Archive for the Cerpen Category

Tepat Jam Dua!

Posted in Cerpen with tags , , , , , on Juni 8, 2012 by isepmalik

9 DESEMBER 1996. Jakarta hujan deras. Simpang empat Tugu Pancoran banjir. Airnya meluap memenuhi trotoar. Beberapa mobil dan motor yang terjebak, dibiarkan terbengkelai oleh pemiliknya. Tampak sebuah derek, sibuk menarik sedan mewah built up Jerman, ke selatan. Di tikungan jalan, mesin derek itu terbatuk-batuk, seperempat knalpotnya sudah terendam air. Hampir saja macet. Namun sejurus kemudian, melaju lagi.

Sedan hitam antipeluru itu kosong. Beberapa menit lalu, pengemudi dan dua penumpangnya dijemput sekelompok orang bermantel panjang, berhelm kaca, lalu dilarikan ke gedung perkantoran tidak jauh dari lokasi. Kedua penumpangnya, seorang lelaki paruh baya dan pemuda berambut sebahu, langsung dibawa ke helipad di atap gedung. Mereka diterbangkan helikopter menuju hotel bintang lima, di kawasan Sudirman.

Orang-orang yang ada di shelter bis kota tidak sempat memperhatikan seluruh kejadian itu. Pikiran mereka tersita oleh hujan, yang dirasa, begitu mendadak datangnya. Petir menyambar-nyambar. Halilintar menggelegar. Membelah langit Jakarta. Sayup-sayup di kejauhan terdengar bunyi ledakan. Ternyata, mobil derek dan sedan hitam tadi meledak! Jaraknya cuma 75 meter dari tikungan yang sempat dilewati.

“Cuaca yang sangat tidak bersahabat,” sapa seorang wanita muda. Tergopoh-gopoh. Menyambut lelaki dan pemuda itu, setelah helinya mendarat.

Lelaki itu tersenyum. Wanita cantik berseragam resmi dengan logo bulat kecil di krah baju kirinya itu segera mengiring jalan lelaki itu sambil memayunginya dengan payung besar. Pemuda yang bersamanya berlari kecil di belakang. Mereka bergegas melintasi atap bangunan hotel 25 lantai di jantung metropolitan Jakarta. Waktu menunjukkan pukul 12 siang. Suhu udara 20 derajat Celcius. Hujan masih mengganas.

“Sir, dua jam lagi manuskrip seluruh kegiatan agen di Asia Pasifik akan tiba. Kurir mengirim dari Subec dengan pesawat khusus. Mereka sudah berangkat setengah jam lalu,” wanita itu bicara panjang lebar, sesaat setelah mereka memasuki ruangan khusus, di sayap kanan hotel.

Orang yang dipanggil Sir mendengarkan secara seksama. Lalu ia memanggil pemuda tadi. Memintanya membuka kopor metal antipeluru yang ditentengnya. Mini laptop berwarna perak dikeluarkan. Juga beberapa keping CD. Ia menghidupkan laptop. “Son,” ujarnya kepada pemuda itu, “perjalanan kita tadi sedikit terganggu. Coba kontak kedutaan, kita ingin tahu siapa yang memesan detonator bom waktu dari pasar gelap pada minggu terakhir ini.”

Son keluar ruangan. Ia pindah ke ruang sebelah. Pemandangan Jakarta terlihat jelas. Stadion olahraga, gedung pencakar langit, dan jalanan macet jadi terlihat seperti sebuah lukisan modern art. Mereka memang menyewa salah satu apartemen di kondominium hotel tersebut. Dalam data administrasi, pekerjaan mereka: brooker bidang keuangan. Bekerja pada sebuah perusahaan finance multinasional di England. Fokus mereka adalah pengusaha nasional yang membutuhkan dana dari luar negeri. Pernah juga membantu pemerintah untuk mengurus dana dari Bank Dunia.

Son mengontak kedutaan dan meminta salah satu agennya datang ke lobi hotel. Dari kejauhan Son mengamati lebih detail kota Jakarta. Ia bisa memperkirakan asap yang membubung di balik gedung-gedung beton itu berasal dari sedan yang ditumpanginya tadi.

Pagi tadi, mereka melakukan perjalanan ke Bogor. Ada pertemuan kecil dengan beberapa pengusaha agrobisnis dan informan di sana. Satu-satunya kemungkinan detonator bom waktu ditempelkan ke bodi bawah sedan itu, pada saat ditinggalkan di pinggir jalan. Sopir terpaksa ikut mereka karena harus mengangkat beberapa peralatan elektronika yang diperlukan.

Mereka berjalan beberapa ratus meter menuju tanah kosong, tempat pertemuan dilangsungkan. Areal tanah seluas 20 hektare itu memang sangat ideal untuk dijadikan tempat bertukar informasi. Tinggal berjalan ke tengah, maka alat penyadap dari agen lain tidak berfungsi. Apalagi mereka juga menggunakan alat pengacak suara.

Alat sadap terbaru punya daya jangkau 200 meteran. Sementara titik pusat ngarai itu lebih dari 600 meter jaraknya dari jalan. Di samping arah angin tidak teratur, lokasinya memang terbuka. Tidak ada perdu atau pepohonan yang bisa dijadikan tempat persembunyian. Jadi, memang sebuah areal yang sangat terlindung.

Jika tidak di lokasi itu Son biasanya memilih pertemuan di tengah padang golf atau naik perahu sambil memancing di Kepulauan Seribu. Di kedua tempat itu, segala jenis alat sadap langsung blank.

Pemuda berusia 29 tahun itu kembali lagi ke ruang utama. Wanita tadi sudah tidak di sana. Son memberi tahu atasannya akan ke lobi menemui agen kedutaan. Lelaki berusia 70-an, tinggi kurus, berwajah tirus, berkacamata dan selalu membawa tongkat itu berdiri dan menepukkan tangannya ke bahu Son. Di meja, laptop dan kopor metal sudah tidak ada. Son memperkirakan, Jones, wanita berseragam itulah yang membawanya keluar. Son sedikit gelisah.

“Sir!” Son memperbaiki sikap berdirinya, saat lelaki itu berdiri tepat di hadapannya. Di tangan kanannya tergenggam sebuah compact disc. Ia menaik-turunkan tangan kanannya sambil melihat ke Son. Wajahnya yang biasa serius, terlihat galau. Dari sorot matanya tampak lelaki itu sedang berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa Son anak didiknya itu tidak mungkin melakukan pengkhianatan.

“Jangan cemas laptop tadi sudah kosong. Seluruh data ada di sini,” lelaki itu menaik-turunkan tangannya lagi.

“Son, kali ini kita tidak cuma mengumpulkan data. Siang nanti, tepat jam dua, kitalah yang akan mengambil manuskrip itu. Mendahului pihak kedutaan,” ujarnya.

Lelaki itu juga menambahkan, “Bravo itu mendarat di Soekarno-Hatta pada jam yang sama. Operasi ini sudah tercium pihak lain. Tujuh orang tidak dikenal akan ikut “menyambut” kedatangan agen kita.”

Son berusaha menyelami seluruh perintah atasannya itu. Ia cukup heran, soal bom sudah tidak disinggung lagi. Sebelum berlalu Son sempat melihat stempel merah tertempel pada CD. Stempel yang hanya dikeluarkan oleh duta besar.

“Izin turun, Sir…” Son memberi hormat sebelum beranjak pergi.

Lobi hotel itu tergolong luas. Kapasitasnya 200 orang. Son mengedarkan matanya ke sudut-sudut lobi. Ia tidak bisa berlama-lama. Waktunya tinggal sedikit. Ia harus sampai bandara, paling tidak 20 menit lebih awal. Saat ini ia masih punya waktu 110 menit. Perjalanan ke bandara lamanya satu jam. Itu pun kalau jalanan tidak macet. Sempat terlintas di benak Son untuk mengontak kedutaan dan request helikopter lagi. Namun niat itu ia urungkan.

Son menenangkan dirinya. Ia berdiri di dekat bar yang terletak di sisi kanan lobi pada koridor menuju toilet. Orang kedutaan yang dikontaknya belum terlihat batang hidungnya. “Jika 5 menit tidak muncul, aku segera ke bandara,” gumam Son.

Manuskrip yang akan diambil Son adalah manuskrip terlengkap. Isinya laporan kegiatan mata-mata di seluruh negara kawasan Asia-Pasifik. Laporan-laporan itu dikumpulkan selama 25 tahun. Lalu dipublikasikan secara terbatas.

Keterlibatan dinas rahasia asing dalam sebuah negara memang sudah bukan rahasia lagi. Kegiatan intelijen yang mereka lakukan jelas-jelas sudah terdeteksi oleh negara bersangkutan. Namun selama ini tidak pernah dapat dibuktikan. Di Indonesia, dinas rahasia asing malah terlibat langsung dalam revolusi fisik dan pembasmian ideologi komunis pada 1965.

Pada saat komunis runtuh –seiring Perestroika dan Glas Nost yang dicanangkan Gorbachev di USSR (sekarang Rusia), maka adu kekuatan dan perebutan pengaruh dengan negara adidaya Amerika mengendur untuk beberapa saat. Perang intelijen di seluruh dunia, yang lebih dikenal sebagai perang dingin AS-Rusia, diperkirakan bakal berakhir. Di atas kertas, perang itu memang sudah berakhir. Namun dalam kehidupan politik sehari-hari segala sesuatunya masih berjalan seperti pada hari-hari kemarin.

Son tidak bisa menebak kenapa dinas rahasia menginginkan manuskrip itu. Andaikata jatuh ke tangan kedutaan pun toh besoknya juga akan dipublikasikan di media massa. Ia memang pernah mendengar rencana restrukturisasi negara-negara di kawasan Asia Timur dan Tenggara. Tapi fokus operasi hanya pada daya perekonomian masing-masing negara. Dinas rahasia tidak terlibat langsung. Pusat sudah memakai seorang spekulan besar, ahli bursa saham, berkebangsaan Yahudi untuk “memainkan” Wall Street-New York. Juga bursa efek lain seperti Hang Seng (Hongkong), Nikkei (Jepang), Jakarta, dan Tiongkok. Dan, memang terbukti, mata uang masing-masing negara akhirnya anjlok.

“Apakah rezim yang sudah berkuasa sampai enam kali pemilu ini masih terlalu kuat,” batin Son.

Ia sempat berpikir. Operasi hari ini adalah operasi terbesar pada sebuah negara. Dalam arti: sebuah operasi untuk menggulingkan kepala negara! Seluruh formulasi yang harus dijalankan mungkin saja sudah tertuang pada manuskrip yang akan dijemputnya jam dua nanti. Son tahu, tidak mungkin dinas rahasia merekayasa sebuah kudeta berdarah. Risikonya terlalu besar. Bisa-bisa mereka berurusan dengan Badan Amnesti Internasional.

Dengan cara apa pusat merealisasikan rencana penggulingan itu?

Son meninggalkan lobi hotel. Ia menganggap agen kedutaan batal datang. Sampai akhirnya ada yang menepuk bahu kirinya. Son sedikit terkejut. Sopir sedan tadi sudah berjalan di sampingnya. “Tidak ada yang memesan bahan peledak dalam minggu ini,” ujar sopir berkebangsaan Indonesia itu.

Son betul-betul terkejut. Tidak mungkin pusat menggunakan “orang luar” sebagai agen resmi. Apalagi untuk hal-hal penting seperti pasar gelap senjata dan bahan peledak. Dan, bahkan, sampai terlibat penuh dalam setiap perjalanan kedinasan. Sopir itu berjalan cepat.

“Kita harus sampai bandara 20 menit sebelum pesawat itu mendarat…,” ujar sopir itu lagi.

Son betul-betul sudah kehilangan akal sehatnya.
“Who are you?!”
“Teman,” jawab sopir itu singkat.

