelompok inio malah meramalkan bakal kiamatnya dunia jika tanda-tanda bahaya peradaban seperti krisis ekologis tidak diperhatikan dengan sungguh-sungguh.
  • James Robertson dalam The Sane Alternative: A Choice of Future mengemukakan sebuah skenario proyek penyelamatan umat manusia bersama ekosistem dengan mengajukan paradigma humanistis-ekologis.

Krisis Persepsi

  • Capra menegaskan bahwa krisis multidimensional dan kompleks yang melanda dunia sekarang ini berawal dari krisis persepsi. Capra menulis: “Semakin nyatalah sekarang bahwa problem-problem besar zaman kita tidak dapat dipahami dalam isolasi. Ancaman perang nuklir, kerusakan lingkungan alam kita, bertahannya kemiskinan dunia yang berjalan seiring dengan kemajuan negara-negara kaya; ini semua adalah problem-problem yang tidak terisolasi. Problem-problem itu merupakan pelbagai macam segi permukaan dari sebuah krisis tunggal, yang secara esensial adalah krisis persepsi.
  • Pada tataran praktis, pandangan Cartesian-Newtonian menimbulkan problem-problem global seperti krisis ekologi, dehumanisasi, dan konflik-kekerasan yang akut. Sedangkan pada tataran teoritis, pandangan ini tidak mampu lagi memberi penjelasan dan pemaknaan terhadap fenomena-fenomena yang muncul dalam perkembangan sains mutakhir, seperti teori relativitas, teori kuantum, teori chaos, evolusi-kreatif, dissipative structures, teori sibernetika dan self-organization, psikologi Gestalt atau psikologi humanis-eksistensialis, dan tentunya, terlebih lagi, teori-teori sosial budaya yang sudah terlebih dahulu menolak pandangan positivistik.

Tuntutan Paradigma Baru

  • Menurut McLuhan, teknologi media telah mentranformasikan masyarakat-masyarakat manusia di dunia menjadi sebuah satuan komunitas global (global village) tanpa dinding-dinding pembatas lama seperti ideologi politik, nasionalitas, dan agama serta batas-batas geografis.
  • Persoalan besar yang menghadang peradaban global sekarang adalah tidak sesuainya tuntutan perkembangan zaman dengan cara pandang manusia. Dinamika realitas menuntut sebuah pandangan-dunia yang lebih cair dan menyeluruh agar realitas itu terpahami, sementara manusia modern sekarang pada umumnya masih menganut pandangan-dunia lama yang rigid dan mekanistik, yaitu paradigma Cartesian-Newtonian.
  • Meminjam istilah Jurgen Hubermas, Muhammad Khatami menyatakan bahwa dialog antarperadaban menuntut rasionalitas-komunikatif, sementara dalam kenyataannya kebanyakan manusia dari pelbagai tradisi-peradaban sekarang ini masih menerapkan rasionalitas-intrumental.
  • Mark Slouka (budayawan Universitas Calofornia) menyebutkan banyaknya ruang dialog-komunikasi humanis yang hilang ditelan oleh mesin-mesin digital. Ia juga mengutip pernyataan R.D. Laing yang menyebutkan terciptanya pribadi-pribadi yang terbelah (divided self).
  • Jean baudrillard menyatakan bahwa sekarang ini kita hidup dengan informasi yang berlimpah ruah tapi dengan makna yang semakin susut, karena kemajuan teknologi komunikasi dan informasi tidak diimbangi oleh kemampuan kita memaknai informasi itu untuk meningkatkan kualitas hidup kita sebagai manusia yang berpikir (homo sapiens).
  • Manusia modern benar-benar membutuhkan sebuah pandangan-dunia baru untuk dapat menanggulangi krisis-krisis dan problem-problem global. Pemikiran, persepsi, dan nilai yang dianut selama tiga abad ini harus diubah secara mendasar. Capra mengajukan pemikiran bahwa: “Kita memerlukan sebuah revoluasi budaya alam pengertian sejati. Keberlangsungan seluruh peradaban kita akan sepenuhnya tergantung apakah kita mampu mengadakan perubahan tersebut atau tidak… Kita memerlukan sebuah paradigma baru, visi baru tentang realitas, perubahan yang mendasar pada pemikiran, persepsi, dan nilai yang kita anut selama ini…
  • Pandangan-dunia baru yang ditawarkan itu adalah paradigma holistik. Holisme (berasal dari kata whole yang berarti keseluruhan) adalah suatu cara-pandang yang menyeluruh dalam mempersepsi realitas. Karakter yang menyertai paradigma holistik ini adalah pandangan ekologis. Istilah ekologi yang dimaksudkan di sini adalah suatu cara pandang yang menyeluruh dengan penekanan pada inter-relasi, interkoneksi, dan interdependensi entitas-entitas dalam sebuah jaringan.
  • Berpandangan holistik artinya lebih memandang aspek keseluruhan daripada bagian-bagian, bercorak sistemik, terintegrasi, kompleks, dinamis, nonmekanistik, nonlinier. Berpandangan ekologis maksudnya memandang bahwa segala sesuatu di alam raya mengandung nilai-nilai intrinsik; bahwa alam kosmos merupakan jaringan yang saling terhubungkan serta merupakan sistem hidup yang berkemampuan self organization. Kesadaran ekologi adalah kesadaran kesalinghubungan antara satu fenomena dengan fenomena yang lain. Morris Berman menyebut kesadaran holistik-ekologis ini sebagai participating conscousness (kesadaran ikut berpartisipasi dalam kesatuan kosmos).

Lingkup Permasalahan

  • Bagaimana karakteristik paradigma baru holistik yang ditawarkan agar dapat berpartisipasi memberikan visi dan cara-pandang yang lebih memadai realitas dengan segenap problemanya? Permasalahan ini perlu dielaborasi sekaligus dibatasi dan dirumuskan melalui pengajuan pertanyaan-pertanyaan berikut:

Pertama, bagaimana penjelasan tentang pengaruh paradigma Cartesian-Newtonian yang mekanistik-deterministik terhadap terciptanya pengetahuan dan kesadaran yang terpecah-pecah (fragmented knowledge and consciusness) yang bermuara kepada munculnya pelbagai problem dan krisis global seperti yang dipaparkan di atas? Mengapa paradigma Cartesian-Newtonian dapat menghegemoni pandangan-dunia manusia modern selama tiga abad sejak abad ke-17 hingga abad ke-20?

Kedua, bagaimana penyelesaian terhadap problem dualisme dalam ontologi yang memisahkan pikiran materi atau kesadaran dan alam dapat dirumuskan? Sejauh manakah perkembangan ilmu pengetahuan mutakhir, setelah melalui refleksi filosofis, dapat membantu perumusan penjelasan persoalan tersebut seraya sekaligus membangun paradigma baru yang lebih mampu memahami realitas daripada epistemologi Cartesian-Newtonian?

Ketiga, kriteria-kriteria apa saja yang harus dipenuhi oleh paradigma baru holistik yang memungkinkannya memberikan konstribusi signifikan terhadap arah dan bingkau filosofis menuju penyelesaian pelbagai problem dan krisis global yang kompleks dan multidimensional? Asumsi-asumsi ontologis dan kosmologis seperti apa yang dapat menjadi landasan filsafat holistik-ekologis tersebut?

Teori dan Metodologi

  • Terdapat dua kegiatan metodologis yang utama,  pertama, yaitu “penarikan ke atas”. Kegiatan ini meninjau implikasi-implikasi filosofis dari perkembangan fenomena dan realitas dunia ilmiah dan dunia sehari-hari. Kedua, “penarikan ke bawah”. Kegiatan kedua merupakan upaya penjabaran dan transformasi gagasan-gagasan filosofis ke dalam wacana yang akrab dengan pemikiran sains modern.
  • Terhadap konsep dan teori ilmiah berupa data-data perkembangan dunia ilmu pengetahuan yang terdiri dari konsep-konsep dan teori-teori yang relevan dilakukana analisis filosofis melalui interpretasi, koherensi intern, korespondensi eksternal, komparasi dan heuristik sedemikian rupa sehingga terbangun suatu sintesis dan penarikan kesimpulan.
  • Pemikiran filosofis yang digunakan sebagai bahan utama adalah sebagai berikut. Pertama, pemikiran ontologis Mulla Shadra, khususnya analisis eksistesial, gradasi eksistensi dan gerak trans-substansial (al harakat al jawhariyah). Kedua, pemikiran kosmologis A.N. Whitehead yang organis dan holistik, khususnya tentang konsep-konsep actual entities, becoming process, nexus, dan pansubjektivitas. Ketiga, pemikiran-pemikiran Fritjof Capra, Morris Berman, dan Seyyed Hossein Nasr yang banyak mengulas dan mengungkap paradigma baru holistik.
  • Secara lebih terinci beberapa konsep dan teori ilmu pengetahuan yang akan dielaborasi secara filosofis adalah sebagai berikut: (1) teori relativitas; (2) teori kuantum; (3) fisika bootstrap; (4) teori dissipative structures; (5) biologi molekuler, dan (6) teori evolusi.