Langit Jakarta mulai bercahaya. Hujan sudah berhenti. Kedua orang itu mengendarai jip Cherokee dengan kecepatan tinggi menuju Bundaran HI. Lalu belok ke kiri, masuk Hotel Indonesia. Son meyakinkan dirinya, ia ada di jalan yang benar. Atasannya memang sangat terselubung jika memberi perintah-perintah penting. Seluruh peristiwa yang terjadi dianggap Son sebagai bagian teka-teki intelijen yang harus dipecahkan. Yang tidak dimengerti Son, kenapa tugas besar ini dipikulnya sendirian?

Jip diparkir di basement. Mereka berlari kecil menaiki anak tangga khusus karyawan, lalu pindah ke lift. Beberapa karyawan yang berpapasan keheranan melihat perilaku mereka. Son mengedarkan senyumnya. Mereka naik ke helipad di atap HI.

“Nice to meet you, Sir,” pilot heli menyampaikan salamnya. Son jadi jengah karena pilot itu Jones! Masih dalam atribut resmi. Jones tersenyum manis sekali.

Waktu menunjukkan pukul 13.30 ketika mereka tiba di bandara. Jones melakukan beberapa kontak dengan petugas tower. Heli itu sudah memiliki tempat parkir khusus di Soekarno-Hatta, terdaftar atas nama seorang pengusaha minyak. Satu pesawat kecil jenis Cesna sudah parkir terlebih dulu di sebelahnya. Jones memberi kode kepada pilot Cesna yang masih duduk di cockpit. Son dan sopir itu memperbaiki duduknya. Pintu heli dibuka agar tidak memancing kecurigaan petugas bandara.

Tepat jam dua! Bravo hitam mendarat. Lima meter jaraknya dari mereka. Jones dan Son bergegas turun. Sopir tadi pindah ke cockpit. Jones berdiri tegap. Menunggu pintu dibuka. Agen itu turun. Jones memberi hormat dan menyampaikan beberapa kata sandi. Manuskrip yang diberi pelindung kotak metal itu pun diserahkan kepada Jones. Jones menyerahkannya lagi kepada Son. Mereka pun berpisah. Jones naik ke Bravo, mengambil alih kemudi. Agen itu duduk di belakangnya. Semua terkesan lancar. Bravo kembali mengangkasa.

Son berbalik. Menuju heli yang tadi mengantarnya. Tiba-tiba dua orang menyergapnya, membawanya ke Cesna. Son tidak melawan. Dari kejauhan, beberapa orang berlarian, mengejar mereka sambil menembaki Son. Tampak juga trailer kargo datang dengan kecepatan tinggi ke arah mereka. Peluru berdesingan. Badan helikopter itu jadi sasaran tembak. Sopir tadi segera menghidupkan mesin heli, namun baling-balingnya tidak mau berputar. Tujuh orang yang memburu mereka jaraknya semakin dekat. Tapi Son berhasil diselamatkan. Sudah masuk ke kabin Cesna.

Mereka segera memacu pesawat itu di landasan. Beberapa menit kemudian melesat ke angkasa. Menikung di langit, 48 derajat ke barat. Son memantau dengan teleskopnya. Sopir tadi akhirnya dipaksa turun dari heli, digelandang oleh pengejarnya. Sopir itu ditembak, dimasukkan ke salah satu kotak, di trailer kargo. Mereka pun lari berhamburan.

Matahari Jakarta bersinar menyilaukan. Son membuka kotak metal itu, memasukkan manuskrip ke laptop yang dibawanya. Seluruh data digandakan. Sekilas terlihat laporan mata-mata di Indonesia. Di situ terpampang tulisan dengan berbagai sandi. Di akhir kalimat tercantum perintah singkat: Reformasi.

Cerpen: Antoni
Sumber: Jawa Pos,  Edisi 03/12/2006

Iklan

Pencopet Tertipu

Posted in Cerpen with tags , , , , , on Mei 4, 2012 by isepmalik

Siang itu begitu terik, langit bersih tak berawan. Gunung Salak di kejauhan sana berdiri tegak, biru menjulang tanpa kabut. Udara semakin kering dan kotor oleh semburan asap knalpot angkot-angkot yang ngetem di mulut jalan menuju Stasiun Bogor. Trotoar dikiri-kanan jalan sempit dan pengap dengan lapak-lapak pedagang kaki lima.

Salah satu lapak yang menjual VCD bajakan memutarkan lagu-lagu dangdut lengkap dengan tarian erotis dari sebuah layar televisi 21 inchi yang dapat dilihat oleh siapa saja. Suara kendang menghentak-hentak disambut dengan lengkingan keras sang biduanita.

“Dompet lo bagus Din!” ujar Wanta.

Udin mengeluarkan beberapa lembar uang ribuan dari dompet itu untuk membayar makan siangnya.

“Ah, tahu aja barang bagus.”

“Coba gue lihat.”

Udin mengulurkan dompetnya.

“Ini sih dompet cewek. Kenapa lo pake?”

“Itu buat Si Midah.” Ada kebanggaan terpancar dari kerlingan Udin yang nakal. Sejenak pikirannya melayang membayangkan gadis bertubuh sintal, putri penjual pecel lele yang mangkal di samping tukang buah, di sebelah kanan stasiun.

“Ah, bisa aja lo. Masih ngebet juga sama perempuan galak itu!” Wanta menyenggol perut Udin dengan sikunya. Mereka keluar dari kedai Mak Itam sambil tertawa keras, perut buncit, kekenyangan.

“Eh, apaan nih?” Mata Wanta terbeliak mendapati sebuah kartu di dompet itu dan langsung di tariknya.

“Ini kan kartu anggota,” ujarnya, wajah Wanta berkerut-kerut diliputi kekhawatiran. “Sialan lo Din, nyopet anggota. Bisa apes kita. Jangan-jangan ini punya Warsiah.”

“Mana gue tahu Bang, gue cuma nyopet orang-orang yang meleng. Lagian kan dompet ini udah dikumpulin waktu kita bagi hasil di kontrakkannya Johan. Abang sendiri yang ngambilin duitnya.”

“Iye gue inget. Tapi harusnya dompet punya anggota kita kudu balikin lagi. Trus kita juga kudu minta maaf.” Ya, itu sudah jadi peraturan mereka, mereka boleh mencopet siapa saja kecuali anggota.

“Lha waktu gue copet, dia nggak pake seragam, polisi apa tentara…”

“Dasar goblok lo Din, dompet ini pasti punya istrinya. Liat nih kartunya.” Kali ini matanya melotot, membaca sebuah nama yang tertulis di kartu, ‘Warsiah’, istri perwira polisi militer.

Udin mengeja tulisan-tulisan kecil yang Wanta tunjukkan di dalam hati. Dia kesulitan membaca. Kelas Satu SD, dia sudah harus meninggalkan sekolah. Dulu bapaknya pergi dan tak pernah kembali lagi. Emak sakit dan meninggal tak lama kemudian. Udin terpaksa hidup menggelandang sampai dia bertemu dengan Wanta yang memberinya ‘pekerjaan’.

“Bangsat lo Din, lo udah nipu kita.”

“Nipu apaan Bang?”

“Isi dompet ini! Bilang yang jujur, berapa isinya?”

“Ya, kayak yang abang ambil kemaren. Cuman selembar limapuluh ribuan trus sisanya recehan.”

“Nipu lagi lo ye! Komandan besar bilang isinya sekitar dua ratus lima puluh ribu. Hayo sisanya lo kemanain? Lo pasti ambil buat diri lo sendiri. Kelewatan lo Din. Kalo ada apa-apa juga gue yang nanggung. Kalo lo ketangkep polisi, siapa yang ngeluarin? Ayo jawab!” Tunjuk Wanta tepat di hidung Udin. Tatapan matanya yang tajam semakin bengis. “Dasar pengkhianat lo! Pokoknya lo kudu ganti sendiri uang istri teman komandan besar itu.” Wanta mengancam.

Udin hanya mendesah, kecewa. Selama ini dia selalu jujur. Tak pernah dia membuka dompet korbannya sebelum menyerahkannya kepada Wanta, saat mereka berkumpul untuk berbagi hasil. Tetapi siapa yang bisa mempercayai kejujuran seorang pencopet jika tidak kawan-kawannya sendiri.

“Sumpah Bang gue nggak bohong, nggak nipu Abang. Isi dompet itu nggak lebih dari itu.”

“Gue nggak mau tahu!” Wanta berkata setengah berteriak, lalu tubuhnya menghilang di tengah keramaian orang yang baru keluar dari stasiun.

* * *

Tubuh Udin yang kurus rapuh terbungkus jaket kulit yang berlubang-lubang di bagian krah dan sikunya. Kumal, dilekati keringat dan tak tercuci selama menjadi miliknya. Mata keruhnya memandang liar, tetapi semua yang ada dihadapannya tampak samar. Rambut gimbalnya ditiup angin yang membawa debu. Dia seperti seonggok sampah di trotoar yang nyaris tak tersisa oleh pedagang kaki lima. Hiruk-pikuk disekelilingnya terasa bagai sebuah kesunyian. Kepalanya terasa berat. Dia tidak sedang mabuk, tetapi mengapa jiwanya menginggalkannya, terbang.

Ingin rasanya dia kembali lagi menjadi gurandil di bukit pongkor. Uangnya melimpah di sana, tetapi nyawa taruhannya. Tetapi bukankah dia sudah berjanji kepada ririnya sendiri untuk tidak lagi kembali kesana?! Dia pernah hampir mati tertimbun tanah longsor di lubang galian. Lagi pula masa keemasan bukit pongkor telah meredup. Banyak gurandil yang meninggalkan tempat itu. Emas yang mereka peroleh tidak lagi sebanding dengan resiko yang mereka terima. Kematian mengintai setiap saat.

Serta merta dia berdiri, ditendangnya sebuah batu kecil. “Bangsat!” bisiknya penuh geram. Telapak kakinya terasa sangat panas. Sepatu kulitnya sudah sangat usang. Solnya tipis sekali. Sudah beberapa tahun dia tidak menggantinya. Benar-benar sepatu tak berguna! Ujung jempol kirinya dapat mengintip keluar. Kalau hujan pun air akan mudah masuk dan terjebak di dalamnya.

Batu itu melayang ringan mengenai kepala si penjual pigura. Tak jauh dari kolam yang ditengahnya berdiri patung Kapten Muslihat. Dia meringis menahan sakit. Dengan sorot penuh kebencian, matanya beredar mencari asal batu itu, tertumbuk pada mata Udin yang menatapnya, bengis! Dia segera memalingkan muka. Tak ingin berurusan dengan si pemilik mata keruh yang masih menyisakan kegarangannya.

“Konyol juga, mengapa batu itu bisa mendarat mulus di kepalanya?” batin Udin. Raut wajahnya membersitkan kepuasan. Hanya sesaat. Wajahnya kembali muram, mengingat apa yang harus ditebusnya esok hari.

Udin merasa tertipu. Bisa-bisanya Komandan besar atau mugkin korbannya menggelembungkan isi dompet yang sesungguhnya. Bah, Udin benci mengingatnya. Ludah yang baru saja ditelannya menyisakan pahit yang panjang di kerongkongannya. Padahal dia yakin betul isi dompet itu tidak lebih dari selembar uang limapuluh ribuan ditambah beberapa lembar recehan seribuan. Wanta sendiri yang mengeluarkannya dari dompet. Lagi pula merngapa baru kemarin wanta menyadai keberadaan kartu anggota itu di dalam dompet. Mengapa tidak saat mereka berbagi hasil saja. Pasti tidak akan seruwet ini jadinya. Kalau tahu dompet itu hanya akan membawa sial, udin tidak akan memungutnya kembali dari tempat sampah.