Filsafat Organisme Whitehead

Pemikiran Umum Whitehead

  • Ia mengemukakan empat gagasan baru yang muncul dalam sains fisika dan biologi pada abad ke-19, yaitu cahaya sebagai gelombang elektromagnet yang bergerak tanpa medium (bertentangan dengan teori ether dan korpuskular Newton), penemuan sub atom yang menggugurkan pandangan atomisme (atom sebagai satuan materi terkecil), gagasan konservasi energi yang lalu menggeser posisi materi sebagai konsep sentral fisika, dan gagasan tentang evolusi.
  • Menurut Whitehead, kedua gagasan revolusioner ini (Teori Relativitas Einstein dan Mekanika Kuantum) merupakan pukulan telak bagi penganut materialisme ilmiah atau positivisme. Karena, kedua gagasan baru tersebut menggugurkan konsep-konsep dasar paradigma materialisme ilmiah. Teori Relativitas misalnya, menolak kemutlakan dan keterpilahan ruang dan waktu Newtonian, dan mengajukan konsep ruang-waktu yang relatif dan saling tergantung bahwa tidak ada ruang tanpa waktu, tidak ada waktu tanpa ruang. Sedangkan Mekanika Kuantum mendekonstruksi pemahaman orang terhadap materi sebagai badan padat atau satu satuan yang bersifat kental dan statis dengan menunjukkan bahwa partikel-partikel pembentuk materi itu merupakan sebuah fungsi dari gelombang elektromagnet atau suatu medan energi yang berpusar secara cepat.
  • Pandangan organisme dalam kosmologi Whitehead didasarkan pada beberapa konsep dasar, yaitu: (1) satuan-satuan aktual (actual entities, actual occasions), (2) proses organis, (3) prinsip relativitas, (4) prinsip kreativitas, dan (5) pansubjektivisme. Kelima prinsip dasar ini saling terkait secara organis membangun sistem kosmologi Whitehead sehingga harus dipahami dalam satu kesatuan yang tak terpisahkan.
  • Whitehead menyatakan: Bahwa bagaimana sebuah satuan aktual yang menjadi (becoming) mengkonstitusi satuan aktual apa yang ada (being); sehingga dua deskripsi sebuah satuan aktual tidak terpisah. Ke-pengada-annya dikonstitusi oleh ke-menjadi-annya. Inilah yang dimaksud dengan prinsip proses.
  • Whitehead menjelaskan: prinsip subjektivitas bagi filsafat organisme merupakan sebuah alternatif dari prinsip relativitas. Prinsip ini menyatakan bahwa hakikat setiap ‘pengada’ merupakan potensi untuk setiap ‘proses menjadi’. Karena itu, segala sesuatu harus dipahami sebagai kualifikasi peristiwa-peristiwa aktual. Prinsip: ‘bagaimana sebuah satuan aktual yang menjadi mengkonstitusi satuan aktual apa yang ada’ merupakan prinsip yang menyatakan bahwa pengada dikonstitusi oleh ‘kemenjadiannya’. Dalam hal ini, sebuah satuan aktual yang dikualifikasi oleh satuan-satuan aktual yang lain merupakan ‘pengalaman’ dunia aktual yang diperoleh satuan aktual tersebut, dan ini berarti sebagai subjek. Prinsip subjektivitas ini menyatakan bahwa segenap alam semesta terdiri dari unsur-unsur yang terbuka untuk analisis pengalaman-pengalaman subjek.
  • Whitehead menyatakan bahwa: dunia aktual adalah sebuah kenangan, jaringan (nexus). Komunitas segala sesuatu yang aktual adalah sebuah organisme, tetapi bukan organisme yang statis. Ekspansi alam semesta mengenai segala yang aktual adalah makna pertama dari ‘proses’; dan alam raya dalam setiap tahapan ekspansinya adalah makna pertama dari ‘organisme’. dalam pengertian ini, suatu organisme adalah sebuah jaringan (nexus).
  • Untuk menggambarkan satuan aktual sebagai gumpalan gelombang pengalaman spasiotemporal (kekinian dan kesinian), Whitehead menggunakan istilah extensive continuum. Dalam hal ini mengacu kepada gagasan sentral yang dicetuskan oleh Teori Relativitas dan Mekanika Kuantum ia mengemukakan “prinsip relativitas” (principle of relativity). Whitehead menulis: prinsip relativitas universal secara langsung berseberangan dengan diktum Aristoteles: ‘Sebuah substansi tidak hadir dalam sebuah subjek’. Sebaliknya, menurut prinsip relativitas, setiap satuan aktual hadir dalam satuan-satuan aktual yang lain. Pada dasarnya, jika kita memperhitungkan tingkat-tingkat relevansi, dan relevansi itu dapat diabaikan, kita dapat mengatakan bahwa setiap entitas aktual hadir dalam setiap satuan aktual yang lain. Adalah tugas utama filsafat organisme untuk mencurahkan perhatiannya kepada penjelasan tentang gagasan bahwa ‘pengada hadir dalam entitas lain’.
  • Untuk menjelaskan prinsip “proses” dan “menjadi” yang merupakan realitas primer dalam sistem Filsafat Organisme atau Filsafat Proses-nya, Whitehead mengajukan sebuah prinsip dasariah lain, yaitu prinsip “kreativitas” (creativity). Whitehead menjelaskan: ‘kreativitas adalah prinsip kebaruan. Peristiw aktual adalah sebuah satuan baru yang diturunkan dari pelbagai satuan tempat ‘yang banyak’ menyatu. Karena itu ‘kreativitas’ mengintroduksi kebaruan ke dalam kandungan ‘yang banyak’, yang adalah alam semesta secara disjungtif. ‘Kemajuan kreatif’ adalah aplikasi dari prinsip dasar kreativitas ini terhadap setiap situasi baru yang darinya ia berasal. Pengertian ‘bersama-sama’ mensyaratkan gagasan ‘kreativitas’, ‘yang banyak’, ‘ketunggalan’, ‘identitas’ dan ‘keragaman’.
  • Prinsip pansubjektivitas digunakan Whitehead sebagai pandangan alternatif terhadap materialisme ilmiah yang berkarakter mekanistik, atomistik, dan reduksionis sehingga dapat menghindari sikap yang mereduksi, membekukan, dan menstatiskan  kekayaan dan dinamika realitas. Lebih lanjut dia menjelaskan: prinsip subjektivitas bagi filsafat organisme merupakan sebuah alternatif dari dari prinsip relativitas. Prinsip ini menyatakan bahwa hakikat setiap ‘pengada’ merupakan potensi untuk setiap ‘proses menjadi’. Karena itu, segala sesuatu harus dipahami sebagai kualifikasi peristiwa-peristiwa aktual. Prinsip: ‘bagaimana sebuah satuan aktual yang menjadi mengkonstitusi satuan aktual apa yang ada’ merupakan prinsip yang menyatakan bahwa pengada dikonstitusi oleh ‘kemenjadiannya’. Dalam hal ini, sebuah satuan aktual yang dikualifikasi oleh satuan-satuan aktual yang lain merupakan ‘pengalaman’ dunia aktual yang diperoleh satuan aktual tersebut, dan ini berarti sebagai subjek. Prinsip subjektivitas ini menyatakan bahwa segenap alam semesta terdiri dari unsur-unsur yang terbuka untuk analisis pengalaman-pengalaman subjek.
  • Sudarminta menyebutkan bahwa “serikat satuan-satuan aktuaal” itu bersifat bipolar, yaitu berkubutub dua: kutub fisik dan kutub mental. Perbedaan antara kedua kutub itu terletak dalam intensitas dan kompleksitas “pengalaman”nya. Kutub fisik pada pada “serikat satuan-satuan aktual” alam kebendaan disebut oleh Whitehead sebagai ‘regnant nexus’, yaitu jaringan satuan aktual yang menguasai dan mengatur yang lain; sedangkan kutub mentalnyaa disebut sebagai ‘subservient nexus’ yang bersifat mengabdi kepada kutub fisik.
  • Analisis ontologi-eksistensial Shadra memberi sumbangan signifikan dalam penyelesaian yang sistematis dan mendasar terhadap problem dualisme kesadaran-mateeri atau jiwa-tubuh, sedangkan uraian kosmologi-organis Whitehead menyumbang gagasan penting tentang prinsip pansubjektivitas yang mencairkan kebekuan dikotomi subjek-objek dalam relasi manusia-alam, kesadaran-materi atau jiwa-tubuh.
  • Kosmologi Whitehead merupakan penjabaran lebih lanjut dari ontologi eksistensial Shadra dalam menjelaskan relasi yang dinamis dan organis antara tubuh dan jiwa. Prinsip keragaman-dalam-kesatuan eksistensi Shadra diturunkan menjadi prinsip organisme Whitehead. Prinsip gerak trans-substansial dalam sistem ontologi Shadra ditransformasikan menjadi prinsip relativitas dan pansubjektivitas dalam sistem kosmologi Whitehead.
Iklan

Jihad Intelektual

Posted in Resume on Agustus 22, 2010 by isepmalik

Ziauddin Sardar

JIHAD INTELEKTUAL

Merumuskan Parameter-Parameter Sains Islam

AE. Priyono (Editor)

Hak Penerbitan pada Risalah Gusti

Cetakan Kedua, 2000

ISLAMISASI ILMU PENGETAHUAN

ATAU WESTERNISASI ISLAM?

  • Ilmu pengetahuan tidak bisa dipisahkan dari pandangan-dunia dan sistem keyakinan. Dari pada “meng-Islamkan” disiplin-disiplin yang telah berkembang dalam miliu sosial, etik dan kultural Barat, kaum cendekiawan muslim lebih baik mengarahkan energi mereka untuk menciptakan paradigma-paradigma islam, karena dengan itulah tugas untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan urgen masyarakat muslim bisa dilaksanakan.
  • Lima sasaran rencana kerja al-Faruqi untuk Islamisasi Ilmu Pengetahuan
  1. Menguasai disiplin-disiplin modern.
  2. Menguasai khazanah Islam.
  3. Menentukan relevansi Islam yang spesifik pada setiap bidang ilmu pengetahuan modern.
  4. Mencari cara-cara untuk melakukan sintesa kreatif antara khazanah Islam dengan ilmu pengetahuan modern.
  5. Mengarahkan pemikiran Islam ke lintasan-lintasan yang mengarah pada pemenuhan pola-rancangan Allah.
  • Menurut Faruqi, sasaran di atas bisa dicapai melalui 12 langkah sistematis yang pada akhirnya mengarah pada Islamisasi ilmu pengetahuan.

Langkah 1: Penguasaan terhadap disiplin-disiplin modern. Al-Faruqi mengatakan, bahwa disiplin-disiplin modern harus dipecah-pecah menjadi kategori-kategori, prinsip-prinsip, metodologi-metodologi, problem-problem dan tema-tema—pemilah-milahan yang mencerminkan “daftar isi” suatu buku teks klasik.

Langkah 2: Survei disipliner. Jika kategori-kategori dari disiplin ilmu telah dipilah-pilah, suatu survei menyeluruh harus ditulis untuk setiap disiplin ilmu. Langkah ini diperlukan agar sarjana-sarjana muslim mampu menguasai setiap disiplin ilmu modern.

Langkah 3: Penguasaan terhadap khazanah Islam. Khazanah Islam harus dikuasai dengan cara yang sama. Tetapi di sini, apa yang diperlukan adalah antologi-antologi mengenai warisan pemikiran muslim yang berkaitan dengan setiap disiplin.

Langkah 4: Penguasaan terhadap khazanah Islam untuk tahap analisa. Jika antologi-antologi sudah disiapkan, khazanah pemikiran Islam harus dianalisa dari perspektif masalah-masalah masa kini.

Langkah 5: Penentuan relevansi spesifik untuk setiap disiplin ilmu. Relevansi ini, kata Faruqi, dapat ditetapkan dengan mengajukan tiga persoalan: Pertama adalah, apa yang telah disumbangkan oleh Islam, mulai dari Qur’an hingga pemikiran-pemikiran kaum modernis, dalam keseluruhan masalah yang telah dicakup oleh disiplin-disiplin modern? Kedua, seberapa besar sumbangan itu jika dibandingkan dengan hasil-hasil yang telah diperoleh oleh disiplin-disiplin modern tersebut? Sampai di mana tingkat pemenuhan, kekurangan, serta kelebihan khazanah Islam itu jika dibandingkan dengan visi dan scope disiplin-disiplin modern? Ketiga, apabila ada bidang-bidang masalah yang sedikit diperhatikan atau bahkan sama sekali tidak diabaikan oleh khazanah Islam, ke arah manakah kaum muslim harus berusaha mengisi kekurangan itu, juga untuk mereformulasi masalah-masalah, dan memperluas visi disiplin tersebut?

Langkah 6: Penilaian kritis terhadap disiplin modern. Jika relevansi Islam untuk semua disiplin sudah disusun, maka ia harus dinilai dan dianalisa dari titik pijak Islam.

Langkah 7: Penilaian kritis terhadap khazanah Islam. Sumbangan khazanah Islam untuk setiap bidang kegiatan manusia harus dianalisa dan relevansi kontemporernya harus dirumuskan.

Langkah 8:  Survei mengenai problem-problem terbesar ummat Islam. Suatu studi sistematis harus dibuat tentang masalah-masalah politik, sosial, ekonomi, intelektual, kultural, moral dan spiritual dari kaum muslim.

Langkah 9: Survei mengenai problem-problem ummat manusia. Suatu studi yang sama, kali ini difokuskan pada seluruh ummat manusia, harus dilaksanakan.

Langkah 10: Analisa kreatif dan sintesa. Pada tahap ini para sarjana muslim harus sudah siap melakukan sintesa antara khazanah Islam dan disiplin-disiplin modern, serta untuk “menjembatani jurang kemandegan berabad-abad”. Dari sini khazanah pemikiran Islam “harus tetap sinambung dengan prestasi-prestasi modern, dan harus mulai menggerakkan tapal batas ilmu pengetahuan ke horison yang lebih luas daripada yang sudah dicapai oleh disiplin-disiplin modern”.