Nasib sial itu berawal setelah pertemuan mereka di suatu siang di WC umum yang berada di sudut kios, di belakang rel kereta api.

“Kalian pasti kelompok copet di tempat ini. Sudah lama kalian kami cari-cari. Meresahkan masyarakat. Ayo angkat tangan!” gertak seorang pria tinggi besar yang sangat mudah dikenali identitasnya dari pakaiannya, seorang Polisi Militer.

Wanta, Udin dan komplotannya sedang berbagi hasil dengan segepok lembaran uang kertas di tangan. Beberapa dompet tercampak di tempat sampah yang lembab bercampur dengan kertas tisu dan sampah lainnya. Mata PM itu sempat melirik ke sana. Mulutnya menyunggingkan senyum kemenangan. Sesungguhnya tanpa menggertak pun kehadirannya sudah membuat mereka pucat dan gemetaran.

“Wah jangan gitu Pak, damai sajalah.” Wanta mengusulkan. Mereka memang berlima, tetapi tubuh mereka yang penuh tato kurus-kurus, kurang makan dan lebih banyak menenggak minuman yang memabukkan. “Kita bagi hasil sajalah.” Rayunya lagi dengan mata sayu namun penuh harap.

“Berapa bagianku?” tanya PM itu, matanya menyipit. Mengira-ngira perolehan mereka.

“Bagaimana kalau lima puluh?”

“Tidak!” katanya tegas. Menurut perkiraannya pendapatan mereka jauh lebih besar dari itu.

“Seratus?”

Si PM menggelang. Bibirnya mencibir.

Mereka terpaksa mengumpulkan kembali uang yang telah terbagi. Menghitung ulang. Seratus lima puluh ribu untuk PM itu dan sisanya tiga ratus ribu, mereka bagi berlima. Mereka berdamai dengan sebuah kesepakatan tambahan untuk terus mengirim upeti kepadanya jika tidak mereka harus siap masuk bui. Sejak itu Sang PM selalu dipanggil dengan komandan besar.

Udin melangkah gontai meninggalkan tempatnya berdiri. Pandangannya menjadi liar mengitari orang-orang yang berlalu lalang. Hari ini benar-benar apes baginya. ‘Operasinya’ hanya menghasilkan dompet murahan yang dia ambil dari saku belakang celana jeans seorang wanita cantik berbokong padat. Mangsa-mangsa yang diincarnya hari ini terlampau waspada.

Dia memberanikan diri untuk mencoba lagi. Sambil berjalan cepat dari arah belakang, dia sengaja menyenggol bahu seorang wanita bertubuh kurus. Untuk beberapa saat tubuh wanita itu oleng ke kiri. Kesempatan itu tidak dia sia-siakan. Ditariknya kuat-kuat tas tangan dari bahu wanita itu. Wanita itu tampak gugup tapi cepat menyadari, lalu tarik-menarikpun terjadi. “Kembalikan tasku!” serunya.

Wajah Udin yang seram disertai dengan sorot matanya yang garang dan tajam menyeramkan, menatap wanita itu, mengancamnya untuk diam tanpa suara. Tetapi wanita itu malah berteriak lantang, “Copeettt”

Mendengar itu, Udin segera lari menyelamatkan diri sebelum berhasil membawa tas tangan korban terakhirnya. Dia tidak ingin masa yang marah menangkapnya, menghajarnya hingga babak belur, atau membakarnya hidup-hidup. Seperti yang dialami Itong. ‘Penghukum’ yang lebih haus dari aparat itu seperti dihamburkan dari segala penjuru, mengejarnya. Dalam keadaan yang sangat kalut, dia dapat menemukan gang sempit, dan menyelinap kedalamnya. “Matilah gue!” Pikirnya putus asa jika mereka menemukannya di tempat itu.

Menjelang gelap, Udin baru berani keluar dari tempat persembunyiannya.Di kontrakan Johan, rumah petak berdinding bambu tak jauh dari pasar dan rel kereta api, dia menemui kawan-kawannya. Siap menerima caci maki mereka yang pasti telah menuduhnya sebagai pengkhianat.

Setelah terjadi perseteruan panjang, Wito memutuskan untuk mengembalikan seluruh uang milik istri teman komandan besar berikut dompetnya meski hari ini Udin tidak menghasilkan sepeserpun. Dompet murahan itu hanya berisi secarik kertas yang bertuliskan, “Kapok Loe. Ambil nih semua! Dasar copet goblok!” Wanta nyengir membacanya. “Dia menipu kita rupanya,” gumammnya.

Wanta tetap bersikeras, Udin telah menipu mereka. Karena itu Udin berhutang sebanyak dua ratus ribu kepadanya.

* * *

Komandan besar masih menikmati upeti dari kawanan pencopet itu. Ketika dia menjamu teman-temannya di restoran pinggir kota, dia berkata dengan bangga, “Semua ini hanya karena aku kepengen kencing di WC umum itu. Pokoknya kalau ada kawan-kawan kita yang kecopetan lagi di sekitar Taman Topi, bilang saja kepadaku, pasti kembali uangnya bahkan bisa dua kali lipat bahkan lebih!” Mereka tertawa terbahak-bahak. Asap rokok mengepul, sisa-sia makanan berserakan di piring-piring makan. Mereka terus berkelakar dengan suara-suara keras.

Depok, 28 Juli 2004

Cerpen: Dyah Wahyuningsih

Sumber: Suara Karya, Edisi 03/05/2006

 

Gurandil : sebutan untuk penambang emas liar di Bukit Pongkor

Perempuan di Bangku Halte

Posted in Cerpen with tags , , , , , on Mei 1, 2012 by isepmalik

JALANAN sepi dan basah, kawan. Tetapi, lampu-lampu jalanan kiranya masih menyala kala itu, sehingga paras pucat perempuan itu sempat tertangkap meski tidak terlalu jelas lantaran cahaya lampu terhalang ranting akasia. Hujan sudah selesai, tetapi udara tentu saja sangat dingin. Tanpa hujan pun udara malam tetap dingin, bukan? Maafkan kalau aku kelihatan sok tahu, kawan. Kau tentu boleh tak setuju dengan bermacam ungkapan atau perumpamaan yang kubuat dalam menceritakaan semua ini.

Ia meletakkan bokongnya di bangku halte dengan cemas yang deras menggerayangi perasaannya. Jemari tangannya yang lentik terawat meremas-remas sapu tangan basah yang digunakan untuk menyeka wajah dan rambutnya. Sebuah tas kecil terbuat dari kulit berwarna cokelat talinya masih nyangkol di bahu, dikempit ketiaknya. Kopor hitam didekap kedua lututnya yang gemetar. Cahaya temaram menyembunyikan tubuhnya yang menggigil dibungkus jaket dan kaus hitam ketat. Kecemasan makin deras, sukar dibendung. Ia sering mengalami kecemasan. Tapi kali ini baru dialami sepanjang hidupnya.

Ia urung membakar sisa rokok yang tinggal sebatang-batangnya. Dimasukkannya kembali rokok itu ke dalam saku jaket. Taksi yang diharapkan lewat dan membawanya pergi dari tempat itu tak juga muncul. Udara dingin terasa semakin menghisap tenaga dan denyut nadinya serupa terik matahari menghisap embun di pagi hari. Ia meraba dadanya, seakan mengukur kemampuannya bertahan.

Di langit, bulan direnggut lapisan awan tebal. Sisa hujan menggenang di jalan berlubang, sesekali berkilau tersiram cahaya lampu. Tak ada suara angin atau gonggongan anjing. Hanya sesekali, lamat, suara kersik daun kering yang putus dari tangkainya melayang tenang sebelum hinggap di badan jalan yang betul-betul lengang seperti kuburan.

Ia mengutuk peristiwa demi peristiwa yang dialaminya. Bukan hanya rentetan peristiwa yang beberapa jam lalu dilewatinya. Melainkan terutama peristiwa yang dialami masa kanak dan remajanya yang singkat dan muram. Ia meremas sapu tangan seakan meremas kecemasan yang terus menjalar dan menggerogoti lapis demi lapis ketegaran yang sekian lama dipupuknya. Dengan ragu-ragu dirogohnya saku jaket, mencari-cari rokok yang tadi tak jadi disulut. Ujung jemarinya menyentuh tembakau yang terburai dari kertasnya yang koyak karena gesekan dan saku jaket yang lembab.

Dibakarnya batang rokok yang koyak separo, lantas disedotnya setengah hati. Ia membuang ludah kental yang terasa pahit di lidahnya. Tenggorokannya bagai terbakar, panas dan perih. Di telinganya suara nyamuk berdenging, menggigit kulitnya yang halus dan masih menyisakan harum. Tak ada kunang-kunang, membuat malam sungguh-sungguh kelam.

Pandangannya terus menyorot ke kanan sampai lehernya pegal; arah dari mana dirinya muncul tersaruk menyeret kopor. Ketegangan menyerang tubuhnya. Ia merasakan urat-urat lehernya menegang dan kaku. Taksi yang ditunggunya tak pernah muncul. Jalan itu memang tak dilintasi taksi apalagi di malam sepi dan dingin sehabis hujan seperti itu. Ia lupa, bahkan ojek pun tak berani melintas di sana. Baru kali ini ia linglung dan kehilangan akal apa yang harus diperbuatnya.

Ia mengetatkan dan menaikkan krah jaketnya, mencoba menghalau dingin. Tapi dingin tak bisa dihalau, ia telah bersekutu dengan malam dan sepi, mengundang kenangan yang berdiam dalam ingatannya. Ia serasa mendengar umpatan Papa. Mendengar jeritan mama dan Alen, kakak sulungnya. Mereka berkelebatan mengurung matanya ke mana pun dibenturkan. Ia tidak pernah menemukan tempat yang benar-benar mampu menjauhkan ingatannya dari mereka dan seluruh peristiwa yang membuatnya membenci mereka. Mama dan papa seingatnya tak pernah bertemu kecuali untuk saling menumpahkan caci maki. Tak pernah dilihatnya mereka duduk bersama, bercengkerama apalagi secara mesra mengulurkan tangan untuk dicium saat dirinya berangkat sekolah.

Ia dapat mendengar dengan jelas suara tangan papa menggampar pipi mama disertai bentakan, lantas lengkingan Mama yang membuatnya terhenyak malam-malam. Disusul denting gelas dan cangkir beterbangan menghantam dinding. Kak Alen tak pernah pulang kecuali dalam keadaan mabuk dan dipeluk seorang perempuan seusia mama. Mereka berdekapan sepanjang malam dengan pakaian separuh tanggal sambil mendesiskan suara-suara yang membuatnya mau muntah. Ia sendiri menggigil di balik pintu kamarnya. Adiknya, Riko, yang menderita autis pulas dalam pelukan Tante Noah di kamar.

Ia tahu, Rikolah yang menjadi pangkal pertengkaran mereka. Papa menuduh Riko anak hasil perselingkuhan mama dengan pemuda-pemuda yang suka nongkrong di mal; bukan anak dari benihnya. Sebaliknya, Mama yakin Papa yang sering keluyuran malam dan bergonta-ganti pasangan yang menyebabkan Riko terlahir cacat.

Batang rokok terakhir sudah habis. Puntungnya yang masih mengepulkan asap tanpa sadar diremasnya. Sesaat ia menjerit dan terperanjat karena panas. Perlahan udara bergerak dari arah selatan tanpa suara. Wajahnya menegang lagi seperti ada anak-anak yang menariknya. Suasana makin hening. Gemeretak giginya terdengar nyaring. Ia melepas tas dari pundaknya kemudian dipeluknya. Meletakkan pipi di atasnya.

Seperti yang dilakukannya saat hatinya tiba-tiba perih direnggut rindu pada mama.

“Kamu kenapa, Revi?” tanya teman laki-lakinya melihat ia murung.

“Tidak apa-apa, Roni,” jawabnya seraya menatap mata laki-laki itu.

“Kamu masih tak mempercayai aku? Hmm.”

“Tidak. Kamu jangan sentimentil, Roni.”

Laki-laki itu pacarnya. Ia tidak pernah mencintai seseorang seperti ia mencintai laki-laki itu. Laki-laki yang mula-mula datang ke salonnya, menyerahkan penanganan urusan rambut. Laki-laki itu ketagihan pijatannya yang enak. Pelayanannya yang serba lembut dan menyentuh membuatnya berlanggan setiap pekan. Tentu tidak terbatas pada urusan rambut, melainkan juga perawatan kulit dan wajah. Pria metroseksual, kata orang-orang. Ia suka menatap lekat-lekat rahangnya yang kukuh, dagunya yang selalu kebiruan. Ia terpesona pada gaya berbicara dan terutama suaranya yang basah dan terdengar mendesah. Maka usai dengan urusan rambut, biasanya laki-laki itu berlama-lama duduk di sana sampai malam larut oleh embun, mengobrolkan entah apa dengannya.

“Kenapa kamu memilih hidup seperti ini?” Demikian laki-laki itu pernah bertanya.

“Kenapa?” Perempuan itu balik bertanya.

Pengin dengar ceritanya.”

“Buat apa?”

“Namamu bagus.”

“Ah.”

“Bukan nama pemberian orangtuamu, kukira.”

Obrolan-obrolan serupa itu berlanjut terus setiap laki-laki itu datang. Berceritalah dia tentang kebenciannya pada mama, papa, dan Kak Alen, juga rasa iba tak terkira pada kondisi Riko. Tetapi, terutama pada peristiwa demi peristiwa yang membuatnya membenci mereka semua.

“Itu yang membuat kamu memilih begini?”

Perempuan itu tak menjawab. Ia teringat pada keputusan besarnya: mengkastrasi kelaminnya, merubahnya menjadi vagina. Ia yakin benar kekeliruan itu harus diluruskan, bukan karena kebenciannya pada papa, mama dan Kak Alen yang tak pernah mempedulikannya. Tuhan pun bisa saja melakukan kekeliruan, bukan? Bukankah Tuhan maha bisa?

“Apakah salah.”

Laki-laki itu tidak menjawab. Ia sendiri tak merasa memerlukan jawaban sebagaimana ia juga tidak perlu tahu sungguhkah Roni mencintainya? Disimpan saja keraguannya itu. Ia berharap Roni sungguh-sungguh.

“Aku laki-laki, bukankah kamu perempuan?” ujar laki-laki itu seakan mengerti perasaannya.

“Hmm, aku bahagia. Tapi tidakkah ini.”

Ia menepuk-nepuk telapak tangannya, membersihkan debu puntung rokok. Menelan ludahnya yang panas bagai lahar membakar lidah dan tenggorokan. Langit makin pekat. Selembar daun akasia jatuh tepat di pangkuannya. Seekor kucing tiba-tiba mendekat dan menyentuh-nyentuhkan tubuh ke kakinya. Di langit lapisan awan tebal tak menyisakan kerlip gemintang. Kenangan pelariannya dari rumah, mencuri semua perhiasan mama mendadak membayang lebih jelas. Seperti baru kemarin dia meninggalkan rumah yang dikutuknya bagai kamp penyiksaan bagi jiwanya.

Dengan percaya diri ia menjual semua perhiasan mama untuk menyewa ruko dan memulai usaha membuka salon. Ia adalah seseorang yang ulet, terbukti salon yang dikelolanya tak pernah sepi pelanggan. Ia tidak perlu menjadi pengamen atau berdiri malam-malam di perempatan jalan mengadang lelaki dungu yang tersesat; seperti kebanyakan kawan-kawannya.

Rupanya mama masih hidup, ia mendengar kabar mama masuk rumah sakit. Perempuan itu tak mengenalinya ketika ia menjenguknya di rumah sakit. Wajah mama nampak begitu pucat dan renta.

“Siapa kamu?” tanya Tante Noah yang menjaga mama. Ia merasa tak perlu menjelaskan dirinya pada siapa pun. Ia hanya berkata supaya mama dijaga, lantas pergi meninggalkan sekeranjang bunga dan buah-buahan. Sayup-sayup ia mendengar teriakan Tante Noah memanggilnya, Rava, Rava. Sesunggguhnya ia ingin menghentikan langkah dan berbalik menemui mereka. Tapi, keberaniannya tiba-tiba menguap entah ke mana.

Ia menelan ludah. Lamat didengarnya suara roda gerobak bakso yang didorong tergesa. Ia menggeser duduknya, mengangkat wajah melihat tukang bakso makin mendekat, dan melintas tanpa menoleh ke arahnya.

Bertahun-tahun ia tak pernah pulang. Berusaha melupakan mama, papa, Kak Alen, Riko, dan semua impitan peristiwa masa kanaknya. Namun, sering gagal. Semuanya selalu menguntit ingatannya. Setahun setelah peristiwa di rumah sakit, ia mendengar kabar mama meninggal. Kak Alen mengalami stres berkepanjangan, dan Riko dibuang Tante Noah ke rumah panti anak-anak cacat. Papa entah ke mana.

Ia memejamkan matanya, berusaha membebaskan diri impitan ingatannya. Tetapi, peristiwa lain yang menyeretnya ke tempat ini menyerbu kepalanya. Ia telah membunuh Roni dan memotong-motong mayatnya. Ia tidak tahu segalanya tiba-tiba terjadi seperti takdir yang tak dapat ditolak. Ia masih sempat bersiul saat melangkah pelan menyusuri karpet lorong hotel. Demikian pula ketika tiba di salonnya, dan melihat Roni sudah berdiri di sana sambil berkacak pinggang. “Mulai malam ini, jangan campuri urusanku, waria haram jadah!” Bentak Roni sebelum berlangsung peristiwa itu.

Ia menyeret Roni ke kamar, lalu dibantingnya di sana. Laki-laki itu dengan cepat bangkit menjambak rambutnya, mencekiknya, menampar kedua pipinya sangat keras, sampai bibirnya pecah. Ia limbung beberapa saat sebelum tersungkur. Didengarnya Roni memaki-maki dengan kata-kata kasar dan kotor yang melukai perasaannya. Maka susah payah ia bangun, kemudian meraih gunting di meja hias dan menusukkannya berkali-kali ke dada laki-laki itu. Setelah menyeka muncratan darah di mukanya, ia meraih pedang panjang yang selama ini menjadi hiasan di dinding. Dengan kalap memotong-motong mayat lelaki itu menjadi beberapa bagian.

Malam sudah melewati separo perjalanannya. Perempuan itu masih di duduk di bangku halte. Mengutuk perasaannya sendiri yang begitu sentimentil. Kini ia teringat Santi, sekretarisnya yang setia dan melaporkan perselingkuhan Roni dengan penari bar di sebuah hotel. Ia memintanya tidak mengikuti dirinya, “Pergilah, Santi, jangan ikuti aku. Bawalah uang ini untuk bekal. Pergilah sejauh-jauhnya dari kota ini. Semoga semuanya akan baik-baik saja. Biar aku pergi menyusuri jalan ini sendiri. Sebab, aku belum tahu tempat mana yang akan kutuju.”

Hatinya bagai teriris melihat punggung Santi terguncang dan lesap dalam temaram lampu membawa tangisnya yang mencekam.

Hujan turun lagi. Tiba-tiba ia merasa dirinya begitu tua, lelah, dan teraniaya. Kepalanya tak kuat lagi disesaki peristiwa demi peristiwa penuh kepalsuan dan kekerasan. Tak sanggup lagi membayangkan keluarga bahagia. Menata rambut para pelanggannya yang setia. Hidupnya terlalu sesak dengan keperihan, tak ada tempat bahkan untuk kisah cinta yang paling iseng dan sederhana. Maka, tak ada lagi alasan untuk pergi dari situ. Begitu ia akhirnya memutuskan. Biarlah besok sekawanan polisi menggiringnya ke penjara. Biarlah penjara menggenapkan takdir suram yang harus kujalani.

Balai Budaya Tangerang, 23 Juli 2005

Cerpen: Aris Kurniawan

Sumber: Lampung post, Edisi 03/19/2006

Bus Nomor 211

Posted in Cerpen with tags , , , , , on April 29, 2012 by isepmalik

Sudah dua musim, setiap pagi, dua perempuan muda itu, selalu duduk bersebelahan, di kursi paling belakang bus nomor 211. Kali ini perempuan tinggi berhidung jangkung, rambut warna madu yang diekor kuda, dan mata biru itu duduk di tepi jendela. Kemarin, perempuan berambut hitam pendek, kulit coklat, dengan tinggi perempuan Asia itu, duduk di sana. Tampaknya tergantung siapa yang duluan tiba di bus untuk duduk di sebelah mana.

Penumpang bus nomor 211 yang berangkat pukul tujuh lima belas menit itu, selalu sama setiap hari, meski tujuannya berbeda. Mereka mengenal satu sama lain, tapi beberapa saja yang suka berbasa-basi, paling tidak, tentang cuaca, yang berubah secara cepat. Kecuali dua perempuan muda itu yang suka bicara tentang apa saja, seingat mereka, sesuka mereka.

Bus bergerak menuju pusat kota, menyusuri jalanan desa, melewati rumah-rumah yang mulai menyalakan penghangat. Asap yang mengepul dari cerobong larut dalam udara lepas awal musim gugur.

”Aku mau pulang ke negeriku selepas musim gugur.” kata Helena, perempuan berambut ekor kuda, memaku pandangan ke luar jendela, ke jajaran pohon maple yang daunnya merah menyala, pertanda mengandung banyak gula, yang sebentar lagi, mau tidak mau, rontok, menyatu dengan bumi yang berangsur menjadi dingin. Sebab tak cukup panas matahari untuk para daun bertahan di dahan dan ranting.

”Selamanya, sementara? ” Sadrah, teman sebelahnya, bertanya. Helena menarik-narik rambutnya. ”Belum tahu. Aku hanya ingin pulang. Belum semua tentangku aku ceritakan padamu, ya?”

Irene, sarjana pendidikan. Setelah komunis tak lagi berkuasa di negerinya, ia membuka Taman Kanak-kanak, memanfaatkan tanah kosong orangtuanya di kota kecamatan. Ada 50 anak-anak yang masuk sekolahnya. Ia bisa bicara bahasa, Inggris, Jerman, Rumania, Prancis, dan Rusia.

Bersama keluarganya, ia membuka warung kopi dengan kue-kue yang semuanya dibubuhi apel. Katanya, banyak orang menanam apel di halaman rumah, bosan jika hanya dimakan begitu saja. Di halaman rumahnya ada enam pohon apel Mcintosh, yang setiap panen bisa berbuah 150 biji sepohonnya. Apel merah dengan sedikit saputan hijau ini manis dan renyah, bagus untuk campuran kue-kue. Awet pula disimpan seusai panen, yang biasanya terjadi awal hingga akhir musim gugur.

Pagi dan sore warungnya ramai dikunjungi pembeli, yang suka minum kopi dan kue sambil ngobrol apa saja, berjam-jam. Bicara menjadi kegemaran mereka terbaru, setelah bertahun-tahun dipaksa diam. Jika pun bicara berbisik-bisik. Mereka percaya, dinding, pohon, dan langit punya telinga.

”Untuk seorang perempuan muda, boleh dikata, aku memiliki pendidikan, pekerjaan bagus, dan status,” pamer Helena pada Sadrah.

Bus nomos 211 berhenti di sebuah halte, depan perpustakaan. Setiap pagi pria yang turun dari bus itu, membawa beberapa buku di tangannya. Entah ada berapa buku lagi di tas hitam yang ditentengnya. Mungkin pegawai perpustakaan, mungkin pelajar yang sedang menulis tesis, mungkin…

”Mengapa kau tinggalkan kesenangan itu?”