Langkah 11: Merumuskan kembali disiplin-disiplin di dalam kerangka Islam. Sekali kesinambungan antara khazanah Islam dan disiplin-disiplin modern telah dicapai, buku-buku teks universitas harus ditulis untuk menuang kembali disiplin-disiplin modern dalam cetakan Islam.

Langkah 12: Penyebarluasan ilmu pengetahuan yang sudah diislamisasikan. Karya intelektual yang sudah diproduk dari langkah-langkah sebelumnya harus digunakan untuk membangkitkan, menerangi dan memperkaya ummat manusia.

Persoalan-persoalan Filsafat

Posted in Resume on Agustus 22, 2010 by isepmalik

PERSOALAN-PERSOALAN FILSAFAT

Judul Asli: Living Issues in Philosophy, 7th Edition

Oleh: Harold H. Titus/Marilyn S. Smith/Richard T. Nolan

Alihbahasa oleh: Prof. Dr. H.M. Rasjidi

Cetakan pertama, PT. Bulan Bintang, Jakarta, 1984.

HAK PENERBITAN DALAM BAHASA INDONESIA

Dipegang oleh:

PT. Bulan Bintang, Penerbit dan Penyebar Buku

Jalan Kramat Kwitang 1/8, Jakarta 10420, Indonesia

Anggota Ikapi Penerbit Indonesia

84 01047 KH6.000

Dicetak oleh Percetakan PT. Midas Surya Grafindo, Jakarta

Definisi filsafat

1).     Filsafat adalah sekumpulan sikap dan kepercayaan terhadap kehidupan dan alam yang biasanya diterima secara tidak kritis.

2).     Filsafat adalah suatu proses kritik atau pemikiran terhadap kepercayaan dan sikap yang sangat kita junjung tinggi.

3).     Filsafat adalah usaha untuk mendapatkan gambaran keseluruhan.

4).     Filsafat adalah sebagai analisa logis dari bahasa serta penjelasan tentang arti kata dan konsep.

5).     Filsafat adalah sekumpulan problema-problema yang langsung yang mendapat perhatian dari manusia dan yang dicarikan jawabannya oleh ahli-ahli filsafat.

Penyebab perbedaan pandangan dalam mengevaluasi realitas

1).     Manusia melihat benda dari segi yang berbeda.

2).     Manusia hidup dalam dunia yang berubah.

3).     Manusia menangani bidang pengalaman kemanusiaan dimana bukti tidak cukup sempurna.

Metodologi filsafat

Dialektika Socrates. Dialektika merupakan perkembangan pemikiran dengan memakai pertemuan (interplay) antar ide.

Cabang-cabang tradisional dari filsafat

1).     Logika

Bertugas untuk menciptakan ukuran untuk menetapkan manakah argumen yang benar (valid) dan yang tidak benar.

2).     Metafisik

–           Menurut Aristoteles metafisik berarti filsafat pertama, yakni pembicaraan tentang prinsip-prinsip yang paling universal.

–           Sesuatu yang di luar kebiasaan (beyond nature). Membicarakan watak yang sangat mendasar (ultimate) dari benda, atau realitas yang berada di belakang pengalaman yang langsung (immadiate experience).

3).     Epistemologis

Cabang filsafat yang mengkaji sumber-sumber, watak dan kebenaran pengetahuan.

Terdapat tiga persoalan pokok dalam bidang ini:

a).      Apakah sumber-sumber pengetahuan? Darimana pengetahuan yang benar itu datang, dan bagaimana kita dapat mengetahui? Itu semua adalah problema: “asal” (origins).

b).     Apakah watak dari pengetahuan? Adakah dunia yang riil di luar akal, dan kalau ada, dapatkah kita mengetahui? Ini semua adalah problema: penampilan (appereance) terhadap realitas.

c).      Apakah pengetahuan kita itu benar (valid)? Bagaimana kita membedakan antara kebenaran dan kekeliruan? Ini adalah problema: mencoba kebenaran (verification).

4).     Etika

Dalam moralitas dan etika ada tiga bidang yang besar.

a).      Etika deskriptif (descriptive ethics)

–           Menjelaskan pengalaman moral dengan cara deskriptif.

–           Usaha untuk membedakan “apa yang ada” dan “apa yang harus ada”.

b).     Etika normatif (normative ethics)

–           Merumuskan pertimbangan (judgment) yang dapat diterima tentang apa yang harus ada dalam pilihan dan penilaian.

c).      Metaetika (metaethics)

–           Dipusatkan kepada analisa, arti istilah, dan bahasa yang dipakai dalam pembicaraan etika, serta cara berpikir yang dipakai untuk membenarkan pernyataan-pernyataan etika.

Menurut Philip Wheelwright: “etika dapat dibatasi sebagai cabang filsafat yang merupakan pengkajian sistematis tentang pilihan replektif, ukuran kebenaran dan kesalahan yang membimbingnya, atau hal-hal yang bagus yang pilihan replektif harus diarahkan kepadanya”.

Faidah-faidah Filsafat

Sidney Hook mengatakan bahwa kita akan mengetahui filsafat itu apa dengan menyelidiki faidahnya. Ia menunjukkan bahwa filsafat bukannya aktivitas yang memberi jawaban-jawaban pasti terhadap pertanyaan, akan tetapi sebagai aktivitas yang mempersoalkan jawaban-jawaban.

–           Perlunya mempersoalkan hal yang tradisional, konvensional, dan yang sudah melembaga.

–           Untuk menunjukkan bahwa ide itu merupakan satu dari hal-hal yang praktis di dunia.

–           Kemampuannya untuk memperluas bidang-bidang keinsafan kita, untuk menjadi lebih hidup, lebih bergaya, lebih kritis dan lebih cerdas.