Helena tertawa sinis pada dirinya. ”Aku muak pada para politisi yang mau enaknya sendiri.

”Maksudmu?”

”Di musim dingin, di akhir pekan, aku menjadi pelatih sky untuk para anggota partai dan tetamunya, pengusaha dari luar. Kudengar mereka bicara tentang komisi dari tender-tender raksasa yang direncanakan, sedang diproses, dan sudah dinikmati itu penuh kolusi. Sementara sebagian besar rakyat masih kepayahan membeli roti.”

”Mengapa kau peduli?”

”Mungkin kemudaanku yang muak pada politik, seperti para muda lain di banyak negeri yang ingin perubahan. Aku ingin tinggal di negeri yang merdeka dari para politisi rakus. Negeri yang semua rakyatnya bisa makan.”

Bus berhenti. Seorang perempuan berwajah India turun di depan Salvation Army, toko barang bekas yang menyediakan, baju, sepatu, peralatan dapur, buku, lukisan, dan furniture.

”Kuhabiskan semua tabungan untuk berimigran ke negeri ini. Kubayangkan aku bakal bergaji besar, mampu makan apa saja, punya mobil, punya rumah, berwisata di musim panas, dan sebagainya dan sebagainya seperti kehidupan yang kulihat di film-film. Untuk menikmati kesenangan itu, aku tak keberatan bekerja keras, seperti umumnya penduduk di negeri ini. Celakanya, ijasah universitasku tak diakui. Aku tak bisa jadi guru. Sementara buat hidup aku harus bekerja. Pekerjaan yang tak memerlukan ijazah adalah buruh pabrik. Kerjaku sekarang menempel stiker di pabrik panci. Gajiku, 8.00 dolar per jam. Aku kerja delapan jam sehari, lima hari seminggu. Itu hanya cukup untuk membayar apartemen, listrik, bus, dan makan. Perlengkapan yang ada di apartemen aku beli dari salvation army dan garage sale. Jaket, baju, jean, tidak celana dalam, juga dari salvation army. Ini tak akan terjadi jika aku di negeriku. Aku mau pulang saja mungkin buat selamanya.”

”Tak muak lagi pada politisi?”

”Masih muak, tapi apa dayaku. Akan kubantu saja anak-anak mempelajari banyak buku dan pikiran. Kelak, entah kapan, mungkin satu dari mereka, punya keberanian untuk mengemukakan pikiran tentang perubahan, perbaikan, dan didengar orang-orang di negeriku, orang-orang dari negeri lain. Kala itu, mungkin aku sudah mati!”

”Pulanglah kalau begitu,” ucap Sadrah pelan.

Mendadak ia rindu ibu-bapak, sepupu, ponakan, paman, dan tante. Teman-teman, apa kabarmu? Teman Sadrah, Kim, mengomandoi LSM perempuan. Luki jadi asisten salah satu menteri. Arsal, salah satu wakil ketua di sebuah partai. Meta, jadi wartawan TV. Kas, jadi pengamat politik, yang banyak menulis di media.

”Kelak, aku akan kembali ke negeri ini sebagai wisatawan bukan buruh pabrik panci. Pasti, pasti, aku akan mengunjungimu, jika kau masih di sini, dan naik bus nomor 211, duduk persis di sini ini, di paling belakang, Topik pembicaraan kita tentu akan berbeda,” khayal Helena. Lalu katanya pada Sadrah, ”Kau rindu negerimu?”

Mendadak Sadrah melempar pandang ke luar jendela, melewati bahu Helene. Bola matanya bergulir-gulir gelisah, loncat-loncat dari satu obyek ke obyek lain, dan lupa apa yang dilihatnya barusan.

Ia ingat semasa tak takut risiko. Rasanya suka saja melakukan sesuatu, setidaknya ia anggap sesuatu yang mulia saat itu, menggalang kesadaran buruh-buruh pabrik perempuan untuk tahu hak-haknya. Hak untuk diberi upah layak dan lingkungan kerja yang baik.

Hati Sadrah teriris saat berkunjung ke bilik para buruh, yang dihuni berlima, di tepi selokan dan pembuangan sampah, tempat lalat dan tikus berpesta pora, menghabiskan makanan sisa. Mereka tidur bersama di dipan renta, dekat kompor minyak tanah, dengan bau ikan asin dan cabe mentah di cobek, menu makan malam mereka nyaris setiap hari, yang belum dicuci, karena air yang digilir jamnya, lebih baik untuk minum. Upah mereka sungguh tidak layak untuk hidup.

Selanjutnya bersama mereka, Sadrah berdemontrasi di depan gedung MPR, di depan Istana Negara, di Bundaran Hotel Indonesia, di tempat-tempat strategis yang mudah dilihat siapa saja, termasuk para diplomat asing yang berkantor di wilayah itu.

Perusahaan makanan, garmen, pabrik sepatu lumpuh, tak bisa memenuhi pesanan. Beberapa pengamat memberi komentar hati-hati. Katanya, ia setuju gaji buruh dinaikkan. Tapi tolong, dalam kondisi negeri seperti ini, jangan banyak demo dulu. Pengusaha dari luar bakal tak sudi menanam investasi. Pengusaha bakal lari ke negeri Cina, yang buruhnya dibayar murah.

Hingga satu malam, empat orang pria bertopeng menculiknya, di depan rumah kosnya, sepulang demontrasi. Membawanya dengan mobil, ke satu tempat entah di mana. Kedua mata Sadrah ditutup, tangan, kaki, dan mulut Sadrah diikat. Sadrah lumpuh tak berdaya, saat ia diperkosa, secara bergilir. Esoknya tubuh Sadrah yang pingsan ditemukan seorang petani wortel tanpa identitas. Biadab!

Siapa pelakunya? Sampai kini tetap tanpa jejak, tak tertangkap. Mungkin file-file tentang peristiwa itu sudah di taruh paling bawah, di atas tumpukan file baru dengan peristiwa serupa, perkosaan. Orang mengeluarkan pendapat berbeda tentang si pemerkosa, mungkin antek-antek pengusaha yang tak suka pada aktivitas Sadrah, mungkin berandalan biasa, mungkin anak-anak muda yang sedang mabuk, dsb. Selaksa kemungkinan yang terbuka, tak ada artinya bagi Sadrah.

”Kamu baik-baik saja?” Helena cemas melihat wajah sadrah yang mengetat, sorot mata ngilu menahan sakit, dengan nafas tersengal-sengal. Ingatan pada malam jahanam itu telah membuat ia kembali merasakan emosinya meluap-luap di dada, di hatinya yang serasa ditusuki jarum, sakit pada ketidakberdayaannya, pada keinginannya untuk mati!

Sadrah menarik nafas panjang, menahannya, dan mengeluarkannya perlahan-lahan. Ia telah belajar untuk mengendalikan emosinya agar tak liar. ”Helene, aku tak akan pernah kembali ke negeriku, meski aku rindu keluargaku. Tak akan pernah!” Suaranya lirih, merintih.

Helena terpana.

Bus berada di atas jembatan layang. Di bawah sana tampak taman kota yang pepohonannya rindang dan kemilau oleh daun-daun, merah, kuning, dan coklat. Warna musim gugur yang mempesona mata, sebelum tiba musim dingin, di mana tanah akan dilapisi salju putih semata ”Bukan, bukan kerena aku suka daun-daun di musim gugur, ” tambah Sadrah mengatupkan kedua matanya.

Ingin sekali ia bercerita pada Helena untuk melegakan dadanya. Tapi betapa sulit bercerita tentang peristiwa yang membuatnya teraniaya dalam kesakitan yang menghimpit seluruh perasaan dan pori-porinya.

”Tak perlu kau ceritakan jika kau tak mampu,” ucap Helena, pengertian. ”Helene, satu waktu, jika kita masih ketemu, aku akan cerita tentangku, tentang tragedi yang menimpaku. Tentang mengapa aku meminta suaka ke negeri ini dan menetap di negeri ini karena aku tak punya pilihan!”

Bus nomor 211 masuk highway 20, menuju pusat kota. Tak ada lagi penumpang yang bisa berhenti hingga tiba di halte akhir, dekat statsiun bawah tanah, dekat pusat perbelanjaan, tempat Sadrah bekerja sebagai cleaning service di food court, bergaji 9.00 dolar sejam, delapan jam sehari, lima hari seminggu, selama dua tahun sudah.

Tugasnya adalah menyapu, mengepel, melap meja yang ditinggalkan berantakan, lalu memeriksa tempat sampah, membuangnya kalau sudah penuh dan mengganti dengan plastic sampah baru. Tugasnya adalah menjamin kamar mandi senantiasa bersih, sabun untuk mencuci tangan tersedia, dan tisu kamar mandi tidak habis.

Hari pertama bekerja, kulit tangannya melepuh oleh cairan pembersih karena ia lupa pakai kaos tangan karet. Hari pertama kerja badannya pegal linu, jemari tangannya kaku saat bangun tidur. Di rumah orangtuanya dulu, ada Sum yang bantu-bantu masak, ngepel, ngelap, dan mencuci baju. Tugas Sadrah hanya membereskan tempat tidur. Di rumah kosnya dulu, ada Yuk Ti, yang seminggu dua kali menyapu dan mengepel kamar. Mencuci dan menyetrika baju.

Montreal Feb, 2006

Cerpen: Ida Ahdiah

Sumber: Republika, Edisi 03/19/2006

Kafe dan Salju

Posted in Cerpen with tags , , , , , on April 28, 2012 by isepmalik

Perjalanan Paris-Barcelona kami tempuh dengan kereta api. Kami berangkat malam hari dan sampai di kompartemen aku langsung tertidur. Aku terbangun ketika tidurku sudah cukup. Saat membuka gorden aku merasa seolah dalam peta buta. Kotakah itu? Atau desa? Gelap malam membuat benda di luar kereta jadi gundukan hitam, meski lampu jalanan berusaha menembusnya.

Di antara gedung yang berjajar dan terpisah di sepanjang rel kereta yang kami tinggalkan, kulihat mobil-mobil parkir di halaman. Kota dan tempat di dunia mana pun selalu sama: malam membuat suasana murung dan putus asa. Sedih seolah malam itu sendiri. Begitulah aku merasa kota dan mobil-mobil yang terparkir itu, seakan menunggu dan termangu. Siapakah yang akan datang ke kota itu? Tangan mana yang akan memutar di belakang kemudi? Menuju kemana roda-roda yang membawanya?

Di Paris tadi aku berjalan-jalan di Avenue Des Champs Elysees. Banyak sekali orang lalu-lalang. Sendiri-sendiri atau berdua. Aku mencari-cari kalau-kalau ada yang kukenal. Tak seorang pun yang kukenal. Aku mencoba tersenyum kepada seorang perempuan, yang harum tubuhnya terbawa angin yang datang dari depan. Parfum membangkitkan gairahku. Tapi perempuan itu buru-buru berlalu. Tangannya memeluk tas yang disandangnya, seakan memeluk hidupnya. Gedung-gedung tua dan kokoh seolah termangu. Aku merasa mereka punya mata dan mulut untuk bicara. Salah satu gedung di pojok simpang yang lebar, sebuah kafe yang cantik dan transparan, seolah berkata padaku:

“Kita sama, Tuan, sama-sama menunggu. Saya menunggu orang-orang putus asa datang padaku. Aku senang mereka ke sini. Menumpahkan jiwanya sendiri. Membuatku merasa tidak sendiri. Lihat, hidup kita susah bukan? Sudah lama aku terpacak di sini. Bila musim dingin dan salju menutupi kota Paris, tubuhku menggigil. Aku ingin pergi menghindari musim dingin, tapi diriku terlalu berat untuk melangkah. Aku ingin menghalau musim dingin. Tapi bagaimana menghalau nasib sendiri. Aku tidak bisa kemana-mana. Seperti Tuan kini, bukan, tidak bisa kemana-mana.”