Watak Nilai

Etik (penyelidikan tentang nilai dalam tingkah laku manusia) dan estetika (penyelidikan tentang nilai dalam seni) merupakan dua bidang besar yang berhubungan dengan nilai.

Fakta dan Nilai

  • Pertimbangan fakta merupakan pernyataan deskriptif tentang kualitas empiris atau hubungan. Pertimbangan nilai adalah pertimbangan tentang penghargaan.
  • Terdapat saling mempengaruhi (interaction) antara fakta dan nilai.

Dasar Nilai

  • Ada nilai-nilai tertentu yang mutlak dan abadi.
  • Bersifat eksperiensial, fungsional dan dinamik.

Nilai Subjektif

  • Pernyataan nilai menunjukkan perasaan atau emosi.
  • George Santayana menyatakan: “Tak ada nilai di luar penghargaan kita terhadap nilai itu”.
  • Dewitt H. Parter menyatakan: “Nilai itu terdapat di dalam alam yang dalam, alamnya akal.

Nilai Objektif

  • Nilai-nilai terdapat di dunia kita dan harus digali.
  • C.E.M Coad menyatakan: “Nilai itu berada di dalam objek”.
  • Menurut Plato: “Alam konsep, universal dan nilai adalah alam yang nyata dan langgeng”.
  • Menurut Aristoteles: “Hubungan suatu benda kepada maksudnya, yakni nilai adalah bagian yang esensial dari wataknya”.

Watak pengalaman estetika

Estetika berasal dari kata kerja Yunani artinya “merasakan” (perceive atau to sense). Kata estetika mempunyai akar kata yang sama dengan “teori” dan “teater”.

Sensasi, persepsi dan konsepsi

Sensasi adalah rangsangan yang diterima pancaindra.

Persepsi adalah kejutan perasaan yang diorganisir dalam kesatuan.

Konsepsi adalah daya pemahaman terhadap ide-ide umum.

Nilai-nilai estetika

Pertama, kita memerlukan bukti dari konteks.

Kedua, jika kita sendiri tidak menemukan keindahan estetika dalam benda yang untuk orang lain sangat bernilai, lebih baik kita menangguhkan pertimbangan kita sehingga dapat melakukan analisa yang tepat tentang pengalaman keindahan.

Prinsip pemilihan terhadap nilai

  • Nilai intrinsik harus didahulukan atas nilai ekstrinsik.
  • Nilai-nilai yang produktif dan secara relatif bersifat permanen didahulukan terhadap nilai yang produktif dan kurang permanen.
  • Kita harus memilih nilai-nilai kita atas dasar maksud-maksud yang menjadi pilihan kita, dan atas dasar ide-ide kita.
  • T.H. Green menyatakan: “Manusia yang bebas adalah manusia yang sadar bahwa ia pencipta hukum yang ia anut”.

Konflik nilai pada waktu ini

Herbert J. Muller menyatakan: “Hilangnya arti nilai-nilai yang menyertai kemajuan teknologi”.

Etika kedokteran

Vernon H. Mark (ahli bedah syaraf) menyatakan: Sebagai suatu kekuatan teknologi, ilmu bedah syaraf dapat disalahgunakan; untuk memberi batasan penggunaannya merupakan suatu problema yang lebih besar daripada sekadar problema kedokteran”.

Falsafatuna

Posted in Resume on Agustus 22, 2010 by isepmalik

FALSAFATUNA;

Pandangan Muhammad Baqir Ash-Shadr

terhadap Pelbagai Aliran Filsafat Dunia

Judul Asli     : Falsafatuna;  “Dirasah Mawdhu’iyyah fi Mu’tarak al-Shira’ al-Fikriy al-Qaim baina Mukhtalaf al-Thayarat al-Falsafiyyah wa al-Falsafah al-Islamiyyahwa al-Madiyyah al-Diyaliktikiyyah (al-Marksiyyah)“.

Penulis : Sayyid Al-Islam Ayatullah Al-Uzhma As-Sayyid Muhammad Baqir Ash-Shadr

Terbitan : Dar Al-Kitab Al-Islamiy, Qurn, Iran.

Cetakan : Kesepuluh, 1401/ 1981

Penerjemah : M. Nur Mufid Bin Ali

Penyunting : Ilyas Hasan

Penerbit : Mizan Anggota IKAPI Jln Yodkali No 16, Bandung 40124 Telp. (022) 700931 – Fax (022) 707038