Gedung itu tersenyum sedih. Seorang lelaki keluar tanpa semangat dari dalamnya. Ia pergi begitu saja. Kepergian lelaki itu membuat kafe itu tambah murung. Lihat, katanya, semua orang di sini menumpahkan kesedihannya. Melangkah tanpa menoleh. Kau mengerti maksudku? Kesepian adalah musuh yang tak ada obatnya. Tidak juga perempuan cantik dengan wajah sendu yang baru masuk ini. Aku tahu perempuan ini. Sudah tujuh tahun dia menunggu lelakinya kembali. Tapi lelakinya tak pernah kembali. Menghilang begitu saja. Perempuan itu selalu duduk di pojok. Memesan minumannya dan meminumnya. Tangannya menggenggam gelas. Jiwanya melayang. Kadang kurasakan dia memanggil-manggil seseorang. Serasa kudengar panggilannya:

“Musim dingin tiba lagi, sayang. Tapi kau tak ada. Kau di mana sesungguhnya? Aku sudah tujuh tahun menunggumu. Lelah dengan bayanganmu. Tapi, bukankah kita sudah berjanji di sini? Tapi sebenarnya kamu ke mana? Tak bisakah mengirim kabar? Kamu ke mana, sayang?”

Tuan, perempuan itu menangis. Parfumnya bercampur air mata. Sampai kepadaku. Aku memang terbuat dari batu dan pasir, tapi dapat kurasakan kesedihan itu. Kayu dalam diriku berasal dari tanah juga. Makanya hatiku dapat menjenguk hatinya. Seperti kujenguk hatimu kini. Kamu juga sedih, kan? Lihat matamu menyorot ke sana ke mari. Sebenarnya tak ada orang yang kau cari di sini. Sebenarnya perempuanmu tak ada di sini. Jauhnya tak dapat kubayangkan. Kau dari mana sih? Wajahmu Asia. Cinakah? Atau Jepang? Korea?

Tapi, sudahlah. Tak penting kau darimana. Tapi kalau boleh menyaran, sampai ke sini tak akan mengusir kesepian hatimu. Obatmu tak ada di sini. Mungkin di daratan tempat kau bertolak. Kalau boleh menyaran lagi, kembalilah ke negerimu. Carilah perempuanmu sampai dapat. Berbaik-baiklah padanya. Bahagia-bahagialah padanya.

Aku mendengar kafe itu menangis. Barangkali tangisnya adalah muntahan air mata pengunjungnya. Kafe itu menampungnya dan kini air mata itu meronta. Sampai ke kakiku yang berada tepat di seberangnya. Jauh juga air mata itu berjalan. Ia meleleh bersama salju yang datang dibawa angin dingin, bertiup dengan bunyi serupa tangis manusia. Bunyi yang membuatku termangu. Menunggu siapakah aku di sini? Kafe itu benar. Tak sorang pun yang kutunggu. Tapi, mengapa aku sudah demikian jauh meninggalkan rumah? Apa yang membuatku sampai ke sini.

Kami bertengkar tadi pagi, dan aku berkata, aku akan terbang ke Paris. Dia bilang terbang saja, kalau itu yang kau suka. Aku berkata aku tidak menyukainya. Dia menjawab, mengapa kau lakukan? Kalau kau tak suka, jangan. Lebih baik di sini. Aku ingin di sini tapi apa yang terjadi. Kau marah sepanjang hari. Aku jadi gugup dan tidak tenang. Aku marah kau tahu sebabnya. Dan kau bisa mengubahnya. Tapi kau tak mau mengubahnya. Jadi bagaimana? Apa? Hidupmu. Mengapa kau tak mau mengubah hidupmu? Apa yang menjadi penghalang kau mengubah hidupmu.

Kupandang lama-lama perempuanku. Ia tetap sosok yang kukenal: sorot matanya sipit dan keras. Tarikan bibirnya menampakkan kekerasan hati. Kami tak pernah ada titik-temu. Seperti malam itu. Aku dan dia termangu-mangu. Di luar jendela hujan turun, seperti patahan hidup. Sampai gelap tiba dan aku meraihnya. Kami membenamkan tubuh kami ke dalam selimut.

Lama aku menyadari, tepat di depanku, duduk perempuan yang berwajah sendu itu.

“Jadi kau,” kataku, “perempuan yang diceritakan oleh kafe itu. Jadi kaulah orangnya. Lelakimu kemana?”

Perempuan itu berkata seolah dia lama menunggu kata-kataku.

“Di Avenue Des Chams Elysees tadi aku melihat kamu, berdiri tepat di simpang jalan. Aku ingin melambai, tapi ketika di luar kau sudah menghilang. Kau kemana tadi?”

“Tidak ke mana-mana. Aku berjalan saja dan kakiku ternyata membawaku ke menara Eiffel.”

“Aku tahu, aku mengikuti kau dari belakang. Sebentar saja aku kehilangan kamu.”

Kereta berhenti di sebuah stasiun.

“Stasiun apa ini?” kataku.

“Aku tidak tahu,” katanya. “Inilah pertama kali aku ke Barselona.”

“Kau dari Paris? Asli Paris maksudku.”

“Benar. Kau?” “Aku dari Indonesia.”

“Jauh negerimu? Aku belum pernah ke sana.”

“Jauh juga. Ke sanalah sesekali. Negeriku enak. Tidak dingin seperti negerimu.”

“Aku malas berpergian. Kukira aku akan di Paris saja. Kukira aku akan mati di sana. Tapi siapa tahu. Mungkin aku akan mati di tempat lain. Entahlah. Aku merasa tidak bisa mengendalikan hidupku.”

“Mengapa?”

“Aku tidak tahu.”

“Aku juga tidak bisa mengendalikan hidupku.”

“Kalau begitu kita sama.”

“Kukira ya.”

Kereta bergerak lagi.

“Lihat kereta ini bergerak, seperti hidup kita.”

“Ya. Tapi hidup kita tidak ke mana-mana. Aku merasa hidupku berhenti begitu saja. Tidak seperti kereta ini, melalui kota demi kota sebelum sampai ke Barcelona.”

“Di Barcelona kau akan kemana?”

“Aku tidak tahu.”

“Kau?”

“Aku juga tidak tahu.”

“Kita sama. Kalau kau mau, marilah kita sewa hotel. Mungkin kita dapat bercerita banyak.”

“Kukira itu gagasan yang bagus.”

Perempuan itu menyeka hidungnya yang mungil dengan tangannya. Tangannya begitu halus dan lembut. Aku merasa enak sekali kalau tangannya menyeka hidungku juga. Mungkin dengan begitu aku jadi sedikit tenang. Setidaknya, ada seseorang yang memperhatikan. Betapa mengerikan hidup sendirian. Tapi, aku telah hidup sendirian. Dan tahun-tahun yang mengerikan itu telah kujalani.

Kini aku membayangkan tahun-tahun itu dengan perasaan yang tak mungkin. Bagaimana mungkin aku telah hidup sendirian begitu lama? Rasanya tak masuk akal aku telah menjalaninya. Perempuanku di Indonesia, adakah ia hidup bersamaku? Kukira tidak. Kami secara fisik memang hidup bersama. Tapi kukira hati kami tidak pernah bisa sama. Aku tetap merasa hidup sendirian meski dia telah lama hidup bersamaku. “Dapat kau bayangkan hidup kita sendirian?”

“Oh, apa?”

Perempuan dari Paris itu tergagap. Sorot matanya putus asa.

“Aku tahu apa yang kau pikirkan,” kataku. “Kau memikirkan lelakimu, bukan?” Ia tersenyum. Giginya putih dan berderet rapi. Bibirnya serasi dengan hidung dan wajahnya. Membentuk kelembutan seorang wanita. Ingin sekali aku meraihnya. Suaranya seperti datang dari jauh ketika ia berkata:

“Aku memang memikirkannya. Entahlah di mana dia kini. Mungkin sudah hidup bersama wanita lain. Sudah tujuh tahun tidak ada kabar. Dan selama itu aku tetap hidup sendirian. Mungkin dia sudah mati.”

“Kau tak pernah berusaha mencarinya?”

“Tahun-tahun pertama aku mencarinya. Keluarganya satu demi satu kuhubungi. Tapi tak sorang pun yang tahu.”

“Kalau begitu mengapa kau tetap menunggunya? Bukankah kau bisa pergi kapan pun kau mau?”

“Itulah yang sepanjang tahun kupikirkan. Aku melupakannya dan aku pergi. Hidup bersama lelaki lain. Tapi, nyatanya aku tetap memikirkannya, nyatanya aku tetap tidak pergi. Entahlah mengapa hidupku ini. Tapi aku tahu kau mengerti dengan baik soal ini. Benarkan kau mengerti?”

“Kukira ya, aku mengerti. Aku pun tidak bisa pergi dari perempuanku.”

“Cantikkah dia?”

“Siapa?”

“Perempuanmu itu? Kukira dia cantik. Aku tahu jiwamu.”

“Benarkah kau tahu jiwaku?”

Perempuan itu tersenyum. Tiba-tiba dia mengulurkan tangan dan membarut-barut kepalaku. Sejenak kemudian dia bangkit dari kursinya dan berjalan ke kursiku. Menjatuhkan dirinya ke dadaku. Kudengar nafasnya teratur. Tubuhnya padat di balik baju dinginnya. Aku merasa mengambang ketika membelai rambutnya yang harum. Saat aku mengecup keningnya perempuan itu mengatupkan matanya pelan-pelan. Bibirnya membuka seakan menunggu kecupanku selanjutnya. Aku pun mencium bibir yang merekah itu. Dia membalas kecupanku dan tangannya meraih tubuhku erat sekali.***

 

Paris-Barcelona, 17 Januari 2006

Cerpen: Hudan Hidayat

Sumber: Republika, Edisi 03/12/2006

Dua Belas Jam 30 Menit

Posted in Cerpen with tags , , , , , on April 26, 2012 by isepmalik

Akhir Januari. Masih pagi, pukul 06.00. Anggrek tetangga –ungu dan putih– terlihat segar dari kaca jendela bening yang berbintik-bintik cokelat. Dua hari lalu, hujan. Angin yang kuat membuat titik hujan mengenai kaca jendela kamar, meninggalkan bercak debu melembab. Dan aku terlalu malas untuk buru-buru menghapusnya dengan cairan antidebu. Bintik-bintik itu –jika dipandangi terus-menerus– bisa membuat kesan misterius di antara garis-garis bekas aliran hujan yang seperti cecabang anak sungai dalam peta.

Maka, pagi ini, aku memandanginya secara lebih takjub dari sebelumnya, sebab aku ingin melihat sesuatu yang baru dalam peta itu. Jari-jariku meraba permukaan kaca, bergerak perlahan, sampai telunjukku terbenam pada satu bintik yang terlihat lebih besar dari yang lain. Aku terdiam. Beberapa menit. Mataku hangat. Aku melihat diriku dalam noda itu. Setidaknya beginilah kira-kira yang seharusnya terlontar dari mulut Birru yang diam bila ia menahan marah: Kau kotor sekali. Kau noda. Dan aku melihat diriku dalam noda besar itu persis seperti kata Birru. Mataku berkedip cepat. Bola mata kugerak-gerakkan. Aku sudah janji tidak boleh larut dalam perasaan. Demi cinta Birru. Ia telah memberikan waktu dua belas jam untukku sendiri, tanpa dia dan sejumlah kerepotan lainnya. Aku harus menghargai pengertian Birru –pagi-pagi sekali sebelum pukul 06.00 ia meninggalkan rumah dan akan pulang pukul 18.00, senjakala. Di mana aku bisa menemukan cinta penuh pengertian begitu, selain di mata cokelat Birru. Mata cokelat yang berkata penuh isyarat: seharusnya aku tidak memberimu kesempatan dua kali, tapi aku tidak dapat mengelak dari rasa cinta yang gila ini.