Cetakan : V [kelima], Jumada Al-Tsaniyah 1416/ November 1995

Teori Pengetahuan dalam Filsafat Kita

  • Pokok-pokok doktrin yang berkaitan dengan subjek. Pertama, pengetahuan manusia terbagi dua bagian: (1) konsepsi, (2) tashdiq. Kedua, segenap pengetahuan tashdiqi dapat dinisbahkan kepada pengetahuan primer yang keniscayaannya tidak mungkin dibuktikan dan yang kebenarannya tak dapat dipaparkan. Tetapi pikiran menyadari keniscayaan untuk menerimanya dan mempercayai kebenarannya. Contoh: prinsip nonkontradiksi, prinsip kausalitas, prinsip-prinsip matematis primer.
  • Jika dua hal atau lebih tetap ada pada akhirnya, dan ia tidak dapat menentukan sebab berdasarkan prinsip-prinsip niscaya, maka hasil ilmiah dalam wilayah ini adalah dugaan saja. Atas dasar itu, kita tahu: pertama, prinsip-prinsip rasional niscaya adalah dasar umum bagi semua kebenaran ilmiah. Kedua, nilai-nilai teori dan haisl-hasil ilmiah dalam bidang-bidang eksperimental itu bergantung pada sejenis mana akurasi teori-teori dan hasil-hasil itu dalam menerapkan prinsip-prinsip niscaya tersebut pada totalitas data empirikal yang terhimpun. Ketiga, dalam bidang noneksperimental, teori filsafat mendasarkan dirinya pada penerapan prinsip-prinsip niscaya tersebut pada bidang-bidang itu. Keempat, sejauhmana kesesuaian konsep mental dengan realitas objektif yang kita yakini adanya berdasarkan konsep tashdiqi.
  • Kaum materialisme dialektik menolak idealisme dengan bertumpu pada pengalaman inderawi, mereka menolak relativisme dengan bertumpu pada gerak.
  • Seorang idealis menganggap bahwa segala sesuatu tidak ada kecuali dalam persepsi inderawi dan pengetahuan empirikal kita, dan seorang realis yakin adanya realitas luar yang berdiri sendiri yang terlepas dari persepsi dan pengalaman inderawi.
  • Objektivitas persepsi inderawi dan eksperimen, dengan demikian adalah pondasi yang menjadi tumpuan struktur semua ilmu. Pondasi tersebut harus ditangani secara filosofis murni, sebelum mengambil kebenaran ilmiah apa pun. Secara filosofis, persepsi eksperimental tidak lebih daripada suatu bentuk konsepsi.
  • Marxisme menolak prinsip kausalitas dalam pembuktian objektivitas persepsi inderawi dengan dua alasan. Pertama, Marxisme tidak mempercayai adanya prinsip-prinsip rasional niscaya. Kedua, dialektika menjelaskan perkembangan materi dan peristiwa-peristiwa dengan kontradiksi-kontradiksi yang terkandung di dalamnya. Solusi yang dikemukakan Marxisme dalam permasalahan tersebut diantaranya, berkata Roger Garaudy: “Ilmu-ilmu mengajarkan kita bahwa manusia itu muncul di muka bumi pada tahap yang akhir sekali, demikian pula pikirannya. Menyatakan bahwa pikiran itu ada di bumi sebelum materi, berarti menyatakan bahwa pikiran itu bukanlah pikiran manusia. Idealisme, dalam segala bentuknya, tidak dapat terlepas dari teologi”. Lebih lanjut Roger Garaudy mengatakan: “Bumi sudah ada bahkan sebelum segala yang sensitif, yaitu sebelum segala maujud hidup. Tak ada materi organik apa pun di atas bola bumi pada tahap terawal eksistensi planet ini. Jadi, materi non-organik mendahului kehidupan yang harus tumbuh berkembang selama beribu-ribu tahun sebelum munculnya manusia beserta pengetahuannya. Jadi, ilmu menuntun kita kepada keyakinan bahwa alam sudah ada dalam keadaan yang di dalamnya bentuk apa pun dari kehidupan atau sensibilitas tidak mungkin ada”. Menurut saya (Shadr) bukti yang dikemukakan Garaudy mengandung suatu petitio principii[1] dan berangkat dari titik yang tidak diakui oleh idealisme. Sementara itu jawaban Lenin adalah: “Kalau kita hendak melontarkan masalah tersebut dari satu-satunya cara pandang yang benar, yakni pandangan materialisme dialektik, maka sebaiknya kita pertanyakan apakah elektron, udara, dan seterusnya itu ada di luar pikiran manusia; apakah mereka memiliki realitas objektif atau tidak? Terhadap pertanyaan ini, sebaiknya para ahli sejarah alam menjawabnya, yang jawabannya selalu kukuh dan afirmatif, karena mereka tidak ragu-ragu menerima lebih dahulunya eksistensi alam atas eksistensi manusia, atau atas eksistensi materi organik”.
  • Materi primer adalah materi yang tidak mungkin dikatakan bahwa ia tersusun dari materi lain. “Materi ilmiah” adalah materi paling primer yang diungkapkan eksperimen. “Materi filosofis” adalah materi paling primer alam, baik ia bisa nampak dalam lapangan eksperimen maupun tidak.

[1] Petitio Principii adalah suatu kesalahan logika yang mengasumsikan dalam premis-premis itu konklusi yang harus dibuktikan.

Tuhan, Doktrin, dan Rasionalitas

Posted in Resume on Agustus 22, 2010 by isepmalik

Paul Davies

TUHAN, DOKTRIN DAN RASIONALITAS

(Dalam Debat Sains Kontemporer)

Judul Asli:

God and the New Physics

Fajar Pustaka Baru 066.02

Cetakan Pertama, Juni 2002

Penterjemah:

Hamzah

Sains dan Agama dalam Dunia yang sedang Berubah

Baik sains maupun agama memiliki dua wajah; intelektual dan sosial. Ahli fisika, Hermann Bondi: di kebanyakan Eropa Kristen kesalahan digunakan untuk membakar wanita-wanita tua yang dituduh sebagai tukang sihir, tugas berat yang mereka rasakan benar-benar telah dibebankan kepada mereka oleh Bible. Fakta-fakta tentang pembakaran tukang sihir cukup jelas. Pertama, keimanan – sebaliknya – membuat manusia yang beradab serta setia kepada tindakan-tindakan kengerian yang tak terkatakan, yang memperlihatkan bagaimana perasaan-perasaan keseharian dan biasa dari perubahan dan kebaikan hati manusia mengenai kekasaran dapat dan telah dikesampingkan oleh kepercayaan agama. Kedua, ia mengungkapkan klaim – bahwa agama meletakkan fondasi absolut dan tak berubah bagi moralitas – yang sama sekali tidak kokoh.

Sains didasarkan atas eksperimen dan observasi cermat yang memungkinkan teori-teori dibangun dan mempertautkan berbagai pengalaman yang berbeda. Sebaliknya, agama dibangun di atas wahyu dan hikmah yang diterima.