Sungguh sesak menyembunyikan rasa sedih dan membuatnya hanya diam, mendekam. Seperti seseorang yang ingin sekali menangis saat nonton film drama percintaan yang menyedihkan, tapi ia hanya menekannya dalam-dalam. Lebih sakit dari goresan luka di kulit. Kini aku sakit. Aku sedih. Ingat Birru, ingat calon anak-anak yang sedang kami rencanakan. Rumah yang kami bayangkan tidak akan sepi lagi. Banyak sekali tawa. Hari yang selalu hidup berdenyut. Buru-buru kupindahkan mata ke halaman tetangga. Anggrek mampu mematahkan kesedihan.

Aku bisa tersenyum. Dalam sekali. Dada jadi lapang.

Aku berlari ke depan cermin besar. Tiba-tiba ingin lihat tubuhku setelah hampir sebulan aku melupakannya sama sekali (benarkah aku tampak seperti noda). Lingkaran mata terlihat hitam. Aku seperti orang sakit. Apalagi rambutku yang kusut tidak disisir, kasar dan sedikit berminyak. Kemala suka rambut panjangku segar berkilau. Kemala. Aku mengatupkan bibirku yang gemetar. Birru pasti kecewa jika dua belas jam yang ia berikan, kugunakan juga untuk memikirkan Kemala. Itu tidak boleh terjadi. Aku ingin kembali belajar menghargai cinta Birru, cinta teduh yang membimbing.

Kutinggalkan cermin secara terburu, sekilas menoleh lagi ke halaman tetangga, lalu mengambil handuk biru gambar lumba-lumba dalam lemari. Hp berbunyi. Nada pesan. Aku membaca sebaris kalimat singkat yang mengingatkan apa aku sudah minum susu pagi ini. Kemala (sepertinya aku tak bisa lari untuk tidak memikirkannya, maaf Birru). Ia ganti nomor baru tapi aku tetap tahu itu dari Kemala. Aku mendesah. Ia pasti sedang kacau, seperti diriku, sampai ia lupa kebiasaanku minum susu sebelum tidur malam hari. Aku tidak minum susu pagi hari karena aku lebih suka segelas kopi, dan Kemala tahu betul itu. Ini kesalahan yang paling tidak kusuka dari seseorang yang mengaku begitu tahu tentang seluruhku, yang bisa membuatku berpikir ia hanya pura-pura ingin tampak perhatian saja. Jika aku tanyakan pada Kemala, aku tahu ia akan menjawab, maaf aku lupa, sayang. Aku kacau sekali. Ia gugup, tentu saja. Aku bisa sangat egois jika berhadapan dengannya, sejenis kombinasi rasa manja dan sifat keras kepala, ditambah mudah tersinggung oleh kesalahan kecil. Dan itulah yang membuat aku cinta Kemala. Ia mau mengalah. Ia mau membujukku. Birru tidak begitu. Ia selalu ingin aku bisa bersikap dewasa, setidaknya untuk masalahku sendiri. Birru tidak memberiku tempat untuk sesekali manja, menumpahkan tingkah kanak-kanakku yang sesekali menuntut. Birru tidak mengerti itu.

“Kamu cantik dalam gaun berpita merah muda.” Kemala pandai memuji. Suaranya terdengar tulus. “Ekpresif sekali. Cocok dengan karaktermu yang feminin.”

Birru tidak pernah bilang apa-apa tentang penampilanku. Paling ia hanya mengungkapkannya lewat mata cokelatnya yang sedikit berbinar. Dan aku hanya bisa menduga-duga.

Kemala membuatku sering berpikir takjub tentangnya, Birru hanya membuatku bertanya-tanya dan tak pernah sampai. Kemala memberikan dadanya untuk sesekali aku bersandar dan menangis. Birru lebih sering mengingatkan bahwa aku sudah belajar tidak menangis dan berhasil baik sejauh ini.

Kemala. Birru.

Aku sungguh memiliki kehidupan paling mendebarkan.

Kemala. Aku suka caranya tertawa, ringan dan pendek saja. Ia memang suka mendebat, banyak tidak setuju dengan beberapa hal dalam hidupku. Tapi ia selalu tahu cara tepat menyampaikannya padaku yang sedikit sensitif. Ia juga mengenal kebiasaanku menyukai ha-hal kecil. Ia tahu aku perempuan romantis yang tidak melihat cinta dari seikat bunga mawar, tapi cukup dengan membawakan aku bunga rumput tempat hinggap capung dan kupu-kupu. Cukup begitu. Tidak perlu lebih. Aku sudah bahagia, sudah bisa tersenyum lebar hingga berhari-hari.

Birru tidak tahu sama sekali. Ia lebih sering memberiku seikat mawar yang dikemas cantik pada tiap akhir pekan –sabtu sore. Seikat bunga yang hanya membuatku tertawa sekali saja, tidak berhari-hari. Hadiah mawarnya sama sekali tidak istimewa, karena aku tahu hampir semua perempuan pernah menerima kejutan serupa.

Cinta Kemala penuh improvisasi. Cinta Birru amat pengertian. Aku pernah berada dalam kehangatan dua cinta itu.

Dan aku masih berdiri, masih memegang handuk biru bergambar lumba-lumba. Sendiri di hari yang kosong. Sedikit lagi mengingat manis cinta yang sudah berlalu itu, mungkin aku tidak akan tahan dan tidak bisa memaafkan diriku sendiri, juga artinya Birru tidak kembali padaku. Napasku tercekat.

Aku mengalihkan perhatian pada sepasang gelas (gelas papa-mama) yang masih menumpuk di sudut kamar. Sisa susu di dalamnya mulai asam menusuk lembut ke hidungku. Seharusnya aku langsung mencucinya tadi malam sebelum sisa susu itu basi. Jika Kemala tahu aku sangat malas begini (tapi Kemala tidak tahu, ia pergi jauh sekali sebelum aku mencerna dengan baik kata perpisahan), ia akan marah-marah sambil mengingatkan hampir kebanyakan lelaki menyukai perempuan atas dasar dua hal saja; kalau tidak karena cantik, pastilah karena perempuan itu koki yang hebat dan tidak pernah membiarkan sisa makanan membusuk di perlengkapan makan. Aku bisa ngakak bila bicara Kemala mulai nyerempet sampai ke situ. Aku tidak cantik, tidak suka dapur –aku benci udara dapur yang bau segala jenis bumbu-bumbuan, kepalaku bisa pusing– tapi aku pasti bisa meyakinkan Birru sampai ia merasa paling dicintai dan hanya satu-satunya. Itu juga salah satu cara buat laki-laki jatuh cinta. Kemala melongo saat kukatakan begitu, namun tetap saja tidak membuatnya berhenti menyuruhku belajar masak atau membersihkan peralatan dapur yang penuh lemak.

“Jadi istri orang tidak boleh mengecewakan,” ujarnya tanpa nada cemburu sedikit pun.. Aku tertawa. Menatapnya mesra. Wajah Kemala manis sekali. Ia rajin luluran dan maskeran, tiap minggu satu kali. Jika Kemala luluran, aku pasti tidak mau datang ke kamarnya. Aku mual mencium bau rempah-rempah yang memenuhi kamar mandi. Ah, telah lama sekali rasanya aku tidak datang ke kamar itu. Hampir satu bulan. Kemala yang melarang. Hingga ia menghilang entah ke mana secara tiba-tiba. Tidak ada pertemuan sebelumnya, tidak ada kencan terakhir kali, padahal aku sangat rindu. Rindu bibirnya yang hangat, tangannya yang lembut. Rindu teriakannya jika menemukan setumpuk gelas dengan sisa susu di sudut kamar tempat kami sering berciuman.

Lupakan Kemala. Lupakan seluruh dirinya yang kadang terlalu menyihir.

Mataku kembali berkedip cepat. Bulu-bulunya sedikit basah. Kulemparkan lagi pandangan ke halaman tetangga. Anggrek ungu dan putih. Aku pasti bisa tersenyum. Lalu mandi, lalu menjadi pagi. Aku pagi yang berseri.

***

Waktu mulai terasa lambat. Langit biru, aku rindu.

Dua belas jam tanpa Birru. Aku sendiri. Birru yang meminta. Kata Birru untuk mengukur rasa rindu, rasa kehilanganku bila tanpa dia. Itulah satu-satunya cara yang dapat meyakinkannya apakah kami bisa kembali atau tidak. Ia tersinggung sekali. Ia marah padaku, pada Kemala. Dan memang harusnya begitu. Aku yang akan marah bila Birru tidak tersinggung. Aku yang akan berteriak keras-keras hingga semua orang tahu aku mencintai seseorang lain, Kemala, kakak perempuan Birru tersayang. Tidak peduli orang-orang akan membawa cerita itu ke mana-mana. Membumbui hingga tak karuan lagi rasanya. Campur aduk. Simpang siur. Mana pernah aku peduli. Mana pernah aku bisa menyembunyikan sesuatu.

Aku jahat, Bi?

Air mata Birru jatuh ketika itu –satu bulan lalu di hadapanku, di hadapan Kemala. Dan ia terus menatapku seteguh mata lelaki paling lelaki. Ia tidak ingin mundur, memalingkan wajah ke arah lain yang bisa membuatku berpendapat kalau dia terluka. “Kau hanya keliru dalam satu hal, dan semua akan kembali biasa. Kau untukku,” katanya.

Aku melihat mata cokelat Birru (dan aku melupakan sama sekali kehadiran Kemala sampai ia pergi). Ia terbenam dalam air mata yang dibiarkan tumpah. Bersandarlah ke dadaku, Birru. Menangislah dalam pelukanku. Sesekali, bukankah tidak apa-apa. Betapa beban itu seharusnya kita bagi sama. Sejak dulu, hingga aku hanya bisa memikirkanmu.

Mata cokelat yang basah itu berkilat. Hanya sampai di situ. Birru tidak bertanya kenapa Kemala, kenapa tidak lelaki tampan. Padahal aku ingin sekali menceritakannya. Mengisahkan aku kecil yang pemalu, yang menyembunyikan dada mulai mengembung di bawah bahu sedikit dibungkukkan. Aku yang memiliki saudara-saudara perempuan dengan selera humor kampungan dan suka mengintip aku di kamar mandi lalu menceritakan apa yang mereka lihat kepada anggota keluarga lain sambil tertawa-tawa memojokkanku. Mereka memang berhasil mempermalukanku suatu kali. Nenek yang paling keras tertawa, lalu ibu, lalu saudara-saudaraku yang mengintip itu. Aku berlari. Menangis di bawah pohon jeruk bali. Lalu seseorang datang menghibur. Kemala. Ia memegang pipi dan membujukku membuka mata. Mataku basah, terbuka. Kemala menghapusnya dengan jari-jari yang hangat. Dadaku berdenyut. Kemala meletakkan jarinya di atas dadaku, berbisik, saat kau jadi gadis cantik nanti, aku pasti membawamu jauh dari orang-orang yang selalu menyakitimu. Aku merasa dilindungi. Aku dan Kemala suka janjian di bawah pohon jeruk bali. Ia sering menciumku secara tiba-tiba, dan aku melihat matanya bahagia.

Tidak seorang pun tahu itu, hanya aku dan Kemala. Itu rahasia.