Ahli pathologi, penulis dan produser, Kit Pedlar: selama hampir dua puluh tahun saya mengisi waktu riset saya sebagai seorang biolog reduksionis yang berbahagia, yang percaya bahwa riset saya yang sungguh-sungguh pada akhirnya akan memunculkan kebenaran-kebenaran tertinggi. Lalu, saya mulai membaca fisika baru. Pengalaman ini menghancurkan. Sebagai seorang biolog saya pernah membayangkan bahwa para ahli fisika adalah laki-laki dan wanita yang dingin, jernih dan tanpa emosi, yang menatap alam dari sudut pandang objektif-klinis—orang-orang yang mereduksi matahari terbenam kepada frekuensi dan panjang gelombang, dan para pengamat yang mengiris kerumitan jagad raya menjadi elemen-elemen formal dan rigid. Kesalahan saya sangat besar. Saya mulai mengkaji karya-karya dari orang-orang dengan nama legendaris: Einstein, Bohr, Schrodinger dan Dirac. Saya menemukan bahwa di sini bukan orang-orang yang objektif dan klinis, tetapi orang-orang yang religius dan puitis, orang-orang yang membayangkan keluasan-keluasan tak dikenal sedemikian rupa sehingga membuat apa yang telah saya rujuk sebagai ‘paranormal’ hampir dapat dibandingkan dengan pejalan kaki.

Psikolog, Harold Morowitz: apa yang telah terjadi adalah bahwa para biolog, yang sekali waktu mempostulasikan peran yang diistimewakan bagi pikiran manusia dalam hierarki alam, telah bergerak tanpa belas kasihan menuju inti pokok materialisme yang memberi ciri kepada fisika abad kesembilan belas. Pada saat yang sama, para ahli fisika berahdapan dengan bukti eksperimental yang memaksa, telah bergeser dari model-model jagad raya yang bercorak mekanis ketat menuju pandangan dengan pemahaman tentang pikiran yang memainkan peran integral dalam seluruh kejadian-kejadian fisik. Kedua disiplin ini seolah-olah berada di atas kereta api yang bergreak cepat, yang melaju dalam arah yang berlawanan dan tidak memperhatikan apa yang sedang terjadi pada jalur-jalur tersebut.

Penciptaan

Fondasi dari teori “dentuman besar” [big bang] adalah Hukum Kedua Termodinamika, hukum ini menyatakan bahwa setiap hari jagad raya menjadi semakin kacau.

Jika jagad raya memiliki stok tatanan yang terbatas, dan sedang berubah dengan tanpa dapat dikembalikan menuju kekacauanpada akhirnya menuju keseimbangan termodinamikadua pengaruh yang sangat dalam berlanjut secara langsung. Pertama, bahwa jagad raya pada akhirnya akan mati, bergelimang sebagaimana adanya, dalam entropi yang dimilikinya sendiri. Inilah yang dikenal di kalangan ahli fisika sebagai ‘kematian panas’ jagad raya [the ‘heat death’ of the universe]. Kedua, adalah bahwa jagad raya tidak dapat eksis untuk selama-lamanya, kecuali jika ia telah mencapai kondisi akhir keseimbangannya pada waktu tak terhingga di masa lampau. Kesimpulannya: jagad raya tidak senantiasa eksis.

Ahli astronomi berkebangsaan Amerika, Edwin Hubble menemukan bahwa galaksi-galaksi itu tidak jatuh bersma-sama karena mereka malahan bergerak terpisah. Ia melihat bahwa sinar galaktik warnanya agak berubah, keadaan yang menyarankan pengunduran cepat. Alasannya adalah bahwa cahaya terdiri dari gelombang-gelombang, sehingga sumber cahaya yang bergeak dapat mengembang atau menyusutkan gelombang-gelombang tersebut, persis seperti kendaraan bergerak yang mengembang ataupun menyusutkan gelombang bunyi yang dipancarkannya.

Galaksi-galaksi berjauhan menyusut lebih cepat daripada yang berdekatan. Celah-celah di antara galaksi-galaksi itu juga mengembang, sehingga sebenarnya setiap galaksi sedang bergerak menjauhi setiap galaksi lainnya. Inilah yang dikenal dengan ‘jagad raya mengembang’.

Ketika harus menjelaskan jagad raya mengembang, gaya berat menjadi kunci. Einstein berargumen dengan meyakinkan bahwa gaya berat merentangkan ataupun mengubah ruang dan waktu, dan ide tersebut dapat dicek secara langsung dengan mengamati gaya berat matahari yang membelok sinar bintang yang menerpa permukaannya. Elistisitas waktu juga dapat dibuktikan, paling langsung dengan jam yang diterbangkan di ruang angkasa. Waktu bergerak lebih cepat dalam lengkungan yang bebas-gaya berat daripada ketika ia bergerak di atas permukaan bumi.

Ketika sampai pada geometri, intuisi dapat menggiring anda dengan sangat menyesatkan. Apa hubungannya semua ini dengan penciptaan jagad raya? Pertama, ia mengilustrasikan bahwa ide-ide seperti ‘ketakterhinggan’ harus digunakan secara cermat atau ide-ide itu kemungkinan tidak berarti. Kedua, ia membuktikan bahwa hasil-hasil yang diperoleh sering dipertentangkan intuisi dan akal sehat.

Apakah jagad raya memiliki ukuran tak terhingga? Jika tak terhingga, apakah sesuatu yang harus dikembangkannya? Ketakterhinggan dapat dinaikkan magnitudonya dan masih tetap pada ukuran yang sama. Tetapi problem-problem visualisasi muncul ketika kita memutar model ini mundur ke fase ‘telur kosmis, dengan permukaan yang tidak melampaui persoalannya. Sehingga telur-telur itu rusak.

Para ahli astronomi percaya bahwa dari suatu keadaan yang mengalami penyusutan secara tak terhingga, namun tak terbatas semacam itulah jagad raya mengalami ledakan.

Model lain jagad raya diusulkan Einstein tahun 1917. Ruang angkasa dapat memiliki volume yang terhingga, tetapi tanpa tepian atau tapal-batas. Bentuk itu disebut bulatan-hiper [hypersphere].