Namun kemudian, sebelum aku benar-benar jadi gadis cantik tumbuh sempurna, aku mengkhianati Kemala. Aku mulai malas menemuinya di bawah pohon jeruk bali. Aku lebih suka menemui Birru yang sering menunjukkan permainan sulap. Ia bisa membuatku tertawa. Seseorang yang bersungguh-sungguh tidak ingin membiarkan mata indahku basah. “Jangan pernah menangis lagi, sebab aku akan marah,” katanya seringkali.

Aku jatuh cinta pada Birru, sekaligus ada sesuatu dengan Kemala. Hanya aku yang tahu, sampai aku ingin mengatakannya.

Aku mengatakan. Semuanya –aku yang tidak setia, aku yang juga mencintai Kemala. Kenyataannya Birru terluka, aku terluka. Ia tidak mengatakan apa-apa, tapi aku tahu, ia membenciku dan mulai membiarkanku menangis lagi.

Jelang senja. Cahaya emas jatuh ke tanah. Birru belum pulang.

***

Tepat pukul 18.00. Tepat dua belas jam. Rindu seharusnya telah bertemu di senja. Aku meronta. Ingin nangis, tapi jangan.

Jangan. Aku menghapus setitik air di sudut mata. Di sinilah sensasi yang mestinya kurasakan lebih hangat dari cinta pertama. Siapa pun mungkin tidak mengerti saat aku menikmati sebebas burung ini. Aku merasakan hangat hatiku kala keluar kamar mandi dengan selembar handuk biru gambar lumba-lumba dan tidak ada sepasang mata pun melukai. Di depan Birru, di hadapan bola mata cokelat itu, aku seringkali gemetar. Aku selalu merasa diam-diam dia membenciku. Aku tidak suka mata yang hanya bisa menuduh, merobek, tapi tak mampu bertanya apa-apa. Untuk itu Birru pergi selama dua belas jam. Perpisahan yang benar-benar tanpa ikatan. Kosong. Birru tanpa aku. Aku tanpa Birru. Kesempatan di mana aku bisa membunuh rasa bersalah yang membuatku seringkali salah tingkah di depannya.

30 menit hampir lewat dari pukul 18.00. Kutatap bintik-bintik cokelat yang mulai tampak samar di permukaan kaca, aku tersenyum, benar-benar seperti diriku yang seharusnya terlontar dari mulut Birru. Kulemparkan mataku ke halaman tetangga. Anggrek sudah tenggelam dalam remang. Jika anggrek tenggelam, apa lagi yang bisa mematahkan kesedihan.

Birru. 30 menit ini jangan sampai berlalu begitu saja, sebab bukankah kita hanya terbiasa memaafkan keterlambatan di batas itu. Hanya 30 menit. Jika lebih, aku bisa marah, lalu semua jadi sia-sia. Aku mengerti rasa sakit itu. Pulanglah. Sekali saja bersandarlah di dadaku. Lalu aku belajar hanya memikirkanmu.

Dan sungguh sepi di sini, seperti kepergian yang tidak akan kembali. ***

Padang, Januari 2006

Cerpen: Yetti A KA

Sumber: Jawa Pos, Edisi 03/26/2006

Pada Suatu Senja, Pada Suatu Tahun

Posted in Cerpen with tags , , , , , on April 25, 2012 by isepmalik

Pada suatu senja, pada suatu tahun, pada suatu pantai, pada suatu kota. Angin laut mengusutkan rambutnya yang hitam ikal, membuat matanya setengah terpejam dan daun telinganya bergerak-gerak di balik lebat rambutnya, mencoba menangkap kata-kataku yang terbang entah ke mana. Dia tak bertanya dan juga tak memintaku mengulang apa yang kukatakan. Aku yakin dia tak mendengar kata-kataku karena derasnya angin laut yang tak henti-hentinya mendeburkan ombak dan menerbangkan daun-daun waru kering. Pohon waru itu sengaja ditanam berderet-deret sepanjang pantai, dan sekarang di bawahnya dibangun jalan setapak beralaskan paving warna merah tua. Di sana-sini masih diletakkan pot bunga ukuran garis tengah lebih dari setengah meter, ditanami bougenville warna merah dan putih.

Kamu ingat aku sengaja mengajakmu ke pantai yang terkenal ke seluruh dunia ini, pantai yang konon berpasir hitam, yang selalu ditanyakan kebenarannya oleh teman-temanku dari Inggris. Memang di sana-sini kamu bisa melihat pasir hitam bercampur putih, lalu ombak yang deburnya tak pernah benar-benar gemuruh.

Waktu itu, pada suatu senja, pada suatu tahun, pada suatu kota.

Tidak. Kamu memastikan, bukan pada suatu kota, sebab pantai itu adalah Pantai Lovina, yang terletak sekitar tiga belas kilometer di sebelah barat kota Singaraja. Jadi kamu memprotes, kenapa harus disebut “pada suatu kota”. Kamu juga memprotes, kenapa harus “pada suatu tahun”? Bukankah tahun kejadiannya jelas, apakah kamu sudah pikun? Itu tanyamu.

Bukannya aku pikun, tetapi aku benar-benar tidak ingat kapan senja itu menjelang, di tahun yang mana dari banyak tahun yang telah datang dan pergi? Dan kamu demikian muda. Berapa umurmu sekarang? Dua puluh tiga? Dua puluh empat? Apakah aku harus melakukan hitungan mundur agar aku bisa sampai ke tahun yang tersurat sebagai “pada suatu tahun” ini?

Masih ingatkah kamu bahwa kamu bilang, kamu ingin bebas lima tahun ke depan, ingin mengecap pengalaman hidup seluas-luasnya, sedalam-dalamnya, seintens mungkin? Lalu, selama itu aku harus menunggu? Apa benar lima tahun, atau tujuh tahun, atau delapan tahun?

Ketika kamu sudah melewati tahun-tahun itu, maka sepuluh tahun pun tak ada maknanya. Lalu, delapan tahun kemudian kamu menikah, dengan siapa? Katamu, dengan bekas tunanganmu yang dulunya pernah kamu anggap sudah bersalah karena telah berselingkuh dengan pembantunya, tetapi sekarang kamu terima juga kenyataan bahwa ternyata kamu dan tunanganmu masih saling mencintai. Katamu, kalau dua insan saling mencintai, maka kamu harus mampu memaafkan dan memahami. Jadi kamu telah memaafkannya dan juga memahaminya?

Tapi, kamu yang rambutmu diterjang angin di Pantai Lovina, di sebelah barat kota Singaraja, adalah kamu yang masih tersenyum padaku dengan lesung pipit di kedua belah pipimu, dengan rambutmu yang ikal terurai, hitam legam dan sangat subur, dan dengan tatapan kedua matamu yang teduh. Bukankah angin dan ombak di Pantai Lovina bergelora, kenapa matamu bisa demikian teduh?

Kamu berjalan di atas jalan berpaving warna merah tua, di bawah deretan pohon waru, dan menggaet tangan kiriku, seolah kamu tidak mau melepaskanku pergi. Kamu kan pernah bilang bahwa tangan yang diberikan adalah tanda penyerahan dan kepercayaan, dan kamu bilang tangan itu kamu serahkan padaku, kamu percayakan padaku untuk membimbingnya. Bukankah kamu pernah melakukannya padaku dengan membawaku berkeliling kota pada suatu malam Minggu, pada suatu tahun, pada suatu kota? Seolah kamu hendak memamerkan diriku pada seluruh warga kota yang memenuhi jalan-jalan kota itu, mengatakan pada mereka bahwa aku tunanganmu yang baru. Betulkah begitu?

Sekarang, benarkah kamu yang berjalan menggandeng tanganku, di bawah deretan pohon waru di Pantai Lovina, di atas jalan berpaving warna merah tua? Cerita apa lagi yang ingin kau tumpahkan padaku kali ini? Apakah kamu masih akan tertawa dengan lekuk lesung pipit pada kedua pipimu, dengan suaramu yang lembut, yang menggetarkan kesabaran luar biasa, karena walaupun mungkin kamu tak suka berjalan-jalan seperti ini, tetap saja kamu akan berjalan, menggandeng tanganku, dan bicara denganku dengan suara lembut itu?

Benarkah aku pernah benar-benar mencintaimu, atau hanya kamu gadis cantik, gadis paling cantik di kelasmu, gadis yang baru saja ditinggalkan pacarmu yang setia yang tak rela kau tinggalkan? Mengapa kamu tinggalkan Andre sebagaimana kau meninggalkan tunanganmu? Apakah Andre juga membuat kesalahan yang sama? Apakah aku benar-benar memahamimu?

Debur ombak Pantai Lovina, debur jantungku tak terasa deburnya.

Pada suatu senja pada suatu pantai, pada suatu tahun pada suatu kota. Tetapi, benarkah kamu yang menggandeng tanganku dan berjalan-jalan menghirup udara pantai yang segar ini? Bukankah kamu selalu bercita-cita untuk tinggal di suatu kota di suatu pantai sehingga dengan bebas kamu bisa memainkan kakimu yang telanjang di pasir dan menghirup napas dalam-dalam sambil memandang jauh ke laut lepas? Bukankah ini mimpimu tetapi bukan mimpiku? Aku selalu merindukan kedamaian, ketenangan, dan hanya kehidupan pegunungan dengan ritme pertanian yang tetap dan lambat yang dapat memberiku kehidupan seperti itu. Kamu lebih menyukai pantai, orang-orangnya yang bekerja keras dan mengucapkan kata-kata yang keras sering terdengar kasar di telinga dusunku. Sekarang, sudahkah kau gapai mimpimu itu? Aku bahkan tanpa kusadari telah menjadi penduduk pesisir, yang menatap laut lepas tapi ditopang pegunungan di punggungku. Mereka menyebutnya sebagai nyegara gunung, berada pada dua alam: laut dan pegunungan, yang menimbulkan harmoni kehidupan. Apakah hidupku sudah penuh harmoni?

Aku benar-benar tak dapat memilah-milah antara senja ini dan senja yang lain, antara kota ini dan kota yang lain, antara kamu yang ini dan kamu yang lain. Sungguh-sungguh gila. Barangkali aku sudah kehilangan orientasi waktu dan tempatku. Apakah aku ini aku dan kamu ini kamu? Mana mungkin bisa begitu, sebab dunia sudah berubah bahkan abad dan milenium pun sudah berubah. Hah, sadarkah kamu bahwa kamu makhluk yang sangat istimewa, yang mengalami dua abad dan dua milenium berbeda? Sadarkah kamu bahwa usiamu sudah dua abad dan dua milenium? Jadi, berapa tuakah kita ini? Kenapa belum membatu atau bercampur tanah dan menjadi minyak bumi? Tentu kurang waktu untuk menjadi. Kurang waktu untuk beruntung setua itu, setua minyak bumi, setua batu bara.

Jadi alangkah mudanya kita untuk berbanding dengan bahan-bahan yang kita lahap habis dalam semenit.

Aku pasti bermimpi tentang suatu senja suatu pantai suatu kota suatu tahun, sebab ombak Pantai Lovina berdebur tanpa debur ombak hatiku. Apakah kamu masih berjalan-jalan di atas jalan berpaving warna merah tua, menghilang jauh di bawah keteduhan pohon waru, lalu berbelok ke kanan mungkin memasuki pintu tembus ke halaman sebuah hotel. Kenapa aku hanya berdiri di sini, tak ikut melangkah dan melepaskan gandengan tanganmu? Bukankah kamu sudah katakan, tangan yang sudah kamu serahkan adalah kepercayaan untuk rasa aman?

Sekarang hanya wajahku sendiri yang diterpa angin laut sementara matahari tenggelam dalam-dalam ke dalam laut di teluk perairan pantai utara pulau Surga. Bukankah aku dan juga kau sudah menjadi penghuni surga? Bukankah? Bukankah?

***

 

Singaraja, 10 Agustus 2005

Cerpen: Sunaryono Basuki Ks

Sumber: Jawa Pos, Edisi 02/26/2